Nama: Agustinus Martin Samuel NIM : 210102023
TugaS: Metodologi Penelitian Teologi Praktis
Judul : Peran Wali Batis
Tema yang dibahas : Pemahaman Wali Baptis Tentang Peran dan Tanggung Jawab Mereka Bagi Perkembangan Iman Anak Serta Pelaksanaannya Di Paroki Santo Yoseph Mataraman
Kata kunci : Baptis, Wai baptis
Tempat Penelitian : Paroki ST. Yoseph, Matraman Narasumber : Umat Paroki Matraman
Latar Belakang
Dalam tradisi Gereja Katolik, sebelum seorang diakui sebagai warga gereja, dia harus menerima sakramen baptis terlebih dahulu. Sakramen baptis merupakan salah satu dari ketujuh sakramen dalam Gereja Katolik. Seseorang tidak bisa menerima keenam sakramen lainya jika dia belum menerima sakramen baptis. Karena sakramen baptis mejadi sakramen paling awal dan paling dasar untuk membuka jalan menuju sakramen yang lainnya.
Dalam ajaran Gereja Katolik sakramen baptis dapat diartikan sebagai bebasnya seseorang dari dosa asal, yaitu dosa Adam dan Hawa. Orang yang telah dibaptis itu telah memperoleh pengampunan seluruh dosanya, telah dibersihkan dari pengaruh si jahat.1 Hal ini telah ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 1213) “Oleh Pembaptisan kita dibebaskan dari dosa dan dilahirkan kembali sebagai putra-putri Allah; kita menjadi anggota- anggota Kristus, dan ikut serta dalam perutusannya.”2 Ini juga dapat diartikan bahwa seseorang telah sepenuhnya menerima Yesus sebagai sang penebus dan percaya bahwa dirinya akan diselamatkan melalui Yesus Kristus. Kehadiran Tuhan Yesus sebagai Sabda yang hidup pada diri orang yang dibaptis. Sabda ini yang akan mengubah hidup manusia supaya semakin bersatu dan serupa dengan hidup Allah sendiri.3
Kebiasaan dalam tradisi Gereja ketika seseorang akan dibaptis mereka harus memberi wali baptis kepada orang atau anak yang akan dibaptis. Calon baptis diwajibkan memiliki wali baptis sebelum dirinya dibaptis dalam Gereja Katolik. Wali baptis ini menjadi penting
1Aloysius Budyapranata, Pr, Menghayati Misteri Kehadiran Tuhan dalam Sakramen-Sakramen, Yogyakarta:
Yayasan Pustaka Nusantara, 2012, hlm. 48.
2Katekismus Gereja Katolik, art. 1213 (terj. Keuskupan Regio Nusa Tenggara, Ende: Nusa Indah, 2014).
3Aloysius Budyapranata, Pr, Menghayati Misteri Kehadiran Tuhan dalam Sakramen-Sakramen, hlm. 48.
dan diwajibkan bahkan harus mempunyai karakter religius. Wali baptis bertugas untuk mendampingi anak baptis baik sebelum, pada saat, maupun setelah menerima sakramen baptis. Wali baptis harus bertanggung jawab atas janjinya bahwa mereka sanggup menjalankan tugas dalam memelihara dan mengembangkan iman anak baptis sesuai dengan iman kristiani. Janji wali baptis ini biasanya disimbolkan dengan penyerahan lilin.
Dalam beberapa dokumen Gereja Katolik telah dinyatakan bahwa wali baptis sangat dibutuhkan dalam perkembangan anak baptis. Kitab Hukum Kanonik (KHK, Kan. 872) menyatakan kehadiran wali baptis dan peranan mereka dalam sakramen baptis yakni membantu pengembangan iman anak baptisnya
Calon baptis sedapat mungkin diberi bapak/ibu baptis, yang berkewajiban mendampingi calon baptis dewasa dalam inisiasi Kristiani, dan bersama orang tua mengajukan calon baptis bayi untuk dibaptis, dan juga wajib berusaha agar yang dibaptis menghayati hidup Kristiani yang sesuai dengan baptisannya dan memenuhi dengan setia kewajiban-kewajiban yang melekat pada baptisan itu.4
Selain Kitab Hukum Kanonik, dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 1255) juga menggarisbawahi betapa pentingnya peranan wali baptis:
Supaya rahmat Pembaptisan dapat berkembang, bantuan orang-tua sangat penting. Juga bapa dan ibu wali harus turut bertanggung jawab. Mereka harus menjadi orang Kristen yang baik, yang mampu dan siap mendampingi anak dan orang dewasa yang baru dibaptis pada jalan kehidupan Kristen. Tugas mereka adalah jabatan gerejani yang sebenarnya. Seluruh persekutuan Gereja ikut bertanggung jawab untuk pengembangan dan perlindungan rahmat Pembaptisan.5
KHK dan KGK, melihat bahwa peran dan tanggung jawab wali baptis sangat penting karena itu mereka sangat dibutuhkan dalam membimbing dal proses perkembangan iman anak baptis baik sebelum dibaptis , pada saat upacara baptis, dan setelah penerimaan sakramen baptisan. Oleh karena itu, wali baptis dibutuhkan tidak hanya saat upacara pembaptisan saja, tetapi juga bertanggung jawab atas perkembangan iman anak baptisnya, mendampingi terus sampai akhirnya anak baptis dapat hidup secara kristiani dan setia melaksanakan kewajiban-kewajibannya yang sesuai dengan baptisan yang telah diterimanya.
Berdasarkan pengalaman dan keprihatinan penulis bahwa wali baptis kurang memiliki pemahaman yang benar mengenai peran, tugas, dan tanggung jawabnya. Selama ini wali 4Kitab Hukum Kanonik, kan. 872, dalam Kitab Hukum Kanonik (Jakarta: Konferensi Wali Gereja Indonesia, 2019), hlm. 265.
5 KGK, kan. 1255, §2.
baptis belum melaksanakan peran dan tugas mereka secra sadar dan kesadaran, mereka menjadi wali baptis hanya sebgai formalitas saja. Kehadiran mereka hanya sebatas memenuhi persyaratan liturgis pembaptisan. Banyak wali baptis yang hanya hadir pada saat penerimaan upacara liturgi sakramen pembaptisan saja dan melaksanakan tugasnya hanya sebagai formalitas belaka. Setelah itu mereka lepas dari tanggung jawab untuk mendidik dan membina iman anak baptis mereka.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Agustina Mayang dan Wilfridus Samdirgawijaya mengenai peran dan tugas wali baptis menyimpulkan bahwa pemahaman umat tentang peran dan tugas wali baptis yang hanya bersifat formal-seremonial ini termasuk dalam kategori pemahaman instrumental karena umat memahami peran dan tugas wali baptis hanya pada satu bagian saja yaitu pada saat upacara pembaptisan.6 Jadi, mereka sebagai wali baptis tidak memahami dan bahkan tidak melaksanakan peran mereka sebelum upacara pembaptisan dan setelah pembaptisan. Yang mereka hanya ketahui bahwa mereka hadir saat upacara pembaptisan sehingga kelihatan bahwa mereka hadir sebagai formalitas belaka saja.
Penelitian yang dilakukan oleh Agustina Mayang dan Wilfridus Samdirgawijaya ini hanya sebatas mengetahui tentang pemahaman wali baptis terkait peran dan tanggung jawab mereka dalam mendidik iman anak baptisnya. Mereka tidak sampai pada soal pelaksanaan konkrit dari peran dan tugas wali baptis dalam kehidupan sehari-hari anak baptis mereka.
Lantas yang menjadi masalah bagi penulis sehingga tertarik untuk meneliti terkait hal ini adalah soal bagaimana pelaksanaannya dalam kehidupan setelah anak dibaptis dibaptis dalam Gereja Katolik apakah wali baptis sudah menjalani tugas mereka dalam mendidik dan mengembangkan iman anak baptis mereka hingga sampai anak tersebut mencapai kedewasaan iman yang baik?
Selain wali baptis, orang tua juga memiliki peranan yang sangat penting bagi perkembangan iman seorang anak. Hal ini juga sangat jelas di tegaskan dalam dokumen- dokumen Gereja Katolik. Dalam KHK misalnya ditegaskan bahwa "Orang tua dan juga para pengganti mereka terikat kewajiban dan berhak mendidik anaknya; para orangtua katolik mempunyai tugas dan juga hak untuk memilih sarana dan lembaga yang menyelenggarakan pendidikan katolik untuk anak-anak mereka dengan lebih baik, sesuai dengan keadaan setempat” (Kan. 793).7 Dengan demikian orang tua hendaknya menjadi mentor dan teladan yang baik bagi anaknya agar anak mereka dapat hidup dengan baik sesuai
6Agustina Mayang, Wilfridus Samdirgawijaya, “Peran dan Tugas Wali Baptis Hati Kudus Laham” Gaudium Vestrum: Jurnal Kateketik Pastoral, Vol. 2, no. 1, Juni 2018, hlm. 32.
7KHK, kan. 793, §1, hlm.243.
dengan ajaran Katolik.
Penelitian lain oleh Hilario D. N. N. Silpanus dengan judul "Keluarga Menjadi Tempat Pertama dan Utama Pendidikan Iman Anak" ditemukan bahwa orangtua turut memperhatikan iman anak mereka dalam keluarga yakni dengan cara mengajarkan pendidikan iman seperti doa bersama, doa pribadi, membaca kitab suci, mengikuti ibadat dan perayaan ekaristi. Selain itu, orangtua juga turut mendampingi anak-anak mereka dalam mengikuti kegiatan Bina Iman di gereja. Keluarga dalam hal ini orangtua juga mengajarkan anak tentang pendidikan sosial terkait bagaimana bertingkah laku yang sopan, saling mengasihi sesama saudara, menyapa, menjalin persahabatan, jujur, sabar dan bersikap adil.8 Lantas pertanyaan yang muncul terkait hal ini adalah bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga apakah orang tua benar-benar menjalankan tugas mereka dalam mendidik anak mereka sesuai dengan ajaran Gereja Katolik?
Orangtua adalah orang-orang pertama yang bertanggung jawab atas pendidikan anaknya, memiliki peran penting terutama dalam mendidik serta membina iman anak.
Tugas dan tanggung jawab tersebut tidak dapat diambil-alih dan digantikan, karena itu tidak dapat diserahkan sepenuhnya dan direbut oleh orang lain.9 Dengan menjalankan tugas sebagai pendidik, para orang tua, melalui kesaksian hidup mereka, menjadi duta Injil atau saksi Injil yang pertama bagi anak-anak mereka.10 Akan tetapi bahkan dari sisi orangtua, mereka juga hanya berfokus dan mengharapkan pada pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga, yakni sekolah pada umumnya. Padahal anak-anak sedapat mungkin perlu untuk mendapatkan pendidikan imannya melalui kedua orangtuanya.11
Dari kedua penelitian di atas kita bisa melihat bahwa selama ini wali baptis maupun orang tua kurang memahami peran dan tanggung jawabnya mereka dalam mendidik iman anak. Maka penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian terkait persoalan ini, hanya saja peneliti memberikan batasan masalah yang akan diteliti, yaitu berkaitan dengan peran dan tanggung jawab wali baptis terutama dalam hal penerapannya dalam kehidupan nyata anak baptis mereka. Karena penulis melihat bahwa para wali baptis dalam melaksanakan tugas dan peran mereka selama ini belum merupakan suatu kesadaran. Mereka hanya hadir untuk memenuhi persyaratan liturgis saja. Penulis merasa bahwa pemahaman seperti ini 8Hilario D. N. N. Silpanus, "Keluarga Menjadi Tempat Pertama dan Utama Pendidikan Iman Anak" Gaudium Vestrum: Jurnal Kateketik Pastoral, Vol. 2, No. 1, Juni 2018, hlm. 18.
9Rosalina Serly Irim, "Tanggung Jawab Orangtua Katolik dalam Pendidikan Iman Anak di Stasi Santo Yosef Kampung Baru" "Gaudium Vestrum: Jurnal Kateketik Pastoral" Vol. 7, No. 1, Januari-Juni 2023, hlm. 27.
10Hilario D. N. N. Silpanus, "Keluarga Menjadi Tempat Pertama dan Utama Pendidikan Iman Anak" Gaudium Vestrum: Jurnal Kateketik Pastoral, Vol. 2, No. 1, Juni 2018, hlm. 19.
11Rosalina Serly Irim, "Tanggung Jawab Orangtua Katolik dalam Pendidikan Iman Anak di Stasi Santo Yosef Kampung Baru" "Gaudium Vestrum: Jurnal Kateketik Pastoral" Vol. 7, No. 1, Januari-Juni 2023, hlm. 28.
masih terlalu sempit. Bisa jadi ini karena kurangnya keterlibatan dan pengetahuan mereka sebagai wali baptis. Padahal sangat jelas bahwa secara dogmatis wali baptis wajib dalam mendampingi anak dalam pertumbuhan imannya mulai sejak dibaptis sampai pada tingkat iman yang dewasa.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, peneliti tertarik untuk mengambil tema penelitian, yaitu pemahaman wali baptis tentang peran dan tanggung jawab mereka bagi perkembangan iman anak serta pelaksanaannya di paroki Santo Yoseph Mataraman.
Berdasarkan pengalaman yang ditemukan selama ini, peneliti melihat bahwa masih banyak wali baptis yang kurang peduli dan belum memperhatikan pendidikan iman anak baptis setelah upacara pembaptisan. Mereka seakan-akan membiarkan anak itu sendiri yang harus bertanggung jawab atas perkembangan imannya.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka muncul pertanyaan-pertanyaan yang menarik untuk dikaji, yakni bagaimana pemahaman wali baptis tentang peran dan tugasnya terhadap perkembangan iman anak baptis selama ini? Bagaimana pelaksanaan peran wali baptis dalam pengembangan iman anak baptis di paroki Santo Yoseph Mataraman? Penulis tertarik melakukan penelitian ini untuk menambah pengetahuan yang ada dengan memfokuskan pada bentuk-bentuk peran dan tanggung jawab serta bagaimana pelaksanaannya dalam pendidikan iman anak baptis. Batasan masalah dalam penelitian ini adalah pada peran dan tanggung jawab serta pelaksanaannya dalam mengembangkan iman anak baptis, karena ini menjadi hal yang sering terlihat berdasarkan pengalaman yang dialami, sehingga difokuskan hanya pada pokok tersebut.