• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PENGELOLAAN MANGROVE BERBASIS EKOLOGI DAN EKONOMI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "MODEL PENGELOLAAN MANGROVE BERBASIS EKOLOGI DAN EKONOMI "

Copied!
83
0
0

Teks penuh

PENDAHULULAN

Gambaran Umum

Ekosistem mangrove mempunyai beberapa fungsi yang sangat kompleks, baik secara ekologis, ekonomi dan sosial. Silvofishery merupakan model pengelolaan ekosistem mangrove berdasarkan daya dukung ekologi dan kelayakan usaha.

Pengertian Mangrove

Jenis Vegetasi Mangrove

Ekosistem mangrove mempunyai beberapa fungsi ekologi yaitu: (1) fisik, (2) kimia, (3) hayati, dan (4) jasa lingkungan. Salah satu fungsi kimia-ekologis ekosistem mangrove adalah tempat berlangsungnya proses penguraian limbah mangrove.

Gambar 1. Keterkaitan ekosistem mangrove dengan ekosistem lainnya                              (Bengen, 2002)
Gambar 1. Keterkaitan ekosistem mangrove dengan ekosistem lainnya (Bengen, 2002)

Zonasi Mangrove

Keterkaitan Ekosistem Mangrove

  • Secara Fisik
  • Secara Kimiawi
  • Secara Biologis

Ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang merupakan tiga ekosistem penting di wilayah pesisir sebagai penyangga antara ekosistem darat dan laut. Selain mengganggu ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang, sedimen berlebih dan polutan yang masuk ke perairan pesisir akan menyebabkan perairan pesisir menjadi miskin plankton.

FUNGSI EKOLOGI

  • Secara Fisik
    • Melindungi Pantai
    • Mencegah Abrasi
    • Mencegah Intrusi Air Laut
    • Memerangkap Sedimen
    • Menyortir Sampah
  • Secara Kimiawi
    • Melarutkan Bahan Polutan
    • Menyediakan Unsur Hara
    • Memproses Dekomposisi
    • Penghasil Unsur Hara
  • Secara Biologis
    • Sebagai Habitat
    • Sebagai Area Transit
    • Sebagai Area Preservasi
    • Sebagai Pusat Biodiversitas
  • Jasa-Jasa Lingkungan
    • Pengatur Iklim
    • Penghasil oksigen
    • Penyerap Karbondioksida
    • Menghambat Penguapan

Salah satu fungsi fisik ekologi ekosistem mangrove adalah menampung atau memilah sampah yang berukuran besar dan panjang. Salah satu fungsi fisik ekologi ekosistem mangrove adalah sebagai jalur hijau yang mampu menampung berbagai jenis sampah berukuran besar sebelum dibuang ke laut. Salah satu potret fungsi fisik ekosistem mangrove sebagai penahan berbagai jenis sampah disajikan pada Gambar 4.

Secara ekologis, ekosistem mangrove mempunyai beberapa fungsi kimia, antara lain sebagai berikut: (1) melarutkan bahan pencemar, (2) mengolah hasil penguraian berbagai bahan, (3) menguraikan unsur hara, dan (4) menyediakan unsur hara. Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memberikan kontribusi unsur hara terbesar bagi perairan pesisir dibandingkan ekosistem pesisir lainnya yaitu ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang. Ekosistem mangrove mempunyai beberapa fungsi ekologis, salah satunya sebagai ekosistem penyimpan berbagai cadangan unsur hara.

Salah satu fungsi ekologisnya adalah ekosistem mangrove sebagai pusat keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna. Fungsi ekologi ekosistem mangrove salah satunya adalah mengatur iklim antara dua ekosistem yaitu ekosistem laut dan ekosistem darat. Ekosistem mangrove sebagai ekosistem peralihan antara ekosistem laut dan ekosistem darat berfungsi mengatur keseimbangan air tawar.

Ekosistem mangrove merupakan kawasan yang mempunyai beberapa fungsi ekologis, salah satunya sebagai penghasil oksigen.

Gambar 2. Potret aksi gelombang air laut di Desa Bontosunggu Kabupaten Takalar
Gambar 2. Potret aksi gelombang air laut di Desa Bontosunggu Kabupaten Takalar

FUNGSI EKONOMI

  • Sebagai Bahan Makanan
    • Sebagai Pengganti Beras
    • Sebagai Bahan Baku Kue
    • Sebagai Bahan Minuman
    • Sebagai Bahan Baku Sayuran…
    • Habitat Lebah
  • Sebagai Bahan Bangunan
    • Sebagai Balok dan Papan
    • Sebagai Bahan Atap Rumah
  • Sebagai Bahan Industri
    • Bahan Baku Kertas
    • Bahan Baku Obat-Obatan
    • Bahan Baku Perabot Rumah
    • Sebagai Kayu Bakar
  • Nilai Valuasi Ekonomi
    • Nilai Manfaat Langsung
    • Nilai Manfaat Tidak Langsung

Selain menjadi bahan baku makanan dan minuman, ekosistem mangrove juga masih memiliki hutan mangrove perawan di beberapa wilayah pesisir Indonesia, seperti di Kalimantan, Maluku Utara, dan Papua. Nilai manfaat langsung ekosistem mangrove merupakan nilai yang terkait dengan produksi perikanan perairan pesisir, baik budidaya maupun perikanan. Nilai ekonomi langsung dari ekosistem mangrove terletak pada bentuk produksi perikanan di perairan pesisir, berdasarkan luas ekosistem mangrove di suatu wilayah pesisir.

Kabupaten Sinjai menghasilkan Y Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa 99% peningkatan nilai manfaat ekosistem mangrove di perairan pesisir Provinsi Sinjai dapat dijelaskan oleh peningkatan luas ekosistem mangrove. Dengan demikian total nilai manfaat perairan pesisir ekosistem mangrove Kabupaten Sinjai seluas 1.359,71 ha yaitu sebesar Rp70.704.

Menurut Naamin (1990) dan Sean dkk. (2005) nilai manfaat tidak langsung ekosistem mangrove sebagai penyedia pangan organik melalui berkurangnya luas mangrove dan produksi udang menghasilkan 51,97 kg udang per tahun-1. . Oleh karena itu, alih fungsi ekosistem mangrove menjadi kolam akan mengakibatkan hilangnya manfaat ekologis secara langsung dan tidak langsung sebesar Rp.

Gambar 6. Korelasi nilai manfaat ekosistem mangrove                         dengan peningkatan perikanan perairan pesisir
Gambar 6. Korelasi nilai manfaat ekosistem mangrove dengan peningkatan perikanan perairan pesisir

FUNGSI SOSIAL

Sebagai Lokasi Sekolah Lapang

Sebagai Lokasi Penelitian

Ekosistem mangrove tidak hanya menjadi tempat sekolah lapangan atau praktek lapangan, namun juga menjadi tempat penelitian bagi mahasiswa dan lembaga swadaya masyarakat di tingkat lokal, regional, nasional bahkan internasional. Ekosistem mangrove merupakan ekosistem peralihan antara daratan dan lautan yang menempati zona pasang surut yang dikenal dengan zona intertidal, yaitu antara pasang surut terendah dan pasang tertinggi. Demikian pula fauna yang menghuni ekosistem mangrove dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu: (1) berdasarkan zonasi dan (2) berdasarkan perbedaan kandungan salinitas.

Kedua kelompok ini menghuni ekosistem mangrove sehingga dikatakan merupakan ekosistem yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati fauna yang tinggi. Kelompok spesies air payau merupakan spesies asli ekosistem pantai yang jumlahnya terbatas, hanya spesies yang mampu beradaptasi pada kondisi alam ekstrim. Sedangkan spesies air tawar dan spesies air asin merupakan spesies yang menjadikan ekosistem mangrove sebagai tempat transit kebutuhan reproduksi.

Fenomena flora dan fauna ini saling berinteraksi dalam ekosistem mangrove, baik antara flora dan fauna maupun antara flora, fauna dan lingkungan. Karakteristik tersebut menjadikan ekosistem mangrove sebagai salah satu ekosistem representatif yang dapat dijadikan lokasi sekolah.

Sebagai Tempat Pariwisata

Sebagai Perekat Bangsa

Model Silvofishery

  • Model Empang Parit
  • Model Empang Parit Disempurnakan
  • Model Komplangan

Model tambak parit sebenarnya masih sangat sederhana untuk mengintegrasikan kegiatan kehutanan dan budidaya ikan karena model ini masih mengintegrasikan kawasan mangrove sebagai kawasan konservasi dan tambak sebagai kawasan budidaya ikan serta masih diatur dengan satu pintu air. Dengan demikian, model ini masih memungkinkan terjadinya penurunan kualitas air akibat proses degradasi serasah mangrove. Selain itu, model kolam parit perbaikan lebih ramah lingkungan dibandingkan model kolam parit sederhana karena kawasan hutan mangrove sebagai kawasan konservasi dan kawasan kolam sebagai kawasan budidaya disusun dengan saluran air terpisah.

Model parit telah disempurnakan, meskipun hamparan hutan bakau sebagai kawasan lindung masih satu hamparan dengan kolam sebagai tempat budidaya ikan yang diatur oleh saluran air tersendiri. Namun demikian, masih terdapat potensi penurunan kualitas air akibat proses degradasi serasah mangrove.Model ini setidaknya telah mengalami penyempurnaan model untuk mewujudkan desain kolam silvofishing yang ramah lingkungan. Model ini melahirkan desain kolam silvofish yang ramah lingkungan, karena hamparan mangrove sebagai kawasan lindung dipisahkan dengan hamparan kolam sebagai tempat budidaya ikan.

Model Komplangan merupakan hasil penyempurnaan dari dua model lainnya, Model ini merupakan desain kolam silvofish yang ramah lingkungan, selain dasar kolam mangrove terpisah dengan dasar kolam, juga diatur dengan saluran air dengan dua pintu terpisah. Dengan demikian, proses penguraian serasah mangrove tidak akan mempengaruhi kualitas air kolam sebagai tempat budidaya, karena pintu air diatur sebagai pengatur sirkulasi air antar dua bedengan yang berbeda.

Gambar 8. Model Empang Parit Sederhana
Gambar 8. Model Empang Parit Sederhana

Model Komplangan Disempurnakan

  • Pusat Sirkulasi Air
  • Pusat Biofilter
  • Pusat Siklus Nutrien
  • Pusat Biodiversitas

Kawasan mangrove merupakan pusat sirkulasi air, yaitu apabila ditambahkan air baru maka air tersebut dialirkan ke dalam unit kolam silvofish melalui pintu tanah mangrove atau pintu A, air baru tersebut dibiarkan semalaman di dalam tanah mangrove. daerah tersebut untuk menjalani proses pengobatan. Penggantian air baru secara rutin dalam pengelolaan kolam silvofish dengan menjadikan kawasan mangrove sebagai pusat sirkulasi air pada unit kolam merupakan model pengelolaan air yang ramah lingkungan. Selain itu, dengan menjadikan kawasan mangrove sebagai pusat sirkulasi pada unit kolam dapat menciptakan keseimbangan unsur hara.

Selain sebagai pusat sirkulasi air pada unit kolam silvofishing, kawasan mangrove juga menjadikan kawasan mangrove sebagai pusat biofilter air. Setelah air bermalam di kawasan mangrove dan diperkirakan sudah benar-benar mengendap, selanjutnya akan mengalir ke kawasan bendungan. Sebaliknya, ketika air di area bendungan diganti, air tersebut dikeluarkan dari area mangrove dan kemudian dialirkan ke area bendungan.

Zona mangrove pada tambak gegat berperan sebagai pusat sirkulasi dan pusat biofilter, serta berfungsi sebagai pusat siklus unsur hara. Ketika air baru ditambahkan pada unit tambak, air dialirkan ke kawasan mangrove melalui pintu A seperti pada Gambar 11.

Analisis Ekologi dan Ekonomi

  • Aspek Ekologi
  • Aspek Ekonomi

Hasil analisis produksi serasah tambak perak dengan perbandingan 60% mangrove dan 40% tambak dengan produksi serasah mangrove sebesar 16,185 kg ha-1 tahun-1 (Sribianti et al., 2017). Sedangkan hasil analisis kualitas sampah unsur nitrogen dan fosfor menunjukkan kebutuhan unsur hara lebih kecil, yaitu dengan perbandingan 60%. Hasil analisis pH air di seluruh lokasi pengamatan menunjukkan korelasi negatif terhadap rasio mangrove, semakin besar rasio mangrove maka nilai pH air semakin rendah.

Hasil analisis kejernihan air menunjukkan terdapat korelasi positif antara rasio mangrove dengan nilai oksigen, yaitu semakin besar rasio mangrove maka nilai oksigen juga semakin besar. Hasil analisis amonia dan fosfor menunjukkan adanya korelasi positif antara rasio mangrove dengan nilai kedua parameter tersebut. Hasil analisa penjualan budidaya paruh waktu jauh lebih besar pada kolam silvofish dengan rasio 60% mangrove berbanding 40% yaitu Rp ha-1 tahun-1.

Hasil analisis nilai valuasi ekonomi ekosistem mangrove yang 100% lahan mangrove adalah Rp ha-1 tahun-1, kemudian nilai valuasi ekonomi ekosistem mangrove pada tambak silvofish adalah 60%. Nilai tersebut merupakan hasil analisis fungsi ekologi keberadaan ekosistem mangrove di perairan pantai.

Optimasi Ekologi dan Ekonomi

  • Tujuan
  • Kriteria
  • Subkriteria
  • Prioritas Alternatif

Laporan Hasil Penelitian Model Pengelolaan Hutan Mangrove Berdasarkan Daya Dukung Lingkungan dan Kelayakan Usaha (Penelitian Produk Terapan Tahun I), Desa Samataring, Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan. Laporan hasil penelitian model pengelolaan hutan mangrove berdasarkan daya dukung lingkungan dan kelayakan usaha (Penelitian Strategi Kelembagaan Nasional Tahun II), Desa Samataring, Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan. Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Kecamatan Percut Sel Tuan Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara. Jurnal Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Laut.

Penulis menyelesaikan pendidikannya di : Sekolah Dasar pada tahun 1982 di SD Nomor 121 Ereinung, Desa Karassing, Kecamatan Herlang, Sekolah Menengah Pertama pada tahun 1985 di SMP Batuasang yang berafiliasi dengan SMP Negeri Gunturu, Kecamatan Herlang, Sekolah Menengah Atas pada tahun 1988 di SPP Negeri Bone. -SUPM , jurusan Budidaya Perairan Air Payau, S1 dari tahun 1992-1997 di Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan Fakultas Perikanan Universitas Cokroaminoto Makassar dengan bantuan beasiswa untuk meningkatkan prestasi akademik dengan judul skripsi Pengaruh Tingkat Salinitas Terhadap Pertumbuhan dan Survival Rate Pasca Udang Windu, Magister tahun program studi Manajemen Sumber Daya Pesisir dan Laut Universitas Hasanuddin Makassar dengan beasiswa dari Dirjen Dikti Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan judul Kajian Tesis Aspek Kebijakan Ekosistem Mangrove Manajemen di Kabupaten Bulukumba, dan PhD pada tahun 2008-2013 pada Program Studi Manajemen Sumber Daya Pesisir dan Laut Institut Pertanian Bogor, dengan bantuan beasiswa dari Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan judul Disertasi Optimalisasi Pengelolaan Silvofishery di Wilayah Perairan Pesisir Kabupaten Sinjai. Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar pada tahun 1983 di SD Negeri Komplek Sambung Jawa Makassar, SMP pada tahun 1986 di SMP Perguruan Tinggi Islam Datumuseng Makassar, SMA pada tahun 1989 di SMA Negeri 3 Makassar. Pada tahun 1995 mendapatkan Beasiswa Berprestasi (URGE) dari Departemen Pendidikan Nasional untuk melanjutkan pendidikan sarjana pada Program Studi Magister Ilmu Kehutanan Universitas Mulawarman Samarinda dan menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1998 dengan judul Tesis Komposisi Floristik Hutan Mangrove Jenis di Kecamatan Malili Kabupaten Luwu Provinsi Sulawesi Selatan.

Pada tahun 2003 melanjutkan studi S1 ​​di Program Studi Ilmu Pertanian Universitas Hasanuddin Makassar dengan bantuan beasiswa Bantuan Pendidikan Pascasarjana (BPPS) dari Departemen Pendidikan Nasional. Penulis mengawali karir sebagai dosen pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2012 di Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako Palu Sulawesi Tengah, dan pada tahun 2013 dimutasi untuk bekerja sebagai guru besar madya di Kopertis Wilayah IX Sulawesi hingga sekarang dengan jabatan fungsional sebagai profesor rekanan.

Tabel 5. Kontribusi Masing-Masing Subkriteria
Tabel 5. Kontribusi Masing-Masing Subkriteria

Gambar

Gambar 1. Keterkaitan ekosistem mangrove dengan ekosistem lainnya                              (Bengen, 2002)
Gambar 2. Potret aksi gelombang air laut di Desa Bontosunggu Kabupaten Takalar
Gambar 2 menunjukkan kondisi  jika tidak ada upaya untuk mencegah baik  secara  alami  maupun  secara  buatan
Gambar 4. Potret ekosistem mangrove sebagai penahan sampah                                     sebelum lepas ke laut
+7

Referensi

Dokumen terkait

Shahin, M.A., Jaksa, M.B., and Maier, H.R.2001, Artificial Neural Network Application IN Geotechnical Engineering, Australian Geomechanics, pp.49-62 Shahin, M.A., Jaksa, M.B., and