• Tidak ada hasil yang ditemukan

MENGUKUR TINGKAT PENERIMAAN TEKNOLOGI MOBILE APPS DI KALANGAN MAHASISWA DI

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "MENGUKUR TINGKAT PENERIMAAN TEKNOLOGI MOBILE APPS DI KALANGAN MAHASISWA DI "

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

103

MENGUKUR TINGKAT PENERIMAAN TEKNOLOGI MOBILE APPS DI KALANGAN MAHASISWA DI

YOGYAKARTA

Sisnuhadi

Fakultas Bisnis Universitas Kristen Duta Wacana

Jl. Dr. Wahidin 21, Yogyakarta 55224

[email protected]

ABSTRACT

The purpose of this study is to measure the acceptance of mobile apps technology using Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) in Yogyakarta and its surrounding areas. The study found that constructs such as performance expectancy, effort expectancy, and social influence positively influence behavioral intention. While facilitating conditions and behavioral intention have positive impact on use behavior. This study also validated that UTAUT model can be used to measure the acceptance of mobile apps.

Keywords: UTAUT, technology acceptance, mobile apps

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat penerimaan teknologi mobile apps di Yogyakarta dan sekitarnya dengan menggunakan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konstruk-konstruk kemudahan penggunaan teknologi, kinerja yang diharapkan, dan pengaruh sosial secara positif berpengaruh pada keinginan untuk menggunakan teknologi. Sedangkan fasilitas yang disediakan dan keinginan menggunakan teknologi berpengaruh secara positif pada keputusan untuk menggunakan teknologi. Dari hasil penelitian ini juga memvalidasi bahwa model UTAUT dapat dipergunakan untuk mengukur tingkat penerimaan mobile apps.

Kata kunci: UTAUT, penerimaan teknologi, mobile apps

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi informasi di Indonesia dewasa ini sangat pesat. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melaporkan bahwa pada tahun 2012 penggunaan Internet di perkotaan Indonesia mencapai 24,23% (APJII, 2012). Dari jumlah tersebut, 65% pengguna Internet Indonesia sebagian besar terkoneksi melalui ponsel pintar dan mayoritas pengguna internet berusia 18-25 tahun (APJII, 2012). Pengguna pada kategori usia ini memiliki sifa sangat aktif dalam menggunakan tehnologi digital dan memiliki kecakapan yang cukup baik dalam

mengoperasikan teknologi berbasis internet (APJII, 2014). Data survey APJII tersebut menunjukkan bahwa adopsi pengguna Internet di Indonesia cukup tinggi dan bertumbuh sejalan dengan peningkatan teknologi serta perubahan gaya hidup masyarakat.

Penggunaan internet yang sangat tinggi dan perubahan gaya hidup masyarakat ini diresepon oleh organisasi. Organisasi- organisasi mulai banyak menggunakan program-program berbasis aplikasi untuk mempermudah interaksi antara organisasi tersebut dengan para stakeholdernya.

Apps (applications) atau aplikasi itu sendiri didifinisikan sebagai program khusus

(2)

104

yang dapat di unduh dan diinstalkan ke dalam smartphone. Sedangkan mobil apps menurut Buyens (2001) berasal dari kata application dan mobile. Application (aplikasi) adalah program dibuat untuk mempermudah pengguna mencapai tujuannya. sedangkan mobile berarti mudah berpindah tempat (Purnama, 2010). Oleh karenanya, mobile apps dapat di artikan sebagai sebuah program aplikasi yang mudah digunakan secara berpindah - pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Mobile apps ini dapat di jalankan dengan menggunakan perangkat nirkabel, telepon seluler, PDA, pager, smartphone, dan perangkat sejenisnya.

Beberapa organisasi di Indonesia yang telah menggunakan mobile apps adalah:

1. Retail: Tokopedia mobile apps, bukalapak 2. Jasa Rumah Tangga: sejasa, homejoy, go-

clean, happyFresh, gomaid 3. Penginapan: SirBnB

4. Perbankan: Investree, Modalku, KoinWorks, LendingClub

5. Transportasi: Uber, Grab, Lyft, Task Rabbit, Go-Jek, Blu-Jek

6. Asuransi: Malacca EZ

7. Rekrutmen pegawai: www.urbanhire.com

Di masa depan, mobile apps ini akan semakin banyak digunakan oleh organisasi.

Sementara itu sampai saat ini belum ada penelitian empiris yang secara komprehensif meneliti tentang penerimaan teknologi mobile Apps.

Dewasa ini terdapat banyak teori yang membahas tentang model penerimaan teknologi. Dalam penelitian ini dipergunakan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) dari Venkatesh et al.

(2003) yang telah dimodifikasi. Venkatesh et al. (2003) mengembangkan model UTAUT tersebut berdasarkan pada delapan model penerimaan penggunaan teknologi yang telah dibuat oleh peneliti-peneliti sebelumnya.

Venkatesh et al. (2003) mengembangkan dan memvalidasi UTAUT model untuk mengukur keinginan menggunakan teknologi informasi.

Menurut Venkatesh et al. (2003) penggunaan teknologi (use behavior) dipengaruhi oleh keinginan untuk menggunakan (behavioral intention) dan infrastruktur yang tersedia (facilitating conditions). Sementara itu, keinginan untuk menggunakan teknolgi

(bevahioral intention) diperngaruhi oleh kinerja yang diharapkan (performance expectancy) dari teknologi, kemudahan penggunaan (effort expectancy) teknologi, dan pengaruh sosial (social influence).

Model UTAUT dari Venkatesh et al.

(2003) ini telah dipergunakan untuk meneliti penerimaan teknologi di berbagai bidang, misalnya, penggunaan ICT di organisasi pemerintah di India (Gupta, et al., (2008), Adopsi ICT kesehatan di Thailand (Kijsanayotin et al., 2009); penggunaan m- commerce di Arab Saudi (Alkhunaizan dan Love, 2012) dan pada penggunaan mobilestock trading (Tai and Ku, 2013).

Namun demikian, model UTAUT belum pernah digunakan untuk mengukur tingkat penerimaan teknologi mobile Apps. Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian- penelitian tentant aplikasi UTAUT sebelumnya. Beberapa alasan melakukan replikasi model adalah: menggali penemuan- penemuan baru (Hogarth et al., 1988; Kacmar et al., 1999) atau mengkonfirmasi temuan- temuan sebekumnya (Szajna, 1996; Compeau et al., 1999; Agarwal and Karahanna, 2000).

Oleh karenanya, penelitian ini dilakukan untuk menerapkan model UTAUT di bidang penggunaan mobile apps dan mengiterpretasi- kan hasilnya agar dapat menjustifikasi model UTAUT sebagai instrument untuk penelitian selanjutnya dalam mengukur penggunaan dan penerimaan teknologi.

LITERATURE REVIEW DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) diusulkan oleh Venkatesh et al. (2003). Venkatesh et al.

(2003) mengembangkan UTAUT dengan cara mengintegrasikan delapan model yaitu:

Theory of Reasoned Action (TRA), Technology Acceptance Model (TAM), Motivational Model (MM), Theory of Planned Behavior (TPB), gabungan Theory of Planned Behavior dan Technology Acceptance Model (C-TPB-TAM), Model of PC Utilization (MPCU), Innovation Diffusion Theory (IDT), dan Social Cognitive Theory (SCT). Model UTAUT mengatasi kelemahan-kelemahan yang terdapat pada ke delapan model tersebut (Venkatesh et al., 2003).

(3)

105

Delapan model yang digunakan oleh

Venkatesh et al. (2003) untuk menyusun model UTAUT adalah: Theory of Reasoned Action (TRA), Technology Acceptance Model (TAM), Motivational Model (MM), Theory of Planned Behavior (TPB), Model Combining the Technology Acceptance Model and Theory of Planned Behavior (C-TAM-TPB), Model of PC Utilization (MPCU), Innovation Diffusion Theory (IDT), and Social Cognitive Theory (SCT).

Model UTAUT terdiri dari beberapa dimensi seperti kinerja mobile apps yang diharapkan (performance expectancy), usaha yang diperlukan untuk menggunakan mobile apps (effort expectancy), dan pengaruh sosial

(social influence) yang mempengaruhi keinginan untuk menggunakan mobil apps (behavioral intention). Selanjutnya, behavioral intention dan kondisi yang memfasilitasi penggunaan mobile apps (facilitating conditions) merupakan prediktor dari keputusan untuk menggunakan mobile apps (use behavior). Model UTAUT telah menunjukkan sebagai model yang handal untuk menganalisis perilaku pengadopsian dan penggunaan system (Al-Qeisi, 2009).Gambar 1 menunjukkan model UTAUT.

Performance Expectancy (PE)

Effort

Expectancy (EE)

Behavioral Use

Intension (BI) Behavior (UB) Social

Influence (SI)

Facilitating Conditions (FC)

Gambar 1.

Model UTAUT

Venkatesh et al. (2003), mendifinisikan performance expectancy sebagai tingkat keyakinan individu bahwa jika menggunakan teknologi akan mempermudah pekerjaannya.

Dalam penelitian ini, performance expectancy berkaitan dengan keyakinan pengguna bahwa mobile app mempermudah mereka dalam melakukan aktivitas yang mereka kehendaki sehingga menimbulkan keinginan untuk menggunakan mobile app tersebut.

Beberapa studi terdahulu melaporkan bahwa terdapat hubungan positif antara performance expectancy dan keinginnan menggunakan teknologi. . Gupta, Dasgupta, and Gupta (2008) melaporkan bahwa performance expectancy mempunyai pengaruh positif pada keinginan untuk menggunakan

ICT di organisasi pemerintah di India.

Sedangkan Kijsanayotin et al. (2009) menemukan bahwa kinerja dari teknologi yang diharapkan (performance expectancy) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi adopsi ICT kesehatan di Thailand. Selanjutnya, Alkhunaizan dan Love (2012) menemukan bahwa performance expectancy berpengaruh pada keinginan untuk menggunakan m-commerce di Arab Saudi.

Sementara itu, Tai and Ku (2013) dalam risetnya tentang keiningnan investor untuk mengadopsi mobile stock trading menemukan bahwa performance expectancy secara signifikant berpengaruh pada behavioral intention pada penggunaan mobile stock trading.

(4)

106

Berdasarkan pada hasil temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa performance expectancy mempunyai hubungan dengan keinginan untuk mendopsi mobile app. Oleh karenanya disusun hipotesis sebagai berikut:

H1: Performance Expectancy secara positif dan signifikan berpengaruh pada keinginan untuk menggunakan (behavioral intention) mobile app.

Effort expectancy berhubungan dengan tingkat kemudahan dalam menggunakan system (Venkatesh et al., 2003).

Pengguna tidak memerlukan banyak waktu dan usaha untuk menggunakan system.

Tingkat kemudahan ini akan berpengaruh pada kecendurungan pengguna untuk menggunakan system tersebut.

Banyak studi melaporkan adanya pengaruh signifikan dari effort expectancy terhadap behavioral intention dan pengadopsian teknologi. Wang et al. (2009) melaporkan bahwa effort expectancy secara signifikan berpengaruh pada keinginan individu dalam penggunaan M-Learning.

Sementara Sin et al. (2013) menemukan bahwa effort expectancy mempunyai pengaruh signifikan pada keinginan untuk menggunakan internet marketing di Korea Selatan. Khatimah and Halim (2014) menemukan bahwa effort expectancy berhubungan secara positif pada keinginan untuk menggunakan e-Money di Indonesia.

Berdasarkan diskusi di atas, effort expectancy merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keinginan untuk menggunakan teknologi. Hal ini disebabkan karena mobile apps sangat mudah dipergunakan untuk membantu aktivitas pengguna. Oleh karenanya dpat dibuat hipotesis sebagai berikut:

H2: Effort expectancy secara positif dan sitsignifikan berpengaruh pada keinginan untuk menggunakan (behavioral intention) mobile app.

Pengaruh sosial (social influence) adalah pengaruh orang-orang penting yang menyarankan penggunaan system (Venkatesh et al., 2003). Banyak studi dilakukan untuk menginvestigasi pengaruh sosial (social influence) pada keinginan untuk menggunakan

teknologi. Menurut Alkhunaizan and Love (2012), social influences) secara signifikan berpengaruh pada keinginan untuk menggunakan (behavior intention) e- commerce di Saudi Arabia. Dalam perspektif blogging, social influence secara signifikan berpengaruh pada penggunaan blog. Pengguna blog secara sukarela bergabung pada aktivitas blog karena dipengaruhi oleh aktivitas para pengguna blog yang lain (Hsu dan Lin, 2008).

H3: Social influences secara positif dan signifikan mempengaruhi keinginan untuk menggunakan (behavioral intention) mobile app.

Facilitating conditions adalah tersedianya sarana dan maupun prasarana teknis (PC, laptop, smartphone, jaringan internet, dan teknologi) yang membantu penggunaan program ICT (Venkatesh et al., 2003). Penelitian-penelitian lain menemukan bahwa facilitating conditions berpengaruh langsung pada penggunaan ICT. Seperti misalnya, Sin et al. (2013) melaporkan bahwa facilitating conditions berhubungan dengan penggunaan pemasaran Internet di Malaysia dan Korea. Sementara itu, Yu (2012) menemukan bahwa facilitating conditions berpengaruh pada perilaku individu dalam menggunakan mobile banking. Oleh karenanya disusun hipotesis sebagai berikut:

H4: Facilitating conditions berpengaruh positif pada keputusan untuk menggunakan (behavioral intention) mobile app.

Selanjutnya, menurut Venkatesh et al.

(2003), keinginan untuk menggunakan merupakan prediktor dari keputusan untuk menngunakan suatu teknologi, oleh karena itu, disusun hipotesis sebagai berikut:

H5: Behavioural intention berpengaruh secara langsung pada penggunaan (user behavior) mobile apps.

METODA PENELITIAN Populasi dan Sampel

(5)

107

Obyek penelitian yang akan digunakan dalam

penelitian ini adalah e-commerce yang secara khusus difokuskan pada penggunaan mobile apps. Obyek ini dipilih karena perkembangan penggunaan mobile apps di Indonesia yang cukup tinggi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya yang sudah pernah melakukan transaksi dengan menggunakan mobile apps. Jumlah sampel yang digunakan penelitian ini adalah sebanyak 300 responden.

Pengumpulan Data

Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner yang akan digunakan berisi pertanyaan-pertanyaan tentang dimensi- dimensi yang tergambar dalam model penelitian ini. Rencana penyebaran kuesioner dilakukan langsung ke responden yang masuk kriteria penelitian.

Operasionalisasi Instrumen Penelitian Instrument penelitian mengadopsi instrument yang dikembangkan oleh Venkatesh et al.

(2003). Instrumen ini sudah divalidasi oleh banyak peneliti (Wild et al., 2011;

Attugquayefio and Addo, 2014). Instrumen ini menggunakan skala likert dengan 5 pilihan jawaban (1 untuk sangat tidak setuju sampai dengan 5 untuk sangat setuju).

Pilot-Test

Untuk menentukan validitas dan reliabilitas instrument penelitian, maka diadakan pilot test. . Kuesioner yang akan dijuji validitas dan reliabilitasnya di kelompokkan menjadi enam bagian, yaitu: (1) performance expectancy (PE); (2) effort expectancy (EE); (3) social influence (SI); (4) facilitating conditions (FC);

(5) behavioral intention (BI); and (6) use behavior (UB). Kuesioner diberikan kepada 30 mahasiswa yang pernah menggunakan mobile apps dari beberapa Perguruan Tinggi yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya. Responden untuk pilot test ini dipilih secara acak.

Uji validitas dilakukan dengan cara melihat nilai dari corrected-item total correlation. Nilai corrected-item total correlation yang rendah (<0,30), menunjukkan

bahwa indikator tersebut tidak mengukur konstruk yang dimaksudkan (Hackman et al., 2006; Sundin et al., 2008), sehingga tidak valid dan tidak bisa dipergunakan untuk analisis selanjutnya.

Sedangkan reliabilitas dari pertanyaan diuji dengan Cronbach’s alpha. Reliabilitas menunjuk pada konsistensi internal dari indikator terhadap konstruk (Dunn et al., 1994). Korelasi yang tinggi antar pertanyaan dalam variable yang sama atau Cronbach’s alpha yang besar menunjukkan bahwa indikator tersebut reliabel (Straub et al., 2004). Tingkat Cronbach’s alpha yang diterima adalah 0.7 (Hair et al., 2010;

MacKenzie et al., 2005).

Variabel-variabel UTAUT

Variabel-variabel UTAUT terdiri dari PE, EE, SI, FC, IB dan UB. PE, EE, SI dan FC masing- masing memiliki empat pertayaan sedangkan IB dan UB masing-masing memiliki tiga pertanyaan.

Tabel 1 menyajikan nilai corrected- item total correlation dan nilai Cronbach’s Alpha. Seperti terlihat dalam Table 1 bahwa semua indikator memiliki nilai corrected-item total correlation >0.30 dan nilai Cronbach’s alpha >0.70. Oleh karenanya, semua indikator memenuhi persyaratan validitas dan reliabilitas.

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan alat analisis PLS.

Terdapat dua model pengukuran dalam analisis PLS, yaitu measurement model (outer model) dan structural model (inner model).

Measurement Model (Outer Model)

Measurement model digunakan

untuk menguji apakah konstruk laten

cukup valid dan reliabel. Validitas dan

reliabilitas dari konstruk ditentukan

berdasarkan pada

convergent validity, discriminant validity,

dan

internal consistency reliability

dari konstruk

tersebut.

(6)

108

Tabel 1.

Nilai Corrected-Item Total Correlation dan Nilai Cronbach’s Alpha

Items Corrected-Item Total Cronbach’s Alpha

Correlation

Performance Expectancy (PE) Construct

PE1 0.564 0.726

PE2 0.541 0.764

PE3 0.63 0.714

PE4 0.589 0.811

Effort Expectancy (EE)

EE1 0.508 0.763

EE2 0.496 0.749

EE3 0.561 0.723

EE4 0.443 0.731

Social Influence (SI)

SI1 0.504 0.801

SI2 0.581 0.842

SI3 0.604 0.837

SI4 0.588 0.761

Facilitating Condition (FC)

CF1 0.675 0.74

CF2 0.643 0.822

CF3 0.532 0.844

CF4 0.505 0.783

Behavior Intention (BI)

BI1 0.497 0.734

BI2 0.651 0.785

BI3 0.514 0.827

User Behavior (UB)

UB1 0.433 0.789

UB2 0.556 0.76

UB3 0.649 0.765

Convergent Validity

Table 2 menyajikan loading faktor dari indikator-indikator pada konstruk PE yang meliputi PE1, PE2, PE3, dan PE4; loading faktor dari indikator-indikator pada konstruk EE yang terdiri dari (EE1, EE2, EE3, EE4);

loading faktor dari indikator-indikator pada konstruk SI yang mencakup (SI1, SI2, SI3, dan SI4), loading faktor dari indikator-indikator

pada konstruk FC yang meliputi FC1, FC2, FC3, dan FC4; loading faktor dari indikator- indikator pada konstruk IB yang terdiri dari IB1, IB2, IB3, dan IB4; dan loading faktor dari indikator-indikator pada konstruk truk UB yang meliputi UB1, UB2, UB3, dan UB4. Dari table tersebut terlihat bahwa semua indikator memiliki loading faktor lebih dari 0.70. Dapat diartikan bahwa indikator-indikator tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur.

(7)

109

Tabel 2.

Loading Faktor dari Indikator-indikator

Table 3 menampilkan nilai average variance expected (AVE) dan nilai composite reliability. Dari Table 3 bisa dilihat bahwa semua konstruk memiliki nilai AVEs berada di

atas 0.50 dan nemiliki nilai composite reliability (internal consistency reliability) berada di atas 0.70. Oleh karenanya persyaratan kedua dan ketiga terpenuhi Faktor

Loading P-value PE

PE1 0.765 <0.001

PE2 0.876 <0.001

PE3 0.723 <0.001

PE4 0.812 <0.001

EE

EE1 0.792 <0.001

EE2 0.823 <0.001

EE3 0.754 <0.001

EE4 0.843 <0.001

SI

SI1 0.751 <0.001

SI2 0.785 <0.001

SI3 0.707 <0.001

SI4 0.827 <0.001

FC

FC1 0.791 <0.001

FC2 0.885 <0.001

FC3 0.745 <0.001

FC4 0.843 <0.001

IB

IB1 0.871 <0.001

IB2 0.755 <0.001

IB3 0.845 <0.001

IB4 0.833 <0.001

UB

UB1 0.792 <0.001

UB2 0.895 <0.001

UB3 0.759 <0.001

UB4 0.852 <0.001

(8)

110

Tabel 3.

Average variance extracted (AVE) dan Composite Reliability (CR)

Variabel AVE CR

PE 0.648 0.865

EE 0.653 0.768

SI 0.567 0.895

FC 0.678 0.834

IB 0.785 0.745

UB 0.752 0.812

Discriminant Validity

Tabel 4 menyajikan hasil lengkap tentang

loading faktor dan loading faktor

silang dari indikator-indikator. Dari Tabel 4 terlihat bahwa indikator-indikator memiliki nilai loading faktor yang lebih

besar terhadap konstruk yang diukurnya dibanding dengan nilai loading faktor dari konstruk yang tidak diukurnya. Hal ini menunjukkan bahwa indikator-indikator tersebut mengukur apa yang seharusnya diukur.

Tabel 4.

Indikator Factor Loadings and Cross Loadings

PE EE SI FC IB UB P-Value

PE1 0.765 0.164 0.087 0.159 0.152 0.195 <0.001 PE2 0.876 0.154 0.127 0.105 0.152 0.154 <0.001 PE3 0.723 0.285 0.104 0.222 0.211 0.249 <0.001 PE4 0.812 0.184 0.025 0.042 0.179 0.106 <0.001 EE1 0.249 0.792 0.169 0.141 0.099 0.199 <0.001 EE2 0.14 0.823 0.183 0.211 0.15 0.238 <0.001 EE3 0.236 0.754 0.148 0.131 0.158 0.171 <0.001 EE4 0.153 0.843 0.128 0.156 0.15 0.176 <0.001 SI1 0.248 0.452 0.751 0.172 0.32 0.264 <0.001 SI2 0.154 0.173 0.785 0.181 0.235 0.236 <0.001 SI3 0.078 0.081 0.707 0.284 0.272 0.343 <0.001 SI4 0.089 0.218 0.827 0.267 0.255 0.335 <0.001 FC1 0.083 0.158 0.325 0.791 0.304 0.343 <0.001 FC2 0.1 0.203 0.416 0.885 0.207 0.252 <0.001 FC3 0.186 0.156 0.307 0.745 0.266 0.364 <0.001 FC4 0.151 0.21 0.246 0.843 0.327 0.239 <0.001 IB1 0.065 0.145 0.245 0.446 0.871 0.118 <0.001 IB2 0.124 0.197 0.274 0.285 0.755 0.298 <0.001 IB3 0.215 0.212 0.338 0.304 0.845 0.212 <0.001

(9)

111

Tabel 4. Lanjutan

PE EE SI FC IB UB P-Value

IB4 0.168 0.182 0.293 0.282 0.833 0.32 <0.001 UB1 0.127 0.232 0.276 0.339 0.363 0.792 <0.001 UB2 0.118 0.199 0.278 0.392 0.611 0.895 <0.001 UB3 0.249 0.222 0.269 0.229 0.232 0.759 <0.001 UB4 0.238 0.218 0.338 0.208 0.233 0.852 <0.001

Discriminat validity

Tabel 5 menunjukkan korelasi konstruk laten dan akar kuadrat dari AVE. Dalam tabel terlihat bahwa nilai akar kuadrat dari AVE

lebih tinggi daripada nilai korelasi antar konstruk oleh karenanya, data ini memenuhi syarat dari discriminant validity.

Tabel 5.

Latent Construct Correlation dan Akar Kuadrat dari Average Variance Ectracyed (AVEs)

Note: Square roots of average variances extracted (AVE's) ditunjukkan dalam diagonal.

Model Fit Indices

Hasil model fitness tests beserta nilai P dari model strukturaldisajikan dalam table 6.

Tabel 6

Model Fit Indices dan nilai P

PE EE SI FC IB UB Model

Srtuktural APC 0.276

1)

0.347

1)

0.325

1)

0.839

1)

0.325

1)

0.407

1)

0.536

1)

ARS 0.894

1)

0.978

1)

0.984

1)

0.704

1)

0.984

1)

0.771

1)

0.461

1)

AVIF 1.436

2)

1.384

2)

1.761

2)

1.306

2)

1.791

2)

1.401

2)

2.263

2)

1)Significant at p< 0.001; 2) good at AVIF<5

Dari Table 6 tersebut terlihat bahwa baik APC, ARS maupun AVIF memenuhi

persayaratan yang diperlukan. Hasil ini menunjukkan bahwa model dalam penelitian

PE EE SI FC IB UB

PE 0.787

EE 0.532 0.865

SI 0.136 0.222 0.766

FC 0.322 0.432 0.452 0.854

IB 0.431 0.545 0.241 0.436 0.786

UB 0.134 0.435 0.231 0.321 0.432 0.785

(10)

112

ini memenuhi persyaratan validasi sehingga model SEM dianggap terbebas dari masalah- masalah pengukuran data (Kline, 2005).

Model Struktural

Model struktural mengukur koefien jalur antara konstruk-konstruk exogenous dan endogenous, dan nilai R2 dari konstruk endogenous (Gerbing and Anderson, 1988;

Segars, 1997). Koefisien jalur menunjukkan

kekuatan korelasi antara konstruk (Chin and Gopal, 1995; Gefen et al., 2000). Sementara R2 menunjuikan jumlah konstruk endogenous yang dijelaskan oleh konstruk exogenous (Chin, 1998; Hair et al., 2010). Table 7 adalah model structural yang menunjukkan hubungan antara konstruk, koefisien jalur, dan tigkat signifikansinya.

Table 7 Model Structural

Path Coefficient β P-Value R

2

PE-BI 0.6 <0.01

EE-BI 0.52 <0.01 0.37

SI-BI 0.27 <0.01

FC-UB 0.22 <0.01

BI-UB 0.34 <0.01 0.35

Pada table diatas terlihat bahwa nilai R2 sebesar 0,37 dan 0,35. Hal ini berarti 37%

varian konstruk behavior intention dijelakan oleh kombinasi antara konstruk-konstruk PE, EE, dan social influence, sedangkan sisanya dijelaskan oleh konstruk lain yang tidak termasuk dalam penelitian. Sementara itu, konstruk-konstruk facilitating condition dan behavior intention menjelaskan 35% dari varian use behavior, sisanya dijelaskan oleh konstruk lain di luar konstruk yang di teiti.

PEMBAHASAN

Pada tabel 7 terlihat bahwa performance expectancy secara signifikan mempengaruhi intention behavior pada p-value <0.01 dengan standard β = 0.60. Hasil ini menunjukkan bahwa H1 diterima. Para pengguna mobile apps meyakini bahwa mobile apps memudahkan mereka dalam melakukan usaha- usaha untuk mencapai tujuannya, misalnya memudahkan dalam berbelanja, memesan taksi, memesan makanan atau aktivitas lainnya. Temuan ini konsisten dengan hasil penelitian Venkatesh et al. (2003); Gupta, et

al. (2008); Kijsanayotin et al. (2009);

Alkhunaizan dan Love (2012); Tai and Ku (2013). Alkhunaizan dan Love (2012), misalnya menemukan bahwa performance expectancy berpengaruh pada keinginan untuk menggunakan m-commerce di Arab Saudi.

Sementara itu, Tai and Ku (2013) dalam risetnya tentang keinginan investor untuk mengadopsi mobile stock tradingmelaporkan bahwa performance expectancy secara signifikan berpengaruh pada behavioral intention pada penggunaan mobile stock trading.

Effort expectancy secara signifikan berpengaruh pada behavior intention dengan p-value <0.01 dan standard β = 0.52. Oleh karenanya H2 diterima. Mobile apps sangat mudah dipergunakan sehingga banyak orang berkeinginan menggunakannya. Hasil ini mendukung temuan dari Wang et al. (2009) dan Sin et al. (2013). Wang et al. (2009) melaporkan bahwa effort expectancy secara signifikan berpengaruh pada individual intention dalam penggunaan M Learning.

Sementara Sin et al. (2013) menemukan bahwa effort expectancy mempunyai pengaruh signifikan pada keinginan untuk menggunakan

(11)

113

internet marketing di Korea Selatan. Peneliti

lain, Khatimah dan Halim (2014) menemukan bahwa effort expectancy berhubungan secara positif pada keinginan untuk menggunakan e- Money di Indonesia. Namun Dasgupta et al.

(2007) yang meneliti tentang penerimaan pengguna terhadap Case Tools menemukan bahwa effort expectancy tidak berpengaruh secara signifikan pada behavior intention.

Social influence significantly affects behavior intention at p-value <0.01 with standard β = 0.27. H3 terpenuhi. Lingkungan sosial seperti misalnya, teman kuliah, sahabat, maupun keluarga mempengaruhi keinginan untuk menggunakan Apps. Hasil ini sesuai dengan temuan dari (Venkatesh et al., 2003) yang menyatakan bahwa social influence berpengaruh signifikan pada behavior intention. Menurut Alkhunaizan and Love (2012), social influence secara signifikan berpengaruh pada keinginan untuk menggunakan m-commerce di Saudi Arabia.

Dalam perspektif blogging, social influence secara signifikan berpengaruh pada penggunaan blog. Pengguna blog secara sukarela bergabung pada aktivitas blog karena dipengaruhi oleh aktivitas para pengguna blog yang lain (Hsu dan Lin, 2008).

Facilitating condition secara signifikan mempengaruhiuser behavior dengan p-value

<0.01 dan standard β = 0.22. H4 diterima.

Usaha orgnisasi untuk memberi dukungan faslitas agar mobile apps mudah dan praktis digunakan menyebabkan orang untuk memutuskan menggunakan Apps tersebut.

Hasil ini mendukung temuan dari (Venkatesh et al., 2003). Venkatesh et al. (2003) melaporkan bahwa facilitating condition berpengaruh signifikan pada use behavior. Sin et al. (2013) melaporkan bahwa facilitating condition berhubungan dengan penggunaan pemasaran Internet di Malaysia dan Korea.Sementara itu, Yu (2012) menemukan bahwa facilitating conditions berpengaruh pada perilaku individu dalam menggunakan mobile banking.

Behavior intention

significantly affects user behaviorat p-value <0.01 with standard β = 0.34. Keputusan untuk

menggunakan (UB)

mobile apps dipenga-

ruhi oleh BI, sehingga hipotesis H5 diterima. Keinginan untuk menggunakan

mobile apps berpengaruh pada keputusan

penggunaan

mobile apps. Hasil ini

mendukung temuan dari (Venkatesh

et al.

(2003) dan Sedana dan Wijaya (2010).

SIMPULAN

Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi performance expectancy, effort expectancy, dan social influences akan meningkatkan keinginan menggunakan (behavioral intention) mobile Apps.

Selanjutnya semakin tinggi facilitating conditions dan behavior intention akan meningkatkan penggunaan mobile Apps. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa model UTAUT bisa dipergunakan untuk mengukur tingkat penerimaan mobile Apps di kalangan mahasiswa.

Analisis dengan model UTAUT ini menunjukkan bahwa teknologi yang berupa mobile apps diterima oleh kalangan mahasiswa karena mobile apps sangat mudah dipergunakan. Oleh karenanya perlu bagi organisasi untuk menerapkan mobile apps dalam aktivitasnya. Penelitian ini mengkonfir- masi temuan-temuan sebelumnya dalam hal penerimaan tekonologi bahwa model UTAUT dapat dipergunakan untuk megnukur tingkat penerimaan teknologi.

Responden dari penelitian ini adalah mahasiswa yang pernah menggunakan mobile apps untuk mempermudah aktivitasnya serta yang tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya.

Para mahasiswa tersebut pada umumnya mau belajar dan mudah menerima teknologi baru.

Mobile apps ini pada umumnya disediakan oleh organisasi untuk berbagai kalangan masyarakat. Untuk dapat menjeneralisasi tingkat penerimaan teknologi di masayarakat yang lebih luas, perlu dilakukan penelitian sejenis namun dengan rssponden yang lebih luas.

DAFTAR REFERENSI

Agarwal, Ritu, Karahanna, Elena. 2000. “Time Flies When You’re Having Fun:

Cognitive Absorption and Beliefs about Information Technology Usage”. MIS Quarterly, 24: 665-694.

(12)

114

Alkhunizan, A, and Love, S. 2012. “What drives mobile commerce? An empirical evaluation of the revised UTAUT model”. International Journal of Management and Marketing Academy, 2 (1): 82-99.

Al-Qeisi, K.I. 2009. “Analyzing the Use of UTAUT Model in Explaing an Online Behavior: Internet Banking Adoption (Doctoral Dissertation, Brunnel University)”. http://bura.brunnel.ac.uk/

handle/2438/3620

APJII. 2012. Profil Pengguna Internet Indonesia. Jakarta: Assosiasi Penye- lenggara Jasa Internet Indonesia.

APJII. 2014. Profil Pengguna Internet Indonesia. Jakarta: Assosiasi Penye- lenggara Jasa Internet Indonesia.

Attuquayefio, S.N. and Addo, H. 2014.”Using the UTAUT model to analyze students’

ICT adoption”. International Journal of Education and Development using Information and Communication Technology (IJEDICT). 6 (3): 75-86

Buyens, Jim. 2001. Web Database Development. Elex Media Komputindo.

Jakarta.

Chin, W. W. 1998. “Issues and opinion on structure equation modeling”. MIS Quarterly, 22(1): 123-131.

Chin, W. W. and Gopal, A. 1995. “Adoption intention in GSS: Relative importance of beliefs”. DATA BASE Advances, 26(2/3):42-64.

Compeau, Deborah R., Higgins, Christopher A., Huff, Sid. 1999. “Social Cognitive Theory and Individual Reactions to Computing Technology: A Longitu-dinal Study”. MIS Quarterly, 23: 145-158.

Dasgupta, S., Haddad, M., Weiss, P., dan Bermudez, E. 2007. “User acceptance od case tools in system analisys and design:

an empirical study”. Journal of

Informatics Education Research, 9 (1):

51-78.

Dunn, S. C., Seaker R. F. and Waller, M. A.

1994. “Latent variables in business logistics research: Scale development and validation”. Journal of Business Logistics, 15(2): 145-172.

Gefen, D., Straub, D. W., and Boudreau, M.

2000. “Structural equation modeling and regression: Guidelines for research practice”. Communications of the Association for Information Systems, 4 (7): 1-77.

Gupta, B. and Gupta, A. 2008. “Adoption of ICT in a government organization in a developing country: An empirical study”.

The Journal of Strategic Information System, 17 (2): 140-154.

Hackman, D., Gundergan, S., Wang, P., and Daniel, K. 2006. “ A service perspective on modelling intentions of on-line purchasing”. Journal of Services Marketing, 20 (6/7): 459-470.

Hair, J. F. Jr., Black, W. C., Babin, B. J., Anderson, R. E., and Tatham, R. L. 2010.

Multivariate Data Analysis (7th ed.).

New Jersey: Pearson Education Inc.

Hogarth, Robin M., Makridakis, Spyros. 1988.

“Consider the Principal Finding: A Reply to William T. Ross”. Management Science, 34: 672-673.

Hsu, C-L., and Lin, J. C-C. 2008. “Acceptance of blog usage: The roles of technology acceptance, social influence and knowledge sharing motivation, infor- mation & Management”. 45 (1): 65- 74.(http://www.dictionary.com/browse/ap p). Diakses tanggal 20 April 2016.

Kacmar, Michele K., Bozeman, Dennis P., Carlson, Dawn S., Anthony, William P.

1999. “An Examination of the Perceptions of Organizational Politics Model: Replication and Extension”.

Human Relations, 52: 383-416.

(13)

115

Khatimah, H. and Halim, F. 2014.

“Consumers’ intention to use e-money in Indonesia based on Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT)”. American-Eurasian Journal of Sustanable Agriculture, 8 (12): 34-40.

Kijsanayofin, B., Pannrunothai, S., and Speede, S.M. 2009. “Factors influencing health information technology adoption in Thailand’s community health centers:

Applying the UTAUT model”.

International Journal of Medical Informatics, 78 (6): 404-416.

Kline, R.B.2005. Principles and Practice of Structural Equation Modeling 2nd ed.

The Guilford Press: New York.

MacKenzie, S. B., Podsakoff, P. M. and Jarvis, C. B. 2005. “The problem of measurement model misspecification in behavioral and organizational research and some recommended solutions”.

Journal of Applied Psychology, 90(4):

710-730.

Purnama, R. 2010.Mari Mengenal J2ME Java 2 Micro Edition. Prestasi Pustaka.Jakarta.

Sedana, I.G.N., dan Wijaya, W. 2010.

“UTAUT Model for understanding learning management system”.

Internetworking I ndonesia Journal. 2(2):

27-32.

Sin, Tan, K., Chong, S-C., and Lin, B. 2013.

“Intention to use internet marketing: A comparative study between Malaysians and South Koreans”. Kybernets, 42 (6):

888-905.

Straub, D., Boudreau, M. and Gefen, D. 2004.

“Validation guidelines for IS positivist research”.Communications of AIS, 13:

380-427.

Sundin, L., Hochwälder, J., and Bildt, C. 2008.

“A scale for measuring specific job demands within the health care sector:

Development and psychometric assessment”. International Journal of Nursing Studies, 45(6): 914-923.

Szajna, Bernadette. 1996. “Empirical Evaluation of the Revised Technology Acceptance Model,” Management Science, 42: 85-92.

Tai, Y.,M., and Ku, Y-C. 2013. “Will stocks investors use mobile stock trading? A benefit-risk assessment based on a odified UTAUT model”, Journal of Electronic Commerce Research, 14 (1):67-84.

Venkatesh, V., Morris, M.G., Davis, G.B., and Davis, F.D. 2003. “User acceptance of information technology: Toward a unified view”. MIS Quarterly, 425-478.

Wang, Y.S., Wu, M.C., and Wang, H.Y. 2009.

“Investigating the determinants and age and gender differences in gthe acceptance of mobile learning”. British Journal of Educational Technology, 40 (1): 92-118.

Wild, F., Ullman, T., Scott, P., Rebedea, T.

and Hoisl, B. 2011. “Applicability of the technology acceptance model for widget- based personal learning environments. In:

1st Workshop on Exploring Fitness and Evolvability of Personal Learning Environments (EFEPL’11)”, 30-31 March 2011, La Clusaz, France.

Yu, C.S. 2012. “Factors affecting individuals to adopt mobile banking: Empirical evidence from the UTAUT model”.

Journal of Electronic Commerce Research, 13 (2): 104-121

Referensi

Dokumen terkait

Traditional performance measurement systems are not valid for the measurement of world class manufacturing practices as they are based on outdated traditional cost management