Merunut sebuah frasa yang ku temukan di Twitter, perempuan itu pasti memiliki salah satu atau lebih dari ‘Tiga B’. Bisexual, bitch, atau BPD (Borderline Personality Disorder). Awalnya saat membacanya untuk pertama kali aku terkikik, mengapa orang-orang bisa membuat sesuatu yang tampak bodoh namun setelah dipikirkan ulang, hal itu ada benarnya juga. Lantas, setelah membaca
‘Tiga B’, di manakah lingkaran ku berada?
Kalau B yang pertama, Bisexual. Ya, kita lewatkan saja lah, orientasi seksual kan termasuk ranah pribadi. Beralih pada B kedua, bitch, sepeertinya kata kasar itu tidak bisa menjadi label pada kepribadian ku. Tampaknya kata yang seharusnya disensor itu sangat memiliki stigma negatif di kalangan publik. Tara, kita langsung saja beralih pada yang terakhir. Borderline Personality Disorder.
Setelah dua tahun terakhir hanya mendapatkan diagnosis ambang dari psikiater daring bahwa aku kemungkinan besar mengalami permasalahan pribadi tersebut, pada tanggal 9 Juni 2023 lalu aku secara resmi mendapat gelar sebagai penderita Emotional Unstable Personality Disorder (EUPD) atau Borderline Personality Disorder (BPD) oleh dokter spesialis kejiwaan di RSND (warga Undip pasti pahan RSND itu di mana).
Gejala awal? Entah, sampai sekarang aku menganggap bahwa semuanya berawal sejak empat tahun yang lalu, awal 2019. Perubahan mood yang terlalu drastis, memiliki ketakutan yang berlebih pada setiap pengabaian, hingga berkenalan dengan koping mekanisme yang paling buruk di muka bumi ini, melukai diri sendiri. Semuanya terus berjalan hingga saat ini, kecuali opsi yang terakhir. Aku mulai jarang melakukannya karena ku pikir hal tersebut sudah tidak cukup mengatasi hal tidak menyenangkan dalam pikiran ku.
Waktu pertama kalinya aku berhadapan dengan dokter yang menghabiskan kurang lebih 30 menit di dalam ruangan yang hanya tersedia bangku dan meja, serta membaca diagnosis yang sudah ditetapkan. Aku sedikit menyengir, oh aku ternyata benar-benar memiliki masalah dengan kepribadian. Karena ku pikir segala hal yang berkaitan dengan mood dan takut diabaikan itu dialami semua orang. Dokter hanya memberiku dua obat yang akan dicoba hingga sebulan ke depan. Mood stabilizer dan obat penenang (yang saat ini membuatku seperti orang mengambang karena sulit untuk membuat ku bersedih secara rutin).
Bagiku, diagnosis yang sudah ditetapkan tersebut membuat ku mulai menyambungkan seluruh benang merah yang ku alami sedari dulu. Perubahan mood seperti dari senang yang terlalu bahagia hingga ke sedih yang berlarut dapat terjadi dalam hitungan hari bahkan jam. Aku kesulitan memiliki hubungan yang stabil baik dalam pertemanan maupun romansa karena ketidakstabilan emosi yang ada. Serta cara memandang diri dan beberapa hal yang sangat buruk, overthinking bahkan sudah menjadi teman baik.
Yah, meski aku tahu penyakit tersebut tidak bisa disembuhkan seumur hidup. Setidaknya mulai saat ini aku berusaha untuk memandang dan menyadari bahwa aku tidak sendirian, masih banyak BPD
fighter yang mungkin mengalami pengalaman jauh lebih buruk dari ku dan harus tetap menjalani hidup sampai waktunya nanti.
Lantas apa tujuanku menulis ini? Tidak ada, hanya aku yang ingin bercerita bahwa penyakit mental itu memang ada dan harus ditolong. Terima kasih dan stay healthy!