MENANGANI EMOSI NEGATIF (MARAH) MELALUI PENDEKATAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY
(STUDI KASUS PADA SISWA KELAS XI SMAN 7 MATARAM) Sikripsi
Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar Serjana Sosial
Oleh Marefa Pua Stori
160.303.062
BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM (BKI) FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI (FDIK)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM
2020
MENANGANI EMOSI NEGATIF (MARAH) MELALUI PENDEKATAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY
( STUDI KASUS PADA SISWA KELAS XI SMAN 7 MATARAM) Sikripsi
Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar Serjana Sosial
Oleh Marefa Pua Stori
160.303.062
BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM (BKI) FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI (FDIK)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM
2020
MOTTO
Artinya “wahai orang-orang beriman mohonlah pertolongan (kepapa Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar”
PERSEMBAHAN
“Alhamdulillah, dengan segala kerendahan hati dan rasa syukur kepada Allah SWT, saya persembahan skripsi ini kepada kedua orang tua saya yang tercinta dan terkasih, ayahanda Pua Stori dan ibunda Hindo abdul Rajab terimakasih telah mengasuh, menyayangi, membesarkan dan mendidik saya dengan baik dan penuh rasa kasih sayang, kesabaran, dan ketulusan, serta tak pernah henti memberikan do’a restu untuk mencapai keberhasilan saya dalam menyelesaikan tugas akhir ini.
Sehingga saya bisa melanjutkan cita-cita dan semoga dapat membahagiakan kedua orang tua saya.”
“Thanks for Everything”
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan berbagai macam nikmat, baik nikmat umur, nikmat rizki, dan terlebih lagi nikmat iman, nikmat sehat, nikmat islam, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarga, sahabat dan semua pengikutnya.
Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut:
1. Dr. Ahyar. MPd. Sebagai pembimbing I dan Azwandi. M.Hum sebagai pembimbing II yang memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi mendetail, terus menerus dan tanpa bosan di tengah kesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan skripsi ini menjadi lebih matang dan cepat selesai;
2. Bapak Rendra Khaldun, M.Ag. sebagai ketua Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Mataram.
3. Bapak Dr. H. Subhan Abdullah, MA. Selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Mataram.
4. Bapak Prof. Dr. H. Mutawali, M. Ag. Selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan memberi bimbingan.
5. Seluruh Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan dan terimakasih juga kepada semua karyawan dan karyawati Akademik Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi atas
pelayanan administrasinya.
6. Kepada Lembaga konseling dan psikologi Al-Tazkiah Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram tempat saya berproses dan mendapat ilmu lebih.
7. Kepala sekolah SMAN 7 Mataram, segenap guru dan siswa yang terlibat pada penelitian ini, terimakasih telah membantu berjalannya penelitian ini dengan lancer.
8. Kepada ayah dan ibunda terimakasih atas do’a restunya selama ini;
9. Kepada kakak dan adikku tersayang yang dengan semangat dan memotivasi yang kalian berikan sehingga saya sampai saat yang kalian harapkan.
10. Kepada teman-temanku Jurusan BKI kelas C Ta. 2016, teman seperjuangan yang telah sama-sama mengajukan judul dan saling memberikan masukan serta motivasi.
11. Semua pihak yang ikut berpartisipasi.
Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut menjadi amal shaleh dan mendapatkan ridho dari Allah Subhanahuwata’ala dan mendapat pahala dari- Nya.
Penulis juga berharap semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya. Aamiin.
Mataram, Penulis,
Marefa Pua Stori
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ...iii
NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v
HALAMAN PENGESAHAN ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ...viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xii
ABSTRAK ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Manfaat ... 6
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 7
E. Telaah Pustaka ... 8
F. Kerangka Teori ... 12
1. Tinjuan tentang Emosi Negatif (marah) ... 12
2. Tinjaun Tentang Rational Emotive Behavior Therapy ... 25
G. Metode Penelitian ... 36
1. Pendekatan Penelitian ... 36
2. Kehadiran Peneliti ... 37
3. Sumber Dan Jenis Data ... 37
4. Teknik Pengumpulan Data ... 39
5. Dokumentasi ... 41
H. Analisis Data ... 41
I. Uji Keabsahan Data ... 42
J. Sistematika Pembahasan ... 43
BAB II PAPARAN DATA DAN HASIL TEMUAN ... 46
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 46
B. Bentuk Emosi Negatif (marah) Pada Siswa kelas XI SMAN 7 Mataram ... 56
C. Cara Guru BK menangani Emosi Negatif (Marah) pada Siswa Kelas XI di SMAN 7 Mataram melalui pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy. ... 61
BAB III PEMBAHASAN ... 67
A. Bentuk Emosi Negatif (marah) Pada Siswa kelas XI SMAN 7 Mataram ... 67
B. Cara Guru BK Menangani Emosi Negatif (Marah) pada Siswa Kelas XI di SMAN 7 Mataram melalui pendekatan Rational Emotive
Behavior Therapy. ... 72
BAB IV PENUTUP ... 87
A. Kesimpulan ... 87
B. Saran ... 88
DAFTAR PUSTAKA ... 90
MENANGANI EMOSI NEGATIF (MARAH) MELALUI MELALUI PENDEKATAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY
(Studi Kasus Pada Siswa Kelas Xi Sman 7 Mataram) Oleh:
Marefa Pua Stori NIM : 160.303.045
ABSTRAK
Latar belakang penelitian ini didasarkan pada perhatian peneliti terhadap siswa-siswi di SMAN 7 Mataram yang mengalami emosi negatif (marah) yang telah melakukan konseling. Selain itu penelitian ini pula dilatarbelakangi oleh ketertarikan peneliti terhadap hal-hal yang dapat meempengaruhi siswa-siswi yang mengalami emosi negatif (marah) serta penangananya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai emosi negatif (marah) serta penanganannya pada siswa kelas XI di SMAN 7 Mataram.
Jenis dalam pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dimana pendekatan ini cenderung mengarah kepada metode pemikiran secara deskriptif yaitu berupa kata-kata dan tulisan sehingga arah dan latar belakangnya mempunyai prosedur penelitian yang deskriptif. Kemudian subjek dalam penelitian ini adalah pada siswa-siswi kelas XI SMAN 7 Mataram. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara, observasi dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukan Emosi negatif (marah) adalah suatu permasalahan yang sulit untuk dihadapi oleh setiap manusia. Terjadinya emosi negatif (marah) karena adanya gangguan dari luar diri individu seperti lingkungan sekolah, dan teman sebaya. Pada penelitian ini subjek mengalami emosi negatif (marah) akibat perlakuan teman yang tidak sesuai dengan keinginan dan akhirnya menimbulkan bentuk emosi marah seperti melempar dengan benda, memukul dan berkata kasar.
Adapun penanganan yang digunakan untuk menangani emosi negatif (marah) pada siswa kela XI SMAN 7 mataram ialah melalui pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy dengan dua Teknik yaitu Teknik home work dan role playing.
Kata Kunci: Menangani emosi negatif (marah), Rational Emotive Behavior Therapy
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan emosi memegang peranan penting bagi perilaku manusia. Manusia merupakan mahluk ciptaan Allah SWT yang sempurna diantara ciptaan-Nya yang lain, selain diberi kelebihan akal manusia pun dilengkapai dengan rasa dan emosi. Emosi pada dasarnya merupakan sebuah dorongan untuk bertindak, sebuah dan berdampak negatif pula pada perilaku manusia. Dalam pandangan psikologi emosi manusia terbagi menjadi dua kategori yaitu, emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif dapat tergambar melalui perasaan bahagia, tenang, rileks, gembira, dampak dari emosi positif yaitu menyenangkan dan menenangkan.
Sementara emosi negatif dapat di gambarkan melalui perasaan melalui perasaan sedih, kecewa, depresi, putus asa, marah, dendam, perilaku emosi negatif pun memiliki dampak yang negatif pula bagi perilaku yang ditimbulkan, seperti mencaci orang atau benda, memarahi orang lain, membanting barang atau perilaku marah lainnya yang kerap kali merusak hubungan dengan orang lain. 1
Menyalurkan emosi merupakan hal yang sangat wajar karena itu merupakan hak manusia untuk menyalurkannya, karena manusia telah Allah SWT lengkapi dengan emosi tidak disalurkan, baik emosi positif
1 Triantoro Safira & Nofrans Eka Saputra, Manejemen Emosi, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), hlm 13.
1
ataupun negatif perlu untuk disalurkan agar terjaga keseimbangannya.
Namun dalam menyalurkan emosi tidak bisa sekehendak hati karena akan berakibat buruk pula. Untuk itu islam mengajarkan tata cara bagaimana menyalurkan emosi tersebut agar tetap sesuai dengan kaida-kaida moral dan etika sehingga tidak menyakiti atau merugikan siapapun, baik orang lain maupun dirinya sendiri. Seperti halnya dalam menyalurkan emosi negatif seperti halnya emosi marah, Nabi Muhammad SAW bersabda “aku ini hanya manusia biasa, akau bisa senang sebagaimana manusia senang dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah” (HR. Muslim, No.2603).
Perasaan emosi negatif marah dapat mempengaruhi lingkungan dan tindakan setiap orang. Begitupula halnya dengan yang dialami beberapa siswa SMAN 7 Mataram. Terdapat beberapa siswa yang apabila terjadi kesalapahaman langsung melempar dengan benda, memukul dan berkata kasar, tanpa berpikir panjang. Bentuk emosi marah agresif seperti ini jelas dapat merugikan siswa yang bersangkutan dan pihak yang bertindak sebagai lawannya.
Dalam kehidupan manusia tidak pernah luput dari kata “masalah”, baik dari anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia. Masalah-masalah yang timbul dapat berasal dari dalam diri individu maupun dari luar.
Permasalahan yang timbul dari dalam diri individu dapat mempengaruhi perilakunya begitu pula halnya dengan permasalahan yang berasal dari luar diri individu. Bukan hanya itu perilaku-perilaku yang bermasalah
dapat menjadi kebiasaan buruk dalam diri individu tersebut, faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri individu itu sendiri atau bahkan dari luar diri individu tersebut seperti lingkungan keluarga, teman, ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya. Demikian halnya yang dialami oleh siswa kelas XI SMAN 7 Mataram, terdapat berbagai permasalahan kehidupan yang berbeda-beda dari tiap individu.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan oleh peneliti di SMAN 7 Mataram, peneliti mendapatkan berbagai permasalahan yang telah ditangani oleh guru bimbingan konseling. Salah satunya permasalahan yang dihadapi oleh beberapa siswa di SMAN 7 Mataram yakni emosi negatif (marah). Emosi marah yang ditunjukan siswa SMAN 7 Mataram diantaranya yakni berupa mengeluarkan bahsa-bahasa yang tidak layak didengar oleh lawan bicaranya hal tersebut disebabkan karena individu tersebut tidak dapat mengontrol emosinya, emosi marah lainya seperti berkata kasar, menyerang dengan benda, memukul, dan menangis.2
Berdasarkan wawancara dari tujuh orang siswa di SMAN 7 Mataram pada tanggal 14 September 2020 bahwa bentuk emosi negatif (marah) yang mereka alami adalah berbagai macam, seperti hal, melempar dengan benda, memukul dan berkata kasar. Ini dikarenakan emosi negatif (marah) pada beberapa siswa tidak terkontrolkan.
Berdasarkan wawancara dengan salah satu guru bk di SMAN 7 Mataram pada tanggal 10 September 2020, ada beberapa siswa yang
2 Observasi awal pada tanggal 10 september 2020
mengalami emsoi negatif (marah) seperti berkata kasar, menyerang dengan benda, memukul dan lain sebagainya.
Ketika siswa mengalami emosi negatif (Marah), bukan hanya mengganggu kondisi diri pribadi yang bersangkutan saja namun lingkungan juga mendapatkan pengaruh negatif dari kondisi tersebut.
Misalnya, dengan adanya kondisi emosi negatif ini interaksi sosial menjadi kurang baik dan dari segi pendidikan juga terhambat karena mengurangi semangat belajar dan biasanya siswa mengalihkan dengan cara meninggalkan kelas atau bahkan tidak mau masuk sekolah.
Penanganan emosi negatif (marah) yang dialami oleh siswa dapat diminimalisirkan melalui proses konseling Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) yang ditangani langsung oleh guru bimbingan konseling di sekolah. Berdasarkan hasil wawancara denga salah satu guru bimbingan konseling di SMAN 7 Mataram Ibu Komalasari beliau mengatakan:
“Ketika salah seorang siswa marah berlebihan maka mereka akan saling melempar, dan terkadang mereka selalu membawa masalah pribadi mereka kesekolah sehingga menimbulkan kesensitifitan pada diri mereka yang mengakibatkan meraka marah berlebihan.
Terkadang kami sebagai guru bimbingan konseling di sekolah menangani emosi marah mereka dengan cara ikut terlibat, dan hal pertama yang dilakukan menengkan siswa atau siswi yang mengalami emosi marah, dan kemudian di arahkan ke ruamg gru BK pendekatan yang digunakan disini adalah pendekatan rational emotive behaviour therapy merubah perilaku yang irasional menjadi rasional”.3
Pendekatan dalam ilmu konseling yang biasa diberikan pada siswa yang mengalami emosi negatif (marah) agar dapat mengurangi emosi
3 Hasil wawancara ibu Komalasari Tanggal 10 September 2020
negatif (marah) yaitu melalui pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy.
Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy ini sedikit lebihnya dapat menangani siswa yang mengalami emosi negatif dengan cara merasionalkan emosi dan pikiran agar siswa tersebut dapat menyadari konsekuensi yang muncul karena pilihannya.
Berdasarkan pemaparan permasalahan diatas, peneliti terdorong untuk mengkaji lebih dalam mengenai kasus yang sedang maraknya terjadi dengan judul “Menangani Emosi Negatif (marah) Melalui Pendekatan Rational Emotif Behavior Therapy (Studi Kasus pada Siswa Kelas XI SMAN 7 Mataram)”.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana bentuk emosi negatif (marah) pada siswa kelas XI di SMAN 7 Mataram ?
2. Bagaimana cara guru BK dalam menangani emosi negatif (marah) pada siswa kelas XI di SMAN 7 Mataram melalaui pendekatan Rational Emotive Behaviour Therapy (REBT)?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan dilakukan penelitian ini diantaranya ialah:
a. Untuk mengetahui bentuk-bentuk emosi marah siswa di SMAN 7 Mataram.
b. Untuk mengetahui cara guru BK menangani emosi marah siswa SMAN 7 Mataram, melalui pendekatan Rational Emotive Behaviour Therapy.
Adapun manfaat dari penelitian ini ialah:
2. Manfaat penelitian a) Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini dapat menambah wawasan dan memperkaya khazanah teori tentang emosi negatif serta penangananya melalui pendekatan Rational Emotive Behaviour Therapy pada siswa SMAN 7 Mataram.
b) Manfaat Praktis
Diharapankan dari hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan belajar bagi peneliti selanjutnya dimasa yang akan datang dan dijadikan bahan rujukan dalam penulisan proposal skripsi dengan judul yang relavan dengan penelitian ini.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
Dalam ruang lingkup penelitian ini dibatasi agar peneliti jelas agar tidak menyimpangpada tujuan yang sudah ditetapkan sebagai berikut:
1. Ruang lingkup ilmu
Penelitian ini termasuk dalam lingkup ilmu bimbingan konseling islam dalam menangani emosi negative (marah) melalui pendekatan rational emotive behavior therapy.
2. Lingkup objek
objek yang diteliti disini adalah menangani emosi negatif (marah) melalui pendekatan rational emotive behavior therapy pada siswa SMAN 7 Mataram.
3. Lingkup subjek
Penelitian dilakukan pada siswa SMAN 7 Mataram.
4. Setting penelitian
Lokasi yang dipilih yaitu SMAN 7 Mataram.
E. Telaah Pustaka
Dalam sebuah penelitian telaah pustaka menjadi sebuah state offair (posisi penelitian) sebuah penelitian. Permasalahan yang diketengahkan oleh peneliti harus memiliki posisi yang jelas di tengah penelitian- penelitian sebelumnya yang dilakukan parapeneliti lainnya. Sejauh yang peneliti telusuri ada beberapa peneliti sebelumnya yang mengetengahkan permasalahan yang senada dengan permasalahan penelitian yang peneliti ketengahkan, anataralain sebagai berikut :
1. Skripsi oleh Grita Ratriana Melinda,” dengan judul Kontrol Emosi Pada Mahasiswa Yang Memiliki Tipe Kepribadian Introvert di Yogyakarta. Temuan dari penelitian ini adalah bahwa kontrol emosi dari subjek yang menjadi responden dalam penelitian ini dilatarbelakangi oleh faktor keluarga dan kurangnya keterampilan sosial. Kontrol emosi subjek memilki dampak positif yang timbul secara umum adalah perasaan lega dan respon dari teman berupa
empati, perhatian, dan penguatan. Selain dampak positif, terdapat dampak negatif dari emosi yang dialami oleh subjek seperti menyesal, bagian tubuh menjadi sakit, tidak disukai teman, teman menjadi sungkan untuk berinteraksi, memancing kesalahpahaman, orang lain terganggu, menyalahkan diri sendiri, menambah pengeluaran barang- barang yang rusak, malu jika diketahui orang lain, membenci dunia luar, dan menjadi malas4.
Berdasarkan penelitian Grita Ratriana Melinda di atas maka peneliti uraikan persamaan dan perbedan penelitian di atas dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, sama-sama meneliti tentang emosi dan bagaimana dampaknya. Perbedaan penelitian di atas dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, yaitu peneliti di atas lebih focus pada mahasiswa yang tipe kepribadian Introvert di Yogyakarta. Sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu lebih focus pada emosi negatif (Marah) pada siswa kelas XI SMAN 7 Mataram melalui pendekatan REBT.
2. Skripsi oleh Nova Farid Hudaya,” dengan judul Peningkatan Kemampuan Mengelola Emosi Marah Melalui Teknik Angermanagement Pada Siswa Kelas X Teknik Komputer Dan Jaringan SMK Muhammadiyah 1 Moyudan5
4 Grita Ratriana Melinda, “Kontrol Emosi Pada Mahasiswa Yang Memiliki Tipe Kepribadian Introvert Di Yogyakarta”, (Skripsi, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, 2017), hal. 46-48.
5 Nova Farid Hudaya, “Peningkatan Kemampuan Mengelolah Emosi Marah Melalaui Teknik Angermanagement Pada Siswa Kelas X Teknik Komputer Dan Jaringan SMK
Adapun hasil penelitian ini adalah pemberian teknik angermanagement dapat meningkatkan kemampuan mengelola emosi siswa kelas X. hal ini sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap beberapa siswa yang menjadi responden dalam penelitian ini. Yang mana siswa dapat mengenali emosi marahnya, mengendalikan emosi, meredakan emosi dan mengungkapkan emosi.
Berdasarkan penelitian Nova Farid Hudaya di atas maka peneliti uraikan persamaan dan perbedan penelitian di atas dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, sama-sama meneliti tentang emosi dan bagaimana penanganannya. Perbedaan penelitian di atas dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, yaitu peneliti di atas lebih focus pada Mengelola Emosi Marah Melalui Teknik Angermanagement Pada Siswa Kelas X Teknik Komputer Dan Jaringan SMK Muhammadiyah 1 Moyudan, Sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu lebih focus pada emosi negatif (Marah) pada siswa kelas XI di SMAN 7 Mataram melalui pendekatan REBT.
3. Skripsi oleh Cicilia Indah Nuraeny,” dengan judul Kemampuan Mengelola Emosi Mahasiswa Yang Sedang Menyusun Skripsi (study Deskriptif Pada Mahasiswa Prodi BK USD Angkatan Tahun 20126. Setelah peneliti melakukan berbagai riset, dapat disimpulkan hasil
5 Muhammadiyah 1 Moyudan”, (Skripsi Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta Mei 2015), hal. 45-96
6 Cicilia Indah Nuraeny, “Kemampuan Mengelolah Emosi Mahasiswa Yang Sedang Menyusun Skripsi”, (Skripsi Fakultas Ilmu Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2016), hal. 32-54.
yang didapatkan yaitu bahwasanya sebagian besar mahasiswa prodi BK USD angkatan tahun 2012 yang sedang mengerjakan skripsi termasuk mampu mengelola emosinya. Artinya mahasiwa dalam menyelesaikan tugas akhir (skripsi) mampu mengelola emosi negatifnya sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan dengan maksimal dan secara baik.
Berdasarkan penelitian Cicilia Indah Nuraeny di atas maka peneliti uraikan persamaan dan perbedan penelitian di atas dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, sama-sama meneliti tentang emosi . Perbedaan penelitian di atas dengan penelitian yang akan peneliti lakukan, yaitu peneliti di atas lebih fokus pada Kemampuan Mengelola Emosi Mahasiswa Yang Sedang Menyusun Skripsi (study Deskriptif Pada Mahasiswa Prodi BK USD Angkatan Tahun 2012, Sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan yaitu lebih fokus pada emosi negatif (Marah) pada siswa kelas XI di SMAN 7 Mataram melalui pendekatan REBT.
Perbedaan yang terdapat dalam penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti kaji adalah terletak pada subjek yang digunakan sebagai sampel penelitian yaitu antara mahasiswa dan siswa di sekolah.7
7Ibid hlm 56
F. Kerangka Teori
1. Teori Tentang Emosi Negatif a. Pengertian Emosi Negatif
Emosi adalah bentuk komunikasi yang dapat mempengaruhi orang lain. Menurut franken emosi merupakan hasil interaksi antara faktor subyektif (proses kognitif), faktor lingkungan (hasil belajar), dan faktor biologik (proses hormonal).
Dengan kata lain, emosi muncul pada saat manusia berinteraksi dengan lingkungan dan merupakan hasil upaya untuk beradaptasi dengan lingkungannya.8 Emosi hakikatnya muncul sebagai sebagai bentuk pengalaman afektif (senang tak senang), merangsang individu untuk membangkitkan penjelasan kognitif (menghubungkan sebab-sebab dalam dirinya sendiri atau lingkungan), memicu variasi penyesuaian internal (misal: detak jantung makinkuat), serta mendatangkan tingkah laku yang sering, tetapi tidak selalu, ekspresif (ketawa/menangis), mengarahkan tujuan (membantu/menolak), dan adaptif (mengubah perilaku atau sesuatu yang mengancam kehidupan individu). Pada dasarnya, arah emosi dasar manusia dapat dibagi menjadi dua yaitu emosi negatif dan emosi positif. Emosi negatif bersifat destruktif (merusak), baik diri sendiri maupun orang lain. Menurut Goleman, emosi negatif adalah perasaan individu yang dirasakan kurang menyenangkan
8Baihaqi, Psikiatri (Konsep dan Gangguan-gangguan), (Bandung: Refika Aditama, 2005), hlm
(ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, kebencian, kemarahan) yang berlebihan dapat membuat individu bertindak dan berasumsi negatif pada dinya sendiri dan orang lain.9 Dari pernyataan diatas disini dapat disimpulkan bahawa emosi negatif adalah perasaan kurang menyenangkan yang dirasakan oleh individu sehingga mampu mempengaruhi pikiran dan tingkah laku dalam berhubungan dengan orang lain.
b. Pengertian emosi marah
Dalam kamus besar bahasa indonesia, pengertian marah adalah perasaan tidak senang karena diperlakukan tidak sepantasnya.10
Dalam kitab Ihya’Ulumuddin, marah adalah sekam yang tersimpan dalam hati, seperti terselipnya bara di balik abu. Boleh jadi ia merupakan api yang darinya setan diciptakan.11
Davidoff mendefinisikan marah sebagai suatu emosi yang memiliki ciri-ciri aktivitas sistem syaraf simpatetik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang disebabkan adanya perasaan tidak suka yang sangat kuat yang disebabkan adanya kesalahan, yang mungkin nyata salah atau mungkin pula tidak.
9 Emosi dan Penyebabnya tersedia di web www.psychologymania.com/2020/08/emosi- negatif-dan-penyebabnya.html, dia akses pada tanggal 24 Agusutus 2020.
10 Tim Prima Pena, kamus besar bahasa indonesia, Gitamedia Press, 22012, hal. 515
11 Imam al-Ghazali, Ringkasan Ihya’ Ulumuddin, Pent. Abdul Rasyad Siddiq, Akbar Media Eka Sarana, 2018, hal.238
Albin mengungkapkan bahwa rasa marah merupakan emosi yang sangat sukar bagi setiap orang, baik dalam hal menerima ataupun untuk mengugkapkannya. Rasa marah menunjukkan bahwa suasana perasaan tersinggung oleh seseorang atau sesuatu sudah tidak baik.12
Kalau seseorang sudah telah diliputi perasaan marah, maka seluruh kejelekkan bisa diundang untuk masuk ke dalam dirinya dengan leluasa. Misalnya, ia akan berbicara keras dan kasar.
Berkata-kata keras dan kasar adalah kejelekkan. Seseorang mukmin tidak akan berkata-kata kasar dan mengucapkan kata-kata yang tajam menyayat perasaan si pendengarnya.13
Salah satu emosi yang sulit diatasi adalah rasa marah.
Sering kali rasa marah yang dipendam menimbulkan tekanan psikis yang lebih berat. Rasa marah yang terus bergejolak akan menimbulkan suasana hati yang tidak nyaman, sensitif, dan tidak mengenakkan. Sering kali rasa marah dilampiaskan dengan cara- cara yang negatif seperti membanting barang-barang, berteriak- teriak, dan melakukan tindakan kekerasan.14
Pada dasarnya emosi manusia bsa dibagi menjadi dua kategori umum jika dilihat dari dampak yang ditimbulkannya, kategori pertama adalah emosi positif atau bisa disebut dengan efek positif. Emosi memberikan dampak yang menyenangkan. Macam
12 Trianto Safari dan Nofrans Eka Saputra, op. cit, hal. 74
13 Rachmat Ramadhana al-Banjari, psikologi Iblis, DIVA Press, Jogjakarta, 2007, hal. 58
14 Trianto Safari dan Nofrans Eka Saputra op. cit, Hal. 5
dari emosi positif ini seperti tenang, santai, rileks, gembira, lucu, haru, dan senang.
Kategori kedua adalah emosi negatif atau efek negatif, ketika merasakan emosi negatif ini maka dampak yang kita rasakan adalah negatif, tidak menyenangkan dan menyusahkan. Macam dari emosi negatif diantaranya sedih, kecewa, putus asa, depresi, tidak berdaya, frustasi, marah, dendam, dan masih banyak lagi.15 c. Ciri-ciri marah
Hamzah menjabarkan secara rinci tentang ciri-ciri yang dapat dilihat apabila seseoang marah, yaitu sebagai beikut:
1) Ciri pada wajah, yaitu perubahan pada warna kulit menjadi kuning pucat, tubuh terutama pada ujung jari-jari bergetar keras, timbul buih pada sudut mulut, bola mata memerah, hidung kembang kempis gerakan menjadi tidak terkendali, serta terjai perubahan-perubahan lain pada fisik.
2) Ciri pada lidah, yaitu dengan meluncunya makian, celaan, kata- kata yang menyakitkan, dan ucapan-ucapan keji yang membuat orang berakal sehat measa risih untuk mendengarnya.
3) Ciri pada anggota tubuh, seperti terkadang menimbulkan keinginan untuk memukul, melukai, merobek, bahkan membunuh. Jika amarah tersebut tidak terlampiaskan pada
15 Ibid, hal. 13
orang yang dimarahinya, kekesalannya akan berbalik pada dirinya sendiri.
4) Ciri pada hati, didalam hatinya akan timbul rasa benci, dendam, dan dengki (hasut), menyembunyikan keburukan, merasa gembira dalam dukanya dan merasa sedih atas kegembiraannya, memutuskan hubungan dan menjelek- jelekkannya.16
d. Bentuk-bentuk emosi marah
Nay, seorang ahli anger management (pengelolaan marah) menyebutkan berbagai bentuk kemarahan. Untuk istilah bentuk kemarahan disebut sebagai wajah kemarahan adalah sebagai berikut: 17
1. Pasif-agresi
Karakteristik yang dapat dilihat adalah menahan pujian, perhatian atau kepedulian; mungkin “melupakan” atau tidak menaati komitme; menjaga jarak ketika marah; melakukan sesuatu yang diketahui dapat membuat kesal orang lain; dan bisa berlangsung lama.
16 Septya Muti Fadhila, “Peningkatan kemampuan mengelolah emosi marah melalui teknik biblioterapi”, (Sikripsi, Fakultas Ilmu Pendidkan UN Yogyakarta, Yogyakarta, 2013), hlm.
19-20.
17 Ani Mustfidah, “Hubungan Antara Control Diri dengan Emosi Marah pada Supir Bus Trayek Purwekerto Tegal Yang Berada di Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Terminal Purwekerto”,(Sikripsi, Fakultas Psikologi UM Purwekerto, Purwekerto, 2015), hlm. 15
2. Sarkasme
Karakteristik yang dimunculkan adalah melontarkan sindiran yang menyakitkan; membuka aib seseorang di hadapan orang lain atau mempermalukan di depan umum;
mengeraskan suara dan sikap yang dapat membuat orang tidak suka.
3. Kemarahan dingin.
Biasanya tandai dengan menjauhkan diri dari orang lain selama beberapa waktu, menjaga jarak, menolak menunjukan apa yang menjadi masalah, dan cenderung menghindari pembicaraan emosional ketika marah.
4. Permusuhan
Menunjukkan suatu gejolak perasaan, meninggikan volume suara lebih tertekan, berlaku seolah-olah diburuh waktu, menunjukkan tanda-tanda frustasi dan kekesalan terhadap orang lain yang lambat atau tidak memenuhi ekspektasi kompetensi dan kinerja yang tinggi.
5. Agresif
Suara yang meninggi, melontarkan kata-kata keras dan atau menghina, kutukan, sumpah serapah dan tuduhan, memiliki pikiran atau gambaran mental untuk menyakiti orang
lain, dan menumpahkan kemarahan dengan menyentuh, mendorong, menghadang atau memukul.18
e. Faktor-faktor Penyebab emosi Marah
Faktor-faktor pendorong kemarahan beragam, dapat berupa:
1. Kerapuhan fisik, seperti penyakit atau neuropathy (penyakit atau ketidak teraturan, biasanya degeneratif, yang mempengaruhi sistem syaraf, gejalanya adalah rasa sakit serasa terbakar, kepekaan saat menyentuh atau disentuh, dan rasa dingin di kaki) yang penyebabnya sensitivitas yang luar biasa.
2. Cacat psikologis yang muncul akibat ketegangan mental, egoisme berlebihan, atau perasaan terhina maupun rasa rendah diri.
3. Persoalan etika (akhlak) seperti suka bertengkar dan cepat gelisah.
Kemarahan mengubah manusia menjadi gunung berapi dahsyat yang lidah apinya berkobar menakutkan. Karenanya kita dapat menyaksikan lidah orang yang marah berbicara dengan bahasa vulgar (sangat kasar) dan kata-kata tercela, dan anda dapat
18 Ibid. Hlm. 16-17.
menyaksikan bahwa tangan-tangan orang yang marah siap untuk memukul atau bahkan membunuh.19
Dalam buku menejemen emosi disebutkan, penyebab orang marah sebenarnya dapat datang dari luar maupun dari dalam diri orang tersebut. Oleh karena itu, secara garis besar sebab yang menimbulkan marah terdiri atas faktor fisik dan faktor psikis.
1) Faktor Fisik
Sebab-sebab yang mempengaruhi faktor fisik antara lain:
a. Kelelahan yang berlebihan. Misalnya orang yang terlalu lelah karena kerja keras, akan lebih mudah marah dan mudah sekali tersingung.
b. Zat-zat tertentu yang dapat menyebabkan marah. Misalnya jika otak kurang mendapatkan zat asam, orang itu akan lebih mudah marah.
c. Hormon kelamin pun dapat mempengaruhi kemarahan seseorang,kita dapat melihat dan membuktikan sendiri pada sebagian wanita yang sedang mentsruasi, rasa marah merupakan ciri khususnya yang utama.
19 Sayyid Mahdi as Sadr, Mengobati Penyakit Hati, Meningkatkan Kualitas Diri, Pent, Ali Bin Yahya, Pustaka Zahra, Jakarta, 2005, hal. 28
2) Faktor Psikis
Diantara faktor psikis yang mempengaruhi yaitu:
a) Rasa rendah diri, yaitu menilai diri sendiri lebih rendah dari yang sebenarnya. Orang ini akan mudah sekali tersinggung segala sesuatu dinilai merendahkannya, oleh karena itu dia mudah sekali untuk marah.
b) Sombong, yaitu menilai dirinya sendiri sangat penting melebihi kenyataan sebenarnya. Jadi merupakan sifat kebalikan dari sifat rasa rendah diri sebelumnya. Orang yang sombong terlalu menuntut banyak pujian bagi dirinya. Jika yang diharapkan tidak terpenuhi, ia wajar sekali marahnya.
c) Egoistis, atau terlalu mementingkan dirinya sendiri, yang menilai dirinya sangat penting melebihi kenyataan. Orang yang bersifat demikian akan mudah marah karena selalu terbentur pada pergaulan sosial yang bersifat apatis, sehingga orang yang egoistis tersebut merasa tidak diperlakukan dengan semestinya dalam pergaulan sosial. 20
20 Yadi Purwanto dan Rachmat Mulyono , psikologi marah, (Bandung: PT Refika Aditama. 2006), hlm. 18-19
f. Pandangan Islam Tentang Emosi Marah
Dalam islam banyak sekali ayat-ayat dan hadits yang menyatakan larangan untuk marah dibawah ini adalah beberapa ayat Al-quran yang menyatakan tentang larangan marah yaitu:
“maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang mereka kerjakan (Q.S At- Taubah:82)”.
Adapun hadits-hadits yang berhubungan dengan marah adalah sebagai berikut:
1) “Apabila seorang diantara kalian marah sedangkan dia berdiri maka hendaklah dia duduk, agar kemarahanya hilang, apabila masih belum meredah maka hendaklah dia berbaringlah.” (HR.
Abu daud).
2) “hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra. Bawa seseorang laki-laki berkata kepada nabi: “berilah aku wasiat beliau berkata: “janganlah marah” beliau mengulangi wasiat itu, nabi saw, mengatakan: “ janganlah marah” (H.R Bukhari)21
21 Indah Wigati, Teori Kompensasi Marah Perspektif Psikologi Islam, Jurnal Ta’dib, Vol.
XVIII, No. 02, November 2013. Hlm, 195-198.
Berdasarkan hadits-hadits diatas, memberikan solusi agar seseoarang mampu meredam marah dengan baik, yaitu sebagai berikut:
1) Saat marah hendaknya duduk jika tetap marah hendaknya berbaring.
2) Diam, bersikap tenang dan meninggalkan tempat tersebut.
3) Berwudhu.
4) Sholat.
5) Sadar ketika diingatkan saat marah.
6) Mengetahui akibat buruk saat marah.
7) Berdoa.
8) Berdzikir.
9) Mendapat derajat yang tinggi bagi orang yang mengendalikan amarah.
10) Istirahat yang cukup supaya tidak mudah marah.
2. Tinjauan Tentang Rational Emotif Behavior Therapy a. Konsep Dasar Rational Emotive Behavior Therapy
Tokoh penggagas Rational Emotive Behaviour Therapy adalah Albert Ellis. Dia dilahirkan pada tahun 1913 di New York.22 Teori ini didasarkan kepada asumsi bahwa manusia memiliki kapasitas untuk bertindak dengan cara-cara yang rasional.
22 Syamsu Yusuf L.N, “Konseling Individual” (konsep dasar dan pendekatan)”,(Bandung Refika Aditama, 2016). Hlm 207.
Terapi rasional emotive behavior therapy diperkenalkan pertama kalinya oleh seorang klinis yang bernama Albert Ellis pada tahun 1955.23 Ellis mencoba untuk mengkombinasikan teori- teori humanistik, filosofi, dan behavioral, penggabungan ini pada akhirnya memunculkan pendekatan atau teori Rational Emotive Behavior Therapy (REBT). George dan Cristiani menyatakan bahwa pendekatan REBT ini menekankan pada proses berpikir konseli yang dihubungkan dengan perilaku serta kesulitan psikologis dan emosional.
Lesmana mengatakan dalam bukunya bahwa Ellis mendeskrisikan proporsi utama REBT sebagai berikut:24
1) Manusia dilahirkan dengan potensi untuk rasional (Self- constructive) dan irasional (Self-defeating). Mereka mempunyai potensi melakukan preservasi diri, untuk berpikir, untuk kreatif, untuk berminat terhadap orang lain, belajar dari kesalahan, mengaktualisasi potensinya untuk berkembang.
2) Kecenderungan orang untuk berpikir irasional, kebiasaan yang merugikan diri sendiri, Wishful Thinking, dan tidak toleran seringkali dipertebal oleh budaya mereka dan kelompok keluarga mereka.
23 Namora Lumongga Lubis, Memahami Dasar-Dasar Konseling, (Jakarta: Kencana, 2011), hal. 175.
24 Jeanette Murad Lesmana, “Dasar-Dasar Konseling”, (Jakarta: UI, 2005), hal. 33-36.
3) Orang mempersepsi, berpikir, merasa dan bertingkah laku secara simultan. Dengan demikian, pada saat yang bersamaan mereka kognitif, konatif, dan motorik.
4) Bentuk psikotrapi lain juga menggunakan teknik koognitif, emotif dan behavioral, tetapi REBT bersifat sangat kognitif, aktif-direktif, dengan pemberian tugas-tugas rumah sehingga sangat efektif dan lebih singkat.
5) Terapis tidak percaya bahwa hubungan yang hangat antara konseli dan konselor adalah kondisi yang perludan cukup untuk perubahan kepribadian yang efektif, meskipun ada kalanya dipelukan.25
6) Terapis menggunakan berbagai macam teknik, bermain-peran, pelatihan asertivitas, desentisisasi, humor, sugesti, dukungan dan lain-lain, apa saja yang efektif untuk membantu klien mengubah keyakinan yang dsudah begitu menetap dalam.
7) Menurut REBT, kebanyakan problem nerotik menurut pemikiran magis, pemikiran yang secara empiric tidak dapat divalidasi, dan bila ide-ide yang menimbulkan gangguan ini ditantang habis-habisan melalui pemikiran logis-empiris, pemikiran-pemikiran ini dapat dikenali sebagai sesuatu yang palsu atau salah dan kemudian diminimalisasi.
25 Ibid,... hal. 40-42.
8) Memperoleh wawasan (insight) tidak membawa kepada perubahan kepribadian yang besar.
9) Secara historis, psikologi dianggap sebagai ilmu S-R. S adalah stimulus dan R sama dengan respon.26
b. Tujuan Rational Emotive Behaviour Therapy
Gibson dan Mitchell mengemukakan bahwa tujuan REBT adalah untuk mengurangi atau mengeliminasi perilaku irasional semacam ini. Untuk mengubah perilaku yang diinginkan tersebut, klien harus belajar bahwa cara mereka berpikir, merasa dan bersikap merupakan suatu kesatuan aksi yang terpadu.27 Pikiran dan emosi yang negatif dan merusak diri harus dikenali agar klien sanggup mengarahkan pikiran dan emosinya menjadi logis, rasional, dan konstruktif.
Menurut Gladding tujuan utama REBT berfokus pada membantu orang untuk menyadari bahwa mereka dapat hidup lebih rasional dan produktif.28
Syamsul Yusuf dalam bukunya mengatakan bahwa tujuan konseling REBT bukan menghilangkan emosi konseli (karena itu suatu hal yang mustahil), tapi merupakan upaya bantuan kepada individu (konseli) agar dapat menghilangkan gangguan-gaangguan emosional yang merusak dirinya, seperti: rasa cemas, raasa takut,
26 Ibid,... hlm. 43-44.
27 Robert L. Gibson dan Marianne H. Mitchell. Op. Cit. hlm 221-222
28 Ibid. hlm 225
rasa bersalah dan rasa benci atau rasa bermusuhan. Karena gangguan-gangguan emosi itu diakibatkan oleh pikiran-pikiran atau sikap-sikap yang irrasional, maka tujuan yang akan dicapai adalah agar konseli dapat memperbaiki atau mengubah pikiran dan sikap yang tidak rasional atau logis, sehingga dapat mengembangkan self-actualization, dan memperoleh kebahagian hidupnya.29
c. Metode Rational Emotive Behavior Therapy
Menurut Samuel T. Gladding REBT mencakup sejumlah teknik yang beragam. Dua teknik yang paling penting adalah pengajaran dan pertentangan. Pengajaran melibatkan tindakan meminta klien mempelajari gagasan dasar dari REBT, dan memahami bagaimana pikiran terhubung dengan emosi dan tingkah laku. Prosedur ini bersifat instruktif an mengarahkan serta umumnya dikenal sebagai Rational Emotive Education (REE).30
Ada tiga metode utama yang digunakan dalam proses konseling REBT, yaitu Cognitif, Emotive, dan Behavioral (CEB), ketiga teknik ini digunakan secara elektik. Prosedur penggunaan CEB ini berdasarkan kepada dasar teori atau asumsi bahwa manusia itu pada dasarnya memepunyai kemampuan untuk mengubah gangguan emosinya.
1. Metode Cognitif
29 Ibid. hlm 230
30 Samuel T. Gladding, Op Cit. hlm. 268
REBT menggunakan sejumlah metode atau teknik teraupetik cognitive, yaitu:
a. Analisa logis dan filosofis terhadap ide-ide yang tidak rational.
b. Pengajaran (instruction)
c. Pertanyaan terhadap kongklusi yang bukan empiris d. Menghentikan pikiran (yang tidak rasional)
e. Sugesti
f. Penyimpangan cognitive (dari yang tidak rasional ke yang rasional)
Menurut Ricard Nelson dalam bukunya teori dan praktik konseling dan terapi kerangka kerja kognitif (cognitive Frame Work) yaitu klien perlu menantang keyakinan irasionalnya, berulang-ulang dan melatih keterampilan disputingnya baik untuk memepelajarinya maupun untuk memperkuat filosofi-filosofi rasional barunya. REBT menggunakan berbagai teknik pekerjaan rumah untuk mengembangkan keterampilan disputing.31
2. Metode Emotif
Dalam metode emotif ini digunakan beberapa teknik, yaitu sebagai berikut:
31 Richard Nelson dan Jones. “Teori dan Praktik Konseling dan Terapi”, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2011). Hlm. 526
a. Accepting The Clientun Conditionally, yaitu penerimaan yang penuh kepada konseli dengan tanpa pamrih.
b. Role Playing (Bermain Peran): Ellis menggunakan Role Playing sebagai salah satu cara menunjukan kepada klien ide- ide kelirunya dan bagaimana ide-ide itu mempengaruhi hubungannya dengan orang lain. Dalam Role Playing, terapis menempatkan klien dalam situasi simulasi dan menawarkan bantuan dalam berpikir dengan lebih efektif didalamnya.
c. Modeling, teknik ini membantu konseli untuk berpikir, merasa dan bertindak yang berbeda atau berlainan dengan segala sesuatu yang menjadi sumber penyebab terjadinya gangguan emosional.
d. Humor, penggunaan Humor dengan bijaksana dapat membantu mengurangi keyakinan-keyakinan irasional dan perilaku self- defeating klie. Terapi sering melebih-lebihkan ide tidak masuk akal klien dan menggunakan berbagai macam permainan kata, irroni, kata-kata fantastis, bahasa yang menggugah, bahasa gaul, dan lelucon cabul yang menderita pobina bicara diepan publik: “Kamu mestinya benar-benar malu menghindar untuk berpidato orang lain suamimu bisa berbicara dengan lancar tanpa kecemasan”. Mendorong klien untuk menyanyikan lagu jenaka dan menceritakan anekdot lucu untuk dirinya sendiri adalah metoe lain untuk menangkal kecenderungan klien untuk
menganggap dirinya sendiri, orang lain, dan dunia teralalu serius.32
3. Metode Behavioral
a. Desensitization (penyadaran), teknik ini digunakan untuk menghilangkan respon-respon perasaan yang tidak menyenangkan, dengan mengintrodusir suatu kegiatan yang bertentangan dengan respon yang tidak menyenangkan itu.
Seperti konseli merasa malu bertemu atau bergaul dengan orang lain, maka konselor memberikan tugas secra bertahap untuk ikut terlibat dalam pergaulan dengan orang lain.
b. Operant Conditioning, teknik ini khususnya digunakan dalam bentuk prosedur management pribadi yang digunakan secara terus menerus dalam REBT untuk membantu konseli dalam melakukan suatu kegiatan dalam rangka mengubah kognitifnya, juga mengubah emosi dan tingkah lakunya.
c. Relaxation, teknik ini biasa digunakan dalam REBT bukan sebagai usaha kuratif tapi sebagai usaha meringankan atau menenangkan perasaan cemas konseli.
Rasional emotive behavior therapy (REBT) membantu konseli mengenali dan memahami perasaan, pemikiran, dan perilaku. Proses ini membantu konseli untukmenerima bahwa perasaan, pemikiran dan
32 Ibid. hlm. 531
perilaku tersebut diciptakan dan diverbalisasioleh konseli sendiri.33 Dalam proses konseling dengan pendekatan Rasional Emotive BehaviorTherapy (REBT) terdapat tiga tahap: Tahap pertama, proses di mana konseli diperlihatkandan disadarkan bahwa mereka tidak logis dan irasional.
Proses ini membantu konselimemahami bagaimana dan mengapa dapat menjadi irasional. Pada tahap ini konselidiajarkan bahwa mereka memiliki potensi untuk mengubah hal tersebut. Tahap kedua,konseli dibantu untuk yakin bahwa pemikiran dan perasaan tersebut dapat ditangani dandirubah.
Pada tahap ini konselor mengeksplorasi ide-ide untuk menentukan tujuan- tujuanrasional, konselor juga mengembangkan pemikiran konseli secara rasional. Tahap ketiga,konseli dibantu untuk secara terus menerus mengembangkan pikiran rasional sertamengembangkan filosofi hidup yang rasional sehingga konseli tidak terjebak pada masalah yang disebabkan oleh pemikiran irasional.
Teknik rasional emotive behavior terapy (REBT) yang paling utama adalah mengajar secara aktif-direktif lebih dari itu, rasional emotive behavior terapy menekankan proses deduktif yang mengacu pada aspek kognitif. Dalam keadaan ini, konselor lebih terlihat bertindak sebagai guru dibandingkan fasilitator bagi klien. Menurut Ellis konselor dapat menerapkan metode terapi tingkah laku seperti.
33Fitriatun Solikhah Casmini, “Efektivitas Pendekatan Rational Emotive Behaviour Therapy Untuk Mengurangi Kecanduan Game Online Pada Anak Sekolah Dasar Di Sd N Jumeneng, Sumberadi, Mlati, Sleman”, Jurnal Hibsah (Vol. 13, No. 2, Desember 2016). Hlm. 16.
1. Pelaksana pekerjaan rumah.
2. Desensitisasi (lihat kembali “Teknik Terapi Behavioristik”) 3. Pengondisian operan (lihat kembali “Teknik Terapi
Behavioristik”) 4. Hipnoterapi
5. Latihan asertif (lihat kembali “Teknik Terapi Behavioristik”).
Selain itu, Willis menyebutkan beberapa teknik rasional emotive behavior terapy lainnya antara lain:
1. Sosiodrama, yaitu sandiwara singkat yang menjelaskan masalah-masalah di kehidupan sosial.
2. Pencontohan (modelling) (lihat kembali “Teknik Terapi Behavioristik”)
3. Teknik reinforcement (lihat kembali “Teknik Terapi Behavioristik”)
4. Relaxation (lihat kembali “Teknik Terapi Behavioristik”) 5. Self control, yaitu klien di ajarkan cara-cara mengendalikan diri
dan menahan emosi.
6. Diskusi
7. Simulasi, yaitu melalui bermain peran antara konselor dan klien.
8. Bibliografi, yaitu dengan memberikan bahan bacaan tentang orang-orang yang mengalami masalah yang hampir sama dengan klien dan akhirnya dapat mengatasi masalahnya atau
bahan bacaan yang dapat meningkatkan cara berpikir klien agar lebih rasional.34
G. Metode Penelitian a. Pendekatan penelitian
Penulis menggunakan pendekatan kualitatif untuk menganalisis tentang emosi marah pada siswa SMAN 7 Mataram melalui pendekatan Rational emotive behaviour therapy.
Kualitatif adalah penelitian yang menggunakan metode penalaran induktif dan sangat percaya bahwa terdapat banyak perspektif yang akan dapat diungkapkan. Peneliti kualitatif berfokus pada fenomena sosial dan pada pemberian suara pada perasaan dan persepsi dari partisipan di bawah studi. Hal ini didasarkan pada kepercayaan bahwa pengetahuan dihasilkan dari setting sosial dan bahwa pemahaman pengetahuan sosial adalah suatu proses ilmiah yang sah (ligitimate).35
Alasan peneliti menggunakan pendekatan kualitatif ini agar peneliti bisa terjun langsung mewawancarai dan mengobservasi. Dengan terjun langsung, hasil analisis yang diperoleh akan akurat. Dalam penelitian inipeneliti mengumpulkan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Yang di mana maksud dari wawancara adalah tanya jawab anatara pewawancara dan yang di wawancarai untuk meminta keterangan dan pendapat mengenai suatu hal permasalahan yang di
34Namora Lumongga Lubis, Memahami dasar-dasar konseling, (Jakarta: Kencana, 2011)Hlm 182.
35Emzir, metode penelitian kualitatif Analisis Data, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2010), hlm 2.
alami. Sedangkan observasi merupakan sarana untuk menggeneralisasi tersebut dapat dijadikan landasan untuk merancang aktivitas yang akan dilakukan dalam proses penelitian dilapangan.
b. Kehadiran peneliti
Kehadiran peneliti yang dimaksud adalah peran dan upaya peneliti di lapangan dalam memperoleh data. Tujuan utama kehadiran peneliti di lokasi penelitian adalah untuk mendapatkan data yang valid. Dalam penelitian ini kehadiran peneliti bertujuan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan data yang diperlukan dan memberikan gambaran dari informasi yang ada. Dengan kehadiran peneliti dapat secara langsung melihat dan menilai apa yang akan diteliti dalam penelitian ini.
c. Sumber dan jenis data.
a. Sumber data
Sumber data atau subyek penelitian dalam penelitian adalah
“subyek dimana data diperoleh, yang dimaksud dengan subyek disini yaitu bisa berupa informasi, situasi atau kejadian dan waktu”.36 Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa SMAN 7 Mataram.
Adapun jumlah sumber data yang dijadikan responden dibatasi, karena yang dibutuhkan adalah diperolehnya esensi persoalan yang diteliti, bukan pada banyaknya responden. Penentuan responden dilakukan
36 Arikunto Suharsimi, “prosedur penelitian suatu pendekatan praktek”, (Jakarta: Pt.
Rineka Cipta, 1991), Hlm 41
dengan pertimbangan bahwa responden tersebut mampu memberikan informasi sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
b. Jenis data
Jenis-jenis penelitian dibedakan berdasarkan jenis data yang diperlukan secara umum dibagi menjadi dua, yaitu penelitian primer dan penelitian sekunder.37
a) Data primer
Penelitian primer membutuhkan data atau informasi dari sumber pertama, biasanya kita sebut dengan responden. Data atau informasi diperoleh melalui observasi dan wawancara. Adapun yang menjadi obyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI di SMAN 7 Mataram yang berjumlah 7 orang. Kriteria siswa yang memiliki emosi marah yaitu 1). Pada wajah perubahan pada warna kulit menjadi kuning pucat, tubuh terutama pada ujung jari-jari bergetar keras, bola mata kemerahan. 2). Pada lidah yaitu dengan meluncurnya makian, celaan, kata-kata yang menyakitkan, dan ucapan-ucapan keji yang membuat orang berakal sehat merasa risih untuk mendengarnya. 3). Pada anggota tubuh seperti terkadang menimbulkan keinginan untuk memukul, melukai, merobek, bahkan membunuh. 4). Pada hati dalam hatinya akal timbul rasa benci, merasa gembira dalam dukanya dan merasa sedih atau kegembiraannya, memutuskan hubungan dan menjelek-jelekanya.
37 Onathan Sarwono, “metode penelitian kuantitatif dan kualitatif”, (Yogyakarta Graha Ilmu, 2016), Hlm 16
5). Melontarkan sindiran yang menyakitkan, membuka aib seseorang dihadapan orang lain, mengeraskan suara dan sikap yang dapat membuat orang tidak suka. 6). Meninggikan volume suara lebih tertekan, menunjukkan tanda-tanda frustasi terhadap orang lain yang lambat atau tidak memenuhi ekspektasi kompotensi dan kinerja yang tinggi. 7). Melontarkan kata-kata keras, dan menghina, kutukan, sumpah sarapah dan tuduhan, memiliki pikiran atau gambaran mental untuk menyakiti orang lain, dan menumpahkan kemarahan dengan menyentu, mendorong, menghadang atau memukul.
b) Data skunder
Data sekunder adalah data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data. Data sekunder adalah data-data yang di dapat dari sumber bacaan dan berbagai macam sumber lainnya yang terdiri dari profil sekolah SMAN 7 Mataram.38
d. Teknik pengumpulan data
Untuk mendapatkan kelengkapan informasi yang sesuai dengan fokus penelitian maka yang dijadikan teknik pengumpulan data adalah sebagai berikut:
a. Teknik wawancara (interview)
Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang yang menjadi informan
38Sugiono, metodologi penelitian kualitatif, (Bandung, Alfabeta, 2008), hlm 402
atau responden. Caranya adalah dengan wawancara secara tatapan muka.39 Jadi metode wawancara adalah pengumpulan data yang dilakukan peneliti dengan cara melakukan bercakapan/dialog ( tanya jawab ) dengan nara sumber.
b. Teknik observasi (pengamatan)
Observasi atau pengamatan adalah pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidi.40
Dalam pengertian lain disebutkan bahwa metode observasi atau disebut dengan pengamatan adalah kegiatan permusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh panca indra. Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi participant observation yaitu observasi berperan serta yaitu terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati dan non participant observation yaitu pengamatan yang hanya melakukan satu fungsi.41
Observasi non partisipan yang digunakan peneliti adalah tidak ikut serta dalam kegiatan yang berperan sebagai pengamat. Kalaupun ikut dalam kegiatan itu hanya dalam lingkup yang terbatas sesuai kebutuhan peneliti untuk
39Afifudin dan Beni Ahmad Saebani, “metode penelitian kualitatif” (Bandung CV.Pustaka Setia, 2012), hlm. 131
40Nurboko, Dkk, metode penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm 70.
41Lexy, J. Moleong, metode penelitian kualitatif, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 176
memperoleh data yang benar-benar valid. Teknik ini di pilih peneliti agar lebih fokus dalam melakukan pengamatan pada objek yang sedang diamati sehingga data yang dihasilkan benar-benar valid. Jadi peneliti menggunakan teknik observasi non partisipan yaitu pengamatan yang hanya melakukan satu fungsi yaitu tentang menangani emosi marah melalui pendekatan Rational emotive behaviour therapy.
c. Dokumentasi
Selain metode wawancara dan observasi, peneliti menggunakan metode dokumentasi yaitu sumber data yang digunakan untuk melengkapi penelitian baik berupa sumber tertulis, foto dan gambar yang semuanya guna memberikan informasi bagi proses penelitian.42
Penggunaan metode dokumentasi dalam penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data dengan mencatat data informasi yang bersumber dari dokumentasi resmi SMAN 7 Mataram yang berupa profil sekolah. Dengan ketersediaan data tersebut, maka akan dapat mendukung peneliti menyelesaikan penelitian yang dilaksanakan.
Jadi kesimpulan dalam teknik pengumpulan data ini adalah menggunakan tiga teknik pengumpulan data, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi.
42Imam Gunawan, metode penelitian kualitatif Teori dan Praktik (Jakarta: Bumi Aksara, 2015 ), hlm. 178.
H. Analisis data
Sesuai dengan jenis penelitian di atas, maka peneliti menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman untuk menganalisis data hasil penelitian. Aktivitas dalam analisis data kulitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas,sehingga datanya sudah jenuh. Dalam penelitian ini, data yang akan diperoleh adalah data tentang emosi negatif (marah) serta penangannya melalui pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy pada siswa kelas XI SMAN 7 Mataram.
I. Uji Keabsahan Data
Keabsahan data adalah kegiatan yang dilakukan agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan dari segala sisi. Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif ini meliputi uji validitas internal (credibility), validitas eksternal (transferability),reabilitas (depenadability), dan obyektivitas (confirmability).43
1. Derajat kepercayaan (credibility),
Uji kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif antara lain dilakukan dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan member check.
2. Keteralihan (transferability)
43 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009) hlm
324
Transferability pada penelitian kualitatif berkenaan dengan pertanyaan, hingga dimana penelitian dapat diterapkan atau digunakan dalam situasi lain. Transferability tergantung pada pemakai, manakala hasil penelitian tersebut dapat digunakan dalam konteks dan situasi sosial lain. Oleh karena itu, peneliti harus membuat laporannya dengan uraian yang rinci, jelas, sistematik sehingga dapat dipercaya.
Dengan demikian pembaca menjadi jelas dan memutuskan dapat atau tidaknya hasil penelitian tersebut diaplikasikan ditempat lain.
3. Kebergantungan (dependability),
Uji dependability dilakukan melalui audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Sering terjadi seorngan peneliti tidak melakukan proses penelitian yang sebenarnya tetapipeneliti tersebut dapat memberikan data. Oleh karena itu harus dilakukan diuji dependability. Pengujian dependability biasanya dilakukan oleh tim auditor independen, atau pembimbing untuk mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melaksanakan penelitian. Jika peneliti tidak mempunyai atau tidak mampu menunjukkan aktivitasnya di lapangan maka dependabilitas penelitiannya patut diragukan. Peneliti harus mampu membuktikan bahwa seluruh rangkaian proses penelitian mulai dari menentukan fokus/masalah, memasuki lapangan, mengumpulkan data, menganalisis data, sampai membuat suatu kesimpulan benar-benar dilakukan
4. Kepastian (confirmability).
Uji komfirmability mirip dengan uji dependability sehingga pengujiannya dapat dilakukan secara bersamaan. Uji komfirmability berarti menguji hasil penelitian. Bila hasil penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan, maka penelitian tersebut telah memenuhi standar konfirmabilitynya.44
Teknik pemeriksaan keabsahan data Dalam teknik pemeriksaan data ini terdapat empat kriteria dan sepuluh pemeriksaan, sebagaimana tertera dibawah ini.
1. Perpanjangan Keikut Sertaan
Perpanjangan Keikut Sertaan berarti peneliti tinggal dilapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai. Jika itu dilakukan akan membatasi: pertama, gangguan dari dampak peneliti pada konteks; kedua, membatasi kekeliruan peneliti; ketiga, mengkonpensasikan pengaruh dari kejadian- kejadian yang tidak biasa atau pengaruh sesaat.
2. Ketekunan Pengamatan
Yang dimaksud dengan Ketekunan Pengamatan adalah teknik Pemeriksaan Keabsahan Data berdasarkan “Seberapa tinggi derajat ketekunan peneliti di dalam melakukan kegiatan pengamatan. “Ketekunan” adalah sikap mental yang disertai dengan ketelitian dan keteguhan di dalam melakukan pengamatan
44 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian kualitatif hlm 324-326
untuk memperoleh data penelitian. Adapun “Pengamatan”, merupakan proses yang kompleks, yang tersusun dari proses biologis (mata, telinga) dan psikologis (daya adaptasi yang didukung oleh sifat kritis dan cermat).45
Ketekunan pengamatan dimaksudkan menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Dengan kata lain jika perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman.Sebagai bekal peneliti untuk meningkatkan ketekunan adalah dengan cara membaca berbagai referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti.46
3. Triangualasi
Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.
Triangual dalam pengujian kredibilitas ini di artikan sebagai data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu.
Dengan demikian terdapat triangual sumber, teknik, dan waktu.
45 Kartini, Kartono, Pengantar Metodologi Riset Sosial, (Bandung : Mandar Maju, 1990), hlm 159
46 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Jakarta: CV. Alfabeta,2008), hlm. 125
a. Trianggulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yag diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif, hal tersebut dapat dicapai melalui:
1) Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
2) Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakanya secara pribadi 3) Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang
tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakanya sepanjang waktu
4) Membandingkan keadaan dan prespektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menegah atau tinggi , orang berada , orang pemerintahan
5) Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
b. Trianggulasi degan metode
Yang dimaksud dengan Triangulasi dengan Metode adalah melakukan perbandingan, pengecekan kebenaran dan kesesuaian data penelitian melalui