Modul Praktikum Minggu 8
Simulasi Perkiraan Dampak Penyaradan
Nama : Fathimia Luthfi Ayu NIM : E1401221133
Kelas : Pemanenan Hutan MNH Senin siang
A. Tujuan
1. Mengetahui cara menghitung keterbukaan areal akibat pembuatan jalan sarad
2. Mengetahui cara menghitung kerusakan vegetasi akibat pembuatan jalan sarad dan kegiatan penyaradan kayu
3. Mengetahui cara mengukur kepadatan tanah pada jalan sarad atau field test 4. Landasan Teoritis Praktis
Hutan merupakan suatu luasan lahan tertentu yang terdapat asosisasi masyarakat tumbuh
tumbuhan yang didominasi oleh pepohonan, faktor biotik dan faktor abiotik yang merupakan satu kesatuan ekologis yang tidak dapat dipisahkan sehingga membentuk suatu ekosistem yang dapat membentuk iklim mikro, dan kondisi ekologi yang spesifik. Hutan sangat berperan dalam kehidupan, oleh sebab itu pengelolaan hutan harus selalu diperbaiki agar tetap lestari dan menghasilkan produk bernilai ekonomi tinggi (Hasanah 2016). Kegiatan pemanenan hutan adalah kegiatan yang dilakukan agar potensi pohon dapat dikeluarkan dari dalam hutan kemudian dimanfaatkan secara optimal. Menurut Prakosa (2022), tahapan pemanenan hutan terdiri dari skidding (penyaradan pohon), dan bunching (hasil skidding). Penyaradan kayu merupakan kegiatan pemindahan kayu dari tempat dimana pohon ditebang dan telah mengalami pemotongan batang tingkat pertama ke tempat pengumpulan kayu melalui jalan sarad.
Saat proses penyaradan, dibutuhkan jalur sarad agar proses penyaradan berlangsung secara efektif. Menurut Angrianto dan Ruslim (2014), pembukaan jalan sarad yang dibuat tergantung jumlah dan sebaran pohon pada setiap petak tebangan. Jalan sarad dibuat bersamaan dengan pelaksanaan penebangan yang umumnya sejajar dengan arah rebah pohon yang akan ditebang. Jalan sarad ini juga digunakan sebagai jalur penyelamatan bagi operator tebangan. Salah satu hal yang perlu diperhatikan sebelum pembuatan jalan sarad adalah infiltrasi air atau kandungan air dalam tanah.
5. Data Praktikum
1. Data Infiltrasi Air ke dalam Tanah di Sekitar Jalan Sarad
No
Waktu Pengamattan
(menit)
Tinggi Permukaan Air
Awal (cm)
Tinggi Permukaan Air
Akhir (cm)
Beda Tinggi Permukaan Air Awal
dan Akhir (cm)
Laju Infiltrasi Air
(cm/menit)
1 5 menit pertama 23 4 19 3.8
2 10 menit pertama 13 6.2 6.8 0.68
3 15 menit pertama 13 11.2 1.8 0.12
4 20 menit pertama 33 2.5 30.5 1.525
5 25 menit pertama 25 2.7 22.3 0.892
6 30 menit pertama 13 10.8 2.2 0.07333
7 35 menit pertama 13 9 4 0.11429
8 40 menit pertama 46.6 5.4 41.2 1.03
9 45 menit pertama 27 24.7 2.3 0.05111
10 50 menit pertama 28.2 26.1 2.1 0.042
11 55 menit pertama 27.9 26 1.9 0.03455
12 60 menit pertama 28.2 27 1.2 0.02
2. Data Infiltrasi Air ke dalam Tanah Areal Hutan Belum Terganggu
No
Waktu Pengamattan
(menit)
Tinggi Permukaan Air
Awal (cm)
Tinggi Permukaan Air
Akhir (cm)
Beda Tinggi Permukaan Air Awal
dan Akhir (cm)
Laju Infiltrasi Air
(cm/menit)
1 5 menit pertama 10.5 0 10.5 2.1
2 10 menit pertama 13 0 13 1.3
3 15 menit pertama 10 7 3 0.2
4 20 menit pertama 8 0 8 0.4
5 25 menit pertama 9 8 1 0.04
6 30 menit pertama 10 5 5 0.16667
7 35 menit pertama 11 0 11 0.31429
8 40 menit pertama 12 0 12 0.3
9 45 menit pertama 27 25.1 1.9 0.04222
10 50 menit pertama 28.2 26.5 1.7 0.034
11 55 menit pertama 27.9 26.3 1.6 0.02909
12 60 menit pertama 28.2 26.7 1.5 0.023
3. Diagram Laju Infiltrasi Air di Jalan Sarad
Gambar 1. Diagram Laju Infiltrasi Air di Jalan Sarad
4. Diagram Laju Infiltrasi Air di Areal Hutan Belum Terganggu
Gambar 2. Diagram Laju Infiltrasi Air di Areal Hutan Belum Terganggu
5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
Diagram Laju Infiltrasi di Areal Hutan Belum Terganggu
Waktu pengukuran (menit)
Laju Infiltrasi (cm/menit)
5. Data Infiltrasi Air ke dalam Tanah di Sekitar Jalan Sarad dan Areal Hutan Belum Terganggu
Laju Infiltrasi Air (cm/menit) di Jalan Sarad
Laju Infiltrasi Air (cm/menit) di Bawah Tegakan
3.8 2.1
0.68 1.3
0.12 0.2
1.525 0.4
0.892 0.04
0.07333 0.16667
0.11429 0.31429
1.03 0.3
0.05111 0.04222
0.042 0.034
0.03455 0.02909
0.02 0.025
6. Diagram Perbandingan Infiltrasi Air di Jalan Sarad dan Areal Hutan Belum Terganggu
Gambar 3. Diagram Perbandingan Infiltrasi Air di Jalan Sarad dan Areal Hutan Belum Terganggu
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Perbandingan Infiltrasi Air pada Jalan Sarad dan Hutan Belum Terganggu
Infiltrasi jalan sarad Infiltrasi Hutan Belum Terganggu
7. Luas Keterbukaan Areal Akibat Penyaradan pada Pemanenan Kayu dengan Sistem TPTI
No Plot Intensitas Penebangan (ph/ha)
Luas Keterbukaan Areal (m²)
Persen Keterbukaan Areal (%)
1 4 730.62 7.31
2 6 1225 12.25
3 5 796.87 7.97
4 6 1299.37 12.99
5 4 634.37 6.34
6 8 1496.75 14.97
7 10 1890.62 18.91
8 15 2106.56 21.07
9 9 2529.9 25.30
10 17 3350.2 33.50
Rata-
rata 8.4 1606.026 16.06
8. Data Regresi
Regresi Keterangan
R Square 0.81447577
Adjusted R Square 0.791285242
Persamaan Regresi y = 1.7481x + 1.3762
9. Grafik Hubungan Intensitas Pemanenan & Keterbukaan Areal Akibat Penyaradan
Gambar 4. Grafik Hubungan Intensitas Pemanenan & Keterbukaan Areal Akibat Penyaradan
6. Pembahasan
Infiltrasi adalah proses aliran air masuk ke dalam tanah yang umumnya berasal dari curah hujan, sedangkan laju infiltrasi merupakan jumlah air yang masuk ke dalam tanah per satuan waktu. (Widiasmadi, 2019). Mengukur infiltrasi tanah penting dilakukan sebelum penentuan jalan sarad, karena menurut Angrianto dan Ruslim (2014), jalan sarad digunakan sebagai jalur penyelamatan bagi operator tebangan yang berarti laju infiltrasi yang dihasilkan tidak besar.
Metode pengukuran laju infiltrasi dilakukan dengan alat dengan Double Ring Infiltrometer (Widiasmadi, 2020). Double Ring Infiltrometer dimasukkan kedalam tanah sedalam 10 cm yang telah dihilangkan vegetasi yang terdapat di atas permukaan tanah. Kemudian dimasukkan air kedalam infiltrometer sedalam 30 cm dan mencatat setiap perubahan atau penurunan muka air dalam pipa tersebut pada selang waktu tertentu hingga mencapai keadaan konstan atau dikenal dengan laju infiltrasi akhir.
Berdasarkan data hasil praktikum, dapat dilihat pada Gambar 4. Grafik Hubungan Intensitas Pemanenan & Keterbukaan Areal Akibat Penyaradan, didapatkan semakin tinggi luas keterbukaan areal maka nilai predicted Y semakin tinggi, hal tersebut juga diakibatkan dari intensitas pemanenan (pohon/Ha). Semakin tinggi intensitas pemanenan maka semakin tinggi pula persen keterbukaan areal (%). Terbukti adanya peningkatan persen keterbukaan areal (%) seiring dengan peningkatan dari intensitas pemanenan (pohon/Ha) pada Gambar 1. Menurut Budiaman et al. (2018), rendah nya intensitas penebangan pohon dapat menciptakan areal hutan yang terbuka sebesar kurang lebih dua kali keterbukaan tajuk pohon yang ditebang. Peningkatan luas areal hutan yang terbuka akibat penebangan ini disebabkan oleh efek domino dari pohon yang ditebang.
Gambar 3. Menunjukkan diagram perbandingan antara laju infiltrasi air di jalan sarad dan di hutan alam belum terganggu. laju infiltrasi hutan alam belum terganggu lebih besar daripada laju infiltasi pada jalan sarad. Hal ditunjukkan dengan perbedaan nilai persamaan keduanya dan bentuk grafik keduanya. Laju infiltrasi dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya kepadatan tanah. Menurut Endarwati (2017), semakin tinggi kepadatan suatu tanah makin tinggi berat isinya, yang berarti makin sulit meneruskan air. Selain itu juga tanah di bawah alat sarad tentu akan mengalami kerusakan yang mempengaruhi struktur dan kepadatan tanah. (Suhartana dan Yuniawati 2015).
7. Penutup
Keterbukaan lahan akibat pembuatan jalan sarad dipengaruhi oleh ukuran jalan sarad yang dibuat dan banyaknya pohon yang dikeluarkan. Kerusakan vegetasi dapat disebabkan oleh kegiatan penyaradan seperti hilangnya semai dan pancang akibat pembukaan jalan dan luka pada tiang atau pohon yang terkena alat sarad dan tertimpa pohon yang lain. Persen keterbukaan areal nilainya akan semakin tinggi seiring peningkatan intensitas pemanenan hutan. Pemadatan tanah disebabkan aktivitas penyaradan kayu akibat besarnya tekanan pada permukaan tanah secara intensif. Laju infiltrasi semakin melambat dan konstan seiring menambahnya intensitas pemanenan. Sehingga aktivitas penyaradan sebanding dengan kerusakan vegetasi yang ditimbulkan.
Proses penyaradan memiliki dampak negatif yaitu adanya keterbukaan areal akibat pembangunan jalan sarad dan pemadatan tanah pada areal jalan sarad. Dengan demikian, diperlukan perencanaan untuk meminimalisasi dampak tersebut. Perencanaan yang perlu dilakukan untuk meminimalisasi dampak dari penyiaran yaitu perencanaan pengumpulan kayu (TPn), perencanaan jaringan jalan, perencanaan jalan sarad, dan arah rebah.
8. Daftar Pustaka
Anggriyanto, R., & Ruslim, Y. (2013). Pembukaan Wilayah Hutan dan Kerusakan Tegakan Akibat Produksi Jenis Merbau (Intsia Spp.) di Iuphhk PT Megapura Mambramo Bangun Papua Barat. Agrifor: Jurnal Ilmu Pertanian dan Kehutanan, 11(2), 96-109.
Budiaman, A., & Sektiaji, A. S. KETERBUKAAN AREAL HUTAN AKIBAT PENEBANGAN INTENSITAS RENDAH DI SALAH SATU IUPHHK-HA DI PAPUA. Jurnal Hutan Tropis, 6(3), 201-210.
Endarwati MA, Wicaksono KS, Suprayogo D. 2017. Biodiversitas vegetasi dan fungsi ekosistem: hubungan antara kerapatan, keragaman vegetasi, dan infiltrasi tanah pada inceptisol lereng Gunung Kawi, Malang. Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan. 4(2): 577- 588.
Hasanah. 2016. Produktivitas Dan Analisis Biaya Rangkaian Penebangan dan Penyaradan Menggunakan Sampan Darat Di PT. Mitra Kembang Selaras Provinsi Riau [Skripsi]. IPB.
Bogor.
Prakosa GG. 2022. Pemanenan Hasil Hutan. Malang: UMMPressWidiasmadi, N. (2019).
Peningkatan Laju Infiltrasi Dan Kesuburan Lahan Dengan Metode Biosoildam Pada Lapisan Tanah Keras Dan Tandus. In Prosiding Seminar Sains Nasional Dan Teknologi. 1 (1) : 43-48
Suhartana S, Yuniawati, Y. 2015. Peningkatan produktivitas penyaradan kayu Acacia crassicarpa melalui penerapan teknik ramah lingkungan. Jurnal Hutan Tropis. 3(2): 116-123.
Widiasmadi, N. (2020, December). Analisa Elektrolit Konduktifitas & Keasaman Tanah Secara Real Time Menggunakan Smart Biosoildam. In Prosiding Seminar Nasional NCIET (Vol.
1, No. 1, pp. 11-24).