PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Namun dari hasil pengamatan peneliti, terdapat beberapa perbedaan antara Sesajen Larung umumnya di wilayah pesisir dengan Sesaji Larung yang ada di desa Lojejer. Di pesisir selatan Kabupaten Jember misalnya, banyak beredar versi cerita rakyat tentang asal usul tradisi Larung Sesaji. Berbeda dengan asal muasal tradisi Larung Sesaji di desa Lojejer yang bermula dari tokoh Buyut Jirin yang berasal dari Mataram kemudian menikah dengan pria asal Puger.
Dalam perkembangannya, tradisi pengorbanan Larung di Desa Lojejer juga berbeda dengan ritual larung di tempat lain. Dari sinilah peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Fungsi Sosial dan Religius Tradisi Kurban Pada Masyarakat Pesisir Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan Kabupaten Jember.”
Fokus penelitian
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Definisi Istilah
Kemudian adat istiadat, kepercayaan, dan adat istiadat tersebut menjadi ajaran atau pemahaman yang diwariskan dari para pendahulu kepada generasi penerusnya berdasarkan mitos-mitos yang tercipta dari wujud kebiasaan-kebiasaan yang menjadi rutinitas yang selalu dilakukan oleh marga-marga yang tergabung dalam masyarakat tersebut. sebuah negara. Kedua kata tersebut mewakili keseluruhan gagasan dan karya manusia, dalam perwujudan gagasan, nilai, norma, dan hukum, sehingga merupakan suatu dualitas (Abdul Syani, 1995: 53). Menurut Endraswara, sesaji merupakan aktualisasi pikiran, keinginan dan perasaan pelaku untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Masyarakat pesisir adalah sekelompok penduduk yang tinggal di wilayah pesisir yang hidup bersama dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari sumber daya yang ada di wilayah pesisir. Masyarakat pesisir yang didominasi oleh usaha penangkapan ikan pada umumnya masih berada pada garis kemiskinan, tidak mempunyai pilihan mata pencaharian, mempunyai tingkat pendidikan dan pengetahuan yang rendah serta belum sadar akan kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup (Lewaherilla, 2002). .
Sistematika Pembahasan
Dalam penelitian ini peneliti lebih memfokuskan pada fungsi sosio-religius dalam tradisi Larung Sesaji di desa Lojejer, sedangkan penelitian di atas lebih fokus pada fungsi sosial-religius dari Larung Sesaji. Dalam hal ini adalah semua pihak yang terkait dengan ritual Larung Sesaji di Desa Lojejer. Informan tambahan dalam penelitian ini adalah masyarakat desa Lojejer dan nelayan yang terlibat dalam tradisi Larung Sesaji.
Informan C juga merupakan informan tambahan yaitu tokoh agama yang setiap tahunnya mengikuti tradisi Larung Sesaji. Tahapan ini merupakan tahap pembentukan kesimpulan yang bersifat sementara dan berdasarkan data yang diperoleh mengenai fungsi sosial keagamaan pasar persediaan di Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan. Kemudian, hasil kajian mengenai fungsi sosial keagamaan upacara kurban di Desa Lojejer disimpulkan secara keseluruhan.
Penulis juga melakukan cross check terhadap data yang diperoleh dengan menggunakan beberapa teknik antara lain wawancara, observasi, dokumentasi berupa pemahaman fungsi sosial keagamaan dari ritual sesaji di Desa Lojejer. Sesuai dengan pernyataan informan di atas, terlihat jelas bahwa masyarakat Desa Lojejer menganggap Larung Sesaji sebagai agenda ritual yang harus diikuti oleh para nelayan. Pentingnya Perlengkapan Penawaran di Loket Penawaran di Desa Lojejer Bagi masyarakat pesisir Laut Selatan, sudah bukan hal yang tabu lagi melihat pemandangan orang yang datang membawa penawaran.
Berdasarkan hasil penelitian, tujuan yang ingin dicapai masyarakat nelayan Lojejer dalam melaksanakan tradisi Larung Sesaji adalah sama. Hal ini dapat disaksikan dengan adanya tradisi Larung Persembahan setiap tahunnya yang diikuti oleh para nelayan Lojejer. Persembahan larung dilakukan pada bulan Syuro, umumnya pada tanggal 16 hingga 18 masyarakat pesisir Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember.
Hal ini berhasil dilakukan oleh masyarakat nelayan di Desa Lojejer dengan tradisi Sesaji Larung yang awalnya mereka ikuti di Desa Puger. Hal ini dapat kita lihat pada peran masing-masing anggota Tradisi Persembahan Larung di Desa Lojejer berdasarkan status sosialnya. Dilihat dari tujuan pelaksanaan sesaji Larung di Desa Lojejer yaitu menolak balak seperti yang diungkapkan Pak Maimun di atas.
Sesaji Larung merupakan tradisi yang sudah mengakar kuat di masyarakat nelayan Desa Lojejer dan tidak pernah ditinggalkan.
KAJIAN KEPUSTAKAAN
Penelitan Terdahulu
Kajian Teoritik
- Masyarakat Pesisir ,Agama dan Budayanya
- Fungsionalisme Struktural Talcott Parsons
METODE PENELITIAN
Pendekatan Penelitian dan Jenis Penelitian
Lokasi Penelitian
Subyek Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Analisis Data
Sedangkan menurut (Bogdan dan Biklen: 1982) dalam Moleong, analisis data kualitatif adalah suatu upaya yang dilakukan dengan cara menggarap data. Pengumpulan data mentah dilakukan dengan memperoleh informasi dari informan utama dan informan tambahan yang dipilih oleh peneliti. Data yang diperoleh dari informan merupakan data yang berasal dari jawaban informan atas wawancara yang dilakukan peneliti.
Hasil wawancara yang diperoleh terhadap informan baik informan utama maupun informan tambahan diubah dalam bentuk tertulis sesuai nama informan. Saat melakukan pengkodean, penulis mengambil kata kunci dari data yang telah ditranskrip sebelumnya yang diperoleh dari rekaman telepon genggam dan catatan lapangan informan utama atau informan tambahan. Pada tahap kategorisasi data ini, peneliti mulai mengkategorikan data yang sebelumnya diperoleh dari hasil pengkodean data informan utama dan informan tambahan, dengan cara lebih menyederhanakan data sesuai kategorisasi sesuai yang telah ditetapkan oleh penulis, yaitu: o Sosial -fungsi religi oleh-oleh adat bagi masyarakat pesisir Desa Lojejer Kecamatan Wuluhan.
Dalam proses ini dapat terjadi beberapa kemungkinan, pertama, sumber yang satu konsisten (koheren) dengan sumber yang lain, kedua, sumber yang satu berbeda dengan sumber data yang lain, namun tidak perlu bertentangan, ketiga, sumber yang satu tidak konsisten dengan sumber yang lain, atau data yang diperoleh dari teknik wawancara dengan menggunakan teknik observasi dan dokumentasi tidak runtut atau bahkan sebaliknya. Dalam proses triangulasi data, penulis melakukan cross check sumber dan teknik yang diperoleh dari wawancara antar masing-masing informan, baik informan tambahan maupun informan utama. Kesimpulan akhir diambil ketika peneliti merasa bosan dan tidak ada lagi informasi baru yang diperoleh, maka kesimpulan akhir diambil dengan mengamati data yang diperoleh dari informan.
Hasil data yang sebenarnya ditelaah dan dijelaskan secara keseluruhan hingga diperoleh kesimpulan akhir berdasarkan tujuan penelitian dan jawaban permasalahan penelitian. Kesimpulan sementara data (hipotesis): dari data yang diperoleh di lapangan yang telah melewati tahap pengkodean dan kategorisasi dan. Triangulasi: berguna untuk memeriksa data yang diperoleh agar data tersebut akurat pada tahap konversi menjadi informasi yang berharga.
Keabsahan Data
Dalam triangulasi metode terdapat dua strategi, yaitu: (a) pengecekan derajat keyakinan terhadap temuan hasil penelitian dari berbagai teknik pengumpulan data dan (b) pengecekan derajat keyakinan pada berbagai sumber data dengan menggunakan metode yang sama.
Tahap-tahap Penelitian
PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
Gambaran Objek Penelitian
Berdasarkan data profil Desa Lojejer tahun 2015, Desa Lojejer terdiri dari 3 dusun, yaitu: Dusun Krajan, Dusun Sulakdoro, dan Dusun Kepel. Tabel di atas menunjukkan bahwa tingkat pendidikan di Desa Lojejer tidak mengalami perubahan yang berarti antara tahun 2014 dan 2015. Dan jika melihat tabel di atas, mayoritas penduduk dengan tingkat pendidikan tinggi adalah laki-laki.
Hal ini sesuai dengan temuan peneliti bahwa seluruh pejabat atau pegawai Kepala Desa Lojejer adalah laki-laki. Tentu saja faktor alam atau letak geografis Desa Lojejer yang berbatasan dengan laut di sisi selatan turut berperan dalam hal ini.
Penyajian Data dan Analisis
Asal usul penawaran pada tahun 1967 pertama kali diprakarsai oleh Mr. Saifurrohman, seorang kepala desa. “Pada akhirnya, hingga saat ini sesaji tersebut masih diterima oleh masyarakat setempat dan tokoh agama.” Berdasarkan penjelasan di atas menunjukkan bahwa Sesaji Larung merupakan wujud rasa syukur nelayan atas hasil laut yang melimpah.
Keyakinan masyarakat Jawa yang memandang bulan Sura sebagai bulan suci juga menjadi salah satu alasan dipentaskannya Larung Sesaji. Bahkan, khusus bagi keturunan Mandar di Puger, jika ada hajatan harus melakukan sesaji terlebih dahulu. Prosesi pelaksanaan kurban berbeda-beda di setiap daerah, namun ada kesamaan yang keduanya membawa kurban ke laut.
Secara umum prosesi Larung Sesaji yang paling terlihat adalah prosesi atau berjalan bersama menuju ke arah laut. Berdasarkan penuturan Bapak Abdul Maimun diatas, nampaknya masyarakat Lojejer sebenarnya telah melakukan perubahan ke arah yang lebih baik yaitu dengan menjalankan tradisi Larung Sesaji sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya yaitu Islam. Tindakan adaptasi yang dilakukan adalah keikutsertaan nelayan Lojejer dalam pelaksanaan Larung Penawaran di Puger, lingkungan di luar sistem.
Doa berjamaah di kantor desa, kegiatan ini dilaksanakan oleh masyarakat Lojejer, tokoh agama dan pegawai pemerintah di H-1 Larung Sesaji. Pertunjukan Ringgit, sebagai penutup tradisi Larung Sesaji, seluruh masyarakat menikmati pertunjukan wayang pada malam harinya. Pegawai pemerintah memfasilitasi seluruh kebutuhan persembahan Larung dalam bentuk dana sebesar 60%, seperti yang dijelaskan oleh Pak Hendik.
Pembahasan Temuan
Tradisi Larung Sesaji di Desa Lojejer sudah menjadi tradisi yang bernuansa Islami, hal ini dibuktikan dengan adanya perbedaan prosesi ritual Larung Sesaji yang pada umumnya masih menggunakan ritual Kejawen, namun hal ini sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat Lojejer. Fungsi sosio-religius dari sesaji Tradisi Larung di Desa Lojejer merupakan wujud nilai-nilai sosial dalam lembaga masyarakat pada saat acara sedekah danau. Masyarakat setempat secara gotong royong melakukan kegiatan baik sebelum maupun sesudah acara. Hal ini dapat kita lihat pada tradisi sesaji Larung yang dilakukan oleh para nelayan di Desa Lojejer yang tujuannya adalah untuk menolak kayu gelondongan dan juga sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.
Dengan status sosial yang berbeda-beda, masyarakat Desa Lojejer mampu mewujudkan dan menyukseskan sebuah tradisi dari tahun ke tahun. Berdasarkan pernyataan Bapak Abdul Maimun diatas menunjukkan bahwa masyarakat Lojejer memang telah melakukan perubahan ke arah yang lebih baik menurut Islam yaitu dengan melaksanakan tradisi Larung Sesaji sesuai dengan perintah agama yang diyakininya yaitu Islam. Menurut Pak. Abdul Maimun makna kepala kambing kurban atau ijol-yola, dan makna boneka laki-laki dan perempuan merupakan bentuk kenikmatan masyarakat dengan ikut serta dalam kurban Larung.
Berdasarkan makna dari sesaji tersebut, diharapkan masyarakat desa Lojejer dapat belajar menjadi manusia yang lebih baik dalam hubungannya dengan orang lain maupun dalam hubungannya dengan Tuhan. Tradisi Sesaji Larung di desa Lojejer mempunyai fungsi sosial keagamaan berupa memperkuat solidaritas sosial, menciptakan kerukunan antar masyarakat, gotong royong, toleransi antar umat beragama serta tidak mengurangi nilai aqidah dan memperkuat nilai-nilai syariat. Diharapkan pada penelitian selanjutnya akan lebih banyak lagi referensi mengenai Larung Sesaji untuk memberikan gambaran lebih detail mengenai tradisi ini.
Penelitian ini memang memerlukan sumber yang sangat berharga, namun di kantor desa Lojejer belum terdapat arsip desa yang berkaitan dengan tradisi ini.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Saran
Almamater, Fakultas Dakwah, Jurusan Kepemimpinan dan Komunikasi Islam, Komunikasi dan Penyiaran Islam Kajian tersebut telah memberikan ilmu dan wawasan yang sangat luas.