Resume Kajian
(PLVMM DSN MUI INSTITUTE) 24 Mei 2024
Aliyatu Qabhdi al-Marhuun Idza Kaana Daynan
Mekanisme Serah Terima Objek Gadai Berbentuk Piutang
https://www.youtube.com/watch?v=ZpmNDvsySqs
Bagian Pertama adalah : Mekanisme Serah Terima Objek Gadai Berupa Piutang Bagi Orang yang Memiliki Kewajiban.
• Ulama Malikiyah menyatakan, jika :
1. Tuan B memiliki piutang kepada Tuan A dari (Transaksi Pertama).
2. Kemudian Tuan B dan Tuan A melakukan transaksi kedua (Transaksi Lain), dimana Tuan B bertransaksi kepada Tuan A dan Tuan B menggadaikan Piutangnya (yaitu piutang angka 1) kepada Tuan A.
Maka akad gadai (atas piutang dimaksud) Sah.
• Pada akad gadai ini (yaitu gadai yang muncul dari Transaksi Lain angka 2), Tuan A selaku penerima gadai dianggap telah menerima secara prinsip piutang
yang digadaikan Tuan B kepadanya. Dalam kondisi ini tidak diperlukan pembaharuan serah terima agunan piutang, sebab Tuan A dianggap secara otomatis menguasai piutang yang telah digadaikan bagi dirinya sendiri.
• Imam Lakhamy dalam Kitab al-Tabshirah menyatakan boleh seseorang menerima gadai berupa piutang, dimana piutang itu adalah kewajiban dia untuk membayarnya.
• Al-Qadhi Ibnu ‘Araby menyatakan menurut Ulama Kami (Ulama Malikiyah) boleh menggadaikan sesuatu dalam tanggungan, sebab itu merupakan kewajiban bayar.
• Argumentasi lain adalah sebagaimana pada pembahasan ke-47, boleh menggadaikan barang, maka boleh juga menggadaikan piutang. Sebagaimana contoh dua orang bertransaksi, diantara mereka ada yang memiliki piutang kepada lainnya dan piutang itu digadaikan kepada orang lainnya itu, maka dianggap telah terjadi qadh/serah terima atas piutang yang digadaikan itu.
• Pendapat Ulama Malikiyah ini diperselisihkan oleh Ulama Syafiiyyah.
• Menurut, Syaikh ‘Umayrah yang dinukil dari Ulama Syafiiyyah terhadap (kasus tadi) perlu ada pembaharuan serah terima yang dilakukan secara haqiqi.
• Menurut, Syaikh al-Syibra al-Malisy sebagaimana komentarnya dalam Nihayah al- Muhtaj, bahwa Syaratnya objek gadai adalah barang. Oleh sebab itu, harus ada serah terima objek gadai.
• Pendapat Yang Rajih/Kuat yang dipilih oleh Dr. Nazih Hammad adalah pendapat dari Ulama Malikiyah, yaitu Qabdh Hukmy telah menggantikan posisi Qabdh Hissy.
Dimana Penerima Gadai dianggap telah menerima piutang yang merupakan kewajiban dia untuk membayarnya. Pendapat ini dibangun atas dasar kaidah :
دوجوملا مكح مودعملا ءاطعإ ةيعرشلا تاريدقتلا
Ketentuan Syariah Menetapkan Kondisi Yang Sama, Pada Yang Tidak Ada Dengan Yang Ada / Sesuatu Yang Tidak Ada diberlakukan Sama Dengan Sesuatu Yang Ada / Yang Tidak Ada Dinilai Sama Dengan Yang Ada
Bagian Kedua adalah : Mekanisme Serah Terima Objek Gadai Berupa Piutang Bukan Kepada Orang yang Memiliki Kewajiban (Piutang di Gadai kepada Pihak Lain) .
• Ulama Malikiyah menyatakan Qabdh Hukmy pada kondisi Gadai Piutang Bukan Kepada Orang yang Memiliki Kewajiban menggantikan posisi Qabdh Haqiqy sebagaimana disyaratkan pada Gadai Barang. Sebab tidak mungkin untuk kondisi ini diberlakukan Qabdh Hissi.
• Jika Piutang yang digadaikan memiliki bukti tertulis yang memastikan isi dari piutang ini (misalnya Invoice/dokumen), maka bukti serah terima objek gadai piutang adalah dengan penyerahan Invoice/dokumen.
• Jika Piutang yang digadaikan tidak memiliki bukti tertulis, maka bukti serah terima objek gadai piutang adalah pernyataan/kesaksian si pemberi gadai.
Tuan B punya piutang kepada Tuan A. Tuan B bertransaksi kepada Tuan C, kemudian Tuan B menggadaikan Piutangnya kepada Tuan C.
• Imam al-Baajiy dalam Kitab Muntaqa menyatakan bahwa menggadaikan piutang itu boleh. Sebagaimana perkataan Imam Malik. Bisa jadi piutang yang digadai itu memiliki bukti yang tertulis dan bisa jadi piutang yang digadai tidak memiliki bukti tertulis.
• Jika Piutang yang digadaikan memiliki bukti tertulis, maka bukti serah terima objek gadai piutang adalah dengan penyerahan Invoice/dokumen dan si pembeli gadai bersaksi atas penyerahan. Atas kondisi ini maka penerima gadai piutang tadi memiliki posisi yang kuat (terhadap pihak lain yang berkepentingan) jika pihak yang punya hutang meninggal.
• Jika Piutang yang digadaikan tidak memiliki bukti tertulis, maka Gadai Piutang tidak boleh dilakukan kecuali Penerima Gadai Piutang dipertemukan/dikumpulkan dengan Pihak Yang Memiliki Kewajiban Bayar.
Pemberi Gadai memberikan kesaksian atas penyerahan Gadai Piutangnya.
Kehadiran Pihak Yang Memiliki Kewajiban Bayar sebatas untuk pemberitahuan kepadanya.
• Imam Ibnu al-Qasim juga menyatakan hal yang sama dengan Imam al-Baajiy bahwa Jika Piutang yang digadaikan tidak memiliki bukti tertulis, maka Gadai Piutang tidak boleh dilakukan kecuali Penerima Gadai Piutang dipertemukan/dikumpulkan dengan Pihak Yang Memiliki Kewajiban Bayar
• Imam al-Dasuqiy menyatakan boleh menggadaikan piutang kepada pihak lain.
Ia juga menyatakan hal yang sama sebagaimana Imam al-Baajiy dan Imam Ibnu al-Qasim bahwa pada kondisi bahwa Jika Piutang yang digadaikan tidak memiliki bukti tertulis, maka Gadai Piutang tidak boleh dilakukan kecuali Penerima Gadai Piutang dipertemukan/dikumpulkan dengan Pihak Yang Memiliki Kewajiban Bayar. Imam al-Dasuqiy menambahkan bahwa syarat pertemuan ini merupakan syarat yang menyempurnakan Gadai Piutang (tanpa bukti tertulis).
Point nya adalah mekanisme serah terima gadai piutang bukan kepada orang yang memiliki kewajiban adalah dengan QABDH HUKMY dalam bentuk : penyerahan bukti tertulis atau persaksian pemberi gadai atau (pihak pemberi gadai) mempertemukan antara penerima gadai dengan pihak yang memiliki kewajiban (pihak yang berutang)