• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model Pendidikan Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan (Studi Kasus Di SMP Muhammadiyah 06 Wuluhan dan SMP 09

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Model Pendidikan Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan (Studi Kasus Di SMP Muhammadiyah 06 Wuluhan dan SMP 09 "

Copied!
84
0
0

Teks penuh

Judul Penelitian: Model Pendidikan Agama Moderat pada Lembaga Pendidikan (Studi Kasus di SMP Muhammadiyah 06 Wuluhan dan SMP 09 Ma'arif NU Ambulu). Penelitian ini berjudul “Model Pendidikan Keagamaan Moderat pada Instansi Pendidikan (Studi Kasus di SMP Muhammadiyah 06 Wuluhan dan SMP 09 Ma’arif NU Ambulu)”. Model pendidikan agama moderat pada lembaga pendidikan (Studi kasus di SMP Muhammadiyah 06 Wuluhan dan SMP 09 Ma'arif NU Ambulu).

Fokus Permasalahan

Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk memberikan pemahaman tentang moderasi beragama melalui lembaga pendidikan, khususnya terkait pendidikan agama Islam, adalah dengan menekankan pentingnya dialog antara konteks sosial dan ajaran agama sebagai kebutuhan terpenting masyarakat saat ini dalam rangka mencapai tujuan. hidup secara sosial. kehidupan di masyarakat. Model pengembangan pendidikan agama Islam moderat di lembaga pendidikan merupakan solusi untuk meminimalisir anarkisme dalam pandangan dan solusi kehidupan umat Islam. Perbandingan kedua lembaga tersebut diharapkan dapat memberikan rumusan konseptual mengenai model pendidikan moderasi beragama di sekolah.

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini memberikan data dan solusi bagi: 1) agar pemerintah Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama lebih serius dan melaksanakan sosialisasi dan pendidikan serta pelatihan pada lembaga pendidikan dalam merancang kurikulum di SMA. tingkat sekolah yang mengarah pada desain kurikulum moderasi beragama. Bagi pengurus ormas NU dan Muhammadiyah sebagai ormas yang mempunyai lembaga pendidikan lebih serius dalam mengambil kebijakan dan memberikan petunjuk kepada lembaga pendidikan di bawahnya untuk menerapkan dan menerapkan Islam moderat dalam kurikulum, pengajaran dan kegiatan ekstrakurikuler yang membimbing peserta didik menuju ke arah yang lebih baik. Pemikiran Islam.moderat.

Definisi Istilah

Yang dimaksud dengan moderasi beragama dalam penelitian ini adalah cara pandang moderat terhadap agama di lembaga pendidikan SMP Muhammadiyah 06 Wuluhan sejalan dengan cara pandang moderasi beragama PP. Muhammadiyah dan moderasi beragama di SMP 09 Ma'arif NU Ambulu sesuai dengan Nahdatul Ulama (NU), dari kedua lembaga ini kita akan mempelajari bagaimana memahami dan mengamalkan ajaran agama di lembaga pendidikan tersebut tanpa harus ekstrim, baik ekstrim kanan maupun ekstrim kiri.

Sistematika Pembahasan

Fungsi Bab IV adalah untuk meyakinkan atau lebih menegaskan hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti di lapangan. Fungsi Bab VI adalah menguraikan secara singkat temuan-temuan yang diperoleh dari penelitian, serta implikasi praktis dan teoritis dari temuan penelitian yang telah dilakukan.

KAJIAN TEORI KAJIAN TEORI

Kajian Terdahulu

Pendidikan Moderasi Beragama Sebagai Perisai Radikalisme Dalam Institusi Pendidikan” Jurnal TAUJIH Jurnal Pendidikan Islam Tahun 2021. Kelima, penelitian Edy Sutrisno yang berjudul “Aktualisasi Moderasi Beragama di Instansi Pendidikan” Jurnal Bimas Islam Tahun 2019. Persamaannya dengan seluruh penelitian yang sudah ada sama-sama membahas isu moderasi beragama di lembaga pendidikan.

Tabel 2.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian
Tabel 2.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian

Kajian Teori

  • Moderasi Beragama
  • Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan a. Moderasi Beragama Dalam Pendidikan Islam
  • Pengembangan Kurikulum Pendidikan Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan

Bedanya, pada penelitian-penelitian sebelumnya belum ada pembahasan yang jelas mengenai desain kurikulum, pelaksanaan pendidikan dan bentuk moderasi beragama di lembaga pendidikan khususnya sekolah menengah pertama (SMP). Sedangkan konsep pendidikan agama Islam moderat adalah suatu model pendidikan Islam atau pengajaran agama Islam di lembaga pendidikan yang lebih menekankan aspek ajaran agama dalam pembelajaran dengan mengembangkan cara pandang atau sikap peserta didik yang tidak ekstrim kanan dan tidak ekstrim kiri. Mengajarkan pemahaman Islam yang moderat di lembaga pendidikan adalah wajib bagi semua lembaga pendidikan.

33 lembaga pendidikan sebagai model pembentukan karakter peserta didik yang mengarah pada pemahaman agama yang lebih komprehensif dan menerima segala perbedaan yang ada. Pendidikan akan menjadi wadah untuk mengajarkan siswa tentang moderasi beragama dan lembaga pendidikan ini akan menjadi model dalam penerapan kurikulum pendidikan moderasi beragama di Indonesia.34. Di sini pengembangan pendidikan agama Islam moderat di lembaga pendidikan dibangun melalui keseimbangan antara rasionalitas, moralitas, dan spiritualitas.

Setidaknya prinsip integrasi yang ditawarkan para pemikir di atas dapat menjadi modal berharga dalam membangun moderasi dalam kurikulum pendidikan agama Islam di lembaga pendidikan dalam mengembangkan moderasi beragama. Penerapan Kurikulum Pendidikan Berbasis Moderasi Menurut Fahruozi dan Muthoifn, dalam melaksanakan pengembangan kurikulum pendidikan berbasis moderasi pada lembaga pendidikan madrasah/sekolah hendaknya memuat nilai-nilai dan ajaran moderat. Lembaga pendidikan Islam harus mampu memilah dan menyaring mana bahan ajar yang mengandung ideologi Islam moderat dan mana yang tidak.

55 Toto Suharto, Indonesianisasi Islam: Penguatan Islam Moderat pada Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Majalah Al-Tahrir, Vol. Lembaga pendidikan harus bisa menyaring karya-karya tersebut, baik cetak maupun online, agar tidak diajarkan di lembaga pendidikan Islam yang moderat. Sedangkan menurut Kasinyo Harto dan Tastin, pelaksanaan Wasathiyah (sikap moderat) pendidikan agama Islam pada lembaga pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam pada lembaga pendidikan formal, tidak hanya terbatas pada aspek kehidupan tertentu saja, melainkan mencakup seluruh aspek kehidupan. kehidupan siswa.

Grand Theori Penelitian

Sedangkan yang dimaksud dengan pengembangan budaya keagamaan pada warga sekolah adalah bagaimana mengembangkan ajaran agama wasathiyah (sekunder) di sekolah sebagai landasan nilai, semangat, sikap dan perilaku para pelaku sekolah yaitu guru, tenaga kependidikan, orang tua siswa dan siswa itu sendiri. sendiri.57. Kedua, untuk membangun rasa saling pengertian sejak dini di kalangan siswa yang berbeda keyakinan, sekolah harus berperan aktif dalam menggalakkan dialog keagamaan atau dialog antar umat beragama, yang tentunya tetap di bawah kepemimpinan guru sekolah. Dialog antar umat beragama seperti ini merupakan upaya efektif untuk membiasakan siswa berdialog dengan pemeluk agama yang berbeda.

Ketiga, dalam penerapan moderasi beragama yaitu kurikulum dan teks yang digunakan dan dilaksanakan di sekolah, sebaiknya kurikulum tersebut memuat nilai-nilai pluralisme agama dan toleransi. Begitu pula dengan buku, khususnya buku agama yang digunakan di sekolah, hendaknya buku yang dapat membangun wacana siswa untuk pemahaman agama yang komprehensif dan moderat. Menurut Taba, proses pengembangan kurikulum dapat dilakukan dengan mengadakan unit eksperimen bersama guru.

58 Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Pengembang kurikulum kemudian menentukan bagaimana mengemas pengalaman pembelajaran yang telah ditentukan ke dalam paket kegiatan. Berdasarkan penjelasan di atas mengenai desain pengembangan Kurikulum pada lembaga pendidikan dapat dilaksanakan untuk mengantisipasi perubahan dan tuntutan zaman yang tidak dapat dihindari.

Lembaga pendidikan hendaknya merancang kurikulum pendidikan moderasi beragama untuk membentuk karakter, cara pandang dan sikap peserta didik yang menghargai perbedaan, menghargai keyakinan dan keyakinan orang lain serta toleran terhadap siapa pun di luar dirinya.

METODE PENELITIAN

  • Pendekatan Penelitian
  • Jenis Penelitian
  • Lokasi Penelitian
  • Subyek Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Tehnik Analisis Data
  • Keabsahan Data

Dalam desain penelitian terdapat empat jenis desain studi kasus, yaitu (1) desain kasus tunggal holistik, (2) desain kasus tunggal tertanam, (3) desain multi-kasus holistik, dan (4) desain multi-kasus yang terjalin. .65 Dalam Penelitian Dalam hal ini, peneliti menggunakan jenis studi intertwined multicase study. Intertwined Multi-Case Design: terdiri dari kasus-kasus yang berbeda dan unit analisis yang berbeda, seperti 1) Desain kurikulum pendidikan moderat keagamaan di SMP Muhammadiyah 06 Wuluhan dan SMP 09 Ma'arif NU Ambulu, 2) Bentuk pelaksanaan moderat keagamaan pendidikan pada lembaga pendidikan di SMP Muhammadiyah 06 Wuluhan dan SMP 09 Ma'arif NU Ambulu. Studi multi kasus ini akan mengambil data dari SMP Muhammadiyah 06 Wuluhan dan SMP 09 Ma'arif NU Ambulu, untuk dianalisis lebih lanjut. Lokasi penelitian dilakukan peneliti di dua tempat yaitu SMP 6 dengan alamat SMP Muhammadiyah 6 Jl. Ambulu No. 5, Tanjung Rejo, Wuluhan dan Jl. Kamboja No. 108, TEGALSARI, Kec. Ambulu, Kab.

Lokasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah lembaga pendidikan SMP Muhammadiayah 06 Wuluhan yang merupakan lembaga pendidikan yang mengembangkan konsep pendidikan progresif, sedangkan SMP 09 Ma'arif NU Ambulu merupakan lembaga pendidikan yang mengembangkan konsep pendidikan Islam. dikembangkan. sesuai dengan kearifan lokal. Penggunaan wawancara dilakukan peneliti dalam rangka mewawancarai berbagai pihak yang dianggap berpengetahuan tentang pendidikan moderasi beragama di SMP Muhammadiyah 06 Wuluhan dan SMP 09 Ma'arif Ambulu, yaitu :. Wawancara dengan Kepala SMP Muhammadiyah 06 Wuluhan dan SMP 09 Ma'arif Ambulu diperoleh data terkait kebijakan sekolah terkait moderasi beragama.

Wawancara dengan kepala kurikulum SMP Muhammadiyah 06 Wuluhan dan SMP 09 Ma'arif Ambulu tentang desain kurikulum. 68 Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. 69 Ibid., 320. . pendidikan moderat keagamaan, pelaksanaan pendidikan moderat keagamaan dan bentuk-bentuk pendidikan moderat keagamaan di SMP Muhammadiyah 06 Wuluhan dan SMP 09 Ma'arif Ambulu. Penarikan kesimpulan pada tahap analisis data ini membantu peneliti menarik kesimpulan sementara dan memverifikasi data yang diperoleh.

Jika data menegaskan bahwa model pengumpulan data tidak sesuai, maka data yang diperoleh dianggap valid.

PENUTUP

Implikasi Praktis

Secara praktis, penelitian model pendidikan agama moderat di lembaga pendidikan (studi kasus di SMP Muhammadiyah 06 Wuluhan dan SMP 09 Ma'arif NU Ambulu) merupakan rumusan pengembangan kurikulum pendidikan agama moderat di lembaga pendidikan. Tentunya lembaga pendidikan hendaknya melakukan kajian internal dan eksternal dengan tujuan untuk membentuk cara pandang dan sikap peserta didik yang moderat dalam menyikapi berbagai permasalahan seperti perbedaan agama, perbedaan keyakinan dan perbedaan kehidupan bermasyarakat lainnya.

Rekomendasi Penelitian

Rancangan kurikulum pendidikan moderasi beragama penting untuk membekali peserta didik dengan pemahaman keagamaan yang inklusif, toleran dan menghargai setiap perbedaan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat. Dokumentasi SMP Muhammadiyah, diambil dari website SMP Muhammadiyah 6, https://smpmuh6wuluhanjbr.sch.id/histori/. Nilai-Nilai Pendidikan Tauhid dalam Kisah Ashabul Ukhdud Surat Al-Buruj Perspektif Ibnu Katsir dan Hamka”, Jurnal Profetik, Jurnal Kajian Islam, Vol.

Faradhiba Salsabila dan Dina Julita, “Mengajarkan Literasi Media Sosial pada Remaja Melalui Metode Problem Based Learning”, Majalah AKRAB. Mengembangkan Pembelajaran Pai Berwawasan Islami dalam Wasatiyah: Upaya Membangun Sikap Siswa pada Moderasi Beragama, Jurnal At-Ta'lim, Vol. Khaerunnisa, dkk., “Upaya penanaman semangat nasionalisme dan patriotisme pada generasi muda melalui momentum peringatan hari pahlawan”, Lepa-lepa Open Journal, Volume 2 Nomor.

Meilinda, Nuly et.all, “Literasi Digital pada Remaja Digital (Sosialisasi Penggunaan Media Sosial pada Siswa SMA)”, JURNAL ABDIMAS MANDIRI Vol 4 No. Kurikulum 2013 dalam Perspektif Teori Pembelajaran Konstruktivis”, TA'LIM: Jurnal Kajian Pendidikan Islam, Vol.1 No. 1 Januari 2018, 63. Penguatan Pemahaman Kebangsaan Sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme dan Intoleransi Di Kalangan Siswa Sekolah Menengah 3 Salatiga Kotamadia Salatiga”, Jurnal.

Moderasi Islam dalam Konteks Indonesia (Kajian Tafsir Islam Moderat M. Quraish Shihab), “Majalah Al-Fanar: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Volume 1, Edisi 1, Juli 2018), 96.

Focus Group Discussion (FGD) Di SMP Muhammadiyah 6 Wuluhan

Focus Group Discussion (FGD) Di SMP 09 Ma’arif NU Ambulu

Referensi

Dokumen terkait