• Tidak ada hasil yang ditemukan

materi surat berharga dan pengangkutan darat - Spada UNS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "materi surat berharga dan pengangkutan darat - Spada UNS"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MATERI KULIAH HUKUM DAGANG

SURAT BERHARGA DAN SURAT YANG BERHARGA A. Pengertian dan Perbedaan

Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD), Surat terbagi atas 2 macam :

1. Surat berharga.

Dalam bahasa Belanda disebut Waarde Papier, atau di Negara- negara Anglo Saxon dikenal dengan istilah Negotiable Instruments.Yaitu surat yang yang diadakan oleh seseorang sebagai pelaksanaan pemenuhan suatu prestasi, yang merupakan pembayaran harga sejumlah uang.

Contoh : Wesel, Cek, Sertifikat deposito, Bilyet giro, Kartu kredit, Kartu ATM, dsb.

2. Surat yang berharga.

Dalam bahasa Belanda disebut Papier Van Waarde atau dalam bahasa Inggrisnya Letter of Value.Yaitu surat yang berisikan identitas diri seseorang dan tidak dapat diperjual belikan atau dipindah tangankan.

Contoh : Ijazah, Piagam, Sertifikat, akta otentik, dsb.

Fungsi surat berharga :

1. Sebagai alat pembayaran (alat ukur uang).

2. Sebagai alat untuk memindahkan hak tagih (diperjual-belikan dengan mudah atau sederhana).

3. Sebagai surat bukti hak tagih (surat legitimasi).

4. Sebagai pembawa hak

Tujuan penerbitan surat berharga adalah untuk berbagai pemenuhan prestasi berupa pembayaran sejumlah uang. Meskipun telah disebutkan bahwa surat wesel cek adalah dapat diperjual-belikan dengan mudah, tetapi dilakukan hanya ada insiden saja. Namun demikian , tidak harus selalu begitu atau bersifat mutlak karena tujuan penerbitannya bukanlah untuk diperjual-belikan.

B. Peralihan Surat Berharga

(2)

Peralihan surat berharga didasari atas beberapa faktor, seperti, jual-beli, warisan, hibah, dan lain sebagainya. Surat berharga diatur dalam Kitab Undang- undang Hukum Dagang (KUHD) Buku I Bab VI dan Bab VII (Ps: 100 – 229).

Dalam hal peralihan, 3 kalusula Surat berharga memiliki langkah yang berbeda-beda:

 Klausula Atas Tunjuk (Aan toonder)

Klausula atas tunjuk atau yang artinya pemegang surat berharga yang akan memperoleh tagihan, tidak cukup hanya dengan membawa surat itu. Namun harus menunjukkan atau memperlihatkan kepada debitur.Atas klausula ini, peralihan cukup hanya dengan menyerahkan surat berharga tersebut kepada pihak yang menerima peralihan. Artinya, tidak ada perbuatan hukum yang lain yang harus dilakukan.

 Klausula Pengganti (Aan Order)

Klausula pengganti atau yang juga dikenal dengan Surat Tertunjuk memiliki langkah peralihan yang sedikit berbeda. Jika pada Klausula Aan Toonder penjual cukup menyerahkan surat berharga tersebut. Maka pada klausula in, penjual harus melakukan perbuatan hukum berupa Endosmen.

 Klausula Atas Nama (Aan Opname)

Klausula ini mewajibkan dua perbuatan hukum dalam hal peralihan surat berharga. Berbeda dengan Klausula Pengganti dan Klausula Atas Tunjuk, klausula ini sedikit rumit langkah peralihannya. Yaitu, penjual harus membuat akta jual-beli atau yang dikenal dengan istilah Cessie. Setelah Cessie dibuat, penjual harus melapor atau menerahkan akta jual-beli itu kepada penerbit surat berharga. Tujuannya agar penerbit mengetahui bahwa surat berharga yang ia terbitkan sudah beralih.

Endosmen pada langkah peralihan Klausula Pengganti merupakan perbuatan hukum yang dilakukan oleh penjual dengan cara membuat pernyataan pada bagian surat berharga. Selain itu, penjual harus menandatangani pernyataan itu.Jika langkah- langkah itu tidak dipenuhi oleh penjual terhadap pembeli, maka peralihan surat berharga batal demi hukum. Dalam hal ini, pembeli atau penerima peralihan akan dirugikan. Oleh sebab itu pahamilah langkah-langkah peralihan surat berharga agar tidak terjadi perselisihan dikemudian hari.

WESEL

(3)

A.Pengertian

wesel adalah surat berharga yang memuat kata “wesel” didalamnya, diberi tanggal dan ditandatangani disuatu tempat, dalam mana penerbit (trekker) memberi perintah tak bersyarat kepada tersangkut (betrokkenne) untuk membayar sejumlah uang pada hari bayar (vervaldag) kepada orang yang ditunjuk oleh penerbit yang disebut penerima (nemer) atau penggantinya disuatu tempat tertentu.

Dalam perundang-undangan tidak terdapat perumusan atau definisi tentang surat wesel. Tetapi dalam Pasal 100 KUHD dimuat syarat-syarat formal sepucuk surat wesel.

Dasar hukum wesel diatur dalam Pasal 100 sampai dengan Pasal 173 KUH Dagang, yang menentukan syarat formal bagi suatu wesel. Di dalam KUH Dagang tidak ditemukan definisi wesel, tersirat dalam Pasal 100 KUH Dagang pada persyaratan formal wesel.

B. Pihak-pihak yang terdapat dalam wesel

Dalam hukum wesel, dikenal beberapa pihak, yaitu orang-orang yang terlibat dalam lalu lintas pembayaran dengan surat wesel.

1. Penerbit, adalah terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda trekker, bahasa Inggrisnya drawee, yaitu orang yang mengeluarkan surat wesel.

2. Tersangkut, adalah terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda betrokkene, yaitu orang diberi perintah tanpa syarat untuk membayar.

3. Akseptan, adalah terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda acceptant, bahasa Inggrisnya acceptor, yaitu tersangkut yang telah menyetujui untuk membayar surat wesel pada hari bayar, dengan memberikan tanga tangannya.

4. Pemegang Pertama. Adalah terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda nomor, bahasa Inggrisnya holder, yaitu orang yang menerima surat wesel pertama kali dari penerbit.

5. Pengganti, adalah terjemahan dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda geendosseerde, bahasa Inggrisnya indorsee, yaitu orang yang menerima peralihan surat wesel dari pemegang sebelumnya.

6. Endosan, berasal dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda endosant, bahasa Inggrisnya indorser, yaitu orang yang memperalihkan surat wesel kepada pemegang berikutnya.

C. Syarat-Syarat Formal Surat Wesel

(4)

Suatu surat wesel harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan oleh undang- undang, yang disebut syarat-syarat formal. Menurut ketentuan pasal 100 KUHD, setiap surat wesel harus memuat syarat-syarat formal sebagai berikut:

1. istilah “wesel” harus dimuat dalam teksnya sendiri dan disebutkan dalam bahasa surat itu ditulis.

2. Perintah tidak bersyarat untuk membayar sejumlah uang tertentu.

3. Nama orang yang harus membayarnya (tersangkut).

4. Penetapan hari bayar (hari jatuh).

5. Penetapan tempat di mana pembayaran harus dilakukan.

6. Nama orang kepada siapa atau penggantinya pembayaran harus dilakukan.

7. Tanggal dan tempat surat wesel diterbitkan.

8. Tanda tangan orang yang menerbitkan.

Apabila surat wesel tidak memuat salah satu dari syarat-syarat formal tersebut, surat itu tidak dapat diperlakukan sebagai surat wesel menurut undangundang, kecuali dalam hal-hal berikut ini:

a. Surat wesel yang tidak menetapkan hari bayarnya, dianggap harus dibayar pada hari diperlihatkan (op zicht).

b. Jika tidak ada penentapan khusus, maka tempat yang ditulis di samping nama tersangkut, dianggap sebagai tempat pembayaran dan tempat di mana tersangkut berdomisili.

c. Surat wesel yang tidak menerangkan tempat diterbitkan, dianggap ditandatangani di tempat yang tertulis di samping nama penerbit.

D. Bentuk-bentuk Surat Wesel Khusus

Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Dagang ada lima macam bentuk surat wesel khusus yaitu :

1. Wesel Atas Pengganti Penerbit 2. Wesel Atas Nama Penerbit Sendiri 3. Wesel Untuk Perhitungan Orang Ketiga 4. Wesel Incasso (wesel untuk menagih) 5. Wesel Berdomisili

6. Wesel Aksep atau dikenal dengan nama Bank draft atau Bankers draft

Bentuk Wesel berdasarkan hari bayar

(5)

1. Ziechtwessel

Pada saat pemegang memperlihatkan wessel tersebut maka pada saat itulah dibayarkan wesselnya yaitu dalam jangka 1 tahun semenjak tanggal wessel diterbitkan adalah hari jatuh tempo.

2. Naziechtwessel

Hari jatuh tempo ditentukan setelah diperlihatkan oleh pemegang kepada sitersangkut untuk acceptasi bayar dalam jangka waktu 1 tahun diterbitkan.

3. Datowessel

Hari gugur yang dihitung dalam beberapa waktu atau jangka waktu tertentu setelah penerbitan.

4. Darkwessel

Wessel yang hari bayarnya menununjuk waktu tertentu.

E. Piutang Wesel

Piutang wesel adalah aset (bagi pemegangnya) yang mempunyai hak untuk menerima sejumlah nilai pokok uang cash yang terkandung di dalam surat perjanjian piutang yang sudah dituliskan di surat promes. Surat promes atau lebih dikenal dengan surat wesel adalah surat yang berisikan perjanjian tertulis dalam jual beli barang dan jasa secara kredit dimana pembeli menyatakan akan memenuhi kesanggupannya dalam membayar sejumlah uang dengan nilai tertentu dan pada tanggal tertentu dimasa depan.

Jika wesel bisa dipindahtangankan berarti yang membuat wesel akan membayar pada orang atau badan yang memegang wesel tersebut pada saat jatuh tempo (due date). Wesel yang bisa dipindahtangankan bisa di-diskonto-kan ke bank sebelum jatuh temponya.

Nilai pokok yang akan diterima dalam waktu satu tahun dari tanggal neracaakan dilaporkan sebagai aset lancar / aktiva lancar. Sedangkan pituang wesel yang tidak jatuh tempo dalam satu tahun dari tanggal neraca akan dilaporkan sebagai aset jangka panjang (investment).

Wesel yang sudah jatuh tempo tetapi belum dilunasi harus dicatat terpisah dari wesel yang belum jatuh tempo, yaitu dicatat dalam rekening piutang wesel menunggak.

Dengan demikian,piutang wesel adalah janji tertulis untuk menerima sejumlah uang tunai dalam nominal tertentu dari pihak lain pada satu tanggal atau lebih di masa depan dan akan diperlakukan sebagai aset oleh pemegangnya. Piutang Wesel ini yang dinamakan surat

(6)

aksep atau surat sanggup. Dalam dunia bisnis Piutang Wesel juga bisa disebut sebagai Wesel Tagih, promes, Aksep dan Promisionary Notes atau Notes receivable.

Jenis Piutang Wesel

Wesel berbunga (interest bearing)

Wesel berbunga (interest bearing) adalah wesel yang disebutkan suatu tingkat bunga tertentu (biasanya dinyatakan dalam persen). Pada wesel berbunga perlu dicatat dengan jelas mengenai jumlah bunga yang diperhitungkan. Investasi seperti obligasi dan sertifikat deposito yang membayar reguler, bunga periodik.

Wesel tidak berbunga (non interest bearing)

Wesel tidak berbunga (non interest bearing) adalah wesel yang tidak menyebutkan suatu tingkat bunga tertentu. Pada wesel tidak berbunga tidak diperlukan pencatatan atas bunga. Kewajiban lancar non-bunga (non interest bearing) adalah kategori utang yang dimasukkan pada sisi kewajiban dari neraca di bawah kewajiban lancar. Wesel tidak berbunga dalam bentuk utang, mewakili sejumlah uang yang harus dibayarkan oleh perusahaan dan harus dibayar dalam waktu satu tahun, itu tidak memerlukan pembayaran bunga.

CEK

Cek adalah sebuah akta yang memuat klausula surat cek didalam kesatuan teksnya dan ditulis dalam bahasa dimana surat cek itu dituliskan, serta merupakan perintah pembayaran tanpa syarat kepada tertarik (bank) kepada orang yang namanya tercantum didalam surat cek itu atau kepada pembawa surat cek yang menyerahkan kepada bank tertarik.

Para personal dalam hukum cek : a. penerbit (trekker drawer), b. tersangkut (betrokkene drawer), c. pemegang (nemer holder), d. pembawa (toonder), e. pengganti (order).

Perbedaan pokok antara surat cek dengan surat wesel :

(7)

1. fungsi ekonomis dalam lalu lintas pembayaran, 2. waktu peredaran,

3. waktu pembayaran, 4. penerbitan atas bank, 5. lembaga akseptasi, 6. klausula yang berlainan.

Surat Sanggup

Surat sanggup adalan surat berharga yang memuat kata "aksep” atau Promesdalam mana penerbit menyanggupi untuk membayar sejumlah yang kepada orang yang disebut dalam surat sanggub itu atau penggantinya atau pembawanya pada hari bayar.

Ada dua macam surat sanggup, yaitu surat sanggup kepada pengganti dan surat sanggup kepada pembawa.

syarat yang harus terdapat dalam surat sanggup dalam pasal 174 KUH Dagang yaitu : 1. baik clausula: sanggup, maupun nama "surat sanggup" atau promes atas pengganti yang

dimuatkan didalam teks sendiri, dan dinyatakan dalam bahasa dengan mana surat itu disebutkan .

2. Janji yang tidak bersyarat untuk membayar suatu jumlah tertentu.

3. Penunjkan hari gugur.

4. Penunjukan tempat, dimana pembayaran harus terjadi.

5. Nama orang, kepada siapa atau kepada penggantinya pembayaran itu harus dilakukan.

6. Penyebutan hari penanggalan, beserta tempat, dimana surat sanggub itu di tanda tangani.

7. Tanda tangan orang yang mengeluarkan surat itu.

KWITANSI

Kwitansi adalah alat bukti penerimaan sejumlah uang yang ditandatangani oleh penerima, lalu diserahkan kepada yang membayar dan dapat digunakan sebagai bukti transaksi. Kwitansi yakni surat bukti yang menyatakan telah terjadinya penyerahan sejumlah uang, dari pemberi kepada penerima dan ditandatangani oleh penerima sejumlah uang yang ditulis pada surat tersebut.

Kwitansi dilengkapi dengan keterangan tempat, tanggal dan alasan penyerahannya sejumlah uang tersebut. Biasanya untuk memperkuat tanda bukti transaksi pada kwitansi

(8)

ditempelkan Materai sebesar yang sudah ditentukan oleh undang-undang perpajakan. Fungsi utama pada kwitansi yakni digunakan sebagai tanda bukti transaksi atau penyerahan sejumlah uang.

Beberapa Hal Yang Perlu Kalian Perhatikan Saat Pembuatan Kwitansi

 Janganlah menandatangani kwitansi yang kosong.

 Tulis secara lengkap nama orang yang akan menerima sejumlah uang.

 Pada akhir uraian atau penjelasan sebaiknya berikanlah tanda akhir tulisan. Tujuannya supaya penjelasan pada kwitansi tidak dapat ditambahkan dengan penjelasan lain, yang nantinya berpotensi dapat merugikan.

 Tempat dan tanggal sebaiknya berdekatan dengan tandatangan orang yang akan menerima sejumlah uang.

 Jika dalam pembuatan kwitansi diwajibkan menggunakan materai, maka tandatangan harus mengenai materai yang dibubuhkan atau ditempelkan.

 Dan kalian harus dapat membedakan antara kwitansi dengan nota jual beli.

Ciri-Ciri Kwitansi

a. Kwitansi di bagi kedalam dua bagian diantaranya yakni :

- Bagian kiri disebut dengan sub kwitansi. Bagian ini digunakan sebagai bukti bagi yang menerima uang.

- Bagian sebelah kanan diberikan kepada yang membayar atau menyerahkan sejumlah uang.

b. Adapun kwitansi yang dibuat rangkap, dimana bagian paling atas (asli) diberikan kepada yang membayar dan bagian bawah (arsip) untuk yang menerima sejumlah uang.

c. Informasi yang dimuat dalam kwitansi diantaranya: nama lengkap yang menyerahkan sejumlah uang, jumlah uang yangt diserahkan atau dibayarkan, tempat maupun tanggal penyerahan uang dan nama lengkap maupun tandatangan penerima.

Saham, Konosemen/Bill of Lading, Bilyet Giro, Letter of Credit

(9)

A. Saham 1. Definisi

Saham merupakan bukti penyertaan modal dalam suatu perseroan, yang dibuktikan dengan surat saham, sebagai suatu surat legitimasi yang menyatakan bahwa pemegang adalah orang yang berhak atas deviden, hak suara, dan manfaat lainnya.

2. Dasar Hukum:

Undang-undang No. 1 tahun 1995 jo Undang-Undang No.40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (“UUPT”).

Menurut Pasal 24 ayat 2 UUPT Jenis-jenis saham adalah:

 saham atas tunjuk, yang dibuktikan dengan surat saham,

 saham atas nama.

3. Jenis Saham

a) Saham Biasa, memiliki karakteristik seperti:

• Hak klaim terakhir atas aktiva perusahaan jika perusahaan di likuidasi.

• Hak suara proporsional pada pemilihan direksi serta keputusan lain yang ditetapkan pada Rapat Umum Pemegang Saham.

• Dividen, jika perusahaan memperoleh laba dan disetujui di dalam Rapat Umum Pemegang Saham.

• Hak memesan efek terlebih dahulu sebelum efek tersebut ditawarkan kepada masyarakat.

b) Saham Preferen, memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Memiliki berbagai tingkat, dapat diterbitkan dengan ciri-ciri yang berbeda

b. Tagihan terhadap aktiva dan pendapatan, memiliki prioritas lebih tinggi dari saham biasa dalam hal pembagian dividen

c. Dividen kumulatif, bila belum dibayarkan dari periode sebelumnya maka dapat dibayarkan pada periode berjalan dan lebih dahulu dari saham biasa

d. Konvertibilitas, dapat ditukar menjadi saham biasa, bila kesepakatan antara pemegang saham dan organisasi penerbit terbentu

e. Pembayaran dividen dalam jumlah yang tetap.

f. Hak klaim lebih dahulu dibanding saham biasa jika perusahaan dilikuidasi.

g. Dapat dikonversikan menjadi saham biasa.

4. Pihak-pihak yang terlibat dalam Saham adalah:

- Penerbit (emiten) adalah PT yang menerbitkan saham dalam rangka menghimpun modal;

- Pemegang saham atau investor adalah pemodal yang membeli atau menyetorkan uang untuk keperluan penyertaan modal dalam perusahaan Penerbit.

B. Konosemen/Bill of Lading 1. Definisi

Berdasarkan Pasal 506 KUHD, konosemen adalah suatu surat bertanggal yang dibuat oleh pengangkut (dalam hal ini perusahaan pelayaran), yang menerangkan bahwa ia telah menerima barang-barang (dari pengirim) untuk diangkut ke suatu tempat tertentu dan

(10)

selanjutnya menyerahkannya kepada orang tertentu (penerima), surat mana di dalamnya juga menerangkan mengenai syarat-syarat penyerahan barang-barang dimaksud.

2. Dasar Hukum

- Pasal 506 sampai dengan Pasal517d KUHD;

- The Hague Rules tahun 1968, merupakan suatu kesepakatan bersama para ahli hukum internasional, yang tergabung dalam International Law Association dalam suatu konferensi di Den Haag, mengenai bentuk dan isi konosemen.

3. Pihak-pihak yang terlibat dalam konosemen adalah:

1. Penerbit, dalam hal ini perusahaan pelayaran yang diwakili oleh nakhoda kapal;

2. Pihak penerima atau penggantinya.

Penerima, sebagaimana dimaksud di atas, dapat:

1. Orang yang namanya ditunjuk dalam konosemen;

2. Kepada orang penggantinya pengirim atau kepada orang yang ditunjuk oleh pengirim (kepada pengganti);

3. Kepada orang penggantinya pihak ketiga atau kepada orang yang ditunjuk oleh pihak ketiga (kepada pengganti);

4. Kepada orang yang namanya disebut dalam konosemen atau pembawa (kepada pembawa);

5. Kepada orang yang membawa surat konosemen itu (kepada pembawa) C. Bilyet Giro

1. Definisi

Bilyet Giro adalah surat perintah dari nasabah pemilik dana pada rekening giro, kepada bank atau tertarik untuk memindahkan sejumlah dana kedalam rekening yang tertera dalam bilyet giro, dana mana tidak dapat dicairkan secara tunai.

2. Dasar Hukum Antara lain:

1. SEBI (Surat Edaran Bank Indonesia) No.8/7/1975;

2. SEBI (Surat Edaran Bank Indonesia) No.9/72/1975;

3. SEBI (Surat Edaran Bank Indonesia) No.9/16/1976;

4. SEBI (Surat Edaran Bank Indonesia) No.5/85/1972;

3. Syarat Formal

Setiap Bilyet Giro harus berisikan:

1. Nama dan nomor Bilyet Giro;

2. Nama bank tertarik;

3. Perintah bayar tanpa syarat;

4. Nama dan nomor rekening pemegang /penerima;

5. Nama dan alamat bank penerima;

6. Jumlah dana dalam angka dan huruf;

7. Tempat dan tanggal penarikan;

(11)

8. Tanda tangan dan nama jelas penarik;

4. Pihak yang Terlibat

Pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi yang menggunakan Bilyet Giro adalah sama dengan pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi yang menggunakan cek.

Menurut SKBI (Surat Keputusan Bank Indonesia) No.28/32/Kep/Dir Tahun 1995 tentang Bilyet Giro Pasal 1, pihak dalam Bilyet Giro adalah sebagai berikut :

 penerbit, yaitu nasabah yang memerintahkan pemindahbukuan sejumlah dana atas beban rekeningnya atau penerbit adalah pihak yang menerbitkan atau mengeluarkan bilyet giro

 penerima, yaitu nasabah yang memperoleh pemindahbukuan dana sebagaimana diperintahkan oleh penarik kepada tertarik;

 tertarik, yaitu bank yang menerima perintah pemindahbukuan;

 bank penerima, yaitu bank yang menatausahakan rekening penerima.

5. Beberapa istilah yang berkaitan dengan Bilyet Giro

1. Bilyet Giro mundur adalah Bilyet Giro yang tanggal efektifnya setelah tanggal penerbitan;

2. Stop payment merupakan perintah penarik untuk membatalkan penarikan yang disebabkan oleh hilangnya Bilyet Giro;

3. Inkaso (Pasal 183a KUHD) adalah perintah atau kuasa untuk menagihkan sejumlah uang yang tertera dalam Bilyet Giro;

4. Cerukan (overdraft) adalah kondisi yang mana bank tertarik melakukan pembayaran atas instruksi pendebetan atau penarikan yang dilakukan penarik atau nasabah, walaupun dana pada rekening giro tersebut tidak mencukupi;

5. Bilyet Giro kosong adalah tolakan terhadap Bilyet Giro yang ditarik, dikarenakan: (i) saldo rekening tidak cukup, (ii) rekening telah ditutup, /dan (iii) alasan lain;

6. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Bilyet Giro:

1. Apabila terdapat perbedaan penulisan dalam jumlah uang dalam angka dan huruf, maka yang berlaku yang tertulis dalam huruf;

2. Apabila terdapat penulisan jumlah uang yang berulang-ulang, maka yang berlaku adalah jumlah yang terkecil;

3. Setiap perubahan perintah atau coretan, wajib ditandatangani oleh penarik di tempat kosong yang terdekat dengan perubahan tersebut.

4. Bilyet Giro hanya dikenal dalam hukum Indonesia. Di negara lain, Bilyet Giro sebagai media pemindahbukuan dana pada rekening giro, tidak dikenal mengingat baik untuk keperluan pembayaran tunai atau media pemindahbukuan hanya digunakan satu instrument yaitu cek.

(12)

7. Tanggal dan batas waktu yang berlaku dalam Bilyet Giro:

1. Tanggal penerbitan;

2. Tanggal efektif (bukan merupakan syarat formal Bilyet Giro) adalah tanggal mulai berlakunya tenggang waktu penarikan. Apabila tidak ditulis dalam Bilyet Giro maka tanggal penebitan sama dengan tanggal efektif;

3. Tenggang waktu penarikan selama-lamanya 70 hari sejak tanggal penerbitan;

4. Tenggang waktu penawaran selama-lamanya 6 bulan setelah batas waktu penarikan;

5. Masa daluwarsa adalah masa setelah tenggang waktu penawaran.

D. Letter of Credit 1. Definisi

Letter of credit, atau sering disingkat menjadi L/C, LC, atau LOC, adalah sebuah cara pembayaran internasional yang memungkinkan eksportir menerima pembayaran tanpa menunggu berita dari luar negeri setelah barang dan berkas dokumen dikirimkan keluar negeri (kepada pemesan/importir).

2. Dasar Hukum

Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1982 Tentang Pelaksanaan Ekspor, Impor Dan Atau Lintas Devisa.

3. Pelaku L/C

Applicant atau pemohon kredit adalah importir (pembeli) yang mengajukan aplikasi L/C.

Beneficiary adalah eksportir (penjual) yang menerima L/C.

Issuing bank atau opening adalah bank pembuka L/C.

Advising bank adalah bank yang meneruskan L/C, yaitu bank koresponden (agen) yang meneruskan L/C kepada beneficiary. Bank tidak bertanggung jawab atas isi L/C dan hanya bertindak sebagai perantara.

Confirming bank adalah bank yang melakukan konfirmasi atas permintaan issuing bank dan menjamin sepenuhnya pembayaran.

Paying bank adalah bank yang secara khusus ditunjuk dalam L/C untuk melakukan pembayaran dan beneficiary berkewajiban

Carrier adalah pengangkut barang yang dikirim (Perusahaan Pelayaran/Penerbangan) untuk dibeberapa negara dengan perbatasan darat bisa juga perusahaan angkutan darat seperti truk, kereta Dll).

(13)

4. Tata cara pembayaran dengan L/C

1. Importir meminta kepada banknya (bank devisa) untuk membuka suatu L/C untuk dan atas nama eksportir. Dalam hal ini, importir bertindak sebagai opener. Bila importir sudah memenuhi ketentuan yang berlaku untuk impor seperti keharusan adanya surat izin impor, maka bank melakukan kontrak valuta (KV) dengan importir dan melaksanakan pembukaan L/C atas nama importir.

Bank dalam hal ini bertindak sebagai opening/issuing bank. Pembukaan L/C ini dilakukan melalui salah satu koresponden bank di luar negeri. Koresponden bank yang bertindak sebagai perantara kedua ini disebut sebagai advising bank atau notifiying bank. Advising bank memberitahukan kepada eksportir mengenai pembukaan L/C tersebut. Eksportir yang menerima L/C disebut beneficiary.

2. Eksportir menyerahkan barang ke Carrier, sebagai gantinya Eksportir akan mendapatkan bill of lading.

3. Eksportir menyerahkan bill of lading kepada bank untuk mendapatkan pembayaran. Paying bank kemudian menyerahkan sejumlah uang setelah mereka mendapatkan bill of lading tersebut dari eksportir. Bill of lading tersebut kemudian diberikan kepada Importir.

4. Importir menyerahkan bill of lading kepada Carrier untuk ditukarkan dengan barang yang dikirimkan oleh eksportir.

5. Jenis-jenis L/C a. Revocable L/C

L/C yang sewaktu-waktu dapat dibatalkan atau diubah secara sepihak oleh opener atau oleh issuing bank tanpa memerlukan persetujuan dari beneficiary.

b. Irrevocable L/C

Irrevocable L/C adalah L/C yang tidak bisa dibatalkan selama jangka berlaku (validity) yang ditentukan dalam L/C tersebut dan opening bank tetap menjamin untuk menerima wesel-wesel yang ditarik atas L/C tersebut. Pembatalan mungkin juga dilakukan, tetapi harus atas persetujuan semua pihak yang bersangkutan dengan L/C tersebut.

c. Irrevocable dan Confirmed L/C

L/C ini diangggap paling sempurna dan paling aman dari sudut penerima L/C (beneficiary) karena pembayaran atau pelunasan wesel yang ditarik atas L/C ini dijamin sepenuhnya oleh opening bank maupun oleh advising bank, bila segala syarat-syarat dipenuhi, serta tidak mudah dibatalkan karena sifatnya yang irrevocable.

d. Clean L/C

(14)

Dalam L/C ini tidak dicantumkan syarat-syarat lain untuk penarikan suatu wesel. Artinya, tidak diperlukan dokumen-dokumen lainnya, bahkan pengambilan uang dari kredit yang tersedia dapat dilakukan dengan penyerahan kuitansi biasa

e. Documentary L/C

Penarikan uang atau kredit yang tersedia harus dilengkapi dengan dokumen- dokumen lain sebagaimana disebut dalam syarat-syarat dari L/C.

f. Documentary L/C dengan Red Clause

Jenis L/C ini, penerima L/C (beneficiary) diberi hak untuk menarik sebagian dari jumlah L/C yang tersedia dengan penyerahan kuitansi biasa atau dengan penarikan wesel tanpa memerlukan dokumen lainnya, sedangkan sisanya dilaksanakan seperti dalam hal documentary L/C. L/C ini merupakan kombinasi open L/C dengan documentary L/C.

g. Revolving L/C

L/C ini memungkinkan kredit yang tersedia dipakai ulang tanpa mengadakan perubahan syarat khusus pada L/C tersebut. Misalnya, untuk jangka waktu enam bulan, kredit tersedia setiap bulannya US$ 1.200, berarti secara otomatis setiap bulan (selama enam bulan) kredit tersedia sebesar US$ 1.200, tidak peduli apakah jumlah itu dipakai atau tidak. Jenis lainnya

h. Back to Back L/C

Dalam L/C ini, penerima (beneficiary) biasanya bukan pemilik barang, tetapi hanya perantara. Oleh karena itu, penerima L/C ini terpaksa meminta bantuan banknya untuk membuka L/C untuk pemilik barang-barang yang sebenarnya dengan menjaminkan L/C yang diterimanya dari luar negeri.

i. Transferable L/C

Beneficiary berhak memnita kepada bank yang diamanatkan untuk melakukan pembayaran/akseptasi kepada setiap bank yang berhak melakukan negosiasi, untuk menyerahkan hak atas kredit sepenuhnya/sebagian kepada pihak ketiga.

j. Stand by L/C

Suatu jaminan khusus yang biasa nya dipakai sebagai "stand by" oleh pihak beneficiary atau bank atas nama nasabah nya. Dalam hal ini apabila pihak applicant gagal untuk melaksanakan suatu kontrak/gagal untuk membayar pinjaman/memenuhi pinjamannya, maka Bank yang bersangkutan akan membayar kepada pihak beneficiary atas penyerahan selembar sight draft &

surat pernyataan dari pihak beneficiary yang menyatakan bahwa applicant atau kontraktor tidak dapat melaksanakan kontrak yang di setujui, membayar pinjaman/memenuhi kewajibannya.

PENGANGKUTAN DARAT 1. Pengertian Pengangkut dan Pengangkutan

Menurut H.M.N Purwosucjipto , S.H. dari BAB V buku I KUHD yang dimaksud dengan “pengangkut” bukanlah “sopir” pada mobil atau “nahkoda” pada kapal atau “

(15)

pilot” pada pesawat terbang, tetapi majikan dari sopir, nahkoda, atau pilot tersebut yang menjadi pihak dalam perjanjian pengangkutan, dimana pihak lainnya adalah pengirim.

Jika pengangkut dan pengirim terjadi perjanjian pengangkutan, antara sopir, nahkoda atau pilot terhadap pengangkut terjadi perjanjian perburuhan yang terdapat 2 sifat yaitu : sifat perburuhan dan sifat pemberian kuasa. Jadi pengangkut adalah orang yang yang menjadi pihak dalam perjanjian. Jadi sopir, pilot, nahkoda merupakan buruh dari pengangkut.

Pengangkutan menurut Abdul Kadir Muhammad ialah, proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat pengangkutan, membawa barang atau penumpang dari tempat pemuatan ke tempat tujuan dan menurunkan barang atau penumpang dari alat pengangkut ke tempat ditentukan.

Menurut Ridwan Khairindy, pengangkutan merupakan pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Ada beberapa unsur pengangkutan, yaitu sebagai berikut:

a. adanya sesuatu yang diangkut;

b. tersedianya kendaraan sebagai alat angkut c. ada tempat yang dapat dilalui alat angkut.

2. Dasar hukum pengangkutan darat

Sejatinya Pengangkutan darat terdiri dari pengangkutan orang dan pengangkutan barang dengan melalui jalan umum. Pengangkutan orang dalam KUHD maupun KUHPerdata tidak diatur tentang pengangkutan orang melalui darat dan perairan darat sehingga ketentuan tentang perjanjian pengangkutan di darat dapat didasarkan pada ketentuan umum tentang perjanjian pada umumnya yaitu Pasal 1338 dan 1339 KUHPerdata.

Pengangkutan darat diatur dalam:

1. KUHD Buku I BAB V bagian 2 dan 3 pasal 90-98 2. UU No. 23 Tahun 2007 tentang perkeratapian;

3. UU No. 6 Tahun 1984 tentang Pos

4. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan 3. Perjanjian pengangkutan

Perjanjian pengangkutan merupakan timbal balik dimana pihak pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dari dan ke tempat tujuan tertentu, dan pengiriman barang membayar biaya/ongkos angkutan sebagaimana yang disetujui bersama. Hal ini diatur dalam pasal 90 KUHD. Namun surat muatan bukanlah unsur mutlak daripada perjanjian pengangkutan, yang berarti jika tidak adanya surat muatan perjanjian pengangkutan tetap ada yang dapat dibuktikan dengan alat pembuktian lainnya.

Sifat Hukum Perjanjian Pengangkutan

1. Pelayanan berkala : Dalam meiaksanakan perjanjian itu, hubungan kerja antara pengirim dengan pengangkut tidak terus-menerus, tetapi hanya kadangkala, kalau pengirim membutuhkan pengangkutan untuk pengiriman barang. Hubungan semacam ini disebut

(16)

pelayanan berkala, sebab pelayanan itu tidak bersifat tetap, hanya kadangkala saja, bila pengirim membutuhkan pengangkutan

2. Pemborongan : Seperti yang ditentukan dalam Pasal 1601 (b) KUH Perdata yang menentukan, Pemborongan pekerjaan adalah persetujuan, dengan mana pihak yang satu sipemborong, mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu persetujuan bagi pihak yang lain, dengan menerima suatu harga yang ditentukan.

3. Campuran : Pada pengangkutan ada unsur melakuka pekerjaan (pelayanan berkala) dan unsur penyimpanan, karena pengangkut berkewajiban untuk menyelenggarakan pengangkutan dan menyimpan barang-barang yang diserahkan kepadanya untuk diangkut (Pasal 466, 468 ayat (1) KUHD).

4. Prinsip-Prinsip Tanggung Jawab Pengangkut dalam Hukum Pengangkutan a.Tanggung Jawab Praduga Bersalah (Presumtion of Liability)

Menurut prinsip ini, ditekankan bahwa selalu bertanggung jawab atas setiap kerugian yang timbul pada pengangkutan yang diselenggarakannya, tetapi jika pengangkut dapat membuktikan bahwa dia tidak bersalah, maka dia dibebaskan dari tanggung jawab membayar ganti rugi kerugian itu. Diatur dalam ketentuan pasal 468 ayat 2 KUHD

b.Tanggung Jawab atas Dasar Kesalahan (Based on Fault or Negligence)

Dapat dipahami, dalam prinsip ini jelas bahwa setiap pengangkut harus bertanggung jawab atas kesalahannya dalam penyelenggaraan pengangkutan dan harus mengganti rugi dan pihak yang dirugikan wajib membuktikan kesalahan pengangkut. Beban pembuktian ini diberikan kepada pihak yang dirugikan dan bukan pada pengangkut.Hal ini diatur dalam pasal 1365 KUHPer.

c.Tanggung Jawab Pengangkut Mutlak (Absolut Liability)

Pada prinsip ini, titik beratnya adalah pada penyebab bukan kesalahannya. Menurut prinsip ini, pengangkut harus bertanggung jawab atas setiap kerugian yang timbul dalam pengangkutan yang diselenggarakan tanpa keharusan pembuktian ada tidaknya kesalahan pengangkut.

d. Praduga Selalu Tidak Bertanggung Jawab (Presumption of non-liability)

Prinsip praduga untuk selalu tidak bertanggung jawab hanya dikenal dalam lingkup transaksi konsumen yang sangat terbatas, dan pembatasan demikian biasanya common sense dapat dibenarkan. Contoh dari penerapan prinsip ini adalah pada hukum pengangkutan. Kehilangan atau kerusakan pada bagasi kabin/bagasi tangan yang biasanya dibawa dan diawasi si penumpang (konsumen) adalah tanggung jawab dari penumpang. Dalam hal ini, pengangkut (pelaku usaha) tidak dapat diminta pertanggungjawabannya.

d. Pembatasan Tanggung Jawab (limitation of liability)

Perusahaan pengangkutan darat, laut, maupun udara bertanggung jawab sebatas kerugian nyata terhadap barang yang hilang maupun rusak yang disebabkan oleh pengoperasian pengangkutan darat, laut, maupun udara. Perusahaan pengangkutan

(17)

darat, laut, maupun udara bertanggung jawab atas apa diderita penumpang selama berada di atas sarana pengankutan sepanjang pengangkut dapat membuktikan bahwa kerugian atau luka yang dialami bukan kesalahan dari penumpang atau karena force majeur.

5. Aspek dari Pengangkutan Barang meliputi 1) Perjanjian Pengangkutan Barang

2) Pengangkut

Kewajiban Pengangkut

1. Menyelenggarakan pengangkutan dengan sebaik-baiknya dari tempat pemberangkatan sampai ke tempat tujuan;

2. Mengusahakan agar barang-barang yang diangkut tetap dalam keadaan lengkap tidak rusak untuk diserahkan pada pihak yang dialamati.

Hak Pengangkut

1. Menerima pembayaran dari biaya pengangkutan yang sudah diselenggarakan;

2. Apabila terjadi sengketa tentang biaya pengangkutan maka dapat diajukan ke Pengadilan Negeri setempat.

Tanggung Jawab Pengangkut

1. Menyelenggarakan pengangkutan barang dari tempat asal sampai ke tempat tujuan dengan selamat.

2. Berdasarkan Pasal 91 KUHD pengangkut harus mengganti kerugian yang diderita oleh para pihak yang dirugikan. Namun pengangkut dapat mengelak dari sanksi tersebut dengan membuktikan bahwa ketidaksempurnaan prestasi tersebut disebabkan oleh:

1. Cacat yang melekat pada barang itu sendiri.

2. Kesalahan dan atau kelalaian sendiri pada pengirim/ ekspeditur.

3. Keadaan memaksa (overmacht) 6.Asuransi pengangkutan

Asuransi pengangkutan adalah suatu asuransi/pertanggungan yang memberikan jaminan atau proteksi terhadap kerugian/kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang diderita atas barang-barang yang dipertanggungkan sebagai akibat adanya risiko-risiko yang terjadi selama dalam suatu perjalanan (transit) yang dijamin dalam polis.

Para pihak dalam asuransi pengangkutan

1. Penanggung : Perusahaan Asuransi 2. Tertanggung : Pengirim / pemilik barang 3. Yang dipertanggungkan : Barang-barang/muatan 4. Average Adjuster : Ahli penaksir kerusakan 5. Polis asuransi : Bukti perjanjian Asuransi

Objek Asuransi

a. Asuransi atas keselamatan penumpang b. Asuransi atas barang yang di angkut

(18)

c. Asuransi atas kendaraan pengangkut Risiko dalam pengangkutan darat:

a. Bencana alam

b. Tabrakan atau senggolan atara sesama kendaran pengangkut, menabrak benda keras, tergelincir keluar dari jalan rel, jatuh kesungai atau ke jurang

c. Penahanan atau penyitaan oleh yang berwajib atau penduduk

d. Keusuhan, kekacauan, pemogokan, demonstrasi, kebakaran, pencurian, kehilangan, dsb

7. Pengajuan Ganti Rugi

Ganti rugi yang harus dibayar oleh pengangkut karena tidak menyerahkan seluruhnya atau sebagian dari barang-barang, dihitung menurut nilai barang yang macam dan sifatnya sama di tempat tujuan, pada waktu barang itu seharusnya diserahkan,

Pasal yang mengatur ganti rugi :

Pasal 472 : Ganti rugi yang harus dibayar oleh pengangkut karena tidak menyerahkan seluruhnya atau sebagian dari barang-barang, dihitung menurut nilai barang yang macam dan sifatnya sama di tempat tujuan, pada waktu barang itu seharusnya diserahkan, dikurangi dengan apa yang dihemat untuk bea, biaya dan biaya angkutan karena tidak adanya penyerahan.(KUHPerd. 1246 dst.; KUHD 366, 473, 476, 517c.) Pasal 477 : Pengangkut bertanggung jawab untuk kerugian yang disebabkan oleh penyerahan barang yang terlambat, kecuali bila ia membuktikan, bahwa keterlambatan itu adalah akibat suatu kejadian yang selayaknya tidak dapat dicegah atau dihindarinya. (KUHPerd. 1244 dst.; KUHD 92, 342 dst., 367 dst., 370, 468,

517c, o, 528, 741-1 nomor 30.)

Pasal 479 : Pengangkut mempunyai hak atas penggantian kerugian yang dideritanya akibat diberikan kepadanya pemberitahuan yang tidak betul atau tidak lengkap mengenai waktu dan sifatsifat barang, kecuali bila ia telah mengenal atau seharusnya mengenal watak dan sifat-sifat itu. Pengangkut setiap waktu dapat melepaskan dirinya dari barang-barang yang menimbulkan bahaya bagi muatan atau kapalnya, juga dengan cara menghancurkannya tanpa diharuskan mengganti kerugian karena hal itu.

Hal ini berlaku jika terhadap barang-barang yang dianggap sebagai barang selundupan, bila kepada pengangkut diberikan pemberitahuan yang tidak betul dan tidak lengkap mengenai barang-barang itu. (KUHPerd. 1246 dst.; KUHD 357, 372, 468, 504, 617c, 741; S. 1927-34 pasal 117 dst.) Pasal 487 : Gugatan untuk penggantian kerugian harus didaftarkan dalam 1 tahun setelah penyerahan barang atau setelah hari barang itu seharusnya diserahkan. (KUHD 486, 488, 741.)

ANGKUTAN KERETA API A. DASAR HUKUM

1. UU No 23 Tahun 2007 Tentang Perkeretaapian.

2. PP No. 56 Tahun 2009 Tentang Penyelenggaraan Perkeretaapian 3. PP No. 72 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Kereta api.

(19)

B. ANGKUTAN KERETA API

Angkutan kereta api adalah kegiatan sarana perkeretaapian dengan tenaga gerak, baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan sarana perkeretaapian lainnya, yang akan ataupun sedang bergerak di jalan rel yang terkait dengan perjalanan kereta api. Jenis angkutan pada perkeretaapian dibagi menjadi 2 yaitu:

1. Berdasarkan jenis angkutan a. Angkutan orang

Angkutan orang adalah pengangkutan orang dengan kereta api dilakukan dengan menggunakan kereta.

b. Angkutan barang

Angkutan barang Adalah angkutan barang dengan kereta api dilakukan dengan menggunakan gerbong. Angkutan barang terdiri atas sebagai berikut :

1. Barang umum 2. Barang khusus

3. Bahan berbahaya dan beracun

4. Limbah bahan berbahaya dan beracun.

2. Berdasarkan fungsinya a. Kereta api Umum

Kereta api umum adalah perkeretaapian yang digunakan untuk melayani angkutan orang dan/atau barang dengan dipungut biaya. Kereta api umum dibagi menjadi 2 yaitu:

Perkeretaapian perkotaan, Perkeretaapian antarkota.

Yang dibagi lagi menjadi 3 yaitu: Perkeretaapian nasional, Perkeretaapian provinsi, Perkeretaapian kabupaten/kota

b. Kereta Api khusus

Kereta api khusus adalah perkeretaapian yang hanya digunakan untuk menunjang kegian pokok badan usaha tertentu dan tidak digunakan untuk melayani masyarakat umum..

Badan usaha adalah badan usaha milik Negara, badan usaha milik daerah, atau badan hukum indonesia yang khusus didirikan untuk perkeretaapian

C. TARIF ANGKUTAN KERETA API

 Berdasarkan perhitungan modal

 Biaya operasi

 Biaya perawatan

 Keuntungan.

(20)

Berdasarkan PP no.72 tahun 2009, tarif angkutan terdiri atas sebagai berikut : Tarif angkutan orang, Tarif angkutan barang, Tarif denda

D. TANGGUNG JAWAB PENYELENGGARA SARANA DAN PRASARANA PERKERETAAPIAN.

1. Tanggung jawab terhadap penumpang yang diangkut.

2. Tanggung jawab terhadap barang yang diangkut.

3. Tanggung jawab penyelenggara prasarana perkeretaapian

E. HAK, KEWAJIBAN DAN WEWENANG PENYELENGGARA SARANA DAN PRASARANA PERKERETAAPIAN

1. Sarana.

Hak penyelenggara sarana perkeretaapian.

a. Penyelenggara sarana Perkeretaapian berhak menahan barang yang diangkut dengan kereta api jika pengirim atau penerima barang tidak memenuhi kewajiban dalam batas waktu yang ditetapkan sesuai dengan perjanjian.

b. Pengangkut dapat menentunkan dalam perjanjian bahwa pengangkut tidak bertanggung jawab atas kehilangan atau kerusakan barang bawaan penumpang, kecuali jika terbukti bahwa kehilangan atau kerusakan barang itu disebabkan oleh kesalahan pengangkut atau kelalaian karyawannya.

c. Pengangkut juga dapat menentukan dalam perjanjian bahwa pengangkut tidak bertanggung jawab terhadap barang yang diangkut dengan syarat-syarat tertentu dan barang yang dilarang untuk diangkut dengan kereta api.

Kewajiban penyelenggara sarana perkeretaapian

Menurut ketentuan UU perkeretaapian di indonesia, kewajiban penyelenggara sebagai berikut:

a. Terhadap Penumpang

1. Mengutamakan keselamatan dan keamanan orang 2. Mengutamakan pelayanan kepentingan umum

3. Menjaga kelangsungan pelayanan pada lintas yang ditetapkan

4. Mengumumkan jadwal perjalanan kereta api dan terif pengangkutan kepada masyarakat.

5. Mematuhi jadwal keberangkatan kereta api

6. Mengumumkan kepada pengguna jasa apabila terjadi pembatalan dan penundaan keberangkatan, keterlambatan kedatangan, atau pengalihan pelayanan lintas kereta api disertai alasan yang jelas.

(21)

Apabila dalam perjalanan, kereta api terdapat hambatan atau gangguan yang mengakibatkan kereta api tidak dapat melanjutkan perjalanan sampai stasiun tujuan yang disepakati maka penyelenggara wajib:

a. Menyediakan pengangkutan dengan pengangkutan lain atau moda pengangkutan lain sampai stasiun tujuan, atau

b. Memberikan ganti kerugian senilai harga karcis.

c. Bila penyelenggara tidakmenyediakan kereta api lain atau moda pengangkutan lain sampai stasiun tujuan atau tidak memberi ganti kerugian senilai harga karcis dikenai sanksi administratif serupapembekuan izin operasi atau pencabutan izin operasi.

b. Terhadap barang

Penyelenggara wajib mengangkut barang yang telah dibayar biaya pengangkutannya oleh pengguna jasa (pengirim)sesuai dengan tingkat pelayanan yang dipilih. Pengguna jasa yang telah membayar biaya pengangkutan berhak memperoleh pelayanan sesuai dengan tingkat pelayanan yang dipilih. Surat pengangkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian pengangkutan barang.

2.Prasarana

Hak dan wewenang penyelenggara prasarana perkeretaapian Penyelenggara prasarana perkeretaapian berhak dan berwenang:

1. Mengatur, mengendalikan, dan mengawasi perjalanan kereta api.

2. Menghentikan pengoperasian sarana perkeretapian apabila dapat membayakan perjalanan kereta api

3. Melakukan penerbitan terhadap pengguna jasa kereta api yang tidak memenuhi persyaratan sebagai pengguna jasa kereta api di stasiun.

4. Mendahulukan perjalanan kereta api di perpotongan sebidang dengan jalan.

F. JANGKA WAKTU PENGAJUAN KEBERATAN DAN GANTI KERUGIAN Dalam hal pihak penerima barang tidak menyampaikan keberatan pada saat menerima barang dari penyelenggara sarana Perkeretaapian, barang dianggap telah diterima dalam keadaan baik. Jika terdapat kerusakan barang pada saat barang diterima, penerima barang dapat mengajukan keberatan dan permintaan ganti rugi selambat-lambatnya dalam waktu 7 hari sejak barang diterima. Dan apabila pihak penerima barang mengajukan ganti rugi melebihi dari jangka waktu yang ditentukan, hak untuk menuntut ganti kerugian kepada pihak penyelenggara sarana perkeretaapian menjadi gugur.

G. ASURANSI DAN GANTI KERUGIAN

(22)

Penyelenggara sarana perkeretaapian wajib mengasuransikan tanggung jawabnya kepada pengguna jasa, awak sarana perkeretaapian dan orang yang dipekerjakan.

Apabila pihak penyelenggara sarana perkeretaapian tidak mengasuransikan tanggung jawabnya, maka akan dikenai sanksi administrative berupa pembekuan izin operasi atau pencabutan izin operasi.

Referensi

Dokumen terkait