1
MAKALAH KRIMINOLOGI DAN VIKTIMOLOGI KRIMINOLOGI
DISUSUN OLEH :
DZI IDZZATI SIATA (04020230151)
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA MAKASSAR
2024
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga tugas makalah kriminologi ini dapat selesai tepat waktu. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nantikan syafaatnya di akhirat nanti.
Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Kriminologi dan Viktimologi. Dalam proses penulisan makalah ini, dibuat berdasarkan materi yang telah diberikan oleh dosen dan juga informasi tambahan dari sumber-sumber yang terpercaya.
Namun demikian, sebagai manusia yang rentan akan kesalahan dan keterbatasan, saya menyadari bahwa makalah ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu mohon maaf atas segala kekurangan, ketidaksesuaian, atau ketidakberesan yang mungkin ada dalam makalah ini. Akhir kata, semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan keberkahan dalam segala usaha kita. Amin.
Makassar, 02 Desember 2024
3
DAFTAR ISI
BAB 1 ... 4
PENDAHULUAN ... 4
1.1 Latar Belakang ... 4
1.2 Rumusan Masalah ... 5
BAB 2 ... 6
PEMBAHASAN ... 6
1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Kriminologi ... 6
2.2 Teori-teori Penyebab Terjadinya Kejahatan ... 7
BAB 3 ... 12
PENUTUP ... 12
3.1 Kesimpulan ... 12
4
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Kriminologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari perilaku kriminal, penyebab kejahatan, dan cara penanganannya. Dalam konteks hukum pidana, kriminologi memiliki peran yang signifikan sebagai dasar ilmiah dalam memahami dan merumuskan kebijakan hukum.
Hukum pidana bertujuan untuk melindungi masyarakat dari tindakan yang merugikan, namun untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan pemahaman yang mendalam mengenai fenomena kejahatan. Kejahatan merupakan fenomena sosial yang terus berkembang seiring perubahan masyarakat. Globalisasi, perkembangan teknologi, dan pergeseran nilai-nilai sosial menjadi faktor-faktor yang memengaruhi pola kejahatan di era modern. Misalnya, munculnya kejahatan siber seperti penipuan online dan peretasan data telah menambah kompleksitas hukum pidana.
Hal ini menunjukkan bahwa hukum pidana tidak hanya harus beradaptasi dengan perubahan tersebut, tetapi juga harus didukung oleh studi kriminologi yang relevan untuk mengidentifikasi akar masalahnya.
Salah satu tantangan dalam penegakan hukum pidana adalah mengatasi faktor-faktor yang mendorong seseorang melakukan kejahatan. Faktor-faktor ini dapat bersifat individual, seperti gangguan psikologis atau tekanan ekonomi, maupun struktural, seperti ketimpangan sosial dan rendahnya pendidikan. Kriminologi membantu mengungkap dinamika ini sehingga strategi pencegahan dan penanggulangan kejahatan dapat lebih efektif. Selain itu, kriminologi juga berperan dalam memahami dampak dari kebijakan hukum pidana. Misalnya, penerapan hukuman berat sering kali dianggap sebagai solusi untuk mengurangi kejahatan. Namun, penelitian kriminologi menunjukkan bahwa pendekatan represif tidak selalu efektif dan justru dapat memperburuk kondisi pelaku setelah menjalani hukuman. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih humanis seperti rehabilitasi pelaku dan restorative justice mulai mendapat perhatian.
5
Di Indonesia, persoalan kejahatan kerap menjadi isu utama dalam penegakan hukum.
Fenomena seperti korupsi, narkotika, dan tindak pidana kekerasan masih mendominasi pemberitaan dan memengaruhi stabilitas sosial. Pemerintah dan aparat penegak hukum dihadapkan pada tantangan untuk tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga menciptakan kebijakan yang berorientasi pada pencegahan. Dalam hal ini, kriminologi dapat berfungsi sebagai landasan untuk mengembangkan kebijakan yang lebih komprehensif dan adaptif.
Lebih jauh, pengintegrasian kriminologi dalam sistem hukum pidana mencakup tiga aspek utama: pencegahan, penindakan, dan rehabilitasi. Aspek pencegahan menitikberatkan pada upaya mengurangi potensi kejahatan melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Aspek penindakan bertujuan memastikan pelaku kejahatan mendapatkan sanksi yang adil dan sesuai dengan perbuatannya. Sementara itu, aspek rehabilitasi berfokus pada pemulihan pelaku agar dapat kembali ke masyarakat tanpa mengulangi perbuatannya.
Dengan demikian, memahami keterkaitan antara kriminologi dan hukum pidana sangat penting untuk menciptakan sistem peradilan yang tidak hanya menegakkan hukum, tetapi juga mencerminkan keadilan sosial. Melalui pendekatan yang holistik dan berbasis penelitian, penegakan hukum pidana diharapkan dapat berkontribusi pada pengurangan tingkat kejahatan serta pembangunan masyarakat yang lebih aman dan berkeadilan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu kriminologi?
2. Bagaimana ruang lingkup kriminologi dalam perspektif hukum?
3. Apa saja teori-teori kriminologi?
6
BAB 2
PEMBAHASAN 1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Kriminologi
Definisi Kriminologi
Kriminologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang muncul pada abad ke-19 yang merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari sebab dari kejahatan. Kriminologi berasal dari bahasa latin, yaitu crimen yang berarti kejahatan dan logos yang berarti ilmu. Dengan demikian, secara harfiah, kriminologi adalah ilmu pengetahuan tentang kejahatan. Kriminologi dapat didefinisikan sebagai studi sistematis tentang sifat, jenis, penyebab, dan pengendalian dari perilaku kejahatan, penyimpangan, kenakalan, serta pelanggaran hukum. Kriminologi adalah ilmu sosial terapan di mana kriminolog bekerja untuk membangun pengetahuan tentang kejahatan dan pengendaliannya berdasarkan penelitian empiris. Penelitian ini membentuk dasar untuk pemahaman, penjelasan, prediksi, pencegahan, dan kebijakan dalam sistem peradilan pidana.
Wolf Gang Savitr dan Jahnston (dalam buku B. Simanjuntak) merumuskan pengertian kriminologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempergunakan metode ilmiah dalam mempelajari dan menganalisa keteraturan, keseragaman, pola-pola dan fakta sebab musabab yang berhubungan dengan kejahatan dan penjahat serta reaksi sosial terhadap kedua-duanya.
Ruang lingkup kriminologi seperti yang telah dikemukakan oleh Edwin H. Sutherland dan Donal R. Cressey (dalam buku Mulyana W. Kusumah), bertolak dari pandangan bahwa kriminologi adalah kesatuan pengetahuan mengenai kejahatan sebagai gejala sosial,
7
mengemukakan ruang lingkup kriminologi yang mencakup proses-proses pembuatan hukum, pelanggaran hukum dan reaksi atas pelanggaran hukum.
Ruang Lingkup Kriminologi
Pembahasan kriminologi meliputi tiga hal pokok, yaitu : Pertama, proses pembuatan hukum pidana (making laws). Pembahasan dalam proses pembuatan hukum pidana (process of making laws) meliputu : definisi kejahatan, unsur-unsur kejahatan, relativitas pengertian kejahatan, penggolongan kejahatan, statistik kejahatan. Kedua, etilogi kriminal yang membahas teori- teori yang menyebabkan terjadinya kejahatan (breaking of laws), sedangkan yang dibahas dalam etilogi kriminal meluputi : aliran-aliran kriminologi, teori-teori kriminologi, berbagai perspektif kriminologi. Ketiga, reaksi terhadap pelanggaran hukum (reacting toward the breaking of laws). Reaksi dalam hal ini bukan hanya ditunjukan kepada pelanggar hukum berupa tindakan represif tetapi juga reaksi terhadap calon pelanggar hukum berupa upaya- upaya pencegahan kejahatan (criminal prevention) meliputi : teori-teori penghukuman, upaya- upaya penanggulangan/pencegahan kejahatan baik berupa tindakan pre-emtif, preventif, represif, dan rehabilitatif.
2.2 Teori-teori Penyebab Terjadinya Kejahatan
Teori-teori tentang sebab terjadinya kejahatan telah dikemukakan oleh para kriminolog. Dalam perkembangannya tentang kejahatan atau kriminolog terus menimbulkan berbagai pendapat dari berbagai pakar kriminolog dan pakar ilmu hukum. Berikut teori penyebab kejahatan :
a. Perspektif Biologis.
“Cesare Lombroso” seorang Italia yang sering dianggap sebagai “the father of modern criminology” ia menjelaskan kejahatan dari mashab klasik menuju mashab positif.
Perbedaan signifikan antara mashab klasik dan mashab positif adalah bahwa yang
8
terakhir tadi mencari fakta empiris untuk mengkonfirmasi gagasan bahwa kejahatan itu ditentukan oleh berbagai faktor, dimana para tokoh psikologis mempertimbangkan suatu variasi dan kemungkinan-cacat dalam kesadaran, ketidakmatangan emosi, sosialisasi yang tidak memadai di masa kecil, kehilangan hubungan dengan ibu, perkembangan moral yang lemah. Mereka mengkaji bagaimana agresi dipelajari, situasi apa yang mendorong kekerasan, bagaimana kejahatan berhubungan dengan faktor-faktor kepribadian, serta asosiasi antara beberapa kerusakan mental dan kejahatan. Berdasarkan penelitiannya ini, Lombroso mengklasifikasikan penjahat kedalam 4 golongan, yaitu:
1. Born Criminal yaitu orang berdasarkan pada doktrin atavisme tersebut di atas;
2. Insane Criminal yaitu orang-orang yang tergolong ke dalam kelompok idiot;embisibiil atau paranodi;
3. Occasional Criminal atau Criminaloid yaitu pelaku kejahatan berdasarkan pengalaman yang terus menerus sehingga mempengaruhi pribadinya;
4. Criminal Of Passion yaitu pelaku kejahatan yang melakukan tindakannya karena marah, cinta atau karena kehormatan.
Disamping teori biologis dari Lomborosso tersebut, terdapat beberapa teori lain yang menitikberatkan pada kondisi individu penjahat, antara lain :
1. Teori Psikis, dimana sebab-sebab kejahatan dihubungkan dengan kondisi kejiwaan seseorang. Sarana yang digunakan adalah tes-tes mental seperti tes IQ. Metode ini sempat meyakinkan setelah dibuat tes terhadap sejumlah nara pidana, yang ternyata rata-rata memiliki IQ di bawah 100. Jadi penjahat menurut teori ini adalah orang- orang yang memiliki keterbelakangan mental atau bodoh. Namun teori ini gugur, manakala dilakukan tes serupa pada para serdadu Amerika pada perang dunia I.
9
Mereka yang dipandang sebagai pahlawan dan orang yang baik ternyata sebagian besar memiliki IQ di bawah 100.
2. Teori yang menyatakan bahwa penjahat memiliki bakat yang diwariskan oleh orang tuanya. Pada mulanya amat mudah mendapati anak yang berkarakter seperti orang tuanya, namun ternyata hasil yang sama pun tidak jarang ditemui pada anak-anak yang diadopsi atau anak-anak angkat.
3. Teori psikopat, berbeda dengan teori-teori yang menekankan pada intelejensia ataupun kekuatan mental pelaku, teori psikpati mencari sebab-sebab kejahatan dari kondisi jiwanya yang abnormal. Seorang penjahat di sini telah diperbuatnya sebagai akibat gangguan jiwanya.
b. Perspektif Psikologis.
Teori psikologis tentang kriminalitas menghubungkan delinquent dan perilaku criminal dengan suatu “conscience” (hati nurani) yang baik, dia begitu kuat sehingga menimbulkan perasaan bersalah atau ia begitu lemah sehingga tidak dapat mengontrol dorongan-dorongan dirinya bagi suatu kebutuhan yang harus dipenuhi segera. Sigmund Freud, penemu dari psychoanalysis, berpendapat bahwa kriminalitas mungkin hasil dari
“an overactive conscience” yang menghasilkan perasaan bersalah yang tidak tertahankan untuk melakukan kejahatan dengan tujuan agar ditangkap dan dihukum.
Begitu dihukum maka perasaan bersalah mereka berada.
Pendekatan psychoanalytic masih tetap menonjol dalam menjelaskan baik fungsi normal maupun asosial. Meski dikritik, tiga prinsip dasarnya menarik kalangan psikologis yang mempelajari kejahatan yaitu :
1. Tindakan dan tingkah laku orang dewasa dapat dipahami dengan melihat pada perkembangan masa kanak-kanak mereka.
10
2. Tingkah laku dan motif-motif bawah sadar adalah jalin-menjalin, dan interaksi itu mesti diuraikan bila kita ingin mengerti kejahatan.
3. Kejahatan pada dasarnya merupakan representatif dari konflik psikologis.
c. Perspektif Sosiologis.
Pada teori kejahatan dari perspektif sosiologis berusaha mencari alasan-alasan perbedaan dalam hal angka kejahatan di dalam lingkungan sosial. Teori ini dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori umum yaitu : strain, cultural deviance (penyimpangan budaya), dan social control. Perspektif strain dan penyimpangan budaya memusatkan perhatianya pada kekuatan-kekuatan sosial (social forces) yang menyebabkan orang melakukan aktivitas kriminal. Sebaliknya pada teori kontrol sosial mempunyai pendekatan berbeda. Teori ini berdasarkan asumsi bahwa motivasi untuk melakukan kejahatan merupakan bagian dari umat manusia.
d. Perspektif Lainnya.
Teori perspektif lainnya yaitu : 1. Teori Labeling
Teori ini memandang para kriminal bukan sebagai orang yang bersifat jahat (evil) yang terlibat dalam perbuatan-perbuatan bersifat salah terhadap mereka adalah individu-individu yang sebelumnya pernah berstatus jahat sebagai pemberian sistem peradilan pidana maupun secara luas.
Para penganut labeling theory memandang para kriminal bukan sebagai orang yang bersifat jahat (evil) yang terlibat dalam perbuatan-perbuatan bersifat salah terhadap mereka adalah individu-individu yang sebelumnya pernah berstatus jahat sebagai pemberian sistem peradilan pidana maupun secara luas.
11
2. Teori Konflik
Teori konflik lebih mempertanyakan proses perbuatan hukum. Untuk memahami pendekatan atau teori konflik ini, kita perlu secara singkat melihat model tradisional yang memandang kejahatan dan peradilan pidana sebagai lahir dari konsensus masyarakat (communal consensus).
Menurut model konsensus, anggota masyarakat pada umumnya sepakat tentang apa yang benar dan apa yang salah, dan bahwa intisari dari hukum merupakan kodifikasi nilai-nilai sosial sebagai suatu kesatuan yang stabil dimana hukum diciptakan “for the general good” (untuk kebaikan umum). Fungsi hukum adalah untuk mendamaikan dan mengharmonisasi banyak kepentingan-kepentingan yang oleh kebanyakan anggota masyarakat dihargai, dengan pengorbanan yang sedikit mungkin.Sedangkan model konflik, mempertanyakan tidak hanya proses dengan mana seseorang menjadi kriminal, tetapi juga tentang siapa di masyarakat yang memiliki kekuasaan (power) untuk membuat dan menegakkan hukum. Para penganut teori konflik menentang pandangan konsensus tentang asal lahirnya hukum pidana dan penegakannya.
3. Teori Radikal.
Dalam buku The New Criminology, para kriminolog Marxis dari Inggris yaitu Ian Taylor, Paul Walton dan Jack Young menyatakan bahwa adalah kelas bawah kekuatan buruh dari masyarakat industri dikontrol melalui hukum pidana para penegaknya, sementara “pemilik buruh itu sendiri” hanya terikat oleh hukum perdata yang mengatur persaingan antar mereka. Institusi ekonomi kemudian merupakan sumber dari konflik, pertarungan antar kelas selalu berhubungan dengan distribusi sumber daya dan kekuasaan, dan hanya apabila kapitalisme dimusnahkan maka kejahatan akan hilang.
12
BAB 3 PENUTUP 3.1 Kesimpulan
Kriminologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari kejahatan secara sistematis dengan fokus pada penyebab, jenis, dan pengendaliannya. Sebagai cabang ilmu sosial terapan, kriminologi menggunakan pendekatan ilmiah untuk memahami fenomena kejahatan dan reaksi sosial terhadapnya. Ruang lingkup kriminologi mencakup proses pembuatan hukum, pelanggaran hukum, dan reaksi terhadap pelanggaran tersebut. Berbagai teori penyebab kejahatan, baik dari perspektif biologis, psikologis, sosiologis, maupun teori lainnya, menunjukkan bahwa kejahatan adalah hasil dari interaksi antara faktor individu, lingkungan sosial, dan struktur masyarakat. Pemahaman terhadap teori-teori ini membantu merumuskan kebijakan yang lebih efektif dalam mencegah, menangani, dan merehabilitasi perilaku kriminal. Melalui pemahaman yang mendalam tentang kejahatan, kriminologi berkontribusi dalam menciptakan sistem peradilan pidana yang adil dan efektif untuk mengurangi angka kejahatan dan meningkatkan kesejahteraan sosial.
13
DAFTAR PUSTAKA
Abdussalam, R. (2007). Kriminologi.
Mustofa, M. (2002). Memahami Teorisme: Suatu Perspektif Kriminologi. Jurnal Kriminologi Indonesia, 2(3), 30-38.