Faktor Pendukung dan Penghambat Pembelajaran Membaca Al-Qur'an bagi Siswa Tuna Rungu di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo. Untuk menjelaskan metode pembelajaran membaca Al-Quran pada siswa tuna rungu SMPLB-B Pertiwi Ponorogo. Untuk menjelaskan evaluasi pembelajaran membaca Al-Quran bagi siswa tunarungu di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo.
KAJIAN TEORI
Pembelajaran Al- Qur’an
Walaupun bagi pelajar juga terdapat tugas dan kewajipan yang dikenakan kepada mereka, namun terdapat 4 perkara yang mesti ditunaikan oleh pelajar. Jangan. bangga dengan ilmu yang dipelajari. ia adalah salah satu syarat untuk dapat menimba ilmu yang bermanfaat.
Tunarungu
Selain itu Multi Salim (1984:8) mengemukakan bahwa anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau kehilangan pendengaran akibat rusaknya atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh alat pendengarannya, sehingga mengalami hambatan dalam perkembangan bicaranya. Bagi anak tunarungu sendiri Sehubungan dengan ciri-ciri penyandang tunarungu yaitu, kosakata yang buruk, kesulitan dalam memahami kata-kata abstrak, kesulitan dalam mengartikan kata-kata yang mengandung kiasan, gangguan bicara, maka hal-hal tersebutlah yang menjadi sumber permasalahan utama bagi anak-anak tersebut. .32. Karena pandangan tersebut, biasanya kita melihat anak-anak tuna rungu sulit mendapatkan pekerjaan.
Oleh karena itu, kemampuan yang dimiliki oleh anak tunarungu dapat saja diperhatikan, meskipun itu hanya sebagian kecil dari pekerjaan yang biasa dilakukan oleh orang normal.34 d) Bagi penyelenggara pendidikan. Perhatian terhadap kebutuhan pendidikan anak tunarungu tidak bisa dikatakan kurang, terbukti banyak anak tunarungu yang mendapatkan pendidikan selama lembaga pendidikan dapat diakses oleh mereka. Permasalahan baru yang akhir-akhir ini mendapat perhatian jika anak tunarungu masih harus bersekolah di sekolah luar biasa (SLB) adalah jika anak tunarungu tinggal jauh dari sekolah luar biasa, maka tentu saja mereka tidak akan bisa bersekolah.
Upaya lain yang mungkin dapat mendorong anak tunarungu untuk cepat bersekolah adalah dengan bersekolah di sekolah biasa/biasa dan. Kata ini diserap ke dalam kosakata istilah bahasa Indonesia dengan tujuan melestarikan kata aslinya dengan sedikit penyesuaian pengucapan bahasa Indonesia menjadi “evaluasi”.36 Ada.
TELAAH PUSTAKA
Dengan judul “Kebiasaan Membaca Al-Qur’an di Sekolah (Studi Kasus di SMA Negeri 2 Ponorogo)”. Pemicu pembiasaan membaca Al-Quran di SMAN 2 Ponorogo adalah melahirkan generasi pecinta Al-Qur'an dan generasi yang diharapkan penghafal Al-Qur'an. Dan faktor penghambat dalam membiasakan membaca Al-Qur'an di SMAN 2 Ponorogo adalah kurangnya motivasi yang diberikan oleh lingkungan sekitar dan keluarga untuk membiasakan membaca Al-Qur'an.
Pembelajaran Al-Quran di SMK Bakti Ponorogo menggunakan metode sorogan yang dimodifikasi melihat kondisi pembelajaran, dalam hal ini guru dibantu oleh siswa yang sudah mahir membaca Al-Quran dengan cara menghadap guru dan siswa yang sudah mahir membaca Al-Quran. telah dipilih oleh guru. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan ekstrakurikuler membaca Al-Qur’an di SMP 2 Babadan menggunakan metode iqro’ bagi yang belum bisa membaca dan tartil bagi yang bisa membaca. Pentingnya kegiatan ekstrakurikuler membaca Al-Qur'an terhadap kemampuan membaca Al-Qur'an siswa di SMPN 2 Babadan adalah siswa mampu membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar.
Perbedaan penelitian yang telah dijelaskan di atas dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah jika penelitian yang dilakukan oleh ketiga peneliti di atas menjelaskan metode yang digunakan dalam teknik membaca Al-Qur’an di sekolah yang sebagian besar siswanya tidak berkebutuhan khusus, maka maka pada penelitian kali ini peneliti akan memaparkan metode-metode yang digunakan dalam membaca Al-Qur’an bagi siswa yang siswanya berkebutuhan khusus. Sehingga diharapkan nantinya peneliti dan pembaca dapat mengetahui perbedaan dan persamaan metode yang digunakan dalam membaca Al-Qur’an di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo dan sekolah pada umumnya.
DESKRIPSI DATA
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
- Sejarah SMPLB B Tunarungu Pertiwi Ponorogo a. Letak dan keadaan geografis
Berdasarkan landasan dasar di atas maka para perintis Dharma Wanita yang terdiri dari jajaran struktur kepengurusan Kabupaten Ponorogo mendirikan Sekolah SLB Pertiwi Ponorogo pada tanggal 11 Maret 1976. Dahulu masih ada Sekolah SLB yang masih berada di lokasi yang sama. gedung untuk penyandang tunanetra dan cacat perkembangan dengan nama SLB A-B-C Ibu Pertiwi Ponorogo. SLB Pertiwi Ponorogo pertama kali dipecah menjadi SLB-B dengan kepala sekolah sendiri pada tahun 1994 dengan gedung berbeda dan guru yang mempunyai keahlian pada siswa khusus jurusan tunarungu.
Pada tahun 1998, Yayasan Dharma Wanita dan guru SLB membuat program untuk Sekolah Menengah Pertama (JHS). Tugas SMPLB-B adalah menyelenggarakan pelatihan dan menyelenggarakan kegiatan pendidikan umum dan kegiatan pembelajaran bagi penyandang disabilitas khusus yang setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada umumnya. SMPLB Pertiwi Ponorogo merupakan salah satu lembaga formal yang ada di kota Ponorogo Jawa Timur, SMPLB Pertiwi Ponorogo tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya jika tidak ada sistem organisasi sekolah yang diketuai oleh kepala sekolah, dan merangkap sebagai tugas pendidikan dan juga mengkoordinasikan seluruh kegiatan yang dilakukan sekolah.
Karena beban ada pada kepala sekolah, maka kepala sekolah dibantu dalam mencapai tujuan pembelajaran oleh staf manajerial yang bertanggung jawab pada setiap fokus bidang agar program sekolah dapat berjalan dengan lancar. Struktur organisasi pendidikan SMPLB Pertiwi Ponorogo mencerminkan adanya suatu bentuk kerjasama untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.
Diskripsi Data
- Metode Pembelajaran Membaca Al- Qur’an Yang Digunakan Peserta Didik Di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo
- Evaluasi pembelajaran Membaca Al- Qur’an Yang Digunakan Peserta Didik Di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo
- Faktor Pendukung Serta Penghambat Pembelajaran Membaca Al- Qur’an Bagi Peserta Didik Tunarungu Di SMPLB -B Pertiwi Ponorogo
Dijelaskannya metode pembelajaran membaca Al Quran yang dilakukan siswa SMPLB-B Pertiwi Ponorogo sebagai berikut. Pertama, peneliti menanyakan tentang metode pembelajaran membaca Al-Quran yang digunakan siswa tunarungu di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo. Dijelaskannya, metode pembelajaran membaca Alquran yang dilakukan siswa tunarungu di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo adalah sebagai berikut.
Evaluasi pembelajaran membaca Al Quran yang digunakan siswa di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo Siswa di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo. Peneliti menanyakan tentang evaluasi pembelajaran membaca Al-Quran siswa tunarungu di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo. Pendapatnya mengenai evaluasi pembelajaran mengaji Al-Quran bagi siswa Tuna Rungu di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo sebagai berikut.
Terdapat faktor pendukung dan penghambat pembelajaran membaca Al Quran bagi siswa tunarungu di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo. Terdapat pula faktor pendukung dan penghambat pembelajaran membaca Al-Qur’an bagi siswa tunarungu di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo.
Analisa terhadap metode pembelajaran membaca Al- Qur’an yang digunakan peserta didik di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo
Oleh karena itu, hanya pada bulan Ramadhan diberikan materi ajar membaca Al-Quran tanpa digabungkan dengan pelajaran umum lainnya.58. Dimana guru atau Ustadz membacakan surat-surat Al-Qur'an dan siswa diminta untuk menirunya. Selain mengajar mengaji, SMPLB-B Pertiwi Ponorogo mengajarkan siswanya menghafal dan mengamalkan bacaan salat.
Oleh karena model tersebut maka metode ini merupakan model yang tepat dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an bagi anak tunarungu. Yang merupakan bentuk cross check mengenai metode yang diterapkan dalam proses pembelajaran membaca Al-Quran di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo. Dijelaskannya metode pembelajaran membaca Al Quran yang dilakukan siswa Tunarungu di SMPLB-B Pertiwi.
Metode ini menekankan pada efektifnya proses pembelajaran Al-Qur’an bagi anak berkebutuhan khusus. Sehingga peneliti menarik benang merah bahwa metode yang tepat dan efektif untuk proses pembelajaran Al-Qur’an di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo adalah dengan menggunakan metode sorogan.
Analisa terhadap Evaluasi pembelajaran Membaca Al- Qur’an Yang Digunakan Peserta Didik Di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo
Evaluasi pembelajaran di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo adalah dengan melihat kondisi dan kemampuan anak. Menurut penjelasan siswa kelas 7 SMPLB-B Pertiwi Ponorogo bernama Auliya Shofi R. mengatakan bahwa evaluasi pembelajaran Al-Quran bagi siswa tunarungu di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo melalui surat pendek. . dan menghafalkannya. Dalam mengevaluasi masukan-masukan tersebut, peneliti menyelidiki proses pembelajaran membaca Al-Quran di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo dengan mengamati karakteristik siswa, kelengkapan dan kondisi sarana dan prasarana pembelajaran.
Dari beberapa unsur di atas, peneliti menyimpulkan bahwa evaluasi kontribusi terhadap proses pembelajaran membaca Al-Qur'an di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo adalah kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung proses tersebut. 71 Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Suatu Program Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara sedang belajar membaca Al-Qur'an di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo, hal ini dikarenakan keterbatasan sumber daya yang dimiliki oleh SMPLB-B Pertiwi Ponorogo. Namun Saran yang diberikan kurang dan guru dapat menyeimbangkan sarana prasarana tersebut sehingga dapat mengatur kondisi kelas dalam proses pembelajaran Al-Qur'an di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo.
Evaluasi harian yang dilakukan peneliti adalah evaluasi pembelajaran Al-Quran bagi siswa tuna rungu di SMPLB Pertiwi Ponorogo dalam bentuk karya. Dari hasil penilaian diatas, peneliti menganalisis kemampuan siswa dalam belajar membaca Al-Quran di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo, sebagai berikut.
Analisa Terhadap Faktor Pendukung Serta Penghambat Pembelajaran Membaca Al- Qur’an Bagi Peserta Didik Tunarungu Di SMPLB -B Pertiwi
Peneliti menanyakan faktor penghambat dan pendukung pengajaran Al Quran di SMPLB B Pertiwi Ponorogo untuk Tuna Rungu. Pertama, peneliti menanyakan tentang faktor penghambat dan pendukung pembelajaran membaca Al Quran di SMPLB B Pertiwi Ponorogo pada siswa kelas 7 SMPLB-B Pertiwi Ponorogo yang bernama Auliya Shofi R., beliau menjelaskan bahwa faktor penghambat dalam pembelajaran adalah hafalan. yang dikenakan pada siswa tersebut. Dan faktor pendukung yang mereka rasakan adalah guru atau ustadz yang dengan sabar mengajari mereka dalam proses pembelajaran membaca Al-Qur'an.74 b.
Dikatakannya, faktor penghambat pembelajaran Al-Quran di SMPLB B Pertiwi Tuna Rungu Ponorogo adalah sulitnya mengatur waktu untuk menghafal bacaan Al-Quran. Namun keterbatasan tersebut tidak menjadi hambatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuannya dalam proses pembelajaran membaca Al-Quran di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo. Guru, siswa dan orang tua mampu memberikan energi positif berupa semangat dan motivasi yang besar, hal inilah yang peneliti sebut sebagai faktor pendukung dalam proses pembelajaran membaca Al-Quran di SMPLB-B Pertiwi Ponorogo.
Faktor pendukung inilah yang menjadikan proses belajar membaca Al-Quran berhasil. Jadi, kegiatan ini dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan sikap dan pemahaman siswa terhadap pembelajaran membaca Al-Qur'an.
PENUTUP
KRITIK DAN SARAN
Sebaiknya pengelola sekolah melakukan upaya untuk menyediakan sarana/fasilitas yang masih kurang, guna mempercepat proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah dan memberikan tambahan wawasan Pendidikan Agama Islam kepada siswa. Penambahan tenaga pengajar, khususnya guru pendidikan agama Islam atau guru pengajian yang biasanya memberikan justifikasi lebih detail, sehingga bisa memberikan layanan khusus menangani siswa tunarungu. Pembaca diharapkan dapat menjadikan artikel ini sebagai bahan pertimbangan dan referensi dalam penerapan sistem pembelajaran Al-Quran bagi siswa berkebutuhan khusus, misalnya siswa tunarungu.