• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Pendidikan Lingkungan Kelompok 2 Kelas 4D 14 Asas Lingkungan

N/A
N/A
Alifia Naila Putri

Academic year: 2024

Membagikan "Makalah Pendidikan Lingkungan Kelompok 2 Kelas 4D 14 Asas Lingkungan"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

14 ASAS LINGKUNGAN

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Lingkungan Dosen Pengampu : Aryani Dwi Kesumawardani, M.Pd

Disusun Oleh : Kelompok 2

Kelas 4D

Alifia Naila Putri 2211060014 Pradhesti Septiani 2211060108 Thoriq El Fath Zahid 2211060142 Ulfa Nur Rahmwati 2211060144

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

1445 H/ 2024 M

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmaulahi Wabarakatuh

Puji syukur marilah kita panjatkan selalu pada kehadirat Allah swt karena atas limpahan nikmat dan rahmatnya, sehingga makalah yang berjudul “14 Asas Lingkungan” ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu guna memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Lingkungan. Tak lupa pula, shalawat beriringkan salam semoga selalu tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, para sahabatnya, dan semoga kita sebagai umatnya kelak akan mendapatkan syafaatnya di yaumil akhir, aamiin ya rabbal ‘alamiin.

Sebelumnya, kami ucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Pengampu yaitu Ibu Aryani Dwi Kesumawardani, M.Pd yang telah memberikan tugas dan kepada pihak lain yang telah membantu menyelesaikan pembuatan makalah ini. Harapan kami, selain untuk memenuhi tugas mata kuliah, semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi siapapun yang membacanya. Apabila sekiranya dalam makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangannya, kami memohon maaf serta mohon kritik dan saran yang membangun untuk dapat menyempurnakannya. Akhir kata kami ucapkan sekian, terima kasih.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bandar Lampung, 17 Maret 2024

Penulis, Kelompok 2

(3)

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i DAFTAR ISI ... ii BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 1 C. Tujuan ... 2 BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Lingkungan ... 3 B. Asas-Asas Lingkungan ... 4 BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ... 14 B. Saran ... 14 DAFTAR PUSTAKA ... 15

(4)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada hakikatnya, manusia hidup bergantung pada keadaan dan kondisi lingkungan di sekitarnya, yaitu berupa sumber daya alam yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari. Sumber daya tersebut berupa air, tanah, dan udara. Lingkungan merupakan tempat untuk melakukan aktivitas-aktivitas semua makhluk hidup. Makhluk hidup tidak mungkin dapat hidup sendiri tanpa adanya interaksi dengan lingkungan. Banyaknya interaksi yang terus menerus dilakukan juga menyebabkan terjadinya permasalahan lingkungan. Permasalahan perubahan akan teratasi ketika makhluk hidup sadar akan pentingnya pembelajaran mengenai ilmu pengetahuan lingkungan. Sebagai manusia dan juga khalifah di bumi, kita juga mempunyai tugas untuk selalu menjaga dan melestarikan lingkungan, supaya manfaatnya dapat terus dirasakan sampai generasi berikutnya. Oleh karena itu, implementasi pendidikan lingkungan perlu diterapkan.

Ilmu lingkungan adalah salah satu ilmu yang mengintegrasikan berbagai ilmu yang mempelajari jasad hidup (termasuk manusia) dengan lingkungannya, antara lain aspek sosial, ekonomi, kesehatan, pertanian, sehingga ilmu ini dapat dikatakan sebagai poros, tempat berbagai asas dan konsep berbagai ilmu yang saling terkait satu sama lain untuk mengatasi masalah hubungan antara jasad hidup dengan lingkungannya. Asas pada suatu ilmu merupakan penyamarataan kesimpulan secara umum, yang kemudian digunakan sebagai landasan untuk menguraikan gejala (fenomena) dan situasi yang lebih spesifik. Asas di dalam suatu ilmu yang sudah berkembang digunakan sebagai landasan yang kokoh dan kuat untuk mendapatkan hasil, teori, dan model seperti pada ilmu lingkungan, oleh karena itu asas-asas disini sebenarnya merupakan satu kesatuan yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Secara umum, asas yang terdapat pada ilmu lingkungan terdapat 14 Asas yang isi nya mencakup mengenai kehidupan makhluk hidup, alam, energi, ekosistem maupun populasi, yang akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : a. Apa definisi dari lingkungan?

(5)

2 b. Apa saja asas-asas lingkungan?

C. Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : a. Untuk mengetahui definisi dari lingkungan.

b. Untuk memahami apa saja asas-asas yang terdapat dalam ilmu lingkungan.

(6)

3

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Lingkungan

Lingkungan adalah gabungan semua hal di sekitar kita yang mempengaruhi hidup kita. Suhu udara yang panas dan lembab membuat kita gerah, sebaliknya suhu udara yang amat dingin membuat kita menggigil. Bukan hanya suhu, kualitas udara yang lain, misalnya kandungan gas dan partikel juga mempengaruhi hidup kita. Udara yang berbau busuk dan berdebu mengganggu kenyamanan hidup kita juga merupakan salah satu unsur lingkungan bagi kita. Begitupula air, yang merupakan komponen lingkungan kita karena kualitas dan kuantitas air mempengaruhi hidup kita. Air yang bersih dapat menjadi minuman yang menyehatkan, sebaliknya air yang kotor dapat mendatangkan penyakit.1

Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 1997, Lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, sumber daya, energi, keadaan, dan makhluk hidup termasuk juga manusia dan perilakunya yang memengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah lingkungan dapat diartikan sebuah daerah atau kawasan dan seluruh bagian yang terdapat di dalamnya yang ada di sekitar manusia dan mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia.

Suatu lingkungan terdiri dari kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti air, tanah, udara, energi surya, mineral, dan flora fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan.2

Lingkungan merupakan gabungan segala sesuatu di sekitar manusia yang mempengaruhi kehidupannya. Secara etimologi lingkungan berakar dari bahasa Inggris Tengah (Middle English) yaitu "envirounen", serta dari bahasa Prancis yaitu “environner”, yang memiliki makna melingkari atau mengelilingi. Lingkungan dapat didefinisikan sebagai kondisi disekitar atau unsur-unsur dimana makhluk hidup berinteraksi denganya. Lingkungan dapat berupa lingkungan fisik maupun elemen lain yang membentuk suatu lingkungan, seperti elemen kimia dan biologi.

Dengan demikian, suatu lingkungan mengandung faktor biotik dan abiotik yang berperan dalam kelangsungan hidup, evolusi serta perkembangan organisme yang menempatinya. Lingkungan dapat diartikan sebagai kondisi eksternal, sumber daya, rangsangan, dan lain sebagainya, dimana suatu organisme berinteraksi. Lingkungan eksternal termasuk semua unsur biotik dan abiotik

1 Wiryono. Pengantar Ilmu Lingkungan. (Bengkulu: Pertelon Media, 2013).

2Lingkungan Adalah: Pengertian Para Ahli, Jenis dan Manfaat. 2022.

https://lindungihutan.com/blog/lingkungan-adalah/

(7)

4

yang mengelilingi dan mempengaruhi kelangsungan hidup dan pengembangan organisme atau populasi. Dalam definisi yang lebih sederhana lingkungan dapat diartikan sebagai tempat hidup organisme atau yang ditempati oleh makhluk hidup, mencakup semua komponen fisikokimia (physicochemical) dan biologi (biological) dalam suatu ekosistem.3

Batasan ilmu lingkungan termuat dalam Undang- undang tentang ketentuan – ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup Nomor 4 Tahun 1982 (selanjutnya dikenal sebagai UUPLH 1982), Pasal 1 nomor (1) lingkungan hidup diartikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda daya dan keadaan dari makhluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya yang mempengaruhi perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahkluk hidup lainnya.

Ilmu lingkungan merupakan ilmu yang mengintregasikan berbagai bidang ilmu seperti: ilmu fisika , ilmu kimia, ilmu sosial, ilmu pertanian, ilmu laplanologi, ilmu sanitasi dan kesehatan, ilmu ekonomi, ilmu kehutanan, ilmu peternakan, ilmu kelautan. Ilmu lingkungan akan menekankan masalah lingkungan dari berbagai sudut ke ilmuan dengan beberapa variable seperti: materi ,energi, ruang, waktu dan keanekaragaman (diversitas).4

Ilmu lingkungan lebih luas dari pada ilmu ekologi seperti dikatan Dr R.E. Soeriatatmadja bahwa ilmu lingkungan dapat juga dianggap sebagai titik temu ilmu murni dan ilmu terapan. S.J.

Mc Naughton dan Larry L. Wolf mengartikan bahwa ilmu lingkungan mempelajari semua faktor eksternal yang bersifat biologis dan fisika yang langsung mempengaruhi kehidupan, pertumbuhan, perkembangan dan produksi organisme. Prof Dr Ir. Otto Soemarwono, seorang ahli ilmu lingkungan (ekologi) terkemuka mendefinisikan bahwa semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati yang mempengaruhi kehidupan kita. Ilmu lingkungan mengambil konsep ilmu ekologi yaitu suatu istilah dari bahasa Yunani ; “Oikos” artinya Rumah dan “Logos” sama artinya dengan ilmu. Dalam kamus lingkungan yang disusun Michael Allaby, lingkungan hidup diartikan sebagai: The physical, chemical and biotic condition surrounding and organism.5

Ilmu lingkungan merupakan suatu studi yang sistematis mengenai lingkungan alam serta mempelajari tentang kedudukan manusia yang pantas di dalam lingkungan alam. Kedudukan ilmu lingkungan bersifat multidisiplin yang berarti ilmu lingkungan mencakup berbagai disiplin ilmu seperti ekologi, geologi, sosiologi, ekonomi, antropologi dan ilmu politik yang terintegrasi secara holistik dan berpandangan terbuka.6

3 Ashriady, dkk. Pengetahuan Lingkungan. (Bandung: CV. Media Sains Indonesia, 2022), h. 21.

4 Irianto, Ketut. Ilmu Lingkungan. (Denpasar: PT. Percetakan Bali, 2016).

5 Ibid.

6 Ashriady, dkk. Pengetahuan Lingkungan. (Bandung: CV. Media Sains Indonesia, 2022), h. 24.

(8)

5

Ekologi merupakan salah satu ilmu yang mengintegrasikan berbagai ilmu yang mempelajari jasad hidup (termasuk manusia) dengan lingkungannya, antara lain aspek sosial, ekonomi, kesehatan, pertanian, sehingga ilmu ini dapat dikatakan sebagai poros, atau tempat berbagai asas dan konsep segala ilmu yang saling terkait satu sama lain untuk mengatasi permasalahan hubungan jasad hidup dengan lingkungannya. Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai suatu kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.

B. Asas-Asas Lingkungan

Asas merupakan landasan pengetahuan yang bertujuan untuk meningkatkan kegiatan atau tindakan kearah yang lebih baik. Asas dapat diartikan sebagai penyamarataan kesimpulan secara umum yang digunakan sebagai landasan untuk menguraikan suatu fenomena dan situasi yang lebih spesifik. Asas didapatkan dari berbagai usaha pengamatan, penelaahan dan penelitian.

Asas-asas lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari praktek pengelolaan lingkungan.

Penyimpangan terhadap salah satu asas dapat menimbulkan penurunan kualitas lingkungan.

Kondisi dan tata hubungan antar komponen lingkungan memiliki keteraturan atau menganut asas tertentu. Asas-asas lingkungan merupakan landasan dalam pengelolaan lingkungan yang memiliki manfaat sangat besar. Oleh kerena itu, partisipasi masyarakat dalam mentaati seluruh asas lingkungan merupakan hal yang sangat esensial dalam pengelolaan lingkungan, terutama keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mencegah pencemaran lingkungan.7

Asas-asas lingkungan terbagi ke dalam 14 macam asas, dari ke 14 point asas tersebut dikelompokkan lagi menjadi 4 jenis asas, diantaranya yaitu Asas 1-5 (Asas Sumber Daya Alam), Asas 6-8 (Asas Keanekaragaman), Asas 9-12 (Asas Stabilitas Ekosistem), dan Asas 13-14 (Asas Populasi).

1. Asas 1-5 (Asas Sumber Daya Alam)

Sumber daya alam adalah seluruh kekayaan alam (yang terdapat dalam litosfer, hidrosfer, dan atmosfer) yang dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia.

ASAS 1

“Semua energi yang memasuki sebuah organisme hidup, populasi atau ekosistem dapat dianggap sebagai energi yang tersimpan atau terlepaskan. Energi dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain tetapi tidak dapat hilang, dihancurkan atau diciptakan”.

7 Ibid, h. 27.

(9)

6

Asas ini biasa disebut hukum konservasi energi, prinsipnya serupa dengan Hukum Thermodinamika 1 yang sangat dasar dalam ilmu fisika. Setiap energi yang keluar masuk individu, populasi dan ekosistem disebut energi yang tersimpan atau yang terlepas, sehingga kehidupan juga dapat dianggap sebagai pengubah energi. Dalam ilmu termodinamika, kajian ilmu yang menghubungkan antara panas/kalori, kerja/work, suhu/temperatur, dan energi merupakan suatu fenomena yang terjadi dalam kondisi keseimbangan ideal, oleh karena itu juga dikatakan sebagai hukum kekekalan energi.

Contoh penerapan asas 1 :

a) Sebuah rantai makanan pada ekosistem, yang pada mulanya energi panas/kalor dari matahari akan diterima oleh tumbuhan berklorofil dan diubah menjadi energi kimiawi melalui proses fotosintesis. Kemudian daun dari tumbuhan tersebut akan dimakan oleh organisme herbivora, misalnya kancil. Kancil akan mengubah apa yang dimakan menjadi energi kimia yang disimpan dalam tubuhnya, adanya energi tersebut juga digunakan untuk kancil beraktivitas, dan ada yang sebagian kecil berubah menjadi energi panas. Di alam bebas, kancil akan dimangsa oleh predator lainnya seperti singa atau harimau, dan predator tersebut juga mendapatkan energi dari kancil, begitu seterusnya. Dalam hal ini, energi yang didapat dari awal yaitu cahaya matahari tidak hilang dan terus terpakai oleh yang lain namun hanya berubah bentuk energinya saja.

b) Hembusan angin dimanfaatkan energi geraknya (energi kinetik) untuk mendorong kincir pembangkit listrik sehingga mampu menggerakkan turbin generator/dinamo. Dinamo adalah suatu alat yang mengubah energi mekanik menjadi energi listrik akibat perpaduan 2 buah gaya yang terjadi yaitu gaya medan magnet dengan gaya gerak gulung kabel pada strator yang dihubungkan dengan cincin tembaga pada ujungnya, sehingga terbentuklah energi istrik.

Energi listrik ini kemudian dimanfaatkan lebih lanjut oleh manusia untuk diubah seterusnya menjadi berbagai macam bentuk energi lain seperti energi panas, cahaya, suara, dan sebagainya.

ASAS 2

“Tidak ada sistem pengubahan energi yang benar-benar efisien”.

Prinsip kedua ini serupa seperti Hukum Termodinamika 2, yang menjelaskan bahwa setiap perubahan energi yang terjadi tidak akan terjadi tepat 100%, melainkan akan selalu ada energi yang kurang bermanfaat, meskipun enrgi tidak akan pernah hilang, seperti energi sisa yang disebut entropi. Ada kecenderungan bahwa energi di bumi hampir semua akan berubah menjadi energi panas tanpa balik, dari pemuaian ke angkasa lepas.

(10)

7 Contoh penerapan Asas 2 :

a) Potongan sayur-sayuran yang sudah tidak dapat dimanfaatkan atau memang sengaja dipisahkan. Beberapa bagian bahan makanan ada yang sengaja disisakan karena tidak layak konsumsi, atau bahkan karena ketidaktahuan bagaimana memanfaatkanya. Sayur yang tidak dimanfaatkan memiliki sifat organik dapat diurai dan diproses dengan bantuan bakteri (dekomposer) pembusuk menjadi pupuk organik. Kemudian pupuk ini dimanfaatkan oleh tumbuhan sebagai unsur hara yang membantu pertumbuhan dan perkembangan.

b) Konsep pemanfaatan dan pengelolaan limbah dengan 3R (Reuse, Reduce, Reycle).

ASAS 3

“Materi, energi, ruang, waktu, dan keanekaragaman, semuanya termasuk kategori sumber daya alam”.

Sumber alam didefinisikan sebagai segala sesuatu yang tersedia dan bersumber dari alam yang memiliki potensi untuk diproses, dimanfaatkan dan diolah. Pengaruh ruang beranalogi dengan materi dan energi sebagai sumber alam yaitu bahwa ruang memisahkan suatu populasi dari bahan makanannya, sehingga akan menentukan perkembangan populasi organisme itu.

Sumber daya alam dibagi menjadi dua, yaitu sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan yang tidak dapat diperbaharui. Pemanfaatan secara alami merupakan kunci manajemen pengelolaan lingkungan yang baik. Waktu adalah sebuah faktor yang sangat penting dalam sumber alam, waktu selalu berkaitan dengan sumber alam yang lain. Sedangkan keanekaragaman juga menjadi sumber alam yang sangat berpengaruh,yaitu pada ekosistem.

Contoh penerapan Asas 3 :

Tanaman kelapa sawit memerlukan waktu 4 tahun sebelum akhirnya dimanfaatkan tandan buahnya yang mengandung minyak sawit. Waktu yang dibutuhkan tersebut dimulai semenjak bibit (tunas) ditanam hingga dapat berbuah. Kelapa sawit memilki watku produktif untuk selalu menghasilkan tandan sawit setiap tahun, yaitu berkisar 15 tahun hingga 25 tahun tergantung perawatan. Waktu yang dibutuhkan untuk menunggu mulai berbuahnya kelapa sawit dan waktu produktif dari kelapa sawit adalah contoh waktu sebagai sumber alam, manusia harus mampu mengetahui dan memanfaatkan sumber alam tersebut untuk kesejahteraan secara maksimal.

ASAS 4

“Untuk semua kategori sumber daya alam (kecuali keanekaragaman dan waktu), pengadaan sumber alam secara melewati batas dan jenuh akan membawa efek negatif”.

(11)

8

Asas ini menjelaskan mengenai adanya ukuran optimum dalam pengadaan sumber alam bagi suatu populasi. Naik turunnya jumlah populasi tergantung pada ketersediaan sumber daya alam yang tertentu. Terdapat suatu nilai untuk setiap sumber alam agar keberadaannya membawa manfaat yang optimal. Titik ini menjadi batas maksimum sekaligus batas minimum. Jika terjadi penambahan atau bahkan pengurangan akan terjadi berkurangnya daya kegiatan. Naik turunnya suatu sumber alam pada sebuah ekosistem akan berpengaruh pada naik turunnya individu dalam populasi. Sehingga ketika dalam kondisi yang optimum, yang terjadi terhadap jumlah individu tersebut adalah naik dan turun, tidak turun saja atau naik saja.

Contoh penerapan Asas 4 :

a) Dalam sebuah populasi harimau, terjadi pengurangan energi, misal terjadi penurunan populasi kijang sebagai bahan makanannya, hal ini akan berpengaruh juga terhadap populasi harimau yang akan ikut menurun. Sebaliknya, bila populasi kijang naik, akan terjadi kondisi yang baik pada populasi harimau dan akan terjadi peningkatan jumlah yang pesat, hingga pada suatu saat, akan terjadi pengurangan populasi yang terjadi karena populasi kijang tidak cukup lagi untuk harimau.

b) Wilayah perkotaan merupakan areal yang diciptakan manusia sebagai tempat bernaungnya segala aktivitas manusia seperti tempat tinggal, bekerja, berbinis, kegiatan sosial dan sebagainya. Kepadatan populasi yang berlebihan dalam suatu arel akan menekan daya dukung sumber alam disekitarnya misalkan sumber tanah, air, makanan, udara. Sesuai dengan asas lingkungan ke-4, bahwa kepadatan populasi ini bila tidak segera diatasi dengan cara dibatasi jumlahnya akan berdampak merusak baik untuk manusia akibat persaingan yang kuat juga terhadap dampak lingkungan sekitar.

ASAS 5

“Terdapat dua jenis sumber alam dasar, yaitu sumber alam yang pengadaannya dapat merangsang penggunaan seterusnya, dan sumber alam yang tidak mempunyai daya rangsang penggunaan lebih lanjut”.

Di alam, ada kondisi dimana ketika sumber alam tertentu semisal bertambah, maka akan diikuti dengan pertambahan oleh penggunaannya, hal ini disebut sumber alam tersebut merangsang penggunaan seterusnya. Kejadian sebaliknya dikatakan bahwa sumber alam tersebut tidak merangsang penggunaannya.

Contoh penerapan Asas 5 :

Suatu jenis hewan sedang mencari berbagai sumber makanan. Kemudian didapatkan suatu jenis tanaman yang melimpah di alam, maka hewan tersebut akan memusatkan perhatiannya kepada penggunaan jenis makanan tersebut. Dengan demikian, kenaikan sumber

(12)

9

alam (makanan) merangsang kenaikan pendayagunaan. Misal terdapat populasi singa, yang makanannya adalah kijang, baboon, dan kancil. Ketika ada populasi kijang sebagai sumber energi singa naik. Maka konsumsi singa terhadap kijang akan meningkat. Ini adalah contoh bahwa pengadaan sumber alam merangsang penggunaannya.

2. Asas 6-8 (Asas Keanekaragaman) ASAS 6

“Individu dan spesies yang mempunyai lebih banyak keturunan daripada saingannya cenderung berhasil mengalahkan saingannya”.

Asas ini memiliki prinsip kompetensi. Spesies atau individu yang mempunyai kemampuan adaptasi yang lebih tinggi akan lebih banyak keturunan daripada spesies atau individu yang kurang adaptif. Jika kedua spesies/individu yang melakukan persaingan mempunyai tingkat keturunan yang berbeda, maka spesies/individu yang mempunyai tingkat keturunan yang lebih tinggi akan berhasil mengalahkan spesies saingannya. Begitupun apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan, bukan tidak mungkin akan terjadi perubahan jumlah populasi, dan spesies/individu yang bertambah adalah spesies/individu yang lebih adaptif terhadap kondisi yang baru.

Contoh penerapan Asas 6 :

Dalam sebuah ekosistem hutan, tumbuh-tumbuhan dengan tingkat yang lebih tinggi seperti tumbuhan semak, akan memiliki populasi yang lebih tinggi daripada tumbuhan rumput.

Namun ketika terjadi perubahan lingkungan, misalnya karena kebakaran hutan, maka setelah itu, populasi rumput akan lebih tinggi, karena rumput memiliki tingkat adaptasi yang lebih tinggi.

ASAS 7

“Kemantapan keanekaragaman suatu komunitas lebih tinggi di alam yang mudah diramal”.

Pada sebuah daerah yang mempunyai kondisi yang cenderung sama dalam suatu waktu, atau pada daerah tersebut terdapat sebuah siklus perubahan faktor lingkungan yang mempunyai pola yang teratur, kemantapan keanekaragaman suatu komunitas akan lebih tinggi. Hal ini dikarenakan dengan kondisi yang relatif mudah diramalkan tersebut proses untuk hidup relatif lebih mudah. Pada derah tersebut, akan banyak dijumpai keanekaragaman dengan jenis spesies yang banyak, yang melakukan evolusi hingga tingkat optimum terhadap keadaan lingkungan.

Sebaliknya, pada daerah yang cenderung tidak stabil, spesiesnya hanya sedikit dan kepadatannya umumnya serupa.

Contoh penerapan Asas 7 :

(13)

10

Pada sebuah sungai yang besar dan mengalir sepanjang tahun dengan suhu yang tidak fluktuatif dan telah ada dalam kurun waktu yang cukup lama, terdapat keanekaragaman spesies dan komunitas yang lebih mantap dan stabil daripada di sebuah sungai yang kecil dan hanya berair pada musim penghujan saja.

ASAS 8

“Sebuah habitat (lingkungan hidup) dapat jenuh atau tidak oleh keanekaragaman hayati, bergantung kepada keanekaragaman niche pada habitat tersebut”.

Dalam asas ini menyatakan bahwa setiap spesies mempunyai niche tertentu yang berbeda, yaitu memiliki keperluan dan fungsi masing-masing di alam. Adanya perbedaan tersebut membuat setiap makhluk hidup cenderung hidup satu sama lain secara berdampingan dan tanpa adanya kompetensi.

Contoh penerapan Asas 8 :

Misalnya antara zebra dengan jerapah, zebra akan menempati wilayahnya sendiri begitupun juga dengan jerapah. Hal ini karena adanya perbedaan jenis makanan dan kemampuan organisme tersebut dalam mempertahankan hidup. Zebra hidup di daerah yang banyak rumput atau padang rumput sedangkan jerapah hidup di kondisi alam yang banyak menyediakan pohon yang banyak daun mudanya.

3. Asas 9-12 (Asas Stabilitas Ekosistem) ASAS 9

“Keanekaragaman komunitas apa saja sebanding dengan biomasa dibagi produktivitas”.

Asas ini mengandung arti bahwa efisiensi penggunaan aliran energi dalam sistem biologi akan meningkat dengan meningkatnya kompleksitas organisasi sistem biologi dalam suatu komunitas. Dalam sebuah sistem biologi, ada sebuah hubungan antara biomassa, aliran energi, dan keanekaragaman.

D = K × (B/P) D = Keanekaragaman K = Konstanta

B = Biomassa P = Produktivitas

(14)

11

Bila sebuah sistem menyimpan biomassa dan mengandung aliran energi yang berasosiasi sebanding dengan aliran materinya, dan materi itu bebas tukar-menukar dengan materi yang disimpan, maka jumlah waktu rata-rata dapat dinyatakan dengan hasil kali sebuah koifisien tetapan dengan hasil bagi antara biomassa dengan produktivitas energi. Karena keanekaragaman sebanding dengan waktu, maka ketika keanekaragaman dalam sebuah komunitas meningkat, maka kecermatan penggunaan energi akan meningkat. Pemeliharaan keanekaragaman hayati merupakan upaya yang vital dalam rangka meningkatkan efisiensi aliran energi.

Contoh penerapan Asas 9 :

Komunitas yang memiliki keanekaragaman spesies antara lain, tumbuhan, belalang, burung pipit, ular, elang, kijang, singa dan harimau, aliran bomassa dan aliran energi yang terjadi pada komunitas tersebut akan lebih cermat, dimana hanya akan ada sedikit sekali energi yang terbuang dan kurang bermanfaat, dibandingkan dengan komunitas yang memiliki keanekaragaman yang sedikit.

ASAS 10

“Perbandingan (Rasio) antara biomassa dengan produktivitas (B/P) naik dalam perjalanan waktu pada lingkungan yang stabil hingga mencapai sebuah asimtot”.

Jika dalam sebuah lingkungan yang stabil keanekaragaman meningkat seiring dengan waktu, maka perbandingan antara biomassa dengan produktivitas juga akan meningkat. Prinsip ini menjelaskan bahwa sistem biologi berevolusi ke arah pencermatan penggunaan energi, yang memungkinkan berkembangnya keanekaragaman. Asas ini menunjukkan adanya maksimal efisiensi penggunaan energi dan minimasi pemborosan energi dalam perjalanan evolusi hidup.

Contoh penerapan Asas 10 :

Hewan berdarah panas di daerah iklim dingin akan mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar, misal serigala di kutub akan mempunyai tubuh yang lebih besar dan bulu yang lebih tebal.

Sehingga rasio dengan berat tubuh akan lebih rendah, hal ini dilakukan untuk efisiensi energi.

ASAS 11

“Sistem yang sudah mantap (dewasa) mengeksploitasi sistem yang belum mantap (belum dewasa)”.

Sistem (ekosistem, populasi, tingkat makanan) yang lebih dewasa memindahkan energi biomasa dan keanekaragaman tingkat organisasi di dekatnya yang belum dewasa, artinya, energi, materi dan keanekaragaman mengalir kearah organisme yang lebih kompleks. Prinsip ini menjelaskan bahwa salah satu cara untuk meningkatkan kecermatan penggunaan energi adalah

(15)

12

eksploitasi sistem lain yang menghabiskan energinya untuk mengumpulkan materi dan energi yang dibutuhkan.

Contoh penerapan Asas 11 :

Kota sebagai suatu lingkungan adalah sistem yang lebih dewasa daripada desa. Akan terjadi eksploitasi yang dilakukan desa meliputi dalam hal ketenagakerjaan, ekonomi, sosial dan politik. Begitu seterusnya, kota yang lebih besar akan mengeksploitasi kota yang lebih kecil.

ASAS 12

“Kesempurnaan adaptasi suatu sifat atau tabiat bergantung kepada kepentingan relatifnya di dalam keadaan suatu lingkungan”.

Asas ini merupakan kelanjutan dari asas 6 dan 7 yaitu mengenai seleksi. Di lingkungan yang stabil, keanekaragaman terus-menerus meningkat, sementara seleksi berlaku, diharapakan terjadi perbaikan yang terus menerus dalam sifat adaptasinya. Dalam suatu ekosistem yang mantap di habitat yang stabil, sifat responsif terhadap fluktuasi yang tak terduga tidak diperlukan. Yang berkembang justru adaptasi peka dari perilaku dan biokimia lingkungan sosial dan biologi dalam habitat itu. Prinsip ini menjelaskan bahwa tidak ada strategi evolusi yang terbaik dan mandiri dimuka bumi ini. Keadaaan lingkungan fisik sangat berpengaruh. Suatu perubahan drastis dapat terjadi, dan sistem yang lebih dewasa akan lebih terancam bahaya.

Contoh penerapan Asas 12 :

Kemampuan ikan dalam beradaptasi, seperti ikan betok yang mampu bertahan pada kondisi yang miskin air dan oksigen, langkah yang digunakan oleh ikan jenis ini adalah dengan adaptasi morfologi dan fisiologi tubuhnya sehingga cocok dengan kondisi tersebut. Atau pada jenis ikan yang hanya mampu hidup dengan kondisi air yang banyak, jika terjadi perubahan kondisi fisik seperti pendangkalan dan kurangnya air akan berpengaruh pada daya adaptasi ikan ini sehingga kondisi yang sudah stabil/mantap/dewasa tersebut dapat berubah dan mengancam keberadaan spesies tersebut.

4. Asas 13-14 (Asas Populasi) ASAS 13

“Lingkungan yang secara fisik stabil memungkinkan berlakunya penimbunan keanekaragaman biologi dalam ekosistem yang mantap (dewasa), yang kemudian dapat menggalakkan kestabilan pada populasi”.

Asas ini merupakan penjabaran dari asas 7, 9 dan 12. Pada komunitas yang mantap, jumlah jalur energi yang masuk melalui ekosistem meningkat, sehingga apabila terjadi suatu

(16)

13

goncangan pada salah satu jalur, maka jalur yang lain akan mengambil alih, dengan demikian komunitas masih tetap terjaga kemantapannya.

Contoh penerapan Asas 13 :

Kondisi iklim didaerah tropis akan menyebabkan keanekaragaman tinggi. Keaneragaman tinggi sering disebut diversity is stability. Daerah yang mempunyai keanekaragaman tinggi adalah hutan tropika (di kawasan tropika jarang sekali terjadi komunitas alami, dirajai oleh hanya satu jenis). Sehingga dalam lingkungan yang stabil dapat mewujudkan kestabilan populasi dan ekosistem. Hal inilah yang menyebabkan keberagaman di hutan tropis cukup tinggi.

ASAS 14

“Derajat pola keteraturan naik-turun populasi bergantung kepada jumlah keturunan dalam sejarah populasi sebelumnya yang nanti akan mempengaruhi populasi itu”.

Keanekaragaman yang rendah pada rantai makanan dalam ekosistem yang belum mantap, menimbulkan derajat ketidakstabilan populasi yang tinggi. Fluktuansi tinggi akan terjadi di sebuah populasi jika jumlah spesies yang kecil berinteraksi dengan spesies lain, sebagai contoh, pada konsep jaring-jaring makanan.

Pada konsep rantai makanan, ada produsen, konsumen I, konsumen II dan konsumen III. Ketika populasi konsumen I meningkat karena suatu hal, maka populasi produsen akan turun, populasi konsumen II dan III juga naik. Pada waktu berikutnya,produsen yang berpopulasi rendah akan diikuti menurunnya populasi konsumen I, II dan III.

Contoh penerapan lain Asas 14 :

Sebuah kebun jagung yang ditinggalkan setelah panen dan tidak ditanami lagi. Disitu akan bermunculan berbagai jenis gulma yang membentuk komunitas. Apabila lahan itu dibiarkan cukup lama, maka dalam komunitas tersebut akan terjadi pergantian komposisi jenis yang mengisi lahan tersebut. kondisi seperti iklim juga dapat dipengaruhi oleh kondisi iklimnya.

(17)

14

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang diperoleh berdasarkan pembahasan pada makalah ini adalah sebagai berikut :

1) Menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 1997, Lingkungan adalah kesatuan ruang dengan semua benda, sumber daya, energi, keadaan, dan makhluk hidup termasuk juga manusia dan perilakunya yang memengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Suatu lingkungan terdiri dari kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti air, tanah, udara, energi surya, mineral, dan flora fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan. Ilmu lingkungan mempelajari semua faktor eksternal yang bersifat biologis dan fisika yang langsung mempengaruhi kehidupan, pertumbuhan, perkembangan dan produksi organisme.

2) Asas merupakan landasan pengetahuan yang bertujuan untuk meningkatkan kegiatan atau tindakan kearah yang lebih baik. Asas dapat diartikan sebagai penyamarataan kesimpulan secara umum yang digunakan sebagai landasan untuk menguraikan suatu fenomena dan situasi yang lebih spesifik. Asas didapatkan dari berbagai usaha pengamatan, penelaahan dan penelitian. Asas-asas lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari praktek pengelolaan lingkungan. Penyimpangan terhadap salah satu asas dapat menimbulkan penurunan kualitas lingkungan. Kondisi dan tata hubungan antar komponen lingkungan memiliki keteraturan atau menganut asas tertentu. Asas-asas lingkungan merupakan landasan dalam pengelolaan lingkungan yang memiliki manfaat sangat besar. Asas-asas lingkungan terbagi ke dalam 14 macam asas, dari ke 14 point asas tersebut dikelompokkan lagi menjadi 4 jenis asas, diantaranya yaitu Asas 1-5 (Asas Sumber Daya Alam), Asas 6-8 (Asas Keanekaragaman), Asas 9-12 (Asas Stabilitas Ekosistem), dan Asas 13-14 (Asas Populasi).

3.2 Saran

Diharapkan kepada pemakalah berikutnya ataupun bagi pembaca untuk dapat menambah bahan bacaan dan referensi yang lebih luas lagi supaya dapat memberikan wawasan yang lebih relevan dan luas mengenai materi ini, sehingga dapat sama-sama memetik dan menambah ilmu pengetahuan yang bermanfaat.

(18)

15

DAFTAR PUSTAKA

Ashriady, dkk. 2022 Pengetahuan Lingkungan. Bandung: CV. Media Sains Indonesia.

Ekologi dan Ilmu Lingkungan. Universitas Esa Unggul. Diakses pada 19 Maret 2024 dari https://bahan-ajar.esaunggul.ac.id/sdp121/wp-

content/uploads/sites/1807/2020/01/Ekologi-Sumber-Daya-Lingkungan-%E2%80%93- 8.pptx

Irianto, Ketut. 2016. Ilmu Lingkungan. Denpasar: PT. Percetakan Bali.

Lingkungan Adalah: Pengertian Para Ahli, Jenis dan Manfaat. 2022. Diakses pada 19 Maret 2023 dari https://lindungihutan.com/blog/lingkungan-adalah/

Wiryono. 2013. Pengantar Ilmu Lingkungan. Bengkulu: Pertelon Media.

Referensi

Dokumen terkait