PENDAHULUAN
Latar Belakang
Berdasarkan hasil observasi pada tahun 2012-2013 di SMA Negeri 1 Lappariaja terdapat beberapa faktor yang berhubungan dengan rendahnya hasil belajar siswa. Melihat permasalahan seperti di atas, peneliti ingin menawarkan alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Model pembelajaran yang diterapkan sebagai alternatif yang cocok adalah model pembelajaran master. Pembelajaran penuh menjadi pilihan karena memungkinkan siswa dan guru lainnya, serta memungkinkan siswa mengembangkan konseling, pengajaran dan pengetahuannya. Pendekatan Master Learning merupakan suatu konsep atau model pembelajaran yang berkaitan dengan berbagai strategi pembelajaran yang digunakan secara efektif bagi siswa tertentu sesuai dengan karakteristik kemampuannya.
Berdasarkan premis bahwa optimalisasi kinerja akademik/hasil belajar dapat dicapai melalui penyesuaian antara pembelajaran dan perbedaan keterampilan. Artinya prestasi akademik atau hasil belajar siswa dipengaruhi oleh kondisi pembelajaran yang diciptakan guru di kelas. Oleh karena itu secara implisit berarti semakin baik metode pembelajaran yang diterapkan guru sesuai dengan perbedaan keterampilan yang dimiliki siswa, maka semakin optimal pula hasil belajar sosiologi yang dicapai.
Model pembelajaran tuntas (Master Learning) erat kaitannya dengan proses pembentukan kepribadian dalam menciptakan potensi peserta didik yang berkualitas, berakhlak mulia dan mampu mengoptimalkan kinerja belajar. Oleh karena itu, perlu dirancang penelitian yang menyoroti upaya peningkatan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran Master Learning. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, penulis berencana mengadakan penelitian dengan judul ‘Meningkatkan Hasil Belajar Sosiologi Pada Mata Pelajaran Masalah Sosial’. (HIPPERMORALHAS) melalui model pembelajaran tuntas (Master Learning) bagi siswa kelas XI SMA Negeri 1 Lappariaj Kabupaten Bone”.
- Identifikasi Masalah
- Alternatif Pemecahan Masalah
- Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini adalah: bagaimana meningkatkan hasil belajar sosiologi pada bidang pembahasan masalah sosial (Hipermoralitas).
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS.. A
Hipotesis Tindakan
Jenis Penelitian
Lokasi dan Subjek Penelitian
Faktor-Faktor yang Diselidiki
Faktor proses pembelajaran yaitu observasi keaktifan siswa pada proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran keseluruhan Master Learning.
Prosedur Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari beberapa siklus. Penelitian ini direncanakan, dilaksanakan dalam dua siklus yang terdiri dari empat tahapan atau fase yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Setelah dilakukan refleksi berupa analisis, sintesa dan penilaian terhadap hasil observasi biasanya timbul permasalahan atau pemikiran baru, sehingga dilakukan perencanaan ulang, tindakan ulang, observasi ulang, dan sebagainya. Untuk lebih jelasnya sistematikanya, hubungan antara masing-masing komponen dengan komponen lainnya dalam satu siklus serta antara siklus awal dan siklus lanjutan dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut: Gambaran umum siklus 1. Siklus 1 dilaksanakan selama 4 kali pertemuan atau 8 jam setiap sesinya. . pertemuan dengan rincian kegiatan sebagai berikut; Siklus I Kemudian hasil yang diperoleh pada tahap observasi dan evaluasi dikumpulkan dan dianalisis. Refleksi yang dimaksudkan adalah penilaian berhasil tidaknya pencapaian tujuan sementara.
Hasil analisis data yang dilakukan pada tahap ini akan dijadikan acuan untuk menentukan tindakan pada siklus berikutnya guna mencapai tujuan akhir. Untuk itu refleksi dalam penelitian ini akan dilakukan pada setiap akhir tindakan dan pada akhir setiap siklus. Langkah-langkah yang dilakukan pada siklus II relatif sama dengan perencanaan dan pelaksanaan pada siklus I, namun pada beberapa langkah dimungkinkan untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan atau penambahan tindakan sesuai dengan kenyataan yang terdapat di lapangan.
Tindakan selanjutnya sebaiknya dirancang berdasarkan hasil refleksi siklus I, yaitu dengan lebih menekankan pada partisipasi siswa dalam kelompok.
Instrument Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Teknik Analisis Data
Indikator Keberhasilan
Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa 22 (20%) dari 44 siswa termasuk dalam kategori tuntas dan 9 (36%) siswa termasuk dalam kategori tuntas. Dari tabel 4.6 diatas terlihat 3 dari 44 siswa termasuk dalam kategori tuntas dengan persentase 154% siswa termasuk dalam kategori tuntas, 41 siswa dengan persentase 211%. Pada pertemuan berikutnya, siswa yang menunjukkan gejala belum siap belajar diminta untuk berpindah tempat duduk.
Dari uraian di atas terlihat bahwa bentuk intervensi terhadap siswa yang lambat menerima instruksi meliputi latihan soal yang dirancang untuk memastikan semua siswa mengerjakan soal dengan cepat dan akurat baik di kelas maupun di pekerjaan rumah. Masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki pada siklus ini antara lain efisiensi waktu dalam memberikan bimbingan langsung kepada siswa yang belum memahami materi yang dibahas. Jika banyak siswa yang tidak memahami maka akan memperlambat dan menambah waktu diskusi, sedangkan alokasi waktu sangat terbatas.
Dengan membimbing siswa yang kesulitan secara langsung, mereka dapat mengikuti pembelajaran secara perlahan. Ketika menghadapi contoh soal, siswa lebih aktif dengan memberikan kesempatan mengerjakan soal yang ada di papan tulis, dengan metode ini siswa lebih tertarik dan perhatian dengan harapan jika dipanggil akan cepat menyelesaikannya. Dari siklus I sampai akhir siklus II. peneliti ingin mengetahui penyebab semua itu maka dilakukan wawancara dengan beberapa siswa.
Ada sebagian siswa yang mengatakan bahwa mempelajari materi sosialisasi itu mudah dan sulit, dan ada juga sebagian siswa yang masuk dalam kategori tersebut. Guru lebih tegas, baik dalam memberikan materi maupun menghukum siswa yang ribut, yang keluar masuk kelas, yang tidak merangkum materi, yang tidak mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah. Sedangkan pada Siklus II siswa hadir sebanyak 97,97%, siswa bertanya atau menjawab sebanyak 17,15%, siswa aktif dalam proses pembelajaran sebanyak 90,91%, siswa menjawab atau mengerjakan sebanyak 25,24%, dan siswa yang bertanya sebanyak 25,24%. tidak kurang dari 18,18%, siswa yang bertanya 17,15%, siswa yang dibimbing oleh guru 16,15%, siswa yang mengerjakan kegiatan lain sambil belajar 7,06% dan siswa yang mengerjakan tugas/pekerjaan rumah sebanyak 95,94.
Melalui teguran berkala, guru dapat mengendalikan kesibukan siswa agar kondisi lebih kondusif.Guru juga memotivasi siswa untuk aktif bertanya, memberikan pendapat, dan menjawab pertanyaan guru. Selain itu guru berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain untuk memberikan bimbingan dan arahan kepada siswa yang masih terlihat kebingungan terhadap materi. Dalam proses pembelajaran terjadi peningkatan jumlah siswa yang aktif bertanya, menjawab pertanyaan, serta menyelesaikan latihan dengan tertib dan tepat waktu.
Meningkatnya jumlah siswa yang terlibat aktif dalam proses pembelajaran merupakan indikator yang menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa mengalami peningkatan. 5 Siswa yang menyajikan materi diskusi dan berbicara dengan benar di depan kelas. 6 Mengajukan jawaban (jika siswa menyangkal dan memberikan jawaban lain dengan alasannya sendiri).
BASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
HASIL PENELITIAN
- Deskripsi Data Siklus I
- Deskripsi Data Siklus II
PEMBAHASAN
Pada tahun 2014, penulis menyelesaikan penelitian dengan menyusun karya ilmiah yang berjudul Peningkatan Hasil Belajar Sosiologi Pada Mata Pelajaran Masalah Sosial (Hipermoralitas) Melalui Pendekatan Pembelajaran Master pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Lappariaja Kabupaten Bone. Masalah sosial adalah segala bentuk perilaku yang melanggar atau melanggar adat istiadat masyarakat (dan adat istiadat tersebut diperlukan untuk menjamin kesejahteraan hidup bersama). Situasi sosial yang dianggap meresahkan, tidak diinginkan, membahayakan dan merugikan banyak orang oleh sebagian besar anggota masyarakat. Thompson mengatakan yang dimaksud dengan masalah sosial adalah suatu kondisi yang dirumuskan atau diungkapkan oleh suatu entitas berpengaruh yang mengancam nilai-nilai suatu masyarakat sehingga berdampak pada beberapa hal yang bukan kebetulan melainkan berakar pada satu atau lebih kebutuhan yang terabaikan. . masyarakat.
Vembriarto (dalam H. Tantan Hadiansyah, S.Kep 2013:3) Masalah sosial adalah suatu kondisi atau proses dalam masyarakat yang dipandang dari sudut yang tidak diinginkan. Ide dasar yang kedua juga memberikan pemahaman tentang perubahan sosial. 4. Bahwa perubahan sosial melibatkan stabilitas sosial yang berkelanjutan. Sekarang mereka suka mencoba hal-hal baru yang berdampak negatif, seperti narkoba, padahal remaja adalah aset terbesar negara. merekalah yang melanjutkan perjuangan yang telah dibangun sejak lama.
Faktor Biologis: Penyakit menular dapat menimbulkan permasalahan sosial jika penyakit tersebut telah menyebar di suatu daerah atau menjadi pandemi.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran