This paper analyzes the role and performance of Indonesia's seaports as a vital determinant in supporting Indonesia's vision to be a strong maritime country. Seaports play an important role in promoting connectivity and improving the competitiveness of the Indonesian economy. Their performance will affect the efficiency of production and distribution processes. By using descriptive analysis, it was found that despite playing an important role in the Indonesian economy, the performance of Indonesian seaports still lags behind other countries in terms of their quantities and their qualities. The main policy challenge to be addressed is to reshape the role and position of government in the development and management of seaports.
INTERSEKSI BUDAYA DAN PERADABAN NEGARA-NEGARA DI SAMUDRA HINDIA
PERSPEKTIF INDONESIA
Hofmeyr (2010) menyatakan bahwa kegiatan pelayaran di Samudera Hindia melibatkan berbagai negara di Asia, Eropa dan Afrika. Bentuk pertama kegiatan pelayaran di Samudera Hindia dilakukan pada masa kejayaan imperialisme Eropa, sehingga disebut pelayaran imperial. Kegiatan transportasi laut berkembang pesat sejalan dengan meningkatnya kegiatan komersial kerajaan-kerajaan maritim di Samudera Hindia.
ORANG LAUT, PERMUKIMAN, DAN KEKERASAN INFRASTRUKTUR 1
Harmoko (kanan berbaju safari) dan Sri Soedarsono (tengah berbaju putih pink) meresmikan pemukiman Orang Laut. Pola pemukiman Orang Laut di Bentam terlihat khas karena pola pemukiman mengikuti preferensi ketua kelompok dan tokoh kekerabatan (lihat Gambar 4 dan 5). Dari Kehidupan Nomaden Menjadi Menetap: Orang Laut di Pulau Bertam, Kota Batam, Provinsi Riau.
NASIONALISME MASYARAKAT DI PERBATASAN LAUT
STUDI KASUS MASYARAKAT MELAYU-KARIMUN
Sementara itu, penelitian yang dilakukan oleh Bakker (2012) dan Noor (2013) menjelaskan tentang upaya mempertahankan rasa kebangsaan pada masyarakat perbatasan. Meski rasa kebangsaan di kalangan masyarakat perbatasan Karimun masih tergolong tinggi, namun rasa kebangsaan masyarakat keturunan di daerah ini tetap harus dipertanyakan. Sebagian besar informan mengatakan bahwa rasa kebangsaan di kalangan warga keturunan Tionghoa masih kurang dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator lain yang menunjukkan rendahnya rasa kebangsaan warga Tionghoa di Karimun adalah preferensi mereka untuk menonton siaran TV dari Tiongkok dan Singapura. Tingginya rasa kebangsaan orang Melayu di kawasan Karimun dan sekitarnya dapat ditelusuri dalam sejarah Kabupaten Karimun (Swastiwi, 2001). Pemerintah di daerah perbatasan juga berperan dalam menjaga rasa kebangsaan warganya meskipun masih bersifat formalistik, elitis dan artifisial.
Upaya menjaga rasa kebangsaan di kawasan perbatasan juga gencar dan berkesinambungan dilakukan oleh TNI Angkatan Laut melalui program cinta bahari nasional melalui lima kegiatan. Hasil wawancara dengan sejumlah informan menunjukkan bahwa upaya menjaga rasa kebangsaan dan meningkatkan pemahaman wawasan kebangsaan harus diikuti dengan upaya mencapai kesejahteraan. Sosialisasi wawasan kebangsaan dari atas ke bawah seringkali tidak efektif dalam menjaga rasa kebangsaan.
Dengan kata lain, pelestarian rasa nasionalisme melalui ritus-ritus kebangsaan belum dibarengi dengan upaya menjaga kesejahteraan masyarakat perbatasan.
MEMBANGUN POROS MARITIM MELALUI PELABUHAN
Monopoli juga menutup partisipasi swasta untuk ikut serta dalam pembangunan dan pengelolaan pelabuhan (LPEM, 2005; Setiono, 2010). PPP dan Undang-Undang Transportasi bersemangat menghapus monopoli pemerintah dan membuka peluang bagi sektor swasta untuk berpartisipasi dalam pengembangan dan pengelolaan pelabuhan. Oleh karena itu, keahlian, profesionalisme dan kapasitas yang dimiliki swasta dapat dikapitalisasi untuk pembangunan dan peningkatan pelabuhan.
Pertama, mendesain ulang kebijakan dan peraturan KPS agar lebih jelas dan mudah dipahami oleh sektor swasta. AMDAL yang belum selesai menunjukkan bahwa proyek infrastruktur pelabuhan – serta infrastruktur lain yang ditawarkan kepada sektor swasta – tidak dipersiapkan dengan baik. Selain itu, pengembalian investasi yang rendah dari proyek pembangunan pelabuhan berarti bahwa sektor swasta menginginkan jaminan mengenai kesenjangan kelayakan.
Artinya di satu sisi pengembalian investasi proyek pembangunan pelabuhan yang ditawarkan kepada swasta sekitar 14%. Dalam konteks ini, upaya menarik pihak swasta untuk berpartisipasi dalam pengelolaan kuantitas dan kualitas pelabuhan menjadi penting. Pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla perlu mengambil beberapa langkah ideal untuk meningkatkan partisipasi swasta dalam pembangunan pelabuhan.
Pertama, mendesain ulang kebijakan dan regulasi KPBU agar lebih jelas dan mudah dipahami oleh pihak swasta.
MERANGKAI INDONESIA LEWAT LAUT
KISAH PELAUT BINONGKO 1
Saat penulis berkunjung ke Binongko pada Maret 2015, sejumlah kapal sedang berlabuh, seperti di pelabuhan Haka. Oleh karena itu, semua kapal dengan muatan dari wilayah timur menuju ke titik di mana pengusaha berada. Pada masa kejayaan kapal, pemilik kapal biasanya menyeleksi calon awak kapal yang akan berlayar karena semua laki-laki ingin berlayar.
Apabila mereka pulang ke rumah, mereka memberitahu kanak-kanak lain tentang pengalaman mereka di seberang laut. Kanak-kanak di bandar, yang tidak belayar, mendengar cerita yang sama daripada pelayar dewasa tentang tanah yang dilawati, suka dan duka kehidupan pelaut. 21 Kecuali bot yang pulang tanpa mengaut keuntungan atau ditimpa musibah, contohnya anak kapal itu mati.
Saat itu, anak-anak sedang bermain di sekitar pelabuhan sambil mendengarkan pengalaman para pelaut perantauan. Singkat kata, melaut bukan lagi pilihan pertama, melainkan pilihan terakhir bagi anak-anak Binongko. Ketika anak-anak ini bersekolah dan kuliah, mereka lebih memilih pendidikan (menjadi guru) dan kesehatan (kandidat kedokteran) atau jurusan komputer.
Pada tahun 1980-an, ketika anak-anak yang sudah bersekolah mulai berhasil, seperti La Rabu, menjadi guru, minat sekolah tumbuh.
RINGKASAN DISERTASI
SUPPORT FOR ETHNO-RELIGIOUS VIOLENCE IN INDONESIA 1
Tri Subagya
This study adds new insights to this body of knowledge by focusing on the relationship between ethno-religious identification and support for intergroup violence. The first examined the relationship between ethno-religious identification and support for intergroup violence. To what extent is there a relationship between ethno-religious identification among Christians and Muslims on Ambon and Yogyakarta and support for intergroup violence.
To what extent is there a relationship between ethno-religious identification among Christians and Muslims in Ambon and Yogyakarta and support for intergroup violence after accounting for other individual-level determinants. We answered the second explanatory question by testing the relationship between ethno-religious identification and support for intergroup violence. We answered the third research question by testing the influence of intervening variables on the relationship between ethno-religious identification and support for violence.
This study attempts to complement previous studies by explaining the relationship between ethno-religious identification and support for intergroup violence. I provided evidence that ethnic competition theory can explain the relationship between ethno-religious identification and support for intergroup violence in Indonesia. The stronger the level of ethno-religious identification, the higher the positive attitudes within the group that elicit support for harm.
In the relationship between ethno-religious identification and support for demonstrations, ethnic identity salience and hermeneutic interpretation were intermediate determinants.
RUWATAN MURWAKALA DI JAKARTA DAN SURAKARTA
TELAAH FUNGSI DAN MAKNA 1 1
Sebagai perbandingan, upacara RM ala Surakarta selama ini digelar di TMII Jakarta. Berbeda dengan upacara RM untuk Sukěrta yang selama ini diselenggarakan di lingkungan masyarakat Surakarta. Namun sampai saat ini belum ada pembahasan tentang upacara RM bagi kelompok Sukěrta sebagai ritual ditinjau dari kajian tradisi lisan.
Kedua, ritus RM untuk kelompok Sukěrta akan dibahas dari perspektif ritual menurut teori Arnold van Gennep (1960) dalam The Rites of Passage dengan tahapannya yaitu tahap pertama perpisahan, tahap kedua peralihan dan tahap kedua. tahap ketiga adalah integrasi/pemulihan (agregasi). Pertama, apa perbedaan yang terjadi dari segi lisan dan ritual antara upacara RM sukěrta gaya Surakarta dengan upacara RM yang diselenggarakan di TMII Jakarta. Kedua, perubahan fungsi dan makna budaya pada upacara RM bagi kelompok Sukěrta di Surakarta dan di TMII Jakarta sebagai salah satu potensi budaya.
Maka objek penelitiannya adalah upacara RM untuk Sukěrta dan seni pertunjukan wayang purwa lakon Murwakala. Disini terlihat adanya konsistensi/kesetaraan dalam setiap tahapan upacara RM di Surakarta dan di TMII Jakarta. Dalang KMS pada tanggal 1 Surah (1 Muharam) melakukan upacara RM bersama di TMII Jakarta.
Upacara RM kelompok Sukérta masih diterima dan dilaksanakan di pusat kebudayaan (Surakarta) dan di TMII Jakarta yang selama ini dihadiri oleh masyarakat multietnik (Jawa, Sunda, Melayu Aceh, Batak, Palembang, Riau, Bugis /Makassar, Tionghoa, Bima/NTB).
TINJAUAN BUKU
REKONFIGURASI POLITIK KELAS MENENGAH INDONESIA
Pengunduran diri Suharto dipandang sebagai kemenangan gerakan kekuatan rakyat yang diprakarsai oleh kelas menengah. Tiga tujuan inilah yang membuat konsep kelas menengah Indonesia terbaca lebih dalam. Maraknya Young Rich People (YOH) sebagai basis terbentuknya kelas menengah di Indonesia sebenarnya bisa dibandingkan antara tahun 1976 dan 2009.
Akibatnya, kelas menengah ada karena stabilitas ekonomi yang dicapai oleh negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang baik. Pertumbuhan kelas menengah di Indonesia sangat cepat dan masif di luar prediksi analisis Bank Dunia dan ADB. Gagasan tengah (in-between) menunjukkan bahwa kelas menengah Indonesia memiliki peran penting dalam mengelola hubungan kelas dalam masyarakat.
Adanya mobilitas yang relatif tinggi dari desa ke kota menjadikan pertumbuhan ekonomi informal sebagai basis penting bagi pembentukan kelas menengah borjuis Indonesia. Kelas menengah di Barat menunjukkan posisi independen dengan negara dan memiliki alat produksi yang memadai. Inilah mengapa konteks kelas menengah Indonesia sendiri tidak melepaskan realitas menjaga hubungan dengan negara.
Berbagai studi kasus dalam buku ini menunjukkan bahwa derajat relasi politik antara kelas menengah Indonesia dengan negara selalu berfluktuasi.
TINJAUAN BUKU
MENEGOSIASIKAN BATAS WILAYAH MARITIM INDONESIA DALAM BINGKAI NEGARA KEPULAUAN
Pertama, konsep batas laut teritorial negara kepulauan adalah 12 mil laut, dimana sebelumnya hanya 3 mil laut. Keempat, hanya 3% dari total segmen inti nusantara yang bisa lebih panjang dari 100 mil laut. Dengan menggunakan metode sama sisi (mengambil jarak yang sama dari setiap garis dasar sebagai garis batas), kedua negara dapat menyepakati tiga segmen batas landas kontinen.
Kedua, segmen di Laut China Selatan yang dekat dengan semenanjung Malaysia sepanjang 317,2 mil laut. Pada tahun 1980, batas landas kontinen diperpanjang ke utara menjadi sekitar 200 mil laut dengan menggunakan metode jarak sama. Batas landas kontinen juga merupakan batas ZEE dan zona penangkapan ikan kedua negara.
Dalam hal batas maritim Indonesia-Australia, kedua negara telah menyepakati sejak tahun 1970-an mengenai dua segmen batas landas kontinen. Untuk perbatasan antara india dan India, kedua negara tidak memiliki batas perairan teritorial, tetapi memiliki batas landas kontinen dan batas ZEE. Di perbatasan maritim antara Indonesia dan Thailand, kedua negara berbagi landas kontinen di Selat Malaka.
Indonesia dan Vietnam pada tanggal 26 Juni 2003 menyepakati batas landas kontinen sepanjang 265 mil laut di Laut Cina Selatan.