Nama Anggota : Eka Sapta Amalia (212175101027)
Kharisma (212175101010)
Dosen Pengampu : Dr. KH. Saefudin, MA.
Mata Kuliah : Kajian Manuskrip Al-Qur’an
MANUSKRIP AL-QUR’AN BONE SULAWESI SELATAN
Di zaman yang serba canggih ini, kita sering menjumpai mushaf Al-Qur'an dengan berbagai fitur dan pelengkap yang unik dan canggih. Inovasi pada mushaf masa kini mencakup beragam unsur seperti sampul yang dapat disesuaikan, terjemahan dalam berbagai bahasa, tafsir ringkas, variasi tanda tajwid, qira’at, hadis Nabi, hingga pena ngaji audio digital. Dari sini, kita bisa membandingkan kreativitas tersebut dengan mushaf kuno abad ke-18 yang akan dibahas ini, yaitu manuskrip Al-Qur’an Bone yang saat ini berada di Kanada.
Sejarah Singkat Manuskrip Bone
Mushaf Al-Qur’an Bone awalnya ditulis di Indonesia tepatnya di Makassar,ditulis oleh Ismail ibn Abdullah Al-Jawi al-Makassari, seorang ulama asal Makassar. Kemudian pernah disimpan di London Inggris, kemudian berpindah ke Swiss, dan sekarang berada di Kanada dan disimpan di Museum Aga Khan, Kanada.1 Annabel The Gallop, melakukan penelitian dengan detail terhadap mushaf ini dan menyebut bahwa mushaf Bone ini sebagai "Manuskrip Al-Qur'an Asia Tenggara paling kompleks yang pernah diketahui."
Sebutan ini menarik untuk ditelusuri lebih lanjut guna mengetahui keistimewaan- keistimewaaan yang dimilikinya.
1 https://tafsiralquran.id/riwayat-manuskrip-al-quran-bone-sulawesi-selatan-di-museum-aga- khan-kanada/ di akses pada 18 September 2024 pukul 9.46 WIB
Faktor keistimewaan Mushaf ini meliputi iluminasi2 dan pembagian isi Al-Qur’an yang tidak hanya ditandai berdasarkan juz, tetapi juga menandai pembagian setengah, sepertiga, hingga sepertujuh Al-Qur’an. Selain itu, setiap juz masih dibagi lagi dengan tanda-tanda seperti hizb, rubu', dan tsumun. Mushaf ini juga memiliki berbagai tanda lain seperti tanda ayat, ruku', sajdah, waqaf, dan tajwid. Terakhir, terdapat teks tambahan yang berisi tata cara membaca Al-Qur’an dengan qiraat sab’ah, hadis Nabi, kolofon3 penulis, doa khatam Al-Qur’an, qasidah, serta kaligrafi statistik huruf dan bagan pelafalan Al- Qur'an. 4
Diskripsi Mushaf Bone
Mushaf Bone (Nomor Koleksi AKM 00488), berukuran 34,5 x 21 cm, jumlah 529 halaman, dan halaman yang ditempati teks berjumlah 513 halaman. Tiap halaman terdiri atas 13 baris . Kecuali pada halaman yang terdapat iluminasi hanya diisi 5-9 baris. Jenis kertas yang digunakan adalah kertas bertanda air (watermark) dari Eropa. Kemudian kondisi naskah Mushaf Bone terbilang masih sangat baik dan lengkap (30 Juz).
Mushaf ini dijilid dengan kulit hewan yang kemungkinan besar produksi Eropa.
Di bagian tepi luar kertas diwarnai dengan warna ungu. Sementara itu, mushaf ini terdiri atas satu volume yang dibagi menjadi tiga bagian. Tiap bagian terdiri atas 10 juz yang ditandai dengan adanya pemberian mahkota dan bingkai (frame) penuh iluminasi pada bagian awal juz 1, 11 dan 21. Dari tiap juz, bagian pinggirnya terdapat keterangan, yaitu:
hizb, rubu’ dan tsumun serta ruku’. Kemudian teks ayat dalam Mushaf Bone ditulis dengan tinta hitam, dan tanda tajwid ditulis dengan tinta merah dan biru.
2 Iluminasi adalah seni memperindah naskah atau manuskrip dengan lukisan, huruf
berornamen, dan bentuk-bentuk geometris. Iluminasi biasanya dilakukan dengan menggunakan emas dan warna-warna, terutama pada bagian tepi halaman.
3 Kolofon adalah bagian singkat yang berisi informasi mengenai penerbitan atau produksi suatu buku
4 https://tafsiralquran.id/manuskrip-al-quran-bone-mushaf-kuno-dengan-fitur-terbanyak-yang- kini-disimpan-di-kanada/ diakses pada 17 September 2024 pukul 21.14 WIB
Mushaf Bone dilengkapi dengan catatan qira’at yang dituliskan di bagian tepi mushaf. Kemudian rasm yang digunakan dalam mushaf tersebut adalah rasm usmani.
Namun dalam konteks penulisan Mushaf Bone, rasm usmani bukan sebagai ayat pojok.
Hal tersebut menandakan bahwa penggunaan ayat pojok di daerah ini sebagaimana juga yang berlaku di wilayah nusantara secara umum, baru dimulai pada pertengahan abad ke- 19. Mushaf Bone juga dilengkapi dengan kutipan-kutipan hadis nabi yang bebicara tentang keutamaan surah dalam al-Qur’an, dan dituliskan di luar garis teks dengan gaya khat tughra.
Pada akhir mushaf terdapat kolofon, doa khatmuul Qur’an, dan grafik satistik jumlah huruf al-Qur’an. Satistik ini berjudul "Bayan al-Adad allati ta’allaqat bi al- Qur’an al-Majid (beberapa penjelasan yang berkaitan dengan al-Qur’an al-Majid) yang ditulis oleh Imam Muhammad bin Mahmud al-Samarqandi. Adapun isi kolofon sebagaimana disebutkan adalah “Maka selesai sudah pembuatan mushaf agung ini, yang indah dan megah, pada hari Selasa di Bulan Ramadhan yang penuh rahmat pada shalat ashar di hari -25 Ramadhan, di Kota Layka, pada masa pemerintahan kita. Semoga Allah memperpanjang hidupnya dan melindungi keadilannya di tanah Bone di tahun 1219 H, karena sesungguhnya ia yang paling hebat dan tegas dalam membela orang miskin, ia yang mengajui semua dosa-dosa dan kesalahannya. Ia yang bergantung pada tuhannya yang mengampuni. Ismail ibn Abdullah Al-Malayu, Makassar adalah asal dan tempat kelahirannya. Syafi’i adalah mashafnya dan Naqashabandiyah adalah alirannya.
Semoga Allah mengampuninya dan keturunanya dan semua umat Muslimin dan Muslimat, Amin.”
Iluminasi Mushaf Bone
Mushaf Bone memilki tiga pasang iluminasi di bagian awal, tengah dan akhir mushaf dengan gaya geometris yang mewah. Gaya iluminasi naskah Sulawesi Selatan terdiri dari gaya geometris dan floral. Iluminasi mushaf sangat detail dan dikerjakan dengan keterampilan artistik yang luas biasa.
1. Pasangan pertama terdiri dari surat al-Fatihah di bagian sebelah kanan halaman dan awal surat al-Baqarah pada bagian kiri. iluminasi pasangan pertama (surat al-Fatihah
dan al-Baqarah). Di dalam frame-frame iluminasi ini, blok teks pada setiap bagian dari sebuah pasangan halaman diapit oleh garis vertikal yang dekoratif, yang pada bagian utamanya terdapat pola berlian cekung yang berulang. Dibentuk oleh setengah lingkaran saling membelakangi dengan ornamen bunga-bunga.
Di bagian atas dan bawah blok teks terdapat dua garis vertikal yang mengapit dan dua garis horizontal yang terdiri dari beberapa frame kotak berlapis yang membentuk sebuah panel segi empat yang
berisi rincian sebuah surat.
Bagian kepala dan nama surat disajikan dengan tinta warna putih dengan latar hitam.
2. Pasangan kedua di bagian tengah menandai awalan surah al-Kahfi. Iluminasi pasangan
kedua (surat al-Kahfi). Gaya iluminasi Mushaf Bone yang terdapat di tengah-tengah mushaf berbeda dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut sekaligus menunjukkan kelebihan dari seorang penulis dan iluminator dalam mendesain. Meskipun dalam mendesainnya tetap menaati pada aturan ketat gaya penulisan yang sudah ditetapkan, namun mereka masih inovatif dalam menginterpretasikannya.
Iluminasi yang terdapat pada awal surat al-Kahfi berupa garis vertikal yang mengapit blok teks dan bingkai.
Kemudian di bagian luar sebelah kanan dan kiri berbentuk segi tiga yang menonjol, seperti bentuk piramid yang diapit oleh tiga setengah lingkaran. Garis
vertikal diperpanjang dengan sudut yang pas dengan garis horizontal sehingga membentuk batas yang menutupi keseluruhan struktur setiap halaman.
Di bagian atas dan bawah bingkai luar terdapat hiasan berbentuk setengah lingkaran menonjol ke dalam dan diapit dua lingkaran yang lebih kecil. Nama surah ditulis
dalam bingkai persegi berlapis-lapis dengan kaligrafi bermotif bunga (floral), ditulis menggunakan tinta putih dengan warna dasar hitam. Iluminasi ini merupakan ciri khas kebanyakan mushaf Sulawesi dan juga iluminasi mushaf al-Qur’an Jawa. Pada surat ini terdapat kata yang terdapat di bagian tengah surat sebagaimana mushaf- mushaf pada umumnya di Asia tenggara, yakni ayat 19 pada lafadz “walyatalathaf”
yang artinya “dan hendaklah ia berlaku lemah lembut”. Kata tersebut sering ditulis dan dihias secara dekoratif di dalam mushaf Asia Tenggara, terutama di Jawa dan terkadang juga mushaf-mushaf dari pesisir Timur. Mushaf Bone pun demikian, kata tersebut ditebalkan dengan tinta hitam pekat.
Pada bagian pinggir halaman terdapat hiasan berbentuk lingkaran dengan tiga buah garis lingkaran. Pada bagian tengahnya terdapat tulisan yang berbunyi “nisfu, kalimaatullahi minal qur’anil adzhim”. Kalimat ini ditulis dengan tinta putih dengan latar berwarna hitam. Sementara lafadz
tersebut memberi keterangan bahwa lafadz “walyathalattap” merupakan pertengahan al-Qur’an. Bagian luar lingkaran dihiasi dengan motif bunga- bunga berwarna hijau yang meruncing ke masing-masing ujungnya.
Sedangkan lingkarannya tersebut diapit oleh kata “labistum”
3. Pasangan ketiga di bagian akhir menandai akhir surah al-Falaq yang teletak di bagian kanan dan surat an-Nas di bagian kiri halaman. iluminasi pasangan terakhir (surah al- Falaq dan An-Naas). Pola dasar iluminasi mushaf ini menggunakan garis vertikal di sisi kanan dan kiri, yang menonjol ke atas dan bawah. Pada bagian atas dan bawah terdapat hiasan berbentuk setengah lingkaran yang diapit oleh dua setengah lingkaran yang lebih kecil. Dari titik tengah garis bingkai luar bagian sebelah kanan dan kiri halaman iluminnasi terdapat hiasan berbentuk kubah segi tiga (seperti piramid) yang diapit oleh tiga setengah lingkaran kecil yang bersusun. Bagian dekorasi terluar berupa garis biru yang menyatukan dua halaman sekaligus dihiasi dengan bunga-bunga yang unik dan berujung hingga ke sudut bagian pinggir kertas. Di setiap sudut halaman
terdapat hiasan berbentuk lingkaran yang diisi bunga-bunga berwarna putih dengan latar belakang hitam
Setiap kepala surat dalam Mushaf Bone ditandai dengan bentuk persegi dengan bingkai berlapi-lapis yang sama dengan bingkai teks pada setiap halaman surah. Kepala surat dihiasi dengan tujuh bingkai beragam warna, ditambah lima bingkai warna-warni berupa garis horizontal atas dan bawah.
Di bagian atas setiap garis horizontal (caurtouche) terdapat nama dan tempat turunnya surat (makkiyah dan madaniyyah). Sementara di bagian bawah setiap caurtouche terdapat jumlah ayat, kalimat, huruf dan turunnya, ditulis menggunakan tinta berwarna putih dengan latar belakang hitam.
Selain itu, diperindah juga dengan hiasan berwarna merah, kuning, kuning emas, hijau, coklat, putih dan hitam. Jika diperhatikan secara detail, warna merah mendominasi dari sekian warna untuk mengisi blok bingkai, sehingga tampilannya kelihatan sangat mencolok dan menarik.
Gaya tulisan yang digunakan disebut dengan gaya kaligrafi bermotif bunga (floral). Bingkai yang berlapis dan hiasan beragam warna merupakan ciri khas gaya geometris diaspora Mushaf Bone. Gaya Geometris merupakan motif hias yang dikembangkan dari bentuk-bentuk geometris kemudian digayakan sesuai dengan keinginan dan imajinasi pembuatnya. Ragam hias geometris ini sering kita jumpai di Indonesia, seperti di daerah Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Biasanya untuk ragam hias geometris ini dibuat dengan cara menggabungkan ragam bentuk geometris ke dalam satu motif ragam hias.
Adapun bentuk-bentuk geometris dalam mushaf tersebut, yaitu:
a. Motif gelombang dan lingkaran. Motif tersebut merupakan perpaduan antara garis berombak dihiasi dengan bulatan-bulatan kecil sehingga membentuk motif dasar yang sederhana, namun tetap memiliki daya tarik yang tinggi.
b. Ikal. Dikatakan ikal karena motifnya kriting dan membentuk seperti ukiran.
c. Motif swastika. Motif ini berbentuk S yang ditumpuk dengan cara menyilangkan, sehingga menjadi motif yang sangat indah.
d. Motif dengan bentuk kelokan (meander). Motif meander (berbelok-belok) ini ada yang menyerupai huruf R kecil dan huruf T besar, serta dapat dimodifikasi sesuai dengan keinginan. Modifikasi bervariasi akan memberikan hasil yang lebih bagus.
e. Motif gir sepeda (gearland). Bentuk ini mudah untuk diingat dengan melihat bentuk gir sepeda atau sepeda motor dan berbentuk untaian. Motif ini sering terlihat di gedung pesta ulang tahun dengan lekungan-lekungan pita atau bisa juga dilihat di jendela-jendela dengan hiasan pita melengkung. Kee
f. Motif berlian (diamond). Motif ini merupakan salah satu motif geometris yang membentuk seperti berlian, sehingga itu ia indah dan memiliki daya tarik tersendiri.
g. Motif tumpal. Bentuk motif tumpal seperti zig-zag, namun lebih tinggi. Biasanya, yang dipakai untuk motif paling bawah dengan kesan kokoh dan kuat karena terbentang motif berbentuk pondasi. Motif tumpal juga sering digunakan sebagai ragam hias yang menjadi ciri khas batik rakyat.
Pada mushaf Bone, setiap salah satu bagian ditandai dengan margin kaligrafi. Di bagian pinggir terdapat hiasan yang terdiri atas kata عبس dengan ekor huruf ain-nya membentuk sebuah lingkaran. Dalam lingkaran tersebut terdapat lafadz tsaalisth minal qur’anil adzim yang ditulis menggunakan tinta berwarna biru, juga dikelilingi oleh dua lapisan lingkaran titik-titik berwarna merah.
Juz Mushaf
Permulaan sebuah juz al-Qur’an dalam tulisan Mushaf Bone ditandai dengan margin dan kaligrafi dengan menggunakan tinta
berwarna merah. Sementara di bagian baris pertama dari sebuah juz al-Qur’an ditebalkan dengan menggunakan tinta berwarna hitam dan diberi bayangan tinta berwarna merah.
Sedangkan di bagian akhir dari sebuah juz al-Qur’an ditandai dengan kelopak bunga yang berwarna
Pembagian dari sebuah Juz terdapat suatu bagian yang disebut hizb, rubu’ dan tsumun, yang ditandai dengan margin dengan bentuk bunga. Ornamen-ornamen marginal ini dimulai dengan bentuk yang sama, sebagai medalliun lingkaran yang terdiri dari tiga konsentrik lingkaran ganda. Dilingkaran yang paling dalam berisi tulisan yang menyatakan posisi hizb, rubu’ dan tsumun berwarna putih dan dituliskan dengan latar hitam. Setiap dari lingkaran ini di hiasi dengan pola lingkaran yang saling berpotongan dengan dua atau tiga lingkaran lainnya. Pola ini sangat terlihat pada penanda tsumun yang tidak diwarnai). Bagian terluar dari lingkaran dihiasi dengan delapan kelopak bunga dari ujung hingga dasar kelopak, yang terdapat empat titik-titik merah dan terdapat busur kecil yang memberi kesan gerakan yang melingkar ke ornamen yang berkilauan seperti gerak roda berputar.
Ayat Di dalam Mushaf Bone, penulisan ayat ditandai dengan lingkaran marginal warna hitam dan diwarnai dengan tinta kuning.
Ruku’
Ruku’ ditandai dengan huruf ‘ain. Di mushaf Bone tanda huruf ‘ain adalah fitur umum yang merupakan bagian dari iluminasi ganda gaya diasporik Sulawesi dan juga beberapa mushaf lainnya di Asia Tenggara, terutama mushaf yang ada di Jawa. Pada Mushaf Bone huruf ‘ain ditulis dalam hiasan bunga, mirip dengan yang digunakan untuk menandai bagian juz lainnya.
Sajadah
Dalam naskah al-Qur’an terdapat 15 ayat sajadah. Di Mushaf Bone ayat sajadah ditandai dengan marginal yang sama dengan tulisan sajadah dengan tinta merah dan tulisan tepat di ayat sajadah, serta digarisbawahi dengan tinta berwarna merah.
Tanda waqaf dan tajwid
Tanda waqaf yang digunakan, yaitu huruf ط untuk waqaf mutlaq, huruf ك untuk waqaf kafi’, dan huruf ت untuk waqaf tamm. Sementara untuk bacaan tajwid, digunakan huruf غ untuk gunnah, huruf خ untuk ikhfa’ dan huruf ظ untuk bacaan idzhar. Sedangkan untuk bacaan mad wajib muttasil ditandai garis susun tiga dengan garis di atas berwarna merah. Adapun dengan bacaan mad jaiz munfasil ditandai dengan sebuah garis berwarna merah.
Teks tambahan Penulisan mushaf al-Qur’an di Asia Tenggara umumnya dimulai dengan surah al-Fatihah dan surah an-Naas pada bagian akhir. Sementara di dalam Mushaf Bone, terdapat lebih dari satu teks tambahan sebagai berikut:
1) Ditemukan 6 halaman tambahan sebelum surah al-Fatihah yang berisi penjelasan tentang tata cara membaca al-Qur’an menggunakan bacaan qira’at as-sab’ah.
2) Terdapat kutipan hadis-hadis nabi yang berisi anjuran dan manfaat, keutamaan suatu surat dalam al-Qur’an, serta disajikan dengan gaya kaligrafi thugra’.
Kaligrafinya ditulis dengan menggunakan tinta berwarna merah dan biru.
3) Pada bagian akhir mushaf al-Qur’an terdapat sebuah kolofon sebagai tanda selesainya penulisan mushaf al-Qur’an.
Menurut beberapa kajian terdahulu, Mushaf Bone selesai ditulis pada 25 Ramadhan 1219 H atau 28 Desember 1804, oleh kaligrafer bernama Ismail Ibn Abullah di Kota Laika (yang mungkin merujuk pada Kota Laikang di Jeneponto, pesisir selatan Sulawesi Selatan) pada masa Pemerintahan Sultan Kerajaan Bone bernama Ahmad al-Salih Shams al-Millah wa al-Din. Kemudian, diikuti 14 halaman yang berisi doa, 1 halaman berisi qasidah oleh Abdullah Ibn al-Ma’mun dan 4 halaman selanjutnya berisi doa, serta
tambahan di bagian akhir berupa kaligrafi statistik oleh al- Samarqandi. Pada halaman sebelum pendahuluan dan akhir mushaf terdapat 4 iluminasi tambahan, di luar dari halaman teks yang mirip dengan iluminasi yang
terdapat pada penanda Juz ke-11 dan ke-21.
Iluminasi ganda yang terletak pada halaman sebelum permulaan teks, yaitu iluminasi ganda yang terdiri atas delapan bingkai dengan latar belakang merah, dan iluminasi yang berisi penjelasan pembacaan al-Qur’an (tilawah) dengan bacaan qira’at as-sab’ah. Sedangkan iluminasi ganda yang terletak setelah akhir mushaf, yaitu iluminasi pada kolofon yang
berbahasa Arab pada bagian kanan dan doa khatmul Qur’an pada bagian kiri. Sementara ilumniasi pasangan terakhir, yaitu di bagian kanan terdapat teks yang
dibingkai, di bagian luarnya terdapat tiga kelopak bunga dengan latar belakang merah membentuk persegi empat. Pada bagian kanan terdapat grafik berbentuk kipas yang berdiri tegak di atas seonggak bunga berwarna hitam yang memiliki nuansa khas Eropa.5
Penutup
Manuskrip Bone ini patut disebut sebagai mushaf yang istimewa karena masih terawat dengan baik dan lengkap kondisinya 30 juz. Manuskrip ini mencerminkan kekayaan budaya, sejarah, dan tradisi lokal. Manuskrip-manuskrip ini tidak hanya menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Bone, tetapi juga merupakan warisan tak ternilai yang memuat nilai-nilai adat, keagamaan, dan sosial masyarakat Bone. Melalui kajian ini, diharapkan pemahaman mengenai kekayaan literasi dan budaya lokal dapat ditingkatkan, serta upaya pelestarian manuskrip ini semakin ditingkatkan di masa mendatang. Langkah- langkah pelestarian yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk memastikan bahwa warisan budaya ini dapat diwariskan kepada generasi mendatang dan tetap menjadi sumber pengetahuan yang berharga. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi dalam memperkaya khasanah keilmuan tentang manuskrip lokal di Indonesia, khususnya manuskrip dari Sulawesi Selatan.
Referensi
Juhrah M. Arib and Sabil Mokodenseho, ‘Mushaf Bone: Telaah Aspek Kodikologi, Tulisan, Teks Dan Visual Al-Qur’an’, OSF Preprints, 2020, h. 7-9.
https://tafsiralquran.id/riwayat-manuskrip-al-quran-bone-sulawesi-selatan-di-museum- aga-khan-kanada/
https://tafsiralquran.id/manuskrip-al-quran-bone-mushaf-kuno-dengan-fitur-terbanyak- yang-kini-disimpan-di-kanada/
5 Juhrah M. Arib and Sabil Mokodenseho, ‘Mushaf Bone: Telaah Aspek Kodikologi, Tulisan, Teks Dan Visual Al-Qur’an’, OSF Preprints, 2020, h. 7-9.