• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penanggulangan Kejahatan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Metode Penanggulangan Kejahatan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Metode Penanggulangan Kejahatan

E.H. Sutherland dan Cressey, menyatakan bahwa dalam crime prevention dalam pelaksanaanya ada dua metode yg dipakai untuk mengurangi frekuensi dari kejahatan, diantaranya :

1. Metode untuk mengurangi penanggulangan dari kejahatan, yaitu : suatu cara yg ditujukan kepada pengurangan jumlah residivis (pengulangan kejahatan) dengan suatu pembinaan yg dilakukan secara konseptual.

2. Metode untuk mencegah the first crime, yaitu : suatu cara yg ditujukan untuk mencegah terjadinya kejahatan yg pertama kali (the first crime) yg akan dilakukan oleh seseorang dan metode ini dikenal metode prevention (preventif).

Bahwa upaya penanggulangan kejahatan mencakup aktivitas preventif dan sekaligus berupaya unutk memperbaiki prilaku seseorang yg teah dinyatakan bersalah (sebagai seorang narapidana) di Lembaga Pemasyarakatan. Jadi, upaya penanggulangan kejahatan dapat dilakukan secara preventif dan represif.

(2)

1. Upaya preventif

Penanggulangan kejahatan untuk mencegah terjadinya atau timbulnya kejahatan yg pertama kali. Mencegah kejahatan lebih baik daripada mencoba untuk mendidik penjahat menjadi lebih baik kembali, sebagaimana semboyan dalam kriminologi yaitu usaha usaha memperbaiki penjahat perlu diperhatikan dan diarahkan agar tidak terjadi lagi kejahatan ulangan.

Jadi upaya preventif ini sangat diutamakan, karnea upyaya ini dapat dilakukan siapa saja tanpa suatu keahlian khsusus dan bernilai ekonomis.

Menurut Barnest dan Teeters disadur oleh Romli Atmasasmita, ada beberapa cara untuk menanggulangi kejahatan, yaitu :

2. Menyadari bahwa akan adanya kebutuhan-kebutuhan untuk mengembangkan dorongan-dorongan sosial dan tekanan ekonomi yg dapat mempengaruhi tingkah laku seseorang ke arah perbuatan jahat.

3. Memusatkan perhatian kepada individu-individu yg menunjukkan potensialitas kriminal atau sosial, sekalipun potensialitas tersebut disebabkan oleh gangguan-gangguan

(3)

biologis dan psikologi atau kurang mendapat kesempatan sosial ekonomis yg cukup baik sehingga dapat merupakan suatu kesatuan yg harmonis.

Jadi upaya preventif itu adalah bagaimana kita melakukan suatu usaha yg positif atau baik dan bagaimana caranya kita menciptakan suatu kondisi seperti keadaan ekonomi, lingkungan, kultur masyarakat yg menjadi suatu daya dinamika dalam pembangunan dan bukan sebaliknya.

2.Upaya Represif

Suatu upaya penanggulangan kejahatan secara konsepsional yg ditempuh setelah terjadinya kejahatan. Penanggulangan dengan upaya ini, ditujukan unutk menindak para pelaku kejahatan sesuai dengna perbuatannya serta memperbaikinya kembali, agar pelaku kejahatan sadar bahwa perbuatan yg dilakukannya merupakan perbuatan yg melanggar hukum dan merugikan masyarakat, sehingga tidak akan mengulanginya dan orang lain juga tidak akan melakukannya mengingat sanksi atau hukuman yg akan diterima berat.

(4)

Upaya represif dalam pelaksanaannya dilakukan dengan metode perlakuan (treatment) dan penghukuman (punishment).

1. Perlakuan (treatment) : perlakuan ini menitikberatkan pada berbagai kemungkinan dan bermacam-macam bentuk perlakuan terhadap pelanggar hukum sesuai dengan akibat yg ditimbulkannya.

Perlakuan berdasarkan penerapan hukum dari segi jenjang berat dan ringannya suatu perlakuan adalah :

a. Perlakuan yg tidak menerapkan sanksi-sanksi pidana, artinya perlakuan yg paling ringan diberikan kpada orang yg belum terlanjur melakukan kejahatan. Dalam perlakuan ini, suatu penyimpangan dianggap belum begitu berbahaya sebagai usaha pencegahan.

b. Perlakuan dengna sanksi-sanksi pidana secara tidak langsung, artinya tidak berdasarkan putusan yg menyatakan suatu hukum terhadap si pelaku kehajatan.

(5)

2. Penghukuman (punishment)

Jika ada pelanggar hukum yg tidak memungkinkan untuk diberikan perlakuan (treatment), mungkin karena kronisnya atau terlalu beratnya kesalahan yg telah dilakukan, maka perlu diberikan penghukuman yg sesuai dengan perundang-undangan dalam hukum pidana.

Maka, diberlakukan sistem penghukuman yakni penghukuman dengan sistem pemasyarakatan (dahulu dikatakan dengan sistem kepenjaraan) terhadap para pelanggar hukum adalah hukuman yg semaksimal mungkin (bukan pemabalasan) dengan berorientasi pada pembinaan dan perbaikan pelaku kejahatan.

Seiring dengan tujuan dari pidana penjara, Sahardjo mengatakan seperti yg dikutip oleh abdulsyani, yaitu : tujuan dari pemasyarakatan yg mengandung makna bahwa tidak hanya masyarakat yg diayomi terhadap diulanginya perbuatan jahat leh terpidana, tetapi juga orang-orang yg menurut sahardjo telah tersesat diayomi oleh pohon beringin dan diberikan bekal hidup sehingga menjadi kaula yg bermanfaat didalam masyarakat Indonesia.

(6)

Sistem pemasyarakatan tersebut bukan hanya sekedar menjalani penghukuman dipemasyakaratan tersebut, tetapi para narapidana dididik, dilatih dan dibina untuk sebuah keterampilan, kelak keterampilan tersebut bisa digunakan setelah narapidana tersebut selesai menjalani masa hukumannya dan bisa diterima kembali oleh masyarakat.

Referensi

Dokumen terkait

In the case of Chinese ESL learners’ undergraduates in Malaysia who may have inconsistent pragmatic competence, identifying the request strategies, level of directness and request

KEPUTUSAN SENAT AKADEMIK INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG Nomor : 31/SK/K01-SA/2005 TENTANG PENETAPAN KEMBALI PIMPINAN DAN ANGGOTA KOMISI-KOMISI SENAT AKADEMIK INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG