• Tidak ada hasil yang ditemukan

Objektif Tes dalam bidang administrasi perkantoran untuk peningkatan pemahaman

N/A
N/A
Dinda Fath

Academic year: 2023

Membagikan "Objektif Tes dalam bidang administrasi perkantoran untuk peningkatan pemahaman "

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

TEST OBJEKTIF JENIS PILIHAN (SELECTION TYPE)

1. Pengertian test objektif jenis pilihan (selection type)

Tes objektif jenis pilihan (selection type) adalah tes yang mana untuk menjawabnya dengan mengadakan pilihan. Tes ini terdiri atas:

a. Pilihan ganda (multiple choice) adalah bentuk soal yang terdiri atas pertanyaan yang tidak lengkap, kemungkinan jawaban atas pertanyaan atau pernyataan itu disebut pilihan, jumlah pilihan berkisar antara tiga sampai lima, dan hanya ada satu jawaban di antaranya yang benar atau jawaban kunci, selebihnya adalah pengecoh (distractor).

b. Benar salah (true false) ialah tes yang terdiri atas kalimat atau pernyataan mengandung dua kemungkinan jawaban, yaitu benar atau salah dan testee diminta memilih apakah pernyataan-pernyataan itu benar atau salah dengan cara tertentu.

c. Menjodohkan (matching) adalah tipe pertanyaan yang terdiri dari dua kolom, setiap pertanyaan pada kolom pertama harus dijodohkan dengan jawaban pada kolom kedua.

d. Tes analogi (analogy test) adalah jenis tes bentuk objektif yang disusun sedemikian rupa dimana dalam menjawab pertanyaan atau pernyataan, peserta tes diminta memilih bentuk yang sesuai dengan pernyataan sebelumnya.

e. Tes menyusun kembali (rearrangement test) adalah jenis tes objektif yang disusun sedemikian rupa sehingga format pernyataan atau pertanyaan tersusun dalam kalimat yang tidak teratur. Dalam tes jenis ini, peserta tes diminta untuk menyusun kembali rangkaian kalimat yang tidak teratur tersebut menjadi urutan pengertian atau proses yang benar.

2. Cara menyusun test objektif jenis pilihan (selection type)

 Pilihan ganda (multiple choice)

1. Hendaknya antara pernyataan dalam soal dengan alternatif jawaban terdapat kesesuaian.

2. Kalimat pada tiap-tiap butir soal hendaknya dapat disusun dengan singkat dan jelas.

3. Soal hendaknya disusun menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

(2)

4. Alternatif jawaban hendaknya disusun dalam kalimat yang panjang pendeknya relatif sama sehingga tidak menimbulkan dugaan bahwa kalimat yang panjang adalah jawaban yang benar.

5. Gunakan perintah “manakah alternatif jawaban yang paling baik” atau “pilihlah jawaban yang lebih baik dari yang lain” apabila lebih dari satu jawaban yang benar.

6. Jangan menggunakan alternatif jawaban yang tumpang tindih maupun menggunakan kata sinonim.

7. Setiap butir pertanyaan hendaknya hanya mengandung satu masalah meskipun masalah itu agak kompleks.

8. Hindari pengulangan suara atau pengulangan kata pada kalimat pokok dialternatif- alternatifnya karena peserta didik akan cenderung memilih alternatif yang mengandung pengulangan tersebut. Hal ini disebabkan karena dapat diduga itulah jawaban yang benar.

 Benar salah (true false)

1. Tulislah huruf B-S pada permulaan masing-masing item dengan untuk mempermudah mengerjakan dan menilai (scoring).

2. Usahakan agar jumlah butir soal yang harus dijawab B sama dengan butir soal yang harus dijawab S. Dalam hal ini, hendaknya pola jawaban tidak bersifat teratur, misalnya: B-S-B-S-B-S atau SS-BB-SS-BB-SS.

3. Hindari item yang masih bisa diperdebatkan.Contoh: B-S. Kekayaan lebih penting dari pada kepandaian.

4. Hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang persis dengan buku.

5. Hindari penggunaan kalimat yang sekadar bertujuan untuk menjebak peserta didik.

6. Hindari penggunaan kalimat atau ilustrasi yang tidak dikenal oleh peserta didik.

7. Hindari penggunaan kalimat yang memiliki ambigu atau berarti ganda.

8. Hindari penggunaan kalimat yang panjang dengan struktur yang rumit sebab hal ini akan menimbulkan kecenderungan kepada peserta didik untuk menganggap benar.

9. Gunakanlah kalimat yang singkat tetapi padat isi.

(3)

 Menjodohkan(matching)

1. Seri pertanyaan dalam matching test hendaknya tidak lebih dari sepuluh soal (item). Sebab pertanyaan-pertanyaan yang pendek itu akan membingungkan peserta didik serta terdapat kemungkinan akan mengurangi homogenitas antara item-item itu jika itemnya cukup banyak, lebih baik dijadikan dua seri.

2. Jumlah jawaban yang harus dipilih, harus lebih banyak dari pada jumlah soalnya (kurang lebih 1,5 kali). Dengan demikian, peserta didik dihadapkan pada banyak pilihanyang semuanya mempunyai kemungkinan benarnya sehingga peserta didik terpaksa lebih mempergunakan pikirannya.

3. Antara item-item yang tergabung dalam satu seri matching test, harus merupakan pengertian-pengertian yang benar-benar homogen.

4. Pernyataan yang menjadi soal diletakkan di sebelah kiri dengan diberi nomor, sementara jawaban diletakkan di sebelah kanan dengan menggunakan abjad.

5. Dalam membuat petunjuk soal, jelaskan dasar yang digunakan untuk menjodohkan. Dalam soal menjodohkan yang bersifat sederhana, dasar menjodohkan mungkin sudah jelas.

6. Jangan penjodohan sempurna satu lawan satu. Satu jawaban mungkin dapat dijodohkan dengan lebih satu pernyataan. Adakalanya, baik memasukkan jawaban yang tidak ada pasangannya.

 Tes analogi (analogy test)

1. Menganalisis soal yang dapat dianalogikan dalam pokok bahasan yang sama, pokok bahasan yang berbeda, ilmu lain, atau dalam kehidupan sehari-hari.

2. Memilih situasi atau permasalahan yang sudah dikenal dan dipahami peserta didik untuk dijadikan masalah sumber (konsep analog).

3. Memilih situasi atau permasalahan yang belum dikenal atau dipahami peserta didik untuk dijadikan masalah target (konsep sasaran).

4. Menyusun sifat-sifat dari situasi atau permasalahan pada masalah sumber (konsep analog) dan masalah target (konsep sasaran).

5. Menyisipkan hubungan yang implisit antara sifat-sifat pada masalah sumber (konsep analog) dengan masalah target (konsep sasaran) sehingga terbentuk soal berpikir analogis.

(4)

 Tes menyusun kembali (rearrangement test) 1. Ada petunjuk mengerjakan.

2. Petunjuk mengerjakan diusahakan tidak terlalu panjang, yang penting jelas.

3. Hindarkan dari pertanyaan yang memiliki lebih dari satu pengertian.

4. Gramatika atau bahasanya baik.

5. Jangan menyusun item langsung menjiplak dari buku karena peserta didik akan cenderung menghafal jawabannya.

6. Jangan sampai ada item yang mempermudah tetapi menyulitkan yang lain.

7. Urutan-urutan jawaban yang benar salah janganlah menurut suatu pola.

8. Janganlah item yang satu bergantung pada item yang lain atau item terdahulu.

3. Penerapan test objektif jenis pilihan (selection type)

Tidak semua materi pembelajaran dapat dievaluasi dengan bentuk tes pilihan, apalagi untuk mengetahui kemampuan peserta didik khususnya pada tingkat yang lebih tinggi.

Tes ini lebih tepat digunakan jika dalam persoalan tesebut hanya ada satu jawaban benar.

Begitu pula sebaliknya, pilihan menjadi tidak efektif apabila seorang guru hendak mengungkap memiliki dua kebenaran atau lebih dan variasi jawaban yang benar dapat disebabkan adanya cara pandang terhadap persoalan yang diberikan evaluator (guru).

Pada prinsipnya, terdapat beberapa tes objektif jenis selection type, dari yang jawaban dua alternatif benar salah, menjodohkan, analogi, rearrangement test, serta pilihan ganda.

a. Pilihan ganda(multiple choice)

Multiple choice merupakan tes yang paling sering digunakan sebagai tes evaluasi hasil belajar. Disebabkan pernyataan yang salah lebih banyak, kemungkinan untuk berspekulasi untuk mendapatkan jawaban benar lebih kecil dibanding tes benar salah. Tentang banyaknya alternatif jawaban (opsi) yang harus disediakan, tidak ada ketentuan yang pasti. Namun, yang sering dilakukan orang adalah berkisar 3, 4, atau 5 buah, dan paling banyak ditemukan adalah 4 buah. Semakin banyak altematif jawaban yang disediakan, semakin sulit suatu butir soal dan semakin kecil kemungkinan tepatnya jawaban peserta didik yang hanya berspekulasi. Akan tetapi, perlu dipertimbangkan bahwa membuat lima altematif jawaban dengan baik tidak mudah dilakukan.

Terdapat beberapa bagian dalam tes objektif pilihan. Bagian pertama disebut dengan pokok persoalan (stem of item), yaitu pertanyaan langsung dan pernyataan

(5)

tidak lengkap. Pokok persoalan dikatakan bentuk pertanyaan langsung apabila bentuk kalimat yang digunakan adalah bentuk kalimat tanya. Bagian kedua, yaitu bagian jawaban. Bentuk tes pilihan ganda tepat untuk mengukur hasil belajar dalam kompetensi berpikir jenjang sederhana seperti ingatan, pemahaman, dan penerapan.

Untuk mengukur jenjang berpikir yang lebih kompleks, bukannya tidak bisa dilakukan, hanya hal itu tidak mudah disusun butir-butir tesnya dalam bentuk pilihan ganda.

b. Benar salah (true false)

Tes benar salah digunakan oleh para guru dalam proses belajar mengajar sebagai teknik untuk mengawali dimulainya suatu diskusi. Jika dicermati secara intensif, tes benar salah akan membawa peserta didik berpikir kritis dan mengarah pada pembelajaran penyelesaian masalah (problem solving). Tetapi, jawaban yang benar atau salah kadang-kadang mudah ditebak. Selain itu, kemungkinan adanya peserta didik yang bersikap untung-untungan cukup besar serta penyusunan butir soal yang mengukur kompetensi berpikir proses dan jenjang tinggi tidak mudah dilakukan.

c. Menjodohkan (matching)

Untuk tes menjodohkan, lajur kiri mungkin berupa pernyataan atau kalimat yang belum lengkap. Sementara itu, pelengkapnya diletakkan di lajur kanan. Jadi, tes menjodohkan tidak ubahnya dengan tes isian atau pilihan ganda. Jika jumlah alternatif di lajur kanan lebih banyak daripada di lajur kiri, maka soal menjodohkan itu akan lebih sulit berhubung ada jawaban yang tidak terpakai. Tes ini cenderung lebih banyak mengungkapkan aspek hafalan atau daya ingat saja. Akibat mudah disusun, maka tes jenis ini acapkali dijadikan “pelarian” bagi pengajar, yaitu dipergunakan kalau pengajar tidak sempat lagi untuk membuat tes bentuk lain. Selain itu, karena jawaban yang pendek-pendek, maka tes jenis ini kurang baik untuk mengevaluasi pengertian dan kemampuan membuat tafsiran (interpretasi).

d. Tes analogi (analogy test)

Tes analogi tidak pernah dipakai untuk tes prestasi belajar, tetapi untuk tes IQ karena sifatnya umum.

e. Test menyusun kembali (arrangement test)

Test tersebut biasanya digunakan untuk pelajaran bahasa. Homogenitas akan muncul jika rearrangement test digunakan di ilmu sosial. Tes ini dapat digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir logis.

(6)

4. Contoh soal tes objektif jenis pilihan(selection type) a. Pilihan ganda (multiple choice)

Contoh:

1. Elemen manakah yang menjadi karakteristik dalam statistika inferensial?

A. Mean B. Median C. Mode D. Hipotesis Jawaban: D

2. Apa tujuan utama didirikannya organisasi Persatuan Bangsa-Bangsa?

A. Memelihara perdamaian antar bangsa di dunia

B. Memberikan kontrak militer bangsa yang baru merdeka C. Menyediakan sistem baru hukum internasional

D. Memelihara pemerintah baru yang demokratis Jawaban: A

b. Betul salah (true false) Contoh:

B-S: Semua langkah dalam proses penelitian itu perlu.

Jawaban: B

c. Menjodohkan (matching) Contoh:

BAGIAN A BAGIAN B

A. Tarikan atau dorongan yang bekerja a. posisi

pada benda b. perpindahan

B. Garis lurus yang ditarik dari posisi c. jarak

awal ke posisi akhir d. kecepatan

C. Tingkat kemalasan suatu benda e. percepatan D. Panjang lintasan yang ditempuh oleh f. gaya

suatu benda g. massa

E. Perubahan kecepatan yang dialami

(7)

oleh benda

Jawaban: A-f, B-b, C-g, D-c, E-e d. Tes analogi (analogy test)

Contoh:

Sepatu : kaki A. Kuas : cat B. Ruangan : meja C. Anting : telinga D. Jari : cincin E. Kepala : topi Jawaban: C

Karena urutannya sepatu terlebih dahulu baru kaki atau dapat digambarkan sepatu dikenakan di kaki. Jadi, jika dideskripsikan anting dikenakan di telinga

e. Tes menyusun kembali (rearrangement test) Contoh:

1. begadang – semalam – karena – ia – Tirta – ini – hari – kesiangan 2. sedang – menulis – Rina – temannya – makasar – di – surat – untuk 3. Ani – membakar – halaman – sampah – sedang – Bu – di – rumahnya Jawaban:

1. Hari ini Tirta kesiangan karena semalam ia begadang.

2. Rina sedang menulis surat untuk temannya di Makasar.

3. Bu Ani sedang membakar sampah di halaman rumahnya

Nama : Dinda Amalia Fatika Az Zahra

NIM : K7518030

Kelas : PAP A 2018

1. True False

i. Perangkat lunak yang tepat digunakan untuk menyiapkan presentas dalam suatu forum rapat adalah microsoft power point (Benar atau salah)

(8)

ii. Office organizing adalah kegiatan memastikan bahwa sasaran dan hal yang direncanakan berjalan sesuai dengan harapan dan target (betul atau salah).

Jawaban:

i. Benar ii. Salah

2. Multiple choice

i. Salah satu pekerjaan pada bagian administrasi adalah mengelola kas kecil.

Untuk membuat laporan keuangan, perangkat lunak yang tepat digunakan adalah....

a. Microsoft Office Word b. Microsoft Office Excel c. Microsoft Office PowerPoint d. Microsoft Office Tools e. Microsoft Office Access

Jawaban: b

ii. Dibawah ini yang tidak termasuk unsur-unsur administrasi adalah...

a. Perngorganisasian b. Manajemen c. Perencanaan d. Perbekalan e. Keuangan

Jawaban:

3. Matching Bagian A

Bagian B a. Typing b. Arsip Aktif

c. Desentralisasi terkendali

d. Hubungan individual

e. Office planning

(9)

i. Proses menentukan arah kegiatan kantor, dengan cara meninjau kembali faktor-faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan kantor

ii. Jenis pekerjaan kantor yang memiliki presentasi paling besar menurut GR Terry

iii. Prinsip organisasi yang meyakini bahwa organisasi perkantoran yang efektif terbentuk oleh pribadi-pribadi yang mesti melaksanakan pekerjaan

iv. Arsip yang sering digunakan secara terus menerus dalam kegiatan organisasi kantor adalah

v. Asas pengelolaan arsip yang bertujuan meningkatkan kelebihan dari suatu asas dan meminimalkan kekurangannya

Jawaban:

i-e, ii-a, iii-d, iv-b, v-c

(10)

4. Analogi

Administrasi:catat-mencatat a. Organisasi:pembentukan b. Manajemen:kepemimpinan c. Analisis:penelitian

d. Riset:penelitian e. Diagnosis:percobaan

Jawaban: d

5. Re-arrangement

i. Administratie-Kata-berasal-bahasa-dari-catat- berarti-mencatat- Belanda-yang ii. Billing- artinya-dalam-kantor- pekerjaan-membuat-Istilah- rekening

Jawaban:

i. Kata administratie berasal dari bahasa Belanda yang berarti catat-mencatat ii. Istilah billing dalam pekerjaan kantor artinya membuat rekening

Referensi

Dokumen terkait