Neurosifilis asimtomatik pada pasien sifilis sekunder dengan koinfeksi Human Immunodeficiency Virus
Dia Febrina, Dartri Cahyawari, Nina Roslina, Rasmia Rowawi, pati Aji Achdiat
Hubungan tingkat pendidikan dengan pengetahuan pekerja di Palembang mengenai penggunaan tabir surya
Raden Pamudji
Berbagai prosedur bedah kuku
Nia Ayu Saraswati, Eva Krishna Sutedja, Jono Hadi Agusni
Fungsi motoric ekstremitas penderita stroke iskemik pasca rehabilitasi Budiman Juni Wijaya
Pemberian gel ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) dapat mempercepat proses penyembuhan luka bakar pada mencit
Yogi Kurniawan, Kamalia Layal
Efek hipoglikemik ekstrak etanol daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia {Christm.} Swingle) pada tikus yang diberi diet tinggi lemak dan glukosa
Yunita Listiani Imanda, Puji Lestari
Hubungan curah hujan, suhu, kelembaban dengan kasus Demam Berdarah Dengue di Kota Semarang
Aisyah Lahdji, Bima Bayu Putra
Nomor 1 Palembang
September 2017
Hal 01-53
Volume 8
Susunan Pengelola Jurnal
Penanggung jawab dr. Yanti Rosita, M.KesPengarah
dr. Liza Chairani, Sp.A, M. Kes dr. Mitayani, M.Si. Med.
Trisnawati, S.Si, M.Kes Ketua Redaksi dr. Nyayu Fitriani, M.Bmd
Tim Editor dr. R.A. Tanzila, M.Kes Ertati Suarni, S.Si, M.Farm, Apt.
Indri Ramayanti, S.Si, M.Sc Penelaah / Mitra Bestari Dr. dr. Irfanuddin, Sp.Ko, M.Pd. Ked.
Prof. dr. H. Eddy Mart Salim, Sp.PD-KAI Dr. dr. Raden Pamudji, Sp.KK dr. Yanuarita Tursinawati, M.Si.Med.
Alamat Redaksi Pemimpin Redaksi
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang Jalan KH. Bhalqi / Talang Banten 13 Ulu Palembang, 30263
Telp. 0711-520045 / Fax. 516899 e-mail: [email protected]
DAFTAR ISI
Neurosifilis asimtomatik pada pasien sifilis sekunder dengan koinfeksi Human Immunodeficiency Virus
Dia Febrina, Dartri Cahyawari, Nina Roslina, Rasmia Rowawi, pati Aji Achdiat
Hubungan tingkat pendidikan dengan pengetahuan pekerja di Palembang mengenai penggunaan tabir surya
Raden Pamudji
Berbagai prosedur bedah kuku
Nia Ayu Saraswati, Eva Krishna Sutedja, Jono Hadi Agusni
Fungsi motoric ekstremitas penderita stroke iskemik pasca rehabilitasi
Budiman Juni Wijaya
Pemberian gel ekstrak daun sukun (Artocarpus altilis) dapat mempercepat proses penyembuhan luka bakar pada mencit
Yogi Kurniawan, Kamalia Layal
Efek hipoglikemik ekstrak etanol daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia {Christm.} Swingle) pada tikus yang diberi diet tinggi lemak dan glukosa
Yunita Listiani Imanda, Puji Lestari
Hubungan curah hujan, suhu, kelembaban dengan kasus Demam Berdarah Dengue di Kota Semarang
Aisyah Lahdji, Bima Bayu Putra
01-10
11-14
15-25
26-29
30-36
37-45
46-53
PENGANTAR REDAKSI
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Ucapan puji dan syukur kami haturkan ke hadirat Allah SWT karena atas karunia dan ridho-Nya Redaksi kembali menerbitkan jurnal Syifa’ MEDIKA volume 8 nomor 1 September 2017. Artikel yang dimuat pada volume 8 nomor 1 ini merupakan hasil penelitian bersama sivitas akademik berbagai institusi kedokteran dan kesehatan di Indonesia.
Semoga materi yang tersaji memberi inspirasi dan manfaat bagi khazanah pengetahuan.
Naskah yang diterima Redaksi datang dari beberapa penulis dan institusi pendidikan tetapi masih ada yang tidak dapat kami muat, untuk itu kami mohon maaf.
Pembaca yang terhormat, Redaksi tak lupa mengucapkan terima kasih atas partisipasi dan kerja sama berbagai pihak yang turut serta memberikan ide-ide, waktu dan karyanya.
Kepada Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang dan Bapak/Ibu Pengarah serta tim penelaah atas bantuan dan semangat yang diberikan kepada Redaksi.
Tak lupa kami mengharapkan ada masukan, kritik dan saran membangun dari berbagai pihak, agar dimasa depan dapat menjadikan jurnal ini wadah terpilih bagi semua insan akademis di bidang kedokteran dan kesehatan untuk menyalurkan informasinya.
Akirnya, Redaksi ucapkan selamat membaca dan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Palembang, September 2017 Ketua Redaksi
S ifa MEDIKA, Vol.8 (No.1), September 2017
La a Ka :
Ne ifili A i a ik Pada Pa ie Sifili Sek de De ga K i fek i H ma Imm deficie c Vi
Dia Feb i a1, Da i Cah a a i2, Ni a R li a3, Ra ia R a i4, Pa i Aji Achdia 5
1-5Depa emen Ilm Ke eha an K li dan Kelamin, RSUP d . Ha an Sadikin/
Fak l a Kedok e an Uni e i a Padjaja an, Band ng, Indone ia
Submitted: Jul 2017 Accepted: August 2017 Published: September 2017
Ab ak
Neurosifilis merupakan infeksi pada sistem saraf pusat ang disebabkan invasi sawar darah otak oleh Treponema pallidum ang umumn a terjadi pada pasien sifiis koinfeksi dengan human immunodeficienc virus (HIV). Neurosifilis umumn a terjadi pada sifilis tersier, tetapi dapat pula terjadi pada stadium lainn a, termasuk stadium sekunder. Diagnosis neurosifilis asimtomatik ditegakkan apabila didapatkan serum venereal disease research laborator (VDRL) ang positif tanpa tanda dan gejala neurologis disertai satu dari karakteristik berikut pada pemeriksaan liquor cerebrospinal (LCS): (1) jumlah leukosit > 10/mm3; (2) protein total > 50 mg/dL; (3) hasil VDRL reaktif. Dilaporkan seorang pasien laki-laki berusia 35 tahun dengan sifilis sekunder koinfeksi HIV tanpa ditemukann a tanda dan gejala neurologis. Kecurigaan neurosifilis pada pasien ini disebabkan oleh kegagalan terapi pada sifilis sekunder, status HIV dengan jumlah CD4+ 106/mm3, dan serum VDRL 1:256. Diagnosis neurosifilis pada laporan kasus ini ditegakkan berdasarkan pemeriksaan LCS ang menunjukkan hasil VDRL ang reaktif,peningkatan jumlah leukosit dan protein total. Pasien ini diberikan penisilin G prokain 2,4 juta unit tanpa probenesid ang diberikan secara intramuskular selama 14 hari. Pada pasien sifilis koinfeksi HIV dapat dicurigai neurosifilis apabila ditemukan salah satu karakteristik berikut: (1) tidak terjadi penurunan titer VDRL setelah terapi ben atin penisilin; (2) serum VDRL/rapid plasma reagin (RPR) 1 32 (3) jumlah CD4+ < 350 sel/mm3. Kegagalan terapi pada sifilis sekunder dapat disebabkan oleh infeksi Treponema pallidum pada sistem saraf pusat.
Simpulan, dilaporkan satu pasien usia 35 tahun dengan neurosifilis asimtomatik ang diberikan terapi penisilin G prokain 2,4 juta unit tanpa probenesid selama 14 hari. Pemeriksaan serum VDRL pada bulan ketiga pasca terapi belum mengalami penurunan titer.
Ka a k ci: neurosifilis asimtomatik, HIV, sifilis sekunder, gagal terapi
Ab ac
Neuros philis is infection of the central nervous s stem that caused b invasion of Treponema pallidum in blood-brain barrier that commonl occur in s philis patient coinfection with HIV. Neuros philis commonl considered to be a manifestation of tertiar s philis, although neuros p hilis can in fact occur during an stage of infection include secondar s philis. Diagnosis of neuros philis is made based on reactive VDRL serum without neurological s signs and s mptoms accompanied with one of this characteristics in cerebrospinal fluid (CSF): (1) leukoc te count > 10/mm3; (2) total protein > 50 mg/dL; (3) reactive VDRL. A case of secondar s philis coinfection with HIV in a 35- ear-old-male without neurological s signs and s mptoms was reported. Suspicion of neuros philis in this patient was caused b treatment failure of secondar s philis, HIV status with CD4+ count 106/mm3, and VDRL serum 1:256. The diagnosis of neuros philis was made based on CSF e amination that showed reactive CSF VDRL, increase leukoc te count and total protein. Patient was treated with procaine penicillin G 2,4 million units intramuscularl without probenecid for 14 da s. Neuros philis should be suspected in patient s philis coinfection with HIV if one of the following: (1) a non-declining s philis titre after ben athin penicillin therap ; (2) VDRL/RPR serum 1 32 (3) CD4+ count < 350 cells/mm3. Treatment failure for secondar s philis can be caused b infection of Treponema pallidum in central nervous s stem. Conclusion, A case of as mptomatic neuros philis that given procaine penicillin G 2,4 millions unit for 14 da s without probenecid in a 35- ear-old-male was reported. Three months after therap showed no decline in VDRL titre serum
Ke d : as mptomatic neuros philis, HIV, secondar s philis, treatment failure Ko e ponden i : diafeb [email protected]
S ifa MEDIKA, Vol.8 (No.1), September 2017
Pe dah l a
Sifili adalah infek i k oni ang di ebabkan oleh Treponema pallidum b pe ie pallidum ang m m di la kan melal i h b ngan ek al.1,2 Sifili memiliki empa adi m ang be beda eca a klini ai adi m p ime , ek nde , la en dan e ie .1 Gamba an klini le i k li pada ifili ek nde m mn a idak e a a ga al, be a na me ah embaga, be di ib i ime i dan gene ali a a,3,4 mengenai ba ang b h dan ek emi a e ma k elapak angan dan kaki.4 Me kip n demikian, dapa p la membe ikan gamba an le i a ime i dan e di ib i lokali a a.2,5 Pada pa ien ifili ek nde ang di e ai infek i human immunodeficienc virus (HIV), in a i Treponema pallidum be ifa lebih ag e if ehingga meningka kan i iko ke e liba an ne ologi ang lebih dini.6
Ne o ifili me pakan infek i pada i em a af p a ang di ebabkan oleh in a i a a da ah o ak oleh Treponema pallidum.1,7 Ne o ifili m m e jadi pada ifili e ie , e api dapa p la e jadi pada adi m lain, e ma k adi m p ime .1,8,9 Me i dkk.10 mengelompokkan ne o ifili menjadi 4 jeni ai : (1) a im oma ik; (2) meningeal; (3) pa enkima o a; dan (4) g ma o a. Pada ne o ifili a im oma ik, idak di em kan anda dan gejala ke akan i em a af p a .2,4
Infek i HIV dapa mempe cepa dan meng bah pe jalanan klini ne o ifili .11
Pada e a e elah di em kan peni ilin, ne o ifili ja ang di em kan.7 Nam n, ejak ban ak di em kan ka HIV, ne o ifili ban ak di em kan dengan ben k ne o ifili dini e ama pada pa ien HIV e eb .12
Be da a kan da a a a jalan Bagian Ilm Ke eha an K li dan Kelamin (IKKK) RS. DR. Ha an Sadikin (RSHS) Band ng pe iode 1 Jan a i 2012 ampai 31 De embe 2014 e dapa 1 ka ne o ifili dengan gejala n e i kepala heba ang e ma k dalam ipe ne o ifili im oma ik. Pada ka e eb j ga di em kan pada pa ien ang e infek i HIV. Lapo an ka ini be j an n k men nj kkan bah a pada pa ien ifili koinfek i HIV dapa dic igai ne o ifili apabila idak e dapa pen nan i e VDRL ebe a empa kali dalam ak enam b lan e elah pembe ian e api ben a in peni ilin, me kip n idak e dapa
anda dan gejala kelainan ne ologi .
La a Ka
Seo ang p ia be ia 35 ah n, ka a an pa, da ang ke Poliklinik Di i i Infek i Men la Sek al (IMS) R mah Saki Ha an Sadikin (RSHS), Band ng dengan kel han ama be pa be cak keme ahan ang idak e a a ga al pada ked a elapak angan dan kaki. Be da a kan anamne i dike ah i ejak iga ah n ebel m be oba pa ien mengel h mak la e i ema ang elah ada ebel mn a menjadi emakin ban ak dan men eba hingga
S ifa MEDIKA, Vol.8 (No.1), September 2017
mengenai ebagian elapak angan dan kaki.
Kel han pe ama kali di ada i pa ien a b lan ebel mn a be pa mak la e i ema be k an ebe a biji jag ng, be j mlah eki a d a di ked a elapak angan ang idak e a a ga al. Pa ien be oba ke dok e pe iali k li dan kelamin (SpKK), dika akan mende i a eak i ale gi, dibe ikan oba able ang dimin m 2-3 kali eha i e a oba ole , idak e dapa pe baikan, e api ka ena idak me a a e gangg , pa ien idak melanj kan pengoba ann a.
Sa ah n ebel m be oba pengliha an ma a kanan menjadi kab . Enam b lan ebel m be oba pengliha an ma a kanan menjadi emakin kab ehingga pa ien be oba ke dok e pe iali ma a, dika akan mende i a ei i po e io (pa ien men eb kan), dibe ikan d a macam oba min m dan oba e e ma a kem dian di j k ke Klinik Te a ai n k peme ik aan HIV ka ena did ga infek i oleh o opla ma (pa ien men eb kan).
Peme ik aan an i HIV men nj kkan ha il ang eak if dan j mlah CD4+ ebe a 106 el/mm3. Pa ien dibe ikan oba an i e o i al (ARV) be pa enofo i , lami din dan efa i en da i Klinik Te a ai.
Pa ien di j k ke Poliklinik IMS RSHS ka ena ha il peme ik aan ifili ang eak if dengan i e VDRL 1:256 dan Treponema pallidum hemagglutination assa (TPHA) eak if dengan i e 1:2560. Pa ien ke ika i didiagno i ifili ek nde dan dibe ikan pengoba an be pa injek i ben a in ben il peni ilin 2,4 j a ni in am k la (IM) do i nggal. Pa ien kem dian kon ol n k peman a an e pon pengoba an, e api i e VDRL idak mengalami pen nan ebe a empa kali dalam ak enam b lan. Ha il peme ik aan i e VDRL e elah enam b lan e api ai 1:512.
Pa ien kem dian di j k ke Poliklinik Sa af n k dilak kan peme ik aan komplika i pen aki n a. Ha il ja aban kon l a i da i Depa emen Ilm Pen aki Sa af idak
Ga ba 1. Pengama an ha i ke-1 (b lan ke-6 e elah injek i ben a in ben il peni ilin) Tampak mak la hipe pigmen a i
S ifa MEDIKA, Vol.8 (No.1), September 2017
didapa kan defi i ne ologi . Ha il peme ik aan p ng i l mbal didapa kan peningka an j mlah el 176/mm3 dan p o ein o al 102 mg/dL, VDRL eak if ( i e 1:16).
Pa ien bel m menikah, coitarche aa be ia 21 ah n dengan eman elin a laki -laki eca a anogeni al anpa mengg nakan kondom. Ri a a p omi k i a dan be h b ngan dengan lain jeni diak i.
Pa ien dapa be po i i ebagai top dan bottom , e api lebih e ing ebagai top . Pa ien ja ang mengg nakan kondom. Pa ien dah di i k m i i.
Ri a a mengon m i min man ke a dan men a o diak i oleh pa ien.
Da i peme ik aan a gene ali di em kan anda-anda i al dalam ba a no mal. Kelainan k li pada b lan ke-6 e elah e api injek i ben a in peni ilin didapa kan pe baikan (gamba 1). Pada peme ik aan a de ma ologik didapa kan le i ang egione , pada ked a elapak angan dan kaki ampak le i m l ipel, di k e , ebagian konfl en , ben k idak e a , k an e kecil 0,5 0,5 cm, k an e be a 5 1 cm, ba a ega , idak menimb l, ke ing, be pa mak la hipe pigmen a i. Pada a
ene eologik idak di em kan kelainan.
Pa ien didiagno i ne o ifili a im oma ik dan mendapa e api injek i peni ilin G p okain 2,4 j a ni e iap ha i IM elama 14 ha i anpa p obene id. Pada pengama an ha i ke-47 didapa kan ha il peme ik aan i e VDRL 1:128. Pada
peme ik aan i e VDRL 1:256. Pa ien ini di encanakan peme ik aan p ng i l mbal pada b lan ke-6 e elah e api.
Pe baha a
P e alen i ifili be a ia i dalam bebe apa ah n e akhi . Pada ah n 1999, World Health Organi ation (WHO) mempe ki akan eki a 12 j a ka ba ifili di el h d nia ang kh n a mengenai o ang de a a. Pada ah n 2000, p e alen i ifili di Ame ika Se ika (AS) mencapai angka paling endah ai ebe a 2,2 ka pe 100.000 pop la i. P e alen i pen aki ini meningka e iap ah nn a mencapai 2,97 ka pe 100.000 pop la i pada ah n 2005 kh n a mengenai kelompok laki-laki ka laki-laki (LSL) dan pa ien ang e infek i HIV.5 Peneli ian oleh Poli eli dkk.12 melapo kan bah a hampi 90% pa ien ne o ifili adalah laki-laki, ang dapa menjadi gamba an bah a ne o fili dan HIV be kai an e a dengan LSL. Ne o ifili pada pa ien ang e infek i HIV m mn a be ifa a im oma ik ai eki a 40-60% ka .13 Pa ien pada lapo an ka ini me pakan eo ang laki-laki, LSL, dan e infek i HIV.
Le i pada ifili ek nde di ebabkan oleh pen eba an Treponema pallidum eca a hema ogen dan limfogen. Sifili ek nde memiliki manife a i klini ang meliba kan kelainan i emik dan m kok an. Gejala i emik ang dapa e jadi be pa demam ingan, malaise, n e i enggo okan, limfadenopa i, pen n be a
S ifa MEDIKA, Vol.8 (No.1), September 2017
di ebabkan oleh i i a i meningeal.2,14 Manife a i klini ang e ing dij mpai pada ifili ek nde adalah am mak lopap la dif ang bia an a e jadi enam mingg e elah le i p ime imb l.11 Le i ang lokali a a dapa imb l pada
elapak angan dan kaki be pa pap la dan plak ime i di e ai k ama kola e ang di eb Biette s collarette.1,2 Le i bia an a idak ga al, me kip n a a ga al dapa imb l pada eki a 40% pa ien.1 Pada ifili ek nde koinfek i HIV dapa e jadi pe bahan gamba an klini be pa am k li ang idak kha , ke e liba an o gan dalam ang lebih p og e if, dan be kembang lebih cepa menjadi ne o ifili .15 Diagno i ifili ek nde di egakkan be da a kan di em kan gamba an le i e eb di e ai ha il peme ik aan i e VDRL ang eak if dan dikonfi ma i dengan peme ik aan TPHA ang men nj kkan ha il eak if. Te api lini pe ama n k ifili ek nde adalah ben a in peni ilin 2,4 j a ni IM do i
nggal. Pa ien ifili ek nde ha die al a i eca a klini dan e ologi pada b lan ke-3, 6, 9, 12 dan 24 e elah e api n k menge ah i efek i i a e api.Ti e e non eponema ang idak mengalami pen nan ebe a 4 kali lipa dalam 6 b lan e elah e api ifili dapa di eb ebagai kegagalan e api.14 Pada ka ini, pa ien enam b lan ang lal elah didiagno i ifili ek nde be da a kan di em kann a gamba an klini be pa pap la dan plak hipe pigmen a i di e ai k ama ang mengenai ked a elapak
angan dan kaki dan ha il peme ik aan VDRL dengan i e 1:256 dan TPHA eak if. Pa ien ke ika i dibe ikan e api ben a in pen ilin, e api pada peme ik aan b lan ke-6 i e VDRL idak mengalami pen nan, bahkan meningka menjadi 1:512.
Kegagalan e api ifili ek nde dapa di ebabkan oleh einfek i,16 koinfek i HIV,12 infek i Treponema pallidum pada i em a af p a ,14 dan e i an i oba .17 Be da a kan bebe apa peneli ian e ngkap bah a infek i HIV dapa meningka kan i iko kegagalan e api pada ifili ehingga dapa be lanj menjadi ne o ifili .12 Centers for disease control and prevention (CDC) me ekomenda ikan peme ik aan LCS pada pa ien ang e infek i HIV dengan ifili la en lanj , ifili ang idak dike ah i d a in a, ifili ang di e ai anda dan gejala ne ologi e a pa ien ifili ang mengalami kegagalan e api.18 Ne o ifili pada pa ien HIV did ga bila
i e e m VDRL/rapid plasma reagin (RPR) 1:32 dan pa ien dengan j mlah CD4+ 350 el/mm3 ehingga pada keadaan e eb di ekomenda ikan n k dilak kan peme ik aan LCS.1,19 Pada lapo an ka ini, i e VDRL pa ien idak mengalami pen nan dalam 6 b lan e elah e api, koinfek i HIV dengan CD4+ 106 el/mm3 dan e m VDRL 1:256.
Be da a kan hal-hal e eb , dilak kan peme ik aan LCS n k mende ek i adan a ne o ifili .
Fak o i iko e jadin a ne o ifili adalah koinfek i HIV bila j mlah CD4+
S ifa MEDIKA, Vol.8 (No.1), September 2017
350 el/mm3, laki-laki, ifili adi m lanj , dan pa ien ifili dengan e m VDRL/RPR 1:32.19 Sifili dan HIV me pakan pen aki ang ked an a di la kan melal i h b ngan ek al. Sifili dapa meningka kan i iko an mi i HIV melal i lk geni al ang diakiba kann a.11 Ne o ifili lebih e ing mengenai pa ien ifili dengan koinfek i HIV ka ena pada infek i HIV e jadi gangg an im ni a el la , f ng i mak ofag dan limfo i B ehingga meng bah pe jalanan alamiah pen aki ifili . HIV dapa menginfek i el ne oglia dan me ak lapi an meninge ehingga mem dahkan T. pallidum n k melak kan pene a i pada a a da ah o ak.20 Kondi i im no p e i ang be ifa emen a a pada a al infek i Treponema pallidum dapa menggangg e pon pejam e hadap HIV.
Pengg naan ARV ebel m infek i ifili dapa meng angi i iko ne o ifili ebe a 65%.21 Pada pa ien ini, fak o i iko e jadin a ne o ifili adalah laki- laki, ifili koinfek i HIV dengan nilai CD4+ 106 el/mm3.
Ben k manife a i ang di imb lkan da i ne o ifili dapa be pa ne o ifili dini ang e di i da i ne o ifili a im oma ik dan ne o ifili meningeal e a ne o ifili lanj ang e di i da i ne o ifili pa enkima o a dan g ma o a.
Pada ne o ifili a im oma ik idak di em kan anda dan gejala ke akan i em a af p a . Diagno i ne o ifili a im oma ik di egakkan be da a kan
e ologi VDRL ang eak if,peningka an j mlah le ko i dan j mlah p o ein o al.2,4 Ne o ifili a im oma ik dapa menga ali pe kembangan ne o ifili ke a ah im oma ik dengan p ncak kejadian 12-18 b lan e elah e infek i.3
Pada ne o ifili meningeal didapa kan anda dan gejala meningi i epe i demam, n e i kepala, kak k d k, kejang, deli i m dan kel mp han a af k aniali . Pada ne o ifili meningeal dapa e jadi oke dengan manife a i hemipa e i a a hemiplegia, afa ia, dan kejang,4 ang di eb ne o ifili meningo a k la .1,9 Ne o ifili pa enkima o a e di i da i pa e i gene ali , abe do ali , a a camp an ked an a ang di eb abopa e i . Manife a i klini pada pa e i gene ali dapa be pa demen ia ang be kembang dengan cepa dan di e ai pe bahan kep ibadian. Pada abe do ali memiliki gejala be pa a ak ia en o i , di f ng i pada dan kand ng kemih e a anda be pa Arg ll- Robertson pupil dan a ofi op ik.4 Ne o ifili g ma o a me pakan ben k ang ja ang e jadi, bahkan pada e a ebel m an ibio ik di em kan.G ma dapa e jadi di manap n pada o ak a a med la pinali dan manife a i klini be gan ng pada loka i g ma.21 Kelainan ang di em kan pada LCS ama dengan ben k ne o ifili lainn a, e api e dapa peningka an ekanan in ak anial.4 Pada pa ien ini idak didapa kan gejala demam, n e i kepala, kak k d k, kejang, deli i m,
S ifa MEDIKA, Vol.8 (No.1), September 2017
-anda defi i ne ologi ma p n anda- anda peningka an ekanan in ak anial di o ak.
Be da a kan k i e ia CDC, diagno i ne o ifili di egakkan apabila didapa kan e m VDRL ang po i if di e ai kelainan ne ologi ang e ai dengan gamba an klini ne o ifili a a didapa kan a da i ka ak e i ik be ik pada peme ik aan LCS: (1) j mlah le ko i >10/mm3; (2) p o ein o al >50 mg/dL; (3) ha il VDRL eak if.12 Pada pa ien ang e infek i HIV, j mlah le ko i m mn a meningka lebih da i lima pe mm3 ehingga pe l nilai cutoff ang lebih inggi (>20 pe mm3) n k meningka kan pe ifi i a dalam mendiagno i ne o ifili pada pa ien koinfek i HIV.22 Ha il peme ik aan LCS pada pa ien ini didapa kan VDRL ang eak if dengan i e 1:16, peningka an j mlah le ko i ebe a 176/mm3 dan p o ein o al ebe a 102 mg/dL e a idak di em kann a anda dan gejala ne ologi ehingga diagno i ne o ifili a im oma ik dapa di egakkan pada pa ien ini.
Be bagai kelainan pada LCS ban ak di em kan pada pa ien HIV e ma k peningka an j mlah le ko i dan p o ein o al.23 Wala p n diagno i ne o ifili dapa di egakkan melal i peme ik aan LCS, penegakkan diagno i ne o ifili pada pa ien ang e infek i HIV idak m dah.12,24 Peningka an j mlah le ko i dan p o ein o al LCS pada pa ien HIV dapa memban penegakkan diagno i ne o ifili me kip n li membedakan apakah di ebabkan oleh infek i HIV a a
ne o ifili .25 Pada ha il peme ik aan LCS pa ien lapo an ka ini didapa kan peningka an j mlah le ko i dan p o ein o al ang j ga dapa di ebabkan oleh HIV, e api ha il peme ik aan VDRL LCS membe ikan ha il eak if ehingga memban penegakkan diagno i pa i ne o ifili pada pa ien ini.
Te api pada ne o ifili be beda dengan e api ang dibe ikan n k ifili . Ben a in peni ilin idak di ekomenda ikan n k e api ne o ifili ka ena kon en a in a pada LCS e lal endah n k memb n h Treponema pallidum.26 Te api ang di ekomenda ikan oleh CDC
n k ne o ifili a im oma ik dan im oma ik adalah pembe ian peni ilin G k i alin dalam ak a 18-24 j a ni pe ha i ang dibe ikan 3-4 j a ni e iap 4 jam in a ena (IV) elama 10-14 ha i. Jika pa ien memiliki kepa han e api ang baik dan idak mem ngkinkan n k a a inap, egimen al e na if ang dapa dibe ikan ai peni ilin G p okain 2,4 j a ni IM e iap ha i di ambah p obene id 4 kali 500 mg pe o al, ked an a dibe ikan elama 10- 14 ha i18 Peni ilin dielimina i dengan cepa melal i fil a i g ome l dan ek e i b l ginjal ehingga men ebabkan ak pa hn a anga ingka ai eki a 30-90 meni . Pembe ian p obene id dapa menghamba ek e i peni ilin oleh b l ginjal27 dan meningka kan kon en a i peni ilin di dalam LCS. Goh dkk.28 melapo kan bah a pada 72% pa ien didapa kan kada peni ilin dengan efek eponemi idal pada LCS e elah dibe ikan
S ifa MEDIKA, Vol.8 (No.1), September 2017
e api peni ilin p okain 0,6 j a ni ang di ambahkan dengan p obene id, edangkan pada pa ien ang idak mendapa p obene id, efek eponemi idal han a didapa kan pada 20% pa ien. Pada pa ien ini dibe ikan peni ilin G p okain 2,4 j a ni ang dibe ikan eca a IM elama 14 ha i. Pa ien pada lapo an ka ini idak mendapa kan p obene id ka ena oba
e eb li didapa kan di Indone ia.
Pada ne o ifili , pengama an lanj an e elah e api ha dilak kan.
Peme ik aan LCS ha di lang e iap 6 b lan hingga j mlah le ko i mencapai nilai no mal jika aa e diagno i ne o ifili e dapa peningka an j mlah le ko i . Peman a an LCS dig nakan n k menge al a i pe bahan i e VDRL dan p o ein o al e elah e api, e api ked a pa ame e e eb akan mengalami pen nan lebih lamba dibandingkan j mlah le ko i . J mlah le ko i me pakan pa ame e dengan en i ifi a ang baik n k meliha efek i i a e api.
Pembe ian e api lang ha dapa dipe imbangkan jika j mlah le ko i LCS idak mengalami pen nan e elah 6 b lan e api a a jika j mlah le ko i dan p o ein idak mencapai nilai no mal e elah 2 ah n e api.18 Re pon e api pada pa ien ne o ifili koinfek i HIV be beda dengan pa ien ang idak e infek i HIV. Peneli ian oleh Ma a dkk.19 melapo kan bah a pen nan i e i e VDRL LCS pa ien HIV adalah 2,5 kali lebih endah dibandingkan pa ien ang idak e infek i
dengan j mlah el CD4+ k ang da i 200 el/
mm3 akan mengalami pen nan i e VDRL LCS 3,7 kali lebih endah dibandingkan pa ien HIV dengan j mlah CD4+ lebih da i 200 el/
mm3.Pen nan i e VDRL/RPR pada e m dapa memp edik i apakah dah e dapa pe baikan pada LCS e elah e api ne o ifili .19 Ha il peme ik aan e m VDRL pada pa ien lapo an ka ini ang dipe ik a a b lan e elah e api adalah 1:128. Se m VDRL pa ien elah mengalami pen nan i e ebe a empa kali da i 1:512 menjadi 1:128.
Peme ik aan LCS akan dilak kan enam b lan e elah e api.
Pa ien dengan ne o ifili dini akan membe ikan e pon pengoba an ang lebih baik dibandingkan ne o ifili lanj ehingga mengha ilkan p ogno i ang lebih baik anpa meninggalkan sequelae ne ologi .29 Kegagalan e api ne o ifili a im oma ik pada pa ien ang e infek i HIV dapa be lanj menjadi ne o ifili im oma ik ang dapa mengancam ji a dengan manife a i ama ang dapa e jadi be pa oke.4 Pa ien ang e diagno i dan mendapa e api ne o ifili , e dapa pen nan i iko kegagalan e api apabila elah mendapa kan ARV elama enam b lan a a lebih.23 Ben k ne o ifili pada pa ien ini adalah ne o ifili dini ang elah mendapa kan e api peni ilin dan oba ARV. Be da a kan hal e eb , i iko n k be lanj pada kondi i ang mengancam ji a be pa oke lebih kecil.
Peneli ian oleh Do ell dkk. melapo kan bah a angka kekamb han ne o ifili a im oma ik pada pa ien koinfek i HIV
S ifa MEDIKA, Vol.8 (No.1), September 2017
Peke jaan pa ien ebagai ka a an pa, a ebagai LSL ang e ing be h b ngan dengan ca a anogeni al, e a a HIV ang dide i a oleh pa ien men ebabkan pa ien en an mengalami kekamb han dan einfek i.
Si la
Pa ien ifili koinfek i HIV dapa dic igai ne o ifili apabila idak e dapa pen nan i e VDRL ebe a empa kali dalam ak enam b lan e elah pembe ian e api ben a in peni ilin, me kip n idak e dapa anda dan gejala kelainan ne ologi .
Daf a P aka
1. Ka KA. S phili . Dalam:
Gold mi h LA, Ka SI, Gilch e BA, Palle AS, Leffel DJ, Wolff K,
pen n ing. Fi pa ick
de ma olog in gene al medicine.
Edi i ke-8. Ne Yo k: McG a Hill;
2012.hlm.2471-93.
2. S a A. Se all T an mi ed Infec ion . Dalam: Bolognia JL, Jo i o JL, Rapini RP, pen n ing.
De ma olog . Edi i ke-2. Ne Yo k:
Mo b ; 2008.hlm.1239-62.
3. Kingho n GR. S phili and Bac e ial Se all T an mi ed Infec ion . Dalam: B n T, B ea hnach S, Co N, G iffi h C, pen n ing. Rook e book of de ma olog . Edi i ke-8.
UK: Wile -Black ell; 2010.hlm.34.1 -38.
4. Holme KK, Spa ling PF, S a MN, M he DM, Heal BP. Clinical manife a ion of phili . Dalam:
Holme KK, Spa ling PF, S amm WE, Pio P, Wa e hei JN, Co e L, pen n ing. Se all an mi ed di ea e . Edi i ke-4. Ne Yo k : McG a Hill; 2008. hlm. 661-84.
5. Balag la Y, Ma ei PL, Wi co OJ, E dag G, Chien AL. The g ea imi a o e i i ed: he pec m of a pical c aneo manife a ion of econda
phili . In J De ma ol. 2014;53:1434 41.
6. L nn WA, Ligh man S. S phili and HIV: a dange o combina ion. Lance Infec Di . 2004;4:456-66.
7. B la a R, Bajko Z, Mo ian A, Maie S. Pi fall in he diagno i of ne o phili - ca e epo and li e a e e ie . Ac a Medica T an il anica.
2014;2(4):201-203.
8. Ghanem KG. Ne o phili : A hi o ical pe pec i e and e ie . CNS Ne o cience and The ape ic . 2010;16:157 68.
9. Jame WD, Be ge TG, El on DM.
S phili , Ya , Bejel, and Pin a. Dalam:
Jame WD, Be ge TG, El on DM, pen n ing. And e di ea e of he kin clinical de ma olog . Edi i ke-11.
Cina: El e ie ;2011.hlm.345-359.
10. Me i HH. Neuros philis. Ne Yo k:
O fo d, 1946.
11. Rajan J, P a ad PV, Chockalingam K, and Ka ia a an PK. Malignan phili i h h man imm nodeficienc i infec ion. Indian De ma ol Online J. 2011; 2(1):19 22.
12. Poli eli R, Vidal JE, Oli ei a AC, dkk.
Ne o phili in HIV-infec ed pa ien : clinical manife a ion , e m ene eal di ea e e ea ch labo a o i e , and a ocia ed fac o o mp oma ic ne o phili . Se all T an mi ed Di ea e . 2008;35(5):425 29.
13. Wal e T, Lebo che B, Miailhe P, dkk.
S mp oma ic elap e of ne ologic phili af e ben a hine penicillin G he ap fo p ima o econda phili in HIV-infec ed pa ien . Clin Infec Di . 2006;43:787 90.
14. Janie M, Heg i V, D pin N, Unemo M, Tiplica GS. 2014 E opean g ideline on he managemen of phili . JEADV;
2014:28:1581 93.
15. Amado VR, Saa ed a GA, Ram e BC, dkk. Clinical pec m of o al econda phili in HIV-infec ed pa ien . J Se T an m Di . 2013;4:1-8.
S ifa MEDIKA, Vol.8 (No.1), September 2017
16. Se a AC, Zhang XH, Li T, Zheng HP, dkk. A ema ic e ie of phili e ological ea men o come in HIV-infec ed and HIV-
ninfec ed pe on : e hinking he ignificance of e ological non- e pon i ene and he e ofa a e af e he ap . BMC Infec Di . 2015;5:1-15.
17. S amm LV. Global challenge of an ibio ic-e i an Treponema pallidum. An imic ob.Agen Chemo he . 2010;54(2):583 89.
18. Wo ko ki KA, Bolan GA. Se all T an mi ed Di ea e T ea men G ideline , 2015. CDC MMWR Repo . 2015;64(3):34-48.
19. Ma a CM. Ne o phili . C Ne ol and Ne o ci Rep.
2004;4:435 40.
20. H R, L C, L S, H Y, dkk. Val e of CXCL13 in diagno ing a mp oma ic ne o phili in HIV- infec ed pa ien . In J STD AIDS.
2015:1-15.
21. Ghanem KG, Moo e RD, Rompalo AM, dkk. An i e o i al he ap i a ocia ed i h ed ced e ologic fail e a e fo phili among HIV- infec ed pa ien . Clin Infec Di . 2008;47(2):258 65.
22. Wo ko ki KA, Bolan GA. Se all T an mi ed Di ea e T ea men G ideline , 2010. CDC MMWR Repo . 2010;59:26-38.
23. Chahine LM, Kho ia RN, Tomfo d WJ, dkk. The changing face of ne o phili . In J S oke.
2011;6:136 143.
24. Sadeghani K, Kallini JR, Khachemo ne C. Ne o phili in a man i h h man imm nodeficienc i . J Clin Ae he De ma ol. 2014;7(8):35 40.
25. Me in V, Hahn K. S phili and ne o phili : HIV-coinfec ion and al e of diagno ic pa ame e in ce eb o pinal fl id. E J Med Re . 2015;20:1-7.
26. M he DM. Ne o phili : diagno i and e pon e o ea men . Wo ld J Clin Infec Di . 2008;47:900 2.
27. B i ago D, Jimene A, Con e no LO,
Ma -Ca ajal AJ. An ibio ic he ap
fo ad l i h ne o phili (P o ocol).
The Coch ane Lib a . 2014;11:1-17.
28. Goh BT, Smi h GW, Sama a inghe L, dkk. Penicillin concen a ion in e m and ce eb o pinal fl id af e in am c la injec ion of aq eo p ocaine penicillin 0,6 MU i h and i ho p obenecid. B J Vene Di . 1984;60:371-3.
29. Schiff E, Lindbe g M, Ha lfo d, dkk.
Ne o phili . So h Med J.
2002;95:1083-87.
30. Do ell ME. Ro PG, M he DM, dkk.
Re pon e of la e phili o ne o phili o cef ia one he ap in pe on infec ed i h h man imm nodeficienc i . Am J Med.
1992;93:481-8.
Syifa’ MEDIKA, Vol.8 (No.1), September 2017
H b ga Ti gka Pe didika de ga Pe ge ah a Peke ja di Pa e ba g Me ge ai Pe gg aa Tabi S a
Rade Pa dji1
1S af Fak l a Kedok eran Uni er i a M hammadi ah Palembang
Submitted: February 2017 Accepted: March 2017 Published: September 2017
Abstrak
Kulit merupakan organ yang paling sering terpapar radiasi sinar UV. Paparan sinar UV dapat mengakibatkan eritema dan kulit terbakar, warna kulit menjadi hitam, penuaan kulit, photosensitivity, dan karsinogenesis. Pekerjaan juga merupakan salah satu penyebab seringnya seseorang terpapar sinar UV. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan pekerja mengenai penggunaan tabir surya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang pada pekerja HSE Center Pertamina Palembang dengan besar sampel 134 orang. Subjek penelitian diminta mengisi kuesioner lalu dianalisis dengan uji Chi Square. Pekerja di Pertamina HSE Training Center mempunyai tingkat pendidikan rendah 1,5%, tingkat menengah 41,8%, dan tinggi 56,7%. Pekerja memiliki tingkat pengetahuan baik 20,1%, pengetahuan cukup 26,9%, dan pengetahuan kurang 53,0%. Nilai p untuk hubungan antara tingkat pendidikan dan pengetahuan mengenai penggunaan tabir surya adalah 0,405. Tingkat pengetahuan yang kurang mengenai manfaat tabir surya mungkin disebabkan oleh kurangnya sosialisasi mengenai tabir surya kepada pekerja Kesimpulan, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan pekerja mengenai penggunaan tabir surya.
Kata k nci: tingkat pendidikan pekerja, penggunaan tabir surya, pengetahuan mengenai tabir surya Abstract
Skin is an organ that mostly exposed to ultraviolet ray. This exposure can cause sunburn, tanned skin,
aging, photosensitivity, and cancer. Workers are vulnerable for UV exposure. The aim of study was to analy e the worker’s education level and their knowledge of using sunscreen. This research was designed as a cross sectional study. Assessment were based on questionnaires filled by 134 male workers of HSE Center Per amina Palembang. The data were analy ed using chi square test. Subjects were having high education (56,7%), middle education (41,8%), and low education (1,5%). Knowledge of the workers were excellent (20,1%), good enough (26,9%), and poor (53,0%). p value for association between education level and using sunscreen knowledge were 0,405 (p>0,05). The reason why most of subjects had poor knowledge maybe because of the lack of sociali ation of sunscreen for skin protection from medical personnel and industrial committee. Conclusion, worker’s education level were not associated with their knowledge of using sunscreen.
Ke ords: Knowledge, Workers, Sunscreen, Sunscreen usage, education level and sunscreen
Kore ponden i : raden_pam dji@ ahoo.com
Pe dah a
Bahan kimia b a an man ia eper i chlorofluorocarbons (CFC) ang dig nakan dalam empro an aero ol, lemari e , dan AC akan naik ke a mo fer dan mengha ilkan klorin ang menghanc rkan beberapa pelind ng lapi an o on. Dengan
penipi an lapi an o on, akan erjadi peningka an kadar radia i inar l ra iole (UV) di b mi.1 Paparan inar UV meningka kan re iko per mb han kanker k li .2
Salah a ala an imb ln a kanker k li di Amerika Serika pada 2010 adalah
Syifa’ MEDIKA, Vol.8 (No.1), September 2017
idak adan a perlind ngan erhadap paparan inar UV dari ma ahari. 3 Kanker k li di Jakar a, pada ah n 2000-2009 dilaporkan eban ak 261 ka Kar inoma Sel Ba al (KSB), dik i dengan 69 Kar inoma Sel Sk amo a (KSS), dan 22 melanoma.4
Kanker k li dapa dicegah dengan cara r in memakai sunscreen ang mengand ng sun protection factor (SPF) 15 a a lebih.3 Jika dig nakan dengan benar, pengg naan abir r a ecara era r dapa meng rangi ri iko kanker k li dan men nda pen aan k li dini.5
Pekerja di l ar r angan akan lebih ering erpapar inar UV. Pekerja lapangan menerima 10%-70% dari paparan inar UV e iap hari kerjan a emen ara pekerja kan oran han a menerima 6% dari paparan
inar UV pada m im pana .6
Penge ah an dipengar hi oleh ingka pendidikan.7 Oleh karena i , peneli i ingin mencari h b ngan an ara ingka pendidikan dengan penge ah an para pekerja di Palembang mengenai pengg naan abir r a.
Me de Pe e i ia
Peneli ian ini mer pakan peneli ian ob er a ional anali ik dengan de ain cross sectional. Peneli ian dilak anakan di HSE Training Center Manager Per amina, Palembang pada ah n 2015. Pop la i peneli ian ini adalah el r h pekerja laki- laki di Per amina HSE Training Center Manager Palembang eban ak 134 orang.
Kri eria inkl i dalam peneli ian ini adalah pekerja laki-laki dengan ia 18-55 ah n ang bekerja minimal 8 jam e iap hari kerja. Da a primer diperoleh dari ha il pengi ian k e ioner oleh para re ponden.
Da a ang diperoleh akan di ampilkan dalam abel di rib i frek en i dan dianali i mengg nakan program komp er kh
a i ik dengan ji Chi-Square.
Ha i da Pe baha a
Dalam peneli ian ini, pop la i didapa kan dari el r h pekerja di Per amina HSE Training Center Manager Palembang ang berj mlah 144 orang ang erdiri dari 134 pekerja laki-laki dan 10 orang pekerja peremp an. Nam n, berda arkan kri eria inkl i ber pa jeni kelamin laki-laki dan ia didapa kan bjek peneli ian eban ak 134 orang pekerja laki-laki ang erdiri dari 70 pekerja lapangan dan 64 pekerja kan oran.
Di rib i re ponden men r ingka pendidikan dapa diliha pada abel 1.
Tabe 1. Di rib i Tingka Pendidikan S bjek Peneli ian
Berda arkan abel di a a , dapa di imp lkan bah a ingka pendidikan para
Ti gka
e didika F ek e i Pe e a e (%)
Rendah 2 1,5
Menengah 56 41,8
Tinggi 76 56,7
J ah 134 100
Syifa’ MEDIKA, Vol.8 (No.1), September 2017
pekerja di Per amina HSE Training Center didomina i oleh ingka pendidikan inggi (56,7%). Nam n, ma ih ada ediki pekerja ang memp n ai pendidikan rendah (1,5%).
Di rib i ingka penge ah an bjek peneli ian ang diperoleh dari k e ioner
elah dirangk m dalam abel 2.
Tabe 2. Tingka Penge ah an Pekerja
Dari ha il peneli ian didapa kan bah a ebagian be ar pekerja di Per amina HSE Training Center Manager Palembang memiliki ingka penge ah an ang k rang en ang pengg naan abir r a ai eban ak 53,0%, nam n ada 20,1% pekerja
ang memiliki ingka penge ah an baik.
Peneli ian ini mencoba mengh b ngkan an ara ingka pendidikan pekerja dengan penge ah an mengenai pengg naan abir r a ang baik. Ha il ji
Chi Sq are men nj kkan nilai p 0,405 ang berar i nilai p<0,05 ehingga dapa dika akan bah a idak erdapa h b ngan ang bermakna an ara ingka pendidikan dengan penge ah an pengg naan abir r a
ang baik pada pekerja ( abel 3).
Dari abel 3 erliha bah a j mlah pekerja laki-laki di Per amina HSE Training Center Manager Palembang ang memiliki ingka penge ah an ang k rang en ang pengg naan abir r a ebe ar 57,5%. Hal ini enada dengan peneli ian ang dilak kan Parro (1996) dimana pekerja lapangan di Georgia memp n ai penge ah an ang k rang en ang dampak paparan inar ma ahari erhadap ke eha an dan en ang perlind ngan ma ahari.8 Hal ini j ga ama dengan peneli ian ang dilak kan oleh Marc (2002) dimana eban ak 35% dari pe ani di California menga akan bah a mereka idak ah en ang kanker k li dan cara melind ngi k li dari inar ma ahari.9 Bila dibandingkan dengan ha il peneli ian ang dilak kan oleh McCool (2009), dimana pekerja A ia memiliki penge ah an m m ang paling rendah en ang abir r a dibandingkan dengan el r h par i ipan dari el r h kelompok e nik.10 Ha il dari Ti gka
Pe ge ah a F ek e i
( a g) Pe e a e (%)
Baik 27 20,1
C k p 36 26,9
K rang 71 53,0
T a 134 100
Tabe 3. H b ngan Tingka Pendidikan dengan Penge ah an Pekerja
Pe didika Pe ge ah a
Baik C k K a g T a
Pendidikan menengah ke
ba ah 6 (10,3%) 15 (25,9%) 37 (63,8%) 58 (100,0%)
Pendidikan inggi 12 (15,8%) 24 (31,6%) 40 (52,6%) 76 (100,0%)
To al 18 (13,4%) 39 (29,1%) 77 (57,5%) 134 (100,0%)
Nilai p 0,405
Syifa’ MEDIKA, Vol.8 (No.1), September 2017
peneli ian ini j ga men nj kkan hal ang er pa.
Bila diliha dari rincian k e ioner ern a a n k ingka penge ah an, keban akan pekerja idak ah en ang kand ngan abir r a. Padahal, kand ngan abir r a ang ber pa SPF & PA bi a mencegah erjadin a ker akan k li ang di ebabkan oleh paparan er mener UVA dan UVB. Kem ngkinan pen ebab dari k rangn a ingka penge ah an m ngkin di ebabkan karena k rangn a o iali a i kepada pekerja en ang abir r a dan kand ngan abir r a. I ilah SPF & PA ang k rang pop ler pada orang a am j ga bi a menjadi pen ebab k rangn a ingka penge ah an. Kebia aan mengg nakan abir r a di lingk ngan mereka ma ih anga rendah ehingga para pekerja idak erbia a dengan mengg nakan abir r a. Oleh karena i , perl n a o iali a i kepada para pekerja agar bi a meningka kan ingka penge ah an, ikap dan perilak mengenai pengg naan abir
r a.
Si a da Sa a
Tidak erdapa h b ngan ang bermakna an ara ingka pendidikan dengan penge ah an para pekerja mengenai pengg naan abir r a ang baik. Perl n a pen ebaran informa i pada pekerja, pihak pemberi kerja, dan pe ga ke eha an mengenai ma ih rendahn a ingka penge ah an para pekerja n k menjaga
ke eha an k li mereka agar idak mengalami kanker k li di kem dian hari.
Daf a P aka
1. WHO. 2003. Sun Protection A Primary Teaching Resource. Gene a : WHO.
2. Balk, Sophie J. 2011. Ultraviolet Radiation : A Ha ard to Children and Adolescents. American Academ of Pedia ric . 127(3):791-817.
3. Cohen dkk. 2013. Sun Protection Counseling by Pediatricans has Little Effect on Parent and Child Sun Protection Behavior. Jo rnal Pedia ric.
162(2):381-386.
4. Cip o H. 2012. Patients characteristic in skin tumor and skin surgery division, Depar men of Derma o enereolog FKUI/RSCM, Jakar a. Indone J Oncol.
5. Holman, D.M. dkk. 2015. Patterns of sunscreen use on the face and other exposed skin among US adults.
American Academ of Derma olog J l 2015 : 83-92.
6. Makgab lane M dan Wrigh C. 2014.
Real-time measurement of outdoor worker’s exposure to solar ultraviolet radiation in Pretoria,South Africa.
So h African Jo rnal of Science. 111 (5) :1-7.
7. Wa an A dan De i M. 2010. Teori dan Peng k ran Penge ah an, Sikap, dan Perilak Man ia. Yog akar a:
N ha Medika.
8. Parro R, S einer C, Goldenhar L.
1996. Georgia’s harvesting healthy habits:a formative evaluation. Jo rnal R ral Heal h 12 2 1 00.
9. Marc dkk. 2002. Use of Protective Equipment Among California Farmers.
Depar men of Epidemiolog and Pre en i e Medicine, Fac l of Medicine, Uni er i of California.
10. McCool, J di h e al. 2009. Outdoor Workers' Perceptions of the Risks of Excess Sun-Exposure. Jo rnal of Occ pa ional Heal h (51): 404-411.
S a’ MEDIKA, V .8 (N .1), Se e be 2017
T a a Da a Be ba a P ed Beda K
N a A Sa a a 1, E a K a S ed a2, J Had A 3
1-3Depa emen Ilm Ke eha an K li dan Kelamin-Fak l a Kedok e an Uni e i a Padjadja an/
R mah Saki Ha an Sadikin Band ng
S b ed: J 2017 Acce ed: A 2017 P b ed: Se e be 2017
Ab rak
Beda e a da a a da d a a ada a ed e a . T da a e ad a a a ba a a a e a e e a da a beda a a e . Beda da a d a a e e a a d a a e a be ba a a a a a a a ,
a - a a a , da a a ada . Be a a e da a beda e
a be beda e a de a a e a a da e a ada a e e a.
Pe beda a ada e a a ada a a a be e b a a e e d . T a e beda a e a da e ca a ada e a b a a a b , a e a e e da e ada d a a e e aa a a d ebab a da a beda a da e a . O e a e a , e ba a a da a e a a be ba a e beda .
Ka a k nci: beda , da a
Ab rac
Na e de e ed ed ca ac ce. I bec e a c a e e c c a d e de ca e a d ca e ca ec e. I ca be ed c e d a a d ea a ca e be a a , a a a d ea e , a d a a c a . Va e
a e ec e a e d e e c e ba ed a a ab a e a d ca e ab a a . Na e , e ec a e e a a , c ca ed c ca c a a d . T e a e e ac e ed e b ec e ade a e a c e a a d e a a e e . T e e e, a c c a de a d a a ca ec e .
Ke ord: a e , ba c c e
Ko e ponden i : aa a a a @ a .c
Pe da a
Bedah k k e ma k indakan ang idak in dilak kan pada p ak ik kedok e an, baik oleh dok e m m, ahli bedah, ma p n dok e k li .1 Wala p n b kan indakan ang li n k dike jakan, indakan ini meme l kan indakan bedah api ang eli i.2,3 Bedah k k me pakan alah a cabang keilm an bedah k li (de a ca
e ) dan bedah angan ( a d e ).4 Tindakan bedah k k dilak kan dengan bebe apa j an, an a a lain menghilangkan mo lokal di k k , mengoba i infek i k k , meng angi a a n e i akiba a ma a a a , menegakan diagno i dengan biop i, a a be j an e e ika pada ka -ka kelainan k k kongeni al ma p n didapa .4,5
S a’ MEDIKA, V .8 (N .1), Se e be 2017
Pe ba a a
Be agam indakan bedah k k elah ban ak dikenal, m lai indakan ede hana dan m m dilak kan epe i a l i k k , hingga indakan bedah k k ang lebih mi epe i ek i pa i mo di k k hingga indakan flap.1 Pada a ikel ini, pembaha an dibagi be da a kan a a loka i ana omi k k , ai di lempeng k k , ma ik k k , ban alan k k , lek kan k k p ok imal dan di al, e a pembaha an kh mengenai biop i k k .
Beda Le e K
Tindakan a l i k k adalah alah a indakan pada lempeng k k ang paling m m dilak kan. A l i k k dapa dilak kan o al ma p n pa ial.6
a. A l i K k To al
A l i k k me pakan indakan pemi ahan lempeng k k da i k
ekelilingn a.5 A l i k k dapa dilak kan dengan j an n k melak kan peme ik aan pada ja ingan di ba ah lempeng k k a a n k menghilangkan a a n e i pada keadaan a ma ja ingan l nak.3,5 Tindakan ini dapa be pa a e api ambahan onikomiko i n k meng angi k an ma a, dapa j ga ebagai bagian e api pa onikia ak ,3 dan e a .7 A l i k k o al idak dilak kan, kec ali anga dipe l kan, ka ena men ebabkan ban alan k k bagian di al menjadi men dan k k mengalami di loka i bagian di al.5
Tidak adan a ekanan da i lempeng k k akan men ebabkan ek pan i ja ingan l nak di al k k , ehingga akan men pi aa lempeng k k ba mb h.5 Oleh ka ena i , pa caa l i k k , ebaikn a lempeng k k dapa dipo i ikan kembali dan dijahi pada ked a i i la e al lempeng k k pada lek kan la e al k k . Jika idak mem ngkinkan, dapa dig nakan pe ban, e a e e, a a a e c , con ohn a e e n k menggan i lempeng k k aga di loka i bagian di al k k idak e jadi.8 Tindakan a l i k k o al me pakan indakan pada k k ang paling e ing dilak kan baik eca a bedah, non-bedah, a a melal i a p o ed kimia.9
A l i k k dapa dilak kan melal i bagian di al (d a a ac ) a a p ok imal k k ( a a ac ).5,9 P o ed melal i di al k k lebih e ing dilak kan dengan memi ahkan lempeng k k da i ban alan k k pada hiponiki m.9 P o ed dim lai dengan mema kan ele a o ep m pada lek kan p ok imal k k hingga lek kan p ok imal k k e pi ah da i lempeng k k . Kem dian ele a o dipindahkan ke ba ah lempeng k k melal i hiponiki m hingga mencapai a ea ma ik ang me pakan empa lempeng k k meleka lebih longga pada ja ingan di ba ahn a.3 Si i la e al lempeng k k ha el hn a e lepa , e elah i dilak kan ek ak i lempeng k k dengan d e a dengan a ah ke a a dan mem a hingga el h lempeng k k
5
S a’ MEDIKA, V .8 (N .1), Se e be 2017
a ac ) e liha dalam gamba 1.
P o ed a l i k k melal i bagian p ok imal k k pada p in ipn a ama dengan melal i di al k k , dim lai dengan membeba kan a ea lek kan k k p ok imal epe i pada d a a ac . Kem dian ele a o ep m e ap di a ea p ok imal k k dan dido ong ha i-ha i hingga be ada di ba ah da a lempeng k k . In men dipo i ikan mengik i lek kan na al lempeng k k , hingga el h bagian b ng al e kena. Se elah em a bagian lempeng k k e beba da i ban alan k k , lempeng k k akan m dah e lepa . Pendeka an ini di a ankan pada k k dengan a ea b ng al meleka e a dengan lempeng k k , a a aa dilak kan pemi ahan b ng al dengan pa la pada dae ah hiponiki m e jadi a ma, ehingga indakan ha dim lai da i bagian p ok imal k k .5 Pe bedaan ked a pendeka an a l i k k o al dapa e liha da i gamba 2.
b. A l i K k Pa ial
Be bagai komplika i ang imb l akiba a l i k k o al dapa dik angi
dengan melak kan a l i k k pa ial.10 Pada indakan ini han a ebagian lempeng k k ang akan dibeba kan da i ban alan k k . In men ang dig nakan adalah E a a e a a dapa j ga dig nakan d b e-ac b e e .3,5 Pada onikomiko i b ng al di ola e al,
egmen la e al dan a a medial lempeng k k dilak kan a l i pa ial. Tindakan a l i pa ial pada ib ja i kaki mem ngkinkan lempeng k k no mal e ap di inggalkan ehingga be g na ebagai ekanan balik e hadap ja ingan l nak k k aa be jalan, ehingga dinding k k bagian di al akan e ap kokoh.5
Pada onikomiko i b ng al p ok imal, lempeng k k bagian di al ang idak mengalami infek i ma ih dapa dipe ahankan dengan melak kan po ongan an e al pada bagian p ok imal lempeng k k .5 Selain i , dengan po ongan
an e al ini dapa dilak kan pada ka melanonikia longi dinal.11 Gamba 3 be ik men nj kan gamba an eknik a l i pa ial (po ongan an e al),5 dan gamba 4 men nj kan eknik a l i pa ial ( a a ac ).9
Ga ba 1. A l i K k To al (D a
A ac ) 6
Ga ba 2. A K T a 5 A. A l i k k di al
B. A l i k k p ok imal
S a’ MEDIKA, V .8 (N .1), Se e be 2017
c. A l i K k T a D
Tindakan a l i k k a d me pakan modifika i da i eknik a l i k k o al,5,11 Tindakan ini dilak kan n k meliha ma ik k k bagian di al, ban alan k k , dan hiponik m lebih jela dengan mengangka hampi el h lempeng k k ehingga el h ban alan k k e liha kec ali bagian paling p ok imal ma ik k k dan eponiki m.11 A a d dig nakan pada ka e i onikia longi dinal ang memb hkan biop i ma ik k k bagian di al a a ka -ka lain ang memb hkan biop i, e api, dan ek plo a i l a pada ma ik a a ban alan k k , e api dengan mempe kecil a ma pada dae ah k ik la, epinik m, dan lek kan k k bagian p ok imal.5,11 Hal e eb dapa men nkan i iko e jadin a pa onikia dan p e igi m do al pa caope a i.11
Langkah-langkah p o ed ini hampi ama dengan indakan a l i k k o al ang dim lai da i di al k k . Saa mencapai bagian p ok imal, hemo a dipakai memegang lempeng k k bagian
di al, kem dian mengangka n a ke a a , anpa melepa kan lempeng k k bagian p ok imal da i ja ingan diba ahn a,5,11 ehingga e liha epe i pin je a ( a d )5 a a kap mobil ( d ca ).8 Bagian ma ik k k ang lebih p ok imal dapa lebih e liha dengan memb a d a a a an mi ing di lek kan k k p ok imal ehingga akan membeba kan bagian la e al pin je a
e eb ,11 epe i e liha pada gamba 5.
Beda Ba a a K
Ban alan k k dapa e kena a ma ang menimb lkan adan a b ng al hema oma.5,8 Hema oma akan e liha ege a dan e a a anga n e i e elah a ma.5,6 Jika hema oma e jadi pada < 25% k k , di eb hema oma pa ial. Pada keadaan e eb dilak kan d aina e dengan mengg nakan kalpel a a klip pana ebagai ka e pada lempeng k k hingga mencapai dae ah hema oma di b ng al.5 Saa da ah kel a , n e i akan be k ang.5,6 P o ed e api hema oma pa ial dapa diliha pada gamba 6.
Ga ba 3. A l i K k Pa ial (P a
A ac ) Po ongan T an e al 5 Ga ba 4. A l i K k Pa ial (D a a ac ) 6
S a’ MEDIKA, V .8 (N .1), Se e be 2017
Jika hema oma e jadi pada > 25%
k k , men nj kan a a ma ban alan k k ang be a .5 Pada keadaan e eb ha dilak kan peme ik aan adiologi n k men ingki kan adan a f ak lang falang.3,5,8 Lempeng k k eca a pe lahan dan ha i-ha i dilak kan a l i, lal dilak kan e ak a i hema oma pada ban alan k k .5,6 Jika e dapa la e a i ban alan k k , ege a lak kan pembe ihan l ka dengan an i ep ik dan jahi dengan benang 6/0 ang di e ap. Se elah i , lempeng k k dipo i ikan kembali dan di eka an dengan melak kan penjahi an pada lek kan k k la e al a a pada j ng ja i.5 Leba defek ban alan k k > 4 mm dapa dilak kan - c e a da i ban alan k k ja i ang idak e kena
a ma a a da i ib ja i.8
Hema oma dapa be lang ng k oni , bia an a idak e a a n e i dan di ebabkan adan a mik o a ma ang be lang ka ena pengg naan epa ang kekecilan a a ak i i a olah aga.3,5 Gamba ann a be pa adan a pigmen a i ang e pa dengan a kegana an k k epe i melanoma.
Pada keadaan e eb , de mo kopi dapa memban diagno i .5 Jika diagno i e ap bel m dapa di imp lkan, dapa dilak kan in i i dengan kalpel pada bagian di al dan p ok imal a ea pigmen a i.3 Da ah dapa kel a melal i l bang in i i. Nam n hal e eb j ga bel m bia a membedakan apakah a hema oma k oni a a kegana an.3,5 Ob e a i a ea pigmen a i dapa dilak kan dalam bebe apa mingg , Ga ba 5. A l i K k T a D 11
Ga ba 6. Te api Hema oma Pa ial 5
Ga ba 7. Ek i i Longi dinal pada Ban alan K k 6
Ga ba 8. E Sha e ada Ma K . NP: a a e, LM: d a
e a c a, RNP: ec ed a a e, RPNF: ec ed a a d 4
S a’ MEDIKA, V .8 (N .1), Se e be 2017
jika pigmen a i mel a ke a ah p ok imal in i i, maka ebaikn a dilak kan bedah ek plo a i.5
Selain a hema oma, dapa imb l a mo , an a a lain mo glom . Pada keadaan e eb dapa dilak kan ek i i ban alan k k dengan a ah ek i i longi dinal. U de dilak kan hingga pe io e m dan penjahi an dilak kan dengan mengg nakan benang ang di e ap.6 P o ed ini dapa diliha pada gamba 7.
Beda Ma K
Tindakan bedah pada ma ik k k (ma iek omi) memiliki iga pendeka an kh ai , meng angi k an be a ma ik , meng angi panjang ma ik , a a melak kan biop i c 2-3 mm.4,5 Selain i , kadang-kadang ha dilak kan ma ikek omi o al, e api ebi a m ngkin indakan ini dihinda i ka ena akan men ebabkan k k idak akan mb h lagi eca a pe manen. Tindakan ang be j an mempe kecil k an ma ik k k ai biop i longi dinal la e al, a e a a , mo jinak a a gana pada 1/3 la e al k k , melanonikia longi dinal di bagian la e al k k , a , dan a e a . Sedangkan peng angan panjang ma ik dilak kan pada biop i elip an e al, n k mengangka mo dengan k an 3 mm, dan n k mempe ipi ke ebalan k k pada pa ien di ofik kongeni al dan a a pen aki he edi e .5
Selain i dapa dilak kan ek i i a e pada ma ik , con ohn a pada ka melanonikia longi dinal. Se elah dilak kan ane e i b c , lek kan p ok imal k k dipi ahkan da i ja ingan eki a , kem dian in i i a e al dilak kan pada d a pe iga p ok imal lempeng k k , eki a a ea l n la. Se elah ma ik pada dae ah l n la e liha , dengan kalpel nomo 15, lak kan in i i pe fi ial pa a el e hadap pe m kaan ma ik hingga el h le i dengan ke ebalan eki a 1 cm e angka eca a ho i on al. Lempeng k k di empa kan kembali dan dijahi pada ked a bagian la e aln a. L ka pada ma ik ang diha ilkan da i p o ed ini anga pe fi ial, ja ingan ika ma ik idak e angka ehingga pen emb han l ka akan be lang ng cepa .4 P o ed ek i i a e pada
ma ik e liha pada gamba 8.
Beda Le a K P a da La e a
Tindakan bedah pada lek kan k k p ok imal anga be i iko me ak ma ik p ok imal k k ang akan men ebabkan di ofi k k .4 Kelainan pada lek kan k k p ok imal paling e ing di em i be pa mo di dae ah e eb dan pa onikia k oni ang ef ak e e hadap e api.4,12 P o ed pada dae ah ini meme l kan ele a o k k ang dima kkan eca a ha i- ha i di ba ah k ik la lal angka ke a ah p ok imal da i ba a le i ang dah di andai. G nakan pi a nomo 15 n k melak kan ek i i epa pada le i di k li
S a’ MEDIKA, V .8 (N .1), Se e be 2017
lek kan k k ejaja dengan ele a o , jangan ampai mengenai ma ik k k .12 P o ed ek i i pada lek kan k k p ok imal ini akan lebih jela e liha pada gamba 9.
Tindakan bedah pada lek kan k k la e al e ing dindika ikan n k pengangka an mo jinak a a p n gana epe i b e d ea e. Pada mo jinak, c k p dilak kan bedah dengan c 2-4 mm a a dengan ek i i baji ja ingan da i lek kan k k la e al dan dinding la e al k k . Sedangkan n k mo gana , ha dilak kan ek i i l a pada lek kan k k la e al a a dengan M c a c
e .5
Pada lek kan k k la e al e ing e jadi a e ama pada ib ja i.
Lempeng k k di al mengalami pe mb han men k ke a ah di ola e al lek kan k k .5 Kejadian a
anga inggi e ama pada de a a m da, menimb lkan a a n e i heba dan infek i k k . P o ed dim lai dengan memb a ini i i oblik 5 mm da i d p ok imal lek kan k k la e al, ha i-ha i n k idak mel kai ma ik . Lanj kan in i i dengan
ben k epe i panah hingga j ng ja i melip i el h ja ingan g an la i ang e ben k dan melip i el h lek kan k k la e al. Lempeng k k dilak kan a l i pa ial a a o al, lal jahi pada j ng p ok imal dan di al k k .13 U an p o ed e api a dapa diliha pada gamba 10.
B K
Biop i k k dilak kan n k memban penegakan diagno i ehingga dapa dibe ikan pengoba an ang epa . Tindakan biop i k k dilak kan dengan mempe imbangkan d a hal, ai loka i pa ologi kelainan k k dan i iko e jadin a ja ingan pa .14 Teknik biop i ang paling e ing dilak kan adalah biop i ek i i, c , dan biop i k k longi dinal.5,14 A ah biop i ek i i ha di en kan dengan epa n k mendapa kan ha il ang op imal.14 Pada biop i ek i i ban alan k k a ah ek i i ha longi dinal, edangkan pada ma ik k k , a ah ek i i ho i on al.9,14 Biop i pada lek kan k k , a ah ek i i e pa dengan melak kan biop i Ga ba 9. Ek i i T mo pada Lek kan
K k P ok imal12
Ga ba 10. Tindakan Bedah pada I Na 11
S a’ MEDIKA, V .8 (N .1), Se e be 2017
pada k li .14 Gamba an a ah ek i i biop i dapa e liha pada gamba 11.
a. Biop i Ban alan K k
Biop i pada ban alan k k dapa dilak kan ebagai indakan diagno ik, a a ekalig indakan e ape ik.5,14 Bebe apa ben k kelainan ban alan k k epe i onikoli i , hipe ke a o i , di k omia, e o i, a a ma a dapa me pakan be bagai macam pen aki . Pen aki -pen aki e eb dapa di egakkan dengan peme ik aan pen njang melal i biop i ban alan k k .14
Biop i ban alan k k dapa dilak kan dengan c a a ek i i.5,14 Lempeng k k dapa dilak kan a l i e lebih dah l ba kem dian dilak kan biop i ek i i ban alan k k . P o ed ini dilak kan e ama n k pengambilan pe imen ang c k p be a .5 Sedangkan n k pengambilan pe imen ang kecil, dapa dilak kan biop i c melal i lempeng k k dengan diame e c 2-3 mm hingga ban alan k k . Nam n, p o ed ini bia an a li n k mengel a kan pe imen dengan k an ang ama dengan l bang di
di a ankan mengg nakan eknik “d b e c ”9 ai dengan memb a l bang pada lempeng k k mengg nakan c dengan diame e 6 mm kem dian pengambilan
pe imen dilak kan mengg nakan c ked a dengan diame e lebih kecil, ai 4 mm ang dido ong ke a ah k k .5,14 Biop i dengan ek i i j ga dapa dilak kan mengik i