• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Tentang Kepresidenan dan Turunannya Sofyan Noor

N/A
N/A
Abdul Ghofar

Academic year: 2024

Membagikan "Makalah Tentang Kepresidenan dan Turunannya Sofyan Noor"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN INTELIJEN DALAM KEBERLANGSUNGAN DEMOKRASI DAN HAK ASASI MANUSIA DI INDONESIA

Sofyan Noor Efendy 201010208048

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Demoikrasi dain hak asasi manusia (HAM) adialah duia konisep yiang sialing terikait dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling melengkapi dalam membangun sebuaih neigara.

Tanpa demokrasi dan HAM, suatu neigara akan mienjadi negara yang otoriter dian tidak demiokratis. Demokriasi menekainkan pentiingnya kedauilatan rakiyat sebiagai prinisip utiama (Daruissalam & Indra, 2021). Melalui kedaulatan rakyat, tujuan negara seperti kesejahteraan umumi, perliindungan wairga, dan kieadilan dapat tercapiai. Dii sisi lain, HiAM berhubiungan dengain hiak-haik dasar manusia. Haik adalah keweinangan indiviidu untuki melaikukan atau tidaik meilakukan seisuatu. Seitiap oraing memiiliki hiak unituk meimilih sesiuai keiinginan meireka seliama tidiak melaniggar haik oriang laiin. Seciara umumi, dalaim koniteks HiAM yang diatiur dialam piagiam hak asiasi manusia, setiap orang memiliki hak untuk hidup (life), kebebasan (liberty), memiliki sesuatu (property), dan kebebasan berbicara (freedom of speech) (Kusumastuti, 2020).

Demokrasii berfuingsi sebagiai alait untuik mengimpliementasiikan HAiM (Ramili, 2015).

Ide demiokrasi meinempatkan haik indiiividu sebiagai prioriitas utaima dialam negiara (Nurul Qamar, 2022). Demokraisi dan HAM daipat dipaihami sebiagai upaiya maniusia unituk meninigkatkan martabait dian derajat mereika. Koinsepsi ini memastikan dan mengakui nilai kemanusiaan (Rosana, 2016). Keberadaan negarai memungkinkan terbentuknya masyarakat yang demokratis.

Dalam menegakkan HAM, hukum memaiinkan peran penting dalam melindungi hak asasi manusia (Gumelar & Nachrawi, 2022). Negiara demokratis mengedepankan supremasi hukum sebagai kekuatan tertinggi yang harus idijunjung dan dilindungi (Khairazi, 2015).

Hukum memastikan hak asasi manusia diakui seciara benar dan legal (Plaituka, 2016). Negara hukum menempatkan keikuasaannya pada konstitusi, dan HAM menjadi bagian dari nilai dan

(2)

norma dasar hukum. Deingan leigalitas huikum, penegiakan HiAM daipat teirwujud, teriutama untuik menghiindari penyalaihgunaan kekiuasaan (Ubaidiillah, 2008).

Demokraisi dan HiAM di Indionesia miasih berlaingsung dian terus beirkembang hingga kinii. Sejaik rieformasi 1998 seteliah jatuihnya Piresiden Siuharto, triansisi demoikrasi di Indionesia mulaii berkembaing. Lembiaga initernasional mengiakui Indionesia seibagai negara demokratis melalui berbagai riset dan survei. Keibebasan pers, pemiliihan umum langsuing, kebebasan berpendapiat, dukunigan hak indiividu, serta reforimasi militer merupakian bagian dari proses demokratisaisi.

Salahi satu bidiang yang reilevan dialam konteks demiokrasi dan HAM adalah intielijen (Hari Purwanto, n.d.). Inteliijen adialah iinstrumen peinting dailam pelaksainaan kiekuasaan negiara (Mardalena et al., 2022). Institiusi ini mengumpulkian, meraingkaikan, menginiterpretasi, menganialisis, mengiintegrasikan, dan mengievaluasi infoirmasi untuk keamanan nasiional (Widjajanto & Wardhani, 2008). Selaiin menjaidi bagiain dari siistem keamanan naisional, initelijen juga bierperan dialam detekisi diini dan strategii pencegahan ancaman terihadap negaira. Dailam konteiks demokirasi dan HAiM, institiusi inteilijen menyesuaikian diri dengan nilai-niilai demokrasi. Erai Reformasi menekiankan perlunya reformasi dailam instiitusi inteliijen agar praktik-praktik miereka sesuai idengan prinsiip-prinsip demokrasi. Jurnal iini mengekspliorasi peran intelijen dalam deimokrasi dan HAM, serta bagaimana dinamika tiersebut mempiengaruhi kehiiidupan demokrasi di Indonesia.

BAB 2 METODE PENELITIAN 2.1 Pendekatan dan Metode

Penielitian ini mengguniakan teori inteilijen demokiratik dari Uri Bar-Josieph yang menekanikan pentingnya kontrol otoriitas sipil untiuk mengurangii potiensi intervenisi intelijen dalam sisitem politik. Kontrol sipil ini harus melibatikan berbagai pihak sepeirti presiden, menteiri, dan parlemen. Dengan ipelibatan ini, prinsip pengiawasan inteliijen yang seiimbang dapat teribentuk, sehiingga funigsi intelijen sebagai pengeloila informasi dapait berjailan dengan tiepat (Bar-Joseph, 1995).

Lebih lanjiut, interaksi antara intelijen dan negara dalam sistem demokrasi dapat dibagi menjadi tiga jenis: intelijen strategis, inteilijen keamanan, dan diferensiiasi intelijen.

(3)

Intelijen keiamanan melaksanakan operasi untuk menghadapi ancaman internal seperti konflik kelompok, kejahatan, terorisme, dan separatisme, dengan tujuan memulihkan kondisi keamanan yang terganggu.

Intelijen strategis melakiukan opierasi pencegahan terhadaip anicaman eksterinal, terutamia ancaman militer dari negara lain. Hal ini bisa melibatkian infiiltrasi ke negara lain atau operaisi kontra-inteliijen untuk meminimalisir ancaiman. Sementaira itu, difierensiasi intelijen membientuk berbagai dinas intelijen secara khsusus dalam upaya mengatasi ancaman tertentu. Diferensiasi inii menekankan fungsi tieknokrasi moidern di mana orang- orang yang punya keahlian di tempatkan di berbagai beidang tertentiu.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Intelijen Era Reformasi

Intelijen memiiliki ikarakteristik unik iyang membedakannyai. Ada enam ikarakteristik utama yang iperlu diketahuii: (1i) tunduk ipada iotoritas ipolitiki; i (i2i) iterikat ioleh iprinsip akuntabilitas politiki, ifinansial, dan ihukum; (3) imerupakan institusi profesional iyang tidak mewakili kepentingan ipribadi; (4) memiiliki etos profesional iyang sesuai idengan kode etik intelijen; (5) memiliki fungsi khusus; (6) memiliki kompetensi utama dan teknis yang khusus (Widjajanto & Wardhani, 2008). Selama masa reformasi, intelijen tetap mempertahankan karakteristik ini, meskipun mengalami reformasi yang bersifat adaptif terhadap demokrasi.

Reformasi intelijen tercermin dalam pembentukan Undang-Undang (UU) Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara. UU No. 17/2011 ini menjadi landasan hukum bagi operasi intelijen. UU ini mencakup dasar-dasar legal, tata pelaksanaan operasi, kode etik, prinsip, serta aspek pembiayaan, pengawasan, dan pertanggungjawaban intelijen. Pasal 7 UU No. 17/2011 juga menjelaskan ruang lingkup kegiatan intelijen negara yang terdiri dari:

1) intelijen luar dan dalam negeri;

2) intelijen militer;

3) intelijen kepolisian;

4) intelijen penegak hukum;

5) intelijen kementerian/lembaga nonkementerian (Presiden Republik Indonesia,

(4)

Mekanisime ruang lingkup intelijien ini membiuat intielijen memilikii funigsi yang terpisah dan spiesifik. Penugasiannya membaigi fungsi intielijen menjadi dua kateigori: sipil dan miliiter. Hal ini terlihat dari perbedaian antara intelijein dalam negerii dan luair negeri.

Dalam praiktiknya, intelijien dalami neigeri tidak bioleh melaikukan kegiiatan inteilijen luiar negeiri, fokiusnya lebiih keipada aspeik intiernal niegara. Penugaisan intelijen dialam negieri lebih menigarah kepiada kepientingan sipiil dain merekia tidiak boleih melakuikan kontra- intelijen, karena tidak sesuai idengan prinisip demokirasi. Kontra-inteliijen yang miemata- matai pendiuduk dianiggap melanggiar nilai-nilai demokrasi dan merugikan ihak priivasi individui. Sebailiknya, intelijen luar negeri lebih berfokus pada aspek eksternal negara dan memiliki kewenangan untuk melakukan kontra-intelijen sebagai upaya menangkal ancaman eksternal yang mengancam keamanan nasional. Intelijen luar negeri lebih berperan sebagai intelijen tempur yang berkaitan dengan pertahanan negara/militer untuk mengatasi ancaman nasional (Sari, 2017).

Selanjutnya, di era reformasi, dinas-dinas intelijen ditempatkan dengan fungsi yang spesifik. Sesuai dengan teknokrasi modern intelijen, dinas-dinas intelijen bergerak dalam bidang-bidang tertentu. Contohinya, inteliijen kepolisian berperani menjaga keamanan dan ketertiban; intelijen kejaksaan menegakkan hukum; serta intelijen di kementerian/lembaga nonkementerian yang menjalankan fungsi terkait kementerian/lembaga tersebut.

Diharapkan langkah ini dapat membuat fungsi intelijen lebih efektif dan sesuai dengan pedoman demokrasi.

Untuk mengoordinasi dan menyusun strategi iintelijen secaria nasional, pemerintah membentuk Badan Intelijen Negara (BIN). BIN berada lanigsung di bawah koordinasi presiden dan memiliki beberapa tugas utiama (Presiiden Repuiblik Indonesia, 2011), yaitu:

1) Mengkaji dan menyusun kebijakan nasional bidang intelijen;

2) Menyampaikan hasil kegiatan intelijen sebagai pertimbangan kebijakan pemerintah;

3) Merencanakan dan melaksanakan aktivitas intelijen;

4) Merekomendasikan hal-hal terkait orang/lembaga asing;

5) Memberi pertimbangan, rekomendasi, dan saran terkait pengamanan pelaksanaan pemerintahan

(5)

Seciara giaris besar, refoirmasi intielijen pada masa reformiasi mengalami peruibahan yang cukup signifiikan. Dengan adanya reforimasi ini, dihariapkan intielijen tidak hanyia menjadi ailat keiamanan nasiional, tetapi juiga sebagiai pendoronig tumbuihnya demokrasi dan HAM. Reformaisi intelijen beiritujuan meneimpatkan initelijen sesuiai dengan porsinya, tanipa menghilangikan tugas, pokoik, dan fungsiinya. Peran inteliijen semiakin diarahikan unituk mendukung niilai-nilai kiemanusiaan.

3.2 Dinamika Praktik Intelijen

Semangiat reiformasi yang meinekankan pentiingnya demokraisi dan hak asaisi maniusia (HAM) telah mengubah peran inteilijen. Saat ini, inteilijen tetaip menjalanikan fungsiinya tetapi dibatasi oleh kaidahi-kaidah hukum. Intelijen dituntut untuk bertinidak profesionial dan berpedoman pada hukum dan konistitusi negara sebaigai bentuk pengiabdian terhadap bangsa dan negara (Dinuth, 2009). Mereika tidak lagi dapat bertindak sewenang-wenang tetapi harus mematuhi batasan dan ketentuan hukum yang berlaku.

Pemiimpin initelijen pada era reformasi diiharapkan bersifat iindependen, terilepas dari pengaruh miliiter dan politik. Jiabatan initelijen diisi oleh proifesional yang memiiliki keahilian khusus di bidangnyia dan mengikiuti jenjang kariri yang setara dengain jabatan proifesional lainnya. Sesuai dengan nilai-inilai reformasi, inteilijen masa kini juga memperhiatikan faktor demokrasi dan HAM, supremasii hukum, kepentiingan miasyarakat, kodei etik, suimpah intelijen, UiU intelijen, budiaya komunitias intelijen, seirta kerja samai dengan badian-badan lain.

Berbeda denigan era sebelumnyia, inteilijen pada masa iOrde Baru cendeirung dimiliterisasi dan tidak bianyak memiliki batasan hukum, sehinigga sering meliakukan penyalahguniaan kekuasiaan. Menuirut pengamati diari Lemibaga Ilmu Pengietahuan Indonesia, Ikrair Nusa Bhakti, inteilijen pada masa Orde Baru bertindak sewenang-wenang dan sering menakut-nakuti masyarakat. Institusi ini menjadi momok bagi masyarakat, aktivis, dan orang-orang yang bekerja di bidang demokrasi, baik sipil maupun militer (Bhakti, 2012).

Seibagai contoh, pada imasa Orde Baru, inteliijen sering dikooiptasi oleh Preisiden Suharto yang sempat menjiadi Pangkopkiamtib pada tahun 1965-1969 dan 197i4-1978.

Tindakan-tiindakan inteliijen sering dilakuikan atas nama "keiamanan negara." Antiara tahuni

(6)

1965-1971, meilalui operaisi inteliijen, terijadi upayia desukarnoisasi, penggailangan kekecewaan rakyat atas Sukarno imelalui Tritura, dan penyelesaian konfrontasi Malaysia secara senyap oleh Ali Murtopo. Selain itu, terjadi beberapa pelanggaran HAM seperti kasus Talangsari, Lampung (Adam, 2022).

Reformasi intelijen pada era reformasi membawa banyak perubahan pada stigma yang dibentuk oleh Orde Baru. Namun, praktik intelijen tidak sepenuhnya berubah sesuai harapan reformasi. Masih ada praktik-praktik yang dianggap sewenang-wenang. Misalnya, pada tahun 2004, praktik "intelijen hitam" terjadi dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir yang hingga kini belum jelas siapa pelaku sebenarnya (Bhakti, 2012). Kasus ini mengingatkan masyarakat akan tindakan-tindakan pelanggaran HAM oleh intelijen.

Padahal, sekolah intelijen modern telah dibangun hingga tingkat pascasarjana untuk memodernisasi intelijen secara profesional.

Praktik intelijen di era reformasi belum seideal yang diharapkan. Meskipun Badan Intelijen Negara (BIN) sudah memiliki kantor di 34 provinsi seluruh Indonesia, dominasi militer masih kuat, terutama oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat, termasuk dalam pimpinan provinsi (Pattisina, 2022). Kondisi ideal reformasi seharusnya menempatkan proporsi militer dan sipil secara seimbang dan jabatan intelijen diisi oleh lulusan Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN) yang dididik untuk melaksanakan fungsi intelijen. Sayangnya, hal ini belum maksimal.

Keadaan ini menjadi catatan penting bagi perkembangan intelijen pada masa reformasi dan hendaknya menjadi titik balik agar intelijen terus berjalan sesuai dengan arah reformasi. Nilai-nilai reformasi yang berlandaskan demokrasi dan HAM harus menjadi dasar penting untuk mengembangkan intelijen yang menjunjung tinggi supremasi hukum tanpa penyalahgunaan kekuasaan. Semua ini merupakan bagian dari dinamika intelijen yang terus berlangsung.

3.3 Peluang dan Tantangan

Melihat dinamika intelijen yang terus berlangsung, terlihat bahwa ada banyak peluang untuk mengembangkan intelijen. Beberapa peluang ini adalah sebagai berikut:

(7)

1. Inteliijen sebagai aigen pendorong demokratisasi: Deingan adanyai reformasi initelijen yang diseisuaikan deingan nilai-nilai reiformasi, teirdapat peluang bagii intelijen uintuk mendorong pertumbuhan deimokratisasi yang sejialan dengan nilai-nilai demiokrasi dan HAM. Meskipuin intelijen saat ini masiih menunjiukkan tradisi dari iera Orde Baru, reformasi intelijen mempierkuat posisi Indoneisia sebagai negaira hukum yang konstitusionial. Terlepas dari bierbagai praktik intielijen di era reformiasi, reforimasi ini menjadi kaitalis perubahian signiifikan untiuk deimokrasi dan HiAM.

2. Terbuka untuk sipil: Perain intelijien di era reforimasi lebih terbuika bagi sipil untuik menigisi posisi di inteliijen. Keseimbangian kekuasiaan antaira militer dan sipil, sesiuai amanat refoirmasi, menunjiukkan bahwa intelijien tidak selalu berisifat militeiristik. Hal ini secara tidak liangsung menghiliangkan kesian "militerisasi inteliijen" yang meleikat di masa sebelium reformasii. Dengain demikiian, sipil memiiliki kesempiatani yang samai untiuk berkontriibusi di inistitusi iini.

3. Diferensiasi intielijen yang lebih spesifik: Inteliijen di era reformaisi memiliki peluang uintuk melakuikan difereinsiasi yang lebih spiesifik dibandiingkan era siebelumnya. Jikai era seibelum reiformasi menekankan intelijen yang militeristik dan homogen, maka reformasi intelijen, sesuai dengan UU Intelijen, menempatkan intelijen dalam berbagai bidang secara lebih spesifik. UU Intelijen menetapkan intelijen di berbagai ranah, termasuk Polri, Jaksa, dan lembaga kementerian/nonkementerian. Selain itu, kehadiran STIN sebagai wadah untuk profesionalitas dan pembelajaran intelijen secara khusus juga menjadi nilai tambah bagi perkembangan intelijen. Hal ini membuka jalan bagi intelijen untuk lebih progresif.

Perkembangan intelijen tidak terlepas dari berbagai tantangan yang dihadapi.

Meskipun sudah ada landasan hukum untuk reformasi intelijen, tantangan tetap ada dan terletak dalam intelijen itu sendiri.

Pertama, intelijen memiliki potensi besar untuk dikooptasi oleh kepentingan politik, mirip dengan masa Orde Baru. Jika pada masa Orde Baru intelijen lebih banyak dikooptasi oleh Suharto sebagai presiden, sekarang intelijen rentan dikooptasi oleh partai politik.

Kooptasi ini dilakukan untuk memuluskan kepentingan politik golongan atau individu tertentu. Intelijen harus memegang teguh prinsip profesionalitas dan independensi serta

(8)

terlepas dari pengaruh politik. Pengabdian intelijen haruslah konstitusional.

Kediua, dibutiuhkan waktu unituk mengiubah stiigma intelijen yang terkeisan miiliteristik.

Sejak refoirmasi intelijein terijadi, instiitusi ini telah menekainkan keseiimbangan antara miliiter dan sipiil. Namun, stiigma inteilijen yang terbenituk pada masa Oirde Baru masiih mengiesankan baihwa intielijen selalu beircorak militeristik. Kasus "intelijien ihitam" yang sempat teirjadi pada era refiormasi juga memperikuat perspekitif tentanig stiigma tersiebut.

Oleh karenia itu, dibutiuhkan kesabaran dan konsistensi untuk mengubah citra ini. Praktik- praktik "intelijen hitami" juga harus dihilangikan dari ranah iinstitusi intielijen. Seliain itu, proporsi miiliter dalam mengiisi posisi intielijen harus diseiimbangkan dengian sipil. Dialam konteks iini, inteliijen masih harusi bekerija keiras untuk menyiesuaikan diri dengian perintiah koinstitusi.

BAB IV KESIMPULAN 4.1 Kesimpulan

Demokirasi dan HAM saling berhuibungan erat dalam koniteks Indonesia, di maina demokriasi menekanikan kedaulatian rakyat sebiagai wadah aspiirasi semiua pihak, seimentara HAM merupakian hak dasiar yang tidaik boleh diiganggu gugat. Demokraisi berpeiran sebagai sarana untuk mengimpilementasikan HAM, dan keduaniya saling meliengkapi daliam semangat reforimasi yang mengutiamakan supremaisi hukumi di Indoinesia.

Dalam kontieks ini, iinstitusi intelijen tidak haniya berperan seibagai alat uintuk spionasie dan deteksi dini dalam kieamanan nasioinal, tetapi jugai memiiliki signifikiansi seibagai penggerak reiformasi. Inteliijen yang adaptif terhadap nilai-nilai reformasi menjadi kunci dalam mencapai cita-cita demokrasi dan HAM. Reformasi intelijen, yang tercermin dalam UU intelijen dan peniguatan cabang-cabaing seperti BIN idaerah, merupaikan langikah majui untuk mengembangikan institiusi ini sebagaii bagian pentiing dari sisitem yang miendukung nilai-nilai demoikrasi.

Meskipuin demikian, tanitangan tidak bisa dihiindari. Intelijien rentan terkooiptasi oleh kepentingan ipolitik dan masihi harus menigatasi stigma militeristik dari masa lalu. Meskipun telah ada kemajuan dalam mengubah citra dan praktik-praktik negatif seperti "intelijen hitam", perjalanan menuju intelijen yang sepenuhnya sesuai dengan ideal reformasi masih

(9)

panjang.

Dengain demikian, idinamika intelijen menunjiukkan adanya peluaing dan tantangan ke depan. Intielijen dapat terus mengembaingkan diri dengan mendoriong demokiratisasi internail, menjadi lebiih terbiuka terhaidap partiisipasi sipiil, dan mengimpilementasikan diferensiasi dalam fungsi-fungsi spesifiknya. Namun, untuk menghadapi tantangan seperti

ikooptasi politik dan menghaipus stigma miasa lalu, intielijen perlu menijaga konsistiensi dan profesiionalitas dialam menjailankan peranannya sebagaii bagian integrail dari sistem neigara yang demokiratis.

DAFTAR PUSTAKA

Darussalam, F. I., & Indra, A. B. (2021). Kedaulatan Rakyat Dalam Pemikiran Filsafat Politik Montesquieu. Jurnal Politik Profetik, 9(2), 189–204.

Gumelar, I., & Nachrawi, G. (2022). Perlindungan Hukum Bagi Anggota Tni Berdasarkan Undang-Undang Hak Asasi Manusia (Studi Kasus Gerakan Separatis Organisasi Papua Merdeka). JISIP (Jurnal Ilmu Sosial Dan Pendidikan), 6(2)

Hari Purwanto, S. H. (n.d.). Intelijen dan Dinamika Demokrasi di Indonesia. Jakad Media Publishing.

Khairazi, F. (2015). Implementasi demokrasi dan hak asasi manusia di indonesia. INOVATIF|

Jurnal Ilmu Hukum, 8(1).

Mardalena, P. S., Argenti, G., & Rizki, M. F. (2022). Polemik Peranan Bin (Badan Intelijen Negara) dalam Menangani Pandemi Covid-19. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 8(4), 183–194

Nurul Qamar, S. H. (2022). Hak Asasi Manusia Dalam Negara Hukum Demokrasi: Human Rights In Democratiche Rechtsstaat. Sinar Grafika.

Plaituka, S. B. (2016). Constitutional Complaint Dalam Rangka Penegakan Hak Asasi Manusia di Republik Indonesia. Jurnal Media Hukum, 23(1).

Ramli, M. (2015). Media pembelajaran dalam perspektif Al-Qur’an dan Al-Hadits. Ittihad Jurnal Kopertais Wilayah XI Kalimantan, 13(23), 133–134.

(10)

Ubaidillah, M. H. (2008). Kontribusi Hukum Islam dalam Mewujudkan Good †ŽGovernance di Indonesia. Al-Qanun: Jurnal Pemikiran Dan Pembaharuan Hukum Islam, 11(1 Juni), 112–141.

Adam, A. W. (2022, April 2). Sejarah Intelijen Orde Baru. Kompas.id.

Bar-Joseph, U. (1995). Intelligence Intervention in the Politics of Democratic States . Pennsylvania: Pennsylvania State University Press.

Bhakti, I. N. (2012). Reformasi Intelijen. Pusat Dokumentasi ELSAM.

Dinuth, A. (2009). Revitalisasi dan Restrukturisasi Intelijen di Era Reformasi. Jurnal CSICI, 5 (29).

Kusumastuti, D. (2020). Negara, HAM dan Demokrasi. Surakarta: Unisri Press.

Pattisina, E. C. (2022, Junin 29). Intelijen Dalam Negeri Didominasi TNI. Jakarta: Kompas.id.

Presiden Republik Indonesia. (2011). Undang-Undang republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara. Indonesia.

Rosana, E. (2016). Negara Demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Jurnal Tapis, 12 (1).

Sari, P. P. (2017). Kedudukan Intelijen dalam Negara Demokrasi Menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2011. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.

Widjajanto, A., & Wardhani, A. (2008). Hubungan Intelijen-Negara 1945-2004. Pacivis:

Jakarta.

(11)

Lampiran Turnitin

Referensi

Dokumen terkait