• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUKU MODUL TEKNIS PENYUSUNAN KAJIAN RISIKO BENCANA CUACA EKTRIM

N/A
N/A
Wiedad Diya Ulhaq

Academic year: 2023

Membagikan "BUKU MODUL TEKNIS PENYUSUNAN KAJIAN RISIKO BENCANA CUACA EKTRIM"

Copied!
96
0
0

Teks penuh

Petunjuk teknis ini memuat tahapan yang lebih rinci dalam penyusunan dokumen pengkajian risiko bencana pada kejadian cuaca ekstrem dengan mempertimbangkan aspek ancaman, kerentanan, kapasitas, dan risiko bencana. Disadari bahwa modul teknis penyusunan kajian risiko kondisi cuaca ekstrem ini masih banyak kekurangannya, sehingga saran dan masukan sangat diharapkan untuk kesempurnaannya.

Latar Belakang

Tujuan dan Maksud Kegiatan

Mendukung Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten/Kota dalam upaya penyusunan kajian risiko bencana sebagai bahan rujukan kebijakan terkait penanggulangan bencana. Secara khusus, pedoman ini menjelaskan berbagai pengertian dan langkah-langkah dalam perhitungan berbagai indeks penilaian risiko bencana secara kuantitatif dan kualitatif, penyusunan penilaian risiko bencana dalam bentuk dokumen dan peta penilaian risiko bencana.

Dasar Hukum

Pengantar Pengkajian Risiko

Metode yang ditunjukkan telah ditetapkan oleh BNPB sebagai dasar penilaian risiko bencana di suatu daerah melalui Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Penilaian Risiko Bencana dengan sedikit penyesuaian dalam penilaian kapasitas. Mampu menghitung jumlah penduduk yang terkena bencana (dalam jiwa); menghitung nilai kerugian harta benda (dalam satuan rupiah) dan kerusakan lingkungan hidup (dalam satuan hektar);

Definisi

Kajian risiko bencana merupakan mekanisme terpadu untuk memberikan gambaran menyeluruh mengenai risiko bencana di wilayah dengan menganalisis tingkat ancaman, tingkat kerugian, dan kapasitas wilayah; Peta risiko bencana merupakan representasi spasial dan non spasial tingkat risiko bencana suatu wilayah berdasarkan kajian risiko bencana daerah.

Metode Analisis Bahaya

Penyusunan Indeks Bahaya

  • Pembuatan Lereng
  • Pembuatan Klasifikasi Penutup Lahan
  • Pembuatan Peta Curah Hujan
  • Indeks Bahaya
  • Generalisasi Kelas Lereng

Kemiringan, Land_Score, Rainfall_data yang diisi dengan atribut nilai skor digunakan sebagai data masukan. Data layer DEM dijadikan data masukan pada pilihan Input Raster kemudian pilih PERCENT_RISE pada pilihan Output Measurement untuk menghasilkan kemiringan dalam satuan persen.

Tabel 2-2  Klasifikasi Jenis Penutup Lahan
Tabel 2-2 Klasifikasi Jenis Penutup Lahan

Pengkajian Bahaya

Klasifikasi Kelas Bahaya

Luas Kelas Bahaya

Ekspor dan simpan hasil join melalui pilihan tabel atribut layer Tab_Luas_Bahaya_Cueks menjadi data baru dengan tipe tabel dBase (dbf) atau file teks (txt). Konversikan nilai pada setiap kolom VALUE_1, VALUE_2, dan VALUE_3 dari m2 ke Ha menggunakan rumus dengan sintaks =Cell/10000.

Kesimpulan Kelas Bahaya Administratif

Jika perlu, bersihkan setiap kolom tabel, atau ubah judul kolom (jika perlu), terutama pada kolom VALUE_1, VALUE_2, dan VALUE_3, ubah masing-masing menjadi LOW, MEDIUM, dan HIGH. Lengkapi setiap baris rumus penjumlahan dengan sintaks =SUM(CellLOW:CellHIGH) atau =CellLOW+CellMEDIUM+CELLHIGH.

Penyajian Hasil Kajian Bahaya

Penyajian Peta Bahaya

Penyajian Tabel Kajian Bahaya

Metode Analisis Kerentanan

Penggabungan beberapa kriteria dilakukan melalui proses overlay dengan menggunakan operasi matematika berdasarkan skor dan bobot masing-masing komponen serta parameter penyusun komponen terkait Perka BNPB 2/2012.

Tabel 3-1  Bobot Komponen Kerentanan masing-masing Jenis Bahaya
Tabel 3-1 Bobot Komponen Kerentanan masing-masing Jenis Bahaya

Penyusunan Indeks Kerentanan

Kerentanan Sosial

Metode ini digunakan untuk menghasilkan data keluaran Population_Density_Distribution100 yaitu data distribusi spasial kepadatan penduduk proporsional berdasarkan data InaRiskPop_con dan data kependudukan selama setahun terakhir (t+1). Sebaliknya jika nilai kepadatan penduduk lebih kecil (≤5), maka nilai keanggotaan fuzzy akan semakin mendekati 0 atau berada pada kisaran nilai yang dapat disebut dengan kelas kepadatan penduduk rendah. Ulangi kembali langkah proses diatas dengan menggunakan layer Population_Umur_Vulnerable100 untuk menghasilkan data layer Distribution_Umur_Vulnerable100.

Ulangi lagi langkah-langkah proses di atas menggunakan Population_Disability100 untuk menghasilkan lapisan data Distribution_Presiden_Disabilities100. Ulangi kembali langkah proses diatas dengan menggunakan layer Population_Miskin100 hingga menghasilkan data layer Distribution_Poresiden_Miskin100. Ulangi lagi langkah proses di atas menggunakan layer Distribution_Population_UmurVulnerable100 untuk menghasilkan data untuk layer Ratio_AgeVulnerable100.

Ulangi lagi langkah proses di atas menggunakan Population_Disability_Distribution100 untuk membuat lapisan data Disability_Ratio_100. Ulangi lagi langkah proses di atas pada layer Population_Miskin100 untuk membuat data pada layer Population_Miskin_100 Ratio.

Ilustrasi cara  penyusunan  indeks  kelompok  rentan
Ilustrasi cara penyusunan indeks kelompok rentan

Kerentanan Fisik

Metode ini digunakan untuk menghasilkan data keluaran berupa data nilai kerugian perumahan berdasarkan kelas risiko. Save As Data House_Loss_Desa100 Metode ini digunakan untuk menghasilkan data keluaran berupa data nilai kumulatif kehilangan rumah per desa/kelurahan. Save as Data Loss of Fasum_Desa100 Metode ini digunakan untuk menghasilkan data output berupa total kumulatif kerugian barang publik per desa/kelurahan.

Simpan sebagai data Kerugian Faskris_Desa100 Metode ini digunakan untuk menghasilkan data keluaran berupa data nilai kumulatif kerugian faskris per desa/kelurahan. Data layer loss_Faskris_Desa100 yang dihasilkan sebelumnya digunakan sebagai data input pada input raster. Simpan sebagai data Indeks Kerentanan_Fisik100. Metode ini digunakan untuk menghasilkan data keluaran berupa data indeks kerentanan fisik dengan menggunakan pendekatan logika fuzzy.

Kerentanan Ekonomi

Data lapisan Tutupan Lahan yang sebelumnya diolah dengan menambahkan kolom atribut reklasifikasi dan nilai PDRB digunakan sebagai data masukan. Metode ini digunakan untuk menghasilkan nilai ekonomi lahan (Rp/Ha) berdasarkan pendekatan nilai kontribusi PDRB pada sektor lahan produktif. Save As Data Contribution_PDRB_Desa100 Metode ini digunakan untuk menghasilkan nilai kontribusi PDRB (Rp) pada tingkat desa/kelurahan.

Nilai soft keanggotaan untuk nilai kontribusi PDRB mengikuti aturan bahwa semakin besar nilai kontribusi (>300 juta), maka nilai soft keanggotaan akan semakin mendekati angka 1 atau berada pada rentang nilai yang bisa disebut high class. Save as data Loss_Lapro_Desa100 Metode ini digunakan untuk menghasilkan data keluaran berupa data nilai kumulatif kehilangan lahan produktif (Ha) per desa/kelurahan. Data layer Loss_Lapro_Desa100 yang dihasilkan sebelumnya digunakan sebagai data input pada input raster.

Tabel 3-6  Contoh Reklasifikasi PDRB Sektor Pertanian dengan  Data Penggunaan/Penutup Lahan
Tabel 3-6 Contoh Reklasifikasi PDRB Sektor Pertanian dengan Data Penggunaan/Penutup Lahan

Indeks Kerentanan

Metode ini digunakan untuk menghasilkan data keluaran berupa data indeks kerentanan fisik dengan menggunakan pendekatan logika fuzzy. Untuk menghasilkan indeks risiko bencana sesuai dengan ukuran grid/sel data indeks bahaya, maka proses perubahan ukuran grid/sel dari 100 menjadi 30 harus dilakukan dengan menggunakan teknik sampling. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan tetap mengacu pada cakupan dan posisi grid/sel data indeks risiko.

Pilih layer Cueks_Vulnerability_Index pada pilihan Output Size, sehingga hasil output mempunyai ukuran grid/cell sebesar 30. Untuk mendapatkan keluaran data raster Cueks_Vulnerability_Index yang sesuai dengan cakupan area (range) Cueks_Vulnerability_Index, sebaiknya lakukan pengaturan lebih lanjut melalui tombol Environments. Pengaturan dilakukan pada Processing Extent, kemudian pada opsi Extent dipilih layer Cueks_Vulnerability_Index, dan pada Raster Analysis pada opsi Mask dipilih Cueks_Vulnerability_Index (sebagai contoh, lihat Gambar 2-7).

Pengkajian Kerentanan

Klasifikasi dan Kesimpulan Kelas Kerentanan

Penentuan kesimpulan mengenai kelas kerentanan pada setiap tingkat pemerintahan daerah dilakukan berdasarkan pendekatan skenario terburuk atau berdasarkan kelas kerentanan maksimum. Sintaks ini merupakan rumus fungsi kondisional dengan aturan penghitungan rentang nilai untuk menghasilkan nilai pada setiap kelas kerentanan. Lakukan proses yang sama seperti pada analisis populasi yang berpotensi terpapar untuk membuat tabel kelas kerentanan dengan menggunakan statistik zona sebagai tabelnya.

Lakukan proses yang sama seperti analisis populasi yang berpotensi terpapar untuk menghasilkan tabel kelas kerentanan yang dilengkapi dengan nama wilayah (desa/kelurahan – provinsi) dengan menggunakan Tabel Gabungan. Lakukan proses yang sama seperti pada analisis populasi potensial terpapar untuk menghasilkan tabel kelas kerentanan dalam format MS Excel. Lakukan proses yang sama seperti pada analisis potensi populasi terpapar untuk menghasilkan rangkuman kelas kerentanan di setiap desa/kelurahan dan kelurahan (khusus kecamatan gunakan tipe perhitungan Max) dengan menggunakan Pivot Table pada MS Excel.

Penyajian Hasil Kajian Kerentanan

Penyajian Peta Kerentanan

Gunakan lapisan data Class_Vulnerability100 pada opsi Input value raster dan pilih MAJORITY pada opsi Statistics type.

Penyajian Tabel Kajian Kerentanan

Penilaian Kapasitas Daerah

Ketahanan Daerah

Dalam proses pengumpulan data ketahanan daerah, diperlukan focus group Discussion (FGD) yang terdiri dari berbagai pihak di daerah yang dipimpin oleh seorang moderator untuk memandu peserta menjawab secara objektif setiap pertanyaan dalam kuesioner. Lebih lengkap mengenai cara menilai ketahanan daerah dapat dilihat pada buku PEDOMAN TEKNIS ALAT PENILAIAN KAPASITAS DAERAH (71 INDIKATOR) terbitan Direktorat Pengurangan Resiko Bencana - BNPB.

Tabel 3-2  Struktur Pertanyaan dan Penilaian Pada Kuesioner IKD
Tabel 3-2 Struktur Pertanyaan dan Penilaian Pada Kuesioner IKD

Kesiapsiagaan Masyarakat

Dalam kuesioner kesiapan masyarakat terdapat 2 parameter spesifik dan 3 parameter generik yang terbagi dalam 19 indikator pencapaian. Dengan tercapainya 19 indikator tersebut maka diperoleh nilai indeks dan tingkat kesiapsiagaan masyarakat di tingkat desa/kelurahan terhadap setiap jenis potensi bencana di wilayah kabupaten/kota studi dengan menggunakan alat yang disediakan oleh MS Excel.

Penyusunan Indeks Kapasitas

Indeks Ketahanan Daerah

Nilai indeks ketahanan daerah mewakili tingkat ketahanan daerah suatu wilayah kabupaten/kota, sehingga secara spasial dapat diasumsikan seluruh wilayah dalam 1 kabupaten/kota mempunyai nilai indeks yang sama. Namun nilai indeks tersebut mempunyai skala sebaran yang berbeda untuk indeks bahaya dan kerentanan. Hasil transformasi nilai IKD selanjutnya akan digunakan langsung dalam proses integrasi spasial antara IKD dan IKM tanpa perlu membuat data spasial terlebih dahulu.

Indeks Kesiapsiagaan Masyarakat

Pilih layer Kecepatsiagaan_Desa_Sampling pada pilihan Source Dataset; Pada pilihan kolom Nilai, pilih IKM_ Cuaca Ekstrim. Di panel Model (langkah 3 dari 4): pilih Spherical di opsi Type; Opsi lain dapat dibiarkan sebagai default. Di panel Pencarian Lingkungan (langkah 4 dari 4): pilih Halus di opsi jenis lingkungan; Opsi lain dapat dibiarkan sebagai default.

Pilih data lapisan interpolasi area sebagai data masukan pada opsi masukan lapisan geostatistik interpolasi area. Pilih data lapisan Village_Administration_Limit sebagai data input pada opsi Input Fungsi Poligon. Metode ini digunakan untuk menghasilkan luaran berupa data sebaran nilai kesiapsiagaan di wilayah desa/kelurahan yang bukan merupakan wilayah sampel, melalui teknik interpolasi dari wilayah desa/kelurahan sampel, sehingga data lengkap mengenai Nilai indeks kesiapsiagaan menurut jenis bencana dapat diperoleh pada 1 wilayah: kabupaten/kota yang berpotensi bencana.

Indeks Kapasitas

Penyajian Hasil Kajian Kapasitas

Penyajian Peta Kapasitas

Penyajian Tabel Kajian Kapasitas

Metodologi Analisis Risiko

Analisis Risiko

Pengkajian Risiko

Klasifikasi dan Kesimpulan Kelas Risiko

Penentuan kesimpulan kelas risiko pada setiap tingkat administrasi daerah dilakukan berdasarkan pendekatan skenario terburuk atau berdasarkan kelas risiko maksimum. Sintaks ini merupakan rumus fungsi kondisional dengan aturan penghitungan batas rentang nilai untuk menghasilkan nilai pada setiap kelas risiko. Lakukan proses yang sama seperti pada analisis populasi berpotensi terpapar untuk membuat tabel kelas risiko dengan menggunakan statistik zona sebagai tabel.

Pilih lapisan data Extreme Weather_Risk_Class di opsi Input value raster dan pilih MAJORITY di opsi Statistics type. Lakukan proses yang sama seperti pada analisis populasi yang berpotensi terpapar untuk menghasilkan tabel kelas bahaya lengkap dengan nama wilayah (desa/kelurahan – provinsi) dengan menggunakan Tabel Gabungan. Lakukan proses yang sama seperti pada analisis populasi potensial terpapar sehingga menghasilkan tabel kelas risiko dalam format MS Excel.

Penyajian Hasil Kajian Risiko

Penyajian Peta Risiko

Penyajian Tabel Kajian Risiko

Disaster Risk Assessment (DRR) merupakan salah satu aspek penting yang digunakan dalam proses perencanaan pembangunan. Hal ini sesuai dengan amanat undang-undang no. 24 Tahun 2007 dan dengan Pembukaan UUD 1945. Analisis tersebut meliputi analisis faktor-faktor penyebab ancaman, penyusunan indeks ancaman, analisis kerentanan, analisis kapasitas dan terakhir pembuatan peta penilaian risiko yang diinterpretasikan dalam dokumen pengkajian risiko bencana.

Pengetahuan mengenai pengkajian risiko bencana dalam perencanaan pembangunan sangatlah penting, terutama di Indonesia, dimana potensi bencana sering terjadi. Semakin banyak peserta dari BPBD provinsi/kabupaten/kota dan instansi terkait lainnya yang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang pengkajian risiko bencana, maka perencanaan pembangunan setiap daerah akan semakin siap menghadapi risiko bencana.

Gambar

Tabel 2-1  Kebutuhan Data
Tabel 2-2  Klasifikasi Jenis Penutup Lahan
Tabel  hasil  kajian  bahaya  level  desa/kelurahan  menjadi  lampiran  Album  Peta  KRB  dan  disajikan sebagai berikut:
Tabel 3-2  Kebutuhan Data
+7

Referensi

Dokumen terkait