Mindfulness: A
Dialogue between
Buddhism and Clinical Psychology
Psychology of Religion and Spirituality
Presented by Faiqal Dima Hanif
Judul Mindfulness: A Dialogue between Buddhism and Clinical Psychology
Jurnal Mindfulness
Tahun terbit 2010
Penulis Chris Kang & Koa Whittingham
Sitasi
Kang, C., & Whittingham, K. (2010). Mindfulness: A dialogue between Buddhism and Clinical Psychology. Mindfulness, 1(3), 161–173.
https://doi.org/10.1007/s12671-010-0018-1
Article Profile
Introduction
Banyak penelitian masa kini yang membuktikan keefektifan terapi Mindfulness
Banyak pemahaman bahwa pengimplementasian terapi mindfulness dalam Psikologi Klinis berkaitan dengan ajaran atau tradisi Buddhis
Introduction
Artikel ini tidak menjelaskan keefektifan Mindfulness
Penelitian ini lebih kepada mengeksplorasi dan menjelaskan Mindfulness dalam ajaran atau Buddhis melalui Literature Review.
Dengan penelitian ini, diharapkan dapat semakin terjalin kolaborasi antara ilmu spiritual dengan psikologi klinis
Research Method
Penelitian ini menggunakan metode
systematic literatur review. Tidak terlalu
dijelaskan bagaimana prosedur review oleh
peneliti
Brief Summary of
Mindfulness in Clinical
Psychology Perspective
Mindfulness diperkenalkan sebagai latihan terapeutik oleh John Kabat-Zinn dengan terapi Mindfulness Based Stress Reduction (MBSR).
Kemudian, berkembang kepada tiga gelombang terapi Mindfulness, yakni Mindfulness-Based Cognitive Therapy (MBCT), Dialectical Behaviour Therapy (DBT), serta Acceptance dan Commitment Therapy
Dilakukan dalam depalan pekan dalam grup. Peserta didorong untuk melakukan Mindfulness secara rutin setiap hari. Secara umum, dapat dilakukan dengan melatih pernafasan, body scan, mindful hatha yoga, dan mindful walking
Basis Definisi Operasional
“the awareness that emerges through paying attention on purpose, in the present moment, and nonjudgmentally to the unfolding of experience moment by moment”
Manfaat
Efektif untuk gangguan klinin maupun nonklinis:
Sakit ringan, kanker, penyakit jantung, kecemasan, depresi, dan distress sehari-hari
Mindfulness-Based Stress Reduction
Konsep
MBCT didesain dengan mengkombinasikan Mindfulness dengan Cognitive Behaviour Therapy. Tujuan utamanya untuk mencegah kambuhnya Gangguan Depresi Mayor
Basis
“Basis Mindfulness yang digunakan dalam MBCT adalah sebagaimana yang tergambar pada MBSR
Manfaat
Efektif untuk pengidap Gangguan Depresi Mayor yang memiliki tiga atau lebih episode depresif (Coelho dkk., 2007)
Mindfulness-Based Cognitive Therapy
Konsep
Mindfulness dalam DBT berarti penerimaan secara radikal atas apa yang terjadi dan apa yang harus dikerjakan. Terbagi menjadi tiga kemampuan yang harus dimiliki, yakni "what",
"describing", dan "how".
Ketiga hal tersebut dilakukan dengan asas nonjudgemental.
Basis
DBT berfilosofi bahwa dalam kehidupan pasti terdapat dua kutub yang saling berbading terbalik (tesis dan antitesis) yang mengarah pada realitas baru dan kekuatan baru yang berlawanan (Linehan, 1993).
Manfaat
Efektif untuk pengidap Binge-eating Disorder, Depresi Kronis, dan Borderline Personalitiy Disorder.
Dialectical Behaviour Therapy
Konsep
Dalam ACT, mindfulness dipandang sebagai penurunan dominasi dan literalitas bahasa (yaitu mendorong defusi kognitif) dan meningkatkan kemauan untuk memelihara kontak psikologis dengan pengalaman pribadi, seperti yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Basis
Meskipus ACT memiliki basis Mindfulness, ACT tidak dikategorisasikan sebagai terapi yang dikembangkan dari ajaran Mindfulness dalam Buddhis. Sebab, unsur Mindfulness dalam ajaran Buddhis, misalnya meditasi dengan duduk tidak terkandung dalam ACT
Manfaat
Dapat digunakan untuk mengatasi depresi, fobia sosial, distress pekerjaan, kecanduan merokok, psikosis, sakit kronis, dan trichotillomania
Acceptance and
Commitment Therapy
Konsep
Mindfulness in
Buddhism Perspective
Tradisi keagamaan, filosofi, dan pelatihan pikiran yang kita kenal sebagai agama Buddha dimulai di India Utara 2.500 tahun yang lalu dengan ajaran seorang pria bernama Siddhartha Gautama. Gautama kemudian dikenal sebagai “Sang Buddha”, yang berarti “yang telah sadar”. Sang Buddha diyakini telah mencapai kebebasan dari penderitaan, atau pencerahan, dan ajarannya menguraikan jalan yang harus diikuti orang lain untuk juga mencapai kebebasan ini. Mindfulness adalah aspek kunci dari jalan ini.
Agama Buddha yang ada saat ini membentuk tiga aliran besar: Theravada, Mahayana, dan Vajrayana
Brief Summary
of Buddhism
Mindfulness in Buddhism
Perhatian (Pali: sati; Sansekerta: smrti; Tibet: dranpa), sebagai sebuah konsep dan praktik, menempati tempat penting dalam skema pelatihan meditasi Buddhis. Mindfulness juga didefinisikan beragam di aliran Buddhis dan sepanjang sejarah Buddhis.
"Sang Buddha" percaya bahwa manusia dapat menemukan jalan untuk mencapai kebebasan dari penderitaan. Untuk mencapai kebebasan tersebut, Mindfulness-lah yang merupakan kunci dari jalan tersebut.
Individu diharuskan fokus dan sadar terhadap suatu momen ke momen
lainnya
Kewaspadaan dan melakukan introspeksi atau evaluasi terhadap apa yang terjadi
Mengingat dan melakukan atensi pada objek yang familiar
Proses mengingat kembali secara sistematis dan berurutan atas momen yang terjadi
Dapat mengarahkan atensi dengan baik yang dibarengi dengan pengetahuan atas sumber
pengalaman atau momen yang terjadi
Kesadaran yang tidak terbagi, maksudnya adalah individu hanya sadar terhadar suatu momen dan tidak memkirkan hal lain
yang di luar kontrol
Mindfulness in Buddhism
Dalam Jalan Mulia Beruas delapan Buddha, perhatian benar atau right mindfulness (samma sati) ditampilkan sebagai faktor ketujuh dalam jalan sepuluh faktor terpadu dari pelatihan intelektual, etika, meditasi, dan kebijaksanaan.
Dalam konteks latihan Mindfulness Buddhis berbasis etika serta kebijaksanaan, terdaoat tiga tujuan Mindfulness, yakni konsekuensi etis, orientasi, dan universalisasi. Secara umum ketiganya memikirkan sebab-akibat, perilaku, dan pengalaman, tetapi tujuannya berbeda:
Konseuensi etis-> Terkait apakah tindakan yang dilakukan mengaraha pada kebahagiaan sejati atau penderitaan?
Orientasi-> Terkait apakah tindakan yang dilakukan mengarah pada pencerahan atau pembebasan?
Universalisasi-> Terkait apakah tindakan tersebut dapat dterapkan pada orang lain dalam konteks yang berbeda
The Context of
Mindfulness is Buddhism
Konsep Kebahagiaan Sejati (Sukha) dalam Buddhis tidak bersifat hedonic. melainkan lebih kepada kebahagiaan secara batin karena telah mencapai kedewasaan etis dan spiritual yan sejalan dengan kebajikan. Kebajikan tersebut mendasari semua kondisi emosional dan merangkul semua perubahan kehidupan. (Wallace, 2007).
Kebajikan menyiratkan praktik etis, dan dalam praktiknya etika tidak dapat dipisahkan dari perhatian.
Kebijaksanaan yang menginformasikan etika dan mindfulness bersifat konseptual dan terdiri dari pengetahuan faktual tentang bagaimana segala sesuatu benar-benar ada, beroperasi, menimbulkan efek, dan memengaruhi tujuan pembebasan (nibbana) atau pencerahan (sambodhi)
The Context of
Mindfulness is Buddhism
Adapun tujuan dari latihan mindfulness dalam Buddhis secara umum memunculkan hasil terapeutik yang penuh kebahagiaan, pemenuhan, atau kesejahteraan dalam kehidupan. Namun, hasil tersebut dianggap bukanlah yang utama dan hanya ada pada tingkatan sekunder. Terdapat tujuan utama yang dianggap sebagai tujuan yang lebih besar, yakni kebebasan penuh dari penderitaan, termasuk kelahiran kembali (nibbana) dan kesempurnaan segala sesuatu. kualitas positif pikiran dalam keadaan kemahatahuan altruistik (sambodhi).
The Context of
Mindfulness is Buddhism
Mindfulness and Memory
Definisi mindfulness dalam perspektif Buddhis (Theravada) erat pula kaitannya dengan ingatan atau memori. Memori tersebut terbagi menjadi tiga, yakni retrospektif dan prospektif. Dalam artian, individu yang menerapkan mindfulness akan dapat mengumpulkan dan meruntutkan ingatannya dengan lebih baik (Wallace, 2006). Pelatihan mindfulness dapat meningkatkan memori kerja pada situasi distress. Artinya, seseorang dapat melakukan suatu hal dengan baik meskipun ia dalam kondisi tertekan.
Dengan mindfulness, seseorang juga dapat lebih spesifik dalam mengingat pengalaman autobiografinya (Heeren dkk., 2009).
Preliminary Practice
Menghindari yang tidak bermanfaat dan memelihara yang bermanfaat.
Kewaspadaan menjaga pintu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan, sentuhan, dan mentaluntuk mencegah kondisi pikiran tidak bermanfaat yang dapat mendorong tindakan tidak bermanfaat dan mengarah pada penderitaan.
Perhatian penuh pada aktivitas sehari-hari dan waspada selama tugas sehari-hari.
Dalam agama Buddha, mindfulness telah dipahami dalam berbagai cara dan diterapkan dalam berbagai konteks yang belum diterjemahkan ke dalam psikologi klinis.
Ada sejumlah elemen
tambahan dari
Mindfulness yang ada dalam konteks Buddhis yang belum dimasukkan ke dalam definisi psikologis
Mindfulness: Dialogical
Foundations for Future Research?
Definisi operasional dari Mindfulness dalam tradisi Buddhis:
“Mindfulness adalah kesadaran yang non-reaktif, non-elaboratif, dan non- reifikasi yang memiliki fungsi meta-kognitif, memantau kesadaran yang sedang berlangsung dan membedakan dengan bijak antara aspek-aspek isi kesadaran sehingga kesadaran dan perilaku dapat diarahkan sesuai dengan tujuan kebahagiaan sejati, kebajikan, dan kebenaran.
Mindfulness: Dialogical
Foundations for Future Research?
Secara khusus, ada baiknya menyelidiki apa yang terkandung dalam tujuan Buddhis tentang
pembebasan dan
pencerahan di luar apa yang kita ketahui saat ini tentang kesehatan dan kesejahteraan psikologis.
Di tahun-tahun mendatang, mindfulness mungkin memainkan peran penting dalam bidang psikologi positif yang sedang berkembang serta dalam mengatasi masalah di luar terapi, seperti prasangka, dan dalam mendorong altruisme prososial, keterlibatan sosial yang konstruktif, dan pembaruan sosial.
Mindfulness: Dialogical
Foundations for Future Research?
General Conclusion
Diharapkan ulasan tentang mindfulness in the Tradisi Buddhis akan terbukti bermanfaat bagi para peneliti dan klinisi, Kemudian, diharapkan ada dorongan untuk meneliti lebih lanjut terkait hal ini serta melakukan penelitian yang lebih orisinil tentang mindfulness dalam psikologi. Hal ini juga diharapkan bahwa ulasan ini mencontohkan dialog berkelanjutan antara tradisi kontemplatif (khususnya agama Buddha) dan sains modern, dan berkontribusi pada sains kontemplatif yang muncul berdasarkan penelitian empiris yang solid dan penyelidikan reflektif.
Critical Review
Dalam konklusi, peneliti kurang memberikan kesimpulan akhir yang mendalam dan lugas terkait hasil ulasan. Padahal, pemaparan pada bagian sebelumnya sudah terbilang komprehensif dengan literatur review pada berbagai manuskrip.
Kurang dijelaskan secara eksplisit bagian mana dari ajaran Mindfulness Buddhis yang menjadi irisan atau konsep awal dari terapi mindfulness dalam konteks psikologi klinis
Pada beberapa bagian, cenderung sulit untuk dimengerti oleh orang awam karena terdapat banyak istilah dari Buddhis yang dirasa kurang diberikan penjelasan
Critical Review
Namun, pemaparan dalam pembahasan sangat rinci dan komprehensif. Telaah literatur dari peneliti terlihat sangat mendalam
Penyajian struktur tulisan sudah runtut dan menjelaskan antar bagian
Topik yang dibawakan sangat menarik karena berkaitan dengan coping atau terapi berbasis spriritual. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran atau tradisi spiritual dapat menjadi basis dalam penyembuhan kondisi mental
Menarik untuk ditelaah secara langsung terkait Mindfulness kepada penganut Buddhis untuk mengeksplorasi pengalamannya dalam melakukan Mindfulness
Thank you so much!
www.reallygreatsite.com Presented by Sandra Haro