• Tidak ada hasil yang ditemukan

muqadimmah syarah arbain an nawawi

N/A
N/A
Saya Osama

Academic year: 2025

Membagikan "muqadimmah syarah arbain an nawawi"

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Pendahuluan Penjelas (Syarah)

Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal perbuatan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga salawat dan salam tercurah kepada beliau, juga kepada keluarga dan para sahabatnya dengan sebanyak- banyaknya.

Amma ba‘d (selanjutnya):

Al-Hafizh an-Nawawi – semoga Allah merahmatinya – adalah salah satu ulama mazhab Syafi‘i yang pendapatnya dianggap kuat dan diperhitungkan. Ia termasuk salah satu ulama Syafi‘iyah yang paling giat dalam menulis dan berkarya. Ia menulis dalam berbagai bidang, seperti hadis dan ilmu-ilmunya. Ia juga menulis dalam ilmu bahasa, di antaranya kitab Tahdzib al-Asma’ wa al-Lughat. Sesungguhnya ia

termasuk salah satu orang yang paling berilmu. Tampaknya – wallahu a‘lam – ia juga termasuk orang yang paling ikhlas dalam menulis, karena karya-karyanya menyebar luas di seluruh dunia Islam. Hampir tidak ada masjid kecuali di dalamnya dibaca kitab Riyadhus Shalihin. Karya-karyanya dikenal dan tersebar luas di seluruh dunia, dan hal ini menunjukkan kebenaran niatnya. Sebab, diterimanya suatu karya oleh masyarakat adalah salah satu tanda keikhlasan niat dalam berkarya.

Ia – semoga Allah merahmatinya – adalah seorang mujtahid, dan mujtahid itu bisa benar dan bisa juga keliru. Ia telah keliru dalam beberapa masalah yang berkaitan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah. Ia mentakwil (menafsirkan dengan makna lain) dalam masalah ini, namun ia tidak mengingkarinya. Sebagai contoh: firman Allah “Istawa ‘ala al-‘Arsy” (Dia bersemayam di atas ‘Arsy), para ahli takwil mengatakan bahwa maksudnya adalah “berkuasa di atas ‘Arsy”, tetapi mereka tidak mengingkari kata “istawa”. Sebab, jika mereka mengingkari kata “istawa” dengan maksud mendustakannya, maka mereka telah kafir. Adapun orang yang menolak makna lahiriah dengan penafsiran (takwil), tanpa mengingkari nashnya, maka selama penafsirannya masih memiliki dasar dalam bahasa Arab, maka ia tidak kafir. Namun, jika penafsirannya tidak memiliki dasar dalam bahasa Arab, maka hal itu dapat menyebabkan kekufuran. Misalnya, jika seseorang berkata: "Allah tidak memiliki tangan, baik secara hakiki maupun dalam arti nikmat atau kekuatan", maka orang seperti ini kafir, karena ia menolaknya secara mutlak. Mereka membenarkan ayat tersebut, namun mereka menyimpangkannya dari makna sebenarnya.

(2)

Kesalahan-kesalahan seperti ini, yang terjadi pada beliau – semoga Allah

merahmatinya – dalam mentakwil beberapa nash (teks) sifat-sifat Allah, tertutupi oleh berbagai keutamaan dan manfaat besar yang telah beliau berikan. Kami berprasangka baik bahwa kesalahan itu muncul karena ijtihad dan takwil yang menurut

pandangannya bisa diterima. Kami berharap hal itu termasuk dalam kategori

kesalahan yang diampuni, dan kebaikan serta manfaat besar yang telah beliau berikan termasuk dalam amal saleh yang diterima. Dan semoga berlaku padanya firman Allah Ta‘ala: "Sesungguhnya kebaikan-kebaikan dapat menghapuskan kesalahan-

kesalahan" (QS. Hud: 114).

Maka kami bersaksi bahwa Imam an-Nawawi adalah seorang yang saleh berdasarkan apa yang kami ketahui tentang dirinya. Ia adalah seorang mujtahid. Setiap mujtahid bisa benar dan bisa juga salah. Jika ia salah, maka baginya satu pahala. Jika benar, maka baginya dua pahala. Ia telah menulis banyak karya, dan di antara karya terbaiknya adalah kitab ini: al-Arba‘un an-Nawawiyyah (40 Hadis Nawawi).

Meskipun sebenarnya jumlah hadis di dalamnya bukan empat puluh, tetapi empat puluh dua. Namun demikian, orang Arab terbiasa menyebut bilangan bulat, jadi mereka mengatakan “empat puluh”, meskipun lebih atau kurang satu atau dua.

Kitab al-Arba‘un ini seyogianya dihafalkan oleh setiap penuntut ilmu, karena isinya dipilih dari banyak hadis dan mencakup berbagai bab yang berbeda. Berbeda dengan karya lain seperti ‘Umdatul Ahkam, yang meskipun juga merupakan pilihan hadis, tetapi hanya terbatas dalam satu bab, yaitu bab fikih. Adapun al-Arba‘un an-

Nawawiyyah mencakup berbagai bab yang beragam. Maka kita mohon pertolongan kepada Allah Ta‘ala dalam memberikan komentar (syarah) terhadapnya. Dan Allah- lah Sang Pemberi taufik.

Referensi

Dokumen terkait