Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Batasan dan Asumsi Penelitian
- Batasan Penelitian
- Asumsi Penelitian
Maintenance (Pemeliharaan)
Care atau pemeliharaan adalah kegiatan melakukan pemeliharaan terhadap pengoperasian suatu fasilitas atau mesin untuk menjaga agar fasilitas atau mesin tersebut tetap dalam kondisi dan kinerja yang baik serta selalu siap digunakan sesuai kebutuhannya. Pemeliharaan merupakan kegiatan berulang-ulang untuk menjaga peralatan tetap dalam kondisi seperti kondisi awalnya (Putra et al., 2020). Menurut Ilhamsyah (2012), kegiatan pemeliharaan adalah suatu kegiatan merawat peralatan pabrik atau perusahaan serta melakukan pemeliharaan servis atau perbaikan serta penggantian suku cadang jika diperlukan untuk kegiatan produksi dalam perusahaan.
Menurut Pramudhita (2021) pemeliharaan dapat diartikan sebagai setiap kegiatan pemeliharaan peralatan dan mesin agar kinerja mesin bekerja secara maksimal. Dalam pemeliharaan suatu fasilitas/mesin diperlukan manajemen pemeliharaan agar pemeliharaan tersebut dievaluasi dan dikendalikan dengan baik agar mesin dapat bekerja dengan efektifitas yang baik dan tujuan perusahaan tercapai.
Jenis-Jenis Maintenance (Pemeliharaan)
- Planned Maintenance (Pemeliharaan Terencana)
- Unplanned Maintenance (Perawatan Tidak Terencana)
Pemeliharaan tidak terjadwal adalah suatu tindakan atau kegiatan pemeliharaan yang prosedur pemeliharaan atau pemeriksaannya harus dilakukan sekaligus untuk menghindari akibat yang lebih fatal, seperti: terhentinya proses produksi, kerusakan serius pada mesin, demi keselamatan atau keselamatan pekerja. Pemeliharaan preventif merupakan kegiatan pemeliharaan yang bertujuan untuk mencegah kerusakan yang tidak disengaja dan mengidentifikasi kondisi yang dapat menyebabkan kerusakan pada fasilitas produksi selama produksi (Hutauruk, 2021). Pemeliharaan preventif sangat efektif dalam menyelesaikan permasalahan pada fasilitas produksi yang masuk dalam kategori unit kritis.
Pemeliharaan korektif yaitu kegiatan pemeliharaan yang dilakukan setelah terjadi masalah atau kerusakan pada peralatan atau fasilitas yang mengakibatkan hilangnya fungsi dari fasilitas dan peralatan tersebut, sehingga tidak dapat berfungsi sesuai urutan prioritas pada keadaan darurat. Pemeliharaan prediktif merupakan pemeliharaan yang dilakukan untuk mempertimbangkan kondisi komponen dengan mendeteksi indikasi kegagalan.
Waste (Pemborosan)
Jenis Waste
Proses yang tidak memadai adalah proses berlebihan yang terjadi ketika suatu produk diproduksi melebihi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Selain itu, pemrosesan yang tidak tepat melibatkan penggunaan peralatan yang lebih presisi atau rumit dibandingkan yang diperlukan untuk memproduksi produk. Pergerakan berlebih adalah setiap pergerakan mesin atau manusia yang tidak menambah nilai pada produk akhir yang diserahkan kepada pelanggan, hanya biaya dan waktu.
Pengukuran Kinerja
Overall Measure of Maintenance Performance (OMMP)
- Gambaran Konsep Metode Overall Measure of Maintenance
Ukuran umum kinerja pemeliharaan (Davies & Greenough, 2010) merupakan hasil ringkasan dari dua metode pengukuran fungsi variabel pemeliharaan (Di & Batanghari, 2017) dan ukuran dasar kinerja pemeliharaan (Yusra et al., 2018). Dalam metodologi Pengukuran Kinerja Pemeliharaan Keseluruhan (OMMP), ada tiga perspektif yang memberikan informasi tentang bagaimana data dapat diperoleh dan bagaimana data tersebut dapat dipahami dengan mudah. Metode Overall Measure of Maintenance Performance (OMMP) mempunyai 3 perspektif utama yaitu perspektif administrasi, efektivitas dan biaya.
Pada konsep Overall Measure of Maintenance Performance (OMMP), dimensi-dimensi yang ada nantinya divalidasi berdasarkan kondisi nyata di perusahaan. Dengan mengetahui bobot masing-masing indikator, maka setiap indikator dihitung berdasarkan rumus metode Overall Measure of Maintenance Performance (OMMP).
Indikator Performansi Dalam Overall Measure of Maintenance
Nilai indeks indikator ini sebaiknya diminimalkan karena berkaitan dengan tingkat ketersediaan mesin produksi dan keluaran produk. Metrik ini menggambarkan tingkat efektivitas pemeliharaan, sehingga semakin efisien pemeliharaan dilakukan, semakin produktif dan tersedia mesin produksi. Hal ini berkaitan dengan tujuan produksi atau kerusakan yang secara langsung dapat mempengaruhi ketersediaan mesin produksi.
Akibat pemeliharaan yang tidak terencana, persiapan tidak dapat dilakukan dengan cepat sehingga berdampak pada ketersediaan mesin produksi. Metrik ini menjelaskan berapa banyak suku cadang yang dikembalikan ke gudang dan oleh karena itu dapat digunakan untuk menentukan tingkat frekuensi yang digunakan dalam perbaikan agar mobil produksi tetap tersedia.
Key Performance Indikator (KPI)
Biaya pemeliharaan mempengaruhi hasil produksi karena besarnya biaya pemeliharaan sebanding dengan banyaknya kegiatan pemeliharaan pada mesin produksi. Output yang dihasilkan tergantung dari pengoperasian mesin produksi, biaya pemeliharaan meliputi suku cadang, tenaga kerja, peralatan dan perlengkapan. Meskipun mengukur kinerja secara kualitatif memerlukan banyak waktu dan biaya, pilihan apakah akan menggunakan indikator kuantitatif atau kualitatif bergantung pada kebutuhan dan karakteristik organisasi.
Informasi, sumber data yang akan digali dan bagaimana data tersebut diperoleh menjadi indikator kinerja KPI dengan ukuran kuantitatif dan kualitatif dapat diperoleh dengan mudah. Bagi indikator kinerja yang tidak memenuhi seluruh kriteria tersebut, maka tidak boleh dijadikan KPI, atau bahkan diwajibkan menjadi indikator kinerja.
Analytical Hierarchy Process (AHP)
- Prinsip-Prinsip Dasar Metode AHP
- Langkah-Langkah Dalam Metode AHP
- Skala Penilaian Perbandingan
- Pengukuran Konsistensi AHP
Dalam metode AHP ini, dua elemen akan dibandingkan dengan seluruh elemen yang terkandung dan kemudian dilakukan analisis prioritas terhadap elemen tersebut. Langkah-langkah metode AHP diawali dengan menyusun suatu masalah dan membentuk hierarki sehingga membentuk perbandingan berpasangan antar elemen. Ketika suatu elemen didukung oleh pengalaman dan penilaian dibandingkan dengan elemen lainnya.
Ketika satu elemen didukung oleh pengalaman dan penilaian yang lebih kuat dibandingkan elemen lainnya. Ketika nilai eigenvalue mendekati nilai matriks, maka matriks yang dihitung pada Consistency Ratio (CR) akan semakin besar, seperti pada rumus (2-23).
Objective Matrix (OMAX)
Pada tahap definisi, hal ini dilakukan dengan mengidentifikasi kriteria yang diikuti serta mengidentifikasi kriteria yang sesuai dengan standar dan kinerja. satu. Pada tahap Kuantifikasi merupakan badan matriks yang memuat unsur-unsur matriks yang memuat tingkat pencapaian kriteria yang diamati. satu. Skor tersebut menunjukkan kinerja KPI yang diukur berdasarkan matriks standar yang digunakan, yaitu dari 1 hingga 10.
Menunjukkan bobot KPI yang akan diukur. Bobot ini mempunyai pengaruh berbeda terhadap kriteria yang dirasakan. Nilai Menampilkan hasil perkalian skor kinerja KPI yang ada dengan bobot KPI.
Traffic Light System
Overall Resources Effectiveness (ORE)
Overall Resource Effectiveness (ORE) merupakan satu-satunya metode yang dapat menggambarkan gambaran lengkap produksi dan output. Pada gambar 2.3 di bawah ini merupakan model keseluruhan sumber daya efektivitas (ORE), sedangkan pada tabel 2.2 disajikan klasifikasi faktor kerugian yang termasuk dalam penilaian efektivitas sumber daya keseluruhan (ORE). Hilangnya kesiapan yang terjadi akibat downtime/persiapan mesin atau fasilitas yang direncanakan.
Kerugian terjadi karena tidak adanya bahan baku, suku cadang komponen, sub rakitan/WIP. Kerugian terjadi karena kinerja operator, hilangnya kecepatan atau akurasi, serta masalah terkait ergonomi.
Evaluasi Overall Resources Effectiveness (ORE)
Ketersediaan fasilitas atau ketersediaan fasilitas berkaitan dengan total waktu sistem mati akibat kegagalan fasilitas. Ketersediaan material (Am) merupakan perhitungan waktu aktivitas pada saat sistem berhenti dan tidak bekerja karena kekurangan stok material. Ketersediaan tenaga kerja dapat diartikan sebagai total waktu sistem mati akibat tidak adanya operator yang mengoperasikannya.
Skala kualitas merupakan indikator kualitas produk yang dihasilkan oleh suatu perusahaan. Tingkat kualitas adalah perbandingan antara kualitas suku cadang yang diterima dengan kualitas suku cadang yang diproduksi, dan merupakan perbandingan antara kualitas suku cadang yang diterima dengan kualitas suku cadang yang diproduksi. Jumlah suku cadang yang diterima=Jumlah yang diproduksi−Jumlah yang ditolak Tingkat kualitas(Q)=(Kualitas suku cadang yang diterima.Kualitas suku cadang yang diproduksi).
Hubungan Overall Resourcess Effectiveness (ORE) dan Overall Measure
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ORE yang diusulkan akan berguna bagi organisasi saat ini untuk memulai kegiatan perbaikan guna meningkatkan kinerja sumber daya secara keseluruhan dengan mengidentifikasi masalah yang sebenarnya (berdasarkan faktor-faktor yang diusulkan) dan dengan demikian mencapai keunggulan bisnis dengan pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara efektif. . Jadi pada ORE ini perhitungan dilakukan secara komprehensif yaitu seluruh sumber daya yang ada, sehingga Anda dapat mengetahui efisiensi sumber daya yang Anda miliki secara keseluruhan. 7 Perspektif Kesiapan Bijih, Ketersediaan Fasilitas, Efisiensi Peralihan, Ketersediaan Bahan, Ketersediaan Tenaga Kerja, Efisiensi Kinerja dan Tingkat Kualitas.
Sedangkan General Maintenance Performance Measure adalah metode pemeliharaan yang menjaga kualitas kegiatan produksi dan kinerja pabrik secara keseluruhan untuk memenuhi tujuan bisnis perusahaan. Overall Resource Effectiveness (ORE) dan Overall Measure of Maintenance Performance (OMMP) mempunyai keterkaitan yang sangat erat, yaitu kedua metode tersebut mempunyai perspektif dalam satu kesatuan umum sehingga banyak yang mempunyai perspektif yang sama, seperti pekerja dimensi tenaga pada dimensi administrasi pemeliharaan. , dalam manajemen dan efektivitas pemeliharaan sama dengan efisiensi kinerja, yang juga bertepatan dengan efektivitas pemeliharaan dilihat dari metode OMMP, dengan metode penelitian yang berbanding lurus antara kedua metode tersebut.
Kajian Pustaka
Tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa dimensi tenaga kerja (M) mempunyai nilai penting 4,333 kali lipat dibandingkan dimensi tugas kerja (WR). Pada tabel 4.9 di atas terlihat bahwa KPI overtime (A12) mempunyai nilai penting 2,667 kali lipat dibandingkan dengan KPI pemeliharaan prediktif dan preventif (A14). Data total biaya pemeliharaan terencana dan tidak terencana dapat dilihat pada tabel 4.3 dengan nilai Rp.
Sedangkan jumlah kejadian pada kegiatan pemeliharaan kerusakan mesin dapat dilihat pada Tabel 4.1 dengan nilai 15 pekerjaan.
Jenis Penelitian
Antika Raya-Surabaya dan melakukan evaluasi pengoperasian sistem pemeliharaan, yang akan dijadikan bahan pengambilan keputusan perusahaan dalam meningkatkan pengoperasian sistem pemeliharaan. Tujuan dari penelitian deskriptif adalah menganalisis fakta-fakta yang ada dan berdasarkan kondisi pemeliharaan yang ada di perusahaan, kemudian mencoba memberikan rekomendasi perbaikan terhadap sistem pemeliharaan yang ada di PT.
Tempat dan Waktu Penelitian
Langkah-Langkah Penelitian
Studi literatur adalah suatu metode yang dilakukan dengan cara mempelajari bacaan literatur untuk memperoleh sumber informasi yang berkaitan dengan bisnis yang menjadi subjek penelitian. Melalui metode penelitian kepustakaan ini peneliti memperoleh suatu teori mengenai permasalahan utama dalam penelitian yaitu kegiatan perusahaan dalam memelihara sistem pemeliharaan. Identifikasi masalah dapat diartikan sebagai tahap awal dalam mencari solusi atas permasalahan dan permasalahan yang timbul pada sistem manajemen pemeliharaan perusahaan yang ada.
Setelah mengidentifikasi masalah, kegiatan selanjutnya adalah merumuskan masalah yang muncul sesuai dengan kenyataan di lapangan, yaitu bagaimana mengukur kinerja sistem pemeliharaan dan meningkatkan kinerja sistem pemeliharaan. Tujuan penelitian hendaknya diperjelas agar penulisan skripsi dapat terlaksana secara terarah dan sistematis tanpa menghindari permasalahan yang ada. Pembobotan hirarki Key Performance Indicators (KPI) didasarkan pada metode General Measure of Maintenance Performance (OMMP) dengan Analytical Hierarchy Process (AHP).
Nilai pencapaian kinerja masing-masing Key Performance Indicator (KPI) dapat diperoleh dengan memperoleh data dan informasi yang sesuai dengan kondisi yang ada pada perusahaan, yang kemudian disesuaikan dengan masing-masing Key Performance Indicator (KPI). Untuk mengetahui skor dari Key Performance Indicator (KPI) dapat menggunakan Traffic Light System, dimana Traffic Light System akan menampilkan indikator berwarna dari hasil penilaian dan menunjukkan kesimpulan bahwa kinerja sistem pemeliharaan perusahaan perlu ditingkatkan. membaik atau tidak. Setelah diketahui hasil kinerja manajemen pemeliharaan, maka langkah selanjutnya adalah menghitung efektivitas mesin pemotong CNC dengan menggunakan metode Overall Resources Effectiveness (ORE).
Hasil evaluasi kinerja sistem pemeliharaan dianalisis agar nantinya dapat diambil tindakan perbaikan sesuai dengan indikator yang mempunyai kinerja paling rendah. Kemudian dihitung efisiensi mesin, yang mana pada tahap evaluasi efisiensi mesin bertujuan untuk mengukur dan menentukan apakah kinerja mesin memenuhi standar atau sebaliknya.
Flowchart Penelitian
Sedangkan total waktu yang dibutuhkan untuk pemeliharaan langsung adalah 2.300 jam, seperti terlihat pada Tabel 4.1. Untuk mendapatkan total biaya pemeliharaan tidak terencana yang termasuk dalam pemeliharaan korektif dapat dilihat pada Tabel 4.3 nilainya adalah Rp. Hasil perhitungan kinerja kinerja aktual ditinjau dari biaya pemeliharaan berdasarkan metode OMAX dan Traffic Light System dapat dilihat pada tabel di bawah ini.