STUDI KASUS PELESTARIAN OBJEK CAGAR BUDAYA SITUS TASIK ARDI BANTEN
Disusun Oleh :
Muhammad Ikram Nugraha Malidu Universitas Islam Sultan Agung
Asisten Pendata Cagar Budaya
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Banten dan DKI Jakarta
2023
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Salah satu ukuran tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa dapat dilihat dari peninggalan situs warisan budayanya. Benda cagar budaya biasanya merupakan benda hasil karya sekelompok orang atau masyarakat, yang berkaitan dengan karya budaya menurut zamannya. Masyarakat menyebutnya dengan nama yang berbeda-beda, antara lain artefak kuno, barang antik, barang antik, monumen, peninggalan arkeologi atau peninggalan sejarah. Istilah benda cagar budaya (BCB) mulai digunakan sejak tahun 1992, yaitu Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, yang kemudian diubah pada tahun 2010 dengan UU No. 11/2010 tentang benda cagar budaya. Menurut Pasal 5 Undang-undang, benda, bangunan, atau fasilitas dapat dihadirkan sebagai benda cagar budaya, benda cagar budaya, dan benda cagar budaya apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:
a) mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun
b) memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan
c) memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa
Kurangnya apresiasi terhadap benda cagar budaya menjadi salah satu faktor semakin tingginya ancaman seperti pencurian, perusakan, dan pemalsuan terhadap benda cagar budaya. Kondisi tersebut diperparah dengan keadaan ekonomi masyarakat yang minim dan lemahnya penegakan hukum. Arkeolog dari Universitas Indonesia, Hariani Santiko, mengungkapkan, masyarakat secara umum masih kurang mengerti dan menghargai arti penting dari benda-benda cagar budaya tersebut. Hal ini dapat disebabkan oleh minimnya sosialisasi terkait benda cagar budaya dan arti pentingnya. Masyarakat sekitar juga dapat menjadi berjarak dengan situs atau benda cagar budaya tersebut karena perbedaan zaman dan kultur
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki benda cagar budaya yang memiliki nilai tinggi atas budayanya. misalnya terdapat tiga warisan dunia di
Indonesia, yaitu: Kompleks Candi Borobudur, Kompleks Candi Prambanan dan situs Prasejarah Sangiran. Selain ketiga situs tersebut, Indonesia masih memiliki ribuan situs lagi yang tersebar di seluruh Nusantara. Salah satu daerah di Indonesia yang banyak memiki situs cagar budaya yaitu Daerah Banten. Banten merupakan provinsi yang memiliki banyak tempat bersejarah salah satunya situs Tasikardi yang terletak di Desa Margasana Kecamatan Kramatwatu yang merupakan salah satu Objek wisata di Kabupaten Serang.
1.2. Rumusan Masalah
1. mencari tahu sejarah dari situs Tasikardi
2. Menjelaskan permasalahan pelestarian situs Tasikardi
1.3. Tujuan penulisan
1. Untuk mengetahui sejarah megenai situs Tasikardi 2. Untuk mengtahui permasalahan mengenai situs tersbut
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Sejarah situs Tasikardi
Situs Tasikardi adalah danau Tasikardi merupakan salah satu situs sejarah peninggalan Kesultanan Banten. Danau Tasikardi ini letaknya sekira 6 KM sebelah barat Kota Serang, tepatnya di Kampung Kamasan, Desa Margasana, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang. Danau Tasikardi yang merupakan tempat penampungan air yang dahulunya dialirkan ke Keraton Surosowan, luasnya sekira 5 hektare.
Danau Tasikardi yang berada di Jalan Raya Banten Lama, Pegadingan, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang merupakan danau buatan yang dibuat oleh Sultan Maulana Yusuf. Sultan Maulana Yusuf Banten mempersembahkan Danau Tasikardi sebagai hadiah kepada sang ibunda yang saat itu sedang mengalami sedih berkepanjangan. Danau Tasikardi pada saat itu dibangun oleh Sultan Banten kedua yakni Sultan Maulana Yusuf sekitar tahun 1570 Masehi. Danau Tasikardi adalah danau buatan, hal tersebut dapat ditelusuri dari nama danau. Nama Tasikardi berasal dari dua nama, yaitu "tasik" dan
"kardi". Tasik artinya danau dan ardi berarti buatan. Danau Tasikardi adalah salah satu peninggalan Sultan Banten.
Pada awalnya dasar dari Danau Tasikardi ini dibuat menggunakan lantai yang terbuat dari batu bata oleh Sultan Maulana Yusuf. Dimana pada pertengahan danau tersebut dibuat sebuah pulau kecil yang dibangun sebagai tempat pesanggrahan ibunya untuk melakukan tafakur. Sementara sekitar danau berisi air yang nantinya air tersebut dapat mengaliri sawah-sawah yang berada di sekitar danau. Pembuatan Danau Tasikardi oleh Sultan Maulana Yusuf untuk sang ibunda yakni Ratu Ayu Kirana yang bersedih karena ditinggal oleh suaminya Sultan Hasanudin. Sehingga sang anak berupaya untuk menghibur ibunya yang gundah gulana karena ditinggal belahan jiwanya. Danau Tasikardi juga digunakan oleh Ratu Ayu Kirana sebagai tempat wisata bahkan tempat penyambutan tamu-tamu kerajaan lain.
Lambat laun beberapa tahun ke belakang, Danau Tasikardi justru mengalami pendangkalan yang sangat signifikan. Pemerintah yang melihat hal itu tidak bisa berbuat banyak lantaran tidak ada anggaran, akhirnya Danau Tasikardi diswakelolakan kepada
salah seorang pengusaha dalam perjanjian swakelola dengan pengusaha mendapatkan pengawalan ketat dari pihak pemerintah terutama dari Kepurbakalaan
2.2. Pelestarian Situs Tasikardi
Pada masa Kesultanan Banten kawasan Banten Lama memilki air tanah yang kurang layak konsumsi untuk memperoleh air bersih beberapa teknologi diterapkan. Keperluan air bersih didalam keraton surosowan disuplai dari danau Tasikardi. Air yang sebelumnya keruh dan kotor terlebih dahulu dijernihkan dengan menggunakan teknik penyaringan yang khas dan komplek yang disebut pengindelan, yaitu bangunan berbentuk bungker yang berfungsi sebagai penyaring air. Teknik yang dipakai adalah penjernihan air dibangunan pengindelan dengan mengedepankan air dan menyaringnya menggunakan saringan pasir dan ijuk.Agar air yang disaing hasilnya bai, maka digunakan tiga penyaringan yaitu pengindelan abang, pengindelan putih dan pengndelan emas.Secara sederhana teknologi ini memanfaatkan sifat air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah.
Pemerintah Daerah selaku pihak yang membuat kebijakan dengan diberlakukannya retribusi bagi setiap wisatawan yang ada berkunjung ke objek 13 wisata, maka pemerintah daerah juga harus memperhatikan keinginan dan kebutuhan para wisatawan seperti fasilitas yang baik, infrastruktur yang memadai serta sarana dan prasarana. Objek Wisata Situs Tasikardi mempunyai daya tarik tersendiri, Situs Tasikardi ini memiliki nilai-nilai bersejarah pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf selain itu Situs ini memiliki potensi yang besar untuk dijadikan sumber pendapatan daerah Kota Serang apabila dapat dikelola dengan baik, selain berekreasi masyarakat dapat mempelajari nilai-nilai budaya dan sejarah peninggalan jaman dahulu selain itu juga memiliki suasana yang sejuk, wisata ini juga bisa dikaitkan dengan agama, sejarah, adat istiadat, dan kepercayaan umat atau kelompok dalam masyarakat. Situs Tasikardi ini termasuk kedalm cagar budaya. Situs Tasikardi merupakan Objek Wisata yang berpotensi besar untuk pendapatan daerah apabila dikelola dengan optimal.
Selain terdapat Situs dan peninggalan sejarah, yang bisa dinikmati di Objek Wisata Situs Tasikardi ini yaitu wahana permainan pendukung yang disediakan oleh Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga kabupaten Serang yaitu becak mini sebanyak 14 buah dengan biaya operasional Rp 10.000 per 15 menit, perahu karet 1 buah dengan biaya
operasional Rp 5000 per orang, dan bebek-bebekan sebanyak 11 buah dengan biaya operasional Rp. 10.000 per 15 menit dimana wahana bebek-bebekan ini yang masih beroprasi sebanyak 4 buah, sisanya tidak bisa beroprasi karena rusak. Berikut ini adalah gambar wahana yang masih beroprasi dan tidak beroprasi.
BAB III PENUTUP 3.1. KESIMPULAN
berdasarkan hasil pembahasan diatas Kesimpulan dari makalah ini permasalahan pelestarian cagar budaya adalah pentingnya upaya kolektif untuk menjaga warisan budaya agar tetap lestari bagi generasi saat ini dan mendatang. Diperlukan kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait untuk melestarikan situs-situs bersejarah demi menjaga identitas dan nilai-nilai budaya yang tak ternilai harganya.
Serang merupakan ibu kota Kabupaten Tangerang dengan luas wilayah dan jumlah penduduk 266,77 km2 523.384 jiwa dan 6 kecamatan. Mereka mempunyai slogan Civil City yang mempunyai 6 prinsip. Sebagai kota yang sudah ada sejak abad ke-16, tak heran jika Serang memiliki peninggalan sejarah budayanya cukup banyak, 36 di antaranya merupakan warisan budaya situs Tasik Ardi.
manjemen pengelolan akan berjalan dengan baik apabila prinsip-prinsip pengelolaan pariwisata seperti pembangunan dan pengembangan pariwisata, preservasi, proteksi, peningkatan kualitas sumber daya, pengembangan atraksi wisata tambahan, pelayanan kepada wisatawan, dukungan dan legitimasi pada pembangunan dan pengembangan yang dilakukan sudah dijalankan dengan baik oleh pihak-pihak yang mengelola tempat objek wisata.
DAFTAR PUSTAKA
Suciati, A., Sjafari, A., & Handayani, R. (2017). Manajemen Pengelolaan Objek Wisata Situs Tasikardi Oleh Dinas Pemuda Olahraga Dan Pariwisata Kabupaten Serang (Doctoral dissertation, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa).
Wardah, E. S. (2021). Situs Tasikardi dalam Jejak Peninggalan Kesultanan Banten.
Wahyudi, W., & Herlan, M. (2021). Faktor Promosi dan Sarana Prasarana Dalam Meningkatkan Kunjungan Wisatawan Di Objek Wisata Danau Tasikardi Serang-Banten. Jurnal Destinasi Pariwisata, 9(2), 356-363.
Pasaribu, Y. A. (2019). Penataan Ruang Dalam Rangka Pelestarian Kawasan Cagar Budaya: Kajian Kota Kuno Banten Lama. KALPATARU, 28(2), 17-32.
Wardah, E. S. (2021). Situs Tasikardi dalam Jejak Peninggalan Kesultanan Banten.