• Tidak ada hasil yang ditemukan

makna dakwah dalam tradisi sangkrep pada prosesi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "makna dakwah dalam tradisi sangkrep pada prosesi"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

Pertanyaan pertama adalah bagaimana pelaksanaan tradisi sangkrep di Dusun Bendo, Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Simbol apa saja yang terdapat dalam tradisi Sangkrep di Dusun Bendo Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka permasalahan pokok penelitian ini adalah makna tradisi di Dusun Bendo Desa Karangpatihan Kabupaten Ponorogo. Apa makna yang terkandung dalam simbol-simbol yang terdapat dalam tradisi Sangkrep di Dusun Bendo Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo.

Telaah Pustaka

Dalam penelitian ini penulis ingin memfokuskan pada proses pelaksanaan tradisi ini dan juga makna yang terkandung dalam tradisi Sankrep di Dusun Bendo, Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo. Sumber data dalam penelitian ini adalah Sesepuh Dusun dan Masyarakat Dusun Bendo Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo.

KAJIAN TEORI

Konsep Tradisi 1) Pengertian tradisi

Aturan dan norma yang ada di masyarakat pasti dipengaruhi oleh tradisi yang ada dan berkembang di masyarakat. Jika dikaitkan dengan tradisi, maka sebagai seorang muslim hendaknya mengikuti tradisi yang baik dan meninggalkan tradisi yang bertentangan dengan agama Islam. Selain itu, ketika masyarakat menganggap aspek-aspek tertentu dalam kehidupan sosial dan budayanya layak untuk diwariskan kepada generasi mendatang, maka dapat dipastikan aspek-aspek tersebut akan dihadirkan, diwariskan atau bahkan dimanipulasi sebagai tradisi yang diciptakan.36.

Saparan merupakan ritual menolak balak, sebuah tradisi yang sudah menjadi kebiasaan rutin masyarakat dan sulit untuk diberantas. Khususnya pada masyarakat Jawa, suatu tradisi dianggap penting karena menurut mereka merupakan warisan nenek moyang. Muludan merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Muslim Jawa untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ritus tedak sinten merupakan ritus peralihan yang umum dilakukan tidak hanya di kalangan masyarakat Jawa saja. Jika anak lahir pada hari Selasa Kliwon, maka upacara tedak sinten juga dilaksanakan pada hari Selasa Kliwon. Tujuan dari upacara Tedak Sinten adalah agar ketika anak sudah dewasa, ia akan menjadi pribadi yang kuat dan mampu berdiri sendiri.

Makna Simbolis

Kebudayaan sendiri terdiri dari gagasan, simbol, dan nilai sebagai hasil tindakan manusia, sehingga ada pepatah yang mengatakan, “Kebudayaan manusia erat kaitannya dengan simbol karena manusia berpikir, merasakan, dan berperilaku dengan menggunakan ekspresi simbolik.” 61. Setiap simbol selalu berpotensi polisemi dan hanya mempunyai makna jika dibandingkan dengan simbol-simbol lain secara keseluruhan.Simbol-simbol agama, menurut Jung, merupakan jiwa-jiwa alamiah yang hidup organik dan berkembang selama berabad-abad.

Ia menunjukkan bahwa bahkan saat ini kita menemukan simbol-simbol keagamaan otentik yang tumbuh seperti bunga dari alam bawah sadar. Simbol-simbol itu terungkap baik dalam bentuk maupun isinya, seolah-olah jiwa bawah sadar yang sama muncul pada awal mula agama-agama besar dunia. Universalitas dan keefektifan simbol-simbol agama disebabkan oleh ekspresi tepat dari ketidaksadaran, yang menjadi alasannya.

Melalui simbol-simbol tersebut, ketidaksadaran kolektif melepaskan kesadaran yang terluka akibat perjuangan hidup64. Hal ini disebabkan karena simbol-simbol sakral bersumber dari etos dan pandangan hidup yang merupakan dua unsur terpenting bagi eksistensi manusia, dan juga karena simbol-simbol lain digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari.67 Geertz dalam Bustanuddin Agus, menyatakan bahwa simbol adalah sesuatu yang konkrit dari gagasan, sikap, keputusan, keinginan, atau keyakinan masyarakat yang dapat dirasakan, yang merupakan rumusan pandangan atau abstraksi pengalaman. Bahwa masyarakat tersebut menganggap tumbuhan atau hewan sebagai sesuatu yang sakral sebagai simbol kesatuan sukunya.

Tradisi Masyarakat Jawa

Sebab, nilai budaya merupakan konsep tentang apa yang bersemayam dalam pikiran. Masyarakat Jawa menganggap hakikat kehidupan sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan konsep agama yang bernuansa mistis. Hakikat bekerja bagi masyarakat Jawa adalah masyarakat harus terus bekerja untuk mewujudkan apa yang diperjuangkannya.

Sebab apapun yang dicita-citakan dan harus dibarengi dengan usaha yang sungguh-sungguh, berarti diperlukan biaya dan biaya. Karena menurut orang Jawa, tidak boleh terburu-buru dalam melakukan sesuatu, yang penting wujudkan. Pandangan hidup orang Jawa menuntut masyarakatnya untuk mengupayakan keselamatan dunia dan isinya agar tetap terjaga dengan baik dan harmonis.

Seperti yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, Suku Jawa sendiri terbagi menjadi wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta, dimana terdapat banyak tradisi berbeda dalam masyarakat Jawa. Bentuk tradisi yang ada pada masyarakat jawa sangat beragam dan bermacam-macam bentuknya, mulai dari tradisi perkawinan, tradisi orang hamil, tradisi penyelamatan baik dari kematian maupun penyelamatan bumi.

Tradisi Sangkrep

Di desa saya sendiri hal ini dilakukan setelah membaca Al-Quran, bukan dengan cara Jawa. Dengan menggunakan simbol-simbol berupa benda yang diyakini mampu menembus, sebagai perantara menuju Tuhan. Mau percaya atau tidak hal itu terjadi, dan jika tidak biasanya akan menjadi bahan pembicaraan orang lain, hal buruk pun bisa saja terjadi.

Bagi masyarakat Jawa, simbol merupakan media yang dapat mengantarkan manusia menuju tujuan spiritualnya. Oleh karena itu, keyakinan bahwa keberadaan simbol itu sakral sangat diperlukan, bahkan diperlukan jika manusia menginginkan kehidupan sejati (urip sejatining), yang dapat mempersatukan diri, alam, dan Tuhan. Makna simbolik ritual malam Mangbulan Sangkrep dan Mbubak sebelum pernikahan di desa Karangpatihan Ponorogo adalah ritual yang dilakukan masyarakat desa Karangpatihan memohon doa kepada Tuhan agar keinginannya dapat terkabul dengan lancar.

Banyak hikmah dan nilai yang bisa diambil dari ritual ini, mulai dari keyakinan, ketidakpercayaan hingga hal-hal mistis lainnya. Dan taburkan nasi yang diberi pewarna kunyit, lalu sebarkan nasi tersebut ke seluruh penjuru rumah, dimulai dari samping kiri rumah dan mengelilinginya. Dipercaya bahwa ketika Nabi Muhammad dikepung di rumahnya, ketika Nabi Muhammad dikepung di rumahnya, Nabi mengambil abunya, lalu membacakan doa dan menyebarkannya ke sekeliling rumah dan disanalah musuh yang mendekat, menjadi mengantuk dan menjatuhkan. tertidur dan nabi dapat melarikan diri tanpa diketahui musuh.

PAPARAN DATA

99,98% penduduk di desa Karangpatihan beragama Islam, sehingga tidak terdapat bangunan keagamaan lain selain masjid dan musala. Hal ini perlu dikembangkan secara lebih luas agar memberikan dampak ekonomi seperti peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya Desa Karangpatihan. Keharmonisan masyarakat desa Karangpatihan menjadi modal penting dalam membangun budaya masyarakat yang dinamis khususnya di bidang seni.

77 Alip Sugianto, “Kajian Potensi Desa Wisata Untuk Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Ponorogo”, Equilibrium, Vol. Pak Sipur selaku pembawa acara pada saat pertunjukan tradisi Sangkrep kepada masyarakat di Dukuh Bnedo desa Karangpatihan mengatakan bahwa: 82. Masyarakat desa Karangpatihan percaya bahwa seorang ibu dan anaknya akan selalu sehat dan bahagia hingga mereka melahirkan. .

Dalam upacara kematian, masyarakat desa Karangpatihan masih menganut upacara atau slametan bagi keluarga orang yang meninggal. Hal ini berdasarkan penuturan Mbah Nyaman, salah seorang sesepuh di Dusun Bendo, Desa Karangpatihan sebagai berikut: 83. Tradisi Sangkrep merupakan tradisi yang ada di Dusun Bendo, Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo.

ح اَذِا دِسِاَحدَس

Tuntunlah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat.

ساَّنَلاَو

نْيِذَّلا

Dan orang-orang yang beriman kepada kitab Al-Quran yang diturunkan kepadamu (Muhammad SAW) dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya serta yakin akan adanya kehidupan akhirat.

ريِدَق ءَْيَشَ

Jika kamu mengungkapkan atau menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu, niscaya Allah akan tetap memperhitungkanmu. Semua orang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. Kami tidak membeda-bedakan rasul yang satu dengan rasul yang lain.’ Mereka menjawab, ‘Kami mendengar dan menaatinya.

Dia mendapat pahala atas apa yang dia lakukan dan hukuman atas apa yang dia lakukan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Artinya: “Dan rahmat Allah dan keberkatan-Nya (kami harap) melimpah ke atas kamu sekalian, wahai Ahlulbayt.

Maksudnya: "Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan segala kotoran dari kamu, wahai Ahlulbayt, dan mensucikan kamu semampunya,"105 (ayat 33 Surat Al-Ahzab). Artinya: “Ya Allah, tambahkanlah rahmat dan kesejahteraan kepada penghulu dan penghulu kami, Nabi Muhammad SAW, dan keluarganya, sebanyak ilmu-Mu dan sebanyak tinta kalimat-kalimat-Mu pada masa mengingat orang-orang yang berzikir. dan pada masa ketidakpedulian orang-orang yang tidak mereka ingatkan kepadamu." 107. Maksudnya: "Aku memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa." (3 kali). Allah) yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Hidup dan Yang Bangkit.

كِنا

Makna keimanan lainnya dalam tradisi Sangkrep adalah ungkapan rasa syukur karena upacara pernikahan dapat berjalan dengan lancar dari awal hingga akhir acara. “Sangkrep merupakan sebuah tradisi yang jelas-jelas bertujuan untuk memohon kepada Allah SWT untuk mendoakan terkabulnya keinginan seseorang, namun didalamnya banyak hal yang dimulai dari mempererat silaturahmi dan menumbuhkan sikap toleransi dan juga bahu membahu mempersiapkan apa yang dibutuhkan. dalam tradisi Sangkrep.” Dari pernyataan diatas peneliti mengambil kesimpulan bahwa tradisi Sangkrep merupakan warisan budaya yang wajib dilestarikan dibawah warisan budaya yang ada di Selo.

Salah satu bentuk tampilan moral dalam melestarikan tradisi Sangkrep adalah dengan mengkaji dan menumbuhkan sikap bangga terhadap tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas alam yang ada di kawasan Dusun Bendo. Dari pernyataan diatas peneliti menyimpulkan bahwa tradisi Sangkrep merupakan tradisi yang telah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat di Dusun Bendo Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo dan memberikan manfaat dalam dinamika kehidupan seperti perbaikan persahabatan. hubungan. Tradisi Sangkrep yang dilakukan masyarakat Dusun Bendo, Desa Karangpatihan, Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, merupakan tradisi yang selalu hadir dalam prosesi pernikahan.

Penyelenggaraan tradisi Sangkrepi dirumuskan sebagai wujud perwujudan nilai-nilai dan keyakinan keagamaan yang dimiliki masyarakat, karena motif keagamaan dapat menjadi salah satu kecenderungan penting dalam melakukan suatu upacara atau ritual bagi masyarakat. Hal ini merupakan wujud penjabaran doa kepada Allah SWT dengan adat istiadat dan simbol-simbolnya. Dari data di atas peneliti berpendapat bahwa simbol-simbol yang terkandung dalam tradisi Sangkrep di Dusun Bendo Desa Karangpatihan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo bukan sekedar simbol biasa, namun mengandung makna yang menyampaikan kebesaran Allah SWT.

PENUTUP

Saran

Referensi

Dokumen terkait