Untuk itu UM sebagai salah satu perguruan tinggi di Indonesia harus mengembangkan dan menyiapkan standar pengajaran yang lebih tinggi dari standar pengajaran yang terdapat dalam SNPT. Standar pembelajaran yang dikembangkan dan dikumpulkan oleh UM dibingkai, terstruktur atau diwujudkan dalam paradigma pembelajaran berbasis kehidupan (BBK) atau pembelajaran berbasis kehidupan (LBL). Nama atau label yang berupa frasa “paradigma pembelajaran berbasis kehidupan (LBL)” adalah seperangkat gagasan berpikir tentang pembelajaran yang dapat diibaratkan “rumah besar atau rumah gadang untuk model, metode, strategi, kegiatan dan/ atau praktik pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan dalam berbagai kegiatan pendidikan dan pembelajaran berbagai bidang ilmu dan berbagai program studi dalam kerangka UM.”
Oleh karena itu paradigma BBK lebih merupakan kerangka berpikir gestalt yang fundamental-holistik-mengintegrasikan-dalam praktik pembelajaran di lingkungan UM. Hal ini ditegaskan oleh berbagai ajaran agama dan kepercayaan serta kearifan lokal, termasuk kearifan lokal yang ada di Indonesia. Kedua, lapisan (inti) terdalam dari proses pendidikan adalah kehidupan manusia yang berakhlak mulia, bermartabat, bermartabat dan berkesinambungan, tidak hanya terbatas pada pekerjaan dan eksistensi saja.
Oleh karena itu, praktik pengajaran teleologis-visioner hendaknya ditempatkan pada tataran pendidikan kehidupan manusia, yaitu dalam kaitannya dengan upaya pembebasan, penggarapan, pemberdayaan, pengembangan dan/atau penyadaran akan potensi, karakter, dan bakat dasar, yang karenanya siswa menjadi pribadi yang utuh. Oleh karena itu, dalam paradigma BBK, pembelajaran dapat berlangsung di mana saja, dalam situasi apa saja, dan dalam keadaan apa pun secara saling melengkapi, melengkapi, dan/atau simultan. Oleh karena itu, paradigma BBK menggunakan semboyan (taqline): hidup adalah belajar (life is learning), belajar adalah hidup (learning is life); hidup adalah belajar, belajar adalah hidup.
Teks akademik ini menguraikan (1) landasan pemikiran atau alasan pentingnya pengembangan paradigma BBK untuk menjawab pertanyaan mengapa pilihan paradigma pembelajaran jatuh pada paradigma BBK. 2) konsep dan nilai dasar paradigma BBK untuk menjawab pertanyaan, apa saja makna dan nilai mendasar yang terkandung dalam paradigma BBK, (3) landasan paradigma BBK untuk menjawab pertanyaan tentang apa itu benda? melatarbelakangi atau menjadi landasan keberadaan paradigma BBK, (4) fokus, orientasi dan komponen BBK untuk menjawab pertanyaan kemana arah paradigma BBK, (5) asas umum (basic prinsif) BBK paradigma untuk menjawab pertanyaan tentang aturan atau pedoman yang harus dilaksanakan dalam paradigma BBK, (6) ciri-ciri utama paradigma BBK untuk menjawab pertanyaan apa yang menjadi ciri keberadaan paradigma BBK dibandingkan dengan paradigma pembelajaran lainnya, (7) spektrum dan variasi model paradigma BBK untuk menjawab pertanyaan model, metode, strategi dan/atau praktik belajar mengajar yang mana yang dapat diterapkan dalam paradigma BBK, dan (8) praktik paradigma BBK dalam kurikulum dan kuliah tanggapan. pertanyaan bagaimana menerapkan atau menerapkan paradigma BBK ketika merencanakan dan menyelenggarakan perkuliahan di perguruan tinggi.
METODE PENGEMBANGAN PARADIGMA BBK
8 - Naskah akademis. dan taman) harus dianggap sebagai satu kesatuan yang utuh; Demikian pula situasi dan momentum belajar dapat terjadi kapan saja dan dalam keadaan apa pun dengan berbagai sumber belajar yang memungkinkan dan sesuai (termasuk waktu belajar, sosialisasi, waktu luang, bahkan pekerjaan yang dapat saling melengkapi dan mendukung siswa dalam melakukan tindakan belajar). Demikian pula fenomena tindakan pembelajaran yang berlangsung di berbagai bidang ilmu dan program studi dapat dilihat secara keseluruhan – suatu model pembelajaran mental yang terpadu sesuai dengan proporsi dan standar, bukan sekedar penambahan dan penjumlahan dari ciri-ciri umum yang ada. . bukan. dan demikian pula di antara fenomena tindakan pembelajaran di berbagai bidang ilmu dan program studi. Dengan lensa seperti itu, paradigma BBK diyakini dapat disempurnakan, dikonsep dan dirumuskan, yang dapat disebut “pembelajaran universal”.
Dalam menjalankan kecanggihan, konseptualisasi dan perumusan paradigma BBK yang didekati dari perspektif perenialisme, dilakukan empat kegiatan pokok. Kedua, kegiatan tinjauan literatur heuristik-fenomenologis terhadap berbagai literatur yang berkaitan dan berkaitan dengan pengembangan paradigma pembelajaran BBK, misalnya pemikiran Ki Hadjar Dewantara, KH Hasyim As'ari, KH Ahmad Dahlan, amanat UNESCO tentang pembangunan berkelanjutan Pasca - 015 , dan literatur perundang-undangan - Undangan Indonesia tentang pendidikan. Terakhir, kegiatan penelitian dan pengembangan terhadap berbagai topik yang termasuk dalam tema paradigma BBK dilakukan secara terprogram dan berkesinambungan oleh berbagai akademisi dengan latar belakang keilmuan yang berbeda-beda terhadap berbagai topik yang termasuk dalam tema paradigma BBK.
NALAR PENTINGNYA PARADIGMA BBK
Tak heran jika banyak orang yang mengumumkan bahwa kini dunia dan kehidupan manusia sudah berada di era digital. Di era digital, lahirlah generasi digital native yang memiliki profil dan karakteristik yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya; tumbuh dan berkembangnya kehidupan berjejaring yang selalu terhubung secara digital (always online communications); kaburnya batas wilayah, politik, sosial dan budaya sehingga menimbulkan dinamika geopolitik, teknopolitik, sosiokultural, dan regiokultural; Revolusi digital yang telah mengubah bentuk dunia dan kehidupan manusia telah menimbulkan tantangan, tuntutan dan kebutuhan baru bagi dunia pendidikan khususnya pembelajaran sehingga harus disikapi dan diantisipasi secara memadai.
Dunia yang semakin terintegrasi berkat internasionalisasi, globalisasi, teknologi transportasi dan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin intensif juga merupakan fenomena yang sangat penting sejak awal abad XXI. Dunia yang semakin terintegrasi ini berarti mobilitas fisik (baca: manusia, barang dan sejenisnya) maupun non fisik (baca: keuangan, seni, nilai dan sejenisnya) dapat dan memang terjadi secara bebas, leluasa, terbuka. Lebih jauh lagi, hal ini menghasilkan persinggungan, perjumpaan dan persinggungan yang kompleks antara orang-orang dan budaya yang berbeda, baik lokal maupun global atau regional;
Dunia bergerak pantas atau berubah sangat pantas disebabkan revolusi digital yang mempengaruhi semua hemisfera dan integrasi dunia yang secara literal mencapai semua hemisfera adalah fenomena yang sangat penting pada abad XXI ketiga. Dalam dunia tunggangan, perubahan mendadak, gelora dan arah yang tidak jelas adalah perkara biasa selain sangat pantas. Dalam dunia berkuda, kepantasan dan ketangkasan (dexterity) dilihat sebagai sesuatu yang positif dan baik, sehinggakan kepantasan, kepantasan dan kepantasan serta kepraktisan menjadi pengukur atau pengukur sama ada sesuatu itu baik atau tidak dalam pelbagai bidang kehidupan manusia.
Revolusi digital, integrasi dunia global dan dunia miring dapat terjadi karena ilmu pengetahuan mengalami kemajuan yang luar biasa sehingga dunia mengalami kepadatan pengetahuan saat memasuki abad ke-21. Saat ini dan terlebih lagi di masa yang akan datang, segala sesuatu selalu bertumpu pada ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan; tanpa ilmu pengetahuan maka seseorang atau suatu bangsa akan rugi, bahkan terpuruk karena ilmu pengetahuan berubah dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Fenomena nomor 1 sampai dengan 4 di atas tidak hanya memberikan berbagai kenyamanan dan kenikmatan hidup manusia, namun juga menimbulkan atau menimbulkan ekses kosmis dan humanistik yang tidak dikehendaki oleh manusia (sebagai dampak yang tidak disengaja) berupa kondisi kemanusiaan dan kemanusiaan saat ini. mengalami peningkatan dehumanisasi. , McDonaldisasi, medikalisasi berlebihan, virtualisasi dan hiper-realitas kehidupan, serta kehancuran seiring dengan pemanasan global, kerusakan lingkungan dan keanekaragaman hayati yang semakin terancam.
Kondisi tersebut dapat berupa (i) keterasingan dan disorientasi yang menyebabkan manusia tercabut dari akar kehidupan manusia, kekosongan rohani karena sulitnya menyelaraskan jiwa-perasaan-tubuh serta mengalami kepribadian ganda (ii) ilusi dan halusinasi akibat tidak adanya kehidupan di muka bumi (dengan bumi) dan dalam lingkaran palsu (simulacra) yang seakan tiada habisnya, (iii) kedangkalan makna hidup yang dapat berupa pemahaman hidup sebatas pada kerja mencari nafkah. menghayati dan menjadikan ilmu pengetahuan hanya sekedar hafalan dan bukan alat penyelesaian permasalahan kehidupan, dan (iv) berbagai bentuk kekerasan dan pengrusakan yang merusak manusia dan peradaban. Sesuai dengan kondisi tersebut, pendidikan ditantang dan dituntut untuk mengatasinya, bahkan memprediksi dan meramalkan pencegahannya agar kualitas hidup dan kehidupan manusia tidak semakin menurun seiring berjalannya waktu. Untuk itu pendidikan pada khususnya merupakan pembelajaran yang bertanggung jawab dan dituntut mampu mewujudkan humanisasi, transendensi dan konsistensi mata pelajaran peserta didik.
LANDASAN PARADIGMA BBK
KONSEPSI DAN NILAI DASAR PARADIGMA BBK
Hal tersebut antara lain dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas interaksi dan komunikasi humanistik secara langsung, mengelola interaksi virtual-digital yang diimbangi dengan interaksi humanistik-alami, menempatkan kehidupan nyata sebagai ruang perjumpaan, dan sebagainya. Nilai-nilai dasar paradigma BBK adalah hal-hal yang paling berharga dalam diri manusia sebagai makhluk spiritual, makhluk sosial, dan makhluk individu yang mempunyai potensi dan bakat yang selalu dapat dikembangkan sepanjang hayat sehingga menjadi kemampuan pribadi yang dapat digunakan untuk memasuki kehidupan. pekerjaan dan/atau jabatan tertentu secara keseluruhan secara fleksibel. Belajar merupakan suatu proses pembentukan dan pengembangan kepribadian yang utuh sehingga peserta didik menjadi pribadi yang utuh.
Pembelajaran merupakan suatu proses transformasi atau pengubahan suatu pola pikir (mindset) menjadi suatu pola pikir yang perlu dan diinginkan secara kolektif, sehingga pola pikir tersebut dapat menjadi penggerak kehidupan peserta didik setelah selesainya proses pendidikan di satuan pendidikan. Belajar adalah proses mengenal dan membentuk jaringan kehidupan yang luas, tidak sekedar mengenal dan memantapkan suatu bidang keilmuan dengan teman sekelas atau seprofesi, tetapi membangun dan melaksanakannya. Pembelajaran dapat dipilih dan dirancang secara mandiri dan mandiri oleh subjek atau siswa sesuai dengan keputusan hidup yang ingin dijalani dan/atau diikutinya baik selama maupun setelah menempuh pendidikan di satuan pendidikan.
FOKUS DAN ORIENTASI BBK
Paradigma BBK berorientasi pada pembentukan, pemberdayaan, pemberdayaan dan pengembangan diri peserta didik sebagai peserta didik sebagai individu seutuhnya yang selalu belajar dimanapun berada, dalam situasi kehidupan apapun dan dalam keadaan kehidupan apapun, misalnya dalam bekerja, berkeluarga. , bersantai dan/atau bermeditasi sendiri. Oleh karena itu, dalam paradigma BBK, sumber belajar yang berbeda harus dicari dan digunakan secara konsisten, batasan ruang dan waktu belajar harus dihilangkan, dan konteks pembelajaran harus diperhatikan agar pembelajaran selalu mempunyai sumber belajar yang berbeda. tidak dibatasi oleh ruang dan waktu serta menyesuaikan dengan konteks pembelajaran.
ASAS-ASAS UMUM PARADIGMA BBK
Paradigma BBK mengakui dan mewadahi siswa sebagai perancang praktik pembelajarannya sendiri dengan mengingat dan berpegang pada kaidah umum yang berlaku. Paradigma BBK mengakui dan merangkul konteks kehidupan yang luas sebagai arena dan ruang belajar bagi peserta didik, sehingga pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas dan di dalam kurikulum.
KARAKTERISTIK UMUM PARADIGMA BBK
Paradigma BBK menempatkan kemauan dan semangat manusia sebagai titik kritis yang sangat penting dalam keberhasilan pembelajaran berkelanjutan. Paradigma BBK mengakui bahwa proses perubahan atau kemajuan pembelajaran kualitatif berbeda-beda di kalangan siswa.
MODEL BELAJAR BERBASIS KEHIDUPAN
DESAIN BELAJAR BERBASIS KEHIDUPAN
ARAH BELAJAR BERBASIS KEHIDUPAN