• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATAKULIAH (FILOSOFI LINGKUNGAN HIDUP)

N/A
N/A
Fara Saves

Academic year: 2024

Membagikan "MATAKULIAH (FILOSOFI LINGKUNGAN HIDUP) "

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MATAKULIAH

(FILOSOFI LINGKUNGAN HIDUP)

Disusun guna memenuhi tugas pada BAB

Filsafat Lingkungan Hidup: Cara Pandang Antroposentris & Deep Ecology Tugas 3

Dosen Pengampu:

PROF. Dr. MARYUNANI, MS

Oleh:

Faradlillah Saves NIM. 237000100111008

PROGRAM DOKTOR ILMU LINGKUNGAN SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

GASAL 2023 1

(2)

PERTANYAAN I

SOAL (2) BERIKAN PEMAHAMAN TEORI ALDO LEOPOLD &

CONTOHNYA,

Teori Aldo Leopold

Aldo Leopold (1887/1948) adalah salah satu pelopor, bersama dengan H.D.

Thoreau dan John Muir, pemikiran ekologis dan bapak perlindungan alam dan satwa liar. Aldo Leopold (11 Januari 1887 - 21 April 1948) adalah seorang penulis, filsuf, ilmuwan, ekologi, rimbawan, konservasionis, dan pencinta lingkungan Amerika. Dia adalah seorang profesor di University of Wisconsin dan terkenal karena bukunya A Sand County Almanac (1949), yang telah terjual lebih dari dua juta eksemplar.

Leopold berpengaruh dalam pengembangan etika lingkungan modern dan dalam gerakan konservasi hutan belantara. Etikanya tentang pelestarian alam dan satwa liar memiliki dampak besar pada gerakan lingkungan, dengan etika ekosentris atau holistiknya tentang tanah. Dia menekankan keanekaragaman hayati dan ekologi dan merupakan pendiri ilmu pengelolaan satwa liar. Dalam buku ini, Leopold mengembangkan konsep etika lingkungan yang dikenal sebagai "land ethic" atau etika tanah. (Apollo, 2022). Hal ini mewarisi pengamatan pesimistis: "Meskipun satu abad propaganda, ekologi masih maju dengan kecepatan siput; kemajuan sebagian besar masih terdiri dari eksordium saleh dan retorika token. Konkretnya, kita selalu mundur dua langkah untuk setiap langkah maju. "Aldo Leopold mengamati bahwa argumen ekonomi saja tidak cukup untuk melindungi alam: prinsip moral hilang untuk menarik batas, dan ini membutuhkan penciptaan "kesadaran ekologis" yang terdiri dari "meyakinkan manusia untuk memperluas kesadaran sosial mereka ke tanah ". Tepatnya, menurut ahli ekologi, sejarah manusia dicirikan oleh perluasan perhatian etis , misalnya, akan mencegah kita hari ini mempertahankan budak.

Mempertimbangkan gerakan tumbuhnya empati ini sebagai "suatu proses evolusi

(3)

ekologis", Leopold bermaksud untuk menerapkannya pada alam. Ini menyiratkan perluasan gagasan tentang komunitas, karena etika hanya berlaku di dalamnya.

Aldo Leopold mengusulkan konsep "etika bumi" yang melibatkan perluasan batas komunitas manusia ke tanah, air, tumbuhan, dan hewan, membentuk apa yang disebutnya sebagai "komunitas biotik." Dalam filosofi ini, Leopold membangun

"piramida kehidupan" untuk menjelaskan hubungan yang kompleks antara berbagai makhluk hidup. Menurutnya, bumi bukan sekadar tanah, tetapi merupakan sumber energi yang mengalir melalui sirkuit tanah, tumbuhan, dan hewan. Leopold menegaskan bahwa rantai makanan adalah saluran hidup yang mengarahkan energi ke atas, sementara kematian dan pembusukan mengembalikannya ke tanah.

Filosofi ekosentris Leopold, yang mengaitkan nilai moral intrinsik dengan alam, menjadi akar dari etika lingkungan modern. Meskipun gagasan ini muncul pada 1970-an dan menghasilkan gerakan lingkungan yang besar, Leopold, bersama dengan pemikir lain seperti Thoreau dan Muir, telah lama memandang degradasi lingkungan sebagai tanda dekadensi moral manusia.

Etika lingkungan mengambil dua akar, yaitu tradisi pelestarian Amerika abad ke-19 dan budaya tandingan pada 1950-an dan 1960-an. Namun, Aldo Leopold dianggap sebagai "titik pertemuan" bagi etika lingkungan, dan pemikiran ekosentrisnya memainkan peran kunci dalam membentuk gerakan ini. John Baird Callicott kemudian memperdalam dan mengembangkan warisan Leopold, menggambarkannya sebagai "revolusi tenang" yang menawarkan etika kewajiban dan kehati-hatian.

Dengan berkembangnya etika lingkungan, muncul cabang-cabang seperti biosentrisme dan pragmatisme. Biosentrisme memberi nilai intrinsik pada setiap entitas alam, sementara pragmatisme mencari kepentingan praktis yang lebih konkret.

Ekosentrisme, yang menekankan saling ketergantungan lingkungan, berbeda dari biosentrisme dalam memberikan nilai pada keseluruhan komunitas biotik daripada pada individu secara terpisah. Melalui pemikiran globalisasi oleh John Baird

(4)

Callicott, etika bumi Leopold dianggap sebagai etika bumi secara keseluruhan, memperluas rasa kebersamaan kepada semua makhluk hidup dalam komunitas biotik.

Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai beberapa elemen kunci dalam teori Aldo Leopold:

1. Land Ethic (Etika Tanah): Land Ethic adalah konsep sentral dalam pemikiran Leopold. Dia menekankan perlunya mengembangkan etika yang melibatkan tanggung jawab dan rasa hormat terhadap tanah sebagai suatu kesatuan hidup. Leopold berpendapat bahwa manusia harus memperlakukan tanah bukan hanya sebagai sumber daya ekonomi, melainkan sebagai entitas yang memiliki nilai intrinsik.

2. Community Concept (Konsep Komunitas): Leopold melihat alam sebagai suatu komunitas yang terdiri dari berbagai entitas hidup, termasuk manusia.

Pandangannya adalah bahwa semua bagian dari ekosistem ini saling terhubung dan memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan.

Manusia, sebagai anggota komunitas alam, diharapkan untuk bertindak dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap seluruh ekosistem.

3. Thinking Like a Mountain (Berpikir Seperti Pegunungan): Konsep ini muncul dari pengalaman Leopold saat berburu di pegunungan. Ia menyadari bahwa kebijakan pemburuan yang tidak berkelanjutan dapat mengakibatkan kerugian ekosistem yang luas. Gagasan "Thinking Like a Mountain"

mengajak manusia untuk berpikir secara holistik, mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari tindakan mereka terhadap lingkungan.

4. Conservation as a Positive Force (Konservasi sebagai Kekuatan Positif):

Leopold menekankan bahwa konservasi tidak hanya sebatas menghentikan kerusakan, tetapi juga melibatkan usaha positif untuk merestorasi dan memulihkan ekosistem yang telah terganggu. Pemahaman ini mencakup pengakuan bahwa manusia dapat menjadi agen positif dalam melestarikan dan meningkatkan kesehatan ekosistem.

(5)

5. A Land Pyramid (Piramida Tanah): Leopold mengilustrasikan hubungan antara berbagai bentuk kehidupan dalam ekosistem dengan konsep piramida tanah. Pada dasarnya, tanah adalah dasar bagi seluruh piramida kehidupan, dan keseimbangan ekosistem tergantung pada keseimbangan dalam piramida ini. Jika satu elemen diubah atau dihilangkan, dapat mempengaruhi seluruh struktur ekosistem.

Pemahaman teori Aldo Leopold menciptakan dasar bagi pendekatan etis terhadap konservasi dan keberlanjutan. Nilai-nilainya, seperti rasa hormat terhadap alam, pertimbangan jangka panjang, dan peran positif manusia dalam melestarikan ekosistem, telah membentuk pandangan banyak praktisi konservasi dan aktivis lingkungan. Teori Leopold tetap relevan dalam diskusi modern tentang bagaimana kita harus memperlakukan dan melestarikan lingkungan.

Contoh Penerapan Konsep Leopold 1. Restorasi Ekosistem:

Konsep Leopold: Aldo Leopold mendorong ide bahwa konservasi tidak hanya menghentikan kerusakan, tetapi juga mencakup restorasi ekosistem yang telah terganggu.

Penerapan: Sebagai contoh, sebuah proyek restorasi ekosistem dapat melibatkan penanaman kembali tanaman asli, pemulihan habitat untuk hewan tertentu, dan pengelolaan air yang berkelanjutan untuk mendukung keseimbangan ekosistem.

2. Pertanian Berkelanjutan:

Konsep Leopold: Leopold memandang pertanian sebagai bagian dari komunitas biotik dan menekankan kebutuhan untuk pertanian yang memperhitungkan dampaknya pada tanah dan ekosistem.

(6)

Penerapan: Praktik pertanian berkelanjutan, seperti rotasi tanaman, pengelolaan tanah yang berkelanjutan, dan penggunaan pupuk organik, mencerminkan penerapan prinsip Leopold untuk menjaga integritas dan keberlanjutan komunitas biotik.

3. Pengelolaan Hutan yang Berkelanjutan:

Konsep Leopold: Leopold menyadari pentingnya pengelolaan hutan yang berkelanjutan untuk mempertahankan keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem.

Penerapan: Kebijakan pengelolaan hutan yang berkelanjutan, seperti pemanenan yang bijaksana dan pelestarian habitat alami, merupakan langkah-langkah yang dapat diambil untuk memastikan bahwa penggunaan sumber daya hutan mempertimbangkan keseimbangan ekosistem.

4. Pendidikan Lingkungan:

Konsep Leopold: Leopold mendukung ide bahwa pendidikan lingkungan yang mendalam dan inklusif diperlukan untuk membentuk pemahaman yang lebih baik tentang ketergantungan manusia pada alam.

Penerapan: Program pendidikan lingkungan yang mencakup etika bumi dan konsep komunitas biotik dapat membantu meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab lingkungan di kalangan masyarakat.

5. Kebijakan Perlindungan Satwa Liar:

Konsep Leopold: Leopold memandang keberlanjutan dan keseimbangan dalam populasi satwa liar sebagai kunci untuk menjaga integritas ekosistem.

Penerapan: Kebijakan perlindungan satwa liar yang mempertimbangkan habitat alami, koridor ekologis, dan manajemen populasi secara bijaksana dapat dianggap sebagai penerapan konsep Leopold dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.

(7)

Contoh-contoh ini mencerminkan bagaimana konsep-konsep Aldo Leopold dapat diterapkan dalam praktik nyata untuk mendukung konservasi dan keberlanjutan alam.

Lindenmayer, D. B., dan Franklin, J. F. (2002). Conserving Forest Biodiversity: A Comprehensive Multiscaled Approach. Island Press.

Hungerford, H. R., dan Volk, T. L. (1990). Changing learner behavior through environmental education. The Journal of Environmental Education, 21(3), 8-21.

Giesen, N., Kailola, P., dan Shepherd, C. (2000). Freshwater fishes of Australia.

CSIRO Publishing.

(8)

PERTANYAAN 2

SELANJUTNYA APA MAKSUD DARI EMPAT ISTILAH DI BAWAH INI, SEBUT SUMBER JURNALNYA

Land Ethic

Land Ethic, atau Etika Tanah, adalah konsep sentral dalam pemikiran Aldo Leopold yang dijelaskan secara rinci dalam karyanya yang terkenal, "A Sand County Almanac." Etika Tanah adalah pandangan moral dan etika terhadap alam yang melekat pada pandangan Leopold tentang hubungan manusia dengan lingkungan.

Maksud dari Land Ethic Aldo Leopold dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Melibatkan Tanggung Jawab Terhadap Tanah dan Alam: Land Ethic menekankan bahwa kita sebagai manusia memiliki tanggung jawab moral terhadap tanah dan alam. Ini bukan hanya tanggung jawab ekonomi untuk memanfaatkan sumber daya alam, tetapi juga tanggung jawab etis untuk memperlakukan tanah sebagai anggota komunitas hidup yang memiliki nilai intrinsik.

2. Ekspansi Komunitas ke Semua Elemen Ekosistem: Etika Tanah mengajak untuk memperluas batas komunitas manusia untuk mencakup tanah, air, tumbuhan, dan hewan. Leopold memandang alam sebagai suatu komunitas yang hidup, dan manusia seharusnya tidak hanya memandangnya sebagai sumber daya ekonomi, tetapi sebagai entitas yang memiliki hak dan nilai sendiri.

3. Pentingnya Kesadaran Ekologis: Land Ethic menggarisbawahi pentingnya memiliki kesadaran ekologis yang mendalam. Leopold percaya bahwa manusia harus memahami interkoneksi kompleks antara semua unsur dalam ekosistem untuk dapat bertindak secara etis dan berkelanjutan.

(9)

4. Peran Manusia sebagai Anggota Komunitas Biotik: Land Ethic menggeser pandangan tradisional yang memandang manusia sebagai penguasa alam menjadi pandangan di mana manusia adalah anggota komunitas biotik yang sama pentingnya dengan tanaman dan hewan lainnya. Hal ini menekankan perlunya menjaga keseimbangan ekosistem dan memahami dampak tindakan manusia terhadap seluruh komunitas.

5. Keseimbangan dan Keberlanjutan: Etika Tanah memandang pentingnya menjaga keseimbangan dan keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam. Leopold memperingatkan bahwa tindakan yang merusak tanah dan ekosistem dapat memiliki konsekuensi jangka panjang yang merugikan bagi manusia dan komunitas biotik lainnya.

Pemikiran Aldo Leopold telah memberikan satu loncatan tentang konsep di bidang etika kehutanan saat ia merumuskan “etika tanah” yang terkenal, etika tanah memperluas pandangan etika di luar manusia dan “mamalia” yang lebih tinggi, sampai pada unsur-unsur dari bumi dan hutan, tidak hanya itu untuk penggunaan di bidang ekonomi atau nilai estetika pada manusia. Leopold menerapkan etika tanah secara langsung pada bidang pertanian dan sumberdaya seperti kehutanan, dan pada masalah-masalah konservasi (Leopold 1964). Seolah Leopold datang untuk memahaminya dan mencoba untuk mewujudkan satu keharmonisan yang lebih besar antara manusia dan tanah/lahan (Nelson 2004). Etika lahan dapat membantu para rimbawan bekerja menuju bentuk baru dari konservasi hutan yang memandang pohon-pohon dan ekosistem serta komponen-komponen lain sebagai bagian intergal dari satu sistem energi yang rumit meliputi bumi dan langit (Leopold 1991; Muhdi 2008).

Berlandaskan pemikiran tersebut, maka munculah suatu pemahaman baru mengenai bagaimana semestinya pola interaksi antara manusia dengan alam. Manusia cenderung menyalahgunakan tanah karena menganggap hanya sebagai komoditas.

Apabila kita melihat daratan sebagai ekosistem yang utuh maka manusia dapat berinteraksi dengan penuh cinta dan rasa hormat (Abdillah 2014). Tidak ada jalan lain

(10)

agar tanah bisa bertahan dari dampak mekanistik manusia, atau agar manusia mampu memaknai alam dari segi estetik, di bawah sains, dan kontribusi terhadap budaya.

Tanah merupakan sebuah konsep dasar ekologi, seharusnya tanah untuk dicintai dan dihormati yang mana hal tersebut adalah perpanjangan dari etika (Leopold 1949).

Rasa cinta dan hormat manusia pada tanah sejatinya akan membentuk suatu hubungan yang “mesra” karena manusia akan memperlakukan tanah layaknya seorang sahabat atau bahkan kekasihnya. Hal ini akan membawa pada suatu kondisi pemanfaatan tanah yang berorientasi pada kelestarian dan keberlanjutan, tidak hanya orientasi pada produktivitas semata.

Abdillah, Junaidi, 2014, “Dekonstruksi Tafsir Antroposentrisme: Telaah Ayat-Ayat Berwawasan Lingkungan”, Kalam: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, Vol. 8 No.1, 2014, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, UIN Raden Intan, Lampung.

https://doi.org/10.24042/klm.v8i1.168

Leopold, Aldo, 1949, A Sand County Almanac: And Sketches Here and There, Oxford University Press, New York. http://www.umag.cl/facultades/williams/ wp- content/uploads/2016/11/Leopold1949-ASandCountyAlmanaccomplete.pdf

Muhdi, 2008, “Etika Lahan ‘Aldo Leopold’ di Bidang Kehutanan”, (Karya Tulis),

Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

http://repository.usu.ac.id/handle/123456 789/896

(11)

Biosentrisme

Biosentrisme adalah Teori lingkungan yang memandang setiap kehidupan dan makhluk hidup mempunyai nilai dan berharga pada dirinya sendiri. Tidak hanya manusia yang mempunyai nilai, alam juga mempunyai nilai pada dirinya sendiri lepas dari kepentingan manusia. Biosentrisme menolak argumen antroposentrisme, karena yang menjadi pusat perhatian dan yang dibela oleh teori ini adalah kehidupan, secara moral berlaku prinsip bahwa setiap kehidupan di muka bumi ini mempunyai nilai moral yang sama sehingga harus dilindungi dan diselamatkan. Konsekuensinya, alam semesta adalah sebuah komunitas moral, baik pada manusia maupun pada makhluk hidup lainnya. Manusia maupun bukan manusia sama-sama memiliki nilai moral, dan kehidupan makhluk hidup apapun pantas dipertimbangkan secara serius dalam setiap keputusan dan tindakan moral, bahkan lepas dari perhitungan untung-rugi bagi kepentingan manusia. (Azis, 2014)

Paradigma Biosentrisme berpendapat bahwa tidak benar apabila hanya manusia yang mempunyai nilai, akan tetapi alam juga mempunyai nilai pada dirinya sendiri yang terlepas dari kepentingan manusia. Setiap kehidupan dan makluk hidup mempunyai nilai dan berharga pada dirinya sendiri, sehingga semua makluk pantas mendapat pertimbangan dan kepedulian moral. Alam perlu diperlakukan secara moral, terlepas dari apakah ia bernilai bagi manusia atau tidak. Paradigma ini mendasarkan moralitas pada keluhuran kehidupan, baik pada manusia maupun pada makluk hidup lainnya. Setiap kehidupan yang ada di muka bumi ini memiliki nilai moral yang sama, sehingga harus dilindungi dan diselamatkan. Manusia mempunyai nilai moral dan berharga justeru karena kehidupan dalam diri manusia bernilai pada dirinya sendiri. Hal ini juga berlaku bagi setiap entitas kehidupan lain di alam semesta. Artinya prinsip yang sama berlaku bagi segala sesuatu yang hidup dan yang member serta menjamin kehidupan bagi makluk hidup. Alam semesta bernilai moral dan harus diperlakukan secara moral, karena telah memberi begitu banyak kehidupan.

Seluruh kehidupan di alam semesta sesungguhnya telah membentuk komunitas

(12)

moral. Oleh karena itu, setiap kehidupan makluk apapun pantas dipertimbangkan secara serius dalam setiap keputusan dan tindakan moral, terlepas dari perhitungan untung rugi bagi kepentingan manusia.

Pendukung paradigm biosentrisme lainnya adalah Paul Taylor. Ia berpendapat bahwa Biosentrisme didasarkan pada empat hal, yaitu:

1) Keyakinan bahwa manusia adalah anggota dari komunitas kehidupan di bumi dalam arti yang sama dan dalam kerangka yang sama dimana makluk hidup yang lain juga anggota dari komunitas yang sama.

2) Keyakinan bahwa spesies manusia bersama sama dengan semua spesies lainnya, adalah bagian dari system yang saling tergantung sedemikian rupa sehingga kelangsungan hidup dari makluk hidup manapun, serta peluangnya untuk berkembang biak atau sebaliknya, tidak ditentukan oleh kondisi fisik lingkungan melainkan oleh relasinya satu sama lain.

3) Keyakinan bahwa semua organisme adalah pusat kehidupan yang mempunyai tujuan sendiri. Setiap oraganisme adalah unik dalam mengejar kepentingan sendiri sesuai dengan caranya sendiri;

4) Keyakinan bahwa manusia pada dirinya sendiri tidak lebih unggul dari makluk hidup lain

Dengan keyakinan tersebut maka mendorong manusia untuk lebih terbuka mempertimbangkan dan memperhatikan kepentingan makluk hidup lainnya secara serius. Manusia mempunyai kewajiban dan tanggung jawab moral atas keeberadaan dan kelangsungan hidup semua organisme, karena mereka adalah subyek moral.

Manusia juga memiliki kewajiban dan tanggung jawan moral kepada benda- benda/lingkungan abiotik, karena semua makluk hidup, termasuk manusia sebagai subyek moral, bergantung pada eksistensi dan kalitas benda-benda abiotic

(13)

Abd Aziz. (2014). “Konservasi Alam Dalam Perspektif Etika Islam;

Tantangan Dan Tuntutan Globalisasi” Akademika, Volume 19, no 2: p. 304-321, oct.

2014. ISSN 2356-2420.

Sutoyo. (2013). “Paradigma Perlindungan Lingkungan Hidup” Adil Jurnal Hukum, Vol.4 (No.1), Juli, 2013, 192-206.

1.1 Konsevasi

Menurut Kamus Konservasi Sumber Daya Alam (Dewobroto, dkk, 1995) yang merupakan hasil kerjasama antara Direktorat Jenderal Pelestarian Hutan dan Perlindungan Alam dan Pusat Pembinaan Bahasa, istilah konservasi merupakan padanan kata dari istilah conservation yang diartikan sebagai “upaya pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana dengan berpedoman kepada asas pelestarian”.

(Dewobroto, 1995)

Menurut pakar ekologi Indonesia, Otto Soemarwoto (1997), istilah conservation lebih tepat kalau diterjemahkan sebagai "pencagaran"

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UU KSDAHE), merumuskan pengertian sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan unsur non hayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. Sedangkan pengertian konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

Untuk menjadi pegangan dalam melakukan konservasi keaneka-ragaman hayati, International Union for Conservation of Nature (IUCN) - organisasi internasional yang didedikasikan untuk konservasi sumber daya alam menyusun The

(14)

World Conservation Strategy (1980). Dalam dokumen tersebut, konservasi didefinisikan sebagai: “the management of human use of the biosphere so that it may yield the greatest sustainable benefit to present generations while maintaining its potential to meet the needs and aspirations of future generations. Thus conservation is positive, embracing preservation, maintenance, sustainable utilization, restoration, and enhancement of the natural environment. Living resource conservation is specifically concerned with plants, animals, and microorganism, and with those non- living elements of the environment on which they depend. Living resources have two important properties the combination of which distinguishes them from non-living resources: they are renewable if conserved; and they are destructible if not.” Artinya Konservasi adalah pengelolaan pemanfaatan biosfer yang menghasilkan manfaat berkelanjutan tertinggi bagi generasi saat ini, dengan menjaga potensi untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi generasi yang akan datang. Dengan demikian konservasi adalah hal positif yang mencakup seluruh kegiatan mulai dari pengawetan, pemeliharaan, pemanfaatan berkelanjutan, restorasi dan peningkatan lingkungan alam. Konservasi sumber daya alam hayati secara khusus memperhatikan tumbuhan, hewan, dan jasad renik, beserta unsur-unsur lingkungan non-hayati yang saling bergantung satu dengan lainnya. Sumber daya hayati mempunyai properti penting yang kombinasi keduanya membedakan dengan sumber daya non-hayati: yaitu dapat diperbaharui (renewable) bila konservasi dilakukan dan akan rusak atau punah bila tidak ada perlakuan konservasi).

Dengan demikian, konservasi keanekaragaman hayati dapat didefinisikan sebagai tindakan perlindungan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati yang dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan keberadaan dan manfaatnya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya dalam rangka memenuhi kebutuhan generasi saat ini dan generasi masa mendatang. Konsep konservasi keanekaragaman hayati menjadi lebih luas dari sekedar preservasi atau pengawetan karena konservasi keanekaragaman hayati bertujuan untuk menjamin keberlanjutan (sustainability) dalam jangka panjang sehinggga bermanfaat tidak hanya bagi generasi saat ini tetapi juga

(15)

generasi yang akan datang. Oleh sebab itu, konservasi harus dipandang sebagai pengelolaan sumber daya agar fungsinya berkelanjutan. (Wibisana,2015)

Dewobroto, K.K, Kartiko, K.Kadarsin, M. Soekarno dan Soemarsono.1995.

Kamus Konservasi Sumberdaya Alam, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta., hlm. 65 Otto Soemarwoto. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Penerbit Djambatan, Jakarta., 1997.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Dikutip dalam Badan Keahlian DPR RI, “Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem”, Pusat Perancangan UndangUndang, Badan Keahlian DPR RI, Jakarta, Mei 2016., hlm. 23-24

Andri Gunawan Wibisana, “Laporan Akhir Tim Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem”, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem Hukum Nasional, Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI, Jakarta, 2015., hlm. 46

1.2 Komunitas Moral

Manusia hidup dalam sebuah komunitas moral yang tidak hanya mencakup sesama manusia. Manusia hidup dalam sebuah komunitas moral bersama seluruh kehidupan dan seluruh ekosistem. Karena itu, yang disebut sebagai komunitas moral tidak hanya menyangkut komunitas manusia, melainkan juga komunitas ekologis.

Manusia tidak hanya mempunyai kewajiban dan tanggung jawab moral terhadap sesama manusia, melainkan juga terhadap kehidupan seluruhnya dan terhadap ekosistem, alam semesta, khususnya planet bumi. Atas dasar inilah, cara pandang kita terhadap alam yang selama ini bersifat antroposentris yang mengutamakan kepentingan manusia harus diubah dan diperluas. Kita perlu memiliki cara pandang baru yang lebih biosentris dan bahkan ekosentris yang memandang kehidupan dan

(16)

ekosistem sebagai bernilai pada dirinya sendiri. Menjaga dan melindungi kehidupan pada umumnya serta ekosistem seluruhnya adalah sebuah tanggung jawab moral manusia sebagai pelaku moral, sama bobotnya dengan kewajiban dan tanggung jawab menghormati kehidupan sesama manusia lainnya.. (Nanlohy, 2020)

Berdasarkan pandangan biosentrisme, tidak hanya manusia saja yang mempunyai nilai tetapi alam pun mempunyai nilai pada dirinya sendiri lepas dari kepentingan manusia sehingga alam pantas mendapatkan pertimbangan dan kepedulian moral. Yang menjadi titik berat dari etika biosentrisme adalah kehidupan sehingga setiap kehidupan di muka bumi ini mempunyai nilai moral yang sama sehingga perlu dilindungi dan diselamatkan. Konsekuensi dari pandangan ini adalah alam semesta adalah sebuah komunitas moral, di mana setiap kehidupan dalam alam semesta ini, baik manusia maupun alam sama-sama mempunyai nilai moral. Dengan demikian, terdapat perluasan lingkup keberlakuan etika dan moralitas untuk mencakup seluruh kehidupan di alam semesta tidak hanya berlaku bagi komunitas manusia saja (Keraf, 2010: 66).

Dian Felisia Nanlohy.2020. Aplikasi Etis Manusia Dalam Berelasi Dengan Lingkungan Hidup, Tangkoleh Putai Vol.17 No.1 Juli 2020

Keraf, A.Sonny. 2010. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Kompas

DAFTAR PUSTAKA

Apollo. (2022). Apa Itu Etika Bumi? Aldo Leopold link : https://www.kompasiana.com/balawadayu/6224dafce2d60e355f7a76c3/apa-itu- etika-bumi-aldo-leopold

Siti Sarah1, Radea Yuli A dan Hambali. (2023). Ekofilosofi "Deep Ecology"

Pandangan Ekosentrisme terhadap Etika Deep EcologyGunung Djati

(17)

Conference Series, Volume 19, CISS 4th: Islamic Studies Across Different Perspective: Trends, Challenges and Innovation ISSN: 2774-6585.

Emi Setyaningsih, Moh. Fadli, Adi Kusumaningrum, Mifdal Zusron Alfaqi dan Manahan Budiarto Pandjaitan. (2023). “Peran Kearifan Lokal Suku Bajau di Desa Torosiaje – Gorontalo dalam Menghadapi Ancaman Bencana Ekologis dan Implikasinya Terhadap Ketahanan Lingkungan Wilayah” Jurnal Ketahanan Nasional: Vol. 29, No. 2, Agustus 2023, Hal 245-269

Abd Aziz. (2014). “Konservasi Alam Dalam Perspektif Etika Islam; Tantangan Dan Tuntutan Globalisasi” Akademika, Volume 19, no 2: p. 304-321, oct. 2014.

ISSN 2356-2420.

Sutoyo. (2013). “Paradigma Perlindungan Lingkungan Hidup” Adil Jurnal Hukum, Vol.4 (No.1), Juli, 2013, 192-206.

Dewobroto, K.K, Kartiko, K.Kadarsin, M. Soekarno dan Soemarsono.1995. Kamus Konservasi Sumberdaya Alam, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta., hlm. 65

Otto Soemarwoto. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Penerbit Djambatan, Jakarta., 1997.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Dikutip dalam Badan Keahlian DPR RI, “Naskah Akademik Rancangan Undang- Undang Republik Indonesia Tentang Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem”, Pusat Perancangan UndangUndang, Badan Keahlian DPR RI, Jakarta, Mei 2016., hlm. 23-24

Andri Gunawan Wibisana, “Laporan Akhir Tim Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem”, Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistem Hukum Nasional, Badan Pembinaan Hukum Nasional Kementerian Hukum dan HAM RI, Jakarta, 2015., hlm. 46 Dian Felisia Nanlohy.2020. Aplikasi Etis Manusia Dalam Berelasi Dengan

Lingkungan Hidup, Tangkoleh Putai Vol.17 No.1 Juli 2020 Keraf, A.Sonny. 2010. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Kompas

Referensi

Dokumen terkait