KARAKTERISTIK PASIEN DIABETES MELITUS DENGAN GLAUKOMA DI PUSAT MATA NASIONAL RS MATA CICENDO
Dewi Kania Maemunah, Elsa Gustianty
Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung
Abstract Introduction
Diabetes Mellitus currently affects more than 170 million persons worldwide and will affects an estimated 366 million by 2030. Glaucoma has long been considered one of the eye complications that can affect people with diabetes mellitus.
Objective
To describe the clinic and demographic characteristic of patients diabetes mellitus with glaucoma in National Eye Center – Cicendo Eye Hospital from January 2011 until Desember 2015.
Methods
This is a cross-sectional study. Diabetic patients with glaucoma at National Eye Center – Cicendo Eye Hospital from Januari 2011 until Desember 2015 were reviewed retrospectively.
Age, sex, etiology, laterality, visual acuity, type of glaucoma, type of Diabetes, intraocular pressure and type of diabetic retinopathy were reviewed.
Results
There were 246 patients diagnosed as Diabetes Mellitus with glaucoma from 2528 patients with Diabetes Mellitus that more frequent in men (54%) than in women (46%) and unilateral presentation (51,21%) was slightly more common. The mean patient age was 58 ± 11,53 years old. Most of patients came with visual acuity 3/60 to Closed to Face Finger Counting (CFFC) (36,06%). Normal intraocular pressure was common in this study (51,09%). Primary Open Angle Glaucoma (POAG) was common type of glaucoma(30,05%) and almost all type of diabetes mellitus was type 2 Diabetes Mellitus (97,9%). The lens characteristic was common with cataract (73,37%) and there was no Diabetic Retinopathy showed in 62,84% eyes
Conclusions
Diabetes Mellitus patients with glaucoma in National Eye Center – Cicendo Eye Hospital were mostly male and unilateral was slightly more common. Most patients came with poor visual acuity and intraocular presurre was not elevated.
Keywords : Diabetes mellitus, glaucoma, visual acuity, intraocular pressure, cataract and diabetic retinopathy.
PENDAHULUAN
Diabetes mellitus (DM) adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat penurunan sekresi insulin yang progresif.
Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2006 terdapat 170 juta penduduk di seluruh dunia menderita DM dan diperkirakan mencapai 366 juta pada tahun 2030. DM merupakan suatu penyakit yang kompleks, multi etiologi yang ditandai dengan timbulnya hiperglikemia kronik dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Keadaan hiperglikemia kronik seiring dengan waktu akan menyebabkan
kerusakan sistem saraf dan pembuluh darah. Penderita DM memiliki risiko tinggi untuk terjadinya komplikasi makroangiopati maupun mikroangiopati.
Komplikasi DM pada mata dapat menimbulkan kelainan seperti glaukoma, katarak, maupun retinopati.1-4
Glaukoma merupakan salah satu penyebab kebutaan di dunia dan merupakan penyebab utama kebutaan permanen. Glaukoma merupakan suatu kumpulan gejala yang mempunyai suatu karakteristik optik neuropati yang berhubungan dengan hilangnya lapang pandang.5 Menurut WHO, sejumlah 8%
dari seluruh kasus kebutaan diseluruh
dunia disebabkan oleh glaukoma.6 Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2007 melaporkan bahwa prevalensi glaukoma di Indonesia sebesar 0,5%.7 Rapid Assesment of Avoidable Blindness (RAAB) yang dilakukan di Jawa Barat pada tahun 2014 melaporkan bahwa sebesar 2,2% kebutaan disebabkan oleh glaukoma.
Glaukoma dapat disebabkan oleh penyakit sistemik maupun penyakit lokal pada mata. Kondisi kelainan sistemik yang dapat memicu terjadinya glaukoma salah satunya ialah diabetes mellitus.
Pada penderita DM terjadi peningkatan turtuositas, dilatasi dan penyempitan fokal pembuluh darah, pembentukan mikroaneurisma dan gangguan pembuluh darah koriokapilaris berupa penurunan perfusi koroid. Berkurangnya aliran darah berakibat pada iskemia jaringan serta kematian jaringan. Penurunan perfusi koroid dapat ditemukan pada glaukoma tekanan normal yang berhubungan dengan gangguan fungsional (lapang pandang) dan morfologis (kerusakan lapisan serabut saraf).8
Penelitian ini bertujuan memberikan informasi mengenai data demografis dan klinis pasien diabetes melitus dengan glaukoma yang datang ke PMN RS Mata Cicendo.
SUBJEK DAN METODE
Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan pengambilan data secara retrospektif dan disajikan secara deskriptif. Pada penelitian ini data dikumpulkan dari rekam medis pasien diabetes melitus dengan glaukoma yang datang ke Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo selama periode Januari 2011 hingga Desember 2015. Data yang dikumpulkan meliputi usia, jenis kelamin, serta karakteristik klinis yang meliputi tajam penglihatan saat awal kunjungan, jenis glaukoma, lateralitas
mata yang terkena, tekanan intraokular (TIO), serta jenis diabetes melitus.
Kriteria inklusi penelitian ini adalah usia lebih dari 14 tahun dengan diagnosa diabetes melitus dan glaukoma.
Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan dengan kartu Snellen. Pemeriksaan tekanan intraokular (TIO) dilakukan dengan palpasi, tonometri non kontak, dan tonometri applanasi. Yang dimaksud dengan TIO normal pada penelitian ini adalah TIO ≤ 21 mmHg atau tekanan dengan pemeriksaan palpasi N maupun N-, sedangkan TIO meningkat adalah TIO > 21 mmHg atau tekanan dengan pemeriksaan palpasi N+. Pemeriksaan segmen anterior mata dilakukan dengan pemeriksaan lampu celah dan pemeriksaan segmen posterior mata dilakukan dengan funduskopi indirek.
Klasifikasi glaukoma pada penelitian ini dibagi menjadi Primary Open Angle Glaucoma (POAG), Primary Angle Clossure Glaucoma (PACG) / Chronic Angle Clossure Glaucoma (CACG), Neovascular Glaucoma (NVG), Normotension Glaucoma (NTG), dan lain-lain.
Tipe DM pada penelitian ini didapatkan dari diagnosis yang ditentukan oleh dokter bagian ilmu penyakit dalam, terdiri dari DM tipe 1 yang merupakan defisiensi insulin akibat destruksi dari sel β pankreas dan DM tipe 2 yang mengalami resistensi insulin.1
Data yang didapat kemudian diolah secara deskriptif terhadap seluruh variabel menggunakan Microsoft Office Excel 2013 dan ditampilkan dalam bentuk tabel.
HASIL PENELITIAN
Selama periode Januari 2011 hingga Desember 2015 terdapat 2528 pasien dengan diagnosis diabetes melitus, 246 pasien diantaranya disertai dengan glaukoma yang telah ditegakkan di Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo.
Karakteristik demografis pasien Diabetes melitus dengan glaukoma dapat dilihat pada tabel 1. Karakteristik
berdasarkan jenis kelamin
memperlihatkan laki-laki lebih banyak dari pada perempuan dengan rata-rata usia pasien 58 ± 11,53 tahun.
Berdasarkan lateralitas glaukoma, glaukoma unilateral sedikit lebih banyak dari pada bilateral.
Tabel 1.Karakteristik demografis pasien Karakteristik Jumlah
(n=246 pasien)
(%)
Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Umur (Tahun)
<21 21-30 31-40 41-50 51-60 61-70 71-80
>80 Lateralitas Unilateral Bilateral
134 112
2 0 11 47 86 62 34 4
126 120
54 46
0,7 0 4,4 19,1 34,9 25,2 13,8 1,6
51,21 48,78 Karakteristik klinis pasien diabetes melitus dengan glaukoma dapat dilihat pada tabel 2. Ditemukan bahwa ketajaman penglihatan terbanyak pada pemeriksaan awal adalah 3/60 sampai dengan CFFC sebanyak 36,06%.
Tekanan intraokular normal lebih banyak ditemukan pada 187 mata (51,09%).Jenis glaukoma terbanyak adalah POAG yaitu sebanyak 110 mata (30,05%), sedangkan tipe DM yang diketahui didominasi oleh DM tipe 2 (97,9 %) yang ditunjukkan pada tabel 3. Tabel 4 menunjukkan bahwa keadaan lensa dengan katarak paling banyak ditemukan pada penelitian ini, yaitu sebanyak 271 mata (74,04 %) dan gambaran diabetik retinopati (DR) didapatkan terbanyak tanpa diabetik retinopati yaitu pada 230 mata (62,84%).
Tabel 2. Karakteristik klinis pasien Karakteristik Jumlah
mata (n=366)
(%)
Visus awal 1.0-0.8 0.63-0.32 0.25-0.125 0.1-0.05 3/60-CFFC LP
NLP
Tidak diketahui Tekanan Intraokular Normal
Meningkat
Sulit dinilai, abulbi Jenis Glaukoma POAG
PACG/CACG NVG
NTG Lain-lain*
17 70 53 33 132
0 50 11
187 161 18
110 54 78 86 38
4,64 19,12 14,48 9,01 36,06
0 13,66
3,01
51,09 43,98 3,82
30,05 14,75 21,31 23,49 10,38
* Lens-induced Glaukoma, Steroid-induced Glaukoma, Pseudoexfoliatif Glaukoma, Hipertensi Okular
Tabel 3. Karakteristik Tipe DM
Tipe DM Jumlah
(n=246 pasien)
(%)
Tipe 1 Tipe 2
Tidak diketahui
2 241
3
0,8 97,9
1,2 Tabel 4. Karakteristik keadaan lensa dan Diabetik retinopati (DR)
Karakteristik Jumlah mata (n=366)
(%)
Keadaan Lensa Jernih
Katarak Pseudofakia Afakia Subluksasi lain-lain
63 271
23 4 1 4
17,21 74,04 6,28 1,09 0,27 1,09
Jenis DR No DR NPDR PDR
230 66 70
62,84 18,03 19,12
DISKUSI
Pasien diabetes mellitus dengan glaukoma pada penelitian ini ditemukan lebih banyak pada laki-laki (54%) dibandingkan perempuan (46%), berbeda dengan penelitian Chaturvedi9 yang menyebutkan tidak adanya perbedaan antara jumlah pasien diabetes tipe 2 dengan glaukoma berdasarkan jenis kelamin.
Rata-rata usia pada penelitian ini didapatkan 58 ± 11,53 tahun sesuai dengan rata-rata usia pada penelitian menurut Chaturvedi9 yaitu rata-rata usia 57.39±9.08 tahun maupun penelitian menurut Biswas10 yang menyebutkan bahwa pada rentang usia 50-59 paling tinggi kejadian diabetes melitus terutama tipe 2 disertai peningkatan tekanan intraokular, hal itu dimungkinkan karena usia tersebut merupakan populasi usia yang mulai mengalami degenerasi.
Ketajaman penglihatan saat pemeriksaan awal 3/60 sampai dengan CFFC (36,06%) ditemukan paling banyak pada penelitian ini, hal ini menunjukkan bahwa banyak pasien yang datang berobat ke RS Mata Cicendo dalam keadaan terlambat.
Tekanan intraokular tinggi merupakan faktor risiko terjadinya glaukoma, baik pada pasien diabetes melitus maupun tanpa diabetes melitus seperti pada penelitan Ellis dkk, namun pada penelitian ini tekanan intraokular tinggi hanya terdapat pada 43,98% dari seluruh mata, sedangkan 51,09% mata mempunyai TIO normal, hal ini bisa terjadi karena pasien yang datang ke RS Mata Cicendo sebagai pelayanan kesehatan tersier sudah mendapatkan pengobatan glaukoma sebelumnya disamping diagnosis NTG.
Diabetes melitus telah dilaporkan sebagai salah satu faktor resiko glaukoma sudut terbuka.11 Pada penelitian ini
POAG merupakan jumlah terbanyak berdasarkan tipe glaukoma, sesuai dengan penelitian menurut Chaturvedi9 maupun Ellis12. Hipotesis yang mendukung hal tersebut adalah terdapatnya hubungan antara hiperglikemia kronik dengan anomali lipid yang dapat mengakibatkan gangguan neuronal, perubahan jalur biokimiawi akibat hiperglikemia dapat meningkatkan stres oksidatif pada sel, perubahan vaskular juga dapat menurunkan aliran darah sehingga mengganggu difusi oksigen dan mengurangi autoregulasi peningkatan tekanan intraokular yang merupakan faktor risiko neurodegeneratif dari glaukoma.13
Berdasarkan karakteristik dari tipe diabetes melitus, tipe 2 merupakan tipe diabetes terbanyak pada penelitian ini,sesuai dengan penelitian Eliss12, Pasquale14 dan Wise15. Saat ini belum diketahui secara pasti bahwa tipe diabetes mempengaruhi terjadinya glaukoma, namun penderita diabetes tipe 2 yang merupakan 90-95% dari keseluruhan tipe diabetes mellitus1 dapat mempengaruhi jumlah penderita diabetes dengan glaukoma pada penelitian ini.
Keadaan lensa dengan katarak ditemukan paling banyak pada penelitian ini, sesuai dengan penelitian menurut Khachatrian16 yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara glaukoma dengan katarak dan sebaliknya, hal ini dapat dimungkinkan karena keduanya merupakan suatu proses sklerotik dari suatu organ.
Diabetik retinopati merupakan komplikasi okular yang paling umum dari diabetes mellitus. Hiperglikemia selain mengakibatkan kerusakan saraf optik juga menyebabkan perubahan pada pembuluh darah retina, sehingga komplikasi tersebut dapat terjadi pada penderita DM. Pada penelitian ini terdapat 37,15% pasien dengan DR, sedangkan lebih banyak pasien ditemukan tanpa DR (62,84%), sesuai
dengan penelitian menurut Dharmadhikari dkk yang menyebutkan bahwa lebih dari 75% pasien diabetes tidak menderita diabetik retinopati.17
SIMPULAN
Pasien yang didiagnosis diabetes mellitus dengan glaukoma di PMN Rumah Sakit Mata Cicendo periode Januari 2011 hingga Desember 2015 didapatkan 246 pasien, lebih banyak pasien laki-laki, dengan rata-rata usia 58±11,53 tahun, ketajaman penglihatan terbanyak antara 3/60 sampai dengan CFFC. Tekanan intraokular normal didapatkan lebih banyak pada penelitian ini. POAG merupakan jenis glaukoma terbanyak dan hampir semua tipe diabetes adalah Diabetes tipe 2. Pada penelitian ini katarak merupakan keadaan lensa terbanyak dan lebih banyak pasien DM dengan glaukoma ditemukan tanpa diabetik retinopati.
DAFTAR PUSTAKA
1. American Diabetes Association.
Classification and diagnosis of diabetes. In: 2016 Standards of Medical Care in Diabetes. Diabetes Care. 2016;39:S13-22. Diunduh dari http://care.diabetesjournals.org /content/39/Supplement_1/S13.full.p df 1 September 2016
2. World Health Organization.
Prevention of Blindness from Diabetes Mellitus. WHO library cataloguing-in-publication data:
2006. Diunduh dari
http://www.who.int/blindness/Preven tion%20of%20Blindness%20from
%20Diabetes%20Mellitus-with- cover-small.pdf 13 Februari 2017 3. Eliana F, Penatalaksanaan DM sesuai
Konsensus PERKENI 2015. Bagian Penyakit Dalam FK YARSI
4. Klein R and Klein B.E.K, Vision Disorders in Diabetes, Bab 14.
Diunduh dari
https://www.niddk.nih.gov/about- niddk/strategic-plans-
reports/Documents/Diabetes%20in
%20America%202nd
%20Edition/chapter14.pdf 1 September 2016.
5. American Academy of
Ophthalmology. Basic and Clinical Science Course. Section 10.
Glaucoma. San Fransisco. AAO : 2014-2015 hal. 3-12.
6. Mariotti S, Pascolini D. Global estimates of visual impairment, vision loss and blindness 2010. Br J Ophthalmol. 2012 May;96(5):614-8.
7. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Laporan nasional Riset Kesehatan Dasar. Jakarta;
Departemen Kesehatan RI. 2007.
8. Schmidt KG, Ruckmann A, Kemkes- Matthes B, Hammes HP. Ocular pulse amplitude in diabetes mellitus.
Br J Ophthalmol 2000; 84: 1282-84.
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/art icles/PMC1723308/pdf/v084p01282.
9. Chaturvedi G D, Chaturvedi R, Prevalence of glaucoma in patients with type 2 diabetes mellitus at tertiary care hospital of Gwalior, Indian Journal of Clinical and Experimental Ophthalmology, January-March,2016;2(1): 14-16 10. Biswas S, Raman R, Koluthungan V,
Sharma T. Intraocular Pressure and Its Determinants in Subjects with Type 2 Diabetes Mellitus in India. J Prev Med Public Health. Volume 44, No.4 2011; hal. 157-66
11. Zhou M, Wang W, Huang W, Zhang X. Diabetes Mellitus as a Risk Factor for Open-Angle Glaucoma: A Systematic Review and Meta-
Analysis. PLoS ONE
2014;9(8):e102972.
12. Ellis JD dkk, Glaucoma incidence in an unselected cohort of diabetic patients: is diabetes mellitus a risk factor for glaucoma?, Br J
Ophthalmol 2000 84: hal. 1218-24.
Diunduh dari http://bjo.bmj.com/
pada tanggal 3 January 2016.
13. Wong VHY, Bui BV, Vingrys AJ, Clinical and experimental links between diabetes and glaucoma, Department of Optometry and Vision Sciences, The University of Melbourne, 2010; hal. 4-23
14. Pasquale LR, Prospective Study of Type 2 Diabetes Mellitus and Risk of Primary Open-Angle Glaucoma in Women. American Academy of Ophthalmology, Volume 103.2006; hal.1081-6
15. Wise LA, A Prospective Study of Diabetes, Lifestyle Factors, and Glaucoma Among African-American Women, Ann Epidemiology. Volume 21 No. 6. Park Avenue South, New York, 2011; hal. 430-9
16. Khachatrian N, Case-Control Study of Glaucoma Patients in Yerevan.
American University of Armenia.
Public Health Department, Yerevan;
1997
17. Dharmadhikari S. Dkk. Magnitude and determinants of glaucoma in type II diabetics: A hospital based cross-sectional study in Maharashtra, India. Oman Journal of Ophthalmology, Vol. 8, No. 1, 2015;
hal. 19-23