Link Blogger : https://menjunjungwanita.blogspot.com/2023/11/menjunjung-wanita.html
MENJUNJUNG WANITA, KARTINI Oleh Kirani Sisca Damayanti
Bertahun tahun yang lalu, perempuan ditempatkan pada status sosial yang rendah.
Kita tahu karena sejarah menulis dengan jelas. Hal itu tentu sesuatu yang tidak adil bagi kaum wanita. Keberadaan mereka tidak bebas, impian dan angan angan pupus dimasa itu. Masyarakat mengangap bahwa kehidupan wanita hanya seputar pernikahan, rumah tangga dan memiliki keturunan.
Hingga beliau yang bernama Raden Ayu Kartini hadir di mata masyarakat, beliau dianggap sebagai pahlawan para wanita dimasanya hingga sekarang tentunya. Kartini yang lahir dalam kategori bangsawan jawa tentu saja menyadari hal tidak adil itu, meski beliau keturunan terpandang hal hal menyudutkan kaum wanita jelas juga dia alami. Seperti pingitan yang membuat kebebasannya kandas diusia yang baru menginjak 12 tahun. Dilihat dari pingitan itu, kita tahu apa yang menjadi kendala kaum wanita, apa itu? Adat istiadat yang begitu kental dimasyarakat tentunya. Masa masa itu, menempuh pendidikan tinggi hanyalah angan angan bagi wanita. Dan kata “mengapa sekolah tingi tinggi kalo akhirnya di dapur” adalah kata legendaris yang sudah tidak bisa disanggah para kaum wanita pada masa itu, ya karena hal itu memang benar adanya. Bahkan mereka yang berkedudukan sebagai bangsawan jawa juga menyetujui hal itu. Tak kaget jika kita melihat para anak gadis dengan umur masih belasan sudah menggendong anak pada masa itu. Salah satu hal yang menyakiti hati wanita, menikah diusia muda dan diwajibkan menerima pasangan yang dicarikan pihak orang tua. Hal hal seperti itu lah yang membuat Kartini resah, karena masa seperti itu, masa menikah dengan paksaan dan alasan hanya untuk menjunjung tinggi derajat keluarga beserta namanya adalah hal yang lumrah dan tak terbantahan. Entah pria itu sudah memiliki lebih dari satu istri, asal meninggikan derajat tentu tidak apa apa, bagi keluarga bangsawan. Kartini yang biasa dipanggilan Trinil, diapun tumbuh menjadi seorang wanita tangguh berego tinggi dengan pemikiran pemikiran luas. Pemikiran itu membuatnya menghasut sang adik untuk berfikir selayaknya dirinya. Masa rendahnya rendahnya derajat wanita membuat hasutan itu terpengaruh, bukti bukti terpampang nyata didepan mata. Bahkan salah satu adiknya besumpah untuk tidak menikah, Kartini sebagai saksi dari ucapan itu.
Kartini, dia sadar akan semua hal itu dan dia harus memulai tindakan untuk mengehentikan ketidak adilan kaum wanita. Dengan tekat bulan dan kekeras kepalaannya. Dia mencoba menjunjung martabat para wanita. Berawal dari dirinya yang mengembangkan hobi
yang dia miliki berupa membaca dan menulis, semua itu semakin membuatnya bertekat kala dia membaca buku yang menceritakan kemajuannya pemikiran perempuan bangsa Eropa.
Beserta keikut sertaan teman Belandanya untuk mengembangkan hobi yang bertekat dia kembangkan. Namun semua itu masih kurang karena Kartini percaya kalau pendidikan yang kuat juga menjadi salah satu pelopor tujuannya, hingga membangun sekolah wanita untuk mengajarkan para kaum wanita belajar. Itu adalah awal dia untuk merubah masa masa rendahnya status sosial wanita yang mengekang impian impian miliknya beserta para wanita lainnya. Karena hobi yang dia kembangkan itu, perhatiannya tidak hanya semata mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Dan disini pula dukungan dari teman teman korespondensi dari Belanda juga ada, gagasan dari mereka semakin membuat Kartini percaya bahwa kaum wanita dapat mendapatkan haknya. Kartini begitu mencintai ayahnya, namun cinta itu menjadi kendala bagi cita cita dan impiannya. Kartini yang menginginkan beasiswa ke Belanda, bahkan niatnya untuk menjadi guru di Betawi pun pupus. Niatan yang sudah didepan mata benar benar harus pupu. Karena tekanan akibat banyak yang menolak keinginan Kartini itu membuat sang ayah jatuh sakit. Dan hal itu bertepatan dengan pinangan seorang bupati dari Rembang. Dalam sebuah surat dia berkata “singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya akan kawin” kirimnya kepada temannya.
Kartini menikah, iya dia menikah. Semua itu jelas karena paksanan. Jikalau pinangan itu tidak datang cepat, mungkin Kartini sudah pergi dengan Beasiswa yang dia ajukan untuk belajar di Belanda. Namun karena pengumuman tak kunjung datang beserta desakan desakan yang ada. Kartini rela dinikahkan dengan pria yang sudah beristri semua itu agar merubah dirinya menjadi Raden Ayu, Kartini tak menginginkan hal itu, melainkan keluarga bangsawannyalah.. Dia menikah karena rasa hormat dan cinta kepada ayahnya. Meski begtu Kartini tidak akan menyetujui hal itu dengan mudah. Dia mencoba berkompromi dengan sejumlah syarat. Dan syarat syarat itu disetujui. Kartinipun akhirnya menikah dengan Raden Aden Djojoadiningrat, bupati Rembang yang memiliki istri dan tiga orang selir serta tuju anak.
Upaya Kartini tidak sampai disitu, di rembang ia tetap membangun sekolah bagi wanita.
suaminya mendukung ia melanjutkan cita citanya memajukan pendidikan bagi perempuan.
Kisah itu begitu mengecewakan hatinya, batinnya terluka karena dia menjadi salah satu dari para wanita yang ingin dia tolong. Meski begitu, setidaknya dia telah berusaha, dan mulai menyadarkan beberapa pihak bahwa wanita juga memiliki hak. Disini adat, adat adalah hal yang membuat semua jalan untuk memerdekakan wanita terhambat. Adat hanya memikirkan
derajat tanpa tahu bahwa hal itu menyakiti batin yang dimiliki wanita, meski begitunkita juga tidak bisa menyalahkan adat. Tanpa adanya adat mungkin kita akan hidup tanpa kendali. Dan dalam perjuangan Kartini ini memiliki tujuan agar kaumnya lebih mampu menjalankan kewajiban dan tidak membuat kaum wanita sebagai saingan dari kaum pria. Dia mendorong wanita untuk meraih kebebasan dengan tidak meninggalkan kewajiban kewajiban sebagai wanita.
Dan kini kehidupan kaum wanita jadi lebih baik. Mereka dapat menentukan pemikiran masing masing, meraih cita ciita dan angan angan. Wanita sudah memiliki kesempatan untuk berperan hidup di kehidupan, tidak ada perbedaan gender, deskriminas dan sikap pembedaan lainnnya, walaupun disisi yang lain wanita terus menjadi korban ketidakadilan dan perlakuan salah lainnya. Wanita memiliki peluang serta hak yang sama dengan pria untuk berastisipasi di beragai sektor kehidupan untuk bersama sama membangun negara.