Dalam tradisi adat sunda ada tradisi yang cepat berubah dan ada pula yang lambat. Sebab, kata-kata tersebut dibungkus dengan kata-kata seni dan yang terpenting saat bernyanyi. Pernikahan adat Sunda juga memiliki kekayaan makna dan seni. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes yang menekankan pada pembahasan makna denotasi, konotasi dan mitos.
Hasil dalam penelitian ini adalah bahwa dalam adat Sawer terdapat simbol-simbol yang digunakan sebagai bahan pertunjukan Sawer. Peneliti tertarik untuk mendalami Sawer dalam upacara pernikahan adat sunda karena mengusung tradisi budaya sunda juga merupakan sesuatu yang unik dan beragam sehingga tertarik untuk mendalami makna yang terkandung di dalamnya dan mendalami hal-hal yang melatarbelakangi kebohongan upacara adat sawer agar tetap dipertahankan. sebagai budaya Sunda jika kita kaji bahwa budaya juga merupakan bagian dari komunikasi yang ada dalam masyarakat karena mengandung makna yang mengandung banyak makna melalui simbol yang terdapat dalam tradisi upacara Sawer. Penelitian ini berjudul “Makna Pesan Upacara Sawer Pada Pernikahan Adat Sunda Di Kabupaten Garut”. Ini hanyalah mitos hasil interaksi kehidupan sosial orang dewasa dan penelitian ini lebih menekankan pada makna-makna dalam perkawinan adat Sunda Sawer yang banyak diabaikan.
Berdasarkan pemaparan fokus penelitian di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: “Apa makna pesan upacara penggergajian pada pernikahan adat Sunda di Kabupaten Garut”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan makna simbolik upacara Sawer dalam pernikahan adat Sunda di Kabupaten Garut dan penelitian ini bertujuan untuk menemukan beberapa di antaranya. Pokok-pokok penelitian ini adalah tanda-tanda berdasarkan aktivitas komunikatif (Littlejohn dan Sobur, 2006:15).
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dapat diketahui perbedaan makna yang terdapat pada prosesi pernikahan adat Sawer Sunda di Kabupaten Garut serta bahan dan alat yang digunakan oleh sawer seperti beras, gul, premen, koin, kanjut kundang , mangkok, payung memiliki pesan yang berarti denotasi, konotasi dan mitos yang peneliti analisis.
Makna Konotasi Sawer
Di sini Sawer adalah petanda dengan penandanya yaitu air hujan yang masuk ke serambi dan seterusnya karena tertiup angin dari luar, dan salah satu upacara dalam perkawinan atau khitanan adalah penaburan padi dicampur uang logam dan sebagainya. dengan bernyanyi berbeda. nasehat untuk kedua mempelai. Urutan acara sawer adat adalah kedua mempelai pulang dari masjid, kemudian sebelum masuk rumah kedua mempelai diselimuti payung besar yang dibalut dengan hiasan yang indah, kemudian Juru Sawer menyanyikan lagu Sawer . yang biasanya berisi petuah atau petuah dari orang tua untuk kedua mempelai. Setelah Juru Sawer selesai menyanyikan lagu Sawer, kedua mempelai kemudian ditaburi beras, kunyit, koin, premen dan kanjut kundang untuk anak bungsu atau terakhir.
Sabada dua panganten disiramkeun atawa disiram, tuluy para ujang atawa anu nyaksian Sawérber bajoang pikeun nyekel naon anu disiramkeun. Disebut sawer biasana dilakukeun di luar nalika upacara kawinan upacara kawinan dilakukeun di curug jadi hartina mun di jero mah teu loba anu nyaksian jadi kadieu sabab ceuk dina pengeras suara sangkan bisa kadenge ku panganten anyar. jeung panganten anyar. . Di dieu Sawér mangrupa penanda sedengkeun tanda nyaéta istilah anu dipaké ku masarakat Sunda anu dicokot tina tempat lumangsungna upacara adat anu hartina tempat turunna cai nalika hujan, cipratan cai atawa asalna ogé tina kecap pancuran, cipratan cai anu ragrag tina. hateup imah.
Dalam penelitian ini Sawer merupakan salah satu prosesi pengantin adat sunda yang masih dilakukan secara turun temurun dan memiliki simbol atau impresi di benak masyarakat. Sawer sendiri diambil dari istilah orang Sunda yaitu panyaweran yang berarti tempat jatuhnya air saat hujan yang terjadi di depan pekarangan yaitu beranda. Dalam hal ini Sawer memberikan nasehat kepada kedua mempelai yang dilakukan setelah akad nikah.
Kata sawer berasal dari kata panyaweran, yang dalam bahasa Sunda berarti tempat jatuhnya air dari atap rumah atau bagian bawah genteng. Kedua mempelai duduk berdampingan di bawah naungan payung, sementara himne dinyanyikan, isi mangkuk ditaburkan, dan penonton yang menonton bergegas mengumpulkan koin dan permen.
Makna Mitos Sawer
Koneng atau kunyit memiliki arti yang berbeda-beda yaitu sebagai lambang kejayaan, semoga dalam kehidupan berumah tangga bisa meraih kejayaan. April 1, 2015 115 Koneng merupakan salah satu produk Sawer yang diambil dari sebuah kata konengteman yang bernilai filosofis artinya kedua mempelai harus berpikir, temen tawel artinya tawekal. Sehingga setelah menikah mereka saling memiliki teman agar kuat dan tegar menghadapi masalah yang berbeda.
Dahulu di gergaji terdapat koneng atau kunyit yang merupakan simbol petuah atas apa yang dikhawatirkan kedua orang tua, yaitu ketakutan calon pengantin tidak kuat dan akan menghadapi berbagai masalah, maka kunyit sebagai obat. simbol Wekel teman. Kunyit sebenarnya disimbolkan sebagai kemaluan laki-laki karena pada masa awal ada upacara adat penggergajian, kedua mempelai yang menikah kebanyakan masih remaja atau anak di bawah umur, sehingga mereka tidak memahami pendidikan seks atau pendidikan rumah tangga, sehingga saat ini semuanya dimaknai sebagai hal yang tabu. Premen memiliki makna konotatif yang beragam seperti premen atau sweetmeat, yang artinya semoga Anda ikut merasakan manisnya kehidupan berumah tangga sambil melakukan pekerjaan rumah tangga.
Koin merupakan perlambang harta dunia, artinya mempelai laki-laki harus selalu giat mencari kebahagiaan setelah menikah untuk menafkahi keluarganya yaitu anak dan istrinya, karena suami dengan berumah tangga wajib mengurus mata pencahariannya. kebutuhan keluarganya dan istrinya wajib mengurus kekayaan ini. Bahwa nantinya setelah pernikahan, kedua mempelai yang memiliki karakteristik berbeda harus serasi dan seimbang untuk menciptakan keharmonisan. Di sini, untaian melambangkan simbol manis, yang berarti bahwa calon pengantin dapat menjadi keluarga yang selalu rukun dan baik terhadap sesama.
Benda atau peralatan yang digunakan untuk gergaji memang memiliki makna yang dalam seperti nasehat orang tua kepada kedua mempelai yang akan hidup berkeluarga untuk hidup mandiri, ingatlah untuk berbahagia dengan tanaman mengingat negara kita adalah negara agraris. sebagai contoh benda yang dipersembahkan berupa biji-bijian baik berupa biji-bijian (beras), daun (sirih), umbi (kunyit), bunga (melati). Sebelum menikah, kita sebagai manusia harus bisa melindungi diri kita minimal sebelum menikah kita dipaksa untuk melindungi keluarga kita. Artinya ketika mereka memutuskan untuk menikah, kedua mempelai harus mempersiapkan diri lahir dan batin sebagai upaya untuk melaksanakan ibadah.
Kewaspadaan dalam rumah tangga harus mampu menguatkan diri dengan sesuatu yang membuat kita merasa aman, menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak diharapkan dengan meningkatkan perhatian dan segala kemungkinan. Kemuliaan di sini adalah bahwa seseorang dalam rumah tangga tidak boleh diukur dengan kualitas duniawi, tetapi dengan kualitas akhlak Anda. Kedua mempelai harus berbagi dengan sesama, dimulai dengan berbagi dengan istri, anak dan lingkungan sekitarnya.
Arti Penunjukan Bahan Sawer : Arti Beas/Beras yaitu beras yang terkelupas kulitnya dan bijinya yang berwarna putih dan arti konotasi beras adalah simbol kemakmuran, tanda tanggung jawab rumah tangga. Makna denotasi koin adalah alat tukar atau alat ukur standar nilai legal yang dikeluarkan oleh pemerintah di setiap negara dalam bentuk uang kertas dan koin yang dicetak dengan gambar tertentu dan makna konotatif koin adalah kemakmuran. Mitos payung berarti jalan menuju keabadian Kewaspadaan dalam berumah tangga harus bisa menguatkan kita dengan sesuatu yang membuat kita merasa aman.
Makna denotasi mangkok adalah pinggangnya yang besar melengkung dan pinggirannya lebar (biasanya terbuat dari logam), makna konotasi mangkok adalah lambang kejayaan, mitos mangkok jaya disini adalah salah satu dalam rumah tangga harus tidak diukur dengan kualitas duniawi, tetapi dengan kualitas akhlak seseorang.