PSIKOANALISA PATOLOGI SOSIAL DALAM PERSPEKTIF AGAMA ISLAM
“SIDE JOB PEMULUNG DI KECAMATAN CILAWU-KABUPATEN GARUT MENJADI PENCURI DI TEMPAT ORANG KAYA”
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Patologi Sosial Dosen Pengampu: Dr. Hendarsita Amartiwi, M.Pd.
Disusun Oleh:
Annisa Satya Eriesa (24066122004)
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS PENDIDIKAN ISLAM DAN KEGURUAN UNIVERSITAS GARUT
2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Makalah yang berjudul “Psikoanalisa Patologi Sosial dalam Perspektif Agama Islam: Side Job Pemulung di Kecamatan Cilawu-Kabupaten Garut Menjadi Pencuri di Tempat Orang Kaya” ini disusun sebagai salah satu tugas mandiri mata kuliah Patologi Sosial di Universitas Garut.
Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar- besarnya kepada Dr. Hendarsita Amartiwi, M.Pd., selaku dosen pengampu mata kuliah Patologi Sosial, keluarga dan teman-teman, yang telah memberikan motivasi, dukungan, serta saran yang membangun dalam proses penyelesaian makalah ini serta semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam memberikan referensi dan masukan yang berharga.
Makalah ini membahas fenomena sosial terkait perilaku pencurian yang dilakukan oleh seorang pemulung sebagai akibat dari tekanan ekonomi dan ketimpangan sosial. Dalam kajian ini, kami mencoba menganalisisnya melalui perspektif agama Islam guna memahami dasar hukum, dampak, serta solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar karya ini dapat lebih baik di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca, khususnya dalam memahami patologi sosial dari sudut pandang Islam serta menjadi bahan refleksi untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan harmonis.
Garut, 28 Januari 2025
Annisa Satya Eriesa
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I... 1
PENDAHULUAN...1
A. Latar Belakang... 1
B. Rumusan Masalah...1
C. Tujuan Penulisan... 1
BAB II...3
PEMBAHASAN...3
A. Studi Kasus...3
1. Target Pelaku Pencurian...3
2. Faktor Penyebab Pelaku Melakukan Tindakan Pencurian...4
3. Pelaku Diancam Akan Dimasukan Ke Lapas Nusakambangan...5
B. Prilaku Pencurian Dalam Perspektif Agama Islam...5
1. Pengertian Mencuri... 5
2. Dasar Hukum Larangan Mencuri dalam Agama Islam...6
3. Hukuman Bagi Pencuri dalam Islam...7
4. Perbedaan Mencuri, Ghasab, Mencopet dan Membegal...9
5. Dampak Negatif Mencuri... 10
6. Cara Menghindari Perilaku Mencuri...12
BAB III...13
PENUTUP...13
A. Kesimpulan... 13
B. Saran...13
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pencurian merupakan salah satu bentuk penyimpangan sosial yang sering terjadi di masyarakat. Dalam perspektif agama Islam, mencuri adalah perbuatan yang diharamkan dan termasuk dalam dosa besar. Islam menekankan pentingnya menjaga hak milik orang lain dan memberikan sanksi tegas bagi pelaku pencurian sebagai bentuk keadilan.
Di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, terdapat fenomena menarik yang menjadi fokus kajian dalam makalah ini. Seorang pemulung yang awalnya hanya mengumpulkan barang bekas untuk memenuhi kebutuhan hidup, akhirnya terjerumus dalam tindakan pencurian. Perilaku ini diduga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tekanan ekonomi, kondisi sosial, dan ketimpangan ekonomi di masyarakat. Pelaku memiliki pola tertentu dalam menjalankan aksinya, yakni hanya menyasar orang-orang kaya, khususnya pedagang sukses dari kalangan tertentu.
Fenomena ini menjadi contoh nyata bagaimana faktor ekonomi dan sosial dapat memengaruhi seseorang untuk melakukan tindakan yang menyimpang. Oleh karena itu, makalah ini akan membahas lebih dalam mengenai perilaku pencurian dalam perspektif agama Islam, dasar hukumnya, serta dampak dan cara menghindari perilaku tersebut.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kronologi yang dialami pemulung yang juga pernah menjadi seorang pencuri di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut tersebut?
2. Bagaimana pengertian dan batasan pencurian dalam perspektif Islam?
3. Apa saja dasar hukum Islam yang melarang tindakan pencurian?
4. Apa perbedaan antara mencuri, ghasab, mencopet, dan membegal dalam hukum Islam?
5. Apa saja dampak negatif dari perilaku mencuri bagi individu dan masyarakat?
6. Bagaimana cara menghindari perilaku mencuri menurut ajaran Islam?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah penelitian ini adalah:
1. Menjelaskan kronologi yang dialami pemulung yang juga pernah menjadi seorang pencuri di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut.
2. Menjelaskan pengertian pencurian dalam Islam berdasarkan pandangan para ulama.
3. Menganalisis dasar hukum Islam yang melarang pencurian serta sanksinya.
4. Membandingkan pencurian dengan bentuk tindakan mengambil hak orang lain yang serupa dalam Islam, seperti ghasab, mencopet, dan membegal.
5. Mengidentifikasi dampak negatif dari perilaku mencuri, baik secara psikologis, sosial, maupun spiritual.
6. Menyajikan solusi atau langkah-langkah untuk menghindari perilaku mencuri sesuai dengan ajaran Islam.
BAB II PEMBAHASAN A. Studi Kasus
Kisah ini bermula di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, di mana terdapat seorang pria berusia sekitar 52 tahun yang hidup sebagai pemulung barang bekas. Namun, di balik pekerjaannya tersebut, ia juga diketahui menjadi seorang pencuri. Meski tindakannya termasuk dalam perbuatan melanggar hukum, pria ini memiliki pola tindakan yang unik dan berbeda dibandingkan dengan pencuri pada umumnya.
Pria tersebut tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap masyarakat di kampung tempat ia tinggal. Ia tidak pernah mencuri dari tetangga atau orang-orang sekitar yang kehidupannya biasa saja. Sebaliknya, ia hanya menyasar orang-orang tertentu, yaitu para pedagang kaya dari kalangan Cindo (China Indonesia) yang menjalankan bisnis di Kota Garut.
Perilaku pencurian yang dilakukan ini diduga dilatarbelakangi oleh ketimpangan sosial dan ekonomi yang ia rasakan. Pelaku dan kluarganya tentu saja terlibat dalam konflik antara kebutuhan hidup dan nilai-nilai sosial yang berlaku.
Kisah ini menjadi salah satu fenomena yang menggambarkan kompleksitas masalah sosial di wilayah tersebut, di mana faktor ekonomi, struktur sosial, dan stigma masyarakat memainkan peranan penting.
1. Target Pelaku Pencurian
Berdasarkan keterangan dari pelaku, ia memiliki pola tertentu dalam memilih target pencuriannya. Ia tidak mencuri secara acak atau menyasar sembarang orang, melainkan memilih target dengan pertimbangan tertentu. Adapun target pencuriannya meliputi:
a. Tempat di Luar Kampung Ia Tinggal
Pelaku tidak pernah mencuri di lingkungan tempat tinggalnya sendiri. Ia menghindari aksi di dalam kampungnya karena tidak ingin dicurigai atau dianggap sebagai ancaman oleh warga sekitar. Selain itu, ia merasa memiliki keterikatan sosial dengan sesama penduduk kampung, sehingga lebih memilih beroperasi di daerah lain yang tidak memiliki hubungan langsung dengannya.
b. Tempat-Tempat Mewah
Sasaran utama pencuriannya adalah tempat-tempat yang mencerminkan kemewahan, seperti toko besar, rumah-rumah megah, atau kendaraan mewah yang ditinggalkan dalam kondisi kurang pengawasan. Baginya, tempat-tempat ini menunjukkan
adanya kekayaan yang cukup, sehingga ia merasa tindakannya tidak akan merugikan secara signifikan bagi pemiliknya.
c. Pedagang Sukses, Khususnya Orang Chindo (China Indonesia)
Berdasarkan keterangannya, pelaku lebih sering menyasar pedagang sukses dari kalangan Chindo yang berdagang di Kota Garut. Ia menganggap kelompok ini memiliki kekayaan yang cukup besar dibandingkan masyarakat pada umumnya. Selain itu, ada kemungkinan bahwa tindakan ini didasarkan pada pandangan sosial atau persepsi ketimpangan ekonomi yang ia rasakan.
2. Faktor Penyebab Pelaku Melakukan Tindakan Pencurian
Tindakan pencurian yang dilakukan oleh pelaku tidak terjadi begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut.
Berdasarkan keterangan yang diperoleh, terdapat beberapa faktor utama yang menjadi penyebab pelaku terjerumus dalam tindakan kriminal ini, di antaranya:
a. Awal Mula dari Barang Temuan Bernilai Jual
Pelaku awalnya hanya bekerja sebagai pemulung barang bekas, mengumpulkan benda-benda yang sudah tidak terpakai untuk dijual kembali demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Suatu waktu, ia menemukan barang yang ternyata memiliki nilai jual tinggi.
Dari pengalaman ini, ia mulai menyadari bahwa barang-barang tertentu dapat memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan hasil memulung biasa. Hal ini kemudian menjadi titik awal munculnya niat untuk memperoleh barang berharga dengan cara yang tidak sah.
b. Faktor Ekonomi yang Sulit
Kondisi ekonomi yang sulit menjadi faktor utama yang mendorong pelaku untuk melakukan pencurian. Pendapatan dari hasil memulung sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Harga barang kebutuhan pokok yang terus meningkat dan keterbatasan sumber pendapatan membuatnya merasa terdesak untuk mencari cara lain agar tetap bisa bertahan hidup.
c. Sebagai Kepala Keluarga dengan Banyak Anak
Pelaku merupakan seorang kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab besar. Ia memiliki banyak anak yang harus dinafkahi, sementara pekerjaannya sebagai pemulung tidak cukup untuk mencukupi kebutuhan mereka. Tuntutan untuk memberikan makanan, pendidikan, dan kebutuhan dasar lainnya bagi keluarganya menjadi beban berat yang akhirnya mendorongnya untuk melakukan tindakan melawan hukum.
Dari faktor-faktor tersebut, terlihat bahwa tindakan pencurian yang dilakukan pelaku bukan semata-mata karena niat jahat, tetapi lebih karena tekanan ekonomi dan tuntutan hidup yang berat. Hal ini mencerminkan bagaimana kondisi sosial dan ekonomi dapat menjadi pemicu munculnya perilaku menyimpang (deviasi) dalam masyarakat.
3. Pelaku Diancam Akan Dimasukan Ke Lapas Nusakambangan
Pelaku telah mengalami berbagai konsekuensi atas tindakan pencuriannya. Sejak pertama kali tertangkap basah oleh pihak berwenang, ia sudah beberapa kali ditahan oleh polisi. Namun, meskipun telah berulang kali merasakan hukuman, pelaku tetap tidak merasa kapok dan terus melakukan aksi pencurian terhadap target yang telah ia pilih sebelumnya.
Tindakan berulang ini akhirnya membuatnya menjadi perhatian serius aparat penegak hukum. Beberapa kali penahanan yang dijalaninya tidak cukup membuatnya berhenti, hingga pada satu titik, pihak berwenang memberikan peringatan tegas. Pelaku diberitahu bahwa jika ia tertangkap lagi, ia akan dikirim ke Lapas Nusakambangan, sebuah tempat yang terkenal dengan sistem pengamanannya yang ketat dan dihuni oleh para narapidana kasus berat.
Ancaman ini menjadi titik balik bagi pelaku. Rasa takut yang muncul akibat kemungkinan dikirim ke Nusakambangan akhirnya membuatnya benar-benar berhenti melakukan pencurian. Sejak saat itu, ia kembali menjalani kehidupan sebagai pemulung tanpa melakukan tindakan kriminal lagi.
Perubahan ini menunjukkan bahwa tekanan hukum yang lebih berat bisa menjadi faktor yang menghentikan perilaku menyimpang seseorang. Namun, hal ini juga menjadi refleksi bahwa sistem rehabilitasi bagi pelaku kejahatan kecil perlu mendapat perhatian lebih agar mereka tidak terus-menerus mengulangi perbuatannya.
B. Prilaku Pencurian Dalam Perspektif Agama Islam 1. Pengertian Mencuri
Mencuri berarti mengambil sesuatu yang bukan haknya secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan pemiliknya. Secara hukum, mencuri adalah perbuatan yang dilarang oleh negara. Begitupun dalam pandangan islam. Mencuri merupakan dosa dan tidak sesuai rukun iman, rukun islam, dan fungsi agama.
Mencuri menurut bahasa adalah mengambil kepemilikan orang lain dengan tanpa izin. Sedangkan menurut istilah mencuri adalah mengambil harta milik orang lain dari tempat penyimpanan yang dilakukan secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Menurut
ulama fiqih yang dimaksud dengan mencuri adalah mengambil harta milik orang lain dalam ukuran tertentu, dari tempat biasanya disimpan, yang dilakukan oleh seorang mukallaf dengan cara sembunyi-sembunyi, bukan dengan mengandalkan kekuatan, di tempat yang tidak memiliki unsur syubhat.
Dalam perspektif hukum Islam, pencurian (sariqah) memiliki definisi yang spesifik dan melibatkan beberapa unsur penting. Secara etimologis, kata “sariqah” berasal dari bahasa Arab yang berarti mengambil sesuatu secara tersembunyi. Menurut terminologi syariat, para ulama fiqih memberikan definisi yang lebih rinci.
Wahbah az-Zuhaili dalam karyanya “Fiqh al-Islami wa Adillatuhu” mendefinisikan pencurian sebagai pengambilan harta milik orang lain secara sembunyi-sembunyi dari tempat penyimpanannya yang layak, dilakukan oleh seseorang yang baligh dan berakal, tanpa adanya hak atau syubhat terhadap harta tersebut.
Abdul Qadir 'Audah juga memberikan definisi serupa, dengan menekankan bahwa pencurian adalah tindakan mengambil harta orang lain secara sembunyi-sembunyi, tanpa hak, dari tempat penyimpanan yang layak, yang dilakukan oleh seseorang yang baligh dan berakal
2. Dasar Hukum Larangan Mencuri dalam Agama Islam
Dari Amr bin Al Ash bahwasahnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang buah yang tergantung diatas pohon, lalu beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengambil barang orang lain karena terpaksa untuk menghilangkan lapar dan tidak terus- menerus, maka tidak dijatuhkan hukuman kepadanya. Dan barangsiapa mengambil sesuatu barang, sedang ia tidak membutuhkannya dan tidak untuk menghilangkan lapar, maka wajib atasnya mengganti barang tersebut dengan yang serupa dan diberikan hukuman ta’zir. Dan barangsiapa mengambil sesuatu barang sedangkan ia tidak dalam keadaan membutuhkan, dengan sembunyi-sembunyi setelah diletaknya di tempat penyimpanannya atau dijaga oleh penjaga, kemudian nilainya seharga perisai maka wajib atasnya dihukum potong tangan.” (HR. Abu Daud).
Mencuri dilarang dalam syariat Islam, hal ini diterangkan dalam ayat berikut:
لَاوَ
اوْٓ لُ لُ تَ
مْكُلَاوَمْا مْكُنَيْبَ
لِطِابَلَابَ
اوَلَدْتُوَ
آهَبَ
ىلَا مِاكُحُلَا اوَلُكُأْتَلَ
ا قًيْرِفَ
نْ&مْ
لِاوَمْا سِانَلَا
مْثْلَاابَ
مْتَنْاوَ
تَ لُ تَ تَ
نَࣖ تَتَتَتَتَتَتَتَتَتَتَتَتَ
١
“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada
hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”. (QS. al-Baqarah (2): 188).
Ayat ini mengajarkan bahwa segala bentuk pengambilan harta orang lain dengan cara yang tidak sah baik dengan mencuri, menipu, maupun korupsi merupakan perbuatan haram dalam Islam. Selain itu, ayat ini juga menekankan bahwa menggunakan sistem hukum dengan tujuan mengambil hak orang lain secara zalim juga merupakan tindakan dosa.
3. Hukuman Bagi Pencuri dalam Islam
Menurut para ulama fiqih, hukum mencuri dalam Islam sudah sangat jelas diatur.
Ulama seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal sepakat bahwa pencurian yang memenuhi syarat tertentu dapat dikenakan hukuman hadd (potong tangan), namun dengan berbagai pertimbangan seperti jumlah harta yang dicuri, tempat penyimpanan harta tersebut, serta adanya unsur paksaan atau kebutuhan mendesak.
Sebagian ulama juga menekankan bahwa hukuman ini tidak boleh diberlakukan secara sembarangan. Negara atau otoritas Islam harus memastikan bahwa tidak ada ketidakadilan sosial yang menyebabkan seseorang mencuri karena terpaksa. Oleh karena itu, dalam sejarah Islam, Khalifah Umar bin Khattab pernah menunda hukuman potong tangan selama masa kelaparan, karena pencurian saat itu disebabkan oleh kebutuhan mendesak.
Dari Amr bin Al Ash bahwasahnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah ditanya tentang buah yang tergantung diatas pohon, lalu beliau bersabda: “Barangsiapa yang mengambil barang orang lain karena terpaksa untuk menghilangkan lapar dan tidak terus- menerus, maka tidak dijatuhkan hukuman kepadanya. Dan barangsiapa mengambil sesuatu barang, sedang ia tidak membutuhkannya dan tidak untuk menghilangkan lapar, maka wajib atasnya mengganti barang tersebut dengan yang serupa dan diberikan hukuman ta’zir. Dan barangsiapa mengambil sesuatu barang sedangkan ia tidak dalam keadaan membutuhkan, dengan sembunyi-sembunyi setelah diletaknya di tempat penyimpanannya atau dijaga oleh penjaga, kemudian nilainya seharga perisai maka wajib atasnya dihukum potong tangan.” (HR. Abu Daud).
Dari hadist diatas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa terdapat 3 hukuman yang bisa diperlakukan bagi pencuri. Diantaranya:
a. Dimaafkan
Ini berlaku apabila pencuri berada dalam kondisi terpaksa (misal kelaparan) dan tidak dilakukan secara terus-menerus. Dalam hadist dijelaskan: “Tangguhkan hudud (hukuman) terhadap orang-orang islam sesuai dengan kemampuanmu. Jika ada jalan keluar maka biarkanlah mereka menempuh jalan itu. Sesungguhnya penguasa tersalah dalam memaafkan, lebih baik dari tersalah dalam pelaksanaan hukuman.” (HR. Al- Tirmidzi).
Serta dalam Al-Quran:
1) “Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang Dia haramkan, kecuali yang terpaksa kalian makan.”(QS. Al-An’am: 119)
2) “Siapa yang dalam kondisi terpaksa memakannya sedangkan ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka ia tidak berdosa.
Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”(QS.Al-Baqarah: 173) 3) Siapa yang terpaksa mengonsumsi makanan yang diharamkan karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ( Al-Ma’idah: 3).
b. Ta’zir (Dipenjara)
Hukuman ini berlaku bagi seseorang yang mencuri benda namun nilainya tidak terlalu tinggi. Misalnya menemukan benda di jalan atau mengambil buah di pohon tepi jalan, maka ia wajib mengembalikan benda tersebut atau dipenjara.
c. Dipotong Tangan
Hukuman ini diberlakukan pada seorang pencuri yang mengambil barang dari penyimpanan atau penjagaan, barang tersebut bernilai jual tinggi dan ia memang memiliki niat mencuri tanpa ada paksaan.
Allah juga berfirman dalam QS. Al-Ma’idah (5): 38 mengenai hukuman bagi pencuri:
هُ-.لُلَاوَ هُ-.لُلَانْ&مْ لَااكُنْ ابَسَكُ امَبَ ءًۢازَجَامَهَيْدْيْا ا4وَعُطَقْافَ ةُقْرِاسَلَاوَ قُرِاسَلَاوَ هِۗ ءًۢ ااۤ
;مْيْكُحَ ;زَيْزَعَ
٣٨
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan dan sebagai sanksi dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Ayat ini menjelaskan tentang sanksi hukum bagi pencuri dalam syariat Islam, yang dalam konteks fikih memiliki ketentuan tertentu, seperti nilai harta yang dicuri serta keadaan di mana pencurian terjadi.
4. Perbedaan Mencuri, Ghasab, Mencopet dan Membegal
Dalam Islam, tindakan mengambil harta orang lain tanpa izin memiliki berbagai bentuk dan istilah, tergantung pada cara pelaksanaannya. Meskipun semuanya berkaitan dengan perbuatan mengambil hak milik orang lain secara tidak sah, ada perbedaan mendasar antara masing-masing tindakan tersebut.
a. Mencuri (Sariqah)
Mencuri adalah tindakan mengambil harta milik orang lain secara diam-diam dan ter sembunyi, tanpa sepengetahuan pemiliknya. Dalam hukum Islam, mencuri yang memenuhi syarat tertentu dapat dikenai hukuman hadd (potong tangan).
Ciri utama dari mencuri adalah:
1) Dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi.
2) Tidak melibatkan kekerasan atau paksaan langsung.
3) Biasanya terjadi di tempat penyimpanan harta, seperti rumah atau toko.
b. Ghasab
Ghasab adalah tindakan mengambil atau menguasai harta milik orang lain secara terang-terangan dan dengan cara zalim, tanpa izin pemiliknya. Berbeda dengan mencuri yang dilakukan sembunyi-sembunyi, ghasab dilakukan secara terbuka, sering kali dengan memanfaatkan kekuatan atau pengaruh.
Contoh ghasab adalah:
1) Mengambil lahan atau tanah orang lain tanpa izin.
2) Menggunakan kendaraan atau barang orang lain tanpa seizin pemiliknya.
Dalam hukum Islam, ghasab merupakan perbuatan zalim yang dilarang keras.
Meskipun tidak termasuk dalam kategori pencurian yang dikenai hukuman hadd, pelakunya tetap wajib mengembalikan barang yang diambil serta mengganti kerugian jika ada kerusakan atau kehilangan.
c. Mencopet
Mencopet adalah tindakan mengambil harta orang lain dengan cara yang cepat dan licik, biasanya dilakukan di tempat ramai dan menggunakan modus tertentu seperti menyelinap atau berlari setelah mengambil barang.
Ciri khas mencopet:
1) Dilakukan di tempat umum seperti pasar, kendaraan umum, atau keramaian.
2) Tidak melibatkan kekerasan langsung, tetapi menggunakan kelicikan dan kecepatan.
3) Sering kali melibatkan kelompok atau komplotan.
Dalam hukum Islam, mencopet dikategorikan sebagai sariqah (pencurian) karena dilakukan secara diam-diam dan tanpa izin. Jika memenuhi syarat tertentu, seperti nilai harta yang diambil dan tempat penyimpanan, hukuman hadd bisa diterapkan kepada pencopet.
d. Membegal
Membegal atau hirabah adalah tindakan merampas harta milik orang lain dengan kekerasan, ancaman, atau paksaan, yang biasanya dilakukan di jalan atau tempat terbuka.
Berbeda dengan pencurian yang dilakukan sembunyi-sembunyi, pembegalan melibatkan kekerasan fisik atau ancaman senjata terhadap korban.
Dalam Islam, hirabah termasuk dosa besar karena menimbulkan kerusakan dan ketakutan di masyarakat. Hukuman bagi pelaku begal sangat berat, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Ma’idah (5): 33:
نَࣖا ا دًاسَفَ ضِرِلَاا ىفَ نَࣖوَعُسَيْوَ @هُلَوَسُرِوَ هُ-.لُلَا نَࣖوَبَرِاحُيْ نْيْذِلَا اؤُ-زَجَا مَنْا اۤ
تَ هِۗ !تَ"ا #تَ$ ا %تَ&'لُ (اتَ )فٍا,تَ- #$مِّ /0لُلُ 1لُ اتَ(تَ /0'2'اتَ 3تَ45تَ6تَلُ (اتَ اوْٓ 7لُ5تَ 8تَ'لُ (اتَ اوْٓ لُ 95تَ6تَ'5لُ
;مْيْظِعَ ;بٌاذِعَ ةِرِخِ-لَاا ىفَ مْهَلَوَ ايْنْHدْلَا ىفَ ;يٌزَخِ مْهَلَ
٣
“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di muka bumi ialah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang, atau dibuang dari negeri mereka.”
Tindakan begal bisa dikenakan hukuman mati jika mengakibatkan kematian korban, menunjukkan betapa seriusnya Islam dalam menangani tindakan ini.
5. Dampak Negatif Mencuri
Berikut adalah dampak yang ditimbulkan akibat mencuri:
a. Merusak keimanan, hati dan moral
Mencuri tidak hanya merupakan pelanggaran hukum, tetapi juga merusak nilai-nilai keimanan seseorang. Dalam Islam, keimanan seseorang yang mencuri bisa berkurang atau bahkan hilang jika tidak segera bertaubat. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidaklah seorang pencuri itu mencuri dalam keadaan ia beriman." (HR. Al- Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa saat seseorang melakukan pencurian, keimanannya sedang dalam kondisi lemah. Perbuatan mencuri juga mengotori hati dan merusak moral karena pelakunya terbiasa mengambil sesuatu yang bukan haknya, sehingga kehilangan rasa malu dan takut kepada Allah. Jika terus dibiarkan, kebiasaan mencuri bisa menjadi karakter buruk yang sulit dihilangkan.
b. Merasa gelisah. Hal ini disebabkan karena si pencuri selalu diiringi rasa bersalah dan takut jika perbuatannya terbongkar
Seorang pencuri biasanya akan selalu dihantui oleh rasa bersalah dan takut jika perbuatannya diketahui atau terbongkar. Rasa cemas ini bisa berkembang menjadi beban psikologis yang berat, membuat pelaku sulit merasa tenang dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur'an mengajarkan bahwa hanya dengan menghindari perbuatan dosa dan berpegang teguh pada ajaran Islam, seseorang bisa merasakan ketenangan dalam hatinya.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra'd (13): 28. Sebaliknya, perbuatan yang melanggar syariat akan membawa kegelisahan dan rasa takut dalam diri seseorang.
c. Tercorengnya nama baik
Mencuri bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga mencemarkan nama baik keluarga, teman, atau kelompok sosial tempat pelaku berasal. Ketika seseorang tertangkap mencuri, masyarakat akan memberikan stigma negatif, yang bisa berdampak pada masa depan pelaku. Misalnya:
1) Kesulitan mendapatkan pekerjaan karena rekam jejak yang buruk.
2) Hilangnya kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya.
3) Dihindari dalam pergaulan sosial.
Dengan mencuri, seseorang merusak reputasinya sendiri dan kehilangan kehormatan yang seharusnya dijaga dengan baik.
d. Dikucilkan oleh masyarakat
Masyarakat secara umum tidak menerima atau mentoleransi perilaku mencuri.
Pelaku pencurian sering kali mendapatkan perlakuan negatif, seperti:
1) Dijauhi oleh tetangga dan teman-temannya.
2) Tidak dipercayai lagi dalam urusan keuangan atau amanah.
3) Kesulitan mendapatkan bantuan atau dukungan dari komunitas.
Ketika seseorang mencuri, ia bukan hanya merugikan orang lain secara materi, tetapi juga merusak kepercayaan yang telah dibangun dalam kehidupan sosial. Akibatnya, pelaku kehilangan tempat di masyarakat dan menghadapi kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
6. Cara Menghindari Perilaku Mencuri
Supaya bisa terhindar dari perbuatan mencuri, maka diharuskan untuk:
a. Selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya
Salah satu cara utama untuk menghindari perbuatan mencuri adalah dengan senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya. Islam telah memberikan pedoman yang jelas tentang mana yang halal dan mana yang haram.
Dengan memperkuat iman dan ketakwaan, seseorang akan memiliki kontrol diri yang kuat untuk menjauhi segala bentuk tindakan yang diharamkan, termasuk mencuri.
b. Menjaga dan memelihara harga diri
Seorang Muslim harus menjaga kehormatan dan harga dirinya dengan menghindari segala bentuk perbuatan tercela. Mencuri tidak hanya merusak keimanan, tetapi juga mencoreng harga diri seseorang di mata Allah dan masyarakat. Menjaga harga diri berarti berusaha untuk hidup mandiri, bekerja dengan halal, dan tidak mengambil hak orang lain.
Dengan cara ini, seseorang akan terbiasa untuk menghindari perilaku mencuri karena menyadari bahwa perbuatan tersebut hanya akan merendahkan dirinya.
c. Selalu mensyukuri nikmat
Rasa syukur adalah kunci utama dalam menghindari perilaku mencuri. Ketika seseorang selalu bersyukur atas apa yang dimilikinya, ia tidak akan merasa kurang atau iri terhadap kepemilikan orang lain. Orang yang tidak bersyukur cenderung merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki dan bisa terdorong untuk mencuri guna memenuhi keinginannya.
Oleh karena itu, membiasakan diri untuk bersyukur akan membantu seseorang merasa cukup dan terhindar dari godaan untuk mengambil hak orang lain.
d. Istiqamah dan qana’ah
Dalam Islam, istiqamah berarti tetap teguh di jalan kebaikan dan tidak tergoda untuk melakukan perbuatan dosa. Sedangkan qana’ah berarti merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan tidak tergiur oleh harta orang lain. Seseorang yang istiqamah dalam keimanan dan memiliki sifat qana’ah akan terhindar dari keinginan mencuri karena ia merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Ia juga yakin bahwa rezeki yang halal jauh lebih baik daripada harta yang diperoleh dengan cara haram.
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dalam makalah ini, dapat disimpulkan bahwa pencurian merupakan perbuatan yang dilarang dalam Islam dan memiliki konsekuensi hukum yang jelas. Islam mengatur pencurian secara spesifik, baik dalam Al-Qur’an maupun hadis, serta menetapkan sanksi bagi pelaku sesuai dengan tingkat kejahatannya. Dalam hukum Islam, pencurian berbeda dengan tindakan lain seperti ghasab, mencopet, dan membegal, yang masing-masing memiliki karakteristik dan hukuman tersendiri.
Kasus pemulung yang menjadi pencuri di Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, menunjukkan bahwa faktor ekonomi dan ketimpangan sosial dapat menjadi penyebab utama seseorang melakukan tindakan pencurian. Namun, Islam menegaskan bahwa segala bentuk pengambilan harta orang lain secara tidak sah adalah perbuatan haram, terlepas dari latar belakang sosial pelaku.
Pencurian tidak hanya merugikan korban secara materi, tetapi juga membawa dampak negatif bagi pelaku itu sendiri, seperti merusak keimanan, menimbulkan kegelisahan, mencoreng nama baik, serta menyebabkan dikucilkan oleh masyarakat. Oleh karena itu, Islam memberikan solusi dengan menganjurkan umatnya untuk menjauhi perilaku mencuri melalui penguatan iman, menjaga harga diri, bersyukur atas nikmat yang dimiliki, serta berpegang teguh pada prinsip istiqamah dan qana’ah.
B. Saran
Untuk mencegah dan mengurangi perilaku mencuri di masyarakat, diperlukan upaya yang bersifat menyeluruh, baik dari individu, keluarga, masyarakat, maupun pemerintah.
Individu harus memiliki kesadaran penuh terhadap bahaya dan konsekuensi dari mencuri. Setiap orang harus memperkuat iman dan ketakwaannya kepada Allah dengan senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Selain itu, rasa syukur terhadap rezeki yang telah diberikan Allah juga harus ditanamkan dalam diri agar tidak mudah tergoda untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya. Sifat qana’ah (merasa
cukup) juga harus dikembangkan agar seseorang tidak terjerumus dalam perilaku menyimpang demi memenuhi keinginan duniawi.
Masyarakat memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya pencurian dengan menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif. Sikap kepedulian sosial harus ditingkatkan agar tidak ada individu yang merasa terpinggirkan atau terpaksa mencuri karena keadaan ekonomi yang sulit. Solidaritas dalam membantu sesama, seperti memberikan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan atau memberikan bantuan kepada keluarga kurang mampu, dapat menjadi langkah efektif dalam mengatasi faktor ekonomi yang mendorong seseorang melakukan pencurian.
Pemerintah dan pihak berwenang juga harus berperan aktif dalam menanggulangi kasus pencurian, baik melalui penegakan hukum yang adil maupun dengan menciptakan kebijakan sosial yang berpihak kepada masyarakat kecil. Pemerintah perlu menyediakan lapangan pekerjaan dan akses ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat miskin, sehingga mereka tidak merasa harus mencuri demi bertahan hidup. Selain itu, pendekatan hukum yang bijaksana harus diterapkan dengan mempertimbangkan faktor sosial yang melatarbelakangi suatu kasus pencurian, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab yang menunda hukuman potong tangan bagi pencuri yang terdesak oleh kelaparan.
Dengan adanya kesadaran individu, kepedulian masyarakat, serta kebijakan pemerintah yang mendukung kesejahteraan sosial, diharapkan angka pencurian dapat diminimalisir. Islam telah memberikan pedoman yang jelas dalam mencegah perilaku mencuri, dan dengan mengimplementasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari- hari, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman, adil, dan penuh dengan keberkahan.