• Tidak ada hasil yang ditemukan

Naskah KKN Posko 1 & 2

N/A
N/A
Edwin

Academic year: 2025

Membagikan "Naskah KKN Posko 1 & 2"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

Desa

Bonto Tallasa

Bonto Tallasa, tanah kehidupan yang terhampar luas, Di sini kami berdiri, menatap langit penuh harapan.Bonto, tanah yang subur

dengan doa, Tallasa, kehidupan yang tumbuh dengan usaha dan sabar

(2)

Di Awal Ada Gugup, Di Akhir Ada Rindu: Catatan Pengabdian di Desa Bonto Tallasa

Desa Bonto Tallasa: Kehidupan dan Kebersamaan di Simbang

Desa Bonto Tallasa terletak di Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros, sekitar 5 km dari Kota Maros. Meskipun jaraknya cukup dekat dari pusat kota, suasana yang ada di desa ini terasa jauh berbeda. Keasrian alamnya dan kehidupan yang penuh kebersamaan menyambut siapa pun yang datang. Desa ini terdiri dari enam dusun: Pakere, Banyo, Makuring, Ujung Paku, Macinna, dan Bonto Padingin. Dusun Pakere, sebagai pusat desa, menjadi tempat berkumpulnya warga dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Kehidupan di desa ini sangat erat kaitannya dengan kebersamaan, di mana setiap warganya saling membantu dan bekerja sama dalam berbagai aktivitas.

Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian, khususnya pengelolaan sawah. Lahan yang luas dan subur menjadikan pertanian, khususnya padi, sebagai mata pencaharian utama warga. Saat musim panen tiba, hamparan sawah yang menghijau menjadi pemandangan yang khas dan menenangkan. Selain pertanian, ekonomi warga juga ditunjang oleh peternakan ayam rumahan yang tersebar di beberapa rumah. Meski sederhana, kandang ayam ini memberikan kontribusi penting dalam menopang penghasilan keluarga.

Di tengah desa, ada dua sekolah dasar yang berdampingan, sebuah pemandangan yang cukup unik. Kedua sekolah tersebut hanya dipisahkan oleh satu bangunan yang sangat berarti bagi masyarakat desa: Masjid Nurul Yaqin. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, tetapi juga

Bonto Tallasa bukan hanya sebuah desa kecil yang sederhana. Di balik setiap sudut desa ini, terdapat kisah tentang kebersamaan, keteguhan hati, dan semangat untuk maju. Keindahan alam yang memanjakan mata, kebersamaan yang menghangatkan hati, serta semangat yang tak pernah padam untuk terus belajar, menjadikan desa ini lebih dari sekadar tempat

(3)

tinggal. Ini adalah tempat di mana nilai-nilai kehidupan, seperti saling membantu, menghargai alam, dan mencintai ilmu, tumbuh subur, seperti padi yang menguning di sawah yang luas. Bonto Tallasa adalah sebuah tempat yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan yang sederhana namun penuh makna.

Kesan pertama yang dirasakan oleh mahasiswa KKN saat tiba di desa Bonto Tallasa juga sangat menggembirakan. Masyarakat desa sangat menerima kehadiran mahasiswa dengan sikap yang sangat ramah dan terbuka. Sikap hangat dari masyarakat mencerminkan budaya gotong royong yang sangat kental di desa ini. Mereka tidak hanya sekadar menyambut, tetapi juga ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh mahasiswa KKN. Hal ini menunjukkan bahwa desa Bonto Tallasa sangat mendukung kehadiran mahasiswa sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas hidup di desa mereka.

Dari Harap, Cemas, hingga Syukur di Posko Bintang Empat

Pengumuman nama-nama peserta KKN beserta lokasi penempatannya menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu oleh kami semua. Di tengah degup jantung dan bisik-bisik harapan, kami berharap dapat ditempatkan bersama sahabat-sahabat terdekat—teman satu visi, yang bisa diajak berbagi cerita, bekerja sama dalam tim, dan saling menguatkan dalam suka maupun duka. Tempat yang nyaman, aman, dan mudah dijangkau juga menjadi harapan lain yang tak henti-hentinya kami panjatkan.

Namun, di balik harapan itu, terselip rasa cemas yang tak kalah besar, bagaimana jika harus terpisah dari teman dekat? Bagaimana jika lokasi penempatan jauh, asing, dan menantang? Perasaan itu bercampur aduk: antara semangat dan ragu, antara antusiasme dan kekhawatiran.

Akhirnya, hari yang dinanti pun tiba. Daftar penempatan resmi diumumkan. Dengan jantung berdebar, mata kami menelusuri lembaran daftar yang terpampang. Alhamdulillāh, Allah mengabulkan doa-doa kami.

Aku ditempatkan bersama beberapa teman dekat, orang-orang yang sudah

(4)

akrab, yang bisa diajak bekerja sama dan berbagi cerita, bahkan tertawa di tengah lelahnya pengabdian. Namun bukan hanya itu yang membuat kami bersyukur. Rumah yang akan menjadi posko kami ternyata jauh melebihi ekspektasi. Orang-orang sampai menjulukinya "posko bintang empat".

Rumahnya luas, bersih, fasilitas lengkap, dan suasananya begitu nyaman.

Sebelum benar-benar terjun ke lokasi, kami lebih dulu mengikuti rangkaian pembekalan KKN selama kurang lebih satu pekan. Waktu yang singkat namun penuh dengan ilmu yang sangat bermanfaat. Mulai dari etika bermasyarakat, manajemen program kerja, teknik komunikasi efektif, hingga persiapan menghadapi tantangan di lapangan, semuanya menjadi bekal penting sebelum kami benar-benar terjun ke masyarakat.

Lalu tibalah hari pelepasan. Pagi itu, langit cerah seolah ikut menyambut semangat kami. Tas-tas besar dan koper telah tertata rapi.

Wajah-wajah penuh harap terlihat di mana-mana, meski sesekali senyum yang kami tunjukkan terasa agak dipaksakan—menyembunyikan rasa gugup dan takut. Takut akan tantangan yang belum tergambar, takut tidak bisa beradaptasi, takut jauh dari kenyamanan yang biasa kami nikmati.

Namun rasa penasaran lebih kuat dari semuanya. Seperti apa desa yang akan kami tempati? Bagaimana masyarakatnya? Akankah kami diterima dengan baik?

Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, tibalah kami di sebuah lorong kecil di Desa Bonto Tallasa, tempat pengabdian kami untuk beberapa pekan ke depan. Dua mobil “pete-pete” berwarna biru yang kami tumpangi setia mengantar hingga ke titik tujuan. Tapi perjalanan kami tak sepenuhnya mulus. Ada kejadian lucu yang tak akan kami lupakan: kedua mobil yang membawa kami ternyata sempat tersesat. Entah karena kurangnya petunjuk atau salah komunikasi, kami malah berputar-putar lebih lama dari yang seharusnya. Sebagian membuka GPS dengan penuh harap, sebagian lagi hanya bisa tertawa pasrah, menikmati pemandangan yang entah di mana.

Akhirnya kami tiba di rumah putih di tengah lorong kecil itu, rumah yang kelak akan menjadi “rumah kedua” kami selama KKN. Begitu turun

(5)

dari mobil, mata kami langsung tertuju pada bangunan yang tampak bersih, dengan lantai mengilap dan suasana yang begitu nyaman.

Beberapa dari kami saling berbisik, “Ini beneran posko KKN?” Rasa syukur tak henti-hentinya kami panjatkan. Di tempat inilah kelak akan lahir kenangan. Di sinilah kami akan menuliskan cerita tentang perjuangan, kebersamaan, tawa, bahkan mungkin air mata. Sebuah rumah yang akan kami sebut “rumah” untuk sementara waktu, tapi akan kami kenang untuk selamanya.

Menjemput Amanah, Menyulam Kehangatan: Pekan Pertama di Desa Bonto Tallasa

Hari pertama kami di Desa Bonto Tallasa dimulai dengan semangat yang membara, meskipun langit sedang bersedih. Subuh hari, embun masih menggantung di ujung daun, dan rintik gerimis turun perlahan menyambut langkah awal kami. Roda-roda motor mulai melaju menyusuri jalanan desa yang tenang. Udara pagi yang sejuk dan bersih menyapa wajah-wajah kami yang penuh antusiasme, sementara hamparan sawah di sisi kanan jalan membentang luas, menyajikan pemandangan hijau yang menyejukkan mata dan menenangkan hati.

Usai salat Subuh berjamaah di masjid desa, kami berkumpul di posko, menyusun rencana program kerja untuk 2 bulan ke depan. Rencana demi rencana kami diskusikan, mulai dari program keagamaan, pengajaran TPA, ceramah, kegiatan Ramadhan, hingga program untuk remaja dan anak-anak. Meski banyak hal yang belum kami ketahui secara pasti tentang kondisi masyarakat, semangat kami untuk mengabdi tetap menyala.

Setelah menyusun kerangka program kerja, kami melanjutkan dengan observasi lapangan. Rencana awalnya adalah menemui kepala desa, namun sayangnya beliau sedang tidak berada di tempat. Tanpa membuang waktu, kami pun berinisiatif langsung menyambangi kepala- kepala dusun, para imam masjid, imam dusun, serta ketua RT yang tersebar di berbagai wilayah desa.

(6)

Dengan mengendarai motor menyusuri jalan-jalan desa yang lurus dan tenang, kami memperkenalkan diri sebagai mahasiswa KKN dari STIBA Makassar, menyampaikan maksud dan niat pengabdian, serta menggali informasi seputar kondisi keagamaan dan sosial masyarakat.

Mereka menyambut hangat, bahkan tampak antusias mendengar bahwa pengabdian ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.

Keesokan harinya, suasana desa sedikit berbeda. Tepat di sekitar lingkungan posko, ada kabar duka: salah seorang warga meninggal dunia.

Sebagai bentuk empati dan bagian dari masyarakat desa, kami pun ikut melayat. Dari momen itu, kami mulai merasakan bagaimana eratnya hubungan antarmasyarakat di desa ini, serta bagaimana masyarakat pun mulai terbuka dengan kehadiran kami.

Di hari yang sama, akhirnya kami mendapat kesempatan untuk bertemu dengan perangkat desa. Dalam pertemuan tersebut, mereka menyampaikan beberapa arahan dan harapan, agar kehadiran kami sebagai mahasiswa KKN bisa memberi warna baru bagi masyarakat, khususnya dalam aspek keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Hari-hari awal ini menjadi pondasi awal dari seluruh rangkaian pengabdian. Bukan sekadar observasi dan diskusi program, tapi juga awal dari proses menyatu dengan masyarakat di lingkungan Desa Bonto Tallasa.

Menyapa, Mendengar, Menghargai: Cerita dari Tiga Dusun

Hari-hari awal pengabdian kami di Desa Bonto Tallasa diwarnai dengan langkah-langkah kecil yang ternyata penuh makna. Kami datang dengan niat untuk mengenal, namun justru banyak belajar. Tiga dusun yang kami datangi, Makuring, Bonto Paddingin, dan Macinna. Memberi kami sambutan yang berbeda, namun mengajarkan satu hal yang sama:

pentingnya kesungguhan, keterbukaan, dan rasa hormat dalam menjalin hubungan.

(7)

Dusun Makuring: Diam-diam Menguji, Diam-diam Mengikat

Salah satu pengalaman unik yang kami alami selama KKN terjadi pada hari-hari pertama kedatangan kami di desa. Saat itu, kami memutuskan untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid sebagai bentuk upaya awal untuk berbaur dengan masyarakat setempat.

Setelah shalat selesai, kami berbincang dengan imam masjid yang baru saja memimpin shalat. Beliau adalah seorang pria paruh baya yang terlihat sangat ramah dan bersahaja. Dalam percakapan tersebut, kami menyampaikan maksud ingin bersilaturahmi ke rumah Kepala Dusun.

Lalu, kami bertanya, “Pak, di mana rumahnya Pak Dusun?”Dengan tenang, beliau menjawab, “Rumahnya di sana,” sambil menunjuk ke arah sebuah

rumah tidak jauh dari masjid.

Kami pun melanjutkan dengan pertanyaan, “Kalau boleh tahu, nama pak

dusunnya siapa?”

Beliau menjawab, “Pak Jalali.”

Tanpa menaruh curiga, kami pun berpamitan dan segera menuju rumah yang telah ditunjukkan. Namun, setibanya di sana, kami dibuat terkejut. Ternyata, rumah tersebut adalah rumah imam masjid yang baru saja kami temui, dan lebih mengejutkan lagi, beliau adalah Kepala Dusun yang sejak tadi kami cari.

Sontak kami saling berpandangan dan tertawa. Ternyata, beliau sengaja tidak langsung mengaku sebagai Kepala Dusun. Beliau ingin melihat terlebih dahulu seberapa besar kesungguhan kami dalam mencari dan bersilaturahmi kepada tokoh masyarakat.

Sejak kejadian itu, hubungan kami dengan Pak Dusun Pak Jalali menjadi sangat dekat. Beliau kerap mendampingi kegiatan kami dan memberikan banyak dukungan selama pelaksanaan program KKN.

Peristiwa tersebut menjadi cerita yang selalu kami ingat, sekaligus menjadi pembuka yang menyenangkan dalam perjalanan kami selama KKN di desa tersebut.

(8)

Dusun Bonto Paddingin: Dari Tegas ke Hangat, dari Gugup ke Takjub

Langit siang itu memayungi langkah kami menuju Dusun Bonto Paddingin—sebuah tempat yang, sejak awal, menyisakan sedikit kegelisahan. Dari cerita-cerita warga, kami sudah lebih dulu dibuat was- was. Konon, Pak Dusunnya adalah sosok yang tegas, pendiam, dan kurang ramah terhadap orang baru. Maka, ketika kami dijadwalkan untuk bersilaturahmi ke rumah beliau, kami melangkah dengan hati yang separuh yakin, separuh ragu. Kami membayangkan suasana kaku, penuh basa-basi dan percakapan yang hanya sekadar kewajiban.

Namun begitu pintu rumah dibuka dan wajah beliau menyambut kami dengan senyum yang tulus dan sorot mata yang hangat, semua kekhawatiran itu runtuh seperti daun tua yang lepas dari tangkainya.

Sambutannya lembut, tangannya cekatan menyuguhkan minuman, dan kata-katanya mengalir begitu ringan, seolah kami telah lama menjadi tamu di rumahnya. Kehangatan yang kami terima bukan buatan, bukan basa- basi, melainkan ketulusan yang berdiam di rumah panggung yang sederhana itu.

Tak kami sangka, kunjungan yang awalnya kami kira akan singkat dan formal berubah menjadi sebuah kelas sejarah yang hidup. Pak Dusun, yang kami kira hanya akan bicara tentang hal-hal administratif, justru membuka lembar demi lembar kisah masa lalu yang nyaris terlupa. Ia bertutur tentang kejayaan Kerajaan Gowa, tentang keberanian Sultan Hasanuddin, tentang siasat perlawanan terhadap VOC, dan tentang kisah- kisah lokal yang tak ditemukan dalam buku pelajaran.

Kami tak hanya mendengar, kami menyimak, larut, dan tercengang.

Beberapa dari kami mencatat, sebagian lainnya hanya terdiam, terpaku pada cara beliau bercerita: tenang namun menggugah, sederhana namun sarat makna. Suaranya seperti membawa kami mundur dalam waktu, seolah kami duduk di tengah medan pertempuran sejarah, menyaksikan sendiri bab-bab besar yang membentuk daerah ini.

(9)

Sejak pertemuan itu, pandangan kami terhadap Pak Dusun berubah total. Sosok yang awalnya kami kira kaku dan tertutup, ternyata menyimpan harta karun berupa ilmu, pengalaman, dan semangat untuk berbagi. Rumah beliau bukan sekadar tempat bertamu—ia adalah ruang pembelajaran, tempat di mana kami disambut sebagai anak, bukan hanya tamu dari kota.

Itu adalah salah satu momen paling berkesan dalam rangkaian KKN kami. Sebuah kunjungan yang mengajarkan bahwa di balik dinding kayu sederhana, sering kali tersembunyi kebijaksanaan yang tak terukur. Dan bahwa kadang, sejarah tidak hanya tertulis di buku—tetapi hidup dalam ingatan seseorang, menunggu untuk dibagikan kepada mereka yang datang dengan hati terbuka.

Dusun Macinna: Teh Hangat dan bahasa penghargaan

Tak kalah membekas di hati kami, kunjungan ke Dusun Macinna menyuguhkan pelajaran yang datang bukan dari pidato atau pertemuan resmi, melainkan dari secangkir teh hangat yang tersaji di sebuah ruang tamu sederhana.

Kami datang ke dusun itu untuk menjalankan tugas observasi, seperti yang telah kami lakukan di tempat-tempat sebelumnya. Jalanan kecil kami tempuh dengan hati lapang, namun tak menyangka bahwa yang akan kami pelajari hari itu bukan hanya tentang program atau data masyarakat, melainkan tentang nilai penghargaan—yang diam-diam tumbuh dari kebiasaan kecil yang nyaris terlupakan.

Begitu tiba, warga menyambut kami dengan hangat. Di teras rumah panggung yang teduh, kami dipersilakan duduk, lalu datanglah teh hangat yang mengepul di cangkir bening, diletakkan di atas nampan bermotif bunga. Aromanya lembut, manis, dan mengajak kami untuk sejenak berhenti dari bicara dan sekadar menikmati.

Kami minum perlahan—tanpa tergesa, tanpa menyisakan. Dan di balik tindakan sederhana itu, sesuatu yang tak terduga terjadi.

(10)

Senyum warga melebar, seolah kami telah melakukan sesuatu yang besar.

Seorang ibu berkata pelan, “Baruka’ ini ada anak KKN yang habiskan tehnya.” Kalimat yang sederhana itu membuat kami saling pandang, heran sekaligus terharu.

Kemudian kami tahu, bahwa di masa lalu, pernah ada mahasiswa yang juga merupakan mahasiswa yang sedang berKKN di Desa ini yang datang lalu pergi begitu saja, meninggalkan cangkir masih penuh dan hati yang terasa kosong. Bagi mereka, teh hangat bukan sekadar minuman. Ia adalah bentuk penghormatan, lambang penerimaan, dan bagian dari adat yang tak tertulis namun diwariskan.

Dari teh itu, kami belajar. Bahwa dalam budaya pedesaan, penghargaan bukan ditunjukkan lewat pidato panjang atau sambutan yang megah, tetapi melalui sikap kecil yang tulus. Bahwa menghargai bukan hanya mendengar cerita mereka, tapi juga menghormati setiap sajian dan gestur yang mereka berikan dengan niat baik.

Di Dusun Macinna, kami tidak sekadar minum teh. Kami menyeruput kepercayaan, meneguk rasa saling menghargai, dan menanam benih hubungan yang tulus.

Dan mungkin, tanpa kami sadari, secangkir teh itulah yang menjadi jembatan awal antara niat kami sebagai pengabdi, dan hati mereka sebagai penerima yang penuh cinta.

Tak Direncanakan, Tapi Ditakdirkan

Sore itu, langit mulai temaram ketika tim KKN STIBA Makassar menyelesaikan shalat Ashar di masjid Dusun Banyo. Kami sedang melakukan observasi, bertemu tokoh-tokoh masyarakat di setiap dusun sebagai bagian dari program KKN. Di serambi masjid, dua pemuda duduk berbincang santai. Dengan semangat berkenalan yang masih membara, kami menghampiri mereka.

"Assalamualaikum, boleh bergabung?" sapa salah satu tim KKN kelompok kami.

"Waalaikumsalam, silakan," jawab salah satu dari mereka dengan ramah.

(11)

Perbincangan ringan berlanjut hingga kami mengetahui bahwa salah satu dari mereka adalah Andika, ketua remaja masjid Dusun Banyo. Diskusi mengalir ke arah kegiatan-kegiatan masjid, dan Andika menyebutkan sebuah tradisi yang telah berlangsung empat tahun: Festival Anak Shaleh.

"Tapi tahun ini sepertinya tidak bisa diselenggarakan," ucap Andika dengan nada kecewa.

"Kenapa begitu?" tanya salah satu anggota tim kami.

Andika menjelaskan bahwa festival tersebut biasanya didanai dari sumbangan masyarakat. Namun, banjir beberapa bulan lalu telah menyebabkan gagal panen bagi sebagian besar petani di dusun itu.

Akibatnya, sumber dana untuk festival menjadi sangat terbatas

Entah dorongan dari mana, tiba-tiba salah seorang dari kami berkata,

"Bagaimana kalau kami membantu menyelenggarakannya?"

Mata Andika berbinar, tapi masih tersirat keraguan. "Perkiraan dananya sekitar sepuluh juta rupiah. Cukup besar..."

"Kami mahasiswa sudah terbiasa mencari dana untuk kegiatan," sahut rekan saya dengan percaya diri, meskipun dalam hati kami semua bertanya-tanya bagaimana mewujudkannya.

Begitulah awal mula terbentuknya panitia gabungan antara pemuda Dusun Banyo dan mahasiswa KKN STIBA Makassar. Rapat demi rapat digelar, struktur kepanitiaan dibentuk, dan rencana kegiatan disusun.

Yang paling mengkhawatirkan tentu saja adalah pendanaan.

Dengan tekad kuat, kami memulai pencarian dana dua pekan sebelum pembukaan festival. Setiap hari kami berkeliling dari rumah ke rumah membawa proposal, menjelaskan pentingnya festival ini bagi anak- anak dusun. Ada yang menyumbang uang, ada pula yang menyumbang beras atau kebutuhan konsumsi lainnya.

"Maaf hanya bisa memberi sedikit," kata seorang nenek sambil memberikan selembar uang lima puluh ribu.

"Alhamdulillah, Bu. Ini sangat berarti," jawab kami tulus.

Kami juga mengirim proposal ke beberapa perusahaan dan toko di kota terdekat. Beberapa merespons positif, bahkan ada yang menawarkan sponsor untuk hadiah para pemenang lomba.

(12)

Tanpa disangka, dalam dua pekan itu, dana yang terkumpul melebihi target awal. Ini membuat kami bisa menambah kategori lomba dan meningkatkan nilai hadiah untuk peserta.

Hari pembukaan pun tiba. Meskipun persiapan sudah matang, tetap saja ada kegugupan. Beberapa kesalahan kecil terjadi—mikrofon yang mendadak mati, daftar peserta yang tertukar, hingga hujan gerimis yang sempat mengganggu jalannya acara pembukaan.

"Mungkin kita terlalu ambisius," bisik salah satu teman sambil membantu memasang terpal tambahan untuk melindungi peserta dari gerimis.

Namun, dukungan masyarakat ternyata luar biasa. Para ibu dengan sigap membantu mempersiapkan konsumsi tambahan. Bapak-bapak bergotong royong memperbaiki tenda dan panggung yang sempat goyah karena angin. Anak-anak peserta festival tetap bersemangat meskipun harus berdesakan berlindung dari hujan.

Selama tiga hari, berbagai lomba digelar—mulai dari adzan, hafalan surah pendek, ceramah, hingga cerdas cermat islami. Yang mengharukan, jumlah peserta ternyata jauh lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya.

Anak-anak dari dusun tetangga pun ikut berpartisipasi.

Pada hari penutupan, masjid dan halaman sekitarnya dipenuhi masyarakat. Bukan hanya untuk menyaksikan pengumuman pemenang, tetapi juga untuk mengapresiasi usaha panitia. Saat sambutan penutupan, kepala dusun dengan bangga menyatakan bahwa Festival Anak Shaleh tahun ini adalah yang terbaik sepanjang sejarah penyelenggaraannya.

"Alhamdulillah, festival ini membuktikan bahwa ketika kita bersatu, tidak ada yang tidak mungkin," ucap beliau yang disambut tepuk tangan meriah.

Di tengah kebahagiaan itu, Ahmad menghampiri kami. "Terima kasih. Tanpa kalian, festival ini tidak akan terlaksana."

"Justru kami yang berterima kasih," jawab saya. "Ini pengalaman berharga yang tak akan kami lupakan."

Pertemuan tidak sengaja di serambi masjid itu telah membawa kami pada sebuah pencapaian yang bermakna. Bukan hanya bagi kami sebagai

(13)

mahasiswa KKN, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Dusun Banyo, terutama anak-anak yang kini memiliki semangat baru untuk belajar agama dengan menyenangkan.

Di malam terakhir kami di dusun itu, salah satu teman berkata,

"Mungkin inilah hakikat KKN sebenarnya: menemukan kebutuhan masyarakat secara tidak sengaja, dan berani mengambil tanggung jawab untuk memenuhinya bersama-sama."

Dari Bambu dan Keringat, Lahirlah Sebuah Kenangan

Di tengah desiran angin sore yang menyejukkan Dusun Banyo, Pak Babe, seorang pria paruh baya dengan tangan kasar yang sudah terbiasa dengan kerja keras, tengah sibuk mengumpulkan bahan-bahan untuk mendirikan sebuah panggung. Tidak ada yang menyangka bahwa di balik tangan yang kokoh itu, ada dedikasi yang begitu besar untuk mewujudkan acara yang akan menjadi kenangan tak terlupakan bagi seluruh warga desa.

Pak Babe bukan hanya sekadar tukang atau pekerja biasa. Ia adalah simbol semangat dan ketekunan. Bahkan ketika banyak orang lebih memilih untuk pulang ke rumah setelah bekerja, Pak Babe tetap di lapangan, merangkai kayu, mengecek kekokohan tiang, dan memastikan semuanya siap. Malam hari, ketika suasana sudah sepi dan bintang- bintang mulai muncul, Pak Babe masih tetap bekerja, menyelesaikan panggung tersebut dengan penuh ketelitian.

Kami, anak-anak KKN yang datang dengan semangat mengabdi, tak henti-hentinya terkesima dengan dedikasi Pak Babe. Kami sering kali melihatnya bekerja hingga larut malam, tak pernah mengeluh meski tubuhnya tampak lelah. Suatu kali, saya sempat bertanya kepadanya mengapa ia begitu gigih membuat panggung itu meski pekerjaan utama menantinya di rumah. Pak Babe hanya tersenyum, matanya menyiratkan kebanggaan.

(14)

“Ini bukan hanya tentang pekerjaan, Nak. Ini tentang kebersamaan.

Panggung ini untuk kita semua. Agar kita bisa merayakan segala yang kita punya di desa ini, bersama,” jawabnya dengan sederhana namun penuh makna.

Waktu beralalu begitu cepat, 3 hari lomba diadakan dan sampailah pada hari penutupan dan pengumuman lomba. Di tengah sorak-sorai warga yang menikmati hiburan, kami menampilkan video dokumentasi yang merekam seluruh proses pembuatan panggung hingga jalannya acara, duduk dengan tenang di samping Pak Babe. Layar besar menampilkan bagaimana Pak Babe bekerja keras di bawah cahaya lampu temaram, melibatkan dirinya sepenuhnya dalam setiap detil.

Kami memperhatikan Pak Babe, yang duduk dengan tenang, wajahnya memendarkan kebahagiaan. Namun, saat video itu sampai pada bagian penutupan, ekspresi Pak Babe sedikit berubah. Kami bisa melihat matanya yang berkaca-kaca. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya, tetapi dari tatapannya kami tahu bahwa ia merasa begitu bangga dan terharu.

Pada saat itu, kami menyadari sesuatu yang lebih dalam. Ini bukan sekadar panggung atau acara biasa. Panggung itu adalah simbol dari cinta dan pengorbanan seorang ayah untuk komunitasnya, sebuah pengingat bahwa dalam setiap kerja keras yang dilakukan dengan penuh hati, ada nilai kebersamaan yang lebih besar yang terwujud.

Pak Babe tidak hanya membuat sebuah panggung, tetapi juga membangun jembatan antara hati-hati orang yang ada di Desa Bonto Tallasa. Kami, yang hanya sekelompok mahasiswa, merasa terhormat bisa menjadi bagian dari perjalanan itu, menyaksikan sebuah cerita perjuangan yang tak hanya mengajarkan kami tentang kerja keras, tetapi juga tentang makna sejati dari kebersamaan.

Malam itu, saat acara resmi ditutup dan semua orang bertepuk tangan, Pak Babe berdiri. Mungkin, bagi banyak orang, itu adalah hanya sebuah panggung yang selesai dibangun. Tapi bagi kami, itu adalah simbol perjuangan yang lebih besar. Sebuah pelajaran berharga tentang

(15)

bagaimana, dengan ketulusan hati, kita bisa membuat dunia sedikit lebih indah.

Kala Emosi Membara, Ukhuwah menyelamatkan

Ramadan di desa kecil itu bukan sekadar bulan ibadah—ia menjadi panggung ujian, tempat tempaan, dan ruang tumbuh bagi kami yang datang mengabdi dengan seragam KKN dan hati penuh cita. Hari-hari kami padat oleh pengajaran, bimbingan, dan pelayanan untuk masyarakat, namun malam itu... malam itu berbeda.

Di posko sederhana yang menjadi pusat denyut kegiatan kami, kami duduk melingkar di ruang tengah. Angin malam menyelinap lewat celah pintu yang sengaja dibiarkan terbuka, seolah ingin menenangkan percakapan yang mulai meninggi nadanya. Kami membahas program yang belum tuntas, strategi yang belum matang, dan beberapa gesekan kecil di antara kami yang tak bisa lagi disimpan. Suara kami naik-turun, seperti gelombang yang menabrak pantai. Tidak ada amarah, hanya kelelahan yang mencari jalan keluar.

Diskusi panjang itu akhirnya usai menjelang pukul satu dini hari.

Kami bubar tanpa banyak kata, hanya saling pandang dan menarik napas panjang. Tubuh-tubuh kami rebah ke atas tikar, mata terpejam bahkan sebelum kepala menyentuh bantal. Dan pagi pun datang dengan pengingat yang menggelitik—kami melewatkan sahur.

Subuh itu, alih-alih suara sahutan, hanya terdengar kalimat singkat:

“Akhwat, sudah azan.” Kompor yang baru menyala padam kembali. Tak ada yang bisa dimasak, tak ada waktu untuk menyesal. Hanya perut kosong yang diam-diam ikut berpuasa bersama kami.

Namun hidup terus bergerak. Usai salat Subuh, kami melangkah ke masjid, tempat para ibu sudah menanti untuk belajar membaca Al-Qur’an.

Wajah-wajah mereka begitu bersinar, seolah tak tahu bahwa pengajarnya belum menyentuh makanan sejak kemarin malam. Justru semangat mereka yang sederhana menjadi energi baru, menyuntikkan kekuatan yang tidak bisa dibeli dengan tidur atau santapan.

Tanpa jeda berarti, kami lanjutkan hari dengan pesantren kilat untuk anak-anak desa. Tawa mereka riuh, seperti embun yang jatuh ke tanah

(16)

kering. Di tengah rasa lapar dan kantuk, keceriaan mereka mengalir ke dalam hati kami, menumbuhkan kembali semangat yang sempat layu.

Menjelang siang, kegiatan berlanjut. Dirosa kembali digelar, kali ini dengan tubuh yang mulai goyah. Fokus mulai kabur, pelipis berdenyut, namun semangat untuk memberi belum luntur. Kami tahu, lelah ini bukan sekadar tentang fisik. Ia adalah ujian keikhlasan.

Di waktu yang sama, kami berpencar ke berbagai TPQ, mengajar dengan suara yang mulai serak namun hati yang tetap penuh. Sementara itu, sebagian dari kami bersiap untuk Taklim Muslimah—acara besar yang menghadirkan ibu-ibu desa dengan semangat luar biasa. Mereka duduk rapi, mendengarkan setiap kata seolah itu air di tengah kemarau panjang.

Di antara mereka, kami menemukan kembali alasan mengapa kami datang.

Menjelang Maghrib, tubuh rasanya mulai menyerah. Tapi di tengah lelah, kami duduk bersila, menanti azan. Di situ, diam-diam kami saling memandang dan tersenyum.

“Kalau bukan karena Allah dan ukhuwah ini, mungkin kita sudah tumbang sejak pagi,” bisik seseorang.

Yang lain hanya mengangguk, terlalu letih untuk bicara, tapi sepakat dalam rasa.

Hari itu tidak tercatat sebagai hari besar dalam catatan kegiatan KKN. Tapi bagi kami, ia adalah hari yang tak akan pernah terlupa—hari di mana emosi memuncak, tenaga habis, tapi jiwa terisi. Sebab, di balik lelah yang mengikis, ada keberkahan yang ditanam. Dan dari keberkahan itu, kami belajar: bahwa kekuatan sejati tidak berasal dari tubuh yang segar, tetapi dari hati yang yakin dan ikatan yang tak mudah pecah

Cahaya Subuh di Usia Senja: Kisah Ibu Nadira dan Keberkahan Dirosa di bulan Ramadan

Ibu Nadira, seorang wanita berusia 66 tahun yang tinggal di Dusun Banyo, Desa Bonto Tallasa, beliau mendapatkan sebuah pengalaman baru yang sangat membekas dalam hidupnya. Tahun ini, keseharian beliau

(17)

terasa lebih berkah sejak rutin mengikuti kegiatan Dirosa atau mengaji subuh. Ramadan kali ini terasa sangat berbeda dibandingkan Ramadan- Ramadan sebelumnya. Banyak urusan rumah tangga yang biasanya terasa berat, kini menjadi lebih mudah dijalani. Semua itu, menurut Ibu Nadira, adalah berkat dari kebiasaannya tidak tidur setelah subuh untuk mengikuti Dirosa.

Yang paling membahagiakan bagi beliau adalah pencapaiannya dalam membaca Al-Qur’an. Selama Ramadan, Ibu Nadira hampir khatam dua kali, bahkan malam takbiran beliau sudah sampai di juz 30. Meski tak sempat menyelesaikannya karena kesibukan sebagai ibu rumah tangga di malam idul fitru, pencapaian itu tetap luar biasa. Tahun-tahun sebelumnya, beliau hanya mampu khatam satu kali. Hal ini tentu tidak lepas dari semangat dan kedisiplinan yang tumbuh sejak ikut Dirosa subuh.

Dengan penuh haru dan rasa syukur, Ibu Nadira menyampaikan terima kasih atas kehadiran mahasiswi KKN di Desa Bonto Tallasa.

Baginya, para mahasiswi tersebut adalah wasilah yang dihadirkan Allah untuk membimbing dan membuka jalan baginya dalam mempelajari Al- Qur’an lebih dalam di usia senjanya.

Nenek Radit: Usia Senja, Semangat Membara

Di antara banyak wajah yang kami temui selama kegiatan Dirosa di Dusun Banyo, ada satu sosok yang tak pernah absen dan selalu menghadirkan senyum hangat—beliau adalah Nenek Radit. Seorang wanita berusia 85 tahun, dengan rambut dan alis yang telah memutih seluruhnya, pertanda usia senja yang tidak lagi muda. Namun, siapa sangka, di balik tubuh rentanya, tersimpan semangat belajar yang begitu membara.

Nenek Radit merupakan salah satu anggota halakah Dirosa yang paling rajin datang. Hujan atau panas, tubuh letih ataupun segar, beliau selalu hadir dengan wajah berseri. Meski ingatan sering kali tak lagi

(18)

sekuat dulu, beliau tidak pernah menjadikan usia sebagai alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Semangatnya seperti tak terpengaruh waktu.

Namun, memang usia membawa tantangannya sendiri. Selama empat hari berturut-turut, beliau datang ke majelis membawa buku yang salah. Kami yang muda hanya bisa tersenyum haru—bukan karena keliru, tetapi karena semangatnya yang begitu luar biasa. Ada satu peristiwa yang hingga kini masih melekat kuat dalam ingatan kami.

Pagi itu, seperti biasa, beliau datang lebih awal dari kami. Duduk di lingkaran majelis, menyapa satu per satu dengan sapaan hangat. Namun, tiba-tiba raut wajahnya berubah, seolah menyadari sesuatu. Ternyata, beliau kembali membawa buku yang salah. Dengan penuh semangat, ia berdiri dan berkata,

“Sebentar ya, Nak. Mauka tukar dulu bukuku.”

Meskipun kami sempat ingin menahannya agar tidak repot kembali ke rumah, namun semangatnya tak bisa dibendung. Ia pun pergi dan kembali beberapa saat kemudian, dengan napas sedikit terengah namun tetap tersenyum.

Namun betapa terkejutnya kami saat beliau membuka tas dan mengeluarkan sebuah album foto berwarna hijau bukan buku Dirosa. “Ya, memang buku Dirosa juga berwarna hijau… tapi bukan itu, Bu,” ucap kami sambil tertawa kecil.

Kami tertawa bukan karena mengejek, melainkan karena terharu.

Tertawa karena bangga memiliki sosok seperti beliau di tengah-tengah kami. Di usia senjanya, Nenek Radit justru memberi teladan yang mendalam: bahwa semangat menuntut ilmu tak pernah mengenal batas usia.

Semoga Allah senantiasa menjaga beliau dalam kesehatan, keberkahan, dan balasan pahala atas ketekunannya. Kehadiran Nenek Radit selama KKN menjadi pelajaran berharga bagi kami—bahwa keikhlasan dan semangat yang tulus bisa lahir dari siapa saja, termasuk

(19)

dari mereka yang mungkin tidak lagi kuat secara fisik, tetapi luar biasa dalam kekuatan niat.

Dua hari setelah Ramadhan, usai mengajar subuh di Masjid At- Taqwa Dusun Ujung Paku, salah satu jamaah yang kami ajar mengundang kami untuk makan di rumahnya. Momen tersebut terasa sangat spesial, bukan hanya karena hidangan yang lezat, tetapi juga karena kesempatan untuk berbincang santai dengan mereka. Selama makan, kami diajak berbicara tentang berbagai hal, mulai dari rutinitas mereka selama bulan Ramadan, hingga bagaimana mereka menjaga tradisi yang telah lama ada di desa tersebut. Suasana makan bersama ini sangat akrab, penuh tawa dan canda, yang membuat hubungan kami dengan masyarakat semakin erat. Selain menikmati hidangan, saya merasa lebih dekat dengan mereka, dan melalui percakapan itu, saya bisa lebih memahami budaya serta kearifan lokal yang mereka pegang teguh. Momen sederhana seperti ini menjadi pengingat betapa pentingnya kebersamaan dan saling berbagi dalam menciptakan kedamaian dan keharmonisan. Ini bukan hanya soal memberikan ilmu, tetapi juga tentang menjalin ikatan yang lebih dalam dengan masyarakat setempat.

Subuh yang Menghidupkan: Program Tahsin Al-Qur’an di Dusun Ujung Paku

Pagi itu, cahaya mentari belum sempurna menyinari Dusun Ujung Paku. Namun suasana Masjid At-Taqwa sudah terasa berbeda dari biasanya. Masjid yang sebelumnya hanya diisi beberapa jamaah salat subuh, kini mulai ramai sejak awal waktu. Warga datang lebih awal, bukan hanya untuk menunaikan ibadah, tetapi juga mengikuti program Tahsin Al- Qur’an Subuh yang diinisiasi oleh mahasiswa KKN STIBA Makassar.

Salah satu peserta yang paling semangat adalah imam masjid itu sendiri—seorang petani sederhana yang tinggal di perbatasan antara Dusun Ujung Paku dan Dusun Macinna. Meski telah berusia lanjut dan

(20)

sibuk dengan pekerjaan ladang setiap harinya, beliau menyadari bahwa kemampuan membaca Al-Qur’annya masih jauh dari sempurna. Ia telah lama mendambakan kesempatan untuk belajar, namun keterbatasan waktu dan tenaga membuat keinginan itu terus tertunda.

Kehadiran mahasiswa KKN membuka jalan yang selama ini beliau cari. Dengan wajah berseri, beliau duduk bersama peserta lain setiap subuh, mengikuti tahsin dengan penuh kesungguhan. Ia bahkan mengaku bahwa selama ini hanya bisa mendengarkan Murottal tanpa tahu apakah bacaannya benar atau tidak. Kini, ia tidak hanya belajar melafalkan huruf demi huruf, tetapi juga menyelami makna dari setiap ayat yang dibaca.

Tak hanya Pak Imam, warga lain pun ikut terdorong untuk hadir.

Meskipun tantangan untuk bangun subuh tetap ada, semangat kebersamaan yang tumbuh dari kegiatan ini membuat masjid tidak pernah sepi. Bahkan, beberapa orang tua mulai mengajak anak-anak mereka untuk ikut serta, menjadikan program ini bukan hanya sebagai kegiatan tahsin, tetapi juga ruang pembelajaran lintas generasi.

Dalam waktu yang relatif singkat, program ini membawa perubahan besar bagi masyarakat. Masjid menjadi lebih hidup, interaksi antarwarga semakin erat, dan semangat untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an tumbuh di hati banyak orang. Bagi masyarakat Dusun Ujung Paku, program KKN ini bukan hanya sebatas kegiatan pengabdian biasa, melainkan sebuah pengalaman spiritual yang menyentuh dan meninggalkan bekas mendalam.

Tak sedikit dari mereka yang menyampaikan rasa syukur dan terima kasih karena merasa telah dibantu, dibimbing, dan dimotivasi untuk kembali dekat dengan Al-Qur’an. Mahasiswa KKN mungkin hanya singgah sementara, namun warisan kebaikan dari program Tahsin Subuh akan terus mengalir bersama semangat yang mereka tanamkan.

Pemimpin dalam Sunyi: Jejak yang Tak Terlihat di Malam

Ramadan

(21)

Menjelang sepuluh malam terakhir Ramadan, suasana KKN kami semakin sarat makna. Namun, di tengah hiruk pikuk kegiatan, ada satu hal yang mencuri perhatian: sang nahkoda kelompok pemimpin yang biasanya hadir di garis depan setiap program tiba-tiba menghilang dari pandangan kami. Ia tak hadir saat sahur bersama, absen dari tadarus, dan tak tampak dalam rapat-rapat selepas tarawih.

Awalnya kami mengira mungkin ia sedang kelelahan, atau butuh waktu untuk dirinya sendiri. Kami tak ingin mengganggunya, hanya bertanya sekadarnya pada warga sekitar. Sampai akhirnya, dari seorang bapak di Dusun Banyo, kami mendengar kisah yang menggetarkan hati.

Ternyata, sang pemimpin kami setiap malam menyusuri jalan ke masjid kecil di ujung dusun, membimbing anak-anak remaja membaca Al- Qur’an. Ia tak pernah menyebutkan itu pada kami, tak satu pun dari kami tahu. Sejak awal Ramadan, ia telah menjalin komunikasi dengan pengurus masjid, berkomitmen mengisi malam-malam ganjil dengan ilmu dan kehangatan.

Kami terdiam saat mendengar cerita itu. Di saat sebagian dari kami sibuk mengejar program, bahkan rebahan karena letih, sang pemimpin kami justru memilih untuk mengabdi dalam diam. Ia tidak hadir dalam banyak dokumentasi, tidak berdiri di podium sambutan, tapi ia hadir dalam hati anak-anak dusun yang ia ajari.

Dari kisah ini, kami belajar bahwa menjadi pemimpin bukanlah tentang berbicara paling keras atau tampil paling sering. Tapi tentang menjadi teladan dalam kesunyian. Ia tak perlu sorotan, karena sinarnya ada dalam perbuatan.

Perempuan Penjaga Rumah, Penjaga Hati: Kisah Ibu Posko

Dalam setiap perjalanan pengabdian, selalu ada sosok yang kehadirannya tidak tercatat dalam laporan program, namun jejaknya tertinggal dalam setiap kenangan. Di KKN kami, sosok itu bernama Ibu

(22)

Risma, perempuan sederhana yang menjadi denyut kehidupan dalam rumah panggung tempat kami tinggal, berkumpul, dan kembali setiap hari.

Dengan senyum yang tidak pernah absen dan tangan yang selalu siap menyambut, ia membuka pintu rumahnya untuk kami, anak-anak dari kota yang datang membawa semangat dan rencana. Setiap pagi, rumah itu menjadi tempat awal segalanya—dari agenda yang disusun hingga canda yang berhamburan. Di sana, aroma kopi dan teh bercampur dengan harum masakan tradisional, menyambut kami seperti pelukan ibu di kampung halaman.

Namun, di balik kehangatan itu, tersembunyi keheningan yang tidak semua dari kami sadari. Ibu Posko sering kali merasa kesepian, meskipun rumahnya penuh dengan suara. Ia tersenyum melihat kami tertawa bersama, tapi jauh di dalam dirinya, ada perasaan terasing seperti tamu di rumah sendiri, seperti penonton dari panggung yang pernah ia isi.

Ketika kami sibuk menjalin ikatan satu sama lain berbagi cerita, bekerja, dan bermain beliau hanya bisa memperhatikan dari kejauhan. Ia merindukan masa-masa ketika kami makan bersama, berebut kamar mandi, lalu tertidur berserakan di bawah rumah, dengan suara tawa yang memantul di dinding kayu. Katanya, “Rumah yang sekarang ramai akan terasa sunyi, meskipun nanti dipenuhi suara orang lain.”

Setiap malam, saat kami sudah terlelap, Ibu Posko berjalan pelan menyusuri lorong kayu. Ia memastikan satu per satu kami telah tertidur dengan nyaman. Kadang ia mematikan lampu, kadang ia menyelimuti kami yang tertidur dalam dingin. Dan jika salah satu dari kami jatuh sakit, dialah yang pertama menyiapkan air hangat, memijat pelipis, dan menunggu di samping dengan sabar.

Ia tidak pernah menuntut balas. Baginya, merawat kami adalah bentuk cinta yang tidak perlu diumumkan. Pengabdiannya senyap, tapi begitu dalam. Ia adalah ibu kedua kami di desa—pahlawan tanpa tanda jasa, yang merawat bukan karena tugas, tetapi karena kasih.

Ketika masa KKN berakhir, ada rasa bangga dalam dirinya melihat kami tumbuh, belajar, dan memberi. Tapi di saat yang sama, ada ruang

(23)

kosong yang mulai menganga. Rumahnya yang dulu penuh tawa akan kembali sepi. Ia tahu bahwa kami harus pergi, tapi harapannya sederhana:

semoga jejak kasih yang ia tanamkan akan ikut kami dalam setiap langkah setelah ini.

Dan meski kami akan melanjutkan hidup masing-masing, kenangan tentangnya tak akan pernah jauh. Dalam diamnya, Ibu Posko telah menjadi bagian dari perjalanan kami. Dalam doanya, ia menyelipkan harapan agar kami kembali—bukan sekadar sebagai tamu, tapi sebagai anak-anak yang pulang membawa cerita baru, dan tawa yang pernah ia rindukan.

Di balik kerut wajahnya dan langkah yang mulai lamban, ada kekuatan luar biasa: cinta yang tulus, pengorbanan tanpa pamrih, dan keyakinan bahwa meski hanya sebentar, ia telah menjadi bagian dari hidup kami selamanya.

Pelukan Subuh dari Ujung Paku

Langkah pertama kami di Desa Ujung Paku dipenuhi degup yang tak biasa. Ini adalah kali pertama kami mengajar di desa yang tak kami kenal sebelumnya, tanpa keluarga, tanpa teman, hanya berbekal semangat dan niat untuk berbagi.

Setiap sore, aku dan temanku mengajar TPQ. Meski awalnya hanya satu dua anak yang hadir, perlahan mereka berdatangan. Di balik tawa dan keributan khas anak-anak, tersimpan semangat belajar yang luar biasa.

Mereka selalu bertanya, “Kak, kita ngaji lagi hari ini, kan?” atau “Hari ini doa apa yang kita hafalkan?” Bahkan ketika aku merasa lelah, mereka jadi alasan untuk tetap melangkah.

Subuh-subuhku di Ujung Paku juga tak kalah istimewa. Bersama ibu- ibu dan nenek-nenek, kami belajar Al-Qur’an. Mereka datang dengan buku dirosah di tangan, duduk penuh semangat meski usia tak lagi muda. Di sela pelajaran, canda tawa tak pernah absen. Salah satu yang paling kuingat adalah cerita seorang nenek tentang gigi palsunya yang terlempar saat mengaji—kami semua tertawa bersama.

Tapi yang paling membekas adalah pelukan hangat mereka. Setiap selesai belajar, mereka mencium dan memeluk kami seolah kami cucu mereka sendiri. Aku merasa dicintai, dihargai, dan diterima sepenuh hati.

(24)

KKN ini bukan sekadar pengabdian, tapi juga pelajaran. Tentang cinta yang hadir tanpa pamrih, tentang semangat belajar yang tak kenal usia, dan tentang keluarga yang bisa tercipta di tempat yang paling tak terduga.

Mengajar TPQ: Ujian Kesabaran dan Ketulusan

Perjalanan KKN memang penuh warna dan cerita. Dari berbagai program kerja yang kami rancang, salah satu yang paling penting adalah mengajar anak-anak TPQ. Harapannya, mereka kelak menjadi cahaya penerus agama ini. Adalah kami yang dipercaya untuk mengajar di salah satu TPQ yang ada di Dusun Pakere. Awalnya, kami membayangkan amanah ini cukup sederhana tinggal mendengarkan mereka membaca Al- Qur’an, memperbaiki jika ada yang keliru, atau menyimak hafalan mereka.

Namun kenyataannya, jauh lebih kompleks dari sekadar itu.

Di balik amanah besar ini, kami harus siap menghadapi berbagai karakter khas anak-anak. Ada yang lebih suka bermain daripada duduk diam, ada yang sulit fokus, bahkan ada yang hanya bisa bertahan beberapa menit sebelum pikirannya melayang entah ke mana. Tantangan lainnya datang dari salah satu anak kami yang memiliki keistimewaan tersendiri.

Meskipun sudah diajari dan diulang berkali-kali, ia tetap kesulitan mengingat huruf-huruf hijaiyah. Ingin rasanya menghela napas panjang, tapi rasa-rasanya terlalu cepat jika menyerah pada proses ini. Kami pun belajar bahwa setiap anak memiliki cara dan waktu yang berbeda dalam menyerap pelajaran. Tidak semua bisa cepat paham, tapi bukan berarti mereka tidak mampu.

Pengalaman ini menjadi ujian kesabaran bagi kami. Ternyata, ngajar itu bukan cuma urusan ngomong di depan dan berharap mereka langsung paham, tapii juga memahami bahwa proses belajar setiap anak itu unik.

Tak semuanya bisa langsung paham dalam sekali ajar, ada yang perlu diulang berkali-kali dan itu bukan masalah asalkan tujuan yang diinginkan tercapai.

Buah dari Kesabaran di Tengah Hujan

(25)

KKN di Desa Bonto Tallasa menjadi lembaran hidup yang tak akan pernah ku lupakan. Ia bukan sekadar program pengabdian, tapi perjalanan batin—antara harap dan ragu, antara asing dan diterima, antara menyerah dan bertahan.

Hari-hari pertama terasa berat. Kami datang dengan penampilan yang belum akrab di mata masyarakat—jilbab yang menjuntai, wajah- wajah yang tertutup cadar. Bukan sekali dua kali aku menangkap sorot mata penuh tanya. Rasanya, udara pun terasa kaku, seolah bertanya,

“Siapa mereka ini?” Dalam hati kecilku, tumbuh keraguan: Apakah kami akan diterima? Apakah pesan yang kami bawa akan sampai ke hati mereka?

Hari kedua, kami mulai mengetuk pintu-pintu rumah para tokoh masyarakat. Sambutan mereka ternyata lebih hangat dari yang kami bayangkan. Tapi justru saat semangat mulai tumbuh, tantangan yang lebih besar datang: mencari mad’u terutama dari kalangan ibu-ibu.

saya duduk di sudut posko, memandangi daftar nama yang masih kosong.

Tak tahu harus mulai dari mana. Tak tahu bagaimana harus mendekatkan diri. Rasa malu, canggung, dan ragu saling bertumpuk.

Namun, selalu ada satu suara yang membalut kebimbangan dengan keyakinan. Suara yang lembut tapi tegas, yang setiap ucapannya seolah memeluk hati yang mulai goyah. “Yakinlah, Allah pasti bantu. Karena ini perjuangan untuk agama-Nya.” Kalimat itu terus menggema, menjadi pengingat di tengah sunyi.

Lalu datanglah hari Jumat. Hujan turun deras setelah salat Jumat, seakan langit sendiri ingin menguji. Hari itu seharusnya menjadi jadwal halaqah yang pertama—hari yang kami tunggu sekaligus takutkan. Tapi tak satu pun dari ibu-ibu itu datang ke masjid. Aku menatap tikar yang masih kosong, dan rasanya ingin menyerah.

“Kita pulang saja,” kataku lirih, setengah berharap tak perlu lagi menunggu ketiadaan.

Tapi sahabatku menggeleng pelan. “Kita tunggu. Jika nanti tetap tak ada yang datang, barulah kita pulang.”

(26)

saya mengangguk, meski dalam hati masih menyimpan getir. Siapa yang akan datang di tengah hujan seperti ini? Bahkan suara langkah pun tak terdengar, kecuali gemericik air yang mengalir di pelataran masjid.

Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar derap pelan mendekat. Seorang ibu muncul dari balik tirai hujan, menggenggam payung yang masih meneteskan air. Ia mendekat pelan, lalu duduk di masjid yang tadi sunyi.

saya menghampirinya, masih ragu apakah ia datang untuk berteduh, atau sekadar lewat.

Namun jawabannya mematahkan prasangkaku.

“Saya lihat tadi kalian kehujanan dan singgah di masjid. Tapi tak ada siapa- siapa. Saya tunggu-tunggu kalian tidak juga pulang. Jadi saya pikir… pasti kalian ingin mengajar. Maka saya datang.”

Aku tercekat. Air yang jatuh dari mataku tak lagi bisa dibedakan dengan sisa hujan yang membasahi pipi.

Ibu itu tidak datang karena kami memanggil. Ia datang karena melihat keteguhan yang tak menyerah pada cuaca. Ia datang karena hatinya digerakkan oleh ketulusan, oleh isyarat langit yang tak bisa kami baca.

Tak lama, ia pun memanggil beberapa temannya. Satu demi satu datang, menyusul dalam diam. Masjid yang tadinya sepi mulai terisi, langkah-langkah sederhana berubah menjadi barisan niat yang tulus.

Hari itu, aku belajar. Tentang sabar yang diuji hingga ke batas.

Tentang bagaimana pertolongan tidak selalu datang dalam bentuk ramai atau megah. Kadang, ia datang dalam wujud paling sederhana—seorang ibu yang membawa payung, berjalan sendiri di tengah hujan, menuju tempat di mana ilmu menanti untuk disebarkan.

Dan sejak hari itu, saya memahami: perjuangan yang diniatkan untuk Allah tidak pernah sia-sia. Kadang kita hanya diminta bertahan sebentar lagi. Menunggu sebentar lagi. Karena di ujung kesabaran, selalu ada hadiah yang tidak bisa dibeli oleh apa pun di dunia: sebuah pelukan dari langit, melalui langkah kecil seorang hamba yang tulus.

Senja indah di subuh yang dingin

(27)

Udara subuh itu menggigit tulang. Kabut masih bergelayut rendah di antara pepohonan, menyelimuti jalanan yang di kelilingi sawah. Di atas motor hitam, kami berdua, teman seperjuangan di medan KKN melaju perlahan, menyusuri jalanan dari desa ke desa. Dingin menusuk, tapi semangat kami masih hangat. Ini baru hari-hari awal, dan kami belum sepenuhnya tahu medan, belum terbiasa dengan ritme hidup desa yang lambat tapi penuh kejutan.

Angin pagi menyapa dengan kasar, membuat jaket tipis kami tak cukup jadi tameng. Namun kami terus melaju, menapaki jalanan yang terasa asing sambil menyapa ibu-ibu yang sedang bersantai didepan rumah, perlahan mulai akrab.

Tiba-tiba, motor yang kami kendarai terasa limbung. Seperti ada yang meletus, berguncang tak wajar. Kami saling pandang, lalu berhenti di pinggir jalan depan sebuah rumah sederhana dengan halaman tanah yang basah oleh embun. Kuturunkan standar motor, memeriksa ban dan benar saja, kempes, karena tertusuk paku.

Kami terdiam berdiri memaku kebingungan, tak ada bengkel di pandangan. Suasana pagi yang sunyi makin terasa mencekam saat tak tahu harus bagaimana. Wajah kami mungkin terlihat seperti anak ayam kehilangan induk.

Lalu, dari dalam rumah itu, muncullah seorang ibu. Usianya mungkin sekitar lima puluhan. Dengan daster dan rambut yang masih sedikit kusut, ia memandang kami dengan alis terangkat.

"Ada apa, Nak?" tanyanya pelan tapi penuh rasa ingin tahu.

Kami menjelaskan seadanya, masih agak malu-malu. Tapi sebelum kami sempat selesai cerita, beliau sudah mengambil langkah sigap. Tanpa basa- basi, ia menyuruh kami duduk di bale bambu depan rumah, lalu berjalan ke dalam—mungkin mengambil jilbab. Tak lama kemudian, ia keluar, lalu memberi isyarat untuk ikut.

"Bengkelnya agak jauh, tapi nanti bisa saya antar ke sana. Tunggu sebentar, ya."

Kami saling pandang, terkagum. Di tengah kebingungan kami, muncul pertolongan tanpa diminta, dari orang yang bahkan belum mengenal nama

(28)

kami. Sambil menunggu, ia mengambil motor miliknya. Entah kenapa, pagi itu berubah rasa. Dari dingin yang menakutkan, jadi hangat yang menenangkan.

Dan di situlah kami belajar: bahwa KKN bukan cuma soal data dan program kerja. Ia adalah soal manusia, soal pertemuan, soal kebaikan yang muncul dari tempat yang tak terduga. Bahwa di desa ini kami menemukan pelajaran yang tak tertulis di silabus kuliah—pelajaran tentang ketulusan, tentang tangan yang sigap membantu, dan tentang subuh yang meski dingin, ternyata bisa juga menghangatkan hati.

Senja hari itu turun pelan-pelan, menyapa lembut langit di atas dusun. Jingga keemasan meluruh di antara rimbun pepohonan, seolah langit sendiri sedang bersedih bahagia—bahagia karena menyaksikan langkah-langkah kecil penuh makna, dan sedih karena tahu waktu mereka di dusun ini akan segera usai.

Di bawah langit itu, kami melangkah. Tidak dengan keramaian, tidak pula dengan sorak-sorai, hanya dengan senyum dan sehelai kertas undangan di tangan. Kertas itu bukan sekadar undangan untuk Taklim Muslimah esok hari. Ia adalah lambang dari mimpi-mimpi kecil kami, harapan-harapan yang dititipkan lewat kalimat sederhana, yang semoga mengetuk hati siapa pun yang membacanya

Kami mengetuk sebuah pintu, rumah yang sudah tak asing, yang sering kami lewati saat senja menggeliat di antara dedaunan. Seorang ibu keluar dengan senyum yang merekah, seperti mawar yang sedang menyambut matahari pagi. Tapi hari itu, ada kejadian kecil yang kemudian tumbuh menjadi pelajaran besar.

Tanpa banyak bicara, tangannya menyentuh cadarku. Menariknya perlahan, lalu menyibak, seperti membuka lembar rahasia yang

seharusnya tetap tersimpan.

Aku tertegun. Mataku menangkap suaminya berdiri tak jauh, dan beberapa lelaki asing dengan jubah dan celana cingkrang yang bukan mahramku. Hatiku sejenak berguncang, tapi lisanku tetap tenang.

(29)

"Bu, ini bukan sekadar kain. Ini malu yang dijahit dengan keyakinan. Ini kehormatan yang tak ingin kutukar hanya karena candaan.”

Beliau tertawa kecil, menepis dengan lembut, “Ah, saya hanya ingin lihat wajah cantikmu, Nak. Temanmu tidak tertutup, kenapa kamu harus?"

Aku tersenyum, bukan karena nyaman, tapi karena tahu: adab tak selalu tumbuh bersama usia. Maka kami undang ia lagi, dengan lembut,

"Besok, Bu... datanglah ke Taklim. Biar kita belajar bersama, tentang cinta dan malu yang ditanam Rasulullah dalam dada-dada perempuan.”

Kami melangkah pergi, tak membawa luka, hanya sedikit

keheranan yang diiringi tawa pelan. Dan seperti biasa, tawa adalah obat yang paling ringan namun paling ampuh menyembuhkan ganjalan-

ganjalan kecil dalam dada.

Langit makin merekah merah. Seruan azan Magrib menembus dedaunan dan membelah udara, mengingatkan bahwa setiap langkah memiliki arah, setiap lelah akan berujung pada sujud yang menenangkan.

Dan di malam yang berbeda, kami menerima undangan yang lain—

dari rumah seorang ibu tua yang katanya ingin menjamu kami dengan Songkolo Begadang. Makanan khas yang, katanya, hanya pantas

dinikmati di antara cerita panjang dan tawa lepas.

Kami datang. Duduk di lantai beralaskan tikar pandan, aroma ikan asin dan serundeng menyambut seperti peluk hangat dari ibu sendiri. Di tengah senda gurau, sang ibu menyeka air matanya yang tak sempat jatuh.

“Banyak anak KKN datang ke sini sebelumnya,” katanya pelan.

“Tapi kalian... bukan hanya datang. Kalian hadir. Kalian tinggal dalam hati. Kalian akan saya kenang, bahkan setelah aroma Songkolo ini hilang dari dapur saya.”

(30)

Tiba-tiba, beliau berkelakar, setengah bercanda, setengah sungguh:

“Seandainya saya punya anak lelaki... sudah saya jodohkan kalian semua!”

Tawa meledak. Tak tertahankan. Ruangan itu tak lagi rumah sempit dari papan tua. Ia berubah menjadi panggung kenangan, tempat tawa, cinta, dan penghargaan bertemu dalam wujud paling sederhana.

Tapi kami tahu, ini bukan soal makanan. Bukan soal siapa punya anak lelaki dan siapa tidak. Ini soal kehadiran. Tentang bagaimana menjadi cahaya, meski hanya sebentar, yang menuntun seseorang merasa dilihat dan dihargai.

Karena sejatinya, dakwah bukan hanya mengajarkan. Tapi

menyentuh. Menghadir. Membekas. Seperti senja yang tak bisa diulang, tapi akan selalu diingat oleh langit dan bumi yang menyaksikannya.

Dan mungkin, dalam satu helaan napas dan satu sendok Songkolo, kami mengerti:

Bahwa yang paling penting dalam pengabdian adalah bukan

seberapa banyak program yang dilaksanakan, tetapi seberapa tulus kita meninggalkan jejak yang akan dirindukan.

Langkah Pertama, Tapi Bukan yang Terakhir

Selama masa KKN, berbagai program kerja telah kami jalankan dengan sebaik mungkin. Di antaranya Festival Anak Shaleh (FAS), Gerakan Masjid Bersih, Berbagi Takjil, Ceramah Ramadhan, pesantren kilat, Kultum Subuh, Program Dirosa, Taklim Muslimah, Khutbah Jumat, hingga membina anak-anak untuk mengikuti lomba. Setiap program dirancang bukan hanya untuk menjalankan tugas, tetapi sebagai bentuk nyata pengabdian kami kepada masyarakat.

(31)

Awalnya, semua program kerja itu terasa berat, baik dari segi perencanaan, tenaga, maupun waktu. Tapi ternyata, semuanya menjadi jauh lebih ringan saat dijalankan bersama. Kami saling bahu-membahu, saling menguatkan, dan saling mengingatkan akan niat awal pengabdian ini. Dari sinilah kami sadar, bahwa keberhasilan sebuah program bukan hanya soal hasil, tapi juga tentang proses kebersamaan yang menyertainya.

Namun, tak selalu semuanya berjalan mulus. Tinggal bersama dalam satu posko, dengan latar belakang, kebiasaan, dan karakter yang berbeda, tentu memunculkan pergesekan dan ketidakcocokan. Ada saat-saat di mana ego tak bisa dibendung, komunikasi menjadi kaku, dan perbedaan pendapat terasa begitu tajam. Kadang hanya soal sepele, pembagian tugas, urusan dapur, atau kebiasaan tidur—namun cukup mempengaruhi suasana.

Tapi di situlah kami belajar banyak hal. Bahwa hidup bersama butuh saling memahami, menahan diri, dan mengalah. Kami mulai belajar untuk mendengar lebih banyak, berbicara lebih bijak, dan menaruh empati satu sama lain. Dari gesekan-gesekan itulah akhirnya tumbuh rasa kekeluargaan yang justru semakin kuat.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika mengajar para ibu dan nenek-nenek dalam program Dirosa. Mengajar mereka sangat membutuhkan kesadaran dan kesabaran. Hari ini mengenal huruf “ج”, besok bisa jadi kembali bingung dan bertanya, “Ini huruf apa, nak?” Tapi justru dari mereka kami belajar bahwa proses belajar tak mengenal usia. Suasana halaqah pun sering kali dipenuhi canda tawa. Mereka tidak sungkan saling menertawakan jika ada yang salah baca atau keliru menyebutkan huruf, namun semua dilakukan dalam suasana yang penuh keakraban dan kasih sayang. Tertawa bersama, belajar bersama, itulah yang membuat momen-momen di halaqah menjadi kenangan yang tak tergantikan.

Sambutan warga Bonto Tallasa benar-benar meninggalkan kesan mendalam. Mereka menerima kehadiran kami dengan penuh keramahan

(32)

dan kehangatan, seolah kami bukan orang baru, melainkan bagian dari keluarga besar mereka. Setiap kegiatan yang kami lakukan disambut dengan antusiasme tinggi—baik oleh anak-anak, remaja, hingga para orang tua. Bahkan beberapa ibu-ibu dengan tulus mengatakan bahwa KKN kali ini sangat berkesan dan terasa lebih “merakyat,” karena kami benar- benar turun langsung menyapa dan berinteraksi dengan warga dari rumah ke rumah.

Lebih membahagiakan lagi, ini adalah KKN perdana STIBA Makassar di Desa Bonto Tallasa. Alhamdulillāh, kesan baik yang kami tinggalkan membuat warga berharap agar di KKN selanjutnya, mahasiswa dan mahasiswi dari STIBA bisa kembali dikirim ke desa ini. Ucapan mereka menjadi penyemangat sekaligus amanah besar—bahwa pengabdian bukan hanya tentang hadir, tapi tentang memberi arti.

Dan kami percaya, KKN bukan hanya tentang laporan dan program.

Ia adalah perjalanan, tempat kami diuji dan ditempa. Maka untuk siapa pun yang akan berangkat setelah kami—berangkatlah bukan hanya dengan rencana, tapi juga dengan hati. Karena ketika hati yang bekerja, maka tak ada hal kecil yang sia-sia.

KKN ini adalah langkah pertama STIBA Makassar di desa ini. Namun insyaAllah, bukan yang terakhir. Karena ketika cinta dan doa telah tertanam, maka akan selalu ada jalan untuk kembali.

Biarlah jejak kami di tanah ini tak hanya menjadi bekas pijakan kaki yang

kelak terhapuskan hujan,

tapi tumbuh sebagai benih kebaikan yang mekar dalam rupa-rupa kebermanfaatan.

Kini, saat langkah harus kembali menuju arah semula,

Kami tinggalkan tempat ini dengan penuh rasa syukur atas setiap detik yang membentuk,

Setiap pelukan yang menguatkan,

Setiap tatapan hangat yang tak butuh kata untuk dimengerti,

(33)

Semoga diri yang pernah hadir tak sekadar dikenal, Tetapi dikenang dalam diam doa-doa panjang.

Tak hanya singgah, tapi meninggalkan jejak yang memberi manfaat seecuil cahaya disudut hati yang pernah kami datangi.

Karena disinilah kami belajar, tumbuh dari lelah, bangkit dari ragu, dan mengakar pada harapan.

Berkembang menjadi pribadi yang lebih baik,

Bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk selamanya.

“Terima kasih Bonto Tallasa, atas kenangan yang tertanam dan setiap pelajaran yang membekas. Semoga waktu mempertemukan kita kembali,

bukan hanya untuk menuntaskan rindu, tapi juga merajut cerita yang belum selesai”

Ahmad Kamaruddin, Edwin, Muhammad Ashim, Awal Atanni, Cahyo Hadi Prasetyo, Nasrul, Fahril Angga Saputra, Moh. Agym Gymnastiar, Syamsany, Ainil Qalbu Mutmainnah, Henny Ramdani, Ainun Awulia, Fahira Muchlis, Lutfia, Meliza, Mirnawati, Revi Ersandi, Salsabila Asqi,

Salsabila, Siti Armida A. Lahongko

(34)

Referensi

Dokumen terkait