Makna Wirausaha Bagi Mahasiswa
Fajar Fari Fauzan 45140059
Dosen Pembimbing I : Sri Dewi Setiawati, S.Sos., M.Si
Dosen Pembimbing II :
Veny Purba, S.Sos., M.I.Kom
Universitas BSI Bandung
Jalan Sekolah International No. 1-6, Antapani, Bandung 40282 [email protected]
Abstract - This study describes the meaning of students towards entrepreneurship. The research method used is a qualitative research method with a phenomenological approach. Data collection techniques are carried out through observation, and in-depth interviews. The results of this study indicate that there are seven motives for entrepreneurship students, namely the problem of the family economy, taking advantage of existing opportunities, utilizing talent to start entrepreneurship, continuing family businesses, having greater income, being able to live independently, and building a family business. The meaning of entrepreneurship for students in this study is, a gift from Allah SWT, a comfort zone, a hobby, utilizing a hobby to benefit, and a form of devotion to mother and father.
Keywords: College Students, Entrepreneurship, Meaning, Phenomenology
Abstrak - Penelitian ini mendeskripsikan pemaknaan mahasiswa terhadap wirausaha. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan observasi, dan wawancara mendalam. Hasil dari penelitian ini menunjukan terdapat tujuh motif mahasiswa berwirausaha yaitu masalah perekonomian keluarga, memanfaatkan peluang yang ada, memanfaatkan bakat unuk memulai berwirausaha, melanjutkan usaha keluarga, memiliki penghasilan yang lebih besar, mampu hidup mandiri, dan membangun usaha keluarga. Makna wirausaha bagi mahasiswa dalam penelitian ini adalah, Anugerah dari Allah SWT, Zona nyaman, sebuah hobi, memanfaatkan hobi untuk memperoleh keuntungan, dan bentuk bakti kepada kedua orang tua.
Kata Kunci: Mahasiswa, Wirausaha, Makna, Fenomenologi
PENDAHULUAN
Pada era globalisasi saat ini, semakin banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang melakukan wirausaha untuk mencari penghasilan. Adanya enomena tersebut disebabkan oleh berbagai macam faktor, mulai dari lingkungan pergaulan, kepribadian, cita-cita, dorongan dari orang- orang terdekat, hingga keterpaksaan yang disebabkan oleh keadaan. Wirausaha menjadi sesuatu yang berada sangat dekat dengan kehidupan sehari hari kita. Berbagai kalangan menjalankan wirausaha, baik itu kalangan orang tua, bahkan pelajar yang masih duduk di bangku sekolah maupun universitas sudah mulai mencoba untuk berwirausaha.
Meskipun jumlah masyarakat Indonesia yang berwirausaha di Indonesia masih jauh dibawah jumlah masyawakat yang berprofesi sebagai karyawan, namun jumlahnya diperkirakan akan terus bertambah seiring berkembangnya di industri kreatif di Indonesia.
Hingga saat ini, jumlah masyarakat Indonesia yang berprofesi sebagai wirausahawan masih jauh dibawah negara- negara maju seperti jepang, amerika, dan singapura. Mengutip apa yang telah disampaikan Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo kepada anggota
Himpunan Pengusaha Muda Indonesia atau HIPMI dalam surat kabar online Kompas edisi kamis 05 april 2018 pukul 17:26 WIB, yang mengatakan 14 persen dari jumlah penduduk di negara negara maju merupakan wirausahawan. Sedangkan di Indonesia hanya memiliki 3,1 persen penduduk yang berprofesi sebagai wirausahawan. Hal tersebut membuktikan bahwa negara Indonesia masih tertinggal jauh dari negara- negara maju lainnya. Itulah sebabnya mengapa di Indonesia masih terdapat banyak pengagguran dan diantaranya adalah pengangguran terdidik dari lulusan universitas.
Meskipun demikian, angka tersebut merupakan sebuah kemajuan yang bagus bila dibandingkan dengan data jumlah wirausahawan tahun lalu. Mengutip apa yang telah disampaikan oleh ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha atau KPPU yaitu Bapak Syarkawi Rauf dalam surat kabar online Republika, edisi sabtu 03 juni 2017 pukul 07:35 WIB, yang menyebutkan jumlah pelaku wirausaha di Indonesia menurut data pada tahun 2017 hanya berkisar 1,6 hingga 1,8 persen atau kurang lebih 4,6 juta penduduk. Hal tersebut membuktikan bahwa jumlah pengusaha di Indonesia akan terus meningkat seiring berkembangnya industri kreatif Indonesia dan program-
program bantuan wirausaha yang digulirkan oleh pemerintah Indonesia. Maka, tidak diragukan lagi bahwa wirausaha merupakan salah satu pendukung utama yang menentukan maju mundurnya perekonomian, karena bidang wirausaha memiliki kebebasan untuk berkarya dan mandiri. Berwirausaha merupakan alternatif pilihan yang tepat untuk mengatasi ketersediaan lapangan pekerjaan yang sedikit. paling tidak dengan berwirausaha berarti menyediakan lapangan kerja bagi diri sendiri dan tidak perlu bergantung kepada orang lain. Dan apabila usahanya semakin maju, maka akan mampu membuka lapangan kerja bagi orang lain.
Saat ini, pola pikir berwirausaha mulai mendominasi para pelajar seperti mahasiswa untuk memiliki sebuah usaha yang sejak dini. Pada umumnya, mayoritas mahasiswa masih bergantung pada orang tuanya dalam hal keuangan. Namun pada era modern saat ini, sudah banyak mahasiswa yang berani mencari pendapatannya sendiri dengan berwirausaha. Kendati belum menyelesaikan pendidikan formal, mahasiswa mulai berani berwirausaha.
Mahasiswa yang notabene mengenyam bangku pendidikan demi ijazah atau gelar yang nantinya akan digunakan untuk mencari pekerjaan, justru semakin banyak yang mendirikan sebuah bisnis atau berwirausaha,
dengan berbagai alasan dan latar belakang yang sangat bervariasi serta cita-cita yang berbeda. Faktor yang mempengaruhi mahasiswa untuk berwirausaha semasa kuliah sangatlah bermacam-macam dan bervariasi. Perbedaan latar belakang dan lingkungan sosial masing-masing individulah yang menyebabkan banyaknya faktor penyebab mahasiswa berbisnis di masa kuliah.
Mahasiswa yang menjalankan pendidikan di universitas dan memilih untuk tetap berwirausaha penting baginya untuk dapat membagi waktu dan tenaga dalam mengelola tugas-tugas baik pekerjaan dalam berwirausaha maupun pendidikan di universitas. Kondisi-kondisi tersebut dapat memberikan pandangan tersendiri pada mahasiswa terhadap kewirausahaan.
Saat ini, telah banyak muncul wirausahawan-wirausahawan muda sukses di indonesia yang berasal dari kalangan pelajar mahasiswa, merekalah yang kelak akan mampu menciptakan lapangan kerja baru dan mampu menyerap tenaga kerja. Banyak keuntungan dan manfaat yang akan didapat bagi mahasiswa yang memilih untuk kuliah sekaligus sambil berwirausaha. Memang pilihan ini merupakan pilihan yang berat saat pertama kali mendengarnya. Sebab
mahasiswa masih harus menghadapi tugas- tugas kuliah dan jadwal kuliahnya padat. Akan tetapi, jika terus menerus dilakukan maka akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa, seperti; merasa menemukan feel dan menganggap berwirausaha sebagai kegiatan yang menyenangkan.
Fenomena mahasiswa berwirausaha ini sangat menarik untuk diteliti. Mahasiswa memang memiliki keunikan tersendiri di sistem jenjang pendidikannya. Salah satunya adalah waktu belajarnya, yaitu berkisar antara 3 sampai 4 jam perhari. Kegiatan berupa datang ke kampus, kuliah menunggu dosen, dan jika dosen tidak ada mereka akan pulang atau melakukan aktivitas lain seperti berkumpul dengan teman mahasiswa lain.
Mahasiswa yang jeli melihat waktu-waktu kosong, tidak ada dosen atau sehabis pulang kuliah tidak ada kegiatan, mereka akan memanfaatkan waktu itu untuk hal-hal yang berguna. Salah satunya adalah dengan kerja part-time untuk mecari penghasilan tambahan. Namun, selain bekerja part-time ada pula mahasiswa yang memanfaatkan waktu luang untuk mencari penghasilan tambahan dengan berwirausaha. Berdasarkan ketertarikan dan permasalahan, penelitian ini ingin mengetahui lebih dalam mengenai makna atau pemahaman mahasiswa terhadap kewirausahaan serta motif-motif yang
dimiliki para mahasiswa dalam berwirausaha.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenai wirausaha dikalangan mahasiswa, Dengan fokus penelitian persepsi atau pandangan mahasiswa Universitas BSI Bandung terhadap kewirausahaan.
Teori Fenomenologi Alfred Schultz
Alfred Schutz adalah salah satu tokoh fenomenologi yang merupakan ahli fenomenologi yang paling menonjol. Schutz sangat tertarik untuk memahami makna subjektif yaitu yang melihat bahwa orang selalu melakukan tindakan dan sekaligus memberikan reaksi atas tindakan orang lain, juga melihat bahwa pengetahuan yang dimiliki diperoleh karena adanya peranan indera.
Schutz menjelaskan dalam buku karya Campbell (1994:237) tentang bagaimana manusia memiliki kesadaran aktif bahwa mereka merupakan makhluk yang melontarkan masalah dan memecahkan masalah. Masalah menempatkan individu pada situasi tertentu. Agar dapat keluar dari masalahnya, seorang individu harus mampu mendefinisikan situasinya, yaitu dia harus mendefinisikan dalam situasi macam apakah ia berada, apakah masalahnya dan bagaimana
ia berusaha mencapai tujuannya. Menurut Schutz dalam buku Kuswarno yang berjudul Fenomenologi : fenomena pengemis kota bandung (2009:111). ilmu sosial secara esensial tertarik pada tindakan sosial (social action). Tindakan sosial diartikan sebagai tindakan yang berorientasi pada perilaku orang atau orang lain pada masa lalu, sekarang dan akan datang. Tindakan ini juga meliputi tindakan yang telah lengkap (the completed act) dan tindakan yang sedang berlangsung (the action in progress).dalam tindakan yang telah lengkap dikenal istilah
“proyek” yang menurut Schutz merupakan sebuah makna yang rumit atau makna yang kontekstual. Karena kerumitan ini lah kemudian Schutz mengusulkan pemikirannya terkait dengan fase yang dapat menggambarkan tindakan seseorang secara keseluruhan. Dua fase yang diusulkan oleh Schutz ini diberi nama tindakan in-order-to motive (Um-zu-motive), yang merujuk pada masa yang akan datang; dan tindakan because-motive (Weil-Motiv) yang merujuk pada masa lalu.
Lebih lanjut Schutz menjelaskan dalam buku karya Wirawan yang berjudul Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma (2012:134). In-order-to motive adalah tujuan seseorang merujuk pada suatu keadaan pada masa yang akan datang, dimana aktor
berkeinginan untuk mencapainya melalui beberapa tindakan seseorang pada masa kini dan masa yang akan datang. Because motive, adalah motif yang timbul akibat pengalaman masa lalu individu sebagai anggota masyarakat. Motif-motif tersebut menentukan tindakan yang akan dilakukan oleh seorang aktor, tindakan seseorang hanya merupakan suatu kesadaran terhadap motif, karena kesadaran terhadap motif menjadi sebab yang mendasari suatu tindakan dari individu.
Pendapat demikian diungkapkan pula oleh Little John dalam bukunya yang berjudul Teori Komunikasi, Theories of human communication (2009:57) berasumsi bahwa, fenomenologi adalah interpretasi dari pengalaman-pengalaman pribadi seseorang, seperti berikut ini “Fenomenologi berasumsi bahwa orang-orang secara aktif mengintrepetasi pengalaman-pengalamannya dan mencoba memahami dunia dengan pengalaman pribadinya”.
Manusia berusaha mengkonstruksi makna di luar arus utama pengalaman melalui proses “tipikasi”. Hubungan antar makna ini kemudian diorganisasi menjadi sebuah proses yang disebut stock of knowledge. Inti pemikiran Schutz terletak pada bagaimana memahami tindakan sosial
melalui penafsiran. Yang digunakan untuk memperjelas atau memeriksa makna yang sesungguhnya. Hakikat manusia menurut Schutz adalah pengalaman subjektif yang mengambil sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan sehari-hari merupakan sebuah kesadaran sosial sebagai bukti bahwa manusia adalah makhluk sosial.
Dunia individu adalah dunia intersubjektif yang memiliki makna yang beragam, dan perasaan sebagai bagian dari kelompok sehingga ada penerimaan timbal balik, pemahaman atas dasar pengalaman bersama, dan tipikasi atas dunia bersama. Dalam kehidupan totalitas masyarakat, setiap individu menggunakan symbol-simbol yang telah diwariskan untuk memberi makna pada tingkah laku individu tersebut (Kuswarno, 2009: 18).
Menurut Schutz, tindakan tersebut tidak muncul begitu saja, tetapi melalui proses yang rumit dan panjang. Dunia sosial harus dilihat secara historis, oleh karenanya Schutz menyimpulkan bahwa tindakan sosial adalah tindakan yang beriorientasi pada perilaku orang atau orang lain pada masa lalu, sekarang dan akan datang (Kuswarno, 2009:110). Melalui pendekatan fenomenologi Alfred Schutz, peneliti akan menggambarkan realitas yang kompleks
dalam kehidupan subjek dalam suatu fenomena.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan jenis metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Dalam penelitian kualitatif, seorang peneliti menjadi instrumen kunci dan peneliti terlibat sepenuhnya dalam kegiatan informan kunci yang menjadi subjek penelitian dan sumber informasi. Dalam penelitian kualitatif metode yang biasanya dimanfaatkan adalah wawancara pengamatan, dan pemanfaatan dokumen.
Menurut David Williams dalam (Moleong 2014:5), penelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan oleh orang atau peneliti yang tertarik secara alamiah.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dll. Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Penelitian Kualitatif memiliki Dua tujuan utama, yaitu pertama, menggambarkan dan mengungkapkan (to
describe and explore); kedua, menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain). (Ghony dan Almanshur (2012:29)
Schutz dalam buku Mulyana yang berjudul Metodologi Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya (2008 : 63) fenomenologi adalah studi tentang pengetahuan yang datang dari kesadaran atau cara kita memahami sebuah obyek atau peristiwa melalui pengalaman sadar individu tentang obyek atau peristiwa tersebut. Sebuah fenomena adalah penampilan sebuah obyek, peristiwa atau kondisi dalam persepsi seseorang, jadi bersifat subjektif.
Fenomenologi mencoba mencari pemahaman bagaimana manusia mengkonstruksi makna dan konsep-konsep penting dalam kerangka intersubjektivitas.
Intersubjektif karna pemahaman kita mengenai dunia dibentuk oleh hubungan kita dengan orang lain. Walaupun makna yang kita ciptakan dapat ditelusuri dalam tindakan, karya dan aktivitas yang kita lakukan, tetap saja ada peran orang lain didalamnya (Kuswarno, 2009: 2). Studi fenomenologi bertujuan untuk menggali kesadaran terdalam para subjek mengenai pengalaman beserta maknanya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Motif Mahasiswa Universitas BSI Bandung Berwirausaha
Dalam teori fenomenologi Alfred Schutz menjelaskan motif merujuk pada alasan-alasan atau penyebab mahasiswa berwirausaha, apa yang menyebabkan mahasiswa berwirausaha dan untuk apa mahasiswa berwirausaha. Schutz dalam Kuswarno (2009 : 111) membagi motif yang mempengaruhi tindakan manusia ke dalam dua fase. yaitu :
Tindakan in-order-to motive (Um-zu- motive), yang merujuk pada masa yang akan datang; dan tindakan because-motive (Weil-Motiv) yang merujuk pada masa lalu.
Fase yang pertama adalah because- motive, yaitu motif yang menyebabkan mahasiswa berwirausaha. Motif tersebut antara lain masalah perekonomian keluarga yang menyebabkan mahasiswa harus mencari penghasilan sendiri dengan berwirausaha, memaanfaatkan peluang usaha dengan bantuan modal dari seorang infestor, memanfaatkan bakat yang dimiliki sebagai modal untuk memulai usaha, dan melanjutkan usaha keluarga yang diwariskan oleh kedua orangtua mahasiswa. Kempat motif tersebut berorientasi pada masalalu yang merupakan pengalaman pribadi mahasiswa yang menjadi titik awal
timbulnya keinginan untuk mahasiswa melakukan wirausaha.
Fase kedua yang mempengaruhi motif atau tindakan mahasiswa adalah in- order-to motives, yaitu motif yang menjadi tujuan mahasiswa melakukan wirausaha.
Motif-motif yang berkaitan dengan order-to motives antara lain untuk membangun sebuah usaha keluarga yang kelak akan dimiliki oleh keluarganya dimasa depan, ingin memiliki penghasilan yang lebih besar dan ingin hidup mandiri. Ketiga motif tersebut beroriantasi pada masa depan atau tujuan yang ingin dicapai oleh mahasiswa dengan berwirausaha.
Makna Wirausaha Bagi Mahasiswa Universitas BSI Bandung
Schutz menjelaskan bagaimana memahami tindakan sosial melalui penafsiran untuk memperjelas atau memeriksa makna yang sesungguhnya.
Pandangan mengenai makna tersebut memberikan gambaran bahwa terdapat hubungan antara makna yang dihasilkan oleh mahasiswa dengan realitas dunia nyata yang di alami oleh mahasiswa.
Manusia berusaha mengkonstruksi makna di luar arus utama pengalaman melalui proses “tipikasi”. Hubungan antar makna ini kemudian diorganisasi menjadi sebuah proses
yang disebut stock of knowledge.
Kuswarno, 2009:18)
Dari pengalaman tersebut mahasiswa memperoleh kumpulan pengetahuan yang berkaitan dengan objek dari pengalaman mahasiswa, yaitu wirausaha. Hubungan tersebut merupakan keterkaitan antara makna, pengetahuan, realitas dan pengalaman mahasiswa. Melalui arti dari pengalaman-pengalamannya, mahasiswa memberi makna dalam berbagai konteks terkait dengan wirausaha. Dengan kata lain, makna tersebut merupakan bentukan dari pengetahuan atau pemahaman mahasiswa dalam bentuk informasi yang diperoleh dari pengalaman mahasiswa.
Setiap mahasiswa yang menjadi subjek dalam penelitian ini memiliki penilaian atau cara pandang masing-masing dalam memaknai wirasuaha. Makna-makna yang telah ada dalam diri mereka didapatkan dari penglaman mereka sebagai pelaku wirausaha.
Wirausaha adalah anugerah dari Allah SWT. Pemahaman dari makna tersebut memang masih luas. Sebab, banyak hal yang bisa di maknai sebagai anugerah. Namun apabila makna tersebut dihubungkan dengan pengalaman dari mahasiswa yang. Sebab, mahasiswa yang memberikan makna Mahasiswa dalam penelitian ini melihat
kegiatan bekerja yang dilakukan oleh orang- orang yang berprofesi pelaku wirausaha lebih flexible dibandingkan pekerjaan sebagai karyawan. Seorang pelaku wirausaha dapat dengan bebas memilih waktu dan tempat, kapan dan dimana ia akan bekerja.
Wirausaha sebagai zona nyaman bagi dirinya. Salah seorang mahasiswa mengatakan bahwa bidang wirausaha ynag dijalaninya saat ini sesuai dengan minat dan kemampuan khusus yang dimilikinya.
Sehingga mahasiswa tersebut merasa tidak ada beban berarti saat ia menjalankan aktivitas wirausahanya.
Wirausaha sebagai cara memanfaatkan sebuah hobi yang dapat memberi keuntungan. Salah seorang mahasiswa menjadikan hobinya dalam sebagai sumber mata pencahariannya.
Mahasiswa tersebut memiliki hobi mengoleksi berbagai aksesoris gelang dan kalung. Kini, ia telah mampu memproduksi berbagai aksesoris tersebut dengan jenis dan model yang digemarinya. Oleh kerna itu mahasiswa tersebut menganggap wirausaha sebagai hobi yang membawa keuntungan.
Wirausaha sebagai bentuk bakti terhadap kedua orang tua. Pengalaman mahasiswa dalam berwirausaha di mulai saat mahasiswa melanjutkan usaha keluarganya
yang sempat terhenti. Usaha keluarga tersebut terheti karena ayah dari mahasiswa yang selama ini menjalankan usaha tersebut jatuh sakit dan tidak sanggup lagi untuk mengelola usaha keluarga tersebut.
Mahasiswa merasa sudah menjadi tugasnya sebagai anak untuk membantu orang tua dan melanjutkan usaha kebanggaan keluarganya tersebut. Mahasiswa menilai tindakannya tersebut sebagai bentuk bakti dari mahasiswa terhadap kedua orang tuanya.
Seluruh persepsi mahasiswa tehadap wirausaha yang telah dijelaskan merupakan cara pandang mereka yang membentuk makna-makna wirausaha. Kesimpulan dalam pemaknaan wirausaha tersebut dilihat dari pengalaman mahasiswa dalam berwirausaha.
Makna akan tercipta ketika pengalaman- pengalaman tersebut dapat dipahami.
Berdasarkan data penelitian yang telah di bahas pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
6.1. Kesimpulan
1. Motif mahasiswa BSI Bandung melakukan wirausaha terdiri dari dua motif, yaitu motif masa lalu (because motives) dan motif tujuan (in order to motives). Motif masa lalu mahasiswa melakukan wirausaha antara lain:
masalah perekonomian keluarga, memanfaatkan peluang usaha, memanfaatkan bakat sebagai modal untuk memulai usaha, dan melanjutkan usaha keluarga yang terhenti. Sedangkan motif tujuan mahasiswa melakukan wirausaha antara lain; membangun sebuah usaha keluarga, ingin memiliki penghasilan yang lebih besar, dan keinginan utnuk hidup mandiri, dalam artian terpenuhi kebutuhannya secara finansial.
2. Pemaknaan mahasiswa BSI Bandung sebagai pelaku wirausaha meliputi, antara lain; pertama, wirausaha adalah anugerah dari Allah SWT karena mahasiswa yang memaknainya tidak memiliki rencana untuk memulai wirausaha dan tidak menyangka akan memiliki usaha sendiri, kedua, wirausaha adalah zona nyaman karena bidang usaha yang dijalani sesuai dengan minat, kesenangan dan kemampuan dari mahasiswa. ketiga, wirausaha adalah sebuah hobi karena mahasiswa yang memaknainya sudah terbiasa berwirausaha sejak duduk di bangku SMA dan telah mencoba berwirausaha di berbagai bidang.
Keempat, wirausaha adalah hobi yang membawa keuntungan karena mahasiswa yang memaknainya memperoleh keuntungan dari hobi yang dimilikinya, dengan kata lain
mahasiswa berwirausaha di bidang yang sesuai dengan hobinya. Kelima, wirausaha adalah bentuk bakti kepada orang tua karena mahasiswa yang memaknainya melanjutkan usaha keluarganya yang terhenti demi kedua orangtuanya.
DAFTAR PUSTAKA Referensi Buku
Almanshur, Fauzan., dan Ghony, Djunaidi.
2012. Metodologi Penelitian kualitatif. JogJakarta: Ar‐Ruzz Media
Campbell, Tom. 1994. Tujuh Teori Sosial.
Yogyakarta: Kanisius
Littlejohn, Stephen W and Karen A. Foss.
2009. Teori Komunikasi, Theories of human communication edisi 9.
Jakarta : Salemba Humanika Kuswarno, Engkus. 2009. Fenomenologi :
Metode Penelitian Komunikasi.
Bandung: Widya Padjadjaran.
Kuswarno, Engkus. 2009. Fenomenologi : fenomena pengemis kota
bandung.Bandung: Widya Padjadjaran.
Moleong, Lexy J. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Mulyana, Deddy. 2008 , Metodologi Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, Bandung : Remaja Rosdakarya.
Wirawan. 2012. Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma. Jakarta: Kencana.
Referensi Jurnal/Skripsi
Anisti. 2017. Komunikasi Media Film Wonderful Life: Pengalaman Sineas Tentang Menentukan Tema Film. Jurnal Komunikasi. Vol VIII. No I. Maret 2017.
Arifin, Nofrianto. 2018. Konstruksi Makna Bagi Wanita Pengguna Vape Di Pekanbaru. JOM FISIP. Vol 5. No.1 April 2018.
Fitra, Rachmat. 2015. Studi Fenomenologi Pada Pemaknaan Fakultas Komunikasi Bisnis Di Universitas Sebagai Peserta Audisi Indonesian Idol. ISSN: 2355- 9357. E-Proceeding of Management. Vol 2. No.1 April 2015.
Halmaawati. 2017. Kawin Lari (Silariang) Sebagai Pilihan Perkawinan.
sKRIPSI Universitas Islam Negeri Alaudin Makasar.
Istiani, Ade Nur. 2015. Kontruksi Makna Hijab Fashion Bagi Moslem Fashion Blogger. Jurnal Kajian Komunikasi.
Vol 3. No 1. Juni 2015.
Kumasari, R. Nuruliah. 2014. Makna Iklan Oreo Versi “Pilih Handphone Atau Oreo”. Jurnal Ilmu Komunikasi (J- IKA). Vol 1. No 2. September 2014.
Lolyna, Arfryani. 2016. Kontruksi Makna Mahasiswi sebagai SPG (Sales Ptomotion Girl) Di Kota Pekanbaru.
JOM FISIP. Vol 3. No 1. September 2016.
Mardianti, Rina. 2016. Pemaknaan Ajaran Tauhid Dan Sholat Bagi Mualaf Tionghoa Di Kota Pekanbaru. JOM FISIP. Vol 3. No 2 Oktober 2016.
Ramadhani, Tri Suci. 2017. Konstruksi Makna Perkawinan Di Usia Dini.
JOM FISIP. Vol 4. No 1. Februari 2017.
Sofian, Farane Aristrivani. 2014. Makna Komunikasi Keluarga Bagi Wanita Karier. Humaniora. Vol 5. No 1.
April 2014.
Widhi A, Ni Putu G. 2016. Fenomena Komunikasi Komunitas Batu Akik Di Pekanbaru. ISBN: 2087-1236.
JOM FISIP. Vol 3. No 2. Oktober 2016.