• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH TAFSIR ETIKA BERDAKWAH

N/A
N/A
RISKA AYU MAHARANI UIN Walisongo Semarang

Academic year: 2023

Membagikan "MAKALAH TAFSIR ETIKA BERDAKWAH"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

TAFSIR ETIKA BERDAKWAH (Q.S. ASH-SHAFF AYAT 2 -3)

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tafsir Dakwah Dosen Pengampu: Dr. Hj. Yuyun Affandi, Lc. MA.

Disusun Oleh:

1. Bagas Dwi Andika (2201026031) 2. Febri Fatwa (2201026032) 3. Annisa Az Zahra (2201026033) 4. Rachma Fatimatul F. (2201026035) 5. Riska Ayu Maharani (2201026036) 6. Adam Yuda Pratama (2201026037)

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG 2023

(2)

1

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Dakwah harus dilakukan dengan ilmu. Orang yang memiliki minat terjun ke dunia Dakwah diwajibkan memahami aturan-aturan dan mekanisme dakwah dengan Utuh secara sempurna sebelum lebih jauh mempraktikkannya. Jika seseorang Memaksakan diri melakukan dakwah tanpa menuguasai atau memahami ilmu (antara lain berkaitan dengan etika dan estetika dakwah), bukan hanya proses dan Hasilnya yang kurang baik, tetapi juga akibatnya dapat menjadi berbahaya, baik Bagi citra Islam, dakwah, maupun kehidupan keagamaan pada umumnya. Karena, Semakin dalam dan luas pemahaman serta waawasan dai terhadap ajaran agama, Kehidupan masyarakat, serta cara berdakwah (termasuk di dalamnya etika dan Estetika), maka dakwah yang ditunjukkan semakin arif, bijak, menyentuh, menarik, Mengesankan, dan dirindukan.

Oleh sebab itu dakwah harus dilakukan dengan serius dan benar melalui aturan-aturan yang benar dan bijak sehingga diterima dengan komitmen yang sama terhadap kebenaran Islam. Bertitik tolak dengan Al Qur'an,Maka agar Da’i dan pihak-pihak yang didakwahi dapat melaksanakan fungsi dan peranya masing-masing dengan baik, diperlukan adanya aturan- aturan khusus yang dikenai yaitu dengan etika dakwah.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana bunyi dan terjemah Q.S. Ash-Shaff ayat 2-3?

2. Apa saja mufrodat yang ada dalam Q.S. Ash-Shaff ayat 2-3?

3. Bagaimana Asbab Nuzul dari Q.S. Ash-Shaff ayat 2-3?

4. Bagaimana munasabah dari Q.S. Ash Shaff ayat 2-3?

5. Bagaimana tafsir ayat dari Q.S Ash-Shaff ayat 2-3 dan relevansinya terhadap etika berdakwah?

6. Apa hikmah dari Q.S. Ash-Shaff ayat

(3)

2

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

PEMBAHASAN ... 3

1. Ayat dan Terjemah Q.S. Ash-Shaff ayat 2-3 ... 3

2. Mufradat Q.S. Ash-Shaff ayat 2-3 ... 3

3. Asbabun Nuzul Q.S. Ash-Shaff ayat 2-3 ... 4

4. Munasabah Q.S. Ash-Shaff ayat 2-3 ... 5

5. Tafsir Q.S. Ash-Shaff ayat 2-3 ... 7

6. Hikmah Q.S. Ash-Shaff ayat 2-3 ... 9

PENUTUP ... 10

Kesimpulan ... 10

DAFTAR PUSTAKA ... 11

(4)

3

PEMBAHASAN A. Ayat dan Terjemahan Q.S Ash-Shaff ayat 2-3

Sebagian ulama berpendapat, QS. As-Saff ayat 2-3 tersebut menjadi teguran bagi sebagian sahabat Nabi yang membangga-banggakan perbuatan yang tidak mereka kerjakan. Mereka berkata “Aku melakukan ini dan itu,” padahal dia tidak melakukannya dan Allah mencela mereka sebab sesuatu yang tidak mereka kerjakan.

Ini ditujukan bagi siapa saja terutama para pendakwah yang pandai berbicara, padahal dia sendiri tidak melakukan apa yang dikatakannya. Mengenai hal ini, al-Quran juga memberikan peringatan keras, yakni pada QS. As-Saff ayat 2-3:

( َنوُلَعْفَت َلَ اَم َنوُلوُقَت َمِل اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأاَي ِع اًتْقَم َرُبَك )2

( َنوُلَعْفَت َلَ اَم اوُلوُقَت ْنَأ ِ َّاللَّ َدْن 3

Artinya : Wahai orang-orang beriman! Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa saja yang tidak kamu kerjakan (QS. As-Saff ayat 2-3).

Melalui QS. As-Saff ayat 2-3 ini, para ulama salaf menjadikannya dalil mengenai wajibnya menepati janji secara mutlak. Baik itu janji yang bisa mengakibatkan denda atau tidak. Para ulama salaf tersebut juga berhujjah dengan hadis shahih, Rasulullah bersabda “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: ketika berkata, dia berbohong, ketika dia berjanji, dia mengingkari, dan ketika dipercaya, dia berkhianat.1

B. Mufradat Q.S. Ash Shaff ayat 2-3 Q.S. Ash-Shaff ayat 2:

kamu mengatakan َنوُلوُقَت wahai اَهُّيَأَٰٓ َي

apa اَم orang-orang yang َنيِذَّل ٱ

tidak َلَ beriman اوُنَماَء

kamu kerjakan َنوُلَعْفَت mengapa َمِل

1Falahudin, 2021, Tafsir Surah As-Saff ayat 2-3: Celaan Bagi Orang yang Perkataannya Tidak Sesuai dengan Tindakannya.

(5)

4 Q.S. Ash-Shaff ayat 3:

kamu mengatakan اوُلوُقَت besar َرُبَك

apa اَم kebencian اًتْقَم

tidak َلَ disisi َدنِع

kamu kerjakan َنوُلَعْفَت bahwa نَأ

C. Asbab Nuzul Q.S. Ash-Shaff ayat 2-3

Menurut bahasa, Asbabunnuzul berarti sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al- Quran. Makna Asbabunnuzul, ialah sesuatu yang dengan sebabnyalah turun suatu ayat atau beberapa ayat, atau memberi jawaban tentang sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada masa terjadinya sebab tesebut.

"Menurut Teungku Muh Hasbi Ash-Shiddieqy dalam Ilmu-Ilmu Al-Qur'an, asbabunnuzul adalah suatu kejadian yang terjadi di zaman Nabi SAW atau suatu pertanyaan yang dihadapkan kepada Nabi sehingga turunlah satu atau beberapa ayat dari Allah SWT yang berhubungan dengan kejadian itu, baik peristiwa itu merupakan pertengkaran atau merupakan kesalahan yang dilakukan peristiwa maupun suatu peristiwa atau suatu keinginan yang baik.2

Menurut definisi diatas, ayat-ayat Al-Qur'an itu dibagi dua, yaitu: ayat ayat yang ada sabab nuzulnya dan ayat ayat yang tidak ada sabab nuzulnya memang demikianlah ayat-ayat dalam Al-Qur'an. Ada yang diturunkan tanpa didahului oleh sebab.

Pengetahuan tentang tafsir dan ayat-ayat tidak mungkin jika tidak dilengkapi dengan pengetahuan, tentang peristiwa dan penjelasan yang berkaitan dengan diturunkannya ayat. Sementara pemahaman tentang asbabunnuzul ini akan sangat membantu dalam memahami konteks turunnya ayat. Ini sangat penting untuk menerapkan ayat ayat pada kasus dan kesempatan yang berbeda. Peluang terjadinya kekeliruan akan semakin besar jika mengabaikan riwayat Asbabbunnuzul.3

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim, di shahihkan oleh AlHakim yang bersumber dari ‘Abdullah bin Salam. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Jarir yang

2 Ahmad syadzaly, Ulumul Qur’an, (Bandung Pustaka Setia, 1997), hal.90.

3 M.Quraish Shihab, dkk, Sejarah dan Ulum Al-Our’an, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), hlm.79.

(6)

5

bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika Sahabat Rasullah SAW. Duduk-duduk bermudzakarah, di antara mereka ada yang berkata : “Sekiranya kami mengetahui amal yang lebih baik dicintai Allah pasti kami akan mengerjakannya.” Ayat ini (Ash-Shaff : 1-2) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang kemudian dibacakan oleh Rasulullah SAW, sampai akhir surah. Surah ini turun sebagai tuntutan yang berkenaan dengan amal yang diridoi Allah SWT, yaitu berkorban mempertahankan agama dan mengamalkannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abu Shalih, di riwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dan ‘Ali, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa para sahabat ingin mengetahui amal yang paling dicintai Allah swt dan paling afdol (utama).

Maka turunlah ayat ini (Ash-Shaff: 10-12) yang menegaskan bahwa berjihad adalah amal yang paling utama. Tetapi ternyata mereka segan berjihad sehingga merekapun diperingatkan Allah swt, karena menyalahi ucapannya, yakni dengan diturunkannya surah (Ash-Shaff: 2-3).

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muqatil bahwa ayat ini (Ash-Shaff: 2-3) turun di waktu kaum Muslimin mundur terdesak pada perang Uhud.4

Abdullah bin Salam berkata, "Sekelompok sahabat Rasulullah SAW mempersilahkan kami mampir, kemudian kami berdiskusi. Kami berkata, 'Seandainya kami mengetahui amalan apakah yang paling disukai oleh Allah Ta'ala, niscaya kami akan mengerjakannya. 'Allah Ta'ala kemudian menurunkan ayat ini.

Beberapa Asbabunnuzul di atas menekankan akan karakteristik yang harus kita hindari, artinya menjauhi perilaku kaum mukmin yang ingkar akan janji dan mempermainkan akan amanah yang diberikan kepada mereka. Dengan demikian sikap jujur, tanggungjawab, disiplin, kepribadian yang religious dan menghindari sifat munafik menjadi satu gerakan yang dapat menghindari dari perilaku yang terjadi di masa lampau. Pada dasarnya peristiwa dimasa lalu telah mengajarkan bagaimana seharusnya menjadi kpribadian yang jujur, tanggungjawab, disiplin, religius dan sifat munafik.

D. Munasabah Q.S. Ash-Shaff ayat 2-3

Dalam Surat Ash-Shaff ayat 2-3 itu memiliki munasabah dengan ayat

4 https://alquranmulia.wordpress.com/2013/01/15/asbabun-nuzul-surah-ash-shaff/

di akses tanggal 12 Oktober 2023, 1: 44 WIB.

(7)

6

sebelumnya yaitu ayat ke 1 (satu). Dalam ayat pertama surat Ash-Shaff dımulai uraiannya dengan penyucian (Tasbih) terhadap Allah SWT dan mengingatkan bahwa seluruh wujud menyucikan Nya, meningatkan agar yang menyimpang dari sistem yang berlaku dan yang darestui di jalan Allah. Sedangkan ayat kedua dan ketiga, mereka yang tidak menyucikan Allah SWT menyimpang dari sistem yang berlaku padahal semua menyucikan Nya, sungguh sikap merekn itu harus diluruskan. Kaum beriman telah menyadari hal tersebut, bahkan ada yang telah menyatakan siap untuk berjuang (berjihad) dalam rangka untuk menyucikan Allah SWT, tetapi ketika tıba saatnya mereka mengingkari janji.

Kemudian Munasabah antar surat Ash-Shaff dengan surat sebelumnya (surat Al- Mumtahanah) yaitu surat yang telah lalu Allah telah melarang kita mengangkat orang- orang kafir menjadi pemimpin dan mengadakan hubungan akrab dengan orang-orang kafir yang memusuhi dan memerangi kaum muslimin. 5Dalam surat ini Tuhan menganjurkan kita berjihad untuk memerangi orang-orang kafir yang memusuhi Allah.6

Sedangkan persesuaian surat Ash-Shaff dengan surat sesudahnya ( surat Al- Jumu’ah), yaitu surat Ash-Shaff ini ditutup dengan perintah untuk berjihad, yang dinamakan sebagai perniagaan. Sedangkan surat sesudahnya (Al-Jumu’ah) ditutup dengan perintah shalat Jum’at dan pemberitahuan bahwa shalat Jum’at itu lebih baik dari pada perniagaan dunia.7

Dengan demikian Ayat yang serupa dengan surah As-Shaff Ayat 2 dan 3 1. Surah Al-Baqoroh ayat 44

ُلْتَت ْمُتْنَأ َو ْمُكَسُفْنَأ َن ْوَسْنَت َو ِ رِبْلاِب َساَّنلا َنو ُرُمْأَتَأ َنوُلِقْعَت َلََفَأ َباَتِكْلا َنو

“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?”8

Khitab pada ayat ini ditujukan kepada Bani Israil sebagaimana ayat-ayat sebelumnya. Di

5M.Quraisy Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan keserasian Al-Qur‟an, hlm.12-13.

6M. Atho Mudzhar, dkk., Al-Quran dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), hlm.107.

7Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddiqi, Tafsir Al Bayan, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2002), hlm.1329.

8Departemen Agama Republik Indonesia, Almumayyaz Al-Quran Tajwid Warna.

(8)

7

sini Allah mengecam orang-orang yang bersikap bengkok dalam berbuat, dan selalu mengarah pada kerusakan. Kemudian Allah SWT. memberi petunjuk kepada mereka agar beranjak dari kesesatan yang membingunkan mereka. Sebab, kaum Yahudi mengaku dirinya sebagai kaum beriman kepada kitab mereka sendiri dan mengamalkan serta memelihara melalui kitab-kitab tersebut. Tetapi mereka tidaklah serius di dalam mempelajarinya, Jika mereka serius di dalam mempelajari kitab mereka, pasti akan beriman kepada kitab - kitab yang diturunkan kepada mereka. Itulah bacaan yang mendapat rida Allah SWT. namun keadaanya justru terbalik. Para pendeta dan rahib lah yang dianggap oleh mereka sebagai pemutus segala perkara melarang atau pun memerintah dan para rahib itu sama sekali tidak pernah mengatakan segala seuatu kecuali sesuai dengan selera mereka.

Mereka pun tidak mengamalkan hukum-hukum yang terkandung di dalam kitab, jika hukum itu bertentangan dengan kemauan nafsu mereka.9

E. Tafsir Ayat Q.S. Ash-Shaff ayat 2-3

Celaan bagi orang yang perkataannya tidak sesuai dengan perbuatannya Jarkoni, kepanjangan dari iso ngujari tapi ora bisa nglakoni merupakan akronim dalam bahasa Jawa yang berarti bisa berkata/menasehati tapi tidak bisa melaksanakan.

Akronim jarkoni merupakan sindiran dan cemoohan bagi orang yang hanya pandai berbicara namun dia sendiri tidak melakukan apa yang dikatakannya. Akronim ini ditujukan bagi siapa saja terutama para pendakwah yang pandai berbicara, padahal dia sendiri tidak melakukan apa yang dikatakannya. Mengenai hal ini, al-Quran juga memberikan peringatan keras, yakni pada QS. As-Saff ayat 2-3.

اوُنَمَٰٓا َنيذّلا اهُّيا اي َنوُلَعفَت لَ ام نوّلوُقَت َمِل

٢

اماولوقت نأ الله دنع اتقَم َرُبَك نولعفت لَ

٣

Ibn Jarir al-Tabari memberikan rincian mengenai pendapat para ulama mengenai sebab ayat tersebut diturunkan. Sebagian ulama berkata bahwa ayat tersebut turun sebagai teguran dari Allah atas orang mukmin. Mereka sangat ingin tahu berbagai amalan yang paling utama. Namun ketika Allah memberitahukan amalan utama itu, mereka melakukannya tidak secara sempurna. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa sebagian kaum mukmin berkata “Demi Allah, jikalau kami mengetahui amal yang paling dicintai Allah, kami pasti akan melaksanakannya”. Lalu Allah menurunkan QS.

9 Ahmad Mustafa Al-Maragi, Terjemah Tafsir Al-Maragi, CV. Toha Putra Semarang, Semarang, 1992, hal. 181.

(9)

8

Al-Shaf [61]: 2-4. Pada ayat keempat Allah memberitahukan amalan yang paling dicintainya, yaitu jihad di jalan Allah, namun mereka tidak senang.

Sebagian ulama berpendapat, QS. As-Saff ayat 2-3 tersebut menjadi teguran bagi sebagian sahabat Nabi yang membangga-banggakan perbuatan yang tidak mereka kerjakan. Mereka berkata “Aku melakukan ini dan itu,” padahal dia tidak melakukannya dan Allah mencela mereka sebab sesuatu yang tidak mereka kerjakan.

Diriwayatkan dari Qatadah bahwa ayat tersebut berkaitan dengan seruan jihad di mana ada seorang laki-laki berkata “Aku pasti berperang, aku pasti melakukannya,” padahal dia tidak melakukannya. Maka Allah menegurnya dengan teguran yang keras. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa ayat tersebut merupakan teguran kepada orang-orang munafik yang berjanji kepada orang-orang mukmin untuk menolong mereka di medan perang namun ternyata mereka berbohong.

Ibn Katsir menjelaskan bahwa QS. Al-Shaf [61]: 2 merupakan bentuk pengingkaran terhadap sikap orang yang berjanji namun tidak ditepatinya atau yang berkata namun tidak sesuai dengan apa yang dikatakannya.10

Melalui QS. As-Saff ayat 2-3 ini, para ulama salaf menjadikannya dalil mengenai wajibnya menepati janji secara mutlak. Baik itu janji yang bisa mengakibatkan denda atau tidak. Para ulama salaf tersebut juga berhujjah dengan hadis shahih, Rasulullah bersabda “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: ketika berkata, dia berbohong, ketika dia berjanji, dia mengingkari, dan ketika dipercaya, dia berkhianat.” 11

Selain itu, redaksi ayatnya disertai dengan pengulangan mā lā taf’alūn. Ketika ada satu lafaz yang sama diulang dalam satu kalam (pembicaraan), itu menunjukkan betapa ngeri dan agungnya hal tersebut .12

Besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.Besar sekali dosa apabila kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerja baik dalam pandangan Allah maupun . Menyempurnakan janji dalam perkiraanmu.menyempurnakan janji adalah tanda berperangai luhur dan menimbulkan kepercayaan kepada anggota-anggota masyarakat sedang menyalahi janji menghilangkan kepercayaan dan menyebabkan saling curiga dan tidak saling mempercayai. Karena itulah, menyalahi janji dan berdusta. sangat dicela oleh syara’.

10 Ibn Jarir al-Tabari Jāmi` al-Bayān (juz 22, hal 607).

11 Ibnu Katsir, Tafsir Ibn al-Kaṡīr, juz 8, hal 105.

12 al-Qasimi, Maḥāsin al-Ta`wīl, juz 9, hal 216.

(10)

9

Sesudah Allah menerangkan keburukan orang-orang yang menyalahi janji. tak mau berperang di kalu perang telah diperintahkan, Allah pun menguji orang. orang yang berjihad di jalan-Nya.13

F. Hikmah Q.S. Ash-Shaff ayat 2-3

a) Senantiasa menepati janji yang diucapkan b) Selalu Bertasbih kepada Allah

c) Mematuhi ajaran-ajaran Rasulallah SAW

d) Meningkatkan Iman kepada Allah dan berjihad fisabililah.14

13Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddiqi, Tafsir Al-Quranul Majid An-Nur, P. T, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 1995, Hal. 4055-4056.

14 Ibnu Katsir, Tafsir Ibn Al Katsir,( Pustaka Imam Asy Syafii, Jakarta, 2017), hlm.105.

(11)

10

KESIMPULAN

Sebagian ulama berpendapat, QS. As-Saff ayat 2-3 tersebut menjadi teguran bagi sebagian sahabat Nabi yang membangga-banggakan perbuatan yang tidak mereka kerjakan.Melalui QS. As-Saff ayat 2-3 ini, para ulama salaf juga menjadikannya dalil mengenai wajibnya menepati janji secara mutlak. Baik itu janji yang bisa mengakibatkan denda atau tidak.

Beberapa Asbabunnuzul di atas menekankan akan karakteristik yang harus kita hindari, artinya menjauhi perilaku kaum mukmin yang ingkar akan janji dan mempermainkan akan amanah yang diberikan kepada mereka. Dengan demikian sikap jujur, tanggungjawab, disiplin, kepribadian yang religious dan menghindari sifat munafik menjadi satu gerakan yang dapat menghindari dari perilaku yang terjadi di masa lampau. Pada dasarnya peristiwa dimasa lalu telah mengajarkan bagaimana seharusnya menjadi kpribadian yang jujur, tanggungjawab, disiplin, religius dan sifat munafik.

Hikmah Q.S. Ash-Shaff ayat 2-3:

Senantiasa menepati janji yang diucapkan Selalu Bertasbih kepada Allah

Mematuhi ajaran-ajaran Rasulallah SAW

Meningkatkan Iman kepada Allah dan berjihad fisabililah.

(12)

11

DAFTAR PUSTAKA

Al-Maragi Ahmad Mustafa, 1922, Terjemah Tafsir Al-Maragi, CV. Toha Putra Semarang, Semarang.

Al-Qasimi, Maḥāsin al-Ta`wīl, juz 9.

Ash Shiddiqi Teungku Muhammad Hasbi, 2002, Tafsir Al Bayan, Semarang: Pustaka Rizki Putra.

Departemen Agama Republik Indonesia, Almumayyaz Al-Quran Tajwid Warna.

Falahudin, 2021, Tafsir Surah As-Saff ayat 2-3: Celaan Bagi Orang yang Perkataannya Tidak Sesuai dengan Tindakannya.

https://alquranmulia.wordpress.com/2013/01/15/asbabun-nuzul-surah-ash-shaff/ di akses tanggal 12 Oktober 2023, 1: 44 WIB.

Ibn Jarir al-Tabari Jāmi` al-Bayān juz 22.

Ibnu Katsir, Tafsir Ibn al-Kaṡīr, juz 8.

Mudzhar M. Atho, dkk., Al-Quran dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan).

Shihab M.Quraish, dkk, 1999, Sejarah dan Ulum Al-Our’an, Jakarta: Pustaka Firdaus.

Shihab M.Quraisy, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan keserasian Al-Qur‟an.

Syadzaly Ahmad, Ulumul Qur’an, Bandung Pustaka Setia, 1997.

Referensi

Dokumen terkait