PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
KAJIAN PUSTAKA
Kajian Pustaka
- Penelitian yang Relevan
- Hakikat Sastra
- Jenis-Jenis Pendekatan Sastra
- Semiotika
- Hakikat Makna, Simbol, dan Simbolik
- Tradisi Kondobuleng
- Teater Tradisional
Dari hasil penelitian ini dibahas empat permasalahan yaitu permasalahan apa itu Kondobuleng?, struktur Kondobuleng, transkripsi teater tradisional Kondobuleng dan Kondobuleng dari arena ke teks. Catatan tertua menegaskan bahwa teater tradisional ini milik masyarakat Bajo, sekelompok masyarakat pesisir yang tinggal di kawasan Teluk Bone. Kondobuleng sebagai teater tradisional dapat ditemukan di Paropo' di tengah kota Makassar, ibu kota provinsi Sulawesi Selatan.
Istilah yang berasal dari kata Yunani semeion yang berarti 'tanda' atau 'tanda' dalam bahasa Inggris, merupakan ilmu yang mempelajari sistem tanda. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah semiotika lebih populer dibandingkan semiologi. Seperti yang dikatakan Saussure, “fungsi tanda bukan melalui nilai intrinsiknya, melainkan melalui posisi relatifnya,” atau “dalam bahasa hanya ada perbedaan.” Beberapa orang menggunakan kata buleng yang berarti "putih", namun dalam percakapan sehari-hari, kata "putih" berarti "kebo" dalam bahasa Makassar.
Catatan tertua menegaskan bahwa teater tradisional ini milik masyarakat Bajo, kelompok pesisir yang tinggal di kawasan Teluk Bone, Sulawesi Selatan (Holt, 1939). Kondobuleng sebagai teater tradisional dapat ditemukan di Paropo' di tengah kota Makassar, ibu kota provinsi Sulawesi Selatan. Dalam wawancara dengannya pada tanggal 29 Maret 2009, ketua kelompok pemeliharaan tradisional teater tersebut mengaku bahwa ia merupakan lapisan kelima dari nenek moyangnya yang mewariskan lakon tersebut secara turun temurun.
Perkembangan Kondobuléng Penyebaran teater tradisional Kondobuléng sangat lambat karena mereka baru mengetahuinya ketika sedang dipentaskan. Anggota I Lolo Gading mengaku, merekalah satu-satunya pemelihara teater tradisional, yang mereka tahu hanya lakon-lakon yang selama ini mereka tonton. Improvisasi di atas menunjukkan bahwa dalam teater tradisional Kondobuléng tidak ada batasan antara tokoh dan alat peraga.
Teater tradisional: dari sastra lisan, berupa pantun, puisi, legenda, dongeng, dan cerita rakyat; berakar pada budaya etnik setempat dan akrab di telinga masyarakat. Teater tradisional adalah teater pada suatu masyarakat etnis tertentu yang mengikuti tata cara, perilaku dan cara berkesenian yang mengikuti tradisi dan ajaran yang telah diwariskan. Ada beberapa hal yang membedakan teater tradisional dengan teater pengaruh Barat, antara lain:
Kerangka Pikir
Semiotika mencakup tanda-tanda visual dan verbal serta tanda-tanda taktil dan penciuman (semua tanda atau isyarat yang dapat diperoleh dengan seluruh indra kita) yang mana tanda-tanda tersebut membentuk suatu sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis dalam setiap aktivitas dan perilaku manusia. Oleh karena itu dapat dirumuskan bahwa dengan menggunakan pendekatan semiotika dapat membantu kita menemukan makna simbol-simbol dalam teater tradisional Bugis-Makassar khususnya lirik lagu Kondobuleng.
METODE PENELITIAN
- Jenis Penelitian
- Fokus Penelitian
- Definisi Istolah
- Data dan Sumber Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Instrumen Penelitian
- Teknik Analisis Data
Berdasarkan data yang diperoleh, kawasan di sekitar Pulau Sarappo Lompo merupakan kawasan yang cukup padat penduduknya, sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan terus berkembang hingga saat ini. Masyarakat Pulau Sarappo Lompo mempunyai ciri khas tersendiri yaitu sangat menghargai kesenian daerah peninggalan nenek moyang. Teater Kondobuleng, menurut Mansyur S, bermula dari adat istiadat masyarakat Pulau Sarappo Lompo pada masa itu, mulai dari kebiasaan saling mengejek, kebiasaan memancing, dari cara berbicara hingga cara berpakaian.
Untuk membahas Kondobuleng di Pulau Sarappo Lompo, perlu dikaji terlebih dahulu penampakan awal Kondobuleng di Pulau Sarappo Lompo. Mansyur S, mengatakan Kondobuleng lahir dari kebiasaan masyarakat Pulau Sarappo Lompo pada masa itu, dimana letak geografis Pulau Sarappo pada masa itu sangat mendukung proses penciptaannya karena Pulau Sarappo Lompo dikelilingi oleh laut, selain itu bahwa cara berinteraksi dan cara berpakaian masyarakatnya sederhana. , memberikan gambaran di mana masyarakat berada. Bentuk-bentuk simbol yang terdapat dalam pertunjukan Kondobuleng lahir dari kebiasaan masyarakat Pulau Sarappo Lompo pada saat itu yaitu sekitar tahun 1605 hingga zaman penjajahan Belanda.
Berdasarkan letak geografis Pulau Sarappo Lompo pada saat itu, menurut beberapa sumber dikelilingi oleh lautan, sehingga membentuk kebiasaan masyarakat yang rata-rata bermata pencaharian sebagai nelayan dan berjualan ikan. Teater Kondobuleng di Pulau Sarappo Lompo, Desa Mattiro Langi, Kecamatan Liukang Tupabbiring, Kabupaten Pangkep, hendaknya menganalisis dan melestarikan unsur-unsur budaya lokalnya, kemudian mengembangkannya tanpa merusak nilai-nilai budaya lokal yang terkandung di dalamnya. Bagi masyarakat Pulau Sarappo Lompo, kami berharap terus bangga melestarikan kesenian Kondobuleng sebagai warisan leluhur.
Sarro dan Dipo serta memiliki seorang istri bernama Muliati. Beliau merupakan seorang pejabat bujangan di salah satu sekolah di Pulau Sarappo Lompo. Tradisi Kondobuleng merupakan tradisi dari kepulauan tepatnya di Pulau Sarappo Lompo, disinilah pertama kali muncul tradisi Kondobuleng yang diperankan oleh Dg. Jadi kondobuleng itu bangau putih kalau diibaratkan belanda sering mengganggu para pemancing dan pajala atau masyarakat Pulau Sarappo Lompo.
Pentingnya tradisi Kondobuleng di Pulau Sarappo Lompo adalah masyarakat sangat menyukai tradisi ini karena masih digunakan hingga saat ini pada acara wisuda atau pertemuan antar pejabat dan pada acara pernikahan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Puisi adalah sebuah karya sastra yang digambarkan dengan diksi atau kata-kata pilihan, bercirikan wacana yang padat namun indah, biasanya karya puisi secara tidak langsung dapat menimbulkan kecenderungan seseorang mempertajam kesadarannya melalui bahasa yang mempunyai ritme dan makna khusus. Sastra lama adalah karya sastra para sastrawan yang ada pada masa kerajaan atau belum adanya pergerakan nasional. Analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan menemukan simbol-simbol dan makna simbol-simbol dalam teks lagu Kondobuleng.
Sebab, karya sastra merupakan sistem tanda yang mempunyai makna dan menggunakan medium bahasa. Teater tradisional adalah teater pada suatu masyarakat etnis tertentu yang mengikuti tata cara, tingkah laku, dan cara berkesenian menurut tradisi dan ajaran yang diturunkan dari nenek moyang, sesuai dengan budaya sekitar yang dianutnya.
Pembahasan
Makna dari lagu tersebut adalah sebagai bentuk kegembiraan dan kebahagiaan bagi masyarakat yang menyambut hari raya tersebut. Kegembiraan dan kebahagiaan mereka wujudkan melalui bentuk imajinasi yang menghasilkan simbol-simbol, misalnya dalam teks: “Battu ratéma ri Bulang (Saya telah mengunjungi bulan), Ma’réncong – réncong (Ma’réncong-réncong), Makkuta’ nang ri bintowéng ('Aku bertanya pada bintang), Apa Kanna. Apa katanya?), Attu déndang baulé' Bunting lompo jako sallang ('Pesta pernikahanmu nanti akan ramai). Sapo, Kepala Sanggar, Mansyur S, rekannya dan seseorang yang pernah terlibat dalam beberapa pementasan, memberikan beberapa pandangan dan pendapat yang sedikit berbeda mengenai sejarah pementasan Kondobuleng di Pulau Sarappo Lompo, meski nyatanya mereka mengakuinya. sempat ragu kapan Kondobuleng muncul dan beralih ke seni pertunjukan. Dalam pembahasan pada bagian ini, peneliti akan mengartikulasikan dan memproyeksikan hubungan antara proses munculnya Teater Kondobuleng dengan kemungkinan proses penciptaannya.
Oleh karena itu diharapkan dapat menghasilkan gambaran tentang bentuk dan hubungan simbol Kondobuleng dengan pesta pernikahan. Awal Mula Munculnya Kondobuleng di Pulau Sarappo Lompo, menurut berbagai sumber tidak diketahui secara pasti kapan tanggal dan tahun kelahirannya, karena teater ini sudah sangat tua, dimana seniman Kondobuleng yang masih tampil hingga saat ini paling banyak eksis. merupakan generasi seniman Kondobuleng sebelumnya, sehingga tanggal dan tahun munculnya teater Kondobuleng kurang jelas. Selain itu, kondisi pemerintahan yang kisruh, dimana masyarakat merasa terjajah oleh bangsa lain, juga tergambar dalam berbagai adegan.
Simbol-simbol dalam musik dan lagu, termasuk lagu Paparapa' Empo, dimaksudkan untuk memberi tanda akan adanya suatu peristiwa dan dimulainya pertunjukan Kondobuleng. Lagu Ma'rencong-rencong, merupakan simbol kegembiraan dan kebahagiaan masyarakat yang menyambut pesta tersebut. Kegembiraan dan kebahagiaan tersebut mereka gambarkan melalui puisi dan gerak imajinatif yang melahirkan simbol-simbol, misalnya dalam teks: “Battu ratéma ri Bulang (Saya telah mengunjungi bulan), Ma’réncong-réncong (Ma’réncong-réncong), Makkuta'nang ri bintowéng ("Saya bertanya pada bintang"), Apa Kanana. Apa katanya?), Attu déndang baulé’. Keterkaitan bentuk simbol jika dihubungkan dengan musik dan lagu yang dimainkan dalam pertunjukan kondobuleng yang dapat kita kaitkan dengan konteks masyarakat saat ini antara lain lirik lagu Papparapa' empo yang berisi ajakan untuk saling mempertemukan tempat duduk untuk memeriahkan. perayaan adat dan mendengarkan syair-syair lagu yang mengandung pesan leluhur, misalnya: Niya'ma' anne ri kiyotta (Datanglah padaku atas undanganmu), Empoma'ri parallunta (Dudukkanlah aku untuk keperluanmu), Teya' nikana ( Saya tidak mau disebutkan), Ana 'mammolong ha' ja' (Anak-anak yang merintangi kehidupannya).
Selain itu, nilai-nilai budaya lokal juga tergambar melalui musik, lagu, dan ciri khas seniman. Hubungan simbol-simbol pertunjukan teater Kondobuleng dengan konteks masyarakat saat ini, berdasarkan kajian tekstual. Motivasi teater Kondobuleng yang masih eksis hingga saat ini adalah karena masih adanya kesadaran sebagian masyarakat untuk melestarikan kesenian Kondobuleng dengan mengundangnya tampil pada hajatan, khitanan, dan pesta pernikahan. Penting bagi Teater Kondobuleng untuk dikenalkan kepada masyarakat luas, agar Teater Kondobuleng dapat dikenal dan sering diundang dalam acara-acara.
Pendokumentasian tradisi Kondobuleng memang sangat diperlukan untuk melestarikan kesenian rakyat, sekaligus sebagai upaya memperkaya kebudayaan nasional melalui data fisik seperti dokumentasi. Kajian semantik lirik lagu seni tradisional Kleningan “Mekar Rahayu” di Desa Sukarahayu Kecamatan Langen Sari Kota Banjar. Lagu Ma'rencong-rencong merupakan simbol kegembiraan dan kebahagiaan masyarakat yang menyambut hari raya tersebut; mereka menggambarkan kegembiraan dan kebahagiaan.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
Penelitian terhadap teater rakyat harus selalu dilakukan karena teater rakyat sangat jarang ditemukan di Sulawesi Selatan, khususnya di Pangkep. Sebaiknya Sanggar Kondobuleng tetap eksis dalam melestarikan kesenian tradisional sekaligus mengembangkan karya teater tradisional dengan melestarikan nilai-nilai budaya lokal Sulawesi Selatan. Pada mulanya permainan Kondobuléng hanya diketahui oleh masyarakat pesisir Sulawesi Selatan yang disebut dengan masyarakat Bajo, yaitu sekelompok masyarakat yang hidup dan mengarungi kehidupan di laut.
Karena rakyat kecil punya kekuatan bila bersatu. Beberapa adegan mengandung pesan-pesan yang melambangkan kekuatan gotong royong, serta pesan bahwa masyarakat kecil pada masa itu mempunyai rasa kemanusiaan yang besar. Jika kita perhatikan makna dari beberapa puisi yang sangat simbolik dengan tipografi sastra-estetikanya yang kuat, seolah-olah menggambarkan perjuangan hidup.