Pengantar Psikologi Konseling
Konseling (counseling) sebagai cabang ilmu dan praktik pemberian bantuan kepada individu pada dasarnya memiliki pengertian yang spesifik sejalan dengan konsep yang dikembangkan dalam lingkup profesinya.
Diantara berbagai disiplin ilmu, yang memiliki kedekatan hubungan dengan konseling adalah psikologi, bahkan secara khusus dapat dikatakan bahwa konseling merupakan aplikasi dari psikologi, terutama jika dilihat dari tujuan, teori yang digunakan, dan proses penyelenggaraannya. Oleh karena itu telah mengenai konseling dapat disebut dengan psikologi konseling (counseling psychology).
Kata konseling (counseling) berasal dari kata counsel yang diambil dari bahasa Latin yaitu counselium, artinya ”bersama” atau ”bicara bersama”.
Pengertian ”berbicara bersama-sama” dalam hal ini adalah pembicaraan antara konselor (counselor) dengan seseorang atau beberapa klien (Counselee). Dengan demikian counselium berarti, ”People Coming Together To Again An Understanding Of Problem That Beset Them Were Evident”, yang ditulis oleh Baruth dan Robinson (1987) dalam bukunya An Introduction to The Counseling Profession.
Definisi Menurut Para Ahli
Surya (1999) Konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada konseli agar ybs memiliki konsep diri & kepercayaan diri sendiri untuk dimanfaatkan olehnya dalam rangka memperbaiki tingkah lakunya pada masa yang akan datang.
Sukardi (2000) Bantuan secara tatap muka antara konselor &
klien dengan usaha yang unik & manusiawi yang dilakukan dalam suasana keahlian & didasarkan norma2 yang berlaku agar klien
memperoleh konsep diri & kepercayaan untuk memperbaiki tingkah laku pada saat ini dan yang akan datang.
Saam (2017) Proses bantuan yang diberikan kepada klien dalam bentuk hubungan terapeutik antara konselor & klien agar klien dapat meningkatkan kepercayaan diri & penyesuaian diri, atau berperilaku baru shg klien memperoleh kebahagiaan.
Carl Rogers, seorang psikolog humanistik terkemuka, berpandangan bahwa konseling merupakan hubungan terapi dengan klien yang bertujuan untuk melakukan perubahan self (diri) pada pihak klien.
Pada intinya Rogers dengan tegas menekankan pada perubahan system self klien sebagai tujuan konseling akibat dari struktur hubungan konselor dengan kliennya.
Ahli lain, Gladding (2004) mengatakan bahwa definisi konseling profesional yang diterima oleh American Counseling Association (ACA) adalah aplikasi dari prinsip-prinsip kesehatan mental, psikologi, atau perkembangan manusia melalui intervensi kognitif, afektif, behavioral atau sistemik, strategi yang memperhatikan kesejahteraan (wellness), pertumbuhan pribadi, atau pengembangan karir, juga patologi. Selain itu, Gladding juga mengatakan bahwa konseling adalah suatu profesi, artinya yang dapat melakukan konseling adalah orang yang memang mendapat pendidikan untuk melakukan konseling dan melalui proses sertifikasi serta harus mendapatkan lisensi untuk melakukan konseling.
Kottler dan Shepard (2004) Konseling adalah suatu profesi dengan riwayat dan standar yang jelas dari disiplin ilmu yang berkaitan seperti pekerja sosial, psikologi, dan psikiatri. Konseling merupakan suatu aktifitas yang dirancang terutama untuk orang yang mengalami masalah perkembangan atau penyesuaian (juga untuk menangani orang yang bertahan dari bentuk-bentuk penyakit mental). Konseling juga merupakan suatu hubungan di dalam
kelompok, keluarga, ataupun individual, yang dibentuk untuk mengembangkan kepercayaan, keamanan, dukungan, dan perubahan yang permanen. Konseling bersifat multidimensional, berkenaan dengan perasaan, pikiran, dan perilaku manusia pada masa yang lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.
Ivey, Ivey, dan Zalaquett (2010) Konseling adalah suatu proses yang lebih intensif dan personal dibanding wawancara. Secara umum, konseling fokus pada membantu orang dalam mencari solusi terhadap masalah-masalah yang normal dan terhadap berbagai kesempatan, dimana masalah-masalah yang normal tersebut seringkali menjadi sedikit kompleks. Istilah-istilah lain yang sering ada bersama konseling adalah penyuluhan ( guidance ), dan terapi ( psychotherapy ) .
Gladding (2004)
PENYULUHAN terkait dengan membantu individu untuk memilih apa yang mereka anggap paling penting, dan adanya hubungan antara orang-orang yang tidak setara, seperti misalnya guru-murid, orang tua-anak, dan lain-lain, serta membantu orang yang kurang memiiki pengalaman untuk menemukan arah dalam hidupnya.
PSIKOTERAPI berhubungan dengan masalah gangguan jiwa yang lebih serius, lebih menekankan pada hal yang lalu daripada sekarang lebih menekankan pada insight daripada perubahan, terapis menyembunyikan dan tidak mengutarakan nilai-nilai dan perasaan, peran terapis lebih sebagai ahli dan bukan teman berbagi, perubahan-perubahan rekonstruktif, dan hubungan jangka panjang (20-40 sesi).
NB:
Konseling, penyuluhan, dan terapi bisa saja memiliki arti yang saling tumpang tindih. Konseling dan penyuluhan sama-sama bekerja dengan orang-orang yang masih dianggap nomal dan
berfungsi dengan baik dalam kehidupannya. Tidak jarang pula secara awam konseling diistilahkan sebagai penyuluhan dimana maknanya sebagai pemberian penerangan, informasi, atau nasihat kepada pihak lain.
Bersama dengan psikoterapi, beberapa definisi konseling bisa tumpang tindih, khususnya yang menggunakan pendekatan non- directive client-centered. Tujuan konseling dan psikoterapi pun sama, yaitu untuk mengadakan perubahan pada pikiran ataupun perilaku klien. Kedalaman masalah yang ditangani terkadang juga sulit ditentukan, sehingga sulit pula untuk memutuskan apakah menggunakan konseling atau psikoterapi dalam menangani suatu masalah.
Dan pada akhirnya, konseling merupakan serangkaian langkah yang terdiri dari:
1. Membantu orang untuk mengemukakan mengapa mereka mencari pertolongan,
2. Memformulasikan goals dan harapan untuk treatment,
3. Mengajarkan klien bagaimana mendapatkan pengalaman yang paling berharga dari konseling,
4. Mengembangkan derajat kepercayaan yang tinggi dan harapan yang baik untuk suatu perubahan,
5. Mendiagnosa permasalahan dan area yang mengalami disfungsi untuk kepentingan perubahan ke arah yang lebih baik,
6. Eksplorasi dunia klien, meliputi fungsinya di masa lalu dan masa sekarang,
7. Memahami konteks budaya klien (seperti gender, etnis, ras, kepercayaan, kelas sosial ekonomi, orientasi seksual, dan sebagainya),
8. Menguji alasan yang mendasari dan faktor sistemik dalam keluarga yang berkontribusi pada masalah,
9. Mendiskusikan sejumlah isu dan fokus yang mendasari dan bermakna, 10.Mendukung dan menerima klien sebagai seseorang yang secara selektif
menguatkan perilakunya yang paling berfungsi,
11.Mengkonfrontasi ketidakkonsistenan pikiran, bahasa, dan perilaku klien, 12.Menantang asumsi yang tidak tepat, self-destructive, counterproductive,
dan tidak rasional,
13.Membongkar motif-motif tersembunyi dan tidak disadari di balik tindakan,
14.Mendorong klien untuk menerima tanggung jawab terbesar dari pilihan dan tindakan mereka,
15.Mengembangkan lebih banyak opsi, sebatas alternatif yang paling sesuai, 16.Memberikan kejujuran, feedback yang membangun,
17.Menyusun kesempatan untuk berlatih cara baru dalam bertindak dan berperan,
18.Memfasilitasi kebebasan klien sehingga konseling berakhr pada periode waktu yang paling efisien.
Aspek-aspek Penting Konseling
1. Konseling sebagai suatu proses.
2. Konseling sebagai hubungan terapeutik.
3. Konseling merupakan usaha bantuan.
4. Konseling mengarahkan tercapainya tujuan klien.
5. Konseling mengarahkan kemandirian klien.