• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of MANAGEMENT STRATEGY WITH SWOT ANALYSIS ON MANGROVE ECO-TOURISM KAMPUNG NIPAH, SERDANG BEDAGAI REGENCY, NORTH SUMATERA

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "View of MANAGEMENT STRATEGY WITH SWOT ANALYSIS ON MANGROVE ECO-TOURISM KAMPUNG NIPAH, SERDANG BEDAGAI REGENCY, NORTH SUMATERA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

44

STRATEGI PENGELOLAAN DENGAN ANALISIS SWOT PADA EKOWISATA MANGROVE KAMPUNG NIPAH, KABUPATEN

SERDANG BEDAGAI, SUMATERA UTARA

Novi Aulia Sari1*, Futri Anggraini Daulay2, Maghfira Rahmadani3, Nezeliana Putri4

1,2,3,4 Jurusan Pendidikan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan

1*[email protected]

INFO ARTIKEL ABSTRAK

Riwayat Artikel: This study aims to explain the legal aspects, to find out the zone of existence of the Kampong Nipah mangrove ecotourism object and to describe the management strategy of mangrove ecotourism. The method used in this research is using purposive sampling and accidental sampling. In this study using data analysis techniques, namely, document content analysis and SWOT analysis. The results of this study indicate that the development of mangrove ecotourism in Kampung Nipah already has a legal status to serve as a tourist spot. The resulting strategies are 5, namely: Improving infrastructure in the form of adding trash cans, revitalizing bridges, carrying out waste management with an integrated community-based management system that involves the surrounding community, increasing diversification of ODTW (tourist attraction objects), increasing promotion through publications and joint ventures.

with tourism developers.

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan aspek legalitas, untuk mengetahui zona keberadaan objek ekowisata mangrove kampung nipah dan untuk memaparkan strategi pengelolaan ekowisata mangrove.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode purposive sampling dan accidental sampling. Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data yaitu, analisis isi dokumen dan analisis SWOT. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan ekowisata mangrove kampong nipah sudah memiliki status yang legal untuk dijadikan sebagai tempat wisata. Strategi yang dihasilkan ada 5 yaitu: Meningkatkan infrastruktur berupa penambahan tempat sampah, revitalisasi jembatan, melakukan pengelolaan sampah dengan sistem terpadu berbasis community-based management yang melibatkan masyarakat sekitar, meningkatkan diversifikasi ODTW (objek daya tarik wisata), meningkatkan promosi melalui publikasi dan join venture dengan pengembang pariwisata.

Dikirim Disetujui Diterbitkan

: : :

23-11-2022 12-01-2023 31-05-2023 Kata kunci:

Kata Kunci: Ekowisata;

Legalitas; Mangrove; Strategi.

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan mangrove terbesar dan memiliki kekayaan hayati yang paling banyak.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semakin cepat, maka kebutuhan hidup manusia semakin meningkat. Kebutuhan hidup yang semakin meningkat ini akan menimbulkan tekanan terhadap sumberdaya alam, yang mana pemanfaatannya belum banyak sebagai tempat kunjungan wisata.

Suatu upaya pemanfaatan sumberdaya lokal yang optimal adalah dengan mengembangkan pariwisata dengan konsep ekowisata (Satria, 2009).

Penerapan sistem ekowisata di ekosistem mangrove ini merupakan suatu pendekatan dalam pemanfaatan ekosistem tersebut secara lestari. Kegiatan ekowisata adalah alternatif yang efektif untuk menanggulangi permasalahan lingkungan di ekosistem ini seperti tingkat eksploitasi yang berlebihan oleh

(2)

45 masyarakat dengan menciptakan alternatif

ekonomi bagi masyarakat (Muhaerin, 2008).

Wilayah pesisir merupakan suatu daerah peralihan antara ekosistem daratan dan lautan yang tumbuh dan berkembangnya berbagai ekosistem alami seperti hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun dan estuaria, menyebabkan wilayah pesisir sangat subur.

Kawasan hutan wilayah pesisir pada berbagai daerah di Indonesia,terutama di Kampung Nipah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara".Kurang Perhatiannya atas pengelolahan magrove baik itu pihak pemertintahan ataupun pihak instansi.

Ekosistem mangrove (bakau) adalah ekosistem yang berada di daerah tepi pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga lantainya selalu tergenang air.

Ekosistem mngrove berada di antara level pasang naik tertinggi sampai level di sekitar atau di atas permukaan laut rata-rata pada daerah pantai yang terlindungi (Supriharyono,2009),dan menjadi pendukung berbagai jasa ekosistem di sepanjang garis pantai di kawasan tropis (Donato dkk, 2012). Manfaat ekosistem mangrove yang berhubungan dengan fungsi fisik adalah sebagai mitigasi bencana seperti peredam gelombang dan angin badai bagi daerah yang ada di belakangnya,pelindung pantai dari abrasi, gelombang air pasang (rob), tsunami, penahan lumpur dan perangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air permukaan, pencegah intrusi air laut kedaratan, serta dapat menjadi penetralisir pencemaran perairan pada batas tertentu (Lasibani dan Eni, 2009). Manfaat lain dari ekosistem mangrove ini adalah sebagai obyek daya tarik wisata alam dan atraksi ekowisata (Sudiarta, 2006; Wiharyanto dan Laga, 2010) dan sebagai sumber tanaman obat (Supriyanto dkk, 2014) .

Gumilar (2012:207) mengungkapkan bahwa persepsi dan partisipasi masyarakat dalam upaya pelestarian hutan mangrove berada pada tahap penyampaian informasi dan konsultasi atau tingkat tokenisme yaitu suatu tingkat partisipasi masyarakat didengar dan diperkenankan pendapat, namun tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan jaminan bahwa pandangan mereka akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan.

Menurut teori Arnstein (1969), pada tokenism,

otoritas yang berkuasa menciptakan citra, tidak lagi menghalangi partisipasi publik.

Namun kenyataannya berbeda, benar partisipasi publik dibiarkan, namun mereka mengabaikannya dan mereka tetap mengeksekusi rencananya semula. Ketika berada di tingkat informing, mereka menginformasikan macam-macam program yang akan dan sudah dilaksanakan namun hanya dikomunikasikan searah, dan publik belum dapat melakukan komunikasi umpan- balik secara langsung (Arnstein, 1969: 217).

Beberapa penelitian juga menganalisis faktor yang mempengaruhi keterlibatan masyarakat dalam community based.

Penelitian Abdullah et al. (2014:121) mengemukakan bahwa faktorfaktor community based dalam konservasi dan rehabilitasi salah satunya adalah faktor psikologi. Penelitian tersebut menggunakan teori Baral and Stern (2011:123) yang mengemukakan indikator faktor ekologi, isntitusi, dan psikologi untuk menentukan berhasil atau gagalnya pendekatan community based conservation. Willingness to participate merupakan faktor inti untuk mengevaluasi faktor psikologi terhadap partisipasi komunitas lokal dalam rehabilitasi mangrove dengan menggunakan pendekatan community based conservation. Willingness to participate juga mempunyai korelasi dengan gender, pendidikan, ras, keuntungan dan penerimaan resiko, tetapitidak berhubungan dengan faktor jarak tempat tinggal. Hal tersebut membuat pendekatan CBC (Community-Based Conservation) harus diorganisasi oleh intitusi rehabilitasi mangrove yang berasal dari institusi lokal setempat. Komunitas lokal mempunyai keinginan untuk berpartisipasi dalam program CBC sebagai pekerja sambilan yang juga dibayar. Persepsi positif dari komunitas lokal mengenai CBC merupakan hubungan yang baik yang dapat digunakan oleh pemimpin rehabilitasi dan konservasi mengrove untuk memperkuat kerjasama dengan penduduk dan asosiasi penduduk.

Sekali penduduk lokal mengenali keuntungan dan kepentingan mengenai mangrove di masa depan, kemungkinan program rehabilitasi dapat dilakukan melalui CBC dengan bimbingan teknik yang minim. Selain itu, sikap yang pro-lingkungan juga merupakan faktor penting dalam menentukan respon

(3)

46 komunitas lokal pada konservasi lingkungan

dan mangrove (Abdullah, Said, Omar, & Abra, 2014:130).

Hadi (2019:71) mengemukakan bentuk keberhasilan rehabilitasi mangrove dengan pendekatan community development diantaranya seperti yang dilakukan oleh CSR Pertamina RU (Refinary Unit) Balongan dengan program budidaya mangrove di Karangsong. Budidaya mangrove dimulai tahun 2008 bertujuan untuk menanggulangi abrasi di Desa Karangsong. Pada tahun 2007, kerusakan pantai di Karangsong Kabupaten Indramayu mencapai 2,407,07 hektar. Tahun 2008 sampai tahun 2010, berturut-turut ditanam sebanyak 8000, 30,800, dan 5000 mangroves. Kemudian pada tahun 2012 ditanam sebanyak 10,000 mangrove. Tahun 2014 ketika tanaman mangrove telah tumbuh dengan baik, PT Pertamina memfasilitasi untuk mengembangkan menjadi eko-wisata dengan menanam tanaman lain seperti cemara laut, widaralaut dan ketapang dan membangun infrastruktur seperti jogging track. Lokasi ini menjadi tujuan turis dan juga taman pendidikan. Dengan banyaknya pengunjung, menumbuhkan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha seperti jasa parkir, penjual makanan dan minuman, jasa perahu wisata. Kelompok Pantai Lestari juga mampu menambah luasan mangrove untuk konservasi sebanyak 39 hektar. Selain budidaya mangrove, kelompok juga mendayagunakan mangrove untuk memproduksi berbagai produk seperti jamu, kecap, sabun dan berbagai variasi kosmetik. Buah mangrove untuk sirup, kue, dan coklat, daun mangrove untuk teh, sayur dan kripik. Biji mangrove untuk kecap dan propagules mangrove untuk komestik, pakan ikan. Meskipun perkembangan pendapatan kelompok belum nampak signifikan tetapi mampu memberikan pekerjaan tambahan dan meningkatkan kohesi sosial. Hal tersebut berdasarkan indikator keberhasilan community development menurut Hadi (2017:48) yang meliputi:

1) ekonomi: bahwa kegiatan community development mampu membuka lapangan kerja, lapangan usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

2) sosial: meningkatkan kualitas kesehatan, pendidikan dan kompetensi anggota

kelompok dalam mengelola kegiatan dikelompoknya

3) meningktakan kualitas lingkungan melalui pengurangan beban limbah, mengurangi penggunaan energi fosil dan sebagainya

4) ada inovasi dalam bentuk produk baru (kegiatan ikutan) atau metode baru. Misalnya kegiatan awal community development adalah budidaya mangrove, setelah mangrove berkembang menjadi hutan, diciptakan kegiatan baru.

Keterlibatan masyarakat dalam rehabilitasi maupun ekowisata memerlukan strategi pengembangan untuk mencapai keberlanjutan.

Oleh karena itu, Harahap (2001:114) menyatakan bahwa strategi pengembangan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan mangrove di antaranya dengan melakukan pembinaan, pelatihan dan bantuan usaha yang berkorelasi positif dengan partisipasi responden dalam perencanaan, penanaman, pemeliharaan dan pemanfaatan hutan mangrove. Kegiatan yang dilakukan adalah sosialisasi penyadaran masyarakat dan pendampingan kelompok hingga mandiri.

Strategi pembinaan, pelatihan, dan bantuan usaha dilakukan dalam bentuk kegiatan sosialisasi, penyadaran masyarakat dan pendampingan kelompok serta mandiri.

Langkah yang dilakukan terdiri dari persiapan, integrasi dalam masyarakat, pendidikan masyarakat, pembentukan kelompok, penguatan kapasitas kelompok, kelompok mandiri, monitoring dan evaluasi, replikasi, dan perluasan. Harahap (2001:110) juga mengemukakan beberapa kegiatan yang perlu dikembangkan agar partisipasi masyarakat dalam pengelolaan mangrove lebih optimal yaitu; meningkatkan partisipasi seluruh kelompok masyarakat (stakeholder) yang ada dalam pengelolaan mangrove desa sesuai dengan peran dan fungsinya, mendorong penetapan status tanah areal penanaman di pinggir pantai menjadi jalur hijau, mendorong Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa (BPD) membuat peraturan yang berkaitan dengan mangrove desa dan mendorong pemerintah daerah membuat peraturan daerah yang berkaitan dengan pengelolaan wilayah pesisir mangrove kabupaten. Hal tersebut berdasarkan teori Hadi (1995:26) yang menyatakan bahwa partisipasi masyarakat

(4)

47 akan membawa pengaruh positif, dimana

mereka akan bisa memahami dan mengerti berbagai permasalahan yang muncul serta memahami keputusan akhir yang diambil.

Sehingga untuk mencapai sasaran tersebut, dalam elemen partisipasi masyarakat yang harus dipenuhi adalah adanya komunikasi dua arah yang terus menerus dan informasi yang berkenaan dengan proyek, program atau kebijakan disampaikan dengan berbagai teknik yang tidak hanya pasif dan formal tetapi juga aktif dan informal.

Pada Penelitian pengelolahan ekowista magrove di Kampung Nipah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara digunakan analisis SWOT yang didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strength) dan peluang (Opportunities), namun secara bersama dapat meminimalkan kelemahan (Weakness) dan ancaman (Threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan dan strategi, dan kebijakan. Dengan demikian perencanaan strategis (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancarnan) dalarn kondisi yang ada saat ini, hal ini disebut dengan Analisis Situasi. Model paling populer untuk analisis situasi adalah analisis SWOT (Rangkuti, 2006).

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana strategis dalam pengelolahan ekowista magrove di Kampung Nipah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengelolaan dengan Analisis SWOT pada Ekowisata Mangrove Kampung Nipah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di ekowisata mangrove kapung nipah, kabupaten serdang bedagai, sumataera utara. Penelitian dilaksanakan pada 21 september 2022.

Pengambilan sampel dilakukan selama 3 Hari dengan melakukan memberikan kuesioner ke wisatawan sebanyak 20 orang dan wawancara ke pengelola wisata sebanyak 1 orang.

Metode penelitian yang digunakan adalah Purposive sampling dan Accidental sampling yang untuk mengumpulkan jawaban

responden. Adapun metode analisis isi digunakan untuk menganalisis ini dokumen terkait aspek legalitas.

Gambar 1. Foto setelah wawancara dengan pengelola ekowisata mangrove kampong nipah

Aspek legalitas dianalisis dengan menggunakan analisis isi. Analisis isi merupakan sebuah cara yang digunakan untuk menggambarkan berbagai bentuk komunikasi seperti yang terdapat pada surat kabar, film, buku dan lainnya. Dengan memakai metode ini, maka akan didapat sebuah pemahaman tentang berbagai macam isi pesan dari komunikasi yang telah disampaikan oleh media massa maupun dari berbagai sumber dengan cara yang obyektif, relevan dan terstruktur.

Untuk mengetahui strategi pengelolaan ekowisata mangrove kampung nipah dilakukan dengan menggunakan analisis

SWOT. Analisis SWOT yaitu

mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan internal pada satu sisi serta peluang dan ancaman eksternal pada sisi yang lain (Rauch et al., 2015). Adapun rumus yang digunakan untuk mengetahui keempat hal tersebut yaitu dengan membaginya menjadi dua variabel yaitu variabel x dan y. Variabel x diperoleh dari strength-weakness, sedangkan variabel y diperoleh dari opportunity – threats.

HASIL DAN PEMBAHASAN Aspek Legalitas

Dalam Saragi dan Desrita (2018) menyebutkan bahwa Struktur vegetasi mangrove di Kampung Nipah Desa Sei Nagalawan Kecamatan Perbaungan Serdang Bedagai memiliki rata-rata kerapatan yang

(5)

48 padat yakni 1230 ind/ha. Hal ini menunjukkan

bahwa kondisi mangrove di Kampung Nipah Desa Sei Nagalawan memiliki jumlah yang cukup banyak dilihat dari tingkat kerapatan jumlah vegetasi mangeove dalam satu hektar lahan. Kondisi hutan mangrove Kampung Nipah mengalami kerusakan terberat pada Tahun 1996 akibat adanya alih fungsi lahan menjadi tambak yang merusak sekitar 300 m2 hutan mangrove dirubah menjadi lahan tambak udang.

Mangrove Kampung Nipah ini merupakan ekowisata pertama yang dikelola oleh masyarakatnya sendiri, dan ini yang pertama di Indonesia. Menurut pemaparan salah satu pengelola ekowisata mangrove kampong nipah ini yaitu bapak indra, Pada tahun 2005 para nelayan secara swadaya menanam bakau di pesisir Desa Sei Nagalawan yang berada di Pantai Timur. Para nelayan tersebut memiliki tekat yang sangat kuat untuk membangun kembali pesisir yang telah rusak tanpa mengemis bantuan kepada pemerintah. Disaat para suami menanam bakau, para istri nelayan juga membuat inovasi dengan membuat produk makanan ringan secara tradisional. Dirintis sejak tahun 2004- 2009 secara swadaya masyarakat di Desa Sei Nagalawan ingin lepas darikemiskinan dan keluar dari jeratan tengkulak karena karena mereka di eksploitasi secara ekonomi dan sosial dengan bunga yang mencekik hingga 20-30%. Untuk mengatasi masalah tersebut, pada tahun 2012 para nelayan di Desa Sei Nagalawan kemudian mendirikan koperasi yang bernama Koperasi Serba Usaha (KSU) Muara Baimbai yang memiliki konsep mengelola wisata edukasi dan mangrove dengan Kampung Nipah.

Tahun 2014 mengalami perubahan peningkatan jumlah hutang mangrove khususnya Kampung Nipah melalui adanya bantuan pengembangan dari Dosen Universitas Dalam Negeri seperti Universitas Sumatera Utara, Mahasiswa dan LSM serta adanya dukungan pengembangan pariwisata berbasis ekowisata oleh Dinas Kepariwisataan Tahun 2017 mendukung pengembangan ekosistem mangrove Kampung Nipah.

Saragi (2017) menyebutkan bahwa pada kawasan ekosistem mangrove Kampung Nipah terdapat 8 jenis mangrove sejati yakni Avicennia alba, Avicennia marina, Avicennia

officinialis, Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Rhizophora stylosa, Brugiera cylindrica, dan Xylocarpus moluccensis. Banyaknya jenis vegetasi mangrove dalam ekosistem hutan mangrove

Kampung Nipah menunjukkan

keanekaragaman yang baik dan tergolong ekosistem hutan mangrove yang baik.

Gambar 2. Foto tim menunjukkan keanekaragaman mangrove di lokasi Faktor Internal dan Eksternal Pengelolaan Ekowisata Mangrove Kampung Nipah Faktor Internal Pengelolaan Mangrove

Faktor Internal pengelolaan ekowisata mangrove terdiri dari strength dan weakness.

Hasil dari strength dan weakness diperoleh dari hasil wawancara dengan pengunjung dan pengelola. Terdapat beberapa faktor internal yang merupakan daya tarik ekowisata mangrove kampong nipah. Faktor internal terdiri dari strength yaitu, terkait dengan lokasi, keamanan, kondisi lingkungan dan pemandangan alam. Pertama, lokasi yang strategis adalah kekuatan yang memiliki nilai tertinggi. Hal ini dikarenakan letak geografis dari ekowisata ini berada di pesisir Provinsi Sumatera Utara. Salah satu ekosistem mangrove tersebut berada di Kampung Nipah.

Kampung Nipah adalah kawasan wisata hutan mangrove yang berada di Desa Sei Nagalawan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Desa Wisata Mangrove dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 1,5 – 2 jam dari Kota Medan. Wisata yang sangat relatif murah dan aksesibilitas yang cukup memadai sangat mendorong wisata mangrove di Desa Sei Nagalawan ini menjadi destinasi pilihan oleh masyarakat pada saat hari libur.

(6)

49 Kemudian mengenai keamananan dari

tindak kriminal, Ekowisata ini memiliki keamanan yang cukup baik karena tempat ini dijaga oleh masyarakat setempat sebagai aparat keamanannya. Dengan keamanan yang demikian, memungkinkan para pengunjung untuk melakukan aktivitas dengan bebas dari gangguan. Ekowisata mangrove ini juga dikelilingi oleh masyarakat sekitar dimana masyarakat tersebut juga dilibatkan dalam pengelolaan wisatanya dengan memanfaatkan kearifan lokal. Dengan dilibatkannya masyarakat dalam pengelolaan tempat tersebut maka masyarakat juga menerima insentif dari hasil ekowisata. Pelibatan masyarakat lokal secara aktif harus dimulai dari tahap perencanaan hingga tahap pelaporan, dan proses ini didokumentasikan untuk mempermudah pelacakan dan replikasi di tempat lain. Pemandangan alam dan keanekaragaman tumbuhan yang juga menarik, dimana di tempat ini ditemukan berbagai jesis dari vegetasi mangrove. Lokasi ekowisata mangrove juga dekat dengan objek wisata lain, Kontribusi pemerintah dalam mengelola mangrove juga sudah diterapkan dengan baik pada lokasi ini.

Gambar 3. Analisis mangrove kampong nipah Kondisi tempat parkir, warung dan pusat informasi cukup bersih sehingga membuat para pengunjung nyaman dan puas selama berkunjung. Kenyaman pondok didekat mangrove kampung nipah juga dirasakan oleh pengunjungnya. Ditemukan pula produk

berupa keripik dari hasil olahan jenis mangrove jeruju, dan manisan dari buah mangrove buah yang dilakukan pada kelompok ibu-ibu pengelola di Kampung Nipah.

Gambar 4. Produk hasil pengolahan mangrove kampong nipah

Selain strength, faktor internal juga terdiri dari weakness yang berkaitan dengan rambu-rambu petunjuk jalan dan kondisi jembatan. Pertama, yaitu masih kurangnya rambu-rambu petunjuk jalan untuk menuju tempat wisata tersebut. pengunjung yang tidak tahu harus berjalan ke arah mana, karena pada tempat wisata terdapat beberapa jalan yang bercabang. Kedua, yaitu kondisi jembatan yang kurang memadai dikarenakan manajemen terkait daya dukung dan daya tampung tidak sesuai. Saat ini beberapa kayu pada jembatan tersebut sudah terlepas. Hal ini mengakibatkan para pengunjung menjadi kurang nyaman saat menelusuri kawasan hutan mangrove.

Contoh perhitungan pengolahan data kuesioner dan bobot untuk faktor internal : Faktor kekuatan pada No.1 didapat dari total jawaban 20 responden yaitu 2+3+4+3+4+3+3+3+4+3+4+3+2+3+4+3+2+3 +3+3 = 62, dan untuk perhitungan bobot pada faktor kekuatan No.1 didapat dari total jawaban 20 responden dibagi dengan total pengolahan data kuisioner, contoh perhitungannya yaitu Bobot = 62

663 = dibulatkan 0,95.

(7)

50 Tabel 1. Faktor Internal pengelolaan mangrove

No Faktor Kekuatan (Strength) Pengolahan data

kuesioner

Bobot 1 Lokasi ekowisata mangrove kampung nipah yang strategis 62 0,09

2 Keamanan lokasi ekowisata maangrove kampung nipah 61 0,09

3 Terdapat tumbuhan lain yang menarik disekitar 60 0,09

4 Pemandangan alam menarik di ekowisata mangrove 69 0,10

5 Kondisi parkir, warung dan pusat informasi baik dan bersih 55 0,08

6 Kenyaman pondok didekat mangrove kampung nipah 59 0,08

7 Terdapat masyarakat di sekitar mangrove dengan kearifan lokalnya yang dapat dilibatkan dalam pengelolaan mangrove

59 0,08

8 Terdapat Produk berupa keripik dari hasil olahan jenis mangrove 60 0,09

9 Kepuasan dalam penggunaan parkir dan warung sekitar 59 0,08

10 Rambu-rambu petunjuk dalam kawasan mangrove 58 0,08

11 Edukasi penanaman mangrove sebagai konservasi 61 0,09

Total Kekuatan 663 0,95

No Faktor Kelemahan (Weakness) Pengolahan data

kuesioner Bobot 1 Kondisi jembatan kurang baik sehingga menganggu kenyamanan 50 0,3 2 Kondisi tempat ibadah di kawasan ekowisata mangrove kurang

terawat 53 0,3

3 Kesadaran masyarakat terkait pembuangan sampah minim 53 0,3

Total Kelemahan 156 0,9

Faktor Eksternal Pengelolaan Mangrove Faktor eksternal pengelolaan ekowisata mangrove terdiri dari opportunity dan threats. Hasil ini diperoleh lewat wawancara dengan pengunjung dan pengelola ekowisata mangrove kampung nipah. Faktor eksternal pengelolaan mangrove disajikan pada Tabel 2. Peluang utama dalam pengelolaan objek wisata ini adalah lokasinya

yang dekat dengan objek wisata lain, seperti pantai romantic dan pantai Atp. Hal berikutnya, yaitu pemerintah berkomitmen dan masih berkontribusi untuk mengelola hutan mangrove kampong nipah. Selain opportunity, faktor eksternal juga terdiri dari threats yang berkaitan dengan pembuangan sampah masyarakat dan pembangunan infrastruktur menuju lokasi ekowisata mangrove

Tabel 2. Faktor Eksternal pengelolaan mangrove

No Faktor peluang (Opportunity) Pengolahan data

kuesioner

Bobot 1 Dekat dengan objek wisata lain

Cth: pantai romantis

62 0,5

2 Kontribusi pemerintah untuk mengelola mangrove 61 0,4

Total Peluang 123 0,9

No Faktor ancaman (Threat) Pengolahan data

kuesioner Bobot

1 Pembuangan sampah di hilir 47 1

Total Ancaman 47 1

Contoh perhitungan pengolahan data kuesioner dan bobot untuk faktor eksternal:

Faktor peluang pada No.1 didapat dari total jawaban 20 responden yaitu 2+3+4+3+4+3+3+3+4+3+4+3+2+3+4+3+2+3

+3+3 = 62, dan untuk perhitungan bobot pada faktor peluang No.1 didapat dari total jawaban 20 responden dibagi dengan total pengolahan data kuisioner, contoh perhitungannya yaitu Bobot = 62

123 = dibulatkan 0,5.

(8)

51 Perhitungan Matriks Internal Strategic

Factors Analysis Summary (IFAS)

Perhitungan matrik IFAS merupakan perhitungan untuk menentukan bobot, rating dan skor dimana jumlah bobot tidak melebihi

jumlah 1,00, dan menghitung nilai rating masing-masing faktor dengan memberikan skala 1 (dibawah rata-rata/tidak penting) sampai dengan 4 sangat baik. Berikut adalah tabel hasil perhitungan matrik IFAS.

Tabel 3. Perhitungan Matrik Internal Strategic Factor Analisis Summary (IFAS)

No Faktor Kekuatan (Strength) Bobot Rating Skor

1 Lokasi ekowisata mangrove kampung nipah yang strategis 0,09 3 0,27

2 Keamanan lokasi ekowisata maangrove kampung nipah 0,09 3 0,27

3 Terdapat tumbuhan lain yang menarik disekitar 0,09 3 0,27

4 Pemandangan alam menarik di ekowisata mangrove 0,10 3 0,3

5 Kondisi parkir, warung dan pusat informasi baik dan bersih 0,08 2 0,24

6 Kenyaman pondok didekat mangrove kampung nipah 0,08 2 0,24

7 Terdapat masyarakat di sekitar mangrove dengan kearifan lokalnya yang dapat dilibatkan dalam pengelolaan mangrove

0,08 2 0,24

8 Terdapat Produk berupa keripik dari hasil olahan jenis mangrove 0,09 3 0,27

9 Kepuasan dalam penggunaan parkir dan warung sekitar 0,08 2 0,24

10 Rambu-rambu petunjuk dalam kawasan mangrove 0,08 2 0,24

11 Edukasi penanaman mangrove sebagai konservasi 0,09 3 0,27

Total Kekuatan 663 28 2,61

No Faktor Kelemahan (Weakness) Bobot Rating Skor

1 Kondisi jembatan kurang baik sehingga menganggu kenyamanan 0,3 0,02 0,006 2 Kondisi tempat ibadah di kawasan ekowisata mangrove kurang

terawat 0,3 0,02 0,006

3 Kesadaran masyarakat terkait pembuangan sampah minim 0,3 0,02 0,006

Total Kelemahan 0,9 0,06 0,018

Contoh perhitungan bobot, rating dan skor kekuatan pada No.1 :

-Perhitungan bobot untuk faktor kekuatan didapat dari total jawaban 20 responden dibagi dengan total perhitungan data kuesioner IFAS dilihat pada tabel 3 dengan hasil Bobot = 62 : 663 = 0,95.

-Perhitungan rating untuk faktor peluang kekuatan didapat dari total jumlah jawaban 20 responden dibagi dengan jumlah responden.

Perhitungan sebagai berikut : Rating = 62 : 20 = 3.

-Perhitungan skor untuk faktor kekuatan didapat dari perkalian bobot dan Rating.

Perhitungannya adalah Bobot x Rating = 0,09 x 3 = 0,27.

Perhitungan Matriks Eksternal Strategic Factors Analysis Summary (EFAS)

Perhitungan matrik EFAS sama halnya dengan matrik IFAS yaitu untuk menentukan bobot, rating dan skor dimana jumlah bobot tidak melebihi jumlah 1,00, dan menghitung nilai rating masing-masing faktor dengan memberikan skala 1 (dibawah rata-rata/tidak penting) sampai dengan 4 sangat baik. Berikut adalah tabel hasil perhitungan matrik EFAS.

Nilai rating kekuatan dan kelemahan selalu bertolak belakang, begitu juga dengan peluang dan ancaman. Hasil analisis dari EFAS dapat dilihat pada tabel 4. berikut.

No Faktor Peluang (Opportunity) Bobot Rating Skor

1 Dekat dengan objek wisata lain Cth: pantai romantis

0,5 3 1,5

2 Kontribusi pemerintah untuk mengelola mangrove 0,4 3 1,5

(9)

52

Total Peluang 0,9 6 3

No. Faktor Ancaman (Threat) Bobot Rating Skor

1 Pembuangan sampah di hilir 1 2 2

Total Ancaman 1 2 2

Contoh perhitungan bobot, rating dan skor peluang pada No.1 :

-Perhitungan bobot untuk faktor peluang didapat dari total jawaban 20 responden dibagi dengan total perhitungan data kuesioner IFAS dilihat pada tabel 3 dengan hasil Bobot = 62 : 123 = 0,5.

-Perhitungan rating untuk faktor peluang didapat dari total jumlah jawaban 20 responden dibagi dengan jumlah responden.

Perhitungan sebagai berikut : Rating = 62 : 20 = 3.

-Perhitungan skor untuk faktor kekuatan didapat dari perkalian bobot dan Rating.

Perhitungannya adalah Bobot x Rating = 0,5 x 3 = 1,5.

Maka total hasil perhitungan skor matriks IFAS dan EFAS adalah sebagai berikut :

• Total skor kekuatan (strengths) = 2,61.

• Total skor kelemahan (weaknesses) = 0,018

• Total skor peluang (opportunities) = 3

• Total skor ancaman (threats) = 2 Dari hasil perhitungan pada faktor–

faktor tersebut maka dapat dirumuskan koordinatnya. Rumus untuk mencari titik koordinatnya yaitu sebagai berikut : (x,y)

Untuk mencari koordinatnya, dapat dicari dengan cara sebagai berikut :

• Koordinat analisis internal ; koordinat analisis eksternal

= 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑘𝑒𝑘𝑢𝑎𝑡𝑎𝑛−𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑘𝑒𝑙𝑒𝑚𝑎ℎ𝑎𝑛

2 :

𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑝𝑒𝑙𝑢𝑎𝑛𝑔−𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑎𝑛𝑐𝑎𝑚𝑎𝑛 2

= 𝑆−𝑊

2 : 𝑂−𝑇

2

=

2,61−0,018 2 : 3−2

2

= 1,3 : 0,5

• Jadi, titik koordinatnya terletak pada (1,3 ; 0,5)

Strategi Pengelolaan Ekowisata Mangrove Analisis yang telah dilakukan dengan menggunakan matriks SWOT yaitu dengan adanya kombinasi antara faktor internal maupun faktor eksternal menunjukkan bahwa Kawasan wisata tersebut terletak pada kuadran 1. Dalam teknik analisis SWOT, kinerja pengelolaan ditentukan dari adanya kombinasi faktor internal dan faktor eksternal.

Hal yang dapat dilakukan pada kuadran 1, yaitu menciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Strategi sangat diperlukan dalam perencanaan pengelolaan hutan mangrove yang efektif dan efisien, agar mencapai tujuan pengelolaan hutan mangrove berkelanjutan yang dapat mengakomodir kepentingan ekologi, ekonomi dan sosial (Karlina et al., 2016).

Menyiapkan infrastruktur sebagai penunjang pengembangan tempat wisata merupakan strategi prioritas pertama yang harus dilaksanakan. Keberhasilan wisata mangrove dapat disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor yaitu aksesibilitas dan ketersediaan program wisata mangrove (Hakim et al., 2017). Infrastruktur yang dimaksud adalah jembatan yang masih dalam keadaan rusak, toilet yang tidak bersih dan kurangnya penyediaan tempat pembuangan sampah di kawasan ekowisata mangrove kampung nipah. Pengertian Infrastruktur, menurut American Public Works Association (Stone,1974 dalam Kodoatie, R.J.,2005) infrastruktur adalah fasilitas-fasilitas fisik yang dikembangkan atau dibutuhkan oleh agen-agen publik untuk fungsifungsi pemerintahan dalam penyediaan air, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi dan pelayanan-pelayanan similar untuk memfasilitasi tujuan-tujuan sosial dan ekonomi. Berdasarkan pengertian infrastruktur tersebut maka infrastruktur merupakan sistem fisik yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup sosial dan ekonomi.

(10)

53 Selain fasilitas umum dan fasilitas

pendukung, aksesibilitas menuju ekowisata mangrove juga perlu perhatian khusus. Hal ini dikarenakan jalan menuju ekowisata terlihat masih belum diperbaiki atau banyak jalan

berlubang. Kedua yaitu, berkaitan dengan pengelolaan sampah dengan sistem terpadu berbasis community- based management.

Sistem ini melibatkan masyarakat sekitar untuk berperan aktif.

No Peluang (Opportunities) Strategi S – O Strategi W - O 1 Dekat dengan objek

wisata lain, cth: pantai romantis

Pengembangan pariwisata dengan melibatkan masyarakat dan kearifan lokal.

Melakukan pengelolaan sampah dengan sistem terpadu berbasis communit- based management serta melibatkan masyarakat

2 Pemerintah

berkomitmen untuk mengelola hutan mangrove

Menyiapkan infrastruktur sebagai penunjang

pengembangan tempat wisata

Meningkatkan infrastruktur terkait aksesibilitas agar bus bisa masuk ke tempat wisata tersebut.

Meningkatkan diversifikasi ODTW (Objek Daya Tarik Wisata)

No Ancaman (Threats) Strategi S – T Strategi W - T 1 Pembuangan

sampah/limbah di daerah hilir

Membuat Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di pemukiman, dan bekerja sama dengan masyarakatsekitar.

Meningkatkan infrastruktur yang mendukung fasilitas umum dan fasilitas pendukung

No Peluang (Opportunities) Strategi S – O Strategi W – O 1 Dekat dengan objek wisata

lain, cth: pantai romantis

Pengembangan pariwisata dengan melibatkan masyarakat dan kearifan lokal.

Melakukan pengelolaan sampah dengan sistem terpadu berbasis communit- based management serta melibatkan masyarakat

2 Pemerintah berkomitmen untuk mengelola hutan Mangrove

Menyiapkan infrastruktur sebagai penunjang

pengembangan tempat wisata

Meningkatkan infrastruktur terkait aksesibilitas agar bus bisa masuk ke tempat wisata tersebut.

Meningkatkan diversifikasi ODTW (Objek Daya Tarik Wisata)

No Ancaman (Threats) Strategi S – T Strategi W – T

1 Pembuangan

sampah/limbah di daerah hilir

Membuat Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di pemukiman, dan bekerja sama dengan masyarakatsekitar.

Meningkatkan infrastruktur yang mendukung fasilitas umum dan fasilitas pendukung

Ketiga, mengenai peningkatan diversifikasi ODTW (objek daya tarik wisata). Melihat fenomena generasi milenial zaman ini yang cenderung dinamis, maka diperlukan sebuah inovasi atau terobosan yang dilakukan oleh pihak pengelola untuk menarik perhatian para pengunjung. Berbagai macam cara dapat dilakukan, dalam penelitian kali ini peneliti memfokuskan pada hal- hal yang instan

(artificial) namun tidak mengurangi konsep alam (nature) mengingat kawasan ini merupakan kawasan konservasi. Maka terobosan yang pertama hendak diprioritaskan adalah sebuah tempat yang nyaman dan memiliki konsep artistik, dengan menambah tempat swafoto.

(11)

54 Solusi Mengatasi Perbaikan Jembatan yang

Rusak di Ekowisata Mangrove

Pada kawasan ekowisata mangrove memiliki permasalahan infrastruktur terlihat pada jembatan kawasan ekowisata mangrove yang sudah rusak, kurang memadai. Padahal seharusnya keadaan infrastruktur di suatu kawasan ekowisata itu harus berkualitas agar tingkat kunjungan pada ekowisata mangrove meningkat. Dikarenakan ekowisata mangrove yang berada pada Kampung Nipah, Kabupaten Serdang Berdagai terdapatnya masalah pada bagian infrastruktur. Dapat terlihat jelas pada jembatan untuk akses menuju kawasan mangrove yang sudah tidak memadai untuk di akses para wisatawan.

Kondisi jembatan yang kurang memadai dikarenakan manajemen terkait daya dukung dan daya tampung yang tidak seuai.

Saat ini beberapa kayu pada jembatan sudah terlepas yang dapat membahayakan para pengunjung. Maka dari itu perlu perbaikan pada jembatan yang menjadi akses menuju kawasan mangrove tersebut. Perbaikan yang dapat dilakukan oleh pihak pemerintah ataupun masyarakat sekitar itu seperti pembangunan jembatan dengan pondasi yang lebih kuat agar tetap dapat digunakan dalam kurun waktu yang lama. Seperti menggunakan beton yang tahan akan air. Lalu pihak pengelola dapat merubah jalur untuk mengakses kawasan mangrove tersebut dengan mengalihkannya agar ekosistem mangrove tersebut tidak rusak.

Solusi Mengatasi Kekurangan Petunjuk Jalan ke Lokasi Ekowisata Mangrove

Jalan menuju lokasi ekowisata mangrove kampong nipah masih kekurangan petunjuk jalan, sehingga banyak wisatawan bingung menuju lokasi. Maka dari itu masyarakat setempat bekerjasama dengan pemerintah daerah harus membuat papan petunjuk jalan yang dapat ditempatkan pada sepanjang jalan besar pantai kelang. Papan petunjuk jalan tersebut menginformasikan jarak km beserta arahnya menuju ekowisata mangrove kampung nipah.

Strategi meningkatkan sosialisasi dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan ekowisata

Pengembangan berdasarkan konsep pembangunan pariwisata berkelanjutan atau ekowisata menekankan adanya sikap berwisata yang positif dan bertanggung jawab terhadap lingkungan, baik dari perspektif wisatawan, pengelola maupun masyarakat. Keberhasilan pembangunan ekowisata akan tercermin dari penerapan sikap tersebut dalam pengembangan berbagai jenis potensi wisata yang ada di Pekalongan seperti agrowisata, wisata spiritual, wisata gunung, wisata pedesaan, wisata peninggalan sejarah dan wisata berbasis kegiatan budaya.

Indikator keberhasilan pembangunan pariwisata yang menganut asas berkelanjutan tidak semata diukur dari perspektif ekonomi (meningkatkan devisa atau Pendapatan Asli Daerah) yang dilegitimasi oleh lamanya kunjungan (length of stay) serta eksploitasi lingkungan alam untuk pariwisata, namun perlu dilandasi dengan visi kelestarian dan pemberdayaan, yang arahnya kepada kelestarian sumber daya alam dan lingkungan serta penghargaan pada nilai-nilai sosiokultural kemasyarakatan.

Ekowisata berbasis masyarakat adalah peluang, tetapi untuk daerah Pekalongan masih butuh waktu. Masyarakat Pekalongan tidak melihat ekowisata sebagai upaya pelestarian alam dan budaya yang nyata tetapi sama saja dengan pariwisata massal atau mass tourism.

Strategi dalam peningkatan peran serta masyarakat terhadap peningkatan potensi pariwisata dalam upaya pengembangan ekowisata adalah:

1. Memperkenalkan dan mensosialisasikan konsep ekowisata secara terbuka kepada masyarakat untuk menumbuhkan pemahaman tentang ekowisata. Sosialisasi dimaksudkan agar semua pihak yang berkepentingan (stakeholders) mempunyai kesamaan bahasa, gerak dan langkah sehingga dapat mencapai sasaran, baik dari segi wisata alam, pelestarian lingkungan maupun pemberdayaan masyarakat lokal. Selain dari pada itu masyarakat diyakinkan bahwa ekowisata akan dapat meningkatkan pendapatan mereka yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan daerah. Inisiatif dan aspirasi masyarakat menjadi ilham untuk mengembangkan serangkaian kegiatan nil

(12)

55 yang dapat diterima dan dikembangkan

oleh masyarakat bersama pihak yang mendukungnya. Dalam pelaksanaan sosialisasi masyarakat didampingi Lembaga Swadaya Masyarakat agar masyarakat dapat memahami konsep ekowisata secara utuh, benar dan terbuka.

2. Meningkatkan keyakinan masyarakat bahwa pengembangan ekowisata dapat meningkatkan ekonomi mereka dan hal ini dapat dicapai dengan menjaga kelestarian lingkungan.

3. Membuat kesepakatan kerjasama pengembangan ekowisata dengan instansi terkait. Dengan susunan kelembagaan terdiri dari tim koordinasi yang terdiri atas Tim Teknis, Tim Pembina dan sekretariat yang keanggotaannya terdiri dari seluruh stakeholders di tingkat kabupaten, provinsi yang mempunyai tugas,

4. Mengikutsertakan masyarakat secara aktif dalam penyusunan rencana pengembangan ekowisata Pekalongan mulai dari perencanaan, pelaksanaan serta monitoring dan evaluasinya hal ini dimaksudkan agar masyarakat secara tidak langsung merasa menikmati dan memilikinya.

5. Memberikan penyuluhan tentang konservasi kepada masyarakat secara menyeluruh tidak hanya segelintir orang saja, sehingga masyarakat luas dapat memahami sendiri dan akhirnya mempercayai. Masyarakat diajak membuat demplot atau contoh lahan yang di olah dengan sistem pertanian terasering yang memperhatikan konservasi tanah dan lahan di setiap dusun sebagai contoh konkret dan masyarakat menjadi tertarik untuk menirunya.

6. Mengaktifkan dan mengefektifkan pertemuan forum/wadah masyarakat Pekalongan.

7. Menyusun rencana pengelolaan ekowisata, dimana pemerintah bertindak sebagai fasilitalor atau pengelola Sumber Daya Alam melalui kegiatan perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan secara lestari, berkesinambungan dan berwawasan lingkungan. Hal ini tentu saja perlu kebijaksanaan yang berupa undang- undang, Peraturan Pemerintah, Surat Keputusan maupun Juklak dan Juknis dalam rangka legalitas dan dasar hukum

dalam pengembangan ekowisata. Selain itu juga pemerintah bertindak sebagai pengatur/organizer untuk mencapai tujuan pemanfaatan secara lestari dan berkesinambungan sesuai konsep strategi.

8. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia dengan memberikan pelatihan 9. Mengembangkan dan mendorong bentuk

usaha koperasi pariwisata bagi semua kegiatan jasa kepariwisataan tidak hanya pemilik homestay saja tetapi juga pemandu wisatal interpreter, kelompok kesenian, agrowisata.

10. Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam mengelola ekowisata dengan melakukan studi banding untuk mempelajari dan melihat langsung model pengelolaan ekowisata yang ada di daerah lain yang lebih dulu mengembangkan daya tarik ekowisata.

Gambar papan informasi dan bacaan mangrove didalam kawasan ekowisata mangrove kampong nipah sebagai berikut:

SIMPULAN

Strategi pengembangan ekowisata mangrove akan di analisis mengunakan

(13)

56 analisis SWOT yang meliputi, Strength

(kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunities (peluang), Threat (ancaman).

SWOT merupakan suatu analisis straegi yang menggambarkan kesesuian antara sumber daya yang dimiliki (kekuatan dan kelemahan) dengan kondisi lingkungan (peluang dan ancaman), dimana dari kesesuaian tersebut memiliki fungsi untuk memaksimalkan kekuatan dan peluang serta meminimalisir kelemahan dan ancaman. Untuk mengatasi masalah tersebut, pada tahun 2012 para nelayan di Desa Sei Nagalawan kemudian mendirikan koperasi yang bernama Koperasi Serba Usaha (KSU) Muara Baimbai yang memiliki konsep mengelola wisata edukasi dan mangrove dengan Kampung Nipah.

Tahun 2014 mengalami perubahan peningkatan jumlah hutang mangrove khususnya Kampung Nipah melalui adanya bantuan pengembangan dari Dosen Universitas Dalam Negeri seperti Universitas Sumatera Utara, Mahasiswa dan LSM serta adanya dukungan pengembangan pariwisata berbasis ekowisata oleh Dinas Kepariwisataan Tahun 2017 mendukung pengembangan ekosistem mangrove Kampung Nipah.

REKOMENDASI

Sarana dan prasarana salah satu hal yang menjadi faktor utama dalam meningkatkan minat wisatawan.

DAFTAR PUSTAKA

Manihuruk, A. Q. D. T., Restu, I. W., & Kartika, I.

W. D. (2022). Strategi Pengelolaan Ekowisata Mangrove Berbasis Konservasi pada Objek Wisata Alam Trekking di Tahura Ngurah Rai, Bali. Current Trends in Aquatic Science, 4(2), 133-140.

Mulyadi, E., & Fitriani, N. (2010). Konservasi Hutan Mangrove sebagai Ekowisata. Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan , 2(1), 11-18.

Susiana, S. (2015). Analisis kualitas Air Ekosistem Mangrove di Estuari Perancak, Bali. Agrikan:

Jurnal Agribisnis Perikanan, 8(1), 42-49.

Susiana, S. (2015). Analisis kualitas Air Ekosistem Mangrove di Estuari Perancak, Bali. Agrikan:

Jurnal Agribisnis Perikanan, 8(1), 42-49.

Nguyen, T. P., Tam, N. V., Quoi, L. P., & Parnell.

K. E. (2016). Community perspectives on an internationally funded mangrove restoration project: Kien Giang Province, Vietnam.

Ocean and Coastal Management, 119 (15), 146-154.

Feka, Z. N. (2015). Sustainable management of mangrove forest in West Africa: A nem policy perspective. Ocean and Coastal Management, 116(46), 341-352.

Sudiarta, M. (2006). Ekowisata Hutan Mangrove:

Wahana Pelestarian Alam dan Pendidikan Lingkungan. Jurnal Manajemen dan Pariwisata II, 5(1), 1-25.

Samosir, D. D., & Restu, R. Analisis Manfaat Hutan Mangrove di Desa Tanjung Rejo Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Tunas Geografi, 6(1), 1-15.

Saputro, A., Nyompa, S., & Arfan, A. (2019).

Analisis Pemanfaatan Hutan Mangrove dan Kontribusinya Terhadap Pendapatan Rumah Tangga Masyarakat di Pulau Tanakeke Kabupaten Takalar. LaGeografia, 18(1), 70- 81.

Saragi, S. M., & Desrita, D. (2018). Ekosistem mangrove sebagai habitat kepiting bakau (Scylla Serrata) di Kampung Nipah Desa Sei Nagalawan Kecamatan Perbaungan Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara. DEPIK Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan, 7(1), 84-90.

Sekartjakrarini. (2009). Kriteria Dan Indikator Ekowisata Indonesia. Bogor: IdeA.

Wahyuni, S. (2015). Strategi Pengembangan Ekowisata Mangrove Wonorejo, Kecamatan Rungkut Surabaya. Management Of Aquatic Resoures,66-68.

Joandani, Ghea Ken Joandani, Rudhi Pribadi, and Chrisna Adhi Suryono. "Kajian potensi pengembangan ekowisata sebagai upaya konservasi mangrove di Desa Pasar Banggi, Kabupaten Rembang." Journal of marine Research 8.1 (2019): 117-126.

Martuti, Nana Kariada Tri, et al. "Peran kelompok masyarakat dalam rehabilitasi ekosistem mangrove di pesisir Kota Semarang." Jurnal Wilayah dan Lingkungan 6.2 (2018): 100- 114.

Dewi, Sri Murni, Kalista Dobana, and Achfaz Zacoeb. Keandalan Struktur dan Infrastruktur.

Universitas Brawijaya Press, 2018.

Widyaputra, Primanda Kiky. "Penerapan Infrastruktur Hijau Di Berbagai Negara:

Mendukung Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Lingkungan." (2020).

Referensi

Dokumen terkait

Nilai Moneter Serapan Karbon Vegetasi Mangrove Hasil analisis spasial diketahui bahwa, luas Kawasan Ekowisata Mangrove Bagek Kembar yang tertutupi oleh vegetasi mangrove sekitar 43,95

[r]