Nama : Hilda Syifa Aini
NPM : 2206101040054
Mata Kuliah : Mitigasi Bencana
Kelas : 01
5 BENCANA BESAR YANG TERJADI TAHUN 2020-2025 1. BADAI SALJU LEBAT DI SPANYOL
Badai salju lebat di Spanyol pada tahun 2021, dikenal sebagai Badai Filomena, terjadi pada awal Januari 2021. Badai ini mulai terbentuk di Atlantik pada tanggal 3 Januari 2021 dan bergerak menuju Spanyol. Pada tanggal 6-7 Januari 2021, Badai Filomena menghantam Spanyol, menyebabkan salju lebat dan angin kencang di banyak wilayah, termasuk Madrid dan Barcelona.
Kondisi cuaca yang parah menyebabkan Pemerintah Spanyol mengumumkan keadaan darurat dan mengaktifkan protokol badai salju pada tanggal 8 Januari 2021. Badai Filomena terus menghantam Spanyol pada tanggal 9-10 Januari 2021, menyebabkan kerusakan infrastruktur dan gangguan transportasi. Banyak jalan dan bandara ditutup, dan ribuan orang terjebak di rumah mereka.
Pada tanggal 11 Januari 2021, Badai Filomena mulai mereda, tetapi salju masih terus turun di beberapa wilayah. Badai ini menyebabkan kerugian yang signifikan di Spanyol, termasuk kerusakan infrastruktur, gangguan transportasi, dan korban jiwa. Badai Filomena merupakan salah satu badai salju terburuk yang pernah terjadi di Spanyol dalam beberapa dekade terakhir.
Penyebab terjadinya salju yang lebat di spanyol adalah:
Salju lebat di Spanyol pada tahun 2021 disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor cuaca. Salah satu penyebab utama adalah adanya badai Filomena, yang terbentuk di Atlantik dan bergerak menuju Spanyol. Badai ini membawa udara dingin dan lembab dari kutub utara, yang kemudian bertemu dengan udara hangat dan lembab dari Mediterania. Ketika kedua massa udara ini bertemu, terjadi proses pendinginan yang cepat, sehingga udara menjadi
jenuh dan menghasilkan salju lebat. Selain itu, adanya pegunungan di Spanyol, seperti Pegunungan Pirenia, juga memainkan peran penting dalam pembentukan salju lebat. Pegunungan ini dapat memaksa udara naik dan mendingin, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya salju. Faktor lain yang juga berkontribusi terhadap terjadinya salju lebat di Spanyol adalah perubahan iklim global. Perubahan iklim dapat menyebabkan pola cuaca yang lebih ekstrem, termasuk badai salju yang lebih parah. Dalam kasus salju lebat di Spanyol pada tahun 2021, kombinasi dari faktor-faktor cuaca dan perubahan iklim global menciptakan kondisi yang ideal untuk terjadinya salju lebat.
Kerugian yang terjadi pada saat terjadinya bencana
Kerugian yang terjadi akibat salju lebat di Spanyol pada tahun 2021 sangat signifikan. Badai salju Filomena menyebabkan kerusakan infrastruktur, gangguan transportasi, dan korban jiwa. Lebih dari 100.000 rumah kehilangan listrik, dan banyak jalan dan bandara ditutup. Ekonomi Spanyol juga terkena dampak, dengan kerugian diperkirakan mencapai €1,5 miliar. Selain itu, badai salju ini juga menyebabkan kematian lebih dari 10 orang dan melukai ratusan lainnya. Kondisi cuaca yang parah ini juga mempengaruhi kegiatan sehari-hari, dengan banyak sekolah dan bisnis ditutup sementara.
2. GEMPA BUMI TURKI-SURIAH
Pada pukul 04:17 waktu setempat (01:17 UTC), gempa pertama dengan kekuatan 7,8 magnitudo mengguncang wilayah Turki selatan dan Suriah utara.
Episentrum gempa berada di barat Gaziantep, Turki, dekat perbatasan dengan Suriah. Gempa tersebut menyebabkan kerusakan luas dan korban jiwa yang
signifikan. Menurut catatan, gempa ini merupakan gempa terkuat yang pernah tercatat di Turki, menyamai gempa Erzincan pada tahun 1939. Setelah gempa pertama, terjadi beberapa gempa susulan, termasuk gempa dengan kekuatan 7,5 magnitudo pada pukul 10:24 UTC. Gempa susulan ini berpusat di Provinsi Kahramanmaraş, Turki. Menurut data dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), terdapat lebih dari 30 gempa susulan dengan kekuatan 4,0 magnitudo atau lebih dalam enam jam setelah gempa utama. Selain itu, terdapat lebih dari 120 gempa susulan dalam 12 jam setelah gempa utama.
Penyebab terjadinya gempa bumi suriah:
Gempa bumi Turki-Suriah 2023 disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik di wilayah tersebut. Turki dan Suriah terletak di persimpangan tiga lempeng tektonik besar, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Afrika, dan Lempeng Arab. Pergerakan antara lempeng-lempeng ini menyebabkan tekanan yang kuat dan akhirnya memicu gempa bumi. Wilayah Turki dan Suriah juga memiliki sejarah gempa bumi yang panjang karena lokasinya yang strategis di atas zona subduksi. Zona subduksi adalah wilayah di mana satu lempeng tektonik tenggelam ke bawah lempeng lainnya. Proses ini dapat menyebabkan gempa bumi yang kuat. Selain itu, wilayah Turki dan Suriah juga memiliki beberapa sesar aktif yang dapat memicu gempa bumi. Sesar aktif adalah retakan di kerak bumi yang masih aktif dan dapat menyebabkan gempa bumi.
Sesar-sesar ini dapat memicu gempa bumi karena pergerakan lempeng tektonik yang terus-menerus. Dalam kasus gempa bumi Turki-Suriah 2023, gempa tersebut dipicu oleh pergerakan lempeng tektonik di sepanjang Sesar Anatolia Timur (East Anatolian Fault). Sesar ini adalah salah satu sesar aktif terbesar di Turki dan telah memicu beberapa gempa bumi besar di masa lalu.
Kerugian yang terjadi Ketika gempa Turki-Suriah:
Gempa bumi Turki-Suriah 2023 telah menyebabkan kerugian yang sangat besar dan mencakup beberapa aspek. Kerugian jiwa adalah yang paling parah, dengan lebih dari 62.000 orang meninggal akibat gempa ini. Banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan, dan upaya penyelamatan masih berlangsung.
Kerugian ekonomi juga sangat signifikan, dengan perkiraan kerugian mencapai US$ 84 miliar (Rp 1.271 triliun). Kerusakan infrastruktur, termasuk bangunan, jalan, dan fasilitas umum, telah menyebabkan kerugian yang besar.
Banyak bisnis dan industri telah terhenti, dan kegiatan ekonomi telah terganggu. Selain itu, gempa ini juga telah menyebabkan pengungsi besar- besaran. Banyak orang telah kehilangan tempat tinggal mereka dan terpaksa mengungsi ke tempat-tempat penampungan. Kondisi di tempat-tempat penampungan sangat sulit, dengan kekurangan makanan, air, dan fasilitas kesehatan. Gempa bumi Turki-Suriah 2023 telah menyebabkan kerugian yang sangat besar dan memerlukan bantuan dari berbagai pihak untuk membantu korban dan memulihkan daerah yang terkena dampak.
3. Banjir di Pakistan (Tahun 2022)
Banjir di Pakistan tahun 2022 terjadi pada bulan Juni hingga Oktober 2022. Banjir ini disebabkan oleh hujan monsun yang sangat deras dan perubahan iklim yang memperburuk situasi. Pada awal Juni, hujan monsun mulai mengguyur Pakistan, menyebabkan banjir di beberapa provinsi, termasuk Sindh, Balochistan, dan Punjab. Pada bulan Agustus, banjir semakin parah, dengan lebih dari 30 juta orang terkena dampak dan 1.717 orang meninggal. Pemerintah Pakistan mengumumkan keadaan darurat dan mengaktifkan protokol banjir untuk membantu korban. Banjir ini merupakan salah satu bencana alam terburuk di Pakistan dalam beberapa dekade terakhir.
Penyebab terjadinya Banjir di Pakistan
Banjir di Pakistan tahun 2022 disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor. Pertama, hujan monsun yang sangat deras pada bulan Juni hingga
September 2022 merupakan penyebab utama banjir ini. Hujan monsun yang biasanya terjadi setiap tahun di Pakistan, tetapi pada tahun 2022, intensitas hujan sangat tinggi dan berkepanjangan, sehingga menyebabkan banjir di beberapa provinsi. Kedua, perubahan iklim global juga memperburuk situasi.
Perubahan iklim menyebabkan pola cuaca yang lebih ekstrem, termasuk hujan yang lebih deras dan frekuensi banjir yang lebih tinggi. Ketiga, kondisi geografis Pakistan juga memainkan peran penting. Pakistan memiliki beberapa sungai besar, termasuk Sungai Indus, yang dapat menyebabkan banjir jika debit airnya meningkat. Selain itu, banyak wilayah di Pakistan yang memiliki topografi yang rendah dan datar, sehingga memudahkan air untuk mengalir dan menyebabkan banjir.
Kerugian yang terjadi Ketika bencana
Banjir di Pakistan tahun 2022 menyebabkan kerugian yang sangat signifikan dan mencakup beberapa aspek. Kerugian materiil yang terjadi sangat besar, dengan kerusakan infrastruktur, kehilangan properti, dan kerugian ekonomi yang mencapai miliaran dolar. Lebih dari 1.700 orang meninggal dan lebih dari 30 juta orang terpaksa mengungsi. Selain itu, banjir ini juga menyebabkan trauma psikologis pada korban, dengan banyak orang mengalami stres, kecemasan, dan depresi. Kerugian lingkungan juga sangat parah, dengan polusi air, kerusakan ekosistem, dan kehilangan sumber daya alam.
4. Kebakaran Hutan di Los Angeles, Amerika Serikat (Januari 2025)
Kebakaran hutan di Los Angeles tahun 2025 terjadi pada Selasa, 7 Januari 2025, dan meluas pada Kamis, 9 Januari 2025. Kebakaran ini
menyebabkan luas area yang terdampak mencapai 17.234 hektare dan menewaskan lima orang. Selain itu, kebakaran ini juga mengakibatkan kerugian secara perekonomian dan kerugian bangunan, serta mengganggu layanan-layanan umum di wilayah tersebut, seperti terputusnya jaringan listrik dan saluran air. Penyebab kebakaran hutan di Los Angeles ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kekeringan berkepanjangan, angin kencang, dan topografi wilayah yang berbukit. Selain itu, perubahan iklim global juga memperburuk situasi dengan meningkatkan intensitas cuaca ekstrem. Dalam menangani kebakaran hutan ini, diperlukan upaya mitigasi yang terpadu, seperti pencegahan, pengelolaan risiko, dan rehabilitasi. Pencegahan dapat dilakukan melalui edukasi masyarakat dan pembatasan aktivitas berisiko di area rawan kebakaran. Selain itu, teknologi seperti satelit, drone, dan sensor real-time dapat dimanfaatkan untuk memantau kondisi vegetasi dan mendeteksi titik api lebih awal.
5. Banjir Bandang di Uni Emirat Arab
Banjir parah merendam Dubai, Uni Emirat Arab akibat hujan dengan curah tinggi. Genangan air membanjiri landasan di Bandara Internasional Dubai dan menyebabkan penutupan sekolah-sekolah. Satu orang dilaporkan tewas akibat bencana banjir tersebut. Pusat Meteorologi Uni Emirat Arab (UAE) menyebut banjir parah di Dubai ini merupakan sejarah dalam 57 tahun terakhir. Banjir bandang di Uni Emirat Arab (UEA) pada tahun 2024 terjadi pada bulan April, tepatnya pada tanggal 16 April. Banjir ini disebabkan oleh hujan lebat yang berlangsung selama beberapa hari, sehingga menyebabkan banjir di beberapa wilayah, termasuk Dubai. Menurut Profesor Eddy Setiadi Soedjono dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), banjir ini
merupakan peristiwa yang sangat jarang terjadi di UEA, yang memiliki iklim gurun yang kering. Kerugian yang terjadi akibat banjir ini sangat signifikan, dengan kerusakan infrastruktur, kehilangan properti, dan kerugian ekonomi yang mencapai ratusan juta dolar AS. Selain itu, banjir ini juga menyebabkan gangguan pada kegiatan sehari-hari, termasuk transportasi dan komunikasi.
Pemerintah UEA telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi dampak banjir ini, termasuk membuka pusat pengungsian dan menyediakan bantuan kemanusiaan bagi korban banjir.
REFERENSI
Aida Nur Afifah dan Sabrina Nurul Fadhila. (2025). Tragedi Kebakaran Hutan Los Angeles: Tantangan di Tengah Perubahan Iklim.Platform X https://egsa.geo.ugm.ac.id/2025/01/31/tragedi-kebakaran-hutan-los-angeles-
tantangan-di-tengah-perubahan-iklim/
https://news.detik.com/internasional/d-7297874/6-fakta-banjir-di-dubai-yang-langka- termasuk-penyebabnya
https://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_Pakistan_2022
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/1518/korban-gempa-turki-suriah- nyaris-35-000-jiwa-kerugian-rp-1-271-t/2