• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PERILAKU KONSUMTIF TERHADAP ONLINE SHOP

N/A
N/A
Adiba Alia

Academic year: 2023

Membagikan "MAKALAH PERILAKU KONSUMTIF TERHADAP ONLINE SHOP"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PERILAKU KONSUMTIF TERHADAP ONLINE SHOP

MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARNEGARAAN

Guru Mata Pelajaran:

Lia Ameliani, S.Pd

Disusun Oleh:

XII MIPA 1 Kelompok 4 Adiba Alia Jamilah (03) Faris Maulana Azka (12) M. Varel Darius G. (23) Naysilla Olivia (24) Putri Ayu Nur Hakim (25) Revan Akmal P. (29)

MATEMATIKA & ILMU PENGETAHUAN ALAM SMA NEGERI 22 BANDUNG

2023

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas berkat dan rahmat-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas makalah studi kasus yang berjudul “Perilaku Konsumtif Terhadap Online Shop”

dengan baik dan selesai tepat waktu.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan. Selain itu, makalah ini juga disusun dengan tujuan untuk menambah wawasan tentang sesuatu yang berhubungan dengan perilaku konsumtif terhadap online shop bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Lia Ameliani, S.Pd selaku guru Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.

Terakhir, kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sepenuhnya sempurna. Maka dari itu, kami terbuka terhadap kritik dan saran yang dapat membangun kemampuan kami, agar pada tugas berikutnya dapat menulis makalah dengan lebih baik lagi. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kami dan para pembaca.

Bandung, 5 November 2023

Kelompok 4

(3)

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. LATAR BELAKANG ... 1

B. RUMUSAN MASALAH ... 4

C. TUJUAN ... 4

BAB II ... 5

LANDASAN TEORI ... 5

A. DASAR TEORI ... 5

B. METODOLOGI ... 8

BAB III ... 10

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 10

A. HASIL WAWANCARA... 10

B. PEMBAHASAN ... 12

C. DOKUMENTASI ... 15

BAB IV ... 16

PENUTUP ... 16

A. KESIMPULAN ... 16

B. SARAN ... 16

DAFTAR PUSTAKA ... 17

LAMPIRAN ... 18

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Perilaku konsumtif sangat erat kaitannya dengan konsumen, perilaku konsumtif merupakan suatu tindakan yang dilakukan secara berlebihan terhadap penggunaan suatu produk. Lebih lanjut, perilaku konsumtif juga diartikan sebagai tindakan memakai suatu produk secara tidak tuntas. Artinya, seseorang membeli produk bukan karena produk yang dipakai telah habis, melainkan salah satu faktornya produk tersebut sedang trend.

Fenomena perilaku konsumtif ini tentunya akan terus berkembang, dikarenakan adanya faktor yang dapat menyebabkan munculnya perilaku konsumtif. Pengertian konsumtif secara luas yaitu menggunakan barang atau jasa dengan cara berperilaku boros dan berlebihan yang lebih mendahulukan keinginan daripada kebutuhan dalam segi prioritas atau dapat juga dikatakan gaya hidup berlebihan. Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa masyarakat yang berperilaku konsumtif tidak melihat usia, jenis kelamin dan pekerjaan.

Mereka bisa saja dari kaum remaja, dewasa dan orang tua namun beberapa penelitian melaporkan bahwa remaja cenderung berperilaku konsumtif. Oleh sebab itulah para remaja saat ini lebih suka berbelanja apalagi di era sekarang ini banyak remaja yang senang berbelanja lewat aplikasi berbelanja online.

Lahirnya era modern memunculkan budaya konsumtif, era yang berbasis kemajuan teknologi. Keberadaan media massa dan platform media sosial sebagai penghubung antara kapitalis sebagai produsen dan konsumen telah memberikan dampak yang sangat besar terhadap gaya hidup konsumtif saat ini. Perkembangan teknologi yang semakin pesat, memunculkan ide-ide baru yaitu berbelanja via online yang memudahkan untuk membeli barang yang mereka butuhkan. Kehadiran media sosial juga berperan penting dalam perkembangan berbelanja via online yaitu melalui iklan atau promosi barang.

Hadirnya aplikasi berbelanja online seperti Shopee sebagai pasar online yang menyediakan banyak barang yang mudah di dapat dan dibutuhkan masyarakat, yang tentunya membuat masyarakat lebih tertarik untuk berbelanja secara online daripada datang langsung ke toko. Platform tersebut telah menarik perhatian masyarakat dalam waktu yang singkat, sehingga memudahkan masyarakat dalam mengkonsumsi barang, dan jika tidak dikendalikan dengan baik maka kepribadian konsumtif akan terlihat jelas pada populasi yang telah menjadi budaya pada era globalisasi ini. Di lain sisi, platform media sosial merupakan sesuatu yang

(5)

2

selalu mengiringi kehidupan masyarakat di era globalisasi ini. Media sosial merupakan medium pada internet yang memungkinkan penggunanya untuk saling berinteraksi, berkomunikasi, dan membentuk ikatan sosial secara virtual, yang tidak di ragukan lagi merupakan salah satu variabel yang memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan sosial modern. Atensi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari terfokus pada informasi yang disajikan secara bergantian melalui media, sehingga informasi yang disajikan menjadi ukuran nilai-nilai yang dianut masyarakat dalam kehidupan. Artinya, nilai-nilai yang ada di masyarakat saat ini juga merupakan nilai-nilai yang dipengaruhi oleh media.

Menurut Kuntowijoyo (2001:176-177), masyarakat modern merupakan masyarakat industrial yang ditandai oleh tiga hal, yaitu rasionalisasi, komersialisasi, dan monetisasi.

Rasionalisasi berarti masyarakat modern lebih mengutamakan sesuatu hal yang bermakna daripada yang tidak berarti. Komersialisasi menunjukkan bahwa setiap aspek kehidupan harus pasti memiliki daya jual tersendiri. Monetisasi menunjukkan bahwa segala sesuatu harus diukur dengan uang. Perilaku konsumtif merupakan tindakan mengkonsumsi sesuatu yang sebenarnya tidak diperlukan, dan berlebihan.

Perilaku konsumtif terjadi karena makhluk sosial memiliki kecenderungan materialistis atau keinginan yang kuat untuk memiliki sesuatu tanpa memperhatikan kebutuhannya sendiri, dan sebagian melakukannya untuk memuaskan keinginan akan kesenangan. Perilaku konsumtif dipengaruhi oleh banyak faktor, dua diantaranya adalah gaya hidup dan literasi keuangan.

Generasi muda pada masa kini masih terobsesi dengan tren atau sesuatu yang menarik perhatian mereka seperti tampilan fashion yang mempesona. Dengan cara ini, remaja tidak dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. kecenderungan materialistis atau keinginan yang kuat untuk memiliki sesuatu tanpa memperhatikan kebutuhannya sendiri, dan sebagian melakukannya untuk memuaskan keinginan akan kesenangan. Timbulnya hasrat untuk membeli barang barang yang kurang diperlukan untuk memenuhi kepuasan pribadi. Pada kenyataannya banyak kegiatan belanja sehari‐hari yang tidak didasari oleh pertimbangan yang matang.

Kegiatan belanja sebagai salah satu bentuk konsumsi. Dulu berbelanja hanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi saat ini belanja juga sudah menjadi gaya hidup, sehingga belanja tidak hanya untuk membeli kebutuhan pokok yang diperlukan, namun belanja dapat pula menunjukkan status sosial seseorang, karena belanja berarti memiliki materi. Gaya belanja yang lebih spontan juga dapat diantisipasi untuk sewaktu waktu muncul, misalnya saat hasrat untuk membeli terasa begitu kuat sehingga menjadi pemicu timbulnya perilaku konsumtif. Pelaku utama gaya hidup konsumtif adalah kelompok usia remaja. Hal tersebut

(6)

3

terkait dengan karakteristik remaja yang mudah terbujuk dengan hal-hal yang menyenangkan, ikut–ikutan teman, dan cenderung boros dalam menggunakan uang. Sifat- sifat remaja ini yang dimanfaatkan oleh para produsen untuk memasarkan barang hasil produksinya sehingga mereka dapat dengan mudah menjual dan mendapatkan hasil dari barang produksinya. Hal tersebut menyebabkan para remaja mudah untuk terpengaruh oleh promosi-promosi produk atau barang yang di promosikan di media masa.

Secara psikologis, remaja adalah usia dimana individu mulai tertarik dengan hal-hal baru di sekitarnya yang membuat individu ingin mempelajari hal hal baru, termasuk membeli barang-barang. Kebiasaan ini bisa membuat seseorang merasa senang dan ketagihan. Hal itu akan membuat individu terus menerus mencobanya hingga menjadi sebuah kebiasaan. Kuatnya pengaruh lingkungan seperti teman dan keluarga membuat para remaja berusaha untuk menampilkan penampilan terbaik dan menarik agar mereka tidak merasa ditolak atau dikucilkan oleh kelompok atau lingkungannya. Para remaja juga tidak ragu untuk membeli barang-barang mewah dan mengikuti tren agar terlihat lebih menarik dan menonjol dalam kelompoknya. Keinginan untuk terus berpenampilan menarik menyebabkan remaja melakukan pembelian secara berlebihan terhadap suatu barang, sehingga dapat menyebabkan individu (termasuk remaja) mengalami kepribadian konsumtif. Anggasari (dalam Triyaningsih, 2011) menegaskan bahwa perilaku konsumtif ditandai dengan terus menerus membeli barang yang sifatnya berlebihan. Akibatnya mereka kurang peduli dengan kebutuhan mereka sendiri dan lebih peduli dengan keinginan pribadi mereka sendiri.

Dalam konteks ini, remaja di hadapkan pada penyakit kultural yaitu keinginan untuk selalu mengikuti tren produk terbaru sebagai simbol status yang seringkali menjadi pendorong untuk memperoleh atau mengkonsumsi suatu produk. Ada pula gejala psikososial dalam bentuk imitasi, sehingga para remaja berlomba-lomba menggunakan produk yang lebih baik dari yang lain. Gejala infantil semacam ini tentu tidak terlepas dari dampak interaksi komunitas di media sosial. Efek ini dimungkinkan karena media sosial adalah alat untuk interaksi sosial. Sebagian besar di kalangan remaja, berbelanja merupakan gaya hidup yang berfokus pada keinginan daripada kebutuhan (Hatane Semuel, 2006). Keinginan untuk diterima dan disukai orang lain, mengarahkan remaja untuk mengikuti gaya hidup modis saat ini (Sihotang, 2009). Selain itu, mereka juga menginginkan penilaian diri yang positif sampai mereka akhirnya menunjukkan eksistensi mereka dalam kelompok.

Saat ini tentunya berbelanja via online akan membuat masyarakat dan generasi muda semakin konsumtif, mempengaruhi masyarakat dan generasi muda melalui stimulus untuk membeli barang-barang online secara berlebihan, dan akhirnya membudaya dengan anggapan bahwa perilaku konsumtif merupakan hal yang wajar. Fenomena ini sangat menarik untuk

(7)

4

diteliti mengingat perilaku konsumtif dalam berbelanja online sangat membludak pada masa kini, salah satunya pada beberapa narasumber yang telah kita wawancarai, Warga SMA Negeri 22 Bandung.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang muncul dalam penelitian ini adalah:

1) Apa pengaruh online shop terhadap warga SMAN 22 Bandung?

2) Apa faktor pendorong perilaku konsumtif warga SMAN 22 Bandung

C. TUJUAN

Suatu penelitian mempunyai tujuan yang jelas dan pasti sebagai pedoman dan arah dalam mengadakan penelitian. Sesuai dengan permasalahan, maka tujuan dari penelitian ini yaitu:

1. Tujuan Umum

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui perilaku konsumtif Warga SMA Negeri 22 Bandung dalam berbelanja online.

2. Tujuan Khusus

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk:

A) Untuk memahami dan menggambarkan perilaku konsumtif Warga SMA Negeri 22 Bandung yang berbelanja online.

B) Untuk memahami dan menganalisis faktor pendorong perilaku konsumtif Warga SMA Negeri 22 Bandung yang berbelanja online.

(8)

5 BAB II LANDASAN TEORI

A. DASAR TEORI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI (Tresna. 2013: 5) perilaku dapat diartikan sebagai tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan.

Sedangkan perilaku konsumtif diartikan sebagai bersifat konsumsi dimana hanya memakai saja dan tidak menghasilkan sendiri.

Menurut Nur Fitriyani, Prasetyo Budi Widodo, Nailul Fauziah di Jurnal Psikologi 12 (1), 1-14, 2013 perilaku konsumtif adalah perilaku membeli yang didasarkan pada keinginan irasional dan eksesif dan bukan kebutuhan. Perilaku konsumtif dipengaruhi oleh motivasi, harga diri, obervasi, proses belajar, kepribadian, konsep diri, gaya hidup, budaya, kelas sosial, dan referensi kelompok serta keluarga.

Waluyo (Fitri. 2013: 30) mengemukakan bahwa perilaku konsumtif adalah perilaku atau gaya hidup yang suka membelanjakan uang tanpa menimbang dengan matang. Menurut Basu Swastha Dharmmesta dan Hani Handoko (2011: 107) menyatakan bahwa dalam mendeskripsikan perilaku konsumtif maka konsumen tidak dapat lagi membedakan antara kebutuhannya dan keinginannya.

Menurut Maulana (Hidayah. 2015: 2) menjelaskan perilaku konsumtif merupakan perilaku dimana timbulnya keinginan untuk membeli suatu barang yang kurang diperlukan untuk memenuhi kepuasan pribadi. Dalam psikologi, hal ini dikenal dengan istilah compulsive buying disorder (kecanduan belanja), dimana orang yang terjebak di dalamnya tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan.

Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa perilaku konsumtif adalah suatu tindakan atau perilaku membeli serta menggunakan barang maupun jasa secara berlebihan tanpa pertimbangan yang matang dengan tujuan untuk memenuhi keinginan pribadi semata dan bukan lagi atas tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar yang dijadikan pemenuhan gaya hidup untuk bisa tampil mewah.

(9)

6

Lestari (2018: 2) menyatakan bahwa individu selalu mencari kepuasan dengan cara mengonsumsi barang yang bukan kebutuhannya melainkan untuk memenuhi keinginannya.

Fenomena ini biasanya dikenal dengan istilah perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif merupakan perilaku dimana timbulnya keinginan untuk membeli barang-barang maupun menggunakan jasa hanya untuk memenuhi kepuasan pribadi semata dan tidak lagi memandang manfaat atau urgensi dari barang maupun jasa tersebut. Perilaku konsumtif ini cenderung ditemui pada kalangan remaja. Dimana, remaja melakukan perilaku konsumtif untuk memenuhi gaya hidup (life style).

Ciri-ciri perilaku konsumtif pada remaja adalah (Astasari & Sarah, 2006):

1. Remaja sangat mudah terpengaruh oleh rayuan penjual

2. Mudah terbujuk iklan yang memperlihatkan keistimewaannya dalam mereview suatu barang 3. Tidak berpikir panjang dalam membeli barang

Dengan perkembangan teknologi yang semakin berkembang membuat masyarakat ini semakin bergantung pada teknologi, gadget dan aktivitas media sosial. Perkembangan teknologi, terutama teknologi komunikasi seperti media sosial inilah yang menjadi pengaruh besarnya. Salah satu media sosial yang sedang menjadi platform dengan perhatian lebih saat ini ialah berbelanja di aplikasi online shop yang menjadi platform media sosial utama dalam perkembangan dan penciptaan tren, diantaranya ialah tren gaya hidup. Trendsetter yang menampilkan berbagai macam fenomena, gaya hidup, dan produk-produk kepada masyarakat terutama kalangan generasi muda. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tentu aplikasi online shop seperti Shopee dan lainnya adalah salah satu platform media sosial yang kemudian menjadi penghubung bagi produsen kapital untuk menyasar target pasar masyarakat dan generasi muda.

Saat ini tentunya berbelanja via online akan membuat masyarakat dan generasi muda semakin konsumtif, mempengaruhi masyarakat dan generasi muda melalui stimulus untuk membeli barang-barang online secara berlebihan, dan akhirnya membudaya dengan anggapan bahwa perilaku konsumtif merupakan hal yang wajar. Fenomena ini sangat menarik untuk diteliti mengingat perilaku konsumtif dalam berbelanja online sangat membludak pada masa kini, salah satunya pada beberapa narasumber yang telah kita wawancarai, Warga SMA Negeri 22 Bandung.

(10)

7

Ada dampak negatif maupun positif dari perilaku konsumtif diantaranya : A. Manfaat Positif

1. Penghilang stress

Stress merupakan suatu akibat dari kurangnya keseimbangan jasmani dan rohani dalam diri seseorang. Adapun pemicunya yaitu karena penyakit ataupun ketika ada banyak masalah yang dihadapi, ketika mengalami stres berbelanja akan memberikan ketenangan tersendiri.

Beberapa pelajar menuturkan bahwa dengan berbelanja akan menghilangkan stres dan bisa membuat mereka bisa merasakan ketenangan.

2. Mengikuti perkembangan zaman

Para pelajar yang selalu ingin mengikuti perkembangan zaman. Menurut mereka akan terlihat lebih menarik jika menggunakan barang-barang yang bagus dan sedang trend sehingga akan terlihat bagus. Mereka akan suka berbelanja ketika melihat suatu barang yang menarik.

B. Dampak negatif 1. Boros

Boros merupakan sikap berlebihan dalam pemakaian uang, barang (KBBI, 2008: 208).

Dampak dari belanja yang tidak terkontrol akan cepat kehabisan uang. Para pelajar yang memiliki sikap boros akan selalu kekurangan akibatnya mereka akan dengan cepat kehabisan uang. Kemungkinan yang akan terjadi yaitu sering meminjam uang kepada temannya ketika uang sudah habis. Hal ini mengakibatkan ia memiliki hutang dikarenakan tidak ada pengendalian diri dalam berbelanja.

2. Tidak terpenuhi kebutuhan yang akan datang

Perilaku konsumtif adalah perilaku mengkonsumsi barang yang sebenarnya kurang atau tidak terlalu dibutuhkan. Para pelajar cenderung berbelanja akan barang-barang yang kebutuhannya tidak mendesak, sehingga kebutuhan yang diperlukan sudah tidak bisa dipenuhi.

Mereka yang terus menerus berbelanja tanpa mempertimbangan kebutuhan lain yang juga harus dipenuhi akibatnya ada kebutuhan yang sudah tidak bisa dipenuhi lagi.

(11)

8 B. METODOLOGI

Pada penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi tindakan. Moleong (2005:

6). Untuk melengkapi data penelitian, peneliti menetapkan 3 informan yang merupakan pelajar SMAN 22 Bandung. Tiga pelajar tersebut berinisial FF, BP, dan RR. Wawancara dilakukan di SMAN 22 Bandung. Adapun beberapa pertanyaan yang diajukan kepada informan, antara lain ;

1. Seberapa seringkah anda berbelanja?

2. Apakah barang yang anda beli sesuai dengan kebutuhan anda?

3. Bagaimanakah pendapat anda mengenai barang barang branded?

4. Apakah anda mencatat pengeluaran anda selama berbelanja online?

5. Jika toko online sudah tidak ada, apakah anda akan tetap sering berbelanja?

6. Apa penyebab anda berbelanja secara online?

7. Apa dampak yang anda rasakan ketika berbelanja berbelanja secara online?

Gambar 1.1 Wawancara terhadap informan FF

Gambar 1.2 Wawancara terhadap informan RR

(12)

9

Gambar 1.3 Wawancara terhadap informan BP

(13)

10 BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL WAWANCARA

Dari beberapa pertanyaan yang telah dirumuskan, Adapun hasil jawaban dari narasumber sebagai berikut;

1. RR

1) Apakah barang yg anda beli sesuai kebutuhan anda?

Terkadang sesuai, kadang hamya sebatas keinginan saja. Karena jika harganya lebih murah dari di offline maka belinya di online, tetapi jika barang di offline habis tetapi banyak di online maka belinya di online.

2) Seberapa seringkah anda berbelanja?

Sebulan 2x atau lebih tergantung keperluan atau keinginan belanja.

3) Bagaimana pendapatmu mengenai barang-barang branded?

Tidak harus memiliki, sesuai kebutuhan saja. karena untuk memenuhi kebutuhan kita tidak perlu barang branded yang mewah.

4) Apakah anda mencatat pengeluaran anda selama berbelanja online?

Tidak, hanya di kira kira saja.

5) Jika toko online sudah tidak ada, apakah anda akan tetap sering berbelanja?

Tetap, karena untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan. Mungkin belanja nya jadi offline

6) Apa penyebab anda berbelanja secara online?

Karena terkadang harga yang ada di online shop itu lebih murah, jadi lebih tertarik belanja online

7) Faktor apakah yg membuat Anda sering berbelanja online?

Faktor yang sering membuat saya belanja online karena harganya suka lebih murah dari di offline, terkadang juga karena rekomendasi dari teman

8) Apa dampak yg anda rasakan ketika berbelanja secara berlebihan?

Yang pasti kalo belanja berlebihan itu akan boros, uang akan cepat habis

(14)

11 2. BP

1) Apakah barang yg anda beli sesuai kebutuhan anda kadang barang yang ingin dibeli itu sesuai kebutuhan

2) Frekuensi berbelanja per bulan?

Sekali sampai dua kali perbulan

3) Bagaimana pendapat anda tentang barang branded?

barang branded itu harus, karena memenuhi rasa gengsi, dan tergantung isi dompet juga.

4) Apakah anda mencatat pengeluaran dan pemasukan?

Tidak mencatat, hanya menyimpan bon saja.

5) jika online shop sudah tidak ada, apakah anda akan tetap berbelanja?

Online atau offline ga ngaruh sih, karna justru kalau offline lebih spesifik

6) Apa yang menyebabkan anda tertarik berbelanja online?

kadang melihat harga di online dan offline berbanding jauh, minusnya berbelanja online bisa kena tipu

7) Faktor apa yg membuat Anda sering berbelanja online?

untuk faktor external dipengaruhi sponsorship tiktok, internalnya sih gengsi dan murah

8) Apa dampak yg anda rasakan ketika berbelanja secara berlebihan?

belanja kebutuhan tidak terpenuhi

3. FF

1) Apakah barang yg anda beli sudah sesuai dengan kebutuhan anda

Kebetulan saya lagi ada projek motor, butuh barang barang buat modif motor jadi sering belanja di shopee

2) frekuensi berbelanja per bulan?

Bulan ini udah 5x lebih kira kira

(15)

12

3) bagaimana tanggapan anda terhadap barang branded?

Opsional sesuai kebutuhan

4) apakah anda mencatat pengeluaran dan pemasukan?

Tdak mencatat, tapi dikira kira aja soalnya bulan ini uda 5x beli barang sekitar 470rb

5) jika online shop sudah tidak ada, apakah anda akan tetap berbelanja?

Semisalnya gaada online shop bakal tetep belanja sesuai kebutuhan, dan saya juga tidak kebergantungan sama online shop

6) Apa yang membuat anda tertarik berbelanja online?

Yang pertama mudah, praktis,pembayaran mudah dan bervariasi serta tidak perlu keluar rumah jadi buat kaum kaum rebahan cocok banget, tapi di sisi lain buat belanja online itu sendiri banyak negatif nya juga, kaya barang suka tidak sesuai harapan kita, pengiriman lama, dan rawan penipuan

7) Faktor apa saja yg membuat Anda sering berbelanja online?

Faktor saya sering berbelanja online karena faktor diri sendiri, soalnya dijaman sekarang seperti ingin yang mudah dan praktis

8) Apa dampak yg anda rasakan ketika berbelanja secara berlebihan?

Dampak yang saya rasakan ketika mulai belanja online terutama pengeluaran tidak teratur dan sulit di kontrol seperti ketagihan mau beli itu beli ini

B. PEMBAHASAN

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti kepada 3 informan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif sebagai sarana pengambilan data melalui proses wawancara, kemudian peneliti merumuskan dan membahas apa yang telah didapatkan dari hasil wawancara. Sebagaimana yang diketahui bahwa terdapat tujuan penelitian yang akan dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimanakah perilaku konsumtif dan kehidupan

(16)

13

sosial ekonomi siswa siswi SMAN 22 Bandung. Adapun untuk mencapai tujuan penelitian ini, maka peneliti mendeskripsikannya dengan beberapa poin ;

1. Kategori siswa berperilaku konsumtif

Menurut Asry (dalam Devya, 2015) konsumtif merupakan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan maksimal, konsumtif yang biasanya digunakan untuk menunjukkan perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok.

Masyarakat bisa menjadi berperilaku konsumtif pada umumnya terdorong oleh beberapa hal, misalnya gaya hidup. keunggulan suatu barang, promo atau bonus, rekomendasi teman-teman, serta iklan dari media massa sehingga dapat mengarah ke tindakan konsumtif.

Dari beberapa hal tersebut disini telah dikategorikan masyarakat dapat berperilaku konsumtif terbagi dalam 2 (dua) kategori.

A. Siswa berperilaku konsumtif untuk pemenuhan kebutuhan yang mendesak

Masyarakat dalam kategori ini memang dalam melakukan aktifitas belanja didasarkan pada kebutuhan dan keperluannya, mereka hanya berbelanja ketika kebutuhan tersebut yang memang benar-benar diperlukan. Dari 3 informan ada 2 informan yang termasuk dalam kategori ini yaitu KDA dan PP. mereka hanya membeli barang yang harus dipenuhi. mereka tidak pernah melakukan aktifitas belanja hanya karena gaya hidup, ataupun keinginan semata.

Karena mereka berfikir bahwa berbelanja haruslah sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, bukan inginkan. Sehingga mereka bisa mempertimbangkan segala hal dalam melakukan kegitan berbelanja.

B. Masyarakat berperilaku konsumtif karena terpengaruh oleh hal-hal lain.

Masyarakat dalam kategori ini adalah orang yang bisa dikatakan lebih sering melakukan aktifitas belanja bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan saja, namun karena ada hal-hal lain seperti keinginan tersendiri, iklan, promo dan juga gengsi. Dalam hal ini dari 6 informan ada 4 orang yang termasuk dalam kategori ini yang suka berbelanja diantaranya AFH, BPKJ, . Mereka sering melakukan aktifitas berbelanja hanya karena promo, iklan, dan keinginan tersendiri.

(17)

14

Perilaku konsumtif juga berkaitan dengan pengendalian diri. Masyarakat dengan pengendalian diri yang rendah akan memiliki perilaku konsumtif, artinya ia tidak bisa mengontrol dirinya ketika dalam aktivitas belanja atau mengkonsumsi barang dan jasa. Hal tersebut bisa saja terjadi karena masyarakat tersebut mudah terpengaruh oleh hal-hal yang bisa mendorongnya untuk berkonsumsi berlebihan. Misalnya orang yang selalu ikut-ikutan atau adanya iming-iming dari temannya akan berbelanja dengan mudahnya akan terpengaruh dan ikut melakukan aktivitas berbelanja, tanpa memikirkan kegunaannya dan kebutuhan yang akan datang. Masyarakat cenderung melakukan penyesuaian diri yang berlebihan hanya untuk memperoleh kesenangan semata. Demi bersenang-senang, masyarakat akan berperilaku konsumtif, yaitu melakukan aktifitas berbelanja bukan karena kebutuhan, namun berdasarkan keinginan dalam memenuhi rasa puas. Masyarakat mudah saja terbujuk jika melihat adanya promo, iklan yang menarik, ikut-ikutan teman dan akan boros tanpa melihat kondisi keuangannya.

Berbeda halnya dengan masyarakar dengan pengendalian diri yang baik, akan dapat terhindar perilaku konsumtif. Itu akan terjadi karena orang tersebut dapat mengontrol dirinya dan bisa mengatur keputusan sebelum bertindak. Misalnya ketika melihat adanya iklan dengan tawaran- tawaran yang menarik, diskon, promo berhadiah ia bisa memilih dan mempertimbangkan apakah barang tersebut. ia perlukan atau tidak. Sehingga dapat berbelanja sesuai dengan kebutuhannya dan tidak melakukan aktifitas berbelanja yang berlebihan sehingga tidak berperilaku konsumtif. Disisi lain pengedalian diri dalam berperilaku konsumtif sulit untuk di kontrol, tak jarang ada faktor-faktor yang menyebapkannya. Keinginan belanja seringkali mendorong masyarakat untuk membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan adanya perilaku konsumtif yaitu:

a. Iklan/potongan harga

Iklan atapun potongan harga dapat memengaruhi perilaku konsumtif karena seseorang akan tergiur dan terbujuk untuk membelinya. Iklan serta potongan harga yang ditampilkan akan menarik perhatian seseorang sehingga tanpa berfikir panjang akan membelinya. Dengan demikian apabila fashion sedang populer maka akan banyak orang yang terpengaruh dan mengikutinya. Hal ini sejalan yang dikatakan oleh beberapa informan bahwa ketika mereka melihat barang yang menarik kemudian. ada potongan harga baik itu di tempat perbelanjaan maupun postingan di sosial media mereka tertarik dan melakukan. pembelian, baik secara langsung ataupun belanja online.

(18)

15 b. Pengaruh lingkungan pergaulan

Lingkungan pergaulan berpengaruh dalam pembentukan kepribadian individu.

Memiliki teman yang suka berbelanja akan berpengaruh dan akan muncul rasa ingin meniru dan memiliki apa yang di miliki oleh temannya. Jika ia di ajak oleh temannya untuk berbelanja maka ia akan ikut. Pergaulan mempunyai andil dalam. membentuk gaya hidup seseorang.

Kebanyakan orang suka berbelanja karena mengikuti temannya. Seperti yang dikatakan oleh beberapa informan bahwa mereka seringkali diajak oleh temannya untuk berbelanja sehingga ia juga ikut sehingga lama kelamaan akan terbiasa.

c. Mengikuti trend

Masyarakat yang mempunyai hobi belanja bukan karena kebutuhan yang sangat mendesak namun lebih ke pemenuhan keinginan akan rasa puas memiliki barang yang baru atau menarik. Banyak

Masyarakat membeli barang mengikuti trend sehingga mengorbankan banyak biaya untuk mendapatkannya. Meskipun barang tersebut tidak begitu diperlukan namun mereka beranggapan bahwa akan di anggap ketinggalan zaman oleh orang lain. Hal ini sejalan dengan yang dikatakan oleh beberapa informan bahwa berada di pusat kota dengan banyaknya orang tentunya mereka juga akan mengalami perubahan ketika melihat cara orang berpenampilan ataupun hal-hal yang dilakukan oleh orang lain, sehingga mereka akan tertarik dan mengikutinya.

C. DOKUMENTASI Terlampir

(19)

16 BAB IV PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan maka penulis menarik kesimpulannya bahwa perilaku konsumtif terhadap online shop pada masyarakat SMAN 22 Bandung terjadi karena adanya sifat berbelanja yang dilakukan berlebihan, adanya ketertarikan, untuk kebutuhan konsumsi setiap hari serta ikut-ikutan dengan teman. Masyarakat SMAN 22 Bandung tertarik dengan potongan harga ataupun iming-iming dari teman sehingga memutuskan untuk melakukan pembelian meskipun tidak terencana dan bukan kebutuhan mendesak karena akibat dari melakukan pembelian secarah terus menerus akan mengakibatkan kehabisan uang dengan cepat.

B. SARAN

Berdasarkan kesimpulan yang telah dipaparkan di atas, maka penulis menyampaikan saran agar masyarakat SMAN 22 Bandung lebih memperhatikan tingkat konsumsinya, mendahulukan kebutuhan dibanding keinginan, menghindari pembelian barang yang memiliki fungsi yang sama tidak mudah tergiur dengan potongan harga, promo, iklan, ikut-ikutan dengan orang lain, serta sebaiknya jangan membeli barang karena mengikuti trend atau meniru gaya orang lain karena sifat tersebut merupakan sifat konsumtif yaitu melakukan konsumsi secara berlebihan.

(20)

17

DAFTAR PUSTAKA

Nur Fitriyani, Praseetyo Budi Widodo, Nailul Fauziah (Jurnal Psikologi 12 (1), 1-14, 2013)

A. Nooriah Mujahidah, ANALISIS PERILAKU KONSUMTIF DAN PENANGANANNYA (STUDI KASUS PADA SATU PESERTA DIDIK DI SMK NEGERI 8 MAKASSAR)

Lutfiah,Muhammad Basri,Heni Kuswanti, FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMTIF MAHASISWA PENDIDIKAN EKONOMI PPAPK FKIP UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK

M. Chairul Basrun Umanailo, Mansyur Nawawi, Sukainap Pulhehe, KONSUMSI MENUJU KONSTRUKSI MASYARAKAT KONSUMTIF

Melinda, Lisbeth Lesawengen, Fonny J. Waani, Perilaku Konsumtif Dan Kehidupan Sosial Ekonomi Mahasiswa Rantau (Studi Kasus Mahasiswa Toraja Di Universitas Sam Ratulangi Manado

(21)

18 LAMPIRAN

Dokumentasi Bersama narasumber

Referensi

Dokumen terkait