• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nama Puisi liris "Sulut"

N/A
N/A
Ahmad Alif Diska Nazlul Hidayah

Academic year: 2023

Membagikan "Nama Puisi liris "Sulut""

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Sulut

Jika hujan melihatkan wajahnya

Apalah aku, yang terus menjaganya didalam pelupuk mata ? Sedang ada yang tersulut didalam, jauh dan titik temunya Hangus terbakar dan tercium aroma busuk meski itu sedikit

Basah tak berkesudahan, diterpa angin kesunyin, diinjak api keserakahan

Realita melontarkan suaranya dan berkata "Dasar makhluk lemah !!! Rindu siapa yang kau genggam ?!! Tak ingatkah pertemuan terakhir saat itu ?!! Duduk berdua saja, tak saling menatap, tak ada kata "hai apa kabar" dan "selamat tinggal" diakhir yang terucap !!! Sudah lah !!!"

Bibirku terkunci, namun hati terus mencaci diri Melihat mulai rapuhnya hati ini

Yang saat ini sudah harus mengakui Bahwa dirimu pantas untuk pergi

Usang

Gemericik air yang diinjak terdengar asing di telinga

Disebelahnya, aku menatap genangan air didepan rumah tua yang usang Melihat dunia yang kini telah usang

Tumbuhan disekitar pun terbakar tuntas Banyak orang kelaparan dipinggiran kolam

Kriminalitas terjadi dari akar ekonomi yang diambang batas

Aku pergi menjauh dari itu

Melihat dan menemukan kembali genangan didepan rumah mewah yang tak jauh dari rumah tua yang usang

Aku menaruh karpet berwarna merah darah

Banyak penguasa yang membenturkan aparat dengan rakyat

1 | P a g e

(2)

Air darah keluar tanpa penuh dusta, tanpa bersalah Banyak pembunuhan dimana-mana

Dasar pemabuk anggur darah !!!

Aku pergi lagi

Kini, aku memilih untuk menjauhi genangan Namun, disudut jalan...

Aku melihat danau, dengan air yang jernih dan ikan-ikan indah sedang berenang mengitarinya, terdapat kodok diatas bunga teratai sebagai rumah kecilnya, dan capung yang bebas bersembunyi dibalik kabut danau yang tipis

Aku memilih loncat dan berenang didalamnya Karena aku tau, aku pantas menikmatinya

Dunia Ufuk Barat

Dunia ufuk barat

Penuh dengan gemerlapan

Lampu-lampu kota berwarna-warni Gedung-gedung yang menjulang mewah Pantai-pantai yang konon katanya indah

Yang katanya juga orang akan merasakan surganya dunia

Saat mentari ingin terlelap pun warna kemegahannya tak terelakkan Itulah yang sering di puja oleh penghuni dunia ufuk timur

Dunia ufuk timur

Dunia dengan penuh rerumputan

Hewan-hewan ternak layak nya sapi, kambing, dan sebagainya pergi ke padang rerumputan itu Kehidupan tanpa gedung-gedung mewah, hanya gubuk dan limbah yang menyeruak bau menyengat tiap harinya

2 | P a g e

(3)

Itulah yang dipikirkan dan dirasakan oleh penghuni dunia ufuk timur

Pada akhirnya, mereka lupa

Akan mewahnya pantai dan angin yang saling bersautan di atas perbukitan-perbukitan itu Mereka lupa akan indahnya fajar pagi yang mulai membangunkan setiap penghuni disana Surga yang benar di dunia itu tertutup oleh angan dunia ufuk barat

Menangis lah tanah yang dipijak, air yang di minum, pepohonan dan tumbuhan yang dijadikan pangan, dan udara bersih yang sering mereka hirup

Semu Menyatu

Banyak orang bertanya “Apakah engkau mencintainya ?”

Lalu, aku menjawab “Tidak”

Raut wajah kebingungan benar terpampang kepada mereka

“Mengapa tidak ?” mereka melanjutkan atas yang menghantui mereka

Aku menjawab “Bahwa cinta hanyalah sebatas tali pengikat yang terus mengekang tuannya.

Lantas aku meleburkan tali itu hingga menjadi satu. Dan kini, yang tersisa hanyalah dia adalah aku, dan aku adalah dia.”

Sama

Jika yang terdengar hanyalah raungan atas namanya Dan apa yang kini terlihat atas segalanya hanyalah ia

Dan lagi, yang rasa yang tersisa hanyalah rindu yang menggebu ingin menemuinya Apalah jika yang tampak tinggalah wujud saja

Yang tersisa darinya binasa yang aku tak mampu menempuhnya

3 | P a g e

(4)

Raga-raga

Wujud semu yang mudah lara karena yang tampak pula Tak pernah memaknai apa yang ada didalam wujud Hilang nafas dan nafsu belaka

Kulit, daging, tulang dan kawanannya hanyalah satu

Aku, kamu dan mereka hanya terbatas oleh apa yang menjadi pembatas atas ketidak mampuan yang berjulukan sifat dan sikap

Jauh

Kebanyakan jarak dijadikan objek yang selalu disalahkan Berkilo-kilo dan berjam-jam palsunya

Tidak ada keterpautan didalamnya Tak ada yang murni nyatanya Tersisa hanya bual belaka

Dekat

Makna dalam yang terus menerus terpaut

Jika menyatu tiada lah arti angka dalam kilometer

Tiada kesusahan bila tak menggunakan hukum yang dibuat Semua tafsiran tentangnya yang hanya semata tak akan mempan Tersisa aku dan kamu yang menyatu

Dalam angka satu yang telah melewati angka nol Tak ada kata lagi yang dapat mewakilinya

Hanya nama mu yang terus aku sebut hingga rindu ini terbayar tuntas

4 | P a g e

Referensi

Dokumen terkait