• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nabiil Ikbaar Hernanda Pemberdayaan Masyarakat Melalui Masterplan Pengembangan Area Telaga Loa di Desa Jerukleueut

N/A
N/A
nabiilikbaar

Academic year: 2023

Membagikan "Nabiil Ikbaar Hernanda Pemberdayaan Masyarakat Melalui Masterplan Pengembangan Area Telaga Loa di Desa Jerukleueut"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Masterplan Pengembangan Area Telaga Loa di Desa Jerukleueut

Prof. Dr. Sri Rum Giyarsih, S.Si., M.Si (DPL),1* Nabiil Ikbaar Hernanda (Mahasiswa)

 1Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia

Telp/WA: 08112653333 ABSTRAK

Desa Jerukleueut dikenal memiliki tiga telaga yang menjadi potensi pariwisata, Telaga Herang, Telaga Cileuweung, dan Telaga Loa. Ketiga telaga memiliki keunikan masing-masing yang dapat menjadi daya tarik wisatawan. Di antara tiga telaga, Telaga Loa masih sangat alami dan belum dikembangkan oleh pemerintah desa. Ketidakstabilan kondisi air telaga menjadi salah satu faktor penghambat pengembangan Telaga Loa. Pemerintah desa menginginkan air telaga tersebut ada sepanjang tahun. Padahal, kondisi air telaga yang naik turun setiap 6 bulan sekali bisa menjadi daya tarik tersendiri. Saat penuh air, telaga dijadikan tempat pemancingan. Sedangkan saat air surut, telaga yang kering biasa ditanami palawija. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk menjadikan Telaga Loa sebagai tempat wisata yang terkonsep dengan berwawasan lingkungan atau ekowisata dengan tidak mengubah ciri khas dari telaga tersebut. Tujuannya adalah memajukan pariwisata Desa Jerukleueut sebagai desa wisata perintis. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-kualitatif dengan cara mendeskripsikan kembali secara tertulis dari hasil survei lapangan tentang kondisi telaga beserta potensi yang ada. Hasil dari kegiatan ini adalah masterplan pengembangan area Telaga Loa yang bisa dijadikan referensi terkait pengembangan wisata Desa Jerukleueut, hubungannya dengan masterplan yang sudah ada. Dengan demikian, rencana masterplan desa menjadi semakin komprehensif dan sektor pariwisata desa menjadi semakin meningkat.

KATA KUNCI: desa wisata; ekowisata; masterplan; wisatawan

(2)

ABSTRACT

The village of Jerukleueut is known for having three lakes that are potential tourist attractions, namely Telaga Herang, Telaga Cileuweung, and Telaga Loa. Each of these lakes has its own uniqueness that can attract tourists. Among the three lakes, Telaga Loa remains very natural and undeveloped by the village government. The fluctuating water conditions of the lake have been one of the inhibiting factors for the development of Telaga Loa. The village government desires to have water in the lake throughout the year. However, the fact that the water level rises and falls every six months can be an attraction in itself. When the lake is full, it becomes a fishing spot, while during low water levels, it is commonly planted with crops. This background has inspired the author to develop Telaga Loa as an eco-tourism spot without altering its distinct characteristics. The goal is to advance tourism in Jerukleueut Village as a pioneering tourist destination. The method used is descriptive-qualitative, which involves describing the results of field surveys regarding the condition of the lake and its potential in written form. The outcome of this activity is a master plan for the development of the Telaga Loa area, which can serve as a reference for the tourism development in Jerukleueut Village, in connection with existing master plans. This way, the village's master plan becomes more comprehensive, and the tourism sector of the village can further thrive.

KEYWORDS: tourism village; eco-tourism; masterplan; tourists

1. PENDAHULUAN

Pariwisata telah menjadi salah satu sektor ekonomi yang penting dalam pembangunan suatu daerah.

Di Indonesia, kekayaan alam dan kebudayaan yang melimpah menjadi modal utama dalam mengembangkan potensi pariwisata. Salah satu destinasi yang memiliki pesona alam dan budaya yang menarik adalah Desa Jerukleueut yang terletak di Kabupaten Majalengka. Desa Jerukleueut memiliki lanskap yang didominasi oleh sawah-sawah hijau yang terhampar luas. Selain itu, Desa

(3)

Jerukleueut memiliki tiga telaga yang berdekatan dan terhubung satu sama lain. Ketiga telaga tersebut adalah Telaga Herang, Telaga Cileuweung, dan Telaga Loa. Masing-masing telaga memiliki keunikannya masing-masing. Telaga Herang dijadikan tempat wisata dengan airnya yang jernih sekaligus habitat bagi ikan-ikan. Tidak sedikit wisatawan lokal maupun luar yang berenang di sana. Telaga Cileuweung difungsikan untuk kegiatan pengairan melalui saluran irigasi yang terhubung dengan area terasering persawahan yang ada di bawahnya. Telaga tersebut juga dijadikan tempat untuk mengembangkan keramba ikan milik warga setempat. Sementara, Telaga Loa memiliki keunikan berupa adanya fenomena surutnya telaga secara periodik. Telaga ini mampu menampung air selama enam bulan lamanya, namun akan mengering selama enam bulan setelahnya. Siklus tersebut berulang terus-menerus. Ketidakstabilan kondisi telaga tersebut menjadi penghambat bagi Pemerintah Desa Jerukleueut dalam merencanakan Telaga Loa sebagai tempat wisata. Sampai sekarang, Telaga Loa masih sangat alami dengan dikelilingi kebun dan hutan.

Masyarakat Desa Jerukleueut sendiri sebenarnya sudah mampu beradaptasi dengan kondisi naik turunnya air Telaga Loa. Saat telaga menampung banyak air, warga menggunakannya sebagai tempat pemancingan. Benih-benih ikan disebar ke dalam telaga untuk dapat dipancing warga lokal dengan membayarkan harga tertentu. Sedangkan, saat telaga surut, warga biasa menanam tanaman palawija di tengah-tengah telaga hingga panen. Kemudian, hasil panen tersebut bisa memberikan keuntungan bagi warga desa. Di sisi lain, dalam masterplan Desa Jerukleueut yang telah direncanakan oleh perangkat desa, Telaga Loa direncanakan sebagai telaga yang dapat menampung air sepanjang tahun. Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu adanya penelitian dan pengerjaan dari banyak pihak dengan berbagai latar belakang, seperti akademisi, kontraktor, dan pemerintah. Tidak dapat dipungkiri, rencana tersebut memerlukan waktu yang sangat lama dan biaya yang tidak sedikit.

Untuk itu, melalui tulisan ini, penulis ingin menyampaikan ide penulis mengenai masterplan pengembangan area Telaga Loa di mana segala kegiatan pariwisata yang dihadirkan di telaga ini akan berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan

(4)

sosial budaya ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Dalam mewujudkan konsep ekowisata Telaga Loa, partisipasi masyarakat sangatlah dibutuhkan. Menurut Akbar, Moh Ardi dkk (2018) secara konsep, prinsip pembangunan pariwisata berbasis masyarakat lebih menekankan pada pembangunan pariwisata dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Dengan demikian, Telaga Loa dengan keunikannya bisa dijadikan tempat wisata yang menguntungkan segala pihak tanpa harus dilakukan perubahan yang masif pada telaga itu sendiri.

2. METODE

Berdasarkan tujuan penyusunan masterplan, digunakan metode ilmiah dalam tahapan awal hingga menemukan kesimpulan perencanaan dan perancangan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif-kualitatif dengan cara mendeskripsikan kembali secara tertulis dari hasil survei lapangan tentang kondisi Telaga Loa beserta potensi yang ada. Selanjutnya, dilakukan metode analisis data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait dan metode observasi untuk memperoleh data-data potensi dan kendala serta arahan perencanaan perangkat Desa Jerukleueut.

Untuk mencapai metode yang telah disebutkan sebelumnya, maka serangkaian kegiatan yang telah dilakukan adalah sebagai berikut:

(1) Mengumpulkan data-data terkait kondisi eksisting Telaga Loa beserta penduduk sekitar

Kegiatan ini dilakukan dengan melakukan serangkaian tahapan wawancara kepada beberapa tokoh masyarakat, seperti kepala desa, kepala urusan (kaur) aset, kaur TU dan umum, kepala seksi (kasi) pemerintahan, ketua RT 3 Blok Pahing (area Telaga Loa), serta konsultan perencanaan wisata Desa Jerukleueut. Studi lapangan awal dan lanjutan juga dilakukan untuk mengetahui kondisi terkini Telaga Loa dan permukiman warga di sekitarnya. Pengumpulan data dilakukan pada minggu pertama pengabdian di Desa Jerukleueut.

(2) Melakukan analisis dan membuat konsep masterplan pengembangan area wisata Telaga Loa Seluruh data yang telah terkumpul terkait Telaga Loa selanjutnya dianalisis. Analisis SWOT dilakukan untuk mengetahui strategi yang bisa dilakukan berdasarkan strengths (kekuatan),

(5)

weaknesses (kelemahan), opportunities (peluang), dan threats (ancaman) dari area Telaga Loa.

Untuk mengimplementasikan strategi yang didapatkan dari hasil analisis SWOT dalam bentuk konsep desain masterplan, selanjutnya dilakukan studi literatur terkait preseden dari masterplan tempat wisata lain di Indonesia.

(3) Menyusun, merencanakan, dan merancang masterplan

Konsep yang telah didapat kemudian direncanakan secara spasial melalui konsep zonasi.

Rancangan masterplan, khususnya tempat wisata, tidak akan lepas dari fasilitas penunjang di dalamnya. Untuk merancang keseluruhan amenitas pariwisata, dilakukan proses desain skematik untuk merencanakan tata letak atau konfigurasi ruang sebuah fasilitas wisata dalam kawasan. Proses ini merupakan langkah awal dalam proses perancangan dan melibatkan penggambaran secara kasar elemen-elemen penting dari proyek, termasuk tata letak ruangan dan sirkulasi di dalamnya.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Profil Wilayah

Secara administratif, Telaga Loa sepenuhnya terletak di Desa Jerukleueut, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Wilayahnya berbatasan dengan Desa Lengkong Kulon di sebelah utara, Desa Padaherang di sebelah timur dan selatan, serta Desa Jerukleueut (RT 3 Blok Pahing) di sebelah barat.

3.2 Atraksi Wisata

Kondisi Telaga Loa yang masih sangat alami memiliki potensi atraksi alam yang bisa dijadikan aktivitas wisata. Permukiman warga RT 3 Blok Pahing juga memiliki potensi atraksi buatan yang menjadi daya tarik wisatawan.

Tabel 1. Atraksi Alam Eksisting Potensi Atraksi telaga` wisata edukasi

hutan trekking

kebun wisata edukasi

bambu wisata edukasi

(6)

Tabel 2. Atraksi Buatan Eksisting Potensi Atraksi usaha kayu` wisata edukasi usaha jamu minum jamu kandang ternak wisata edukasi bambu wisata edukasi

3.3 Analisis SWOT

Analisis SWOT dilakukan pada ketiga aspek penting pariwisata, yaitu atraksi, amenitas, dan aksesibilitas. Hasil dari analisis SWOT berupa strategi yang disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 3. Analisis SWOT Atraksi

Atraksi

Strength (Kekuatan)

1. Telaga masih sangat alami 2. Banyak pepohonan di sekitar telaga

3. Terdapat lahan perkebunan di samping telaga

4. Ketiga telaga sangat berdekatan

5. Adanya UMKM di area RT dekat telaga

Weakness (Kelemahan) 1. Kondisi air di telaga tidak stabil

2. Tanah di sekitar telaga masih milik warga

3. Kondisi air telaga keruh 4. Sumber daya manusia belum terkoordinasi

Opportunity (Peluang) 1. Adanya wacana Desa Jerukleueut dijadikan desa wisata

S-O

1. Telaga menjadi atraksi utama

2. Lahan perkebunan menjadi atraksi sampingan

3. Membuat paket wisata mengunjungi 3 telaga

4. Menambah aktivitas wisata di area telaga

5. Wisatawan dibawa ke tempat UMKM

6. Aktivitas warga dijadikan wisata edukasi

W-O

1. Memanfaatkan fluktuasi debit air di telaga menjadi atraksi wisata yang beragam 2. Menerapkan hasil bagi kepada pemilik lahan di sekitar telaga 3. Membentuk komunitas wisata/ pelaku wisata dari masyarakat lokal

Threat (Ancaman) 1. Terdapat tempat wisata yang lebih populer dan diakui oleh pemerintah

S-T

1. Membuat paket wisata yang berbeda dari

wisata alam yang lain

W-T

1. Mengajak kerja sama masyarakat untuk membentuk kawasan/

atmosfer wisata

(7)

yang terpadu

Tabel 4. Analisis SWOT Amenitas

Amenitas

Strength (Kekuatan)

1. Area telaga dekat dengan permukiman yang bisa dijadikan atraksi wisata

Weakness (Kelemahan) 1. Belum ada gerbang masuk penanda area wisata

2. Tidak adanya signage di sekitar telaga

3. Tidak adanya fasilitas umum

4. Tidak ada fasilitas keamanan di sekitar telaga

Opportunity (Peluang) 1. Masterplan kawasan sudah memiliki tema besar

S-O

1. Menata rumah warga yang berpotensi dijadikan pusat kegiatan seni dan budaya 2. Menata rumah warga yang bisa dijadikan sebagai

homestay

3. Menentukan starting point/

check point/ meeting point berdasarkan fasilitas yang tersedia

W-O

1. Membuat gerbang masuk sebagai penanda area wisata 2. Membuat signage di area telaga

3. Membuat fasilitas keamanan di sekitar telaga 4. Membuat fasilitas

pendukung aktivitas wisata di area telaga

Threat (Ancaman) 1. Masalah perizinan/

pembebasan lahan belum jelas

2. Traffic wisatawan belum terlihat

S-T

1. Perlu ada guidelines design untuk pengembangan area wisata Telaga Loa

W-T

1. Melakukan koordinasi bersama warga setempat terkait PIC dari setiap objek wisata

2. Menjadikan konstruksi tradisional Jawa Barat sebagai referensi untuk mewujudkan arsitektur berkelanjutan yang ramah lingkungan

Tabel 5. Analisis SWOT Aksesibilitas

Aksesibilitas

Strength (Kekuatan)

1. Akses jalan kendaraan sudah terdenisi

2. Terdapat 3 akses menuju telaga

3. Adanya jalan utama yang menghubungkan 3 telaga

Weakness (Kelemahan) 1. Akses jalan tidak ramah untuk kendaraan roda 4 2. Salah satu akses jalan masuk telaga terlalu jauh 3. Akses pejalan kaki belum tersedia

Opportunity (Peluang)

(8)

1. Akses menuju telaga mudah dicapai dari berbagai arah dalam satu kawasan desa

S-O

1. Membuat paket wisata trekking mengelilingi 3 telaga 2. Menentukan entrance dan exit area telaga

3. Meningkatkan kualitas jalan di sekitar telaga

W-O

1. Akses masuk wisatawan dibuat melalui permukiman warga

2. Jalanan di area Telaga Loa ditingkatkan kualitasnya (diaspal)

Threat (Ancaman) 1. Jarak telaga terlalu jauh dari jalan utama dan akses utama desa dari jalan raya hanya ada satu

S-T

1. Menyediakan paket wisata tur yang langsung mengarah pada 3 telaga

2. Menyediakan informasi kepada wisatawan sejak awal (TIC utama Desa Jerukleueut) tentang atraksi wisata 3 telaga

W-T

1. Membuat paket mobil wisata dari entrance utama desa untuk tur ke tiga telaga sehingga kendaraan pribadi wisatawan diparkirkan di tempat parkir utama

3.4 Masterplan Pengembangan Area Telaga Loa

Berdasarkan hasil temuan berupa kondisi eksisting, potensi-potensi, beserta analisis SWOT dari atraksi, amenitas, dan aksesibilitas area Telaga Loa, dihasilkan konsep besar untuk menjadikan area Telaga Loa sebagai “Area Wisata Terintegrasi Telaga Loa” yang memiliki arahan desain sebagai berikut:

(1) Berkelanjutan

Perubahan yang direncanakan di Telaga Loa harus melestarikan lingkungan, melestarikan budaya dan warisan leluhur, merawat dan melestarikan kondisi alam sekitar, dan meminimalisasi kerusakan alam.

(2) Ekowisata

Segala bentuk aktivitas wisata yang dilakukan di Telaga Loa dirancang supaya memberikan edukasi tentang konservasi alam dan tidak menimbulkan perubahan yang negatif terhadap alam.

(3) Berbasis Komunitas

Pengembangan area Telaga Loa harus melibatkan masyarakat sebagai pelaku wisata dalam segala kegiatan yang ada di dalamnya. Hal ini dilakukan agar perekonomian masyarakat meningkat melalui terbukanya lapangan pekerjaan.

(9)

Terwujudnya konsep tersebut perlu dibarengi dengan ide-ide untuk membuat diversifikasi atraksi wisata dengan memaksimalkan potensi yang ada di sekitar Telaga Loa. Opsi-opsi kegiatan pariwisata yang berbasis pada ekowisata bisa ditambahkan untuk menarik wisatawan dan membuat mereka bertahan lebih lama, seperti ecobike, piknik, ecoprint, berkebun, tangkap ikan, memancing, serta outbond. Konsep ini tidak hanya berfokus pada wisatawan saja, melainkan warga desa juga harus diberdayakan. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memberikan tempat khusus bagi UMKM lokal untuk menjual produknya di area Telaga Loa. Seluruh aktivitas wisata yang telah disebutkan sebelumnya bisa direncanakan secara spasial sesuai tata letak dan kebutuhan ruang melalui bubble diagram serta zonasi.

Figure 1. Bubble Diagram Aktivitas Wisata

(10)

Masterplan selain dibuat dalam wujud peta dua dimensi, juga dibuat dalam bentuk tiga dimensi.

Model tiga dimensi ini akan memberikan visualisasi yang lebih jelas akan konsep yang diusulkan penulis. Model tiga dimensi tersebut diambil dalam bentuk isometri dan perspektif mata burung untuk memperlihatkan fungsi-fungsi dalam kawasan serta menampilkan visual bentuk dan material yang digunakan. Adapun fungsi-fungsinya adalah sebagai berikut:

(1) Area Parkir

Area parkir dimanfaatkan untuk tempat parkir mobil jeep wisata. Sementara, kendaraan pribadi wisatawan diletakkan di zona masuk Desa Jerukleueut sesuai rencana masterplan yang sudah ada.

(2) Adventure Playground

Tempat bermain bagi anak-anak sebagai sarana untuk beraktivitas fisik dan lebih dekat dengan lingkungan alam.

(3) Gerbang Masuk

Gerbang utama merepresentasikan pintu masuk yang memberikan pengalaman bagi pengunjung seolah-olah mereka memasuki keraton.

(4) Ecobike

Figure 2. Zonasi Aktivitas Wisata

(11)

Area pendopo digunakan sebagai starting point untuk atraksi sepeda wisata. Pengunjung bisa menyewa sepeda untuk mengelilingi Telaga Loa.

(5) Area Tangkap Ikan

Area sempit pada telaga yang terhubung ke sungai dapat dijadikan sebagai tempat wisata edukasi menangkap ikan yang digemari oleh kalangan anak-anak.

(6) Kebun

Kebun pisang milik warga bisa dijadikan atraksi wisata petik pisang. Pengunjung bisa membeli pisang hasil panen milik warga dan merasakannya langsung.

(7) Area UMKM

Tersedia pasar kecil khusus untuk teman- teman UMKM yang ada di Desa Jerukleueut untuk menjualkan produknya.

(8) Area Piknik

Area duduk-duduk lesehan bagi pengunjung sambil menikmati makanan UMKM dan ditemani dengan alunan live music oleh komunitas warga.

(9) Bale

Bangunan bale utama lantai bawah berfungsi sebagai area TIC dan ticketing, sementara lantai atas berfungsi sebagai meeting point.

(10) Ecoprint

Kegiatan ecoprint dilakukan di tempat pendopo semiterbuka agar mendapatkan penghawaan dan pencahayaan yang cukup dengan view Telaga Loa.

(11) Pathway

Pathway atau jalur pejalan kaki yang mengitari Telaga Loa merupakan fasilitas pendukung agar pengunjung dapat berjalan santai di sekeliling telaga. Selain itu, jalan ini menjadi akses utama dari segala atraksi wisata yang berada di pinggiran telaga.

(12) Saung Pemancingan

(12)

Saung-saung yang tersebar di beberapa titik sekitar Telaga Loa disediakan khusus untuk wisatawan yang ingin memancing di Telaga Loa.

(13) Gazebo

Area gazebo memiliki view terbaik untuk melihat Telaga Loa sebab tidak terhalang oleh pepohonan dan kontur tanahnya lebih tinggi dari area sekitarnya.

4. KESIMPULAN

Figure 3. Isometri Pengembangan Area Telaga Loa

Figure 4. Perspektif Mata Burung Pengembangan Area Telaga Loa

(13)

Selama proses pengabdian di kawasan Telaga Loa, Desa Jerukleueut, penulis telah berhasil menyelesaikan dan menghasilkan gambar masterplan pengembangan Area Telaga Loa, termasuk di dalamnya desain skematik dari fasilitas penunjang Telaga Loa sebagai tempat wisata. Rancangan masterplan ini didukung dengan kooperatifnya seluruh perangkat desa dan tokoh masyarakat dalam memberikan kebutuhan data terkait potensi dan permasalahan yang menjadi dasar penulis dalam melakukan analisis. Masterplan pengembangan area Telaga Loa ini bisa membuat Telaga Loa semakin dikenal dan menjadi salah satu destinasi wisata andalan di Desa Jerukleueut. Dengan begitu, hal ini akan memberikan dampak positif terhadap kemajuan pariwisata Desa Jerukleueut sebagai desa wisata perintis.

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah memberikan kelancaran dalam proses pembuatan masterplan pengembangan area Telaga Loa sehingga mencapai tujuan yang diharapkan serta hasil yang diinginkan. Ucapan terima kasih kepada seluruh perangkat Desa Jerukleueut dan Ketua RT 3 Blok Pahing yang telah membantu dalam pengumpulan data terkait Telaga Loa.

Ucapan terima kasih kepada mitra penyedia dana yaitu Universitas Gadjah Mada, Amigo Stable, Waroeng Steak, dan PT Pupuk Kalimantan Timur.

DAFTAR PUSTAKA

Achjar, Ibrahim, A., & Anggraini, M. (2019). Buku panduan penyusunan masterplan desa ekowisata:

studi kasus pendampingan Desa Cepogo Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Pusat Riset Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia.

Akbar, Moh Ardi, dkk. (2018). Pengembangan Desa Wisata Budaya Berbasis Masyarakat di Dusun Sade Desa Rembitan Kabupaten Lombok Tengah. Skripsi Ilmu Pemerintahan, FISIP, UMM.

(14)

Saud, M. Ibnu, dkk. (2021). Arahan Penyusunan dan Perancangan Masterplan Desa Madu Retno Berbasis Wisata Budaya. Jurnal Pengabdian Inovasi Lahan Basah Unggul, (134-145)

Referensi

Dokumen terkait