MEMAHAMI ETIKA, MORAL DAN LATAR BELAKANG PENDIDIKAN GURU DI INDONESIA
Mata Kuliah Etika Profesi
Dosen Pengampu Dr. Hj. Siti Rukiyah, M.Pd.
Dr. H. Muhammad Ali, M.Pd.
Disusun Oleh:
1. Akhmad Rifqi Ramadhani (20236011017) 2. Diah Purwianti (20236011015)
3.Vika Twinanda (202316413)
PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS PGRI PALEMBANG
2023
2 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Profesi guru merupakan profesi yang mempunyai peranan penting dalam menghasilkan generasi penerus yang berkualitas. Dari gurulah seorang individu mampu tumbuh dan berkembang baik intelektualnya maupun moralitasnya. Guru harus mampu berkembang dan menunjukkan eksistensinya di tengah masyarakat. Salah satu wujud pengembangan itu adalah perilaku seorang guru. Perilaku guru merupakan perilaku profesional yang memenuhi syarat tertentu, bukan perilaku pribadi yang dipengaruhi oleh sifat-sifat atau kebiasaan pribadi. Guru harus dapat menjalankan kode etik profesi sebagai suatu norma atau aturan tata susila yang mengatur tingkah laku guru.
Menjadi guru yang bermoral memang bukan perkara mudah. Moralitas selalu meminta untuk setiap orang konsisten antara yang diucapkan dengan sikap yang dilakukan. Pendidik yang bermoral adalah pendidik yang senantiasa mampu menjaga ucapan dan tindakan agar tidak menimbulkan sesuatu yang merugikan dirinya dan siswa didiknya. Berkonsisten menjaga martabat profesinya dan menimbulkan kebaikan bagi orang banyak.
Seorang Dorothy Law Nollte mengatakan; “ Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki. Jika anakdibesarkan dengan permusuhn, maka ia belajar berkelahi. Jika anaka dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri, jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih sayang dalam kehidupannya. Ungkapan, ucapan yang keluar dari lisan kita harus benar-benar terjaga, sedikit saja kita melangkah dengan kesalahan maka akan esar akibat buruknya.
Dimensi keikhlasan ruhul asatidz sangat penting di dalam membingkai dan mengawal tri pusat pendidikan. Melalui dimensi do’a dan ketauladanan berbasis keikhlasan jiwa untuk bermujahadah,bermuamalah dan bermuhasabah apada Rabnya untuk kebaikan umatnya atau
3
siswanya. Ketauladanan dari segi etika dan moral guru bagi siswa di era sekarang sangat penting.
Tayangan televisi yang sebagian besar jauh dari nilai edukasi. Itu adalah bukti bahwa pembentukan budi pekerti dan krisis keteladanan merupakan sebuah tantangan nyata dalam pendidikan.
Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha membudayakan manusia atau memanusiakan manusia, pendidikan sangat strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan diperlukan guna meningkatkan mutu bangsa secara menyeluruh. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia merupakan suatu sistem pendidikan nasional yang diatur secara sistematis. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU No. 20 Tahun 2003). Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada alur pedidikan formal.
Secara definisi sebutan guru tidak termuat dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional(Sisdiknas). Di dalam UU No. 20 Tahun 2003, kata guru dimasukkan kedalam genus pendidik. Dalam peraturan Pemerintah (PP) No. 74 Tahun 2008 tentang Guru, sebutan guru mencakup: (1) guru itu sendiri, baik guru kelas, guru bidanng studi, maupun guru bimbingan dan konseling atau guru bimbingan karir; (2)guru dengan tugas tambahan sebagai kepala sekolah ; (3) guru dalam jabatan pengawas. Sebagai perbandingan atas “cakupan”
sebutan guru ini, di Filipina,seperti tertuang dalam Republic Act 7784, kata guru (teachers) dalam makna luas adalah semua tenaga kependidikan yang menyelenggarakan tugas-tugas pembelajaran di kelas untuk beberapa mata pelajaran , termasuk praktik atauseni vokasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah (elementaryand secondary level).
4 1.2 Latar Belakang Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, permasalahan dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
Apa yang dimaksud dengan etika dan moral?
Bagaimana pendidikan di Indonesia?
Bagaimana latar belakang pendidikan guru di Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, tujuan penulisan makalah ini dapat dijabarkan sebagai berikut untuk mengetahui dan memahami etika, moral dan latar belakang pendidikan guru di Indonesia
1. Apa yang dimaksud dengan etika dan moral?
2. Bagaimana
pendidikan di Indonesia?
3. Apa yang dimaksud
dengan kode eti
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Etika dan Moral
Akar kata etika ialah ethos (Yunani) yang berarti kebiasaan, watak, perasaan, sikap, cara berpikir, tempat tinggal. Bentuk jamak dari ethos adalah ta etha yang berarti kebiasaan. Dalam bahasa Latin, ethos itu disebut dengan mores (mufradnya: mos). Dari kata Latin inilah berasal kata moral yang pengertiannya berbeda dengan etika.
Moral dalam bahasa Indonesia disebut dengan susila. Secara istilah moral merupakan perbuatan yang sesuai dengan ide-ide yang umum diterima manusia, mana yang baik dan mana yang wajar.
Secara lebih detail, Sidi Gazalba menyajikan pengertian etika seperti berikut:
1. Etika adalah kaidah- kaidah rasa moral dan ajaran filsafat tentang rohani.
2. Etika adalah ilmu tentang tingkah laku manusia.
3. Etika merupakan bagian filsafat yang mengembangkan teori mengenai tindakan-tindakan, alasan-alasan tindakan, tujuan-tujuan tindakan, dan arah tindakan.
4. Etika adalah ilmu tentang filsafat moral, tidak mengenai fakta tetapi mengenai nilai-nilai, tidak mengenai sifat tindakan manusia tetapi
mengenai idenya.
5. Etika adalah ilmu tentang moral yang mengkaji mengenai prinsip-prinsip dan kaedah moral mengenai tindakan dan kelakuan.
Sidi Gazalda mengungkapkan perbedaan etika dan moral berikut ini:
Etika lebih banyak bersifat teori mengenai perbuatan manusia, sedangkan moral bersifat praktis.
Etika membicarakan bagaimana idealnya, sedangkan moral membicarakan bagaimana faktanya.
Etika menyelidiki, memikirkan, dan mempertimbangkan mengenai perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk, sedangkan moral menyatakan ukuran yang baik mengenai perbuatan manusia dalam kesatuan social tertentu.
Etika memandang perbuatan manusi secara universal, sedangkan moral secara tempatan
Nilai-nilai kehidupan adalah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, misalnya adat kebiasaan dan sopan santun ( Sutikna, 1998: 5). Sopan santun, adat dan kebiasaan serta nilai- nilai yang terkandung dalam Pancasila adalah nilai-nilai hidup yang menjadi pegangan seseorang dalam kedudukannya warga negara Indonesia dalam hubungan hidupnya dengan negara serta dengan sesama warga negara. Apakah ia seorang petani atau ahli dalam pemerintahan atau lainnya ia warga negara Indonesia ia harus berpedoman pada nilai kesopanan, tata kerama dan perilaku yang baik tersebut.
2.2 Macam-Macam Kode Etik
Secara umum, etika dapat dibagi menjadi dua macam yaitu:
1.Etika Umum
Etika umum mencakup kondisi-kondisi dasar bagimana manusia berbuat secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori dan prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat dianalogkan dengan ilmu pengetahuan yang membahas tentang pengertian umum dan teori-teori.
2. Etika Khusus
Etika khusus merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini dapat berwujud “Bagimana saya mengambil keputusan dan berbuat dalam bidang kehidupan dan kegiatan yang saya lakukan”, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar.
Kemudian dari keberadaan etika khusus, etika dibagi menjadi dua, yaitu:
Etika Individualisme
Etika individualisme adalah jenis etika yang berhubungan dengan kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. Jadi etika jenis ini menyangkut bagaimana perbuatan baik yang wajib dilakukan oleh seorang individu untuk dirinya sendiri.
Etika sosial
Etika sosial merupakan jenis etika yang berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota umat manusia yang wajib dilakukan seorang individu terhadap
orang lain dan makhluk hidup lainnya dalam suatu lingkungan maupun suatu organisasi atau lembaga.
Ruang lingkup etika sosial sangatlah luas sehingga terpecah menjadi beberapa jenis etika sebagai berikut:
1. Etika Keluarga 2. Etika Lingkungan 3. Etika Politi
4. Etika Ideology 5. Etika Ekonomin
6. Etika Profesi, dan lain-lain
Dari masing-masing jenis etika di atas terbagi menjadi beberapa jenis etika, misalnya jenis etika profesi seprti berikut ini
1. Etika profesi pustakawan 2. Etika profesi wartawan 3. Etika profesi akuntan 4. Etika profesi advokat
5. Etika profesi keguruan, dan lain-lain
2.3 Nilai-Nilai Etika
Nilai-nilai etika dapat diartikan sebagai berbagai hal penting yang berguna bagikebaikan seseorang dan kebaikan sekelompok orang sehingga mereka dapatmenjadi manusia yang sesuai dengan hakikatnya. Nilai-nilai etika tersebut antara lain:
1. Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatu dan siap menerima sanksi ataupun hukuman jika melalaikan tanggung jawab tersebut. Pada pertanggung jawaban inilah terdapat kesempatan bagi etika untuk mempengaruhi atau mengatur kehidupan dalam praktik. Misalnya seorang perempuan harus menerima kewajibannya untuk mengandung, melahirkan, dan menyusui.
2. Kewajiban
Bentuk pasif dari tanggung jawab adalah kewajiban. Kewajiban merupakan sesuatu yang dilakukan karena adanya tanggung jawab. Kewajiban dilakukan karena tuntutan hati nurani, bukan karena pertimbangan pikiran. Kewajiban adalah perintah dari
dalam. Misalnya,orang tua mengasuh anaknya, bersusah payah mengeluarkan tenaga, uang,dan lain sebagainya karena mengasuh anak sudah menjadi kewajibannya.
3. Hak
Sidi Gazalba menjelaskan bahwa di mana ada kewajiban di situu ada hak. Kewajiban dan hak ibarat pangkal dan ujung yang tak terpisahkan. Jika seseorang atau kelompok orang menjalankan kewajibannya, maka dengan sendirinya ia memperoleh hak. Jika hal tersebut tidak didapatkannya, maka muncul dan berlakulah ketidak adilan.
Misalnya seorang pegawai yang menjalankan kewajiban dengan baik, ia berhak menerima gaji yang cukup dari atasannya.
2.4 Pendidikan di Indonesia dan Latar Belakang guru
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia dan sebagai wahana pengembang sumber daya manusia. Melalui pendidikan manusia dapat melepaskan diri dari keterbelakangan. Selain pendidikan kualitas pendidikan juga memiliki peranan yang sangat penting. Kualitas pendidikan terus diupayakan oleh pemerintah dan masyarakat antara lain dengan memperbaiki sistem pendidikan, baik manajemen, kurikulum, sistem evaluasi, peningkatan sarana dan prasarana pendidikan, dan sumber daya manusia. Konsep manajemen berbasis sekolah, Kurikulum KBK yang kemudian diubah menjadi KTSP) menjadi kurikulum 2013 (K-13) mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai menengah, perbaikan sistem Ujian Nasional, sertifikasi guru, dan peningkatan besaran biaya pendidikan merupakan upaya nyata guna memajukan pendidikan di Indonesia. Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah menunjukkan bahwa pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam rangka meningkatkan kualitas, kemajuan, dan perkembangan suatu negara pada umumnya dan generasi muda pada khususnya. Salah satu bukti bahwa kulitas guru di Indonseia masih rendah adalah Berdasarkan Laporan peringkat Human Development Index (HDI) 2016 baru saja diumumkan tanggal 21 Maret 2017 di Stockholm, Swedia. Laporan perkembangan indeks pembangunan manusia (HDI) ini telah resmi dikeluarkan secara independen oleh UNDP PBB. Laporan yang dikeluarkan adalah hasil HDI tahun 2015. Indonesia berada pada peringkat ke-113 pada tahun 2015. Sebelumnya, peringkat HDI untuk Indonesia tahun 2014 adalah ke-110. Pada tahun 2014, Paraguay berada satu peringkat di bawah Indonesia dan pada tahun 2015 Paraguay menyusul satu peringkat di atas Indonesia. Di bawah Indonesia saat ini ada Palestina yang menempati peringkat ke-114. Hal ini menggambarkan daya saing Indonesia dalam hal pendidikan masih jauh dari memuaskan. Dalam mempersiapkan SDM, pemerintah harus memfokuskan diri pada peningkatan kemampuan guru. Hal ini mengingat guru merupakan komponen paling
menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan. Delors mengatakan, bahwa keberadaan dan peranan tenaga kependidikan bagi pengembangan sekolah, dalam konteks ini sekolah harus:
1) memiliki kualitas yang memadai 2) memiliki kualifikasi yang
3) memiliki kemampuan yang sesuai dan 4) memiliki kesanggupan kerja.
Oleh karena itu, pendidik harus memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sesuai dengan pasal 7 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 menyatakan bahwa profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut: memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sesorang guru harus memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas. Guru sebagai tenaga profesional mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu. Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban:
a. Merencanakan melaksanakan pembelajaran yang bermutu, serta mengevaluasi hasil pembelajaran
b. Meningkatkan kompetensi secara berkelanjutan c. Bertindak objektif dalam pembelajaran
d. Menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan e. Memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.
Guru umumnya merujuk pada pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.
Mengacu pada pendapat Rachmawati (2011) bahwa karakteristik guru yang profesional paling sedikit ada lima, yaitu:
1) menguasai kurikulum
2) menguasai materi semua mata pelajaran
3) terampil menggunakan mult i metode pembelajaran 4) memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugasnya dan 5) memiliki kedisiplinan dalam arti yang seluas-luasnya.
Ashton & Webb menunjukkan, bahwa karakteristik dapat mencakup kualitas guru yang dipandang sebagai pribadi seperti mental, usia, jenis kelamin maupun sebagai “pengalaman”
seperti status sertifikasi, latar belakang pendidikan, pengalaman mengajar sebelumnya dan sejenisnya. Beberapa karakteristik adalah kombinasi dalam jumlah yang tidak diketahui dari pribadi dan kualitas pengalaman, misalnya, kinerja guru, tes sertifikasi seperti ujian nasional guru dan tes mandat dari pemda. Dari penjelasan di atas, karakteristik guru dalam penelitian ini dibatasi pada kualifikasi akademik guru satuan pendidikan SD. Guru Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru menyebutkan, bahwa setiap guru wajib memenuhi standar kualitas akademik dan kompet ensi guru yang berlaku secara nasional, juga bahwa guru-guru yang belum memenuhi kualifikasi akademik atau sarjana akan diatur dengan peraturan menteri tersendiri. Ruang lingkup dalam kajian ini menjelaskan guru layak berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14, Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Profesionalisme berkaitan dengan komitmen para penyandang profesi tersebut untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya secara terus menerus, mengembangkan strategi baru dalam bertindak melalui proses pembelajaran yang berkelanjutan. Komitmen secara terus menerus dan mengembangkan strategi akan meningkatkan profesional seorang guru. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan profesionalisme adalah sifat yang mencirikan keahlian, sikap dan pengetahuan yang harus dimiliki seseorang dalam suatu pekerjaan tertentu yang didapatkannya melalui pendidikan, serta ilmunya secara terus meneru mengembangkan strategi. Sedangkan profesi menurut Undang-undang Guru dan Dosen No 14 Tahun 2005 Pasal 2, menyatakan bahwa guru sebagai tenaga profesional yang mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikasi pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu. Moh. Uzer Usman mengemukakan tiga tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Syafrudin mengatakan “bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan dan kejujuran) tertentu”. Seseorang yang memiliki profesi harus memiliki pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang sungguh-sungguh. Berdasarkan devinisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi merupakan pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan harus memiliki syarat, pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperoleh dari proses pendidikan. Latar belakang pendidikan merupakan salah satu tolak ukur guru dapat dikatakan profesional atau tidak, semakin tinggi latar belakang pendidikan seorang guru maka diharapkan semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya, karena latar belakang pendidikan akan menentukan kepribadian seseorang, termasuk dalam hal ini pola pikir dan wawasannya, faktor-faktor inilah yang akan
mempengaruhi kompetensi profesional guru dalam mengajar. Kualitas pendidikan guru yang memadai, tentunya akan berpengaruh positif terhadap potensi peserta didik. Latar belakang pendidikan ini diartikan sebagai tingkat pendidikan yang telah ditempuh seseorang. Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud adalah latar belakang pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang. Pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang guru yang dibuktikan dengan ijazah atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Latar belakang pendidikan guru dapat dilihat dari dua sisi, yaitu kesesuaian antara bidang ilmu yang ditempuh, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 28, bahwa “Pendidikan harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Berdasarkan telaah peneliti ada beberapa penelitian terdahulu yang relevansi dengan penelitain ini, diantannya penelitian Yaya dapat disimpulkan bahwa “This study aimed at formulating alternative policies concerning quality of education focusing on suitable condition of primary school teachers to enhance the quality of education, and appropriateness of primary school teachers’ educational background towards their taught subject-matter.
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa kode etik profesi adalah norma atau asas yang diterima oleh kesekolompok pekerja sebagai landasan tingkah lakunya dalam bekerja di suatu lembaga atau organisasi.
Kode etik, moral dan latar belakang dapat dijadikan sebagai pedoman oleh suatu pendidik dalam bertingkah laku atau berbuat. Itu sebabnya,sebagai seorang pendidik penting sekali memiliki karakter yang baik dan moral yang bisa ditiru kepada peserta didik dalam lingkungan sekolah dan bermasyarakat.
Daftar Pustaka
Danim, Sudarwan. 2017. Profesionalisasi dan Etika Profesi Guru. Bandung: Alfabeta Saondi, Ondi dan Aris Suherman. 2015. Etika Profesi Keguruan. Bandung: PT Refika Aditama.
Departemen Pendidikan Nasional. (2007). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Guru. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional https://www.kompasiana.com/.../laporan-peringkat-hdi-indonesia- terbaru-2016
Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Dosen dan Guru. Jakarta