Ketiga, terima kasih yang tak terhingga atas segala upaya yang dilakukan oleh teman-teman, khususnya Prof. Berbicara tentang tantangan pendidikan di Indonesia saat ini, khususnya wabil dalam teknologi pembelajaran, ada baiknya kita mengingat 3 hal penting dalam pembelajaran, yaitu: (1) tujuan pembelajaran, (2) kondisi pembelajaran dan (3) komponen pembelajaran. (Reigeluth , 1983). Namun, hasil belajar yang kita inginkan bersama dengan kondisi belajar merupakan faktor penentu metode pembelajaran yang harus digunakan.
Mengingat saya akan berbicara tentang metode pembelajaran yang harus kita terapkan dalam pembelajaran akhir-akhir ini, izinkan saya menyampaikan dua hal penting terlebih dahulu, yaitu: (1) Tujuan pembelajaran, dan (2) Kondisi pembelajaran yang sedang berlangsung. Berdasarkan pikirannya, orang yang cerdas adalah orang yang memiliki kecerdasan, kecerdasan, kecerdasan yang tinggi. Selain pengetahuan yang luas dan mendalam, manusia Indonesia yang cerdas juga harus memiliki akal sehat dan hati nurani yang baik.
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan atau katakanlah pembelajaran yang hanya bertujuan untuk menghimpun ilmu pengetahuan, tidak sesuai dengan semangat amanat UUD 1945. Hal ini terlihat dari ciri-ciri pada profil ini sosok manusia Indonesia. yang hanya berilmu bukanlah sosok yang diinginkan dalam profil Pelajar Pancasila.
Kondisi Pembelajaran
Tak hanya sekolah yang begitu terkesan, bahkan siswa pun juga menyepelekan mata pelajaran non UN tersebut. Kondisi ini semakin diperkuat dengan kondisi pandemi Covid 19 yang mendorong anak belajar dari rumah (BDR). Seperti yang kita ketahui, awal masuknya virus corona jenis SARS-CoV-2 di Indonesia diprediksi mulai Januari 2020 dan pemerintah Indonesia secara resmi menyatakan ada 2 orang Indonesia yang positif mengidap virus corona jenis SARS-CoV-2. telah dikonfirmasi. penyebab Covid-19 (Pranita, 2020).
Secara umum, implementasi kebijakan dan pedoman pendidikan penyelenggaraan belajar dari rumah pada masa darurat semakin meluas. Covid-19 mengacu pada Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 4 Tahun 2020 dan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan no. 15 Tahun 2020. Program Belajar dari Rumah (BDR) adalah program pendidikan melalui acara televisi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia bekerja sama dengan TVRI sebagai bagian dari fasilitasi pendidikan di masa pandemi COVID-19 di Indonesia .
Berbagai informasi yang tersedia secara bebas menuntut siswa untuk dapat memilih dan memilah informasi yang benar, tepat dan penting sesuai kebutuhan pengajaran di sekolah. Belajar dari rumah, terpaksa atau tidak, telah memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatannya sendiri.
Kerangka Konseptual
Berpikir kritis adalah berpikir reflektif dan logis yang berfokus pada pengambilan keputusan tentang apa yang harus dipercaya atau dilakukan (Ennis, 1985). Terdapat dua strategi yang dapat diterapkan untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa, yaitu (1) mencontohkan keterampilan berpikir kritis dan (2) memberikan atau mengajukan pertanyaan yang menuntut siswa berpikir kritis. Misalnya seorang guru menuntut siswa untuk berpikir kritis, maka guru harus membiasakan berpikir kritis terlebih dahulu.
Pemodelan guru yang terbiasa berpikir kritis merupakan salah satu cara untuk mempengaruhi kebiasaan berpikir kritis siswa. Dengan adanya guru yang mencontohkan berpikir kritis, setidaknya ada norma subjektif yang mendorong siswa berpikir kritis. Strategi lain adalah guru mengajukan atau mengirimkan pertanyaan yang menuntut siswa berpikir kritis.
Dalam pembelajaran matematika terdapat 8 (delapan) jenis soal atau soal matematika yang dapat membiasakan siswa berpikir kritis (As’ari, Kurniati, Maharani, & Basri, 2019). Gagasan mengembangkan kemandirian dan berpikir kritis Kini muncul gagasan As'ari untuk dikembangkan.
Ide untuk mengembangkan Kemandirian dan Berpikir Kritis Sekarang sampailah kepada ide As’ari dalam rangka mengembangkan
WISE Oriented Instruction
Pengajaran Berorientasi BIJAKSANA adalah pembelajaran yang ditujukan untuk pembentukan pribadi yang bijaksana. Saya berharap agar anak didik yang dibina dengan WISE Oriented Instruction tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang bijaksana, yaitu manusia yang tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam, tetapi juga memiliki kemampuan akting yang baik dan memiliki sikap yang menyenangkan semua pihak. Selain itu, WISE juga dapat memberikan arah keterampilan dan sikap yang ingin dicapai dalam pembelajaran.
Dengan demikian, siswa yang bertanya-tanya mengapa dan bagaimana akan memiliki pemahaman yang baik bahkan mampu mengembangkan ide-ide inovatif. Memang negara ini akan memiliki peluang besar untuk maju dengan memiliki anak-anak negara yang selalu bertanya-tanya mengapa dan bagaimana. Keterampilan penelitian adalah kemampuan untuk melakukan penelitian, yaitu kemampuan untuk menemukan informasi yang dapat dipercaya.
Dengan keterampilan risetnya, mahasiswa akan mampu melokalisasi di mana informasi itu berada, bagaimana cara memperolehnya, dan alat atau instrumen apa yang harus digunakan untuk memperoleh informasi tersebut. Melalui keterampilan mensintesis, siswa dapat mengidentifikasi kesamaan dan perbedaan (persamaan dan perbedaan) antara berbagai sumber yang ada, mencari pola yang ada, dan menarik kesimpulan. Keterampilan ekspresi adalah kemampuan pembelajar untuk mengekspresikan atau mengekspresikan ide-ide mereka secara persuasif dan menarik.
Dengan keterampilan ekspresi, siswa akan mampu mempresentasikan gagasannya dengan baik, tepat sasaran, dan membuat sasaran terpesona dengan gagasan tersebut, mengenali manfaat yang ada bahkan cenderung terpengaruh untuk mengikutinya. Maka dengan pembelajaran berorientasi WYS ini, siswa akan belajar sesuatu yang bermanfaat dan bermakna, dengan kemandirian yang luar biasa, belajar tidak hanya secara reseptif, tetapi juga produktif. Singkat kata, saya yakin dengan Instruksi Berorientasi BIJAK, bangsa kita akan tumbuh menjadi bangsa yang unggul.
Untuk mewujudkan pembelajaran yang berorientasi BIJAK ini dengan baik, pembahasan tujuan pembelajaran tidak dapat dilakukan secara sambil lalu, hanya sambil lalu. Siswa harus benar-benar diajak memahami KD dengan baik, dan merancang kontrak belajar yang wajar. Guru harus membiasakan diri untuk mengajukan pertanyaan secara detail tentang KD sehingga pemahaman guru tentang KD menjadi lengkap.
Pembelajaran Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis
Dalam model infusion, multiple thinking skills yang meliputi thinking about content dan critical thinking skills dapat diajarkan secara bersamaan (Swartz & Parks, 1994). Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk mengintegrasikan pendidikan berpikir kritis ke dalam semua mata pelajaran sehingga keterampilan berpikir dapat diintegrasikan ke dalam seluruh bagian kehidupan akademik siswa (Dewey & Bento, 2009). Tujuan utama dari pendekatan infus berpikir kritis adalah untuk menumbuhkan kemampuan siswa untuk mengetahui dan menggunakan pola berpikir kritis dan memberi mereka kemampuan untuk membuat hubungan antara konten kurikulum dan berpikir kritis (McGuiness & Sheehy merujuk pada model infus langsung yang menghubungkan aktif pengajaran). dengan komponen lain yang ditemukan sejauh ini.
Komponen ini meliputi pengajaran eksplisit dari elemen pemikiran kritis, instruksi terbimbing (Mayer, 2004), instruksi langsung dan. Saya telah melakukan pembelajaran infusi tentang perilaku berpikir kritis, khususnya infusi tentang pencarian kebenaran dan keterbukaan, yang telah saya publikasikan secara internasional di jurnal terindeks Scopus. Dalam pembelajaran infusion terdapat 2 jenis masalah atau pertanyaan yang dapat melatih siswa berpikir kritis, yaitu pertanyaan dengan informasi yang saling bertentangan dan pertanyaan terbuka.
Selain itu, pertanyaan yang dirumuskan dalam pembelajaran infus sebagian besar adalah: (a) Apakah ada informasi dalam soal yang memiliki arti berbeda?, (b) Apakah ada informasi yang bertentangan dalam soal?, (c) Apakah ada variabel dalam soal yang membuat jawaban yang berbeda jika alam semesta berubah. d) apakah ada kemungkinan adanya perbedaan pandangan terhadap informasi yang diberikan dalam soal. e) bagaimana orang lain akan menginterpretasikan informasi yang diberikan dalam soal. Namun, berpikir kritis dalam matematika sebenarnya tidak dapat dipelajari dengan memecahkan masalah matematika saja. Pembelajaran untuk meningkatkan berpikir kritis siswa dapat dilakukan dalam mengajarkan konsep, prinsip mengajar, dan juga prosedur mengajar.
Saat mengajarkan konsep, misalnya konsep bilangan genap, kita bisa mengajak anak berpikir kritis terhadap definisi yang diberikan. Kami dapat memberikan kasus yang menunjukkan bahwa teorema tertentu dapat menyebabkan kesalahan jika tidak dipikirkan dengan serius. Dengan mengalami hal-hal yang menimbulkan kontradiksi semacam ini, anak akan terdorong untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan, dan diharapkan dengan demikian mereka akan berpikir kritis.
Semoga Allah mudahkan aku dan keluarga besarku untuk berbuat kebaikan yang diridhoi Allah SWT, menjauhi ilmu yang sia-sia, jiwa yang tidak pernah puas, hati yang tidak pernah tenteram dan doa yang tidak pernah didengar oleh Allah. . Selain itu izinkan saya juga mengucapkan terima kasih kepada KEMENDIKBUDRISTEK atas kehormatan dan kepercayaan yang diberikan kepada saya untuk menduduki jabatan Guru Besar Teknologi Pembelajaran Matematika.
Daftar Rujukan
Critical thinking disposition: Students skeptic in dealing with illogical mathematics problem, International Journal of Instruction, vol 11, number 3, 2018. Characteristic of the student's false concessive failure on fraction concept, Journal of Physics: Conference Series,| vol 983, issue 1, 2018. Pre-service mathematics teachers' truth-seeking and open-mindedness in solving non-rou, International Journal of.
The Thinking Process of Students in Representing Images to Symbols in Fractions, Journal of Physics: Conference Series, vol 1028, issue 1, 2018. Pointing gesture and speech of teachers in math learning by information, initiation, Journal of Physics: Conference Series, vol 1028, Issue 1, 2018. Mathematics Teachers Technological Content Knowledge (TCK) When Using Dynamic Geometry Software, Journal of Physics: Conference Series, Vol 1114, Issue 1, 2018.
The process of schematic representation in mathematical problem solving, Journal of Physics: Conference Series, vol 1157, issue 3, 2019. An Autocognitive conflict and its mapping in solving mathematics problem, Journal of Physics: Conference Series, vol 1157, issue 2, 2019 Study of students' thinking errors in solving cognitive reflection test (CRT) required from Dual Process, Journal of Physics: Conference Series, vol 1157, issue 3, 2019.
Compelling Trigonometry Problems: Why Was It Difficult for Students to Think Critically?, Journal of Physics: Conference Series,| vol 1188, issue 1,2019. Examining High School Critical Thinking Skills In Solving Mathematics Problems, International Journal of Instruction, Volume 12, Issue 3, 2019. The Misanalogical Construction Of Undergraduate Students In Solving Cognitive Conflict Identification Task, International Electronic Journal Of Mathematics Education, 2018 .
Informal statistical thinking of students who have been taken over. Formal Statistical Learning Related to Distribution International Journal of Insights For Mathematics Teaching, 2018. Presentation of Translation Analysis of Junior High School Students In Solving Mathematics Problems, International Journal of Insights For Mathematics Teaching, 2018. Thinking Interaction Of Student In Solving Open-ended Problems, International Journal of Insights For Mathematics Teaching, 2018 76.
Investigating Pre-Service Mathematics Teacher Critical Thinking Ability, International Journal Of Insights For Mathematics Teaching, 2018. Series Of Arguments On Processes Of Critiques To Mathematical Problems, International Journal Of Insights For Mathematics Teaching, 2018.