• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODEL PROYEKSI KEBUTUHAN BIDAN UNTUK ... - SIMAKIP

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "MODEL PROYEKSI KEBUTUHAN BIDAN UNTUK ... - SIMAKIP"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Urgensi Penelitian

KAJIAN PUSTAKA

Sumber Daya Manusia Kesehatan: Bidan

International Confederation of Midwives (ICM adalah federasi dari organisasiorganisasi bidan di seluruh dunia) tahun 2010 (direvisi tahun 2013) adalah: A midwife is a person who has successfully completed a midwifery training program duly recognized in the country in which it is located and which is based on the ICM Essential Competencies for Basic Midwifery Practice and the framework of the ICM Global Standards for Midwifery Education; who has acquired the required qualifications to be registered and/or legally authorized to practice midwifery and use the title of 'midwife'; and who demonstrates competence in the practice of obstetrics. The midwife is recognized as a responsible and accountable professional who works with women to provide the necessary support, care and advice during the pregnancy, childbirth and postpartum period, perform deliveries under the midwife's own responsibility and provide care to the newborn and the child. This care includes preventive measures, promoting a normal birth, detecting complications in mother and child, obtaining medical care or other appropriate assistance and implementing emergency measures.

The midwife has an important task in health guidance and education, not only for the woman, but also within the family and the community. 15 Competency 3: Midwives provide high quality antenatal care to maximize health during pregnancy and this includes early detection and treatment or referral of selected complications. SGA is: "an accredited health professional – such as a midwife, doctor or nurse – who has been trained and trained to proficiency in the skills necessary to manage normal (uncomplicated) pregnancies, childbirth and the immediate postnatal period, and in the identification, management and referral of complications in women and newborns." (WHO, 2004).

Standar Kementerian Kesehatan untuk Pelayanan Antenatal 8

Kunjungan ibu hamil ke bidan atau dokter sebanyak 16 kali, setelah merasa hamil, untuk mendapatkan pelayanan/pelayanan antenatal. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara normal. Sama seperti di atas, ditambah tindakan pencegahan preeklampsia khusus (tanyakan kepada ibu tentang gejala preeklampsia, pantau tekanan darah, kaji adanya edema, periksa kehamilan ganda).

Kunjungan Ketiga/K3 antara minggu 28-36: sama seperti di atas, ditambah palpasi perut untuk mengetahui adanya kehamilan ganda. Metode ini untuk mensimulasikan proyeksi suplai HRK ke depan atau tahun yang akan datang berdasarkan data suplai HRK tahun-tahun sebelumnya. Asumsi yang digunakan adalah bahwa di setiap negara terjadi pertumbuhan terus menerus dalam penyediaan tenaga kesehatan dengan laju pertumbuhan yang konstan.

19 Metode ini mirip dengan 'metode berbasis wilayah' yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan, yang menggunakan rasio tenaga kesehatan, tetapi tidak per 100.000 penduduk, tetapi rasio minimum tenaga kesehatan (= dokter, perawat dan bidan) per 1000 penduduk berdasarkan . SDG Index Tahun 2006, untuk memenuhi target 80% persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter kandungan terampil = dokter, perawat dan bidan), WHO menetapkan rasio SDMK (=dokter, perawat dan bidan) minimal 2,3 per 1000 penduduk. Metode indeks SDG gabungan: persentase dari 12 indikator pelacakan SDG yang dicapai sebagai fungsi dari kepadatan agregat dokter, perawat, dan bidan per 1000 penduduk.

Program atau layanan kesehatan yang ditawarkan kepada penduduk juga disesuaikan dengan masalah kesehatan yang dihadapi negara tersebut. Metode ketiga ini menghitung kebutuhan SDMK berdasarkan kebutuhan SDMK terhadap program atau pelayanan kesehatan yang diberikan kepada penduduk. Tujuan dari program ini adalah untuk memfasilitasi akses ibu hamil terhadap pelayanan antenatal, persalinan dan nifas.

Permintaan tenaga kerja merupakan fungsi dari penawaran tenaga kerja yang diharapkan, kebijakan pemerintah untuk pendanaan pelatihan SDMK, pendapatan per per kapita, jumlah pengeluaran kesehatan per penduduk dan penduduk yang berusia lebih dari 65 tahun.

Review Jurnal

Dasar penghitungan kebutuhan adalah menghitung waktu yang dibutuhkan setiap tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan.

METODE PENELITIAN

  • Desain Penelitian
  • Tempat dan Waktu Penelitian
  • Informan dan Objek Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data
    • Jenis Data Penelitian
    • Cara Pengambilan Data
    • Instrumen Penelitian
  • Teknik Analisis Data
  • Bagan Alir Penelitian

Formulir Sampling Kerja akan digunakan untuk mengumpulkan data tentang durasi (menit) pemberian perawatan prenatal kepada ibu hamil. Kementerian Kesehatan telah menetapkan standar pelayanan minimal bidang kesehatan untuk pelayanan kesehatan ibu hamil (Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2016). Di Belanda, paket pelayanan kehamilan untuk satu ibu hamil membutuhkan waktu rata-rata 277,5 menit atau 4,6 jam untuk 11 kunjungan atau rata-rata waktu per kunjungan 25,3 menit (Wiegers TA, et al, 2014).

Waktu yang dibutuhkan seorang dokter kandungan untuk menyusui satu pak ibu hamil adalah 147 menit. Dalam satu hari kerja, bidan bisa mengantarkan rata-rata 2,5 paket pemeriksaan kehamilan, atau sama dengan memberikan pemeriksaan kehamilan kepada 10 ibu hamil. Atau dapat juga menggunakan rumus dari UNFPA (UNFPA, UNHCR dan WHO (1999) untuk menghitung taksiran jumlah ibu hamil.

Pada penelitian ini rumus 2 digunakan untuk menghitung perkiraan jumlah ibu hamil di Indonesia tahun 2017 sampai dengan tahun 2020. Tabel 3 dan 4 berikut merupakan hasil perhitungan perkiraan jumlah ibu hamil di Indonesia dan provinsi. Untuk membuat model proyeksi kebutuhan bidan dalam pelayanan antenatal, diperlukan proyeksi jumlah ibu hamil pada tahun n (Σ ibu hamil thn).

Angka rata-rata ini kami gunakan untuk menghitung proyeksi jumlah ibu hamil pada tahap kedua, yang didasarkan pada proyeksi jumlah ibu hamil pada tahun 2017. 36 Perhitungan proyeksi jumlah ibu hamil tahun 2020 dengan menggunakan Formula 6 memberikan hasil yang hampir sama dengan Tabel 2, selisihnya hanya sedikit (0,0011%). Kemudian Model Proyeksi Kebutuhan Bidan Terhadap Pelayanan Antenatal Tahun ke-n adalah mengalikan Persentase WKE Bidan terhadap Pelayanan Antenatal (0,21% atau 0,0021) dengan Proyeksi Jumlah Ibu Hamil Tahun ke-n.

Total waktu yang dibutuhkan bidan untuk memberikan paket pelayanan pemeriksaan kehamilan untuk 1 (satu) ibu hamil adalah 147 menit.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Lama Waktu Pelayanan Antenatal oleh Bidan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa “rata-rata waktu persalinan yang dilakukan bidan” pada kunjungan pertama (K1) adalah 30,6 menit (Tabel 1). Selama K1, bidan harus mencatat data ibu hamil secara lengkap, yang meliputi data karakteristik ibu hamil, riwayat kesehatan dan kehamilan sebelumnya. Pada kunjungan ke 4 (K4) “rata-rata lama asuhan kebidanan” lebih lama dibandingkan saat K1 yaitu 34,1 menit.

Jumlah waktu yang diperlukan seorang bidan untuk memberikan Paket Pelayanan Antenatal kepada 1 (satu) ibu hamil yaitu pelayanan antenatal dari K1 sampai K4 kepada satu orang ibu hamil adalah menit). Jika dijumlahkan rata-rata waktu yang dibutuhkan bidan untuk mempersiapkan pelayanan dan mendaftar/melaporkan pelayanan persalinan yang masing-masing 20% ​​dari total waktu paket antenatal, maka dibutuhkan waktu 42 menit. Yang berbeda adalah standar jumlah kunjungan, Belanda memiliki 11 kunjungan ibu hamil, sedangkan Indonesia masih memiliki standar 4 kunjungan ibu hamil.

Pemerintah Indonesia seharusnya mengubah standar pelayanan minimal pelayanan antenatal menjadi 8 kunjungan atau seperti di Belanda 11 kunjungan. Untuk mempermudah mendeteksi risiko yang dapat menyebabkan kematian atau sakit pada ibu hamil dan janin. Langkah selanjutnya adalah menghitung persentase Bidan WKE untuk Paket Pelayanan Antenatal (=pelayanan antenatal untuk 1 ibu hamil selama masa kehamilannya yaitu dari kunjungan ke 1 sampai dengan kunjungan ke 4) dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

Jika bidan “hanya bertugas memberikan Paket Pelayanan Antenatal” tanpa dibebani pekerjaan lain, maka 1 (satu) orang bidan dapat memberikan Paket Pelayanan Antenatal kepada sebanyak-banyaknya 474 ibu hamil dalam setahun. Namun jika pemerintah Indonesia ingin mengubah kebijakannya sesuai rekomendasi WHO pada tahun 2016 yaitu minimal 8 kali kunjungan, maka dalam 1 tahun bidan hanya dapat memberikan pelayanan antenatal kepada 237 ibu hamil. Di lapangan ditemukan sebagian ibu hamil berinisiatif melakukan kunjungan antenatal sebulan sekali pada trimester pertama dan kedua dan dua minggu sekali pada trimester ketiga.

Nilai koefisien ini berarti jumlah ibu hamil 1,1 kali atau 1,15 kali lebih banyak dari jumlah kelahiran hidup atau bayi lahir hidup. Hasil perhitungan di atas menunjukkan bahwa angka pertumbuhan ibu hamil (= 1.000 ibu hamil) dari tahun 2017 ke tahun 2018 adalah negatif (-0,004), artinya proyeksi jumlah ibu hamil pada tahun 2018 adalah 0,004 lebih sedikit dari tahun 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lama waktu bidan memberikan pelayanan antenatal adalah 26,3 menit untuk setiap kunjungan.

Tabel 1. Rata-rata Lama Waktu Pelayanan Antenatal  Trimester  Kunjungan   Rata-rata Lama Waktu
Tabel 1. Rata-rata Lama Waktu Pelayanan Antenatal Trimester Kunjungan Rata-rata Lama Waktu

Prosentase WKE Bidan untuk Paket Pelayanan Antenatal 20

Jumlah Proyeksi Ibu Hamil di Indonesia

Rumus ini digunakan jika data perkiraan jumlah kelahiran tidak tersedia, yang tersedia hanya data angka kelahiran kasar (CBR). Kedua, selisih ini kemudian dibagi 5 tahun, maka akan diperoleh nilai rata-rata penurunan CBR setiap tahunnya. CBRn : CBR tahun yang dihitung dalam studi, 2017 s/d 2019 ̅ : CBR rata-rata provinsi yang diperoleh dari hasil perhitungan.

Provinsi Kalimantan Utara yang beribukotakan Tanjung Selor tidak dimasukkan karena provinsi ini baru diresmikan pada 25 Oktober 2012, sedangkan Sensus Penduduk dilakukan pada tahun 2010. Pada Tabel 2 dan Grafik 1 terlihat bahwa provinsi dengan CBR terendah pada tahun 2015 adalah DI Yogyakarta (14,70), dan provinsi dengan CBR tertinggi adalah Nusa Tenggara Timur (26,20). Proyeksi CBR tahun 2020 juga memiliki pola yang sama seperti tahun 2015, provinsi DI Yogyakarta (13,90) terendah dan Nusa Tenggara Timur (25,40) tertinggi.

Provinsi yang mengalami penurunan CBR terbesar dari tahun 2015 hingga 2020 adalah Kepulauan Riau (16,9%), sedangkan yang paling kecil adalah Nusa Tenggara Timur (3,05%). Kepulauan Riau DKI Jakarta Jawa Barat Banten Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara. Wanita hamil dapat mengalami keguguran di awal kehamilan, atau janin dapat mati saat rahim sudah cukup besar atau saat lahir.

Dengan demikian, data penduduk tahun 2011 ke tahun-tahun berikutnya merupakan data proyeksi. Jumlah penduduk di Indonesia cenderung bertambah, dimana laju pertumbuhan dipengaruhi oleh Laju Pertumbuhan Penduduk (PGR). Variabel yang mempengaruhi LPP adalah jumlah kelahiran, kematian dan migrasi, baik keluar (emigrasi) maupun masuk (imigrasi) suatu wilayah setiap tahunnya.

Hal ini dikarenakan persentase penurunan Laju Pertambahan Penduduk (LPP) lebih kecil dibandingkan dengan persentase penurunan CBR.

Grafik 1. Perbandingan CBR Tahun 2015 dan 2020 di 33 Propinsi
Grafik 1. Perbandingan CBR Tahun 2015 dan 2020 di 33 Propinsi

Model Proyeksi Kebutuhan Bidan untuk Pelayanan Antenatal 28

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan model proyeksi kebutuhan kebidanan untuk pelayanan antenatal di atas adalah Pertama, pemerintah juga harus memperhitungkan kebutuhan bidan untuk pelayanan lain sesuai dengan tugas pokok bidan. Kedua, kondisi geografis wilayah, jika suatu desa terletak jauh dari desa lain, maka tidak dapat digabungkan. Dan terakhir, kebijakan terkait pelayanan kesehatan dan ketenagakerjaan dibuat oleh pemerintah.

Ketika pemerintah ingin membuat rencana tenaga kesehatan, yaitu perkiraan kebutuhan tenaga kesehatan, kelompok sasaran harus dimasukkan dalam perkiraan tersebut. Jadwal ini disusun secara kronologis berdasarkan tahapan penelitian yang dilakukan mulai dari tahap penyusunan proposal hingga tahap penyusunan laporan. Diunduh dari http://www.anggaran.depkeu.go.id/content/Publication/seminar%20dinding%20kes. kesehatan/Paparan%20Anggaran%20Kesehatan%20Rev.pdf.

Diambil dari: http://internationalmidwives.org/who-we-are/policy-and-practice/icm-international-definition-of-the-midwife/. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 97 Tahun 2014 tentang pelayanan kesehatan sebelum hamil, kehamilan, persalinan dan masa nifas, penyediaan pelayanan kontrasepsi dan pelayanan kesehatan seksual. Jakarta: Kementerian Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2015) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 33 tentang pedoman penyusunan perencanaan kebutuhan di bidang kesehatan, 2025, hal.

8 Bertanggung jawab atas keseluruhan proses penelitian mulai dari konsepsi dan penyusunan proposal, pengumpulan dan pengolahan data serta penyusunan laporan penelitian.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

BIAYA & JADWAL PENELITIAN

Biaya Penelitian

Jadwal Penelitian

Gambar

Gambar 1.1. Angka Kematian Ibu Tahun 1991-2015 di Indonesia   (Hasil SDKI Tahun 1991-2012 dan SUPAS Tahun 2015)
Tabel 1. Rata-rata Lama Waktu Pelayanan Antenatal  Trimester  Kunjungan   Rata-rata Lama Waktu
Grafik 1. Perbandingan CBR Tahun 2015 dan 2020 di 33 Propinsi
Tabel 3. Jumlah Penduduk, CBR, Jumlah Kelahiran dan Jumlah Ibu Hamil                          di Indonesia Tahun 2017-2020
+3

Referensi

Dokumen terkait

Analysis using SEM (AMOS) shows several findings: compensation fairness affects psychological meaningfulness; fairness compensation has no effect on