MENGUATAN SPIRITUAL IDENTITY GENERASI MILENIAL
Kemajuan teknologi membawa dampak signifikan pada kehidupan manusia. Sebagian besar aktivitas kita saa tini memerlukan teknologi. Manusia modern adalah manusia yang tergantung dari teknologi. Teknologi mampu menjadikan aktivitas manusia serba mudah dan cepat. Sebuah mesin dengan teknologi tinggi mampu bekerja setara dengan hasil kerja ribuan manusia.
Di sisi lain, muncul tantangan adanya sikap dan persepsi masyarakat yang berpendapat bahwa teknologi adalah segalanya, teknologi adalah ‘Dewa’.Seolah-olah mereka lupa bahwa kemajuan teknologi merupakan hasil dari pengetahuan yang dikuasai oleh manusia. Dengan kata lain, teknologi hanya pendamping untuk menciptakan beberapa hal.
Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengilustrasikan teknologi hanya sebuah ‘emblem’ dan belum bisa bekerja sesempurna manusia. Manusialah yang sebenarnya menciptakan kreativitas, inovasi dan nilai dari teknologi itu sendiri.
Artinya, bukan berarti dengan adanya system yang mampu bekerja secara cepat dan akurat sampai mengabaikan keberadaan manusia. System sejatinya dibuat oleh manusia dengan tujuan utama untuk membantu pekerjaan manusia, sehingga bagaimanapun, manusia tetap memiliki nilai yang lebih tinggi daripada system yang mereka buat. Tanpa manusia, system tidak akan berjalan dan tidak bermakna.Teknologi bias menjangkau dunia yang lebih luas, namun sangat sangat kecil jika dibandingkan dengan luasnya alams emesta yang diamanahkan kepada manusia.
Berbicara tentang teknologi tidak dapat dipisahkan dengan generasi milenial dan social media. Merekalah yang lahir di era teknologi. Keakraban mereka dengan teknologi sejak lahir, menyebabkan adopsi teknologi berjalan dengan mulus. Revolusi teknologi informasi dan komunikasi membawa kebermanfaatan yang signifikan, namun apabila tidak dikelola dengan baik, akan berbahaya. Mengapa? Karena melalui kecanggihan teknologi, generasi milenial mampu mengakses informasi yang memuat berbagai value. Sementara di lain pihak, kematangan emosionalnya belum cukup mampu memilah dan memilih value- value tersebut. Akibatnya, individu semacam berada di persimpangan jalan.
Dalam situasi kebingungan seperti ini, sangat mungkin mereka akan memilih pada posisi aman tanpa risiko, terutama risiko social. Akibatnya mereka akan mengadopsi beberapa value yang mungkin saling bertentangan demi eksistensi mereka khususnya di social media. Dengan kata lain, mereka mempunyai multy identity yang akan mengakibatkan kehilangan jatidiri. Oleh karena itu, generasi milenial memerlukan value protections atau perlindungan nilai diri.
Generasi muda merupakan asset yang sangat berharga bagi sebuah bangsa. Dengan kemampuan unik pada masing-masing individunya, mereka merupakan bagian dari modal insani yang langka, sulit diperdagangkan, ditiru dan sering dijadikan sebagai dasar mencapai keunggulan kompetitive yang berkelanjutan. Modal intelektual, social, emosional dan spiritual yang ada dalam diri generasi muda harus dimana sedemikian rupa bagi kekuatan bangsa.
Generasi muda mempunyai beberapa tantangan hidup diantaranya adalah pengembangan identitas diri dan penurunan sikap empati. Kesadaran kapan menggunakan teknologi kapan berhenti. Nilai merupakan standard perilaku dalam sebuah masyarakat.
Menerima sebuah nilai berarti menerima sesuatu yang berharga bagi kehidupannya.
Oleh karena itu, diperlukan karakter kuat untuk mampu melihat secara bijak.
Kekuatan karakter lebih berharga dibandingkan dengan kecerdasan otak. Manusia diciptakan untuk mengerti dan member arti pada kehidupan. Manusialah sebagai khalifah fil ard. Peduli dan empati terhadap sesame merupakan kemampuan untuk ‘terhubung’ secara emosional dengan masyarakat.
Selain penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka juga harus mendapat penguatan akhlak. Penurunan empati dan simpati, multi identity dan membuang waktu percuma akan mampu diatasi ketika merekamenya dari tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu untuk beribadah. Dalam Islam, kesejahteraan spiritual adalah kesejahteraan yang diperoleh seseorang karena kedekatannya dengan sang pencipta dan mendambakan kehidupan seperti di surga. Manusia pada dasarnya mendambakan kehidupan baik di dunia dan akhirat.
Oleh karena itu, memiliki kompetensi sesuai dengan jamannya, memiliki karakter yang kuat atas dasar nilai-nilai religi akan membuat nilai diri manusia semakin meningkat.
Menjadikan halal dan haram sebagai tolok ukur dalam perbuatan dan mendapatkan kesuksesan akhirat sebagai tujuan hidup menjadikan generasi milenial menjadi generasi khaira ummah (sebaik baiknya generasi).
Generasi milenial harus siap mengikuti pergerakan revolusi tanpa khawatir akan mengganggu nilai diri. Sikap terbuka untuk selalu melakukan continuous learning. Peka terhadap perubahan lingkungan dan kesiapan untuk membantu masyarakat agar siap menghadapi perubahan menjadi bekal yang harus dituangkan dalam kurikulum.