• Tidak ada hasil yang ditemukan

MUZDALIFAH MUHAMMADUN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "MUZDALIFAH MUHAMMADUN "

Copied!
268
0
0

Teks penuh

Disebutkan dalam al-Quran bahawa contoh yang baik ialah Nabi Muhammad SAW. Ini bermakna dia sentiasa berkelakuan dan bertindak berdasarkan apa yang terdapat dalam al-Quran. Mereka menghabiskan hidup mereka dan menyumbangkan profesion mereka untuk khidmat al-Quran.

Usaha penambahbaikan tafsir ini berterusan sehingga tafsiran al-Quran dipisahkan daripada hadis-hadis selanjutnya. Ketika itu barulah tafsiran itu mengambil bentuk yang tersusun mengikut ayat dan surah al-Quran. Perkembangan berbagai ilmu pengetahuan memberikan pengaruh yang besar terhadap cara berfikir para ahli dalam menyusun tafsir al-Qur’an.

Bentuk modernisasi ini telah membawa perubahan dalam pemikiran para ulama Al-Quran. Muhammad 'Abduh, sebagai seorang modernis, merupakan pionir pembaharuan kajian Al-Qur'an saat ini. Lihat lebih lanjut Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Qur'an al-Hakim (Tafsir al-Manar) (Mesir: Maktabat al-Qahirat h.

Pertama, makna kata-kata Al-Qur’an belum membawa perubahan dalam bidang ilmu pengetahuan modern.

MOHAMMED ARKOUN DAN POSTMODERNISME

100Lihat Suadi Putro, Mohammed Arkoun tentang Islam dan Modernitas (Jakarta: Paramadina, 1998), hal. Bandingkan dengan Ensiklopedia dalam Islam, vol. 117Lihat Johan Hendrik Meuleman, “Nalar Islam dan Nalar Modern: Memperkenalkan Pemikiran Muhammad Arkoun” Ulumul Qur'an, hal. 118 Lihat Johan Hendrik Meuleman, “Nalar Islam dan Nalar Modern: Memperkenalkan Pemikiran Muhammad Arkoun” Ulumul Qur'an, hal.

119 Lihat Mohammad Nasir Tamara, “Mohammed Arkoun and Applied Islamology”, terbitan majalah Ulumul Qur’an, No. 45-51 dan Mohammed Arkoun, “Menuju Pendekatan Baru terhadap Islam” (hasil wawancara Hamid Basyaib), Ulumul Qur'an, No. 130 juta. Nasir Tamara, “Pandangan Sosial Politik Mohammad Arkoun”, makalah pada seminar sehari Pokok Pemikiran Mohammed Arkoun, IAIN Jakarta, 13 Juli 1994, hal.

Lectures du Coran (Bacaan Alquran), Massionneuve et Larose Paris, pada tahun 1982; dan Pur une critique de la raison islamique (For the Critique of Islamic Reason), Massionneuve et Larose di Paris, 1984. Machasin yang kata pengantarnya oleh Johan Hendrik Meuleman dan edisi Mohammed Arkoun: Contemporary Studies of the Qur' en yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka, 1998 dengan penerjemah Hidayatullah. 134 Lihat Suadi Putro, Mohammed Arkoun on Islam and Modernity, hal.135 Buku ini merupakan terjemahan terbaru karya Arkoun tahun 1999.

140 Lihat Johan Hendrik Meuleman (ed.), Tradisi Modern dan Metamodernisme: Membahas Pemikiran Mohammed Arkoun (Yogyakarta: Titian Illahi Press, 1996), hal. 141 Karya-karya Muhammad Arkoun yang sebagian akan disinggung dalam buku ini, akan melengkapi pembahasan mengenai pembahasan Qiraah de la-Fatiha selanjutnya. Lihat juga Adnin Armas, Metodologi Biblika dalam Kajian Al-Qur'an (Yogyakarta: Gema Insani Press, 2005).

146 Byvoorbeeld, Mohammed Arkoun, “Menuju Pendekatan Baru Terhadap Islam”, onderhoudresultate van Hamid Basyaib dalam Ulumul Qur’an, No. Johan Hendrik Meuleman, “Nalar Islam dan Nalar Modern, Memperkenalkan Pemikiran Mohammed Arkoun”, Ulumul Qur’an, No 154 Sien Amin Abdullah, “Mohammed Arkoun dan Kritik Nalar Islam”, dalam Johan Hendrik Meuleman (red.), Tradisi Modern dan Metamodernisme: Membahas Pemikiran Mohammed Arkoun (Yogyakarta: Titian Illahi Press, 1996), hal.

157Lihat Johan Hendrik Meuleman, “Kata Pengantar” dalam Mohammed Arkoun, Pour Une Critique de la Raison Islamique, Trans. 183Lihat Johan Hendrik Meuleman, “Nalar Islam dan Nalar Modern: Memperkenalkan Pemikiran Muhammad Arkoun”, Ulumul Qur'an, hal.

SEMIOTIKA DAN TAFSIR AL-QUR’AN

Pembacaan atau kajian heuristik dimulai dengan mempelajari kata-kata, terhadap ayat-ayat sastra, terhadap istilah-istilah dalam Al-Qur'an, dan terhadap ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang dipelajari. Di sini Noeng Muhadjir mengingatkan bahwa penggunaan metodologi semiotik dalam kajian Al-Qur'an semata-mata untuk memperkuat keimanan kepada Allah, bukan untuk mengoreksi keimanan itu sendiri. Menafsirkan atau menafsirkan Al-Qur’an dengan mengandalkan analisis kebahasaan berarti mewarisi tradisi para ulama tafsir atau ahli tafsir pada zamannya.

Sebagaimana diketahui, hampir semua karya besar tafsir Al-Qur'an merupakan hasil analisis linguistik Al-Qur'an. Contohnya adalah kitab Mufradat li Garib al-Qur'an karya Abu Muslim al-Isfahani, sebuah karya monumental yang menjadi standar rujukan analisis leksikal Al-Qur'an.217. Berdasarkan kesadaran semacam ini, selain mengakui betapa besarnya kontribusi dan jasa analisis filologis dalam kajian Al-Qur’an, kita juga menyadari betapa nyatanya kekurangan-kekurangan tafsir yang mempunyai kecenderungan tertentu, seperti menimbulkan “pengurasan” dari al-Qur'an. Alquran.

Menekankan kajian pada latar belakang sejarah untuk sampai pada makna al-Qur’an yang benar, secara teoritis berarti berpegang pada prinsip e mente auctoris222 yaitu prinsip yang memperhatikan penafsiran. Karena Al-Qur’an bukanlah ciptaan manusia, melainkan “Firman Tuhan”, maka penerapan prinsip ini berpegang pada kenyataan bahwa Al-Qur’an harus dipahami secara komprehensif dengan memahami masyarakat dimana Al-Qur’an pertama kali ditemukan. terungkap pertama. Analisis sastra kontekstual (al-tafsir al-adab al-ijtima'i) yang digunakan al-Khuli, merupakan upaya untuk melampaui kajian filologi tradisional; bahkan telah mendekati analisis semiotik Al-Qur'an.

Namun kedua metode tersebut mengandalkan analisis kebahasaan dan isyarat bahasa yang kasat mata, sehingga menempati posisi yang relevan dan mendesak dalam kajian Al-Qur’an untuk mencapai kehalusan. Teknik tafsir ini digunakan dalam upaya menggali makna yang terkandung dalam ungkapan bahasa Al-Qur'an. Di Indonesia sendiri, mempelajari Alquran dengan metode ini telah dilakukan antara lain oleh Dr.

Said Mahmud menggunakan pendekatan strukturalisme semiotik, yaitu model analisis heuristik untuk mencari ciri-ciri amal shaleh dalam Al-Qur'an. Maka dapat dikemukakan bahwa metode semiotika di satu pihak dan metode eksegetis kontemporer di pihak lain saling berkaitan – persamaan terlepas dari perbedaan istilah yang digunakan – dalam upaya menafsirkan tanda-tanda bahasa yang dikaji dalam hal ini. teks Alquran. Meski demikian, kehati-hatian tetap diperlukan agar tujuan mempelajari Al-Qur’an yang sebenarnya dapat tercapai.

SEMIOTIKA AL-QUR’AN

Menurut Arkoun, Al-Quran merupakan kumpulan yang lengkap dan terbuka, berbentuk bahasa Arab. Al-Qur’an merupakan korpus yang homogen dan bukan korpus model yang diciptakan secara sembarangan dengan kaidah dan kajian yang telah direncanakan sebelumnya. Al-Qur'an merupakan korpus yang terbatas, artinya benar-benar terbatas jumlah ujaran yang menyusunnya, lengkap dalam ekspresi dan isi (berbeda-bedanya penanda dan petanda berhubungan satu sama lain).

Al-Qur'an merupakan korpus terbuka, artinya terbuka terhadap konteks yang berbeda-beda, sangat beragam, yang dihasilkan dan dipaksakan secara berlebihan oleh setiap kajian. Al-Qur'an merupakan rangkaian ujaran, artinya fakta menunjukkan bahwa Al-Qur'an dulunya dan tetap merupakan pidato (parolé) sebelum menjadi. Status linguistik dan sastra teks global ini hanya dapat ditentukan setelah serangkaian kajian terhadap ayat dan surah Al-Qur'an.

Artinya teks Al-Qur’an tiada habisnya dibaca ulang dan terus menuntut pengkajian ulang, tanpa harus memperhatikan perbedaan tafsir yang dihasilkan. Dari uraian di atas, Arkoun nampaknya masih berpegang teguh pada Al-Qur’an sebagai teks linguistik. Dalam al-Mushaf al-Usmany, surah ini menempati urutan nomor satu di antara surah-surah Al-Qur'an.

Arkoun mencatat, dengan lahirnya teks Al-Qur'an yakni melalui tulisan, terjadi perubahan mendasar di kalangan masyarakat dalam memahami wahyu. Bandingkan berbagai bacaan Alquran, hal. 105. ..dallin).280 Kedua kategori ini ditempatkan sedemikian rupa sehingga menunjukkan kontras yang tajam. Jawabannya adalah kecenderungan al-Razi yang memasukkan berbagai ilmu untuk menafsirkan Al-Qur'an, sehingga terkesan ia justru mengabaikan penafsiran itu sendiri.300.

Arkoun melihat banyak simbolisme dalam Al-Qur'an yang mengungkapkan realitas manusia yang asli dan universal. Mengapa manusia tidak mencari hakikat mukjizat dalam simbolisme Al-Qur'an yang begitu mendasar dan universal? Kekuatan denotatif sangat dipengaruhi oleh keakraban kita terhadap berbagai jenis simbolisme yang digunakan dalam budaya Timur Tengah tempat diturunkannya Al-Qur'an.

Menurut Arkoun, ciri tersebut juga berlaku pada Alquran dan tentunya Surat al-Fatihah. Landasan filosofis konsep semiotik Al-Qur'an Manusia adalah homo semiolicus yang artinya dalam kehidupan sehari-hari kita selalu bersama tanda dan kita terhubung dengan tanda.

Referensi

Dokumen terkait

Planning to use analytics to pay attention to data patterns despite paying attention to the standardization of accurate data According to Lee, et al 2014: 4 states design of analytics