Judul Skripsi: Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Model Pembelajaran Kolaboratif Tipe Make a Match Pada Siswa Kelas V SD Sabbala. Peningkatan hasil belajar Matematika melalui model pembelajaran kolaboratif tipe Make A Match pada siswa Kelas V SD Sabbala. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar matematika dengan membuat model pembelajaran kooperatif tipe matching pada siswa kelas V SD Sabbala.
Dan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tipe make a match (mencari pasangan) dikatakan berhasil jika jumlah siswa yang mencapai standar KKM 70 lebih dari 75. Dan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran make a match dikatakan berhasil apabila jumlah siswa yang mencapai standar KKM 70 lebih dari 75%” telah tercapai.
Latar Belakang
Perhatian terhadap peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode ‘make a match’ juga cukup positif; hal ini terlihat dari banyaknya penelitian yang dilakukan mahasiswa mengenai metode ini, baik pada mata pelajaran matematika maupun mata pelajaran lainnya, Nurlaelah (2014), mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNISMUH Makassar menyelidiki efektivitas pembelajaran matematika melalui pembuatan model kooperatif tipe match. di kalangan siswa kelas VIII SMP Negeri I Tamalate Kabupaten Jeneponto. Selain itu, Arifawati (2014), mahasiswa jurusan pendidikan guru sekolah dasar FKIP Unismuh Makassar, mengemukakan judul peningkatan hasil belajar IPS dengan menciptakan model pembelajaran kooperatif tipe match untuk siswa Kelas V MI Abnaul Amir Kecamatan Moncobalang. Penelitian Nurlaelah (2014) mengamati mata pelajaran matematika dan jenis penelitiannya adalah eksperimen, sedangkan pada penelitian ini hanya akan fokus pada penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat dan jenis penelitiannya adalah tindakan kelas.
Penelitian yang dilakukan oleh Arifawati (2014) dengan topik IPS, dan penelitian ini tentang kemampuan penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat, salah satu materi dalam pembelajaran matematika. Hal inilah yang melatar belakangi penulis melakukan penelitian yang berjudul “Peningkatan hasil belajar matematika melalui model pembelajaran kooperatif tipe make a match pada siswa kelas V SD Sabbala”.
Permasalahan Penelitian 1. Identifikasi Masalah
Pemecah Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Kajian Pustaka
Akibat belajar, perubahan yang terjadi pada diri individu terjadi secara terus menerus dan tidak bersifat statis. Hasil belajar matematika mengacu pada perubahan yang terjadi pada diri siswa setelah mereka melalui proses pembelajaran matematika. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, meliputi tujuan pembelajaran, tahapan kegiatan pembelajaran, lingkungan belajar dan pengelolaan kelas (Arends dalam Trianto, 2017: 51).
Menurut Suyatno (Dhestha Hazilla Aliputri, 2018:72), model make and match adalah model pembelajaran dimana guru menyiapkan kartu yang berisi pertanyaan atau masalah dan menyiapkan kartu jawaban, kemudian siswa mencari pasangan kartu tersebut. Sedangkan menurut Yatim (Wandy), Make a match merupakan model pembelajaran dimana siswa menerima kartu yang berisi pertanyaan dan siswa mencari kartu lain yang berisi jawaban yang sesuai dengan pertanyaan yang diterimanya.
Hasil Penelitian yang Relevan
Siswa yang menemukan pasangannya dipersilahkan satu persatu maju ke depan untuk mempresentasikan hasil yang telah dicapainya. Nurlaelah (2014) mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika FKIP UNISMUH Makassar meneliti efektivitas pembelajaran matematika dengan membuat model kooperatif tipe match pada siswa kelas VIII SMP Negeri I Tamalate Kabupaten Jeneponto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pre-test lebih rendah dibandingkan dengan nilai post-test dan aktivitas siswa berada pada kategori aktif dan sangat aktif ketika digunakan metode make a match, sehingga disimpulkan bahwa make a match menjadi model pembelajaran kooperatif yang efektif digunakan dalam pembelajaran matematika pada materi fungsi untuk siswa kelas VIII SMP Negeri I Tamalate kabupaten Jeneponto.
Sedangkan perbedaannya terletak pada jenis penelitiannya, yaitu pada penelitian Nurlaelah menggunakan eksperimen sedangkan pada penelitian ini berjenis PTK. Arifawati (2014), siswi jurusan pendidikan guru sekolah dasar FKIP Unismuh Makassar mengangkat judul peningkatan hasil belajar IPS dengan membuat model pembelajaran kooperatif tipe matching untuk siswa kelas V MI Abnaul Amir Kecamatan Moncobalang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari 2 siklus, dimana setiap siklus terdiri dari 3 pertemuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar IPS siswa kelas V MI Abnaul Amir Kecamatan Moncobalang. Persamaannya dengan penelitian ini adalah menggunakan model pembelajaran melakukan pencocokan dan jenis penelitian tindakan kelas.
Kerangka Pikir
Hipotesis dalam penelitian ini adalah “jika model pembelajaran kooperatif tipe make a match diterapkan maka hasil belajar matematika siswa kelas V SD Sabbala dapat meningkat”.
Jenis Penelitian
Lokasi dan Subjek Penelitian
Faktor yang diselidiki
Prosedur Penelitian
Siklus I
Rencana aksi yang akan dilaksanakan adalah penyiapan sarana dan prasarana yang diperlukan seperti penyiapan panduan terkait materi pembelajaran, bahan tulisan, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan lain-lain. Pada tahap ini siswa dapat merefleksikan segala sesuatu yang telah diperolehnya dari lembar observasi, kemudian mengevaluasi dan mempelajari perkembangan kemampuan kognitif siswa pada siklus I, dan kedua hasil tersebut kemudian dijadikan acuan bagi peneliti untuk merencanakan perbaikan dan perbaikan pada siklus I. siklus berikutnya (siklus II), sehingga hasil yang dicapai lebih baik dibandingkan siklus sebelumnya (siklus I).
Siklus II
Kegiatan observasi bertujuan untuk mengamati proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran make a match.
Teknik Analisis Data
Indikator Keberhasilan
Hasil Penelitian
Siswa yang mendapat nilai 70 sebanyak 4 orang, 2 orang siswa mendapat nilai 75, 11 orang siswa mendapat nilai 80, dan 8 orang siswa mendapat nilai 85. Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa tidak ada siswa yang mendapat nilai 70. mendapat skor dalam kategori sangat baik. Pada siklus 1 kehadiran siswa cukup baik, walaupun pada pertemuan pertama terdapat 3 orang siswa yang tidak hadir dengan rincian 2 orang sakit dan 1 orang tanpa keterangan, sedangkan pada pertemuan kedua semua siswa dalam proses pembelajaran hadir. .
Namun terdapat 7 siswa yang tidak beranjak dari tempatnya untuk mencari pasangan kartu karena bingung atau karena malas. Pada pertemuan pertama hanya ada 2 siswa yang memberikan respon terhadap pasangan lainnya karena kurang cocok. Selain itu, untuk pasangan yang dinyatakan tidak cocok, hanya 1 siswa yang berani menanyakan alasannya dan satu siswa lainnya.
Pada saat observasi ternyata ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru, cenderung diam atau melakukan aktivitas lain. Selain itu terlihat juga pada saat pengerjaan soal siklus I masih terdapat siswa yang mengajukan pertanyaan. Dari tabel di atas diketahui bahwa pada siklus II tidak ada siswa yang berada di bawah standar KKM 70, sebanyak 1 siswa atau 2,86 persen memperoleh nilai yang memenuhi standar KKM 70.
Dan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran make a match dikatakan berhasil apabila jumlah siswa yang mencapai standar KKM 70 lebih dari 75%. Setelah siswa duduk kembali, peneliti menyapa siswa, menanyakan kabar siswa, memperhatikan jumlah siswa, dan menanyakan alasan siswa tidak hadir di kelas. Pada pertemuan pertama dan kedua siklus II siswa sudah lebih memahami model pembelajaran yang digunakan, sehingga siswa tidak lagi merasa bingung dalam prosesnya.
Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi pada siklus II, permasalahan motivasi dan kepercayaan diri siswa telah teratasi. Rincian kinerja siswa berdasarkan kategori penilaian menunjukkan tidak ada siswa yang mendapat nilai kategori sangat baik. Siswa yang mendapat nilai kategori baik sebanyak 19 orang atau 54,29 persen, siswa yang mendapat nilai kategori cukup sebanyak 6 orang atau 17,14 persen, dan siswa yang mendapat nilai kategori kurang sebanyak 10 orang atau 28,57 persen.
Secara individu, hasil siswa kelas V SD Sabbala masih terdapat 10 siswa atau 28,57 persen yang mendapat nilai di bawah standar KKM 70, dengan rincian 1 siswa mendapat nilai 60, 5 siswa mendapat nilai 65, 3 siswa mendapat nilai 67, dan 1 siswa mendapat nilai 67. dengan nilai 68. Sementara itu, 21 siswa mendapat nilai di atas KKM dengan rincian 2 siswa mendapat nilai 75, 11 siswa mendapat nilai 80 dan 8 siswa mendapat nilai dari 85. Tabel di atas menunjukkan hasil belajar matematika siswa kelas V Sabbala SD pada siklus I secara individu dengan nilai 60 sampai dengan 85.
Perbaikan yang dilakukan memberikan dampak positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa yang mencapai skor rata-rata 85,26 yang berarti meningkat sebesar 9,72 dari skor rata-rata pada siklus I sebesar 75,54. Berdasarkan kategori nilai, terdapat 11 siswa atau 31,43 persen yang mendapat nilai kategori sangat baik, 21 siswa atau 60 persen yang mendapat nilai kategori baik, 3 siswa atau 8,57 persen yang mendapat nilai kategori cukup, dan tidak ada siswa yang mendapat nilai kurang baik. kategori. Secara individu, terdapat 1 siswa atau 2,86 persen yang memperoleh nilai memenuhi standar KKM 70.
Siswa yang memperoleh hasil melebihi standar KKM sebanyak 34 orang atau 97,14 persen, dengan rincian 2 siswa mendapat nilai 75, 3 siswa mendapat nilai 80, 14 siswa mendapat nilai 85, dan 4 siswa mendapat nilai 86, dan 11 siswa mendapat nilai 90. Pada siklus I masih ada 10 siswa atau 28,57 yang belum memenuhi standar KKM, namun pada siklus II sudah tidak ada lagi siswa yang belum memenuhi standar KKM 70. Siswa yang memenuhi standar KKM 70 berjumlah 4 orang. atau 11,43 persen pada siklus I, menurun pada siklus II menjadi 1 siswa atau 2,86 persen.
Kesimpulan
Saran
Penerapan model pembelajaran kolaboratif tipe Make a Match berbantuan kartu bergambar untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Efektivitas pembelajaran matematika melalui model kooperatif tipe make a match pada siswa kelas VIII SMP Negeri I Tamalate kabupaten Jeneponto. Desain model pembelajaran inovatif-progresif: konsep, landasan dan implementasi dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (UTC).
1 Siswa yang hadir saat pembelajaran 2 Siswa berdoa dan memberi salam 3 Perhatian dan respon siswa ketika guru melakukan hal tersebut. 6 Perilaku siswa ketika guru membagi kelompok 7 Perilaku siswa ketika guru membagikan kartu secara berpasangan 8 Perilaku siswa ketika diminta mencari. Rehan Reskyyansy 75 LUAR KKM 7 Ilham Jaya Batara Nur 85 LUAR KKM 8 Muh Al Fahri Gunawan 80 LUAR KKM 9 Muh.
Rehan Reskyyansy 90 LUAR KKM 7 Ilham Jaya Batara Nur 90 LUAR KKM 8 Muh Al Fahri Gunawan 85 LUAR KKM 9 Muh.
Kompetensi inti
Kompetensi dasar dan indikator
Tujuan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran
Siswa yang menemukan pasangannya diajak satu per satu untuk maju ke depan dan membagikan hasil yang telah diperolehnya 9. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati (mendengarkan, mengamati, membaca) dan bertanya berdasarkan rasa ingin tahunya terhadap diri sendiri, makhluk Tuhan dan aktivitasnya, dan benda-benda yang ditemukan di rumah, sekolah dan taman bermain. Menyajikan pengetahuan faktual dengan bahasa yang jelas, sistematis dan logis, dalam karya yang estetis, dalam gerak yang mencerminkan anak yang sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak yang beriman dan berakhlak mulia.
Pemahaman dengan mengaitkan materi dengan kehidupan sehari-hari (misalnya: ketika siswa berbelanja di warung dan mempunyai sisa uang pembelian). Siswa yang menemukan pasangannya dipersilakan satu persatu untuk mempresentasikan hasilnya 13.
Penilaian