• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dengan demikian, makan usaha PKL merupakan bagiian dari sektor informal (Susilo, 2011)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Dengan demikian, makan usaha PKL merupakan bagiian dari sektor informal (Susilo, 2011)"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

Evers dan Korf (2002) menjelaskan bahwa pedagang kaki lima merupakan bagian dari sektor informal kota, yang mengembangkan kegiatan produksi barang dan jasa di luar kendali pemerintah. Hariningsih (2002) menjelaskan bahwa PKL adalah usaha yang dilakukan dengan modal relatif kecil yang berusaha memproduksi dan/atau menjual barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan kelompok konsumen tertentu dalam masyarakat. dianggap strategis. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 125 Tahun 2012 tentang Koordinasi Pengaturan dan Pemberdayaan PKL menjelaskan bahwa PKL adalah pelaku usaha yang melakukan kegiatan perdagangan dengan menggunakan sarana usaha yang bergerak atau tidak bergerak.

Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 04 Tahun 2011 menjelaskan bahwa PKL adalah pedagang yang melakukan kegiatan komersial di sektor informal dengan menggunakan fasilitas umum baik di tempat terbuka dan/atau tertutup dengan menggunakan peralatan bergerak dan tidak bergerak. Tipologi lain: PKL yang berdagang hanya pada saat ada pasar murah/pasar rakyat, berjualan di masjid pada hari Jumat, halaman kantor.

Dampak Keberadaan PKL

Kegiatan usaha yang relatif sederhana dan tidak mempunyai sistem kerjasama yang rumit serta pembagian kerja yang fleksibel. Skala usahanya relatif kecil, modal perusahaan, modal kerja, dan pendapatan umumnya relatif kecil.

Dampak Positif PKL

Memberikan pelayanan yang melakukan kegiatan pada lokasi usaha PKL sehingga memperoleh pelayanan yang mudah dan cepat dalam mendapatkan barang yang dibutuhkannya. Barang-barang yang dijual oleh pedagang kaki lima relatif terjangkau oleh pelanggan yang umumnya masyarakat dengan daya beli rendah.

Dampak Negatif PKL

Pola Aktifitas Pedagang Kaki Lima

  • Lokasi dan Waktu Berdagang PKL
  • Jenis Dagangan PKL
  • Sarana Fisik PKL
  • Pola Penyebaran PKL
  • Pola Pelayanan PKL

Menurut McGee dan Yeung (1977:76), pola spasial aktivitas PKL sangat dipengaruhi oleh aktivitas sektor formal dalam menarik konsumen. Gee dan Yeung (1977:76) menunjukkan dari penelitian di kota-kota Asia Tenggara bahwa pola aktivitas pedagang kaki lima menyesuaikan dengan ritme karakteristik kehidupan sehari-hari masyarakat. Waktu berdagang pedagang kaki lima dapat dibagi menjadi dua periode waktu dalam satu hari, yaitu pagi/siang dan sore/malam (Mc. Gee dan Yeung, 1977:38).

Menurut Mc.Gee dan Yeung, jenis barang yang dijual pedagang kaki lima sangat dipengaruhi oleh aktivitas di sekitar tempat pedagang tersebut melakukan aktivitasnya. Bakkie/keranjang, fasilitas berbentuk ini digunakan oleh pedagang asongan keliling atau pedagang semi stasioner. Kios, pedagang yang menggunakan fasilitas bentuk ini dikategorikan sebagai pedagang tetap, karena secara fisik jenis ini tidak dapat berpindah tempat.

Mc.Gee dan Yeung yang dikutip oleh Susilo (2011) menyatakan bahwa secara umum bentuk fasilitas komersial pedagang kaki lima di kota-kota Asia Tenggara sangat sederhana dan biasanya mudah untuk dipindahkan dan diangkut dari satu tempat ke tempat lain. Patokan luas ruang bagi kegiatan pedagang kaki lima diperoleh dari jenis barang dagangan, bentuk sarana perdagangan, ruang gerak pedagang, dan ruang gerak konsumen. Menurut Mc Gee dan Yeung (1977), faktor aglomerasi dan aksesibilitas akan dijadikan indikator faktor lokasi dalam penelitian ini, meskipun faktor aglomerasi dan aksesibilitas merupakan bagian dari pola aktivitas PKL.

Menurut Mc Gee dan Yeung (1977), pola distribusi dan pelayanan Pedagang Kaki Lima (PKL) dalam penelitian ini tidak dilibatkan dalam proses analisis preferensi lokasi usaha.

Kebijakan Penataan dan Pembinaan PKL

Unit PKL Residen (statis), ciri utama dari unit ini adalah PKL yang berjualan bertempat tinggal pada suatu lokasi tertentu dengan sarana fisik perdagangannya berupa kios atau lapak/roda/gerobak.

Aspek ekonomi

Alisjahbana (2003) menjelaskan bahwa kebijakan terhadap sektor informal harus ditetapkan dalam proporsi yang wajar sehingga memberikan ruang bagi sektor informal seolah-olah merupakan suatu entitas ekonomi yang lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya. Pembiayaan, yaitu fasilitasi dan perluasan sumber pembiayaan agar memiliki akses terhadap pinjaman bank dan lembaga keuangan selain bank; Sarana dan Prasarana, yaitu penyediaan fasilitas umum yang dapat mendorong dan mengembangkan pertumbuhan usaha mikro dan kecil; memberikan keringanan biaya infrastruktur tertentu untuk usaha mikro dan kecil.

informasi bisnis, yaitu menciptakan dan memfasilitasi penggunaan bank data dan jaringan informasi bisnis; menyebarkan informasi tentang pasar, sumber pembiayaan, bahan baku, jaminan, teknologi dan kualitas; Kemitraan, yaitu menciptakan kemitraan antara usaha mikro, kecil, menengah, dan besar; mendorong hubungan dan kerja sama yang saling menguntungkan serta persaingan usaha yang sehat. Perizinan Berusaha yaitu penyederhanaan prosedur dan jenis perizinan dengan sistem pelayanan terpadu satu langkah dan keringanan biaya izin bagi usaha mikro.

Peluang berusaha, yaitu menentukan peruntukan tempat usaha yang meliputi penyediaan lokasi di pasar, ruang pertokoan, lokasi pusat industri, lokasi wajar bagi PKL dan lokasi lainnya; menentukan alokasi waktu. Dukungan kelembagaan, peningkatan teknik produksi dan pengolahan serta kemampuan manajemen; menyediakan konsultan profesional di bidang pemasaran; pembentukan dan pengembangan lembaga pendidikan dan pelatihan untuk menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, penyuluhan motivasi dan kreativitas usaha, serta penciptaan wirausaha baru. Selain model pembinaan teknis sebagaimana diuraikan di atas, Alisjahbana (2003) menyatakan perlunya menciptakan model pembinaan baru bagi sektor informal yang berwawasan substantif melalui pembinaan non-teknis dimana model pengembangan dan pembinaan lebih menekankan pada pembukaan akses terhadap informasi. pengawasan ekonomi pilihan produk yang memiliki pemasaran yang baik.

Berdasarkan uraian tersebut maka pemberdayaan pedagang kaki lima hendaknya dilaksanakan secara menyeluruh, optimal dan berkelanjutan dengan mengedepankan iklim usaha yang kondusif untuk memberikan peluang berusaha, mendukung perlindungan dan mengembangkan usaha seluas-luasnya untuk meningkatkan potensinya dalam meningkatkan pendapatan. menciptakan kota tenaga kerja bebas dan mengurangi kemiskinan.

Aspek sosial

Saran mengenai jam kerja tempat usaha dan fasilitas usaha yang menjamin kebersihan dan keamanan mendukung program Pemerintah Kota. Penyuluhan kesadaran hukum sebagai pembinaan non fisik, agar PKL dapat menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan usaha dengan prinsip tidak ada satupun yang merasa dirugikan. Penyuluhan kesadaran hukum sebagai pembinaan non fisik agar PKL bertanggung jawab menjaga ketertiban, kebersihan, keindahan, kesehatan, lingkungan dan keamanan di sekitar tempat usaha.

Penataan tempat usaha para pedagang kaki lima yang menjamin ketertiban, keamanan dan keindahan kota, serta mendukung program pemerintah untuk menjadikan kota sebagai kota budaya, pariwisata dan olahraga. Alisjahbana (2003) menjelaskan bahwa kebijakan yang memusuhi sektor informal akan berdampak sebaliknya terhadap pemerintah kota, baik secara sosial, ekonomi, dan politik. Dalam menangani PKL penguatan kelembagaan sangat penting, secara umum ada dua jenis kelembagaan dalam menangani PKL yaitu lembaga pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Keterlibatan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dapat berfungsi sebagai (1) mengumpulkan dan menyebarkan informasi serta menghindari permasalahan; Perkembangan PKL menjadi penting, yang juga melibatkan peran lembaga informasi dan organisasi pedagang keliling di sektor informal, untuk mengorganisir diri menjadi sebuah asosiasi besar. Poin ini penting bagi sektor informal, organisasi ini akan berguna untuk menjalin hubungan antar mereka, membuka jalan bekerja sama untuk memajukan dunia usaha dan kewirausahaan. Sementara itu, organisasi ini akan memudahkan pemerintah kota dalam mendata keberadaan sektor informal. Aspirasi sektor informal dapat disalurkan secara lebih prosedural sehingga akan menghasilkan proses politik yang baik dan mencegah keresahan sosial lebih lanjut.

Konsentrasi pembangunan ekonomi di perkotaan dan tingginya angka kemiskinan di perdesaan mempengaruhi besarnya minat migrasi penduduk pedesaan ke perkotaan dengan harapan mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik, sehingga diharapkan kesejahteraan bagi penduduk migran.

Aspek hukum

Faktor yang mempengaruhi Pemilihan Lokasi PKL

Dalam penelitian ini faktor lokasi digunakan sebagai parameter dalam menilai preferensi PKL terhadap lokasi penjualannya berdasarkan teori dari berbagai ahli. Pedagang kaki lima biasanya melakukan aktivitasnya di tempat-tempat yang paling menguntungkan, seperti pasar, tempat perbelanjaan, terminal, perkantoran, dan lain sebagainya. Faktor ini terkait dengan aksesibilitas, dimana pedagang kaki lima biasanya mengunjungi lokasi yang dilayani oleh angkutan umum.

PKL cenderung menggumpal karena semakin lengkap kegiatan yang tersedia maka semakin tinggi pula pelayanannya. Berada pada kawasan tertentu yang menjadi pusat kegiatan ekonomi perkotaan dan pusat non-ekonomi perkotaan, namun sering dikunjungi dalam jumlah besar. Gee dan Yeung menyatakan bahwa PKL pada umumnya bertempat berkelompok di kawasan dengan intensitas aktivitas tinggi, seperti di persimpangan jalur transportasi atau lokasi kegiatan hiburan, di trotoar lebar, dan di tempat yang sering dikunjungi orang. dalam jumlah besar di dekat pasar umum, terminal, area pasar komersial dan ruang terbuka.

Selalu dekat dengan lokasi kegiatan formal dan pusat kota, dimana lokasi kegiatan formal dan pusat kota menjadi dua lokasi strategis yang banyak menarik konsumen. Dekat dengan tempat tinggal PKL, karena PKL cenderung meminimalkan biaya transportasi. Karena banyaknya penjual serupa di suatu lokasi, maka pedagang kaki lima lebih memilih lokasi usaha yang berkelompok dengan penjual serupa.

Berdasarkan Widodo (2000) dalam penelitiannya disebutkan bahwa faktor internal atau karakteristik PKL mempengaruhi faktor pemilihan lokasi usaha atau faktor eksternal.

Penelitian Terdahulu

Penelitian Susil (2011) mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi PKL menempati lokasi pinggir jalan sebagai lokasi usaha dengan membandingkan karakteristik PKL yang menempati PKL dan PKL yang menempati kios di pasar dengan jenis barang dagangan yang sama. Faktor terpenting yang mempengaruhi pedagang kaki lima lebih memilih berjualan di pinggir jalan/trotoar di Jl. Faktor lain yang mempunyai pengaruh signifikan adalah tingginya perputaran modal, cepatnya perputaran modal, umur pedagang dan lokasi yang dianggap strategis.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan lokasi usaha PKL di Pantai Penimbangan adalah faktor aksesibilitas, jarak pandang, lalu lintas, parkir, perluasan, lingkungan, persaingan dan faktor peraturan pemerintah. Faktor yang paling dominan mempengaruhi pemilihan lokasi usaha PKL di Pantai Penimbangan adalah faktor aksesibilitas. David Al Kahfi (2018) dalam penelitiannya mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pedagang kaki lima yang berjualan di trotoar Jalan Tuanku Tambusai Kota Pekanbaru.

Faktor yang menyebabkan PKL berjualan di trotoar Jalan Tuanku Tambusai adalah keadaan perekonomian. Ciri-ciri yang mempengaruhi perbedaan kecenderungan terhadap faktor lokasi adalah umur, asal daerah, pekerjaan asli, jenis usaha, jumlah modal, pendapatan, sumber modal, jangka waktu penjualan, waktu berdagang dan sarana fisik penjualan. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemilihan Lokasi Usaha PKL Di Pantai Panimbangan Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LOKASI PKL. mudah diakses dengan berjalan kaki. mudah diakses dengan mobil. mudah diakses dengan transportasi umum.

Tabel 2.3  Penelitian Terdahulu
Tabel 2.3 Penelitian Terdahulu

Referensi

Dokumen terkait