MAKALAH ULUMUL QUR’AN WAHYU ALLAH
Makalah ini Diajukan
Sebagai Salah Satu Tugas Terstruktur Dalam Mata Kuliah Ulumul Qur‟an
Oleh:
Nafisa Khaira 23120094 Resti Wahyuni 23120097
Kelas : 1 A
Dosen Pengampu : Dra. Nur Izzah, MA
MANAJEMEN ZAKAT DAN WAKAF ( MZW ) FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM INSTITUT ILMU AL - QUR’AN (IIQ) JAKARTA
1445 H/2023 M
i
ِمْي ِح َّرلا ِن ٰمْح َّرلا ِ هللّٰا ِم ْسِب
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah atas kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini dengan baik untuk memenuhi salah satu syarat dalam penyelesaian tugas Ulumul Qur‟an pada program studi Manajemen Zakat dan Wakaf pada Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam.
Shalawat dan salam penulis tidak lupa mengucapkan untuk nabi tercinta, nabi Muhammad Saw. Dalam hal ini penulis membuat judul “Wahyu Allah”.
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah wawasan pembaca dan penulis dalam proses pembelajaran. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kesalahan dan kekurangan, demikian dengan adanya penulisan makalah ini, semoga bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umum.
Pamulang, 10 September 2023
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 1
C. Tujuan ... 2
BAB II ... 3
PEMBAHASAN ... 3
A. Pengertian Wahyu ... 3
B. Metode Penyampaian Wahyu dari Allah Kepada Para Rasul-Nya Beserta Dalilnya ... 6
C. Metode Penyampaian Wahyu dari Malaikat Jibril Kepada Nabi Muhammad SAW ... 9
D. Perbedaan Antara Wahyu, Ilham, dan Ta‟lim ... 10
E. Mazhahir ( Kejadian Lahiriyah ) yang Dialami Nabi Muhammad Saw. Saat Menerima Wahyu ... 12
F. Tanggapan Terhadap Pandangan Yang Kontra Terhadap Wahyu ... 17
BAB III ... 20
PENUTUP... 20
A. Kesimpulan ... 20
B. Saran ... 22
DAFTAR PUSTAKA ... 23
LAMPIRAN ... 24
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Konsep wahyu ini adalah elemen sentral dalam agama Islam, yang memainkan peran penting sebagai sumber hukum, pedoman, dan instruksi bagi umat Muslim. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif tentang wahyu ini menjadi hal yang sangat penting bagi umat Islam, sebab hal ini membantu dalam pelaksanaan ajaran agama secara benar serta meminimalisir penafsiran yang keliru.
Selain itu, dalam perspektif sejarah Islam, wahyu juga memegang peran kunci, terutama dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw. Memahami bagaimana wahyu diterima, disampaikan oleh para rasul, serta metodenya akan memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang peran wahyu dalam pembentukan agama Islam.
Pemahaman yang akurat tentang perbedaan antara wahyu, ilham, dan ta'lim juga penting untuk menghindari kebingungan dalam menginterpretasikan pesan-pesan ilahi. Terakhir, makalah ini bertujuan untuk menjelaskan pandangan Islam terhadap wahyu sebagai konsep yang berharga dan signifikan dalam kehidupan umat Muslim, serta untuk membantu merespon kritik atau pandangan yang kontra terhadap wahyu dalam konteks agama Islam. Dengan demikian, makalah ini akan memberikan landasan pemahaman yang kuat dan ilmiah tentang konsep wahyu dalam Islam.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian wahyu?
2. Bagaimana metode penyampaian wahyu dari Allah kepada para Rasul-Nya beserta dalilnya?
3. Bagaimana metode penyampaian wahyu dari Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw?
4. Apa perbedaan antara wahyu, ilham, dan ta'lim?
5. Apa saja mazhahir (kejadian lahiriyah) yang dialami Nabi Muhammad Saw. saat menerima wahyu?
6. Bagaimana tanggapan terhadap pandangan yang kontra terhadap wahyu?
C. Tujuan
1. Mengetahui secara mendalam pengertian wahyu
2. Mengetahui metode penyampaian wahyu dari Allah kepada para Rasul-Nya beserta dalilnya
3. Mengetahui metode penyampaian wahyu dari Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw.
4. Mengetahui perbedaan antara wahyu, ilham, dan ta‟lim 5. Mengetahui mazhahir (kejadian lahiriyah) yang dialami
Nabi Muhammad Saw. saat menerima wahyu
6. Mengetahui tanggapan terhadap pandangan yang kontra terhadap wahyu
3 BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Wahyu
Wahyu di ambil dari kata Wahaa – Yahii - Wahyan ( ايحو- يحي - ىحو). Wahyu ialah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus di tujukan kepada orang yang di beritahu tanpa di ketahui orang lain. Sedangkan wahyu Allah kepada para Nabi-Nya, mereka definisikan sebagai “Kalam Allah yang diturunkan kepada seorang Nabi”. Definisi ini menggunakan pengertian maf‟ul Al-Muhaa ىحملا (yang di wahyukan).1
Wahyu secara semantik berarti “Isyarat yang cepat (termasuk bisikan di dalam hati dan ilham), surat, tulisan, dan segala sesuatu yang disampaikan kepada orang lain untuk diketahui”.2
Adapun secara terminologis, wahyu adalah “Pengetahuan yang didapat seseorang didalam dirinya serta diyakininya bahwa pengetahuan itu datang dari Allah, baik dengan perantaraan, dengan suara atau tanpa suara, maupun tanpa perantaraan”.3
1 Syaiful Arief, ed., Ulumul Qur‟an Untuk Pemula, (Jakarta Selatan:
Program Studi Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Institut PTIQ Jakarta, 2022), h. 7
2 M. Quraish Shihab, et al., eds., Sejarah dan „Ulum Al-Qur‟an, (Jakarta:
Pustaka Firdaus, 1999), h. 48
3 M. Quraish Shihab, et al., eds., Sejarah dan „Ulum Al-Qur‟an, h. 48
Al-Qur‟an sendiri yang didalamnya tersebut 77 kali kata wahyu, kebanyakan dalam bentuk kata kerja (fi‟il), mengunakan kata wahyu untuk beberapa pengertian. Diantaranya:4
1. Wahyu dalam arti ilham (insting) seperti dalam ayat :
ِر ََى َّشلا َنِمَّو اًحْيُيُة ِلاَت ِج ْ
لا َن ِم ْي ِذ ِخ َّ
تا ِن َ
ا ِل ْحَّنلا َلِا َكُّة َر ٰحْو َ ا َو َۙ َ
ن ْي ُش ِر ْػَي اَِّمَِو ٦٨
“Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah sarang- sarang di pegunungan, pepohonan, dan bangunan yang dibuat oleh manusia.” (QS. An-Nahl [16]: 68)5
2. Wahyu dalam arti perintah, seperti dalam firman Allah :
ْد َى ْشا َو اَّنَم ٰ ا آْ ْي ُ
لا َ
ق ۚ ْي ِل ْي ُس َرِة َو ْيِب ا ْي ُنِم ٰ ا ن ْ َ
ا َنّٖ ي ِراَي َحْلا َلِا ُجْي َحْو َ ا ْذ ِا َو
َ ن ْي ُمِل ْس ُم ا َنَّنَاِة ١١١
“(Ingatlah) ketika Aku ilhamkan kepada para pengikut setia Isa, “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.”
Mereka menjawab, “Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Maidah [5]: 111)6
3. Wahyu dalam arti bisikan atau bujukan seperti dalam ayat :
4 Syaiful Arief, ed., Ulumul Qur‟an Untuk Pemula, h. 7
5 Terjemahan Kemenag, 2019
6 Terjemahan Kemenag, 2019
5
َ ْن ِيٰيى شلا َّ َّ
ن ِا َو ٌ ى ْس ِف َ
ل ٗهَّنِا َو ِهْي َ لَع ِ ه
للّٰا ُم ْسا ِر َ ك ْ
ذُي ْم َ ل اَِّمِ ا ْي ُ
ل ُ ك ْ
أَح ا َ ل َو
َ ن ْي ُ
كِر ْشُمَل ْمُكَّنِا ْم ُوْيُمُخ ْػ َط َ
ا ن ِا َوۚ ْم ْ ُ كْي ُ
ل ِدا ََُيِل ْم ِهِٕىۤاَيِل ْو َ
ا ٰٓل ِا ن ْي ُح ْيُي َ َ ل ࣖ
١٢١
“Janganlah kamu memakan sesuatu dari (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah. Perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan. Sesungguhnya setan benar- benar selalu membisiki kawan-kawannya agar mereka membantahmu. Jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu benar-benar musyrik.” (QS. Al-An‟am [6] :121)7
4. Wahyu dengan arti isyarat, seperti dalam firman Allah :
ًة َرى ْ
كُة ا ْي ُحِ تى َس ن ْ َ ا ْم ِىْيى َ
ل ِا ٰٓح ْو َ ا َ
ف ِبا َر ْح ِم ْ
لا َن ِم ّٖه ِم ْي ق ى َ ٰ
لَع َجَر خ َ ف َ ا ًّي ِش َغَّو ١١
“Lalu, (Zakaria) keluar dari mihrab menuju kaumnya lalu dia memberi isyarat kepada mereka agar bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam [19]: 11)8
Wahyu itu bukanlah suatu pengetahuan yang dapat dicari apalagi direkayasa, melainkan datang dengan sendirinya sebagai
7 Terjemahan Kemenag, 2019
8 Terjemahan Kemenag, 2019
pengetahuan yang Allah berikan kepada orang-orang tertentu yang kemudian disebut dengan Nabi atau Rasul-Nya.9
B. Metode Penyampaian Wahyu dari Allah Kepada Para Rasul-Nya Beserta Dalilnya
Metode penyampaian wahyu Allah kepada para rasul-Nya dalam Islam adalah salah satu aspek penting dalam proses komunikasi ilahi. Allah Swt. menggunakan berbagai cara untuk mengkomunikasikan pesan-pesan-Nya kepada para utusan-Nya. Di dalam Al-Qur‟an, surat Asy-Syura‟ ayat 51, Allah Swt. berfirman:
َ ْنِن ِم ْؤ ُم ْ لا َ
ل َّو َ ا ْٓاَّن ُ
ك ن ْ َ
ا ْٓاَنٰي ٰي َخ اَنُّب َر اَن َ
ل َر ِف ْغَّي ْنَا ُعَم ْيَن اَّنِا ࣖ
٥١
“ Sesungguhnya kami sangat menginginkan agar Tuhan kami mengampuni kesalahan-kesalahan kami karena kami adalah orang- orang yang pertama menjadi mukmin.” (QS. Asy-Syu‟ara‟ [26]: 51)10
Ayat diatas menunjukkan tiga macam cara penyampaian wahyu Allah kepada Rasul dan Nabi-Nya, yaitu :
1. Allah mencampakkan pengetahuan ke dalam jiwa Nabi tanpa melalui perantaraan malaikat. Termasuk ke dalam bagian ini ialah mimpi yang benar, seperti mimpinya Nabi Ibrahim Khalilullah a.s. ketika diperintahkan agar menyembelih putranya (Isma‟il a.s.) sebagaimana diungkapkan kembali dalam Al-Qur‟an :11
9 Muhammad Amin Suma, „Ulumul Qur‟an, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), h. 83
10 Terjemahan Kemenag, 2019
11 Muhammad Amin Suma, „Ulumul Qur‟an, h. 83
7
َكى ُح ك ْذ َ َ
ا ْٓ ْيى ِ نَا ِااىَنَم ْ
لا ىِِ ى ٰر َ
ا ْٓ ْيى ِ نِا َّيَنُتٰي َلاَق َيْع َّسلا ُه َػَم َؼَلَة اَّمَلَف ُ للّٰا َ ۤاى َش ه ْ
ن ِا ْٓ ْي ِن ُد ََِخى َس ُُۖرَم ْؤُح اَم ْ ل َػ ْ
فا ِجَة َ آٰي َ
لا ق ى ٰرَح ا َذا َم ْر ُظْنا َ ف َ َنْي ِدِب هصلا َنِم ١٠٢
“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu.
Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab,
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (QS. As-Saffat [37]: 102)12
Wahyu dalam bentuk mimpi yang tepat dan benar ini pernah pula dialami oleh Nabi Yusuf a.s., Nabi Muhammad Saw., dan lain-lain. Bahkan insan-insan tertentu yang tidak sampai derajat kenabian dan/ atau kerasulan bisa diberi/menerima
“Wahyu” dalam bentuk ini.
2. Allah memperdengarkan suara dari balik tabir seperti yang dialami oleh Nabi Musa a.s. ketika menerima pengangkatan kenabiannya. Firman Allah:13
ٰٓس ْي ُمٰي َي ِدْيُن ا َىىٰح َ ا ْٓاَّم َ
ل ف َ َۙ
ِدا َي ْ ١١
لاِة َكَّنِا َۚكْيَل ْػَن ْعَل ْخاَف َكُّة َر ۠اَنَا ْٓ ْيِ نِا
ى ًي ُط ِس َّدَقُمْلا ٰح ْيُي اَمِل ْع ِمَخ ْسا ف َكُح ْدَت ْخا اَن َ َ ١٢
ا َو ١٣
12 Terjemahan Kemenag, 2019
13 Muhammad Amin Suma, „Ulumul Qur‟an, h. 84
“Ketika mendatanginya (tempat api), dia (Musa) dipanggil,
“Wahai Musa. Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu.
Lepaskanlah kedua terompahmu karena sesungguhnya engkau berada di lembah yang suci, yaitu Tuwa. Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)”.” (QS. Taha [20]: 11-13)
3. Melalui seorang utusan, yaitu malaikat. Dalam hal ini ada dua macam :
a. Nabi dapat melihat malaikat Jibril adakalanya dalam bentuk yang asli (hal ini jarang terjadi) dan adakalanya Jibril menjelma sebagai seorang manusia.
b. Nabi tidak melihat Jibril sewaktu menerima wahyu, akan tetapi beliau mendengar suara seperti suara lebah atau gemerincingnya suara lonceng pada waktu Jibril datang.
c. Al-Qur‟an diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw.
dalam bentuk yang ketiga ini, yaitu melalui al-Ruh al- Amin ( Jibril a.s.) sebagaimana telah diterangkan pada pembahasan terdahulu.14
Metode penyampaian wahyu ini menggambarkan cara Allah berkomunikasi dengan rasul-rasul-Nya dalam rangka memberikan panduan dan ajaran-ajaran-Nya kepada manusia. Ini adalah proses yang dianggap sangat sakral dalam Islam dan menjadi landasan bagi ajaran dan hukum syariah dalam agama ini. Setiap metode ini memiliki keunikannya sendiri, tetapi semuanya bertujuan untuk memberikan panduan dan petunjuk dari Allah kepada manusia.
14 Muhammad Amin Suma, „Ulumul Qur‟an, h. 84
9 C. Metode Penyampaian Wahyu dari Malaikat Jibril Kepada Nabi
Muhammad SAW
Berbicara wahyu tentu tak bisa lepas dari sebuah kejadian maha dahsyat yang pernah dialami oleh Nabi Muhammad Saw.
Sekilas cerita sejarah Nabi Muhammad Saw. menerima wahyu, tentang peristiwa itu nabi bertemu dengan malaikat Jibril di gua
“Hira”, saat berumur 40 tahun.
Sebelum ini diyakini bahwa Nabi Muhammad Saw. mulai memiliki serangkaian firasat dan mimpi yang nyata. Pada pewahyuan yang pertama kali di gua, diceritakan bahwa Nabi Muhammad Saw.
merasakan kehadiran tertentu, lalu kemudian melihat malaikat dalam bentuk seorang manusia yang menyuruh untuk membaca (iqro‟).
Ketika Nabi Muhammad Saw. menjawab bahwa dia bukan seorang pembaca, kemudian malaikat mendekapnya dengan rapat sekali sehingga Nabi berfikir bahwa ia akan mati. Perintah untuk membaca diulang-ulang sebanyak tiga kali.
Akhirnya, malaikat Jibril mulai membacakan apa yang sekarang kita kenal sebagai lima ayat pertama dari surat al-„alaq yaitu sebagai berikut:15
ۚ َ َ
ل َخ ْي ِذ َّ
لا َكِ ة َر ِم ْساِة ْ أ َر ْ
ق ِا ۚ ٍۚ ى َ ١
لَع ْن ِم نا َس َ ْ ن ِا ْ
لا َ َ ل َخ ٢
َكىُّة َر َو ْ أ َرى ْ
ق ِا
َُۙا َر ْ ك َ
ا ْ لا َِۙم َ ٣
ل ق َ ْ لاِة َم َّ
لَع ْي ِذ َّ
لا ْم َ ٤
ل ْػَي ْم َ
ل ا َم نا َس َ ْ ن ِا ْ
لا َم َّ
لَع ٥
15 Mochammad Irfan Achfandy, “Contextualizing The Revelation As a Communication Process”, Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah, Vol. 26 no. 2 (Juni-Desember 2020), h. 332-333.
https://ejournal.staiindojkt.ac.id/index.php/dirasat/issue/view/6 diakses pada 9 September 2023 pukul 15:40 WIB
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-„Alaq [96] :1-5)16
Pengalaman ini bukan pengalaman yang mudah bagi Nabi Muhammad Saw. Setelah itu, beliau segera kembali ke rumah dan mencari kenyamanan dengan istrinya. Nabi Muhammad tak cukup yakin dengan pengalaman itu, dan apakah yang ia terima adalah wahyu dari Allah. Secara perlahan Nabi Muhammad Saw. pun akhirnya menyadari besarnya tanggung jawab yang dia terima dan bahwa beliau memang menerima wahyu.
D. Perbedaan Antara Wahyu, Ilham, dan Ta’lim
Ketiga istilah ini memiliki kesamaan, bahwa semuanya sama- sama menunjukkan pengetahuan yang bersumber dari Allah Swt.
Perbedaannya adalah, Wahyu hanya diperuntukkan bagi orang-orang tertentu yang dipilih oleh Allah, yaitu para Nabi dan Rasul, sedangkan Ilham dan Ta'lim (ilmu) diberikan oleh Allah kepada semua manusia.
Pengertian Ilham, menurut pendapat sebagian ulama, sebagaimana dikemukakan oleh Hasbi Ash-Shiddieqie, ialah
"Menuangkan suatu pengetahuan kedalam jiwa yang menuntut penerimanya supaya mengerjakannya, tanpa didahului dengan ijtihad dan penyelidikan hujjah-hujjah agama". Sejalan dengan pendapat ini, Al-Jurjani dalam Kitab At-Ta'rifat mendefinisikan, bahwa ilham ialah
"Sesuatu yang dilimpahkan ke dalam jiwa dengan cara pemancaran, ia merupakan ilmu yang ada di dalam hati atau jiwa, dan dengannya
16 Terjemahan Kemenag, 2019
11 seseorang tergerak untuk melakukan sesuatu tanpa didahului dengan pemikiran".17
Ilham dalam pengertian ini hampir sama dengan pengertian insting yang dikenal dalam dunia psikologi, yaitu "Pola tingkah laku yang merupakan karakteristik-karakteristik spesifikasi tertentu, tingkah laku yang diwariskan dan dilakukan secara berulang-ulang yang merupakan khas spesifikasi tertentu. Bahkan menurut Sigmund Freud, ia merupakan sumber energi atau dorongan primal yang tidak dapat dipecahkan. Lebih lanjut Freud menambahkan, insting itu terbagi dua, yaitu insting kehidupan (eros) dan insting kematian (tahanatos)". Dua macam insting (ilham) yang terdapat dalam jiwa setiap manusia juga di ungkapkan dalam Al-Quran dengan sebutan fujur dan taqwa. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an, yaitu sebagai berikut :
ُۖاَىى ٰي قَح َو ا َو َر ْي َُ ْ ف ا َى َم َى ُ ْ ل َ
ا ف َ ٨
“Lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,” (Asy-Syams [91]:8)18
Dua macam insting yang disebutkan dalam ayat di atas adalah insting atau kecenderungan untuk berbuat buruk (fujur) dan insting atau kecenderungan untuk berbuat baik (taqwa). Kedua macam insting ini bersifat potensial. Artinya, setiap manusia memiliki potensi untuk berbuat baik dan berbuat buruk. Karena sifatnya yang potensial,
17 Vela Ninda, “Perbedaan Wahyu, Ilham dan Ta‟lim”, Edukasi PAI, 11 Desember 2018. https://paiedukasi.blogspot.com/2018/12/perbedaan-wahyu-ilham- dan-talim.html diakses pada 10 September 2023 pukul 16:20 WIB
18 Terjemahan Kemenag, 2019
maka aktualisasi insting ini tergantung pada kecenderungan atau kemauan manusia untuk mengaktualkan insting mana dari kedua insting tersebut.
Jika seorang manusia memiliki kecenderungan untuk mengaktualkan insting keburukan (fujur), maka yang akan dominan dalam dirinya adalah sifat kejahatan, sehingga jadilah dia sebagai penjahat, pengingkaran terhadap perintah dan larangan Allah.
Demikian pula sebaliknya, jika insting kebaikan yang dikembangkan atau diaktualkan, maka jadilah dia sebagai manusia yang baik, patuh terhadap perintah dan larangan Allah.
Dari pengertian ini dapat disimpulkan, bahwa perbedaan antara kedua istilah yang disebutkan terakhir (ilham dan ta'lim) terletak pada proses atau cara memperolehnya. Ilham hanya dapat diperoleh atas kehendak Allah, tanpa usaha manusia, sedangkan ta'lim (ilmu) harus melalui usaha manusia, kecuali ilmu laduni yang dalam pandangan ahli tasawuf proses proses perolehannya sama dengan ilham.19
E. Mazhahir ( Kejadian Lahiriyah ) yang Dialami Nabi Muhammad Saw. Saat Menerima Wahyu
Nabi Muhammad Saw. dalam hal menerima wahyu mengalami macam-macam cara dan keadaan, diantaranya :
1. Mimpi yang benar. Dan inilah wahyu yang pertama kali diterima Rasulullah Saw. sebelum beliau menerima wahyu Al- Qur‟an seperti diterangkan dalam riwayat dibawah ini.
19 Vela Ninda, “Perbedaan Wahyu, Ilham dan Ta‟lim”, Edukasi PAI, 11 Desember 2018. https://paiedukasi.blogspot.com/2018/12/perbedaan-wahyu-ilham- dan-talim.html diakses pada 10 September 2023 pukul 16:20 WIB
13
للّٰا ليىسر هىة ئدىة اىم لوأ :جلاق اىنأ ننمؤملا اأ ثشئاع نغ ملسو هيلع للّٰا ىلص ال ناكف ،اينلا يِ ثحلاصلا ايؤرلا يحيلا نم
حتصلا لف لثم ت اج الإ ايؤر ىري )
هيلع فخم (
“Dari Aisyah r.a., ia berkata: “Awal wahyu yang dimulai dengannya Rasulullah Saw. ialah melalui mimpi yang benar di waktu tidur, lalu waktu itu beliau tidak melihat dalam mimpinya itu, kecuali seperti (terangnya) cuaca di waktu pagi.” (Muttafaq „alaih)20
2. Jibril menghembuskan (menghunjamkan) wahyu ke dalam jiwa Nabi Muhammad Saw., sedangkan Nabi sendiri tidak melihat Jibril. Rasulullah bersabda :
َ ل ِم ْ كَخ ْس َ
ت ىَّت َح َت ْي ُمَح ْن َ
ل ا ًس فَن ْ ن َّ َ
أ ي ِع ْو َر يِِ د َ َ
فَن ِس ُدُقْلا َحْو ُر َّنِإ ِغ ْيَخ ْس َ
ت َو ا َى ُ ل َج َ
َ أ
اىل َو ِبى َ
ل َّ يلا يىِِ ا ْي ُ ل ِم ْج َ
أ َو َللّٰا اي قَّحا ُ ف ا َى َ ُ ق ْز ِر َب َللّٰا َّ
ن ِإى َ
ف ِللّٰا ِثَي ِص ْػ َمِة ُهَت ُ ل ْيَي ن ْ َ
أ ِق ْز ِ رلا ُ ا َيْتِت ْسا ُم ُ كُد َح َ
أ َّن َ ل ِم ْح َي ِهِخ َغا َيِة َّالِإ ُه َدْن ِغ اَم ُ
لاَنُي َ ال َ لا َػَح )
هجام نةا هاور (
“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) telah mencampakkan ke dalam jiwaku bahwasanya nafsu itu tidak akan putus-putusnya sampai terpenuhi rezeki yang dikehendakinya. Maka
20 Muhammad Amin Suma, „Ulumul Qur‟an, h. 85
bertakwalah kamu kepada Allah dan berlaku baiklah kamu dalam menuntun rezeki itu, dan janganlah kamu jadikan beban untuk menuntutnya dengan cara maksiat kepada Allah, karena sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah itu tidak dapat dituntut kecuali dengan taat kepada-Nya.” (Riwayat Ibnu Majah)21
3. Jibril menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw.
dengan menjelma sebagai manusia. Diriwayatkan bahwa Jibril pernah datang kepada Nabi Muhammad Saw. dalam rupa Dlihyah Ibn Khalifah Ibn Farwah Al-Kalbi Al-Qaddhai, seorang laki-laki yang amat tampan rupanya. Sosok malaikat yang berubah wujud menjadi manusia dijelaskan dalam Al- Qur‟an Surat Maryam ayat 17:
ًة َرى ْ
كُة ا ْي ُحِ تى َس ن ْ َ ا ْم ِىْيى َ
ل ِا ٰٓح ْو َ ا َ
ف ِبا َر ْح ِم ْ
لا َن ِم ّٖه ِم ْي ق ى َ ٰ
لَع َجَر خ َ ف َ ا ًّي ِش َغَّو ١١
“Lalu, (Zakaria) keluar dari mihrab menuju kaumnya lalu dia memberi isyarat kepada mereka agar bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang.” (QS. Maryam [19]:11)22
4. Malaikat menampakkan dirinya pada Rasulullah, tidak berupa seorang laki-laki seperti keadaan yang diatas tetapi benar- benar rupa yang aslinya. Hal ini disebut dalam Al-Qur‟an Surah An-Najm ayat 13 dan 14 sebagai berikut :
َۙى ٰر ْخ ُ ا ة ً َ
ل ْزَن ُه ٰ ا َر ْد ق َ َ
ل َو ١٣
ى ٰهَخ ن ُم ْ ْ
لا ِة َر ْد ِس َدْن ِغ ١٤
21 Muhammad Amin Suma, „Ulumul Qur‟an, h. 86
22 Terjemahan Kemenag, 2019
15
“Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu ketika) di Sidratulmuntaha.” (QS. An-Najm [53]:13- 14)23
5. Wahyu itu datang kepada Nabi Muhammad Saw. bagaikan gemerincingnya suara lonceng atau suara lebah dengan amat kerasnya. Wahyu dalam martabat inilah yang paling sedikit jumlahnya tetapi paling berat dirasakan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam menerimanya.
َة َو ْر ُغ ِنْة ِاا َش ِو ْن َغ ٌكِلاَم اَنَدَب ْخ َ أ : َ
لا ق َ ف ُس ْيُي ُنْة ِللّٰا ُد ْت َغ اَن َ َ ث َّد َح َنىْة َث ِراى َحْلا َّن َ
أاى َىْن َغ ُللّٰا َي ِض َر َ ْنِن ِم ْؤ ُم ْ لا ِ ا ُ
أ َث َشِئاَع ْن َغ ِهْيِة َ أ ْن َغ ِهىْي َ
لَع ُللّٰا ى َّ
لى َص ِللّٰا َ
ل ْيى ُس َر َ ل َ
أ َس ُهْن َغ ُللّٰا َي ِض َر ٍۚاا َش ِو َم َّ
لى َس َو ى َّ
لى َص ِللّٰا ُ
ل ْيى ُس َر َ
لا ق َ ف ُي ْح َي َ ْ لا َكْيِح ْ
أَي ف ْي َ َ
ك ِللّٰا َ
ل ْي ُس َر اَي : َ لا ق َ ف َ ُه ُّدى َش َ
أ َي ُو َو ِسَر َجْلا ِةَل َصْل َص َلْثِم ْي ِنْيِح ْ
أَي اًنا َي ْح َ أ :َم َّ
ل َس َو ِهْي َ لَع ُللّٰا
َ لاى َ ق ا َم ُهْن َغ ُجْي َغ َو ْد َ
ق َو ْي ِ ن َغ ُم َصْفُيَف َّيَلَع يى ِل ُ
لىَّثَمَخَي اىًنا َي ْح َ أ َو ُللّٰا َيى ِض َر ُثى َشِئاَع ْجى َ
لا ق َ ُ ل ْيى ُ
قَي اى َم ْي ِع َ أ َ
ف ْي ِن ُمِ ل َ ك ُي ف ا َ ً
ل ُج َر ُك َ ل َم ْ
لا
23 Terjemahan Kemenag, 2019
ِد ْدىَب ْ
لا ِدْي ِدى َّشلا ِا ْيىَي ْ
لا يىِِ ُي ْحَيىْلا ِهْيَلَع ُل ِذْنَي ُهُخْي َ أ َر ْد ق َ َ
ل َو :ا َىْن َغ
َ فَخَي َ
ل ُهَن ْيِب َج َّنِإ َو ُهْن َغ ُم ِصْفَيَف ا ق َر َغ ُد َّ ً ص
) ىرخبلا هاور (
“Telah menceritakan kepada kami „Abdullāh bin Yūsuf berkata: Telah mengabarkan kepada kami Mālik dari Hisyām bin „Urwah, dari bapaknya, dari „Ā‟isyah Ibu Kaum Mu‟minīn, bahwa al-Ḥārits bin Hisyām bertanya kepada Rasūlullāh shallallāhu „alaihi wa sallam: “Wahai Rasūlullāh, bagaimana caranya wahyu turun kepada engkau?” Maka Rasūlullāh shallallāhu „alaihi wa sallam menjawab:
“Terkadang datang kepadaku seperti suara gemerincing lonceng dan cara ini yang paling berat buatku, lalu terhenti sehingga aku dapat mengerti apa yang disampaikan. Dan terkadang datang Malaikat menyerupai seorang laki-laki lalu berbicara kepadaku maka aku ikuti apa yang diucapkannya“.
„Ā‟isyah berkata: “Sungguh aku pernah melihat turunnya wahyu kepada Beliau shallallāhu „alaihi wa sallam pada suatu hari yang sangat dingin lalu terhenti, dan aku lihat dahi Beliau mengucurkan keringat.” (Riwayat Al-Bukhari)24
6. Allah berbicara kepada Nabi Muhammad Saw. secara langsung tanpa melalui malaikat Jibril sebagaimana Allah berbicara langsung kepada Nabi Musa a.s. Nabi Muhammad Saw. pernah berbicara secara langsung dengan Allah Swt.
pada malam hari di waktu beliau Mi‟raj seperti tersebut dalam
24 Abdul Aziz Abdullah bin Baz, “Fathul Baari: Penjelasan Kitab Shahih Al Bukhari”, (T.tp.: Pustaka Azzam, t.t.), h. 30-36
17 riwayat peristiwa Isra‟ Mi‟raj Nabi Muhammad Saw. yang amat populer itu.
7. Allah mencampakkan wahyu ke dalam jiwa Nabi Muhammad Saw. Secara langsung tanpa melalui malaikat Jibril.Hal dapat di pahami dari ayat 51 surat Asy-Syura‟ sebagaimana telah di terangkan ketika membahas cara-cara wahyu Allah di turunkan kepada Nabi –nabi yang lain pada umumnya.
Bentuk manapun penyampaian wahyu itu kepada para nabi umumnya dan Nabi Muhammad Saw. pada khususnya, yang jelas penyampaian wahyu itu pada satu sisi bersifat rahasia dalam arti hanya Allah Swt. dan Rasul yang mengetahui hakikatnya, sementara pada sisi yang lain, kebenaran wahyu itu bisa diuji dan selalu teruji kebenarannya.25
F. Tanggapan Terhadap Pandangan Yang Kontra Terhadap Wahyu Kelahiran Nabi Muhammad Saw. dan pengangkatan beliau sebagai Nabi terakhir merupakan titik tolak sejarah lahirnya agama Islam. beliau menyebarkan Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam.
Selama menjalankan risalah kenabian beliau mengalami banyak tantangan, rintangan dan ujian. Terutama dari penduduk Mekkah tempat beliau dilahirkan. Ada beberapa hal yang menyebabkan penduduk Mekkah melakukan perlawanan dan memusuhi Nabi Muhammad Saw. Untuk diketahui, sebelum diangkat menjadi Rasul, orang-orang Mekkah menjuluki Muhammad sebagai Al-Amin karena kecerdasan, kejujuran, sifat amanah dan kesantunan beliau. Pada usia 40 tahun beliau menerima wahyu dari Allah di Gua Hira, puncak Jabal Nur. Sejak saat itu, selama 23 tahun Nabi Muhammad Saw.
25 Muhammad Amin Suma, „Ulumul Qur‟an, h. 89
menerima wahyu dengan perantaraan Malaikat Jibril. Selama itu pula beliau bertugas menjadi Nabi dan Rasul untuk segenap manusia.
Wahyu yang beliau terima itulah yang sekarang terkumpul dalam Kitab Suci Al-Qur'an. Kisah beliau menebarkan dakwah Islamiyah selalu menarik untuk dikaji karena di dalamya sarat hikmah dan pelajaran berharga. Selama 13 tahun menyebarkan agama Islam di Mekkah, Nabi Muhammad Saw. mendapat perlawanan keras dari penduduk Mekkah. Ada lima hal yang menyebabkan penduduk Mekkah melakukan perlawanan kepada Nabi Muhammad Saw. di antaranya:
1. Mereka tidak bersedia mengganti atau mengubah agama yang mereka warisi dari bapak-bapak mereka.
2. Islam menyatakan bahwa tidak ada perbedaan di sisi Allah antara hamba dan majikan, antara laki-laki dan perempuan.
3. Penduduk Mekkah terdiri dari beberapa suku Quraisy yang satu sama lain saling bermegahan. Mereka tidak dapat menerima pimpinan mutlak dari salah satu anggota suku lain.
Kalau mereka menerima ajaran Islam dari Nabi Muhammad, berarti mereka menerima pimpinan dari keluarga Abdul Muthalib suku Bani Hasyim, dan ini mereka tidak mau.
4. Penduduk Mekkah sudah biasa memperjualbelikan berhala- berhala Al-'Uzza dan Manna yang disembah orang di sekeliling Ka'bah. Bagi orang-orang Arab di luar Mekkah, berhala buatan orang Mekkah ini menjadi langganan tetap tempat membeli dan mencari. Menerima agama Islam berarti menghilangkan sumber penghasilan yang tetap dari penduduk Mekkah.
19 5. Islam mengajarkan adanya Hari Kiamat dan meyakini hari kebangkitan, di mana semua amal perbuatan manusia akan diberi ganjaran. Orang-orang yang berbuat kejahatan dan menganiaya manusia akan disiksa dalam neraka. Hal ini menakutkan orang-orang Mekkah, terutama para pimpinannya yang telah biasa berbuat salah, memeras, memperkosa keadilan, dan sebagainya. Oleh karena itu, lebih baik mereka tidak perlu percaya saja agar mereka tetap merasa bebas berbuat kejahatan.
Demikian lima hal yang menyebabkan penduduk Mekkah menolak ajaran Nabi Muhammad Saw. ketika menjalankan tugas kenabian selama 13 tahun di Mekkah. Setelah berjuang selama 13 tahun di Mekkah, Nabi Muhammad kemudian hijrah ke Kota Madinah. Meskipun demikian, ada beberapa penduduk Mekkah yang menjadi pengikut beliau dan ikut berhijrah ke Madinah. Mereka itulah yang menjadi sahabat-sahabat terbaik Nabi Muhammad. Di antaranya, Abu Bakar Shiddik, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Abdurrahman bin Auf. Kemudian Abu Salamah bin Abdul As'ad dan istrinya Ummu Salamah, Amir bin Abi Rabi'ah bersama istrinya Laila. Disusul Abdullah bin Jahsyin, kemudian secara bergelombang disusul oleh para sahabat lainnya.26
26 Rusman H Siregar, “5 Penyebab Penduduk Mekkah Memusuhi Nabi Muhammad SAW”, dalam Sindonews.com, 28 September 2022.
https://kalam.sindonews.com/read/898131/70/5-penyebab-penduduk-mekkah- memusuhi-nabi-muhammad-saw-1664377765 diakses pada tanggal 15 September 2023 pukul 20:23 WIB
20 BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Wahyu memiliki dua makna, yaitu berdasarkan semantik dan terminologis. Secara semantik, wahyu dapat berarti isyarat cepat, surat, tulisan, atau komunikasi yang disampaikan kepada orang lain. Secara terminologis, wahyu adalah pengetahuan yang diyakini berasal dari Allah dan dapat diterima melalui berbagai cara, seperti ilham, perantaraan suara atau tanpa suara, atau isyarat.
2. Dalam Islam, Allah menggunakan tiga metode utama untuk menyampaikan wahyu kepada para rasul-Nya: melalui mimpi yang benar, dengan suara dari balik tabir, dan melalui malaikat Jibril. Semua metode ini bertujuan memberikan panduan dan ajaran kepada manusia, dan proses ini dianggap sakral dalam agama Islam.
3. Pada peristiwa penting dalam sejarah Islam, Nabi Muhammad menerima wahyu pertamanya dari malaikat Jibril di gua Hira ketika berusia 40 tahun. Meskipun awalnya merasa ragu dan takut, Nabi kemudian menyadari keilahian wahyu tersebut. Ini menjadi awal misi kenabiannya, yang memainkan peran kunci dalam perkembangan agama Islam.
4. Wahyu diberikan oleh Allah kepada para Nabi dan Rasul secara khusus, sementara ilham dan ta'lim adalah pengetahuan yang Allah berikan kepada semua manusia. Ilham adalah pengetahuan yang Allah tuangkan ke dalam jiwa tanpa
21 memerlukan usaha manusia, sementara ta'lim (ilmu) harus diperoleh melalui usaha manusia. Ilham dan ta'lim mencerminkan dua jenis insting dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan untuk berbuat baik (Taqwa) dan kecenderungan untuk berbuat buruk (Fujur), yang dapat diaktualisasikan tergantung pada kemauan manusia.
5. Nabi Muhammad Saw. mengalami berbagai macam cara dan keadaan saat menerima wahyu. Cara-cara ini termasuk melalui mimpi yang benar, Jibril menghembuskan wahyu ke dalam jiwa Nabi, Jibril menjelma sebagai manusia, Jibril menampakkan dirinya dalam bentuk manusia, wahyu datang seperti gemerincingnya suara lonceng atau suara lebah, Allah berbicara langsung kepada Nabi Muhammad, dan Allah mencampakkan wahyu langsung ke dalam jiwa Nabi Muhammad. Semua cara ini merupakan bentuk-bentuk penyampaian wahyu yang berbeda-beda, tetapi semuanya memiliki ciri bahwa wahyu tersebut berasal dari Allah dan merupakan panduan bagi manusia.
6. Nabi Muhammad Saw. sebagai Nabi terakhir adalah awal dari sejarah Islam. Meskipun beliau awalnya dikenal sebagai Al- Amin, penduduk Mekkah menentangnya karena beberapa alasan, termasuk ketidaksetujuan untuk mengganti agama, konsep kesetaraan dalam Islam, persaingan suku Quraisy, perdagangan berhala, dan ketakutan terhadap Hari Kiamat.
Meskipun menghadapi perlawanan keras di Mekkah, Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Madinah, di mana beliau mendapat dukungan dari para sahabat setia. Ini adalah awal dari perkembangan agama Islam yang signifikan.
B. Saran
Kita dapat merenungkan tentang bagaimana kelahiran dan pengangkatan Nabi Muhammad Saw. sebagai Nabi terakhir mengubah sejarah dan membawa cahaya Islam ke dunia. Meskipun dihadapkan pada banyak perlawanan dan tantangan, Beliau terus menerus berjuang untuk menyebarkan pesan damai, kesetaraan, dan keadilan yang diperintahkan oleh Allah Swt. Sejarah awal Islam mengajarkan kita tentang ketahanan, keberanian, dan komitmen terhadap kebenaran, bahkan dalam menghadapi kesulitan terbesar. Ini adalah pelajaran berharga yang bisa kita ambil dalam kehidupan sehari-hari kita.
23
DAFTAR PUSTAKA
Achfandhy, M. I. (2020). Contextualizing The Revelation As a Communication Process. Jurnal Al-Bayan: Media Kajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah, 324-336.
Albani, M. N. (2004). Shahih Al Jami' Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu (Al Fath Al Kabir). Jakarta Selatan: Najla Press.
Arief, S. (2022). Ulumul Qur'an Untuk Pemula. Jakarta Selatan: Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Institut PTIQ Jakarta.
Bestari, M. (2020). Al-Qur'an Sebagai Wahyu Allah, Muatan Beserta Fungsinya. Dirasat, 120-123.
Hermawan, A. (2011). 'Ulumul Qur'an, Ilmu Untuk Memahami Wahyu. Bandung: Remaja Rosdakarya Offset.
M. Quraish Shihab, A. S. (2008). Sejarah dan 'Ulum al- Qur'an. Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus.
Siregar, R. H. (2022, September 28). 5 Penyebab Penduduk Mekkah Memusuhi Nabi Muhammad SAW.
Suma, M. A. (2019). Ulumul Qur'an. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
24 LAMPIRAN
Lampiran Hasil Diskusi :
1. Nama : Az-Zahra Pujsar Malizha
Prodi : Hukum Ekonomi Syariah (HES)
Pertanyaan : Wahyu adalah khusus kepada Rasul dan kepada Nabi Muhammad Saw. Adakah bentuk wahyu yang lain? Apakah wahyu itu spesifik firman allah?
Jawaban : Wahyu dalam Islam diberikan secara khusus kepada para nabi dan rasul sebagai bentuk komunikasi langsung dari Allah. Wahyu ini dapat berupa firman Allah, petunjuk, hukum, atau pesan-pesan khusus yang ditujukan kepada mereka untuk disampaikan kepada umat manusia. Meskipun bentuk wahyu yang paling umum adalah firman Allah, ada juga bentuk- bentuk lainnya, seperti petunjuk dalam mimpi atau pengalaman spiritual yang diberikan kepada para nabi. Namun, penting untuk dicatat bahwa wahyu yang diberikan kepada nabi dan rasul memiliki otoritas tertinggi dalam agama Islam dan dianggap sebagai sumber utama ajaran agama. Tidak ada bentuk wahyu yang spesifik selain wahyu yang diberikan kepada nabi dan rasul sebagai perantara antara Allah dan manusia.
25 2. Nama : Jiah Ramdani
Prodi : Hukum Ekonomi Syariah (HES)
Pertanyaan : Apakah akal kita bisa kolaborasi wahyu dengan Al-Qur‟an. Kalau ada apa contohnya?
Jawaban : Dalam Islam, akal dan wahyu (Al-Qur'an dan Hadis) seharusnya bekerja secara bersinergi.
Contoh konkret dari kolaborasi antara akal dan wahyu dalam Islam adalah dalam masalah ijtihad, yaitu proses pemikiran dan penalaran yang dilakukan oleh cendekiawan agama (mujtahid) untuk merumuskan hukum atau pandangan agama dalam situasi-situasi yang tidak secara langsung diatur oleh Al-Qur'an atau Hadis. Ini memungkinkan Islam untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman dan menerapkan prinsip-prinsip agama dalam konteks yang berbeda. Namun, penting untuk diingat bahwa ijtihad harus dilakukan dengan pemahaman yang mendalam terhadap Al-Qur'an dan Hadis serta memperhatikan prinsip-prinsip dasar agama. Ijtihad yang dilakukan oleh ulama berkompeten adalah upaya untuk menjaga kesesuaian dengan ajaran Islam dan bukan untuk menggantikannya.
Tambahan : Akal dan wahyu sulit untuk dibedakan, karena keduanya dianggap berasal dari Allah Swt.
Wahyu, yang diberikan kepada Nabi dan Rasul, dianggap berbeda dengan yang diberikan kepada
makhluk lain. Sebagai contoh, binatang diberikan wahyu berupa insting, seperti saat induk kucing melahirkan yang memiliki naluri untuk membersihkan dan merawat anaknya.
Meskipun wahyu dan ilham dianggap datang dari Allah Swt., tidak hanya Nabi dan Rasul yang menerima wahyu. Al-Qur'an, di sisi lain, dianggap sebagai wahyu khusus yang diberikan hanya kepada Nabi Muhammad Saw.
3. Nama : Mawar Rosdiana
Prodi : Manajemen Zakat dan Wakaf (MZW)
Pertanyaan : Apakah semua perkataan nabi adalah wahyu dari Allah? Jika iya jelaskan?
Jawaban : Tidak semua perkataan atau tindakan Nabi Muhammad SAW dianggap sebagai wahyu dari Allah. Dalam Islam, ada dua jenis wahyu yang dibedakan. Wahyu yang Diturunkan (Wahyu Matlu): Ini adalah wahyu yang secara khusus diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW dalam bentuk Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah wahyu yang diucapkan oleh Allah SWT sendiri, dan seluruh isinya adalah firman Allah. Ini adalah wahyu tertinggi dan merupakan pedoman utama dalam agama Islam. Wahyu yang Tidak Diturunkan (Wahyu Ghair Matlu): Ini adalah wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW dalam bentuk berita ghaib, petunjuk, atau ilham dari Allah, tetapi tidak termasuk dalam Al-
27 Qur'an. Wahyu semacam ini termasuk dalam tindakan atau perkataan Nabi yang tidak bersifat ibadah atau hukum syariah, tetapi lebih bersifat pedoman atau petunjuk dalam kehidupan sehari- hari, seperti nasihat kepada para sahabat, pemberian solusi dalam masalah-masalah tertentu, atau pemberian wawasan tentang hal-hal yang tidak dijelaskan dalam Al-Qur'an.